***My Multazimah bidDiin***

***My Multazimah bidDiin***

July 29, 2008

Arsip Artikel

* Ahlul Qur’an
* Adab Tilawatil Qur’an
* Yuuuk… Baca Surat Cinta
* Pintu-Pintu Masuknya Setan
* Ada Apa Dengan 14 February???
* Valentines day History
* Sepenggal Perjalanan Dakwah
* Aliran-aliran Pemikiran
* Memahami Makna Hijrah
* Muhasabah Harian Seorang Muslim
* Satu tahun Sudah, Renungan Qurban
* Qurban Versi Islam Vs Kristen
* Sholat Sunnah Sudahkan Kita Dirikan???
* Shollu Kamaa Roaitumuni Ushollii
* Kaidah Itsar, Mendahulukan Orang Lain
* Persiapan Ramadhan
* Fiqih: Puasa Ramadhan
* Ramadhan, Adakah Bekasnya
* Kenangan dan Harapan, Pasca Ramadhan
* Pengakuan
* Rumah Kepribadian
* If I say “I Love You….”
* Suara Hati Seorang Ikhwan
* Keputusan Yang Berani
* Apa kata mereka tentang WAKTU???
* Detik-detik Terakhir Saat Sang Kekasih Tiada
* Memberi tanpa Pertimbangan
* Lowongan yang benar-benar Lowong
* Siap Nikah…….
* Syukur
* Successful Life
* Waktu dan Buku
* Sapa hangat buat Saudara
* Puasa & Kesehatan
* Menghindari Kerusakan Otak
* Nasihat Cegah Maksiat
* Hakekat Dosa
* Indikator Kebahagiaan Dunia
* Rambu-Rambu Pergaulan
* Nasihat Spesial buat Saudariku……
* Kisah Cinta Sejati: Putri Aelia
* Terbentuknya Pola Pikir
* Zero Mind
* Renungan Ulang Tahun
* Masyithoh , Masih adakah Sekarang?
* Ainul Mardhiyyah
* Wanita Sholihah; Bidadari Surga Teridah
* Wanita Sholihah
* Penyebab Rendahnya Martabat Wanita
* Ketika Cinta datang Menggoda
* Rule of Life
* Bahaya Terbesar Penghancur Ummat
* Komitmen Sejati
* Kekasih Sejati
* Apa kata mereka tentang CINTA…???
* Benarkah Anda Mencintai-Nya…???
* Are You My FRIEND..???
* Selamat Tahun Baru 1428 H
* Siapa paling Jelek???
* Subhanallah, Pengalaman Pertama

INFO
* Sang Murobbi: Movie Trailer
* E-Books Gratis

June 11, 2008

Sang Murobbi

Nih klo mo download trailer film SANG MUROBBI; Mencari Spirit Yang Hilang
Klik link berikut:
Sang Murobbi

Film ini disutradari oleh Zul Ardhia, menampilkan bintang Irwan Rinaldi sebagai Ustadz Rahmat Abdullah, Astri Ivo memerankan Ummi Fida dan didukung oleh beberapa bintang lain; Neno Warisman dan Afwan Izzis.

Syuting film ini dilakukan di beberapa kawasan, diantaranya di Setu, Jakarta Timur. Menurut situs blog sang murabbi, lokasi ini dipilih karena memiliki kemiripan dengan situasi Kuningan, Jakarta Selatan, di era 70-an akhir dan 80-an. Pengambilan gambar juga dilakukan di lokasi di wilayah lain seperti Kampung Raden, Pondok Gede, dan Pondok Rangon.

Sebagaimana diketahui, film ini dicuplik dari perjalanan hidup almarhum Ustad Rahmat Abdullah. Almarhum dikenal sebagai seorang ustadz, “pejuang dakwah” dan guru aktivis PKS.

Ustadz Rahmat Abdullah, adalah putra Betawi yang lahir di Jakarta pada 3 Juli 1953. Almarhmum meninggal dunia tahun 2005 setelah terkena stroke ketika wudhu untuk mengerjakan sholat Maghrib.

Selain dikenal sebagai mentor kader PKS, semasa hidup, almarhum pernah menjabat sebagai Ketua Majelis Syuro DPP PKS. Almarhum juga sempat menjadi anggota Komisi III DPR RI yang membidangi masalah hukum, HAM dan perundang-undangan.

Sebelum menjadi anggota DPR, almarhum aktif sebagai guru di beberapa sekolah, di antaranya Madrasah Ibtidaiyah (MI) Miftahul Huda (1970), SD Islam Tarbitul Aulad (1971-1973), Madrasah Tsanawiyah (Mts) Rumah Pendidikan Islam (1981), Aliyah Pendidikan (1982-1984), pengajar Ma’had Dirasah Islamiyah Iqro (1993-1997) dan pengajar pendidikan Guru TK Islam Terpadu Iqro (1999).

Almarhum juga mendirikan Yayasan Islamic Center Iqro pada 1992. Di tahun 2000, dalam sebuah acara Seminar Nasional bertajuk “Tarbiyah di Era Baru” di Masjid UI, Kampus UI Depok, ustadz keturunan Betawi itu pernah disebut sebagai Syaikhut Tarbiyah.

Almarhum dikenal sebagai sosok pejuang da’wah yang sangat aktif memperkaya wawasan keilmuannya. Pendidikan formalnya hanya sampai madrasah aliyah plus setahun kuliah di LIPIA Jakarta. Tapi karena kegigihannya mencari ilmu dari beberapa halaqah, kiai dan kelahapannya membaca kitab, banyak orang mengakui kapasitas keilmuannya tak kalah dari rekan-rekannya yang bergelar doktor. Sejak tahun 1985 ia sudah sering berkunjung ke luar negeri dan keliling Indonesia, memenuhi undangan seminar, mudzakarah du’at, pelatihan kader, tabligh, dan sebagainya.

Selain itu ada satu hal yang tak dimiliki umumnya para dai, bahwa ia adalah rajin menulis.

Dalam sebuah wawancara eklusif dengan Majalah Suara Hidayatullah tahun 2001, almarhum menjawab secara jujur kritikan masyarakat tentang adanya sinyalemen kader-kader Tarbiyah yang cenderung mulai eksklusif.

“Betul, ada kalanya kopral dengan kopral berkelahi, tetapi mayor dan kolonel yang jadi atasannya biasa-biasa saja. Para jenderalnya pun saling ngobrol saja.

Kalau ada yang demikian yang saya lihat, saya mengingatkan kader-kader kita agar tidak boleh begitu. Karena sesungguhnya mereka bisa menjadi orang yang sangat dihargai masyarakat jika menggunakan cara-cara yang lebih santun,” begitu kutipnya.

“Makanya mereka disuruh mengaji ke mana-mana untuk menambah wawasan. Sehingga kalau ada kajian umum mereka datang ramai-ramai untuk memperkaya dari apa yang telah mereka dapatkan dalam kelompok-kelompok kecil itu,” tambahnya.

Itulah rekaman kisah seorang ustad rendah hati nan sederhana meski dipundaknya pernah banyak jabatan dan amanah.

Ada baiknya, masyarakat terutama para santrinya melihat ulang kesederhanaan dan kesahajaan sang guru (murabbi) itu. Menurut situs blog sang murabbi, Film ini diperkirakan akan dilaunching bulan Juli 2008.

E Books GRATISS

Assalamu’alaikum
Pembaca rahimakumullah, bagi Anda yang ingin mendapatkan e-books tentang materi-materi ad-diin dan lainnya, silakan hubungi saya di mmujari@gmail.com atau arieatsari@yahoo.com. Mohon dituliskan nama e-books yang diinginkan, dan pada subject mohon ditulis “Pesan E-Books“. Insya Allah E-Books akan segera saya kirim by email, selain itu ada beberapa e books yang bisa di download langsung. Terima kasih

Berikut Daftar E-Books yang bisa Anda miliki:

Seputar Al-Qur’an Materi Orientasi Santri Baru LTQ Ibadurrahman, 13 Juli 2008
Pemenang Pemilu 2009
RI 1 2009-2014

2015 Imam Mahdi akan Datang
Ada Pemurtadan di IAIN; Hartono Ahmad Jaiz
Ahmadiyah Telanjang bulat di Panggung Sejarah; Abdullah hasan Al Hadar
Al-Qur’an dihina Gus Dur
Ayat-Ayat ”Fitna”
Bahaya Islam Liberal- Hartono Ahmad Jaiz
Bantahan Terhadap Syubhat IM; Syaikh Jasim Muhalhil
Berjalan di Atas Manhaj As-Salafus Shalih
Bibel, Qur’an dan Sains Modern
Bila Kyai Menjadi Tuhan; Hartono Ahmad Jaiz
Bukti Kebenaran Al-Qur’an
Bunga Rampai; Syaikh Yususf Qordhowi
Buku Syaikh Qordhowi- Lengkap
Cara Tepat Mati Syahid; Syaikh Jabir bin Abd.Qoyyum
Counter Liberalisme, Kumpulan Artikel Swara Muslim
Dajjal dan Ya’juj wa Ma’jud
Debat Kairo, Islam vs Kristen
Digital Ilmu Tajwid; Bahasa Indonesia dan Sunda
Diskusi Kajian Al-Qur’an & Al-Hadist
Fatwa Fatwa Kontemporer; Syaikh Yususf Qordhowi
Fatwa Qardawi; Syaikh Yususf Qordhowi
Fiqh Prioritas; Syaikh Yususf Qordhowi
Fiqih Minoritas Muslim; Yusuf Qordhowi
Fiqih Qur’an & Hadist, Swara Muslim.net
Hadis Arba’in
Halal Dan Haram Dalam Islam; Syaikh Yususf Qordhowi
Himpunan Hadist Qudsi, karya Ahmad Sunarto
Hisnul Muslim, Kumpulan Do’a Sehari-hari (Arabic-English)
Hisnul Muslim, Kumpulan Do’a Sehari-hari (Arabic-Indonesia)
Hukum Dan Zakat; Syaikh Yususf Qordhowi
Hukum Membunuh Tawanan; Syaikh Yusuf AlUyairi
Idhoat Ala Darbil Jihad; Syaikh Yusuf Al Uyairy
Inilah Jalan Para Rosul; Syaikh Abu Mush’ab Al-Zarqowi
Insight, karya Harun Yahya
Jalan Dakwah; Mustafa Masyhur
Jalan Dakwah- Musthafa Masyhur
Jawaban Seputar Masalah-masalah Jihad; Syaikh Ibnu Qudamah An-Najdi
JIL, sebuah Doktrin yang telah usang, karya M Arifin Baderi, MA
Kajian Kristologi Islam-Kristen
Kepada Mereka Yang Buron dan Tertawan; Syaikh Abu Muhammad Al-Maqdisi
Kisah Para Nabi
Kisah-Kisah Islam
Kumpulan Shahih Bukhori-Muslim (English)
Kumpulan Tulisan Wahyu & Akal, karya HM Nur Abdurrahman
Majmu’ah Rasail karya Hasan Al-Banna (Arabic)
Matematika Alam Semesta
Materi Ceramah Ramadhan
Materi Tarbiyah Lengkap
Melawan Fitnah JIL
Membongkar Dusta Pendeta Rudy M Nurdin
Membongkar Gerakan Sesat NII Al-Zaitun
Metodologi Bibel dalam Studi Al-qur’an
Motivasi; Kumpulan Renungan Pembangun Jiwa
Muslim Indonesia; Suatu Kritik Diri
Panduan Ibadah Ramadhan; Iman Santoso, Lc
Platform PKS
Ramadhan Big Sale
Risalah Nikah
Risalah Puasa
Sejarah Hidup Muhammad karya M Husain Haekal
Sistem Masyarakat Islam Dalam Qur’an & Sunnah; Syaikh Yususf Qordhowi
Soal Jawab tentang berbagai masalah Agama, A Hasan dkk
Studi Kritis Pemahaman Islam- karya Armansyah
Tanya Jawab tentang Puasa
Tasawuf Belitan Iblis; Hartono Ahmad Jaiz
Tasawuf, Pluralisme dan Pemurtadan; Hartono Ahmad Jaiz
Thaifah Manshurah; Syaikh Abu Qatadah Al-Filisthini
The Choice Islam & Chrustianity, Ahmed Deedat
The History of The Qur’anic Text
The Passion of Jesus
The Seven Habits Of Highly Effective People
The X Files
Tiada Khilafah Tanpa Tauhid & Jihad ; Syaikh Abu Bashir At-Tarthusi
Titik Temu Islam & Kristen, Persepsi dan Salah Persepsi
Tuntutan Bertaubat Kepada Allah Swt; Syaikh Yususf Qordhowi
Yang Tegar Di Jalan Jihad; Syaikh Yusuf Al Uyairi

Abu Bakar As Shidiq- M Husen Haikal
Aqidah Ahlu Sunnah
Umar bin Khatthab- H Husein Haikal
Adabul Majlis- Abu Salma
Ahkamus Sholat- Ali Raghib
Al Mu’minal As Sholihah- Musthafa Ramadhan
Al Qur’an Terjemah- English
Aqeedah Hamawiyah Ibn Taimiyyah
Aqeedah Thahawiyah
Aqidah Islam- Hasan Al Banna
Asas-asas Islam- Abu’l A’la Al Maududi
As Sholah, perjalanan menuju Allah- Imam Sutrisno
Bagaimana Cara Amar Ma’ruf Nahi Munkar- M Nur Ihsan
Bagaimana Menyeru kepada Islam- Fathi Yakan
Baiat Antara Sunnah vs Bidah- Syaikh Ali Hasan Al Halabi
Bekal Pernikahan- Shalih Fauzan al Fauzan
Bekal-bekal para Da’i- M Shalih Al Utsaimin
Biarkan Syiah bercerita ttg agamanya- Abdullah Zaen, Lc
Biografi Imam Syafi’i- Mu Nurul Mukhlishin
Darah Kebiasaan Wanita- M bin Shalih Al Utsaimin
Detik-detik Hidupku- Hasan Al banna
Dunia Ladang Akhirat- Abu Salma
Fiqh As Shirah 1- M Said Ramadhan Al Buti
Imam Mahdi - Ust Hawari
Inti Ajaran Islam- Bin Baz
IPDN Undercover
Islam dakwah yang Syumul - Yusuf Qordhowi
Islam dan Jahiliyah - Abul A’la al Maududi
Jalan Terindah- Imam Sutrisno
Jangan Dekati Zina - Ibnul Qoyyim
Kado perkawinan- Mahmud Mahdi Al Istanbuli
Kepada Ukhti Muslimah
Ketika Cahaya Hidayah Menerangi Qalbu
Keutamaan Membaca dan Mengkaji Al-Qur’an- Imam Nawawi
Kumpulan Tuliasan Anis Mata
Kimia Kehidupan - Al Ghazali
Majmuah Rasail- Hasan Al Banna
Membangun Sains danTeknologi Menutur Islam
Menelanjangi Nabi dan Rasul Palsu
Menertawakan Pacaran
Menghafal Al-Quran- Yusuf Qordhowi
Meraih Hidup Bahagia- Abdurrahman Nashir As-Sa’di
Minhaj Firqoh Najiyyah
Nasehat untuk Keluarga Muslim- Yusuf bin Abdullah at Turky
Nasihat bagi Pemuda Ahlul Sunnah
Orientalisme- Abdul Muim Hsanain
Peringatan Bagi Ulul Albab
Petunjuk Memilih Istri
Petunjuk Sepanjang Jalan- Sayid Qutb
Poligami dihujat- Abu Salma
Qodho dan Qodar- Muhammad Al-Utsaimeen
Qodho dan Qodar- M. Al Utsaimiin
Rahasia Kekebalan Tubuh- Harun Yahya
Rahasia Kesehatan Nabi
Rintangan Perjuangan dalam Kehidupan Pendakwah- Fathi Yakan
Riyadhus Sholihiin
Sahabat Nabi- M Utsaimin
Salaf Shalih- Abdullah Jibrin
Salah Faham Terhadap Islam - Muhamad Qutb
Sifat Wudhu Nabi-
Sikap Muslim Menghadpi Fitnah
Sirah Nabawiyah- Mustafa As-Sibaie
Sirah Nabawiyyah- Abdul Ghani Abdul Wahid
Studi Ringkas ttg Manhaj Salaf
Sunami Pembawa Mesej dari Tuhan
Tashfiyah & Tarbiyah
Tiga Landasan Utama- M. At Tamimi
Tips Murobbi Sukses- Satria Hadi Lubis
Untukmu Kader Dakwah-Rahmat Abdullah
Uquudu Lujain fii bayaani huquuzzaujaini
Ushul ‘Isyriin- Hasan Al Banna
Usrah & Dakwah- Hasan Al Banna
Wafat Rasulullah & Suksesi Sepeninggal Beliau
Zaadul Ma’ad- Ibn Qoyyim Al Jauziyyah

“Kitab Hadits Asli-Arabic”
Shahih Bukhori
Shahih Muslim
Shahih wa Dhoif Jami’ Tirmidzi
Shahih wa Dhoif Sunan Ibnu Majah
Shahih wa Dhoif Sunan As Nasai
Shahih wa Dhoif Sunan Abi Daud
Shahih Ibnu Hiban
Sunan Ad Darimi
Sunan Ad Daruqutni
Musnad Imam Ahmad
Shahih Jami’us Shoghir
Dhaif Jami’us Shoghir
Al Muwatho’ Imam Malik
Silsilah Ahaditsah Shahihah 1-7 Al Bani
Silsilah Ahaditsah Dhoifah 1-13 Al Bani
Al Adabul Mufrod Al Bani
Al Irwa Al Bani

E-Books Seri Novel
Ayat-Ayat Cinta
Cinta Puteri Aelia
Dalam Mihrab Cinta
Detik-Detik yang Menentukan
Di atas Sajadah Cinta
Jakarta Undercover
Laila Majnun
Laskar Pelangi
Pudarnya Pesona Cleopatra
Syaikh Siti Jenar
The Davinci Code
Bukan di negeri Dongeng- Helvy TR dkk
Gerola Cinta Seorang Gadis
Cintaku di Kampus Biru- Ashadi Siregar
Kugapai Cintamu- Ashadi Siregar
Terminal Cinta Terakhir- Ashadi Siregar
Mahkota Cinta- Habiburahman Al Sirazy
Ketika Cinta Bertasbih- Habiburahman Al Sirazy
Ketika Cinta Berbuah Surga- Habiburahman Al Sirazy
Nyanyia Cinta- Habiburahman Al Sirazy
Takbir Cinta Zahrana- Habiburahman Al Sirazy
Sang Pemimpi- Andrea Hirata
Hatiku Milikmu- Fatimah Syarha
Seindah Mawar Berduri
Cuma Gadis Biasa

May 10, 2008

Nasihat Cegah Maksiat

Berikut ini sepuluh nasihat Ibnul Qayyim rahimahullah untuk menggapai kesabaran diri agar tidak terjerumus dalam perbuatan maksiat:

Pertama, hendaknya hamba menyadari betapa buruk, hina dan rendah perbuatan maksiat. Dan hendaknya dia memahami bahwa Allah mengharamkannya serta melarangnya dalam rangka menjaga hamba dari terjerumus dalam perkara-perkara yang keji dan rendah sebagaimana penjagaan seorang ayah yang sangat sayang kepada anaknya demi menjaga anaknya agar tidak terkena sesuatu yang membahayakannya.

Kedua, merasa malu kepada Allah… Karena sesungguhnya apabila seorang hamba menyadari pandangan Allah yang selalu mengawasi dirinya dan menyadari betapa tinggi kedudukan Allah di matanya. Dan apabila dia menyadari bahwa perbuatannya dilihat dan didengar Allah tentu saja dia akan merasa malu apabila dia melakukan hal-hal yang dapat membuat murka Rabbnya… Rasa malu itu akan menyebabkan terbukanya mata hati yang akan membuat Anda bisa melihat seolah-olah Anda sedang berada di hadapan Allah…

Ketiga, senantiasa menjaga nikmat Allah yang dilimpahkan kepadamu dan mengingat-ingat perbuatan baik-Nya kepadamu.
Apabila engkau berlimpah nikmat
maka jagalah, karena maksiat
akan membuat nikmat hilang dan lenyap
Barang siapa yang tidak mau bersyukur dengan nikmat yang diberikan Allah kepadanya maka dia akan disiksa dengan nikmat itu sendiri.

Keempat, merasa takut kepada Allah dan khawatir tertimpa hukuman-Nya

Kelima, mencintai Allah… karena seorang kekasih tentu akan menaati sosok yang dikasihinya… Sesungguhnya maksiat itu muncul diakibatkan oleh lemahnya rasa cinta.

Keenam, menjaga kemuliaan dan kesucian diri serta memelihara kehormatan dan kebaikannya… Sebab perkara-perkara inilah yang akan bisa membuat dirinya merasa mulia dan rela meninggalkan berbagai perbuatan maksiat…

Ketujuh, memiliki kekuatan ilmu tentang betapa buruknya dampak perbuatan maksiat serta jeleknya akibat yang ditimbulkannya dan juga bahaya yang timbul sesudahnya yaitu berupa muramnya wajah, kegelapan hati, sempitnya hati dan gundah gulana yang menyelimuti diri… karena dosa-dosa itu akan membuat hati menjadi mati…

Kedelapan, memupus buaian angan-angan yang tidak berguna. Dan hendaknya setiap insan menyadari bahwa dia tidak akan tinggal selamanya di alam dunia. Dan mestinya dia sadar kalau dirinya hanyalah sebagaimana tamu yang singgah di sana, dia akan segera berpindah darinya. Sehingga tidak ada sesuatu pun yang akan mendorong dirinya untuk semakin menambah berat tanggungan dosanya, karena dosa-dosa itu jelas akan membahayakan dirinya dan sama sekali tidak akan memberikan manfaat apa-apa.

Kesembilan, hendaknya menjauhi sikap berlebihan dalam hal makan, minum dan berpakaian. Karena sesungguhnya besarnya dorongan untuk berbuat maksiat hanyalah muncul dari akibat berlebihan dalam perkara-perkara tadi. Dan di antara sebab terbesar yang menimbulkan bahaya bagi diri seorang hamba adalah… waktu senggang dan lapang yang dia miliki… karena jiwa manusia itu tidak akan pernah mau duduk diam tanpa kegiatan… sehingga apabila dia tidak disibukkan dengan hal-hal yang bermanfaat maka tentulah dia akan disibukkan dengan hal-hal yang berbahaya baginya.

Kesepuluh, sebab terakhir adalah sebab yang merangkum sebab-sebab di atas… yaitu kekokohan pohon keimanan yang tertanam kuat di dalam hati… Maka kesabaran hamba untuk menahan diri dari perbuatan maksiat itu sangat tergantung dengan kekuatan imannya. Setiap kali imannya kokoh maka kesabarannya pun akan kuat… dan apabila imannya melemah maka sabarnya pun melemah… Dan barang siapa yang menyangka bahwa dia akan sanggup meninggalkan berbagai macam penyimpangan dan perbuatan maksiat tanpa dibekali keimanan yang kokoh maka sungguh dia telah keliru.

Diterjemahkan dari artikel berjudul ‘Asyru Nashaa’ih libnil Qayyim li Shabri ‘anil Ma’shiyah,
www.ar.islamhouse.com,
Alih Bahasa: Abu Muslih Ari Wahyudi

May 9, 2008

Indikator Kebahagiaan Dunia

Ibnu Abbas ra. adalah salah seorang sahabat Nabi SAW yang sangat telaten dalam menjaga dan melayani Rasulullah SAW, dimana ia pernah secara khusus didoakan Rasulullah SAW, selain itu pada usia 9 tahun Ibnu Abbas telah hafal Al-Quran dan telah menjadi imam di mesjid. Suatu hari ia ditanya oleh para tabi’in (generasi sesudah wafatnya Rasulullah SAW) mengenai apa yang dimaksud dengan kebahagiaan dunia. Jawab Ibnu Abbas ada 7 (tujuh) indikator kebahagiaan dunia, yaitu:

Pertama, Qalbun syakirun atau hati yang selalu bersyukur.
Memiliki jiwa syukur berarti selalu menerima apa adanya (qona’ah), sehingga tidak ada ambisi yang berlebihan, tidak ada stress, inilah nikmat bagi hati yang selalu bersyukur. Seorang yang pandai bersyukur sangatlah cerdas memahami sifat-sifat Allah SWT, sehingga apapun yang diberikan Allah ia malah terpesona dengan pemberian dan keputusan Allah.

Bila sedang kesulitan maka ia segera ingat sabda Rasulullah SAW yaitu, “Kalau kita sedang sulit perhatikanlah orang yang lebih sulit dari kita”. Bila sedang diberi kemudahan, ia bersyukur dengan memperbanyak amal ibadahnya, kemudian Allah pun akan mengujinya dengan kemudahan yang lebih besar lagi. Bila ia tetap “bandel” dengan terus bersyukur maka Allah akan mengujinya lagi dengan kemudahan yang lebih besar lagi. Maka berbahagialah orang yang pandai bersyukur!

Kedua, Al-azwaju as-shalihah, yaitu pasangan hidup yang sholeh.
Pasangan hidup yang sholeh akan menciptakan suasana rumah dan keluarga yang sholeh pula. Di akhirat kelak seorang suami (sebagai imam keluarga) akan diminta pertanggungjawaban dalam mengajak istri dan anaknya kepada kesholehan. Berbahagialah menjadi seorang istri bila memiliki suami yang sholeh, yang pasti akan bekerja keras untuk mengajak istri dan anaknya menjadi muslim yang sholeh. Demikian pula seorang istri yang sholehah, akan memiliki kesabaran dan keikhlasan yang luar biasa dalam melayani suaminya, walau seberapa buruknya kelakuan suaminya. Maka berbahagialah menjadi seorang suami yang memiliki seorang istri yang sholehah.

Ketiga, al-aulad al-abrar, yaitu anak yang soleh/solehah.
Saat Rasulullah SAW lagi thawaf. Rasulullah SAW bertemu dengan seorang anak muda yang pundaknya lecet-lecet. Setelah selesai thawaf Rasulullah SAW bertanya kepada anak muda itu : “Kenapa pundakmu itu?” Jawab anak muda itu: “Ya Rasulullah, saya dari Yaman, saya mempunyai seorang ibu yang sudah udzur. Saya sangat mencintai dia dan saya tidak pernah melepaskan dia. Saya melepaskan ibu saya hanya ketika buang hajat, ketika sholat, atau ketika istirahat, selain itu sisanya saya selalu menggendongnya” . Lalu anak muda itu bertanya: “Ya Rasulullah, apakah aku sudah termasuk kedalam orang yang sudah berbakti kepada orang tua? “Nabi SAW sambil memeluk anak muda itu dan mengatakan: “Sungguh Allah ridho kepadamu, kamu anak yang soleh, anak yang berbakti, tapi anakku ketahuilah, cinta orang tuamu tidak akan terbalaskan olehmu”

Dari hadist tersebut kita mendapat gambaran bahwa amal ibadah kita ternyata tidak cukup untuk membalas cinta dan kebaikan orang tua kita, namun minimal kita bisa memulainya dengan menjadi anak yang sholeh, dimana doa anak yang sholeh kepada orang tuanya dijamin dikabulkan Allah. Berbahagialah kita bila memiliki anak yang sholeh.

Keempat, al-biah as-sholihah, yaitu lingkungan yang kondusif untuk iman kita.
Yang dimaksud dengan lingkungan yang kondusif ialah, kita boleh mengenal siapapun tetapi untuk menjadikannya sebagai sahabat karib kita, haruslah orang-orang yang mempunyai nilai tambah terhadap keimanan kita. Dalam sebuah haditsnya, Rasulullah menganjurkan kita untuk selalu bergaul dengan orang-orang yang sholeh.

Orang-orang yang sholeh akan selalu mengajak kepada kebaikan dan mengingatkan kita bila kita berbuat salah. Orang-orang sholeh adalah orang-orang yang bahagia karena nikmat iman dan nikmat Islam yang selalu terpancar pada cahaya wajahnya. Insya Allah cahaya tersebut akan ikut menyinari orang-orang yang ada disekitarnya. Berbahagialah orang-orang yang selalu dikelilingi oleh orang-orang yang sholeh.

Kelima, al-maal al-halal, atau harta yang halal.
Paradigma dalam Islam mengenai harta bukanlah banyaknya harta tetapi halal dan barokahnya. Ini tidak berarti Islam tidak menyuruh umatnya untuk kaya. Dalam riwayat Imam Muslim di dalam bab sadaqoh, Rasulullah SAW pernah bertemu dengan seorang sahabat yang berdoa mengangkat tangan. “Kamu berdoa sudah bagus”, kata Nabi SAW, “Namun sayang makanan, minuman dan pakaian dan tempat tinggalnya didapat secara haram, bagaimana doanya dikabulkan”. Berbahagialah menjadi orang yang hartanya halal karena doanya sangat mudah dikabulkan Allah. Harta yang halal juga akan menjauhkan setan dari hatinya, maka hatinya semakin bersih, suci dan kokoh, sehingga memberi ketenangan dalam hidupnya. Maka berbahagialah orang-orang yang selalu dengan teliti menjaga kehalalan hartanya.

Keenam, Tafaqquh fii dien, atau semangat untuk memahami agama.
Semangat memahami agama diwujudkan dalam semangat memahami ilmu-ilmu agama Islam. Semakin ia belajar, maka semakin ia terangsang untuk belajar lebih jauh lagi ilmu mengenai sifat-sifat Allah dan ciptaan-Nya. Allah menjanjikan nikmat bagi umat-Nya yang menuntut ilmu, semakin ia belajar semakin cinta ia kepada agamanya, semakin tinggi cintanya kepada Allah dan rasul-Nya.

Cinta inilah yang akan memberi cahaya bagi hatinya. Semangat memahami agama akan meng”hidup” kan hatinya, hati yang “hidup” adalah hati yang selalu dipenuhi cahaya nikmat Islam dan nikmat iman. Maka berbahagialah orang yang penuh semangat memahami ilmu agama Islam.

Ketujuh, al-umru al-barokah, yaitu umur yang barokah.
Umur yang barokah itu artinya umur yang semakin tua semakin sholeh, yang setiap detiknya diisi dengan amal ibadah. Seseorang yang mengisi hidupnya untuk kebahagiaan dunia semata, maka hari tuanya akan diisi dengan banyak bernostalgia (berangan-angan) tentang masa mudanya, iapun cenderung kecewa dengan ketuaannya (post-power syndrome). Disamping itu pikirannya terfokus pada bagaimana caranya menikmati sisa hidupnya, maka iapun sibuk berangan-angan terhadap kenikmatan dunia yang belum ia sempat rasakan, hatinya kecewa bila ia tidak mampu menikmati kenikmatan yang diangankannya.

Sedangkan orang yang mengisi umurnya dengan banyak mempersiapkan diri untuk akhirat (melalui amal ibadah) maka semakin tua semakin rindu ia untuk bertemu dengan Sang Penciptanya. Hari tuanya diisi dengan bermesraan dengan Sang Maha Pengasih. Tidak ada rasa takutnya untuk meninggalkan dunia ini, bahkan ia penuh harap untuk segera merasakan keindahan alam kehidupan berikutnya seperti yang dijanjikan Allah. Inilah semangat “hidup” orang-orang yang baroqah umurnya, maka berbahagialah orang-orang yang umurnya barokah.

Demikianlah pesan-pesan dari Ibnu Abbas ra. mengenai 7 indikator kebahagiaan dunia.

Bagaimana caranya agar kita dikaruniakan Allah ke tujuh buah indikator kebahagiaan dunia tersebut? Selain usaha keras kita untuk memperbaiki diri, maka mohonlah kepada Allah SWT dengan sesering dan se-khusyu’ mungkin membaca doa `sapu jagat’ , yaitu doa yang paling sering dibaca oleh Rasulullah SAW. Dimana baris pertama doa tersebut “Rabbanaa aatina fid dun-yaa hasanah” (yang artinya “Ya Allah karuniakanlah aku kebahagiaan dunia “), mempunyai makna bahwa kita sedang meminta kepada Allah ke tujuh indikator kebahagiaan dunia yang disebutkan Ibnu Abbas ra, yaitu hati yang selalu syukur, pasangan hidup yang soleh, anak yang soleh, teman-teman atau lingkungan yang soleh, harta yang halal, semangat untuk memahami ajaran agama, dan umur yang barokah.

Walaupun kita akui sulit mendapatkan ketujuh hal itu ada di dalam genggaman kita, setidak-tidaknya kalau kita mendapat sebagian saja sudah patut kita syukuri.

Sedangkan mengenai kelanjutan doa sapu jagat tersebut yaitu “wa fil aakhirati hasanah” (yang artinya “dan juga kebahagiaan akhirat”), untuk memperolehnya hanyalah dengan rahmat Allah. Kebahagiaan akhirat itu bukan surga tetapi rahmat Allah, kasih sayang Allah. Surga itu hanyalah sebagian kecil dari rahmat Allah, kita masuk surga bukan karena amal soleh kita, tetapi karena rahmat Allah.

Amal soleh yang kita lakukan sepanjang hidup kita (walau setiap hari puasa dan sholat malam) tidaklah cukup untuk mendapatkan tiket masuk surga. Amal soleh sesempurna apapun yang kita lakukan seumur hidup kita tidaklah sebanding dengan nikmat surga yang dijanjikan Allah.

Kata Nabi SAW, “Amal soleh yang kalian lakukan tidak bisa memasukkan kalian ke surga”. Lalu para sahabat bertanya: “Bagaimana dengan Engkau ya Rasulullah ?”. Jawab Rasulullah SAW : “Amal soleh saya pun juga tidak cukup”. Lalu para sahabat kembali bertanya : “Kalau begitu dengan apa kita masuk surga?”. Nabi SAW kembali menjawab : “Kita dapat masuk surga hanya karena rahmat dan kebaikan Allah semata”.

Jadi sholat kita, puasa kita, taqarub kita kepada Allah sebenarnya bukan untuk surga tetapi untuk mendapatkan rahmat Allah. Dengan rahmat Allah itulah kita mendapatkan surga Allah (Insya Allah, Amiin).

Sumber tulisan:
ceramah Ust. Aam Aminudin, Lc. di Sapporo, Jepang,
disarikan secara bebas oleh Sdr. Asep Tata Permana

April 8, 2008

Rambu-rambu Pergaulan

Sadar atau tidak, kita dihadapkan pada permasalahan yang cukup serius. Permasalahan yang tidak bisa dipandang sebelah mata atau bahkan dianggap angin lalu. Permasalahan itu tak lain adalah tentang pergaulan antar ikhwan dan akhwat (baca pria dan wanita). Saya katakan cukup serius karena permasalahan tersebut menyangkut masalah akhlaq (baca moral). Dan akhlaq sangat erat kaitannya dengan peradaban. Apabila akhlaq penduduk suatu negara rusak maka pada hakikatnya bangsa itu adalah bangsa yang tidak beradab. Karena begitu pentingnya masalah akhlaq ini, maka jauh-jauh hari Allah mengutus Rasulnya tidak lain hanya untuk memperbaiki akhlaqnya. ”Dan tidaklah aku diutus kecuali untuk menyempurnakan akhlaq yang mulia”. Begitulah Rasululah memberikan penegasan kepada umatnya.

Akhlaq adalah suatu tabiat dan ia akan terbentuk dengan adanya suatu pembiasaan yang berkesinambungan. Akhlaq sangat dipengaruhi oleh informasi yang diterima dalam kesehariannya.

Akhlaq merupakan inti dalam pergaulan. Dengan demikian pergaulan akan baik jika didasari dengan akhlaq yang baik. Baik dan tidaknya akhlaq seseorang dalam pergaulan sering menjadi kabur tanpa disandarkan pada parameter ukur yang tepat. Dalam era modernisasi, westernisasi dan pesatnya arus informasi seperti saat ini menyebabkan dunia dunia seakan tanpa batas. Berbagai nilai telah masuk memenuhi volume otak kita sehingga mengaburkan nilai fitroh yang kita miliki. Oleh karena itu, agar tidak kehilangan identitas kita harus mengembalikan semua nilai tersebut kepada fitroh itu sendiri, dan fitroh itu tak lain adalah Islam, agama yang lurus. Sehingga Islamlah yang harus kita jadikan parameter untuk menilai benar atau salah mengenai pergaulan seseorang. Allah berfirman,”Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah); (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui” (QS.Ar-Rum[30]:30)

Lalu bagaimana seharusnya seorang muslim dan muslimah berinteraksi antara satu sama lain? Itulah pertanyaan yang sering jadi tema yang sangat menarik karena akan selalu update pada setiap kurun waktu mengingat makin cepatnya transfer budaya antara satu tempat dengan tempat yang lain di belahan dunia ini. Islam adalah agama yang solutif yang akan memberikan solusi terbaik dimanapun dan kapanpun hingga hari akhir kelak. Itulah keyakinan yang harus kita tanamkan dalam hati kita, sehingga kita bisa selalu optimis dalam menghadapi masalah, apapun bentuknya.

Terkait soal pergaulan, mari kita kembali mengingat firman Allah yang merupakan dasar diperintahkannya ta’aruf (baca: saling kenal) diantara manusia di muka bumi ini. ”Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.”(QS.Al-Hujurat[49]:13). Untuk bisa saling kenal berarti harus ada interaksi antara pihak-pihak yang akan saling mengenal. Mungkin akan lebih sederhana masalahnya jika interaksinya hanya antara sesama jenis, atau antar seseorang dengan mahramnya. Permasalahan akan lebih serius jika interaksi yang dimaksud berkenaan dengan dua individu yang berbeda jenis dan bukan mahram.

Dalam mengatur interaksi antara ikhwan-akhwat (baca: pria dan wanita), Islam menetapkan rambu-rambu yang jelas, yang mana rambu-rambu tersebut ditujukan untuk kedua belah pihak secara adil. Adapun diantara rambu-rambu tersebut diantaranya:

1.Perintah Menundukkan Pandangan (ghodhul bashor)
Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat”. Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya, … (QS.An-Nuur[24]:30-31

Menundukkan pandangan, sekilas kelihatannya sepele dan sangat mudah dilakukan tapi ternyata dalam pelaksanaannya sangatlah sulit kecuali bagi orang yang imannya benar-benar mantap. Mungkin banyak orang yang berpikir, ”kan cuman memandang, apa sih salahnya?” Kalau tidak dengan syahwat kan gak masalah?” Sekilas, pandangan tersebut cukup cerdas untuk mengelak dari sebuah kewajiban. Parahnya pandangan ini diikuti oleh kebanyakan manusia, bahkan tidak terkecuali para aktivis dakwah sekalipun.

Bukankah kita sangat paham bahwa pandangan mata adalah salah satu dari panah-panah iblis, maka barang siapa yang menundukkannya karena Allah maka akan dirasakan manisnya iman di hatinya (HR Ahmad), begitulah Rasul mengingatkan. Mungkin benar jika cuman memandang tidak ada bahaya yang saat itu kita rasakan, justru boleh jadi ”kenikmatan” yang diperolah, tapi dampak selanjutnya dari proses memandang tersebut akan sangat berbahaya, bahkan bisa menghilangkan mutiara yang selama ini kita jaga, ialah keimanan. Dengan memandang, otak kita akan cepat merespon, mengolahnya menjadi sinyal-sinyal yang akan diteruskan ke hati. Dan dari hati inilah segala perbuatan jahat akan bisa direalisasi melalui anggota badan.

Wahai saudaraku, sebagai insan beriman sudah seharusnya kita bisa menundukkan pandangan, terkecuali tidak sengaja, tapi itupun tidak lantas boleh diumbar. Rasulullah pernah memberikan peringatan kepada Ali ra., ”Wahai Ali, janganlah engkau ikuti pandangan yang satu dengan pandangan yang lain, engkau hanya boleh melakukan pandangan yang pertama (dgn tidk sengaja), sedang pandangan yang kedua adalah resiko (dosa) bagimu”(HR. Abu Dawud & Al-Hakim). Jadi tidak ada dosa bagi seorang yang tidak sengaja memandang sesuatu yang diharamkan (baca: aurat). Berkaitan dengan bolehnya memandang dengan tidak sengaja tersebut ada sebuah kisah dari sahabat Jarir bin Abad ra., dia berkata, ”Aku bertanya kepada Rasulullah saw soal memandang mendadak yang tidak disengaja, maka Beliau menyuruhku memalingkan pandangan” (HR. Muslim). Juga, jika kita perhatikan dalam QS An-Nur ayat 30-31, di situ terlihat ada perbedaan penggunaan kata antara perintah menundukkan pandangan dan menjaga kemaluan. Dalam perintah untuk menundukkan pandangan digunakan redaksi ”yaghuddhu min abshoorihim”. Di sini digunakan min litab’idh yang bermakna sebagian, tapi dalam perintah menjaga kemaluan tidak digunakan kata min, ”yahfazhuu furuujahum”. Dengan demikian, kita pahami bahwa memandang dengan tanpa sengaja tidak menyebabkan dosa jika tidak diikuti pandangan berikutnya karena memang dalam realita tidak mungkin kita bisa menghindar 100% dari semua itu. Dan tidak mungkin kita menutup mata dalam berjalan, atau tidak mau keluar rumah karena takut melihat sesuatu yang haram, justru itu yang menyalahi tujuan penciptaan manusia sebagai kholifatullah.

Wahai saudara, kita akui, sungguh sangat sulit menundukkan pandangan di saat seperti sekarang ini. Kita lihat, di mana-mana aurat diumbar, sehingga seolah-olah tidak ada tempat di kolong langit ini yang bebas darinya. Di jalan-jalan berkeliaran para manusia pengumbar aurat, di televisi tak pernah bebas dari tayangan-tayangan yg mempertontonkan aurat dan mengumbar syahwat, di media-media cetak senantiasa terpampang gambar-gambar seronok, juga di dunia maya (baca: internet) berrgentayangan situs-situs porno yang siap cari mangsa, na’udzubillah. Kadang terbetik di hati kita, ”mungkin lebih baik kita tidak usah punya mata”, karena saking sulitnya menjaga mata tersebut dari melihat sesuatu yang haram. Tapi itulah realita. Realita kehidupan yang akan menguji sampai dimana kualitas keimanan kita. Akankah kita terjerembab dalam lembah kemaksiatan itu, berlarut dan terus berlarut???

Ternyata tidak hanya mata kita yang menghadapi ujian serupa. Kedua telinga, mulut, tangan dan kaki kita juga merasakan hal yang sama. Semuanya bisa terjerumus dalam bentuk ”perzinahan”. ”Telah ditetapkan bagi anak Adam perzinahan tertentu yang tidak dapat dielakkannya. Zinanya kedua mata dengan memandang yang diharamkan, zinanya lisan dengan ucapan, zinanya telinga dengan mendengarkan (sesuatu yang dilarang), zinanya tangan dengan memegang, zinanya kaki dengan langkah-langkah, zinanya nafsu dengan hasrat dan keinginan, dan kemudian kemaluanlah yang akan membuktikan atau membatalkan semua bentuk zina tersebut”(HR. Bukhori-Muslim)

Menjaga pandangan mata, inilah rambu-rambu yang pertama harus kita perhatikan dalam rangka menjaga pergaulan di antara kita. Jangan sampai ukhuwah diantara kita ternodai oleh penyakit hati yang ditimbulkan oleh pandangan mata kita di saat berinteraksi dengan lain jenis. Jangan sampai ukhuwah yang akan kita bangun melalui pergaulan berbuah kenistaan yang tidak diridhoi oleh Allah swt., Marilah saling menjaga, agar terjaga keimanan pada diri kita.

2.Perintah Hijab
Perintah godhul bashor dan berhijab mempunyai kedudukan yang sama-sama pentingnya layaknya siang dan malam yang tidak mungkin dipisahkan. Perintah ini secara adil ditujukan oleh Allah swt. kepada manusia baik laki-laki maupun perempuan meskipun dalam aplikasinya sedikit ada penekanan pada wanita untuk masalah hijab dan ghodul bashor untuk laki-laki.

Kewajiban hijab sangat erat kaitannya dengan aurat dan batasan-batasannya. Dengan siapa, di mana dan kapan kita harus berhijab telah dijelaskan secara detail dalam Al-Qur’an maupun hadist. Batasan hijab untuk laki-laki mungkin bisa dikatakan cukup sederhana dan jarang menimbulkan masalah. Jumhur Ulama berpendapat bahwa batasan aurat laki-laki adalah antara pusar dan lutut, tetapi alangkah ahsan jika para laki-laki dalam berpakaian tidak hanya menutup pada batas minilal tersebut. Hendaknya dia juga berpakaian yang sopan, tidak ketat, juga tidak tipis. Dengan demikian tidak menimbulkan fitnah bagi para akhwat (baca: wanita) yang tidak sengaja melihatnya, karena bagi seorang akhwat juga ada kewajiban godhul bashor.

Bagi wanita, kewajiban hijab sangat diperhatikan dalam islam, melebihi hijab bagi laki-laki, karena memang wanita merupakan sumber fitnah yang lebih besar. Tidaklah aku meninggalkan fitnah setelahku yang lebih berbahaya bagi kaum pria melebihi kaum wanita” (HR. Bukhori-Muslim). Mengenai kewajiban hijab bagi seorang wanita, Allah swt., berfirman:

Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak daripadanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya, kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putra-putra mereka, atau putra-putra suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita Islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertobatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung. (QS.An-Nuur[24]:31
Wahai Nabi katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mu’min. Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka” [Q.S. Al-Ahzab : 59]

Itulah perintah yang terinci yang ditujukan bagi kaum wanita untuk tidak memperlihatkan perhiasan yang ia miliki kecuali kepada mahramnya. Di situ juga dijelaskan bagaimana seharusnya para wanita berhijab yang benar, yaitu supaya mereka menutupkan kain kudungnya ke dada, atau ke seluruh tubuhnya. Bukan hanya sekedar membungkus tubuh secara asal-asalan. Ringkasnya, ada dua syarat hijab (baca: jilbab) yang harus diperhatikan, yaitu pertama tidak sempit/ketat (laa dhoyyiq) sehingga masih memperlihatkan lekak-lekuk tubuhnya, kedua tidak tipis atau transparan (laa riqo’) sehingga warna kulitnya masih kelihatan dari luar laksanan ikan di dalam aquarium, na’udzubillah.

Hal ini sangat penting untuk diperhatikan karena semua itu adalah bentuk ibadah kepada Allah swt. Jika dirimu bisa menunaikannya dengan benar dan ikhlas insya Allah, setiap detik kehidupanmu akan bertabur pahala dariNya. Subhanallah. Tapi apa yang terjadi saat ini? Sudahkah para wanita menutup keindahan tubuhnya? Padahal hanya suamimulah yang paling berhak menikmatinya, bukan yang lain.

3.Larangan kholwat dan ikhtilath
Kholwat (berdua-duaan dengan lain jenis) dan ikhtilath (campur baur antara pria dan wanita) juga merupakan pemicu kehancuran generasi. Memang akan terasa indah jika dua insan berdua-duaan di tempat sepi sambil ngobrol ngalor ngidul seolah tak ada beban. Apalagi jika hati kedua insan tersebut telah menyatu, ada sinyal-sinyal yang agak nyambung frekuensinya, sungguh saat-saat seperti itu merupakan momentum yang tak terkira betapa nikmatnya. Tidak ada lagi rasa bersalah, menyesal atau tak enak karena memang hatinya ditutupi oleh setan. Akan dijadikan indah semua yang mereka lakukan. Itulah salah satu tipu daya setan la’natullah ’alaihi. Sungguh benar sabda Rasulullah, ”Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka jangan sekali-kali dia bersendirian (berdua-duaan) dengan seorang perempuan yang tidak bersama mahramnya, karena yang ketiganya ialah syaitan.” (HR.Ahmad). Maka sebagai insan yang beriman sudah sepatutnya kita waspada karena jika sekali saja kita menikmatinya (berdua-duaan), niscaya kita akan ketagihan dibuatnya. Sekali-kali, tipu daya setan akan terus dilancarkannya hingga menembus titik terlemah kita.

Ikhtilath, sering terjadi saat kita mengadakan kegiatan-kegiatan keagamaan, acara remaja, pengajian, dan sebagainya. Awalnya, mungkin sangat bagus tujuannya tapi dalam pelaksanaan di lapangan timbul sesuatu yang tercela sehingga timbul saling sentuh, saling canda, saling pandang, dan berjabat tangan dengan bebasnya. Inilah yang sering terjadi, yang kadang dianggap sangat biasa dan wajar.

Tak terkecuali bagi para aktivis dakwah, kadang kholwat dan ikhtilath menjadi sesuatu yang dianggap biasa, yang dibungkus dengan tujuan dakwah, syura’ (baca: rapat), liqo’ (baca: pertemuan) dan lainnya. Duduk berdua untuk berdiskusi tentang Islam, rapat dengan posisi yang saling berhadapan pada posisi yang amat dekat, pulang berduaan saja setelah rapat, mungkin ini sedikit contoh pelanggaran atas nama dakwah.

4.Larangan Berbicara dengan dibuat-buat
Pada asalnya tidak ada larangan untuk berbicara antara pria dan wanita untuk suatu tujuan dalam interaksi sosial. Dan memang, berbicara merupakan salah satu cara yang bisa dilakukan untuk bisa saling memahami, termasuk menyampaikan dakwah tentang keislaman. Yang jadi masalah adalah apabila pembicaraan yang dimaksud sudah menyimpang dari tujuan awal.

Berikut beberapa penyimpangan yang sering terjadi, Berbicara secara mendayu-dayu, bercanda ikhwan-akhwat, saling sms dengan PeDenya untuk menyampaikan rasa Simpati, saling telpon untuk tujuan yang tidak jelas dan tidak ada hubungannya sama sekali dengan dakwah, saling curhat antara ikhwan dan akhwat tentang masalah pribadi yang sebenarnya sangat-sangat privasi, saling chatting di internet dengan bahasa yang sangat akrab. Bukankah Allah telah memberikan peringatan kepada istri-istri Nabi yang pada hakekatnya juga kepada kita, melalui firmanNYa, ”Hai istri-istri Nabi, kamu sekalian tidaklah seperti wanita yang lain, jika kamu bertakwa. Maka janganlah kamu tunduk dalam berbicara sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya, dan ucapkanlah perkataan yang baik” (QS Al-Ahzab[33]:32)

5.Perintah Untuk Menyegerakan Menikah
Bagi para pemuda-pemudi, sungguh sangat berat ujian yang kalian hadapi saat ini. Lingkungan di sekitar kalian sungguh sangat tidak kondusif untuk mempertahankan status bujang. Maka dari itu, jauh-jauh hari Rasulullah memberikan untaian nashihat kepada para pemuda ”Wahai para pemuda, barangsiapa diantara kalian telah mempunyai kemampuan (lahir bathin) maka hendaknya segera menikah karena akan bisa menundukkan pandangan dan menjaga kemaluan, tapi jika kalian belum mampu maka perbanyaklah puasa karena ia akan menjadi perisai bagi kalian”

Menyegerakan menikah, ya itulah perintah Rasulullah kepada para pemuda Islam. Perintah yang di dalamnya terdapat kebaikan-kebaikan yang bisa menyelamatkan iman kita. Tentunya yang dimaksud menyegerakan di sini bukan berarti tergesa-gesa. Perlu ada upaya mempersiapkan kemampuan bukan hanya memperturutkan kemauan karena perintah nikah tsb jelas-jelas ditujukan kepada siapa yang mampu bukan kepada siapa yang mau.

Begitu pentingnya menyegerakan nikah ini, rasulullah pernah mengingatkan ”Apabila ada orang yang sholih datang kepadamu untuk melamar anakmu maka nikahkanlah ia, jika tidak maka akan terjadi kehancuran”. Mungkin inilah yang terjadi di negara kita, banyak orang yang mempersulit nikah tapi disisi lain mempermudah cerai. Lihatlah apa yang terjadi pada tayangan televisi di Indonesia. Hampir dipastikan, tiap hari ada saja gosip tentang perceraian. Maka jangan salahkan jika kerusakan dan kehancuran terjadi dimana-mana baik itu kerusakan moral maupun kerusakan alam (baca: bencana alam)
***
Wahaui Saudaraku, di dalam Islam, pergaulan laki-laki dan perempuan sangatlah dijaga. Kewajiban berhijab, menundukkan pandangan, tidak khalwat (berduaan), tidak ikhtilath (bercampur baur), tidak tunduk dalam berbicara (mendayu-dayu) dan dorongan Islam untuk segera menikah, itu semua adalah penjagaan tatanan kehidupan sosial muslim agar terjaga kehormatan dan kemuliaannya. Kehormatan dan kemuliaan seorang muslim sangatlah dipelihara di dalam Islam, sampai-sampai untuk mendekati zina saja sudah dilarang. “Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk.” (QS. Al Isra:32).

Maka, mari bersama-sama kita saling menjaga pergaulan ikhwan-akhwat. Sesungguhnya, hati ini akan semakin hitam pekat jika kita terus menorehkan noda diatasnya. Wahai akhwat…., jagalah para ikhwan. Dan wahai ikhwan…., jagalah para akhwat. Jagalah agar tidak terjerumus ke dalam kategori mendekati zina.

“Ya Rabbi…, istiqomahkanlah kami di jalan-Mu. Jangan sampai kami tergelincir ataupun terkena debu-debu yang dapat mengotori perjuangan kami di jalan-Mu, yang jika saja Engkau tak tampakkan kesalahan-kesalahan itu pada kami sekarang, niscaya kami tak menyadari kesalahan itu selamanya. Ampunilah kami ya Allah…… Tolonglah kami agar dapat membersihkannya hingga dapat bercahaya kembali cermin hati kami. Kabulkanlah ya Allah…“

Referensi:
Tafsir Ibnu Katsiir
Minhajul Muslim, Abu Bakr Al Jazairi
Fiqih Sunnah, Sayyid Sabiq
Ringkasan Shohih Bukhori
Jami’us Shoghir, Syaikh Al-Albani
Syarah Mukhtaarul Ahaadits, Sayyid Hasyimi

Saudariku…..!

Wahai Saudariku…
Sungguh engkau, wanita muslimah, makhluk mulia yang mempunyai kedudukan yang sangat tinggi di dalam Islam dan pengaruh yang begitu besar di dalam kehidupan setiap muslim. Engkaulah sekolah pertama di dalam membangun masyarakat yang shalih jika engkau berjalan sesuai dengan petunjuk Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam. Karena berpegang teguh kepada kedua sumber itu dapat menjauhkan setiap muslim laki-laki dan wanita dari kesesatan di dalam segala sesuatu. Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam bersabda:
“Aku tinggalkan pada kamu dua perkara, kamu tidak akan tersesat selagi kamu berpegang teguh kepadanya, yaitu Kitabullah (Al-Qur’an) dan Sunnah Nabi-Nya” [Diriwayatkan Imam Malik didalam Kitab Al-Muwaththa]

Wahai Saudariku seaqidah…
Perhatikanlah betapa engkau akan menjadi seorang ibu. Dan perhatikan pula betapa besar tanggung jawab yang harus engkau emban dan perjuangan berat yang harus engkau pikul yang pada sebagiannya melebihi beban tanggung jawab yang dipikul kaum pria. Sampai-sampai Allah memerintahkan hamba-Nya untuk berterima kasih kepada ibu, berbakti kepadanya dan memperlakukannya dengan baik.
“Dan kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua ibu bapakmu, hanya kepada Ku-lah kamu kembali” [Q.S. Luqman : 14]
Ada seorang lelaki datang kepada Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam seraya berkata : Ya Rasulullah, siapa manusia yang lebih berhak untuk saya perlakukan dengan baik ? Jawab Nabi: “Ibumu” Ia bertanya lagi, Lalu siapa? Jawab beliau, ” Ibumu”, Ia bertanya lagi, Lalu siapa lagi? Beliau jawab: “Ayahmu” [Diriwayatkan oleh Imam Bukhari]

Wahai Saudariku sekeyakinan…
Begitu mulianya dirimu, begitu berharganya dirimu, begitu sangat menentukannya keberadaan dirimu di dunia ini. Apa jadinya jika dunia yang indah mempesona ini tanpa kehadiranmu, tanpa kehadiran sosok muslimah seperti dirimu. Pasti, keindahan dunia ini akan terasa hambar tanpa makna. Sungguh, dirimu sangat diperhitungkan untuk menjaga keindahan dunia ini agar tetap berseri.

Wahai Saudariku seperjalanan…
Surga itu sangat indah, sangat menarik hati, sangat menyenangkan. Keindahannya begitu luar biasa, sampai sampai belum pernah mata melihat, belum pernah dirasakan dan belum pernah terdetik dalam hati sekalipun. Tapi apalah artinya semua itu, jika tanpa hadirnya wanita di sana? Tentunya akan tetap hambar. Begitulah yang dirasakan oleh Adam alaihi salam. Meskipun ia telah berada di surga dengan segala kenikmatan dan keindahannya, ia tetap merasa sepi tanpa hadirnya seorang wanita di sisinya. Allah Maha Tahu apa yang dirasakan hambanya. Dan memang itulah fitroh yang pasti ada pada manusia, makhluk ciptaanNYA. Dengan kasih dan sayangNYA hadirlah Hawwa, sosok wanita pertama yang menemani Adam alaihi salam di surga. Akhirnya benar-benar sempurnalah keindahan itu…..

Wahai Saudariku seperjuangan…
Aku sangat yakin, dirimu sangat sadar, sangat paham dan sangat tahu bahwa dirimu adalah aura keindahan. Dirimu pun sangat mengerti bahwa tanpa wanita dinia akan hampa. Juga, dirimu pasti tahu bahwa wanita begitu mulia dan dimuliakan oleh Allah dan RasulNYA. Tapi sadarkah dirimu? Kapan seorang wanita akan tetap memberikan aura keindahan? Kapan seorang wanita akan sangat berarti keberadaannya di dunia ini? Dan kapan seorang wanita akan tetap dikatakan mulia?
Selama ia senantiasa berada pada ketaatan kepada Allah dan Rasulnya. Ya selama itulah ia akan tetap indah, ia akan tetap ada dan ia akan tetap mulia dan dimulia.

Wahai Saudariku dalam ketaqwaan…
Apa yang kita rasakan saat ini? Apa yang terjadi dengan dirimu saat ini? Ada apa dengan wanita akhir zaman ini? Coba perhatikan sbentar saja, renungkan kondisi wanita sekarang? Masihkan mereka pantas disebut makhluk yang indah? Pantaskah mereka disebut makhluk yang mulia dan mesti dimuliakan?
Di jalan-jalan kita jumpai para wanita sudah seakan tidak punya rasa malu. Memamerkan perhiasan diri di tempat-tempat umum tanpa ada sedikit rasa risih. Lihatlah auratmu, sudahkah engkau menutup dengan benar? Rambutmu engkau biarkan terurai dinikmati oleh banyak lelaki. Lehermu engkau biarkan terbuka bahkan lebih dari itu. Betismu, engkau biarkan telanjang tanpa sedikitpun penutup. Atau mungkin engkau sudah menutupnya dengan rapat seluruh auratmu, tapi di sana-sini masih nampak lekuk tubuhmu. Sadarlah mulai saat ini, auratmu itu hanya boleh engkau perlihatkan pada suamimu. Suamimulah yang paling berhak menikmati keindahan tubuhmu itu. Bahkan bernilai pahala setiap keindahan yang engkau persembahkan kepada suami.

Wahai Saudariku dalam keimanan…
Tahukah dirimu, wanita adalah sumber fitnah terbesar bagi umat akhir zaman. Ia bisa menghancurkan dunia yang indah ini. Maka dari itu, sambutlah seruan Allah. Tutuplah auratmu, jagalah pandanganmu, taatlah pada Allah dan Rasulnya, tetaplah patuh pada suami dalam ketaatan kepadaNYA, niscaya surga akan mudah engkau raih. Bahkan Rasulullah pernah mengingatkan seorang Sahabiahnya, bahwa suami adalah surga atau nerakanya para istri.

Wahai Saudariku dalam kedamaian…
Janganlah dirimu menyepelekan masalah aurat ini. Janganlah dirimu menganggap itu hanyalah masalah sepele dan patut disepelekan. Ketahuilah wahai saudariku, menutup aurat bukanlah sekedar perintah atau anjuran dari Bapak/Ibu kita. Bukan hanya sekedar anjuran ustadz atau kiayi kita. Bukan hanya sekedar nasihat teman-teman kita. Bukan hanya sekedar trend untuk bergaya. Bukan hanya model untuk mempercantik diri. Bukan hanya sekedar pilihan yang bisa ditawar. Tapi ketahuilah wahai saudariku menutup aurat adalah perintah Allah. Perintah Dzat yang telah menyebabkan kita ada di dunia ini. Perintah dari Dzat Yang Maha Kuasa atas segala sesuatu.
Mari renungkan dalam hati yang paling dalam. Beranikah dirimu menentang perintahNYA? Lalu dengan apa engkau menghadapi pangadilanNYA kelak di akhirat? Bisakah dirimu mengelak, membantah atau beralasan atau berargumen membenarkan perbuatanmu???

Wahai Saudariku dalam kasih sayangNYA…
Maaf, mungkin dirimu bukanlah tipe wanita sumber finah tersebut.Bukan tipe wanita yang mengumbar aurat. Jika benar demikian, tetaplah waspada. Setan akan selalu mencari celah agar bisa menjerumuskan kita. Tapi mungkin, memang dirimu saat ini belum bisa memakai jilbab. Tapi aku yakin dirimu bukan bermaksud menentang perintahNYA. Jika demikian adanya, mari kita bersama-sama mulai saat ini untuk tidak menyia-nyiakan kesempatan ini. Mungkin ada sebagian dari kita ingin menunda, nanti sajalah pakai jilbabnya kalau sudah benar-benar siap. Nanti kalau saya sudah punya suami. Nanti kalau sudah punya banyak uang. Nanti kalau…… Nanti jika…..Nanti…. nanti….
Saudariku, mengapa harus menunggu nanti jika memang saat ini kita bisa? Bisakah engkau memastikan «nanti» yang kamu janjikan benar-benar kan kau temui? Tahukah kamu seberapa lama lagi usia kita? Boleh jadi sebelum «nanti« itu tiba dirimu sudah harus menghadapNYA. Na’udzubillah….
Memang tidak mudah untuk hijrah menuju kebaikan. Setan akan senantiasa menggoda, dengan membisikkan alibi-alibi ke dalam hati kita. Kata nanti yang kita janjikan itu boleh jadi juga bisikannya.

Dari Saudaramu
eL-Fikr

March 29, 2008

Muhasabah Harian Seorang Muslim

1. Apakah anda setiap hari selalu shalat shubuh berjamaah di masjid ? (bagi ikhwan)

2. Apakah anda selalu menjaga shalat yang 5 waktu berjamaah di masjid ? (bagi ikhwan)

3. Apakah anda hari ini membaca Al-Qur’an?

4. Apakah anda rutin membaca dzikir setelah selesai melaksanakan shalat wajib?

5. Apakah anda selalu menjaga shalat sunnah rawatib sebelum dan sesudah shalat wajib?

6. Apakah anda hari ini khusyu’ dalam shalat, menghayati apa yang anda baca?

7. Apakah anda hari ini mengingat mati dan kubur?

8. Apakah anda hari ini mengingat hari kiamat, segala peristiwa dan kedahsyatannya?

9. Apakah anda telah memohon kepada Allah sebanyak 3 kali agar dimasukkan ke dalam syurga?

10. Apakah anda telah meminta perlindungan kepada Allah sebanyak 3 kali agar diselamatkan dari api neraka? Karena: Barang siapa yang memohon syurga kepada Allah sebanyak 3 kali, Syurga berkata, Wahai Allah! Masukkanlah ia ke dalam syurga, dan barang siapa yang meminta perlindungan kepada Allah agar diselamatkan dari api neraka sebanyak 3 kali, Neraka berkata, Wahai Allah! Selamatkan ia dari api neraka. (Shahih Al-Jami’ No. 6151 Jilid 6)

11. Apakah anda hari ini membaca hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam?

12. Apakah anda pernah berfikir untuk menjauhi teman-teman yang tidak baik?

13. Apakah anda telah berusaha untuk menghindari banyak tertawa dan bergurau?

14. Apakah anda hari ini menangis karena takut kepada Allah?

15. Apakah anda selalu membaca dzikir pagi dan sore hari?

16. Apakah anda hari ini telah memohon ampun kepada Allah atas dosa-dosa yang telah anda perbuat?

17. Apakah anda telah memohon kepada Allah dengan benar untuk mati syahid? Karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Barang siapa yang memohon kepada Allah dengan benar untuk mati syahid, maka Allah akan memberikan kedudukan sebagai syuhada meskipun ia meninggal di atas tempat tidurnya. (HR. Muslim)

18. Apakah anda telah berdo’a kepada Allah agar Ia menetapkan hati anda di atas agama-Nya?

19. Apakah anda telah mengambil kesempatan untuk berdo’a kepada Allah di waktu –waktu yang mustajab?

20. Apakah anda telah membeli buku-buku islam untuk memahami islam? (Tentu dengan memilih buku-buku yang sesuai dengan pemahaman yang diikuti oleh para sahabat Nabi, karena banyak juga buku-buku Islam yang tersebar di pasaran justru merusak pemahaman Islam yang benar).

21. Apakah anda memintakan ampun kepada Allah untuk saudara-saudara mukminin dan mukminah? Karena dengan mendo’akan mereka anda mendapat kebaikan pula. (Shahih Al-Jami’ No. 5902)

22. Apakah anda telah memuji Allah dan bersyukur kepada-Nya atas nikmat Islam?

23. Apakah anda telah memuji Allah dan bersyukur kepada-Nya atas nikmat mata, telinga, hati dan segala nikmat lainnya?

24. Apakah hari ini anda telah bersedekah kepada fakir miskin dan orang-orang yang membutuhkan?

25. Apakah anda dapat menahan amarah yang disebabkan karena urusan pribadi dan berusaha untuk marah karena Allah semata?

26. Apakah anda telah berusaha untuk selalu menjauhkan diri dari sikap sombong dan membanggakan diri?

27. Apakah anda telah mengunjungi saudara–saudara seiman dan seagama (ikhlas karena Allah semata)?

28. Apakah anda telah berdakwah untuk keluarga, saudara-saudara, tetangga, dan siapa saja yang yang ada hubungannya dengan diri anda?

29. Apakah anda termasuk orang yang berbakti kepada orang tua?

30. Apakah anda selalu mengucapkan Innaa Lillaahi wa Innaa Ilaihi Raaji’uun – Sesungguhnya kami kepunyaan Allah dan sesungguhnya kami kembali kepada-Nya jika anda mendapat musibah dari Allah? Karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Hendaklah masing-masing kalian melakukan istirja’ (mengucapkan Innaa Lillaahi wa Innaa Ilaihi Raaji’uun) pada setiap hal meskipun ketika tali sandalnya putus karena hal itu termasuk musibah. (Hadits hasan, lihat Shahih Al-Kalimut Thayyib No. 140)

31. Apakah anda hari ini mengucapkan do’a: Allahumma Innii A’uudzubika an Usyrikabika wa Anaa A’lam wa Astaghfiruka Limaa laa A’lam – Ya allah sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari menyekutukan-Mu sedangkan aku mengetahui dan aku memohon ampunan-Mu terhadap apa-apa yang tidak aku ketahui. (Shahih Al-Jami’ No. 3625). Barang siapa yang mengucapkannya maka Allah akan menjauhkan darinya dari syirik besar dan syirik kecil.

32. Apakah anda selalu berbuat baik kepada tetangga?

33. Apakah anda telah membersihkan hati dari sombong, riya, hasad dan dengki?

34. Apakah anda telah membersihkan lisan anda dari perkataan dusta, mengumpat, mengadu domba, berdebat kusir dan berbuat serta berkata yang tidak ada manfaatnya?

35. Apakah anda selalu takut kepada Allah dalam hal penghasilan, makanan, minuman dan pakaian?

36. Apakah anda selalu bertaubat kepada Allah dengan taubat yang sebenar-benarnya di segala waktu atas segala dosa dan kesalahan?

Akhi wa ukhti, jawablah pertanyaan-pertanyaan di atas dengan perbuatan nyata, agar engkau mendapat ridla Allah dan menjadi orang-orang yang beruntung di dunia dan di akherat, Insya Allah.

Sumber:
-Zaadul Muslim Al-Yaumi , Syaikh Abdullah bin Jaarullah bin Ibrahim Al-Jaarullah.
-Al-Qabru ‘Adzaabuhu wa Na’iimuhu, Syaikh Husain Al-‘Awaisyah

January 25, 2008

Memahami Makna Hijrah

Hampir dapat dipastikan, tidak ada kesuksesan tanpa sebuah prinsip. Betapapun rapinya suatu program, jika tanpa ada prinsip yang dijadikan pedoman maka tidak akan dicapai hasil yang memuaskan. Bahkan boleh jadi semuanya akan kacau tak terarah. Demikian halnya dengan program hidup manusia, mutlak memerlukan prinsip yang diharapkan menjadi dasar dalam berbuat untuk mencapai tujuan hidup yang diinginkan. Supaya semua itu dapat tercapai, maka prinsip hidup yang telah diyakini harus senantiasa dijaga, dipelihara, dilestarikan dan dipertahankan sampai akhir hayat manusia.

Sebagai seorang muslim yang taat, kita tidak boleh meninggalkan/ terlepas dari sebuah prinsip. Dan prinsip hidup kita adalah sesuatu yang paling menentukan kebahagiaan hidup dunia-akhirat. Ada tiga prinsip hidup muslim yang tercantum dalam QS. 2:218, QS. 8:174 dan QS. 9:20 yaitu iman, hijrah dan jihad atau secara umum kita sebut keyakinan, perubahan dan perjuangan. Ketiga prinsip hidup tersebut harus berjalan serasi, sejalan dan seiring agar tujuan hidup manusia—bahagia dunian-akhirat—dapat tercapai.
Keyakinan/iman adalah dasar untuk berjuang dalam melakukan perubahan. Dan sangat mustahil ada perubahan tanpa perjuangan. Demikian halnya, mustahil ada perjuangan tanpa ada keyakinan. Alloh swt berfirman dalam QS. Ar-Ra’du[13]:11
Sesungguhnya Alloh tidak akan merubah keadaan suatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri

***
Hijrah, sebagai salah satu prinsip hidup, harus senantiasa kita maknai dengan benar. Secara bahasa hijrah berarti meninggalkan. seseorang dikatakan hijrah jika telah memenuhi 2 syarat, yaitu pertama ada sesuatu yang ditinggalkan dan kedua ada sesuatu yang dituju (tujuan). Kedua-duanya harus dipenuhi oleh seorang yang berhijrah. Seseorang yang telah meninggalkan tempat tertentu tapi tidak ada tujuan itu namanya gelandangan, sebaliknya orang yang telah menuju suatu tempat tapi tidak pernah meninggalkan tempat itu namanya mimpi, nglamun.

Dalam realita sejarah hijrah senantiasa dikaitkan dengan meninggalkan suatu tempat, yaitu adanya peristiwa hijrah Nabi dan dan para sahabat meninggalkan tempat yang tidak kondusif untuk berdakwah. Bahkan peristiwa hijrah itulah yang dijadikan dasar umat Islam sebagai permulaan tahun Hijriyyah.

Dalam suasana tahun baru Hijriyyah 1429 saat ini, mari kita kembali meletakkan pemahaman yang benar tentang hijrah. Hijrah tidak hanya berarti meninggalkan tempat tetapi juga berarti meninggalkan sikap/perbuatan. Dari sikap/perbuatan yang tidak diridhoi Alloh menuju sikap/perbuatan yang diridhoi Alloh swt. Jadi secara garis besar hijrah kita bedakan menjadi dua macam yaitu:
1. Hijrah makaniyah, Yaitu meninggalkan suatu tempat
Ada beberapa jenis hijrah makaniyyah, yaitu:
a. Hijrah dari Mekkah ke Habasyah
b. Hijrah dari Mekkah ke Madinah
c. Hijrah dari suatu negeri yang didalamnya didominasi oleh hal-hal yang diharomkan
d. Hijrah dari suatu negeri yang membahayakan kesehatan untuk menghindari penyakit menuju negeri yang aman
e. Hijrah dari suatu tempat karena gangguan terhadap harta benda
f. Hijrah dari suatu tempat karena menghindari tekanan fisik
Seperti hijrahnya Ibrohim as dan Musa as, ketika Beliau khawatir akan gangguan kaumnya. Seperti yang tercantum dalam al-qur’an
-QS.Al-Ankabut[29]:26
“Sesungguhnya aku berhijrah ke (tempat yang diperintahkan) Tuhanku”
-QS.Al-Qoshosh[28]:21
“Maka keluarlah Musa dari kota itudengan rasa takut menunggu-nunggu dengan khawatir, dia berdo’a: Yaa Tuhanku, selamatkan aku dari orang-orang yang zalim itu”

2.Hijrah maknawiyyah, Secara maknawi hijrah dibedakan menjadi 4 macam, yaitu:
a. Hijrah I’tiqodiyyah
I’tiqodiyah atau keyakinan adalah sesuatu yang menjadi penentu setiap amal kita. Tanpa sebuah keyakinan dalam setiap amal, niscaya tidak akan sukses amal tersebut. Karena begitu pentingnya i’tiqodiyah dalam diri kita, maka inilah sesuatu yang pertama kali harus kita hijrahkan. Hijrah menuju i’tiqodiyah yang benar.

Diakui atau tidak, selama hidup ini, kita sering bersinggungan dengan keyakinan yang kurang benar, baik dalam hal kesehatan, pekerjaan, jodoh dan lain sebagainya. Dan terkadang tidak banyak di antara kita yang menyadarinya padahal perbuatannya sudah mendekati bahkan masuk dalam ruang kesyirikan. Anehnya bentuk-bentuk perbuatan yang mendekati pengotoran i’tiqodiyah saat ini mulai dilegalkan. Dengan sedikit memolesnya, seolah pelanggaran keyakinan tersebut menjadi tak masalah. Coba kita lihat acara-acara TV, yg sudah secara vulgar mendukung bentuk pelanggaran i’tiqodiyah tersebut, misalnya ramalan jodoh, ramalan nasib, praktik perdukunan modern dsb.

Hijrah i’tiqodiyah, menjadi sebuah keharusan bagi setipa muslim, sehingga ia menjadi seorang muslim yang sebenarnya, muslim yang memiliki salimul aqidah.

b. Hijrah Fikriyyah
Fikriyah secara bahasa berasal dari kata fiqrun yang artinya pemikiran. Seiring perkembangan zaman, kemajuan teknologi dan derasnya arus informasi, seolah dunia tanpa batas. Berbagai informasi dan pemikiran dari belahan bumi bisa secara online kita akses. Sebenarnya tak jadi maslah selama informasi dan pemikiran tersebut sejalan dengan Islam, karena hal itu justeru akan memperkaya tsaqofah keIslaman kita. Yang jadi masalah adalah apabila pemikiran tersebut menyimpang dari ajaran Islam, dan lebih parah lagi kita tak menyadarinya. MAka tak diragukan lagi, pasti kita akan terpengaruh olehnya.

Dunia yang kita tempati saat ini, sebenarnya telah menjadi medan perang yang kasat mata. Medan Perang yang ada tapi tak disadari keberadaannya oleh kebanyakan manusia. Genderang perang telah dipukul dalam medan yang namanya “Ghoswul Fikr” (baca: Perang Pemikiran). Tak heran berbagai pemikiran telah tersebar di medan perang tersebut laksana amunisi dari senjata-senjata perenggut nyawa. Isu sekularisasi, kapitalisasi, liberalisasi, pluralisasi, dan sosialisasi bahkan komunisasi telah menyusup ke dalam sendi-sendi dasar pemikiran kita yang murni. Ia menjadi virus ganas yang sulit terdeteksi oleh kaca mata pemikiran Islam. Keberadaannya samar dan dipoles dengan nilai-nilai yang seolah Islami. Munculnya JIL tak ayal, juga merupakan dampak virus ganas tersebut.

Hijrah fikriyah menjadi sangat penting mengingat kemungkinan besar pemikiran kita telah terserang virus ganas tersebut. Mari kita kembali mengkaji pemikiran-pemikiran Islam yang murni. Pemikiran yang telah disampaikan oleh Baginda Nabi Muhammad SAW, melalui para sahabat, tabi’in, tabi’ut tabi’in dan para generasi pengikut salaf.

c. Hijrah Syu’uriyyah
Syu’uriyah atau cita rasa, kesenangan, kesukaan dan semisalnya, semua yang ada pada diri kita sering terpengaruhi oleh nilai-nilai yang kurang Islami. Banyak hal seperti hiburan, musik, bacaan, gambar/hiasan, pakaian, rumah, idola, organisasi, partai dan banyak lagi, semua tak luput dari pengaruh nilai-nilai di luar Islam. Kalau kita perhatikan, hiburan dan musik seorang muslim tak jauh beda dengan hiburannya para penganut paham permisifisme dan hedonisme, berbau hura-hura dan senang-senang belaka. Padahal tidak ada hiburan dan musik seorang muslim yang lebih baik dari pada lantunan ayat-ayat Al-Qur’an.

Apakah Bacaan yang sering dilupakan oleh seorang muslim? Jawabnya tak lain adalah Al-Qur’an. Bagaimana mungkin, padahal ia tahu bahwa al-Qur’an adalah petunjuk hidupnya yang akan menyelamatkannya dari kegelapan menuju cahaya? Coba renungkan berapa lama Anda membaca Al-Qur’an dalam sehari? Coba bandingkan dengan koran, majalah, gosip, berita di TV, di internet yang Anda baca dalam sehari. Adilkah???? Dan yang lebih memprihatinkan, ternyata bacaan pertama kali yang dibaca kebanyakan kita adalah koran bukannya al-Qur’an

Mode pakaian juga tak kalah pentingnya untuk kita hijrahkan. Hijrah dari pakaian gaya jahiliyah menuju pakaian Islami, yaitu pakaian yang bener-bener mengedepankan fungsi bukan gaya. Apa fungsi pakaian? Tak lain hanyalah untuk menutup aurat, bukan justeru memamerkan aurat. Ironis memang, banyak diantara manusia berpakaian tapi aurat masih terbuka. Kata Nabi, berpakaian tapi telanjang. Ada yang sudah tertutup tapi ketat dan transparan, sehingga lekuk tubuhnya bahkan warna kulitnya terlihat. Dan masih banyak model-model pakaian masa kini yang nyleneh-nyleneh.

d. Hijrah Sulukiyyah

December 31, 2007

Sebuah Kisah CINTA SEJATI

CINTA PUTRI AELIA

Bulan Andimarsedonia

Pada suatu masa, sebuah kerjaan kecil berdiri dengan sangat makmur dan damai.Walau kerajaan ini kecil, karena kekayaannya ia sagat disegani dan dihormati oleh kerajaan-kerajaan tetangganya. Kerajaan ini bernama Andimarsedonia. Andimarsedonia dipimpin oleh seorang raja yang masih muda tapi bijaksana dalam bernegara, beliau memiliki seorang permaisuri dan seorang adik yang bernama Putri Aelia.
Putri Aelia dikenal sebagai Bulan dari Andimarsedonia, karena dia berparas sangat rupawan, kulitnya putih dan bersinar, bibirnya semerah darah dengan senyum yang sangat merekah, suaranya sangat merdu dan lemah lembut, rambutnya yang panjang sehitam arang, tubuhnya harum seharum melati. Kecantikannya yang luar biasa tidak hanya tersebar hingga kesuluruh pelosok kerajaan, tapi berita itu juga mencapai keberbagai negri didunia. Tidak sedikit yang berlomba-lomba untuk melihat wajahnya walau hanya sekejap. Berdatangan pinangan dari pernjuru, tapi tak satupun yang dapat meluluhkan hati sang putri.
Putri Aelia tidak hanya dikagumi dengan kecantikannya, tapi juga karena kecerdasannya dan kepiawaiannya diberbagai bidang. Jiwanya yang keras dan kesadaran akan kedudukannya inilah yang membuat Putri sangat pemilih dalam masalah percintaan.
Putri Aelia merupakan salah satu tangan kanan Raja dalam menjalankan roda pemerintahan.

Pada suatu hari Putri Aelia sedang berjalan-jalan dihutan wilayah selatan bersama beberapa pengawal dan dayangnya. Tiba-tiba sebuah kuda melaju sangat kencang dari arah yang berlawanan. Ketika melihat rombongan putri, si penunggang kuda memperlambat jalan kudanya, lalu berhenti didepan rombongan sang putri dengan menganggukan kepalanya sekali sebagai tanda hormat. Ketika pandangan mata pemuda itu bertemu dengan pandangan sang putri, pemuda itu langsung menundukkan pandangannya. Putri merasa heran, selama hidupnya hampir semua laki-laki akan terpana akan kencantikannya sehingga tak akan mampu mengalihkan pandangan mereka dari wajahnya untuk beberapa lama. Tapi dalam sekejap saja pemuda dihadapannya ini langsung menundukkan pandangannya.
Karena rasa herannya, putri meminta sang pemuda untuk mendekat. Pemuda itupun mendekat dengan masih saja menundukkan pandangannya.
“Salaam hai pemuda. Siapakah kau dan sedang apa kau disini?”
“Walaikum salam Putri Aelia, Saya adalah Ali abdul Jabbar bin Abdullah, dan saya sedang berkuda berkeliling hutan.” Jawab pemuda itu tanpa sekejappun menaikkan pandangannya pada sang putri. Sikap pemuda bernama Ali semakin membuat putri penasaran.
“Wahai Ali, mengapa kau selalu menundukkan pandanganmu ketika berbicara padaku, padahal aku tak berkeberatan dengan hal itu.”
“Sungguhpun saya tahu Putri tidak berkeberatan, tapi Allah dan Rasul-Nya berkeberatan jika saya memandang Putri, dan saya takut akan murka Allah.”
Putri Aelia merasa malu mendengar perkataan pemuda itu, karena selama berbicara, tak sekejapun ia menundukkan pandangannya dari Ali. Putri menyadari bahwa Ali memiliki wajah dan perawakan yang sangat tampan, tapi ketampanan budi dan akhlaknya semakin membuat Putri Aelia kagum. Bagi sang Putri, Ali adalah sosok yang sangat lain dari yang lain, Putri merasakan sesuatu pecah didadanya, ada perasaan riang yang tiba-tiba menggelitik relung hatinya, akhirnya dia menyadari bahwa Ali adalah laki-laki yang ia tunggu selama ini.
“Wahai Ali, siapakah orang tuamu dan dimanakah rumahmu?”
“Ayah saya adalah Abdullah bin Mustofa, Bangsawan kerjaaan bagian selatan dan rumah kami…”tiba-tiba Putri memotong kalimat Ali.
“Ah aku tahu, ternyata kau putra dari paman Abdullah, aku mengenalnya, tapi mengapa aku tidak pernah melihatmu berkunjung ke istana?”
“Karena sejak kecil saya tidak pernah berada dikerajaan ini, saya menetap kerajaan tetangga. Saat ini saya sedang berlibur disini untuk beberapa waktu.”
“Ah baiklah kalau begitu, apakah kau bersedia untuk berburu bersama rombonganku?”
“Terima kasih banyak tuan Putri, saya merasa terhormat, tetapi saya telah berjanji pada ayah untuk pulang pada saat makan siang, dan saya rasa saya telah sedikit terlambat. Jika Putri tidak berkeberatan, saya harus memenuhi janji saya pada beliau, saya mohon pamit.”
Putri menghela nafas kesekian kalinya, jika bukan Ali, tanpa sedetikpun berpikir laki-laki manapun akan menerima tawarannya itu dengan girangnya. “Sungguh kau ini laki-laki yang berbeda wahai Ali, tak sedikitpun kau bernafsu untuk menghabiskan waktu bersamaku. Baiklah Ali, senang berkenalan denganmu, sampaikan salamku pada paman Abdullah, dan percayalah Ali, aku akan menemuimu lagi diwaktu yang dekat.”
“Insyaallah Putri dan terima kasih, wasalammualaikum.”
“Walaikum salam,” jawab putri lembut.
Ali pun melesat pergi dengan lari kudanya yang sangat kencang. Sambil melihat kepergian Ali bersama kudanya, Putri Aelia menarik nafas panjang-panjang, akhirnya dia menyandarkan kepalanya kedinding kereta dan berbisik pada pelayannya, “Ah Ali, tak sekalipun dia menoleh kebelakang… sungguh dayang, aku merasa melayang bersama larinya kuda Ali. Dayang, perintahkan rombongan untuk pulang ke istana!”
Rombongan putripun kembali keistana, tetapi hati sang putri sangat kentara telah terbawa oleh pemuda Ali dan kudanya ke arah yang berlawanan.

Sesampai diistana Putri bergegas menuju Taman Keputrian, sebuah tempat khusus dalam istana yang merupakan berkumpulnya para putri dan istri bangsawan. Ia ingin sekali mencari kabar berita tentang pemuda yang baru saja ditemuinya. Seperti dugaannya, pada saat itu Taman Keputrian sangat ramai, dia mendekati segerombolan putri bangsawan yang sangat terkenal dan pandai, mereka adalah teman-teman dekat Putri Aelia
“Salam wahai saudariku, Aisya, Amina, Safira” Rombongan itu membalas salam putri dengan riangnya.
“Walaikum salam Putri Aelia, masyaallah kau terlihat sangat ceria. Wajahmu tampak sangat kemerahan dan senyummu sungguh lebih merekah daripada biasanya! Ada apakah gerangan yang terjadi?” Putri Aelia tertegun, sejelas itukah pancaran kebahagiaan hatinya dari wajahnya?
“Ah kalian memang teman dekatku, mungkin kalian dapat langsung membaca pikiranku tanpa kuberi tahu.”
“Ah Putri, jika aku tak mengenalmu lebih lama, aku akan berkata kau sedang jatuh cinta. Tapi setahuku tak satu pemudapun yang kau minati dinegeri ini. Jadi aku dengan jujur berkata padamu, aku tak tahu…” Jawab Aisya yang dibarengi anggukan kedua putri lainnya. Putri Aelia tertawa sangat kencang dan renyah, tidak seperti biasanya dia selalu tertawa lirih dan lembut, hal itu semakin membuat yang lain keheranan.
“Sungguh wahai saudariku, aku bertemu seorang pemuda hari ini.”
Dengan serempak, ketiga putri itu menjatuhkan gelasnya dengan mulut menganga.
“Masya Allah!!!…..siapakah pangeran impian ini???” tanya mereka hampir serempak.
“Ah saudariku, aku baru saja mengenalnya, maukah kalian membantuku untuk mencari tahu segala sesuatu tentang dia? Karena sebagai seorang Putri aku malu untuk bertanya kesana kemari perihal seorang pemuda pada banyak orang.”
“Tentu saja kami mengerti, dan kami akan membantumu dengan senang hati. Katakan kepada kami, siapakah nama pemuda tersebut?”
Dengan wajah yang semakin memerah putri membisikan nama Ali abdul Jabbar bin Abdullah.
“Ah, aku tahu tentang dia, aku bertemu dengannya dua hari yang lalu. Dia baru datang dari Kerajaan Dalusia, tapi aku tak sempat berbicara padanya… ehm, saat itu aku dengar dikalangan para gadis dia dikenal sebagai Pemuda Es, karena dia sama sekali tak pernah berbicara akrab dengan wanita.” Kemudian Safira dengan menggoda berbisik pada Putri Aelia, ”Tapi jangan kuatir putri, dia belum menikah.” Diikuti gelak tawa yang lainnya.
“Ah Putri, sungguh tak salah pilihanmu!” tiba-tiba Aisya berteriak girang.
“Sungguh jika aku belum bertunangan, aku akan meminta Ayah untuk meminang dia untuk diriku sendiri ha ha….” Canda Aisya lagi riang, lalu dengan serius dia meneruskan. “Aku baru teringat ketika Safira berkata tentang Pemuda Es, Dia memang jarang sekali berkunjung ke negeri ini. Seperti kau tahu, aku masih sepupu dengan Ali, karena dia menganggapku saudara, dia pernah berbicara padaku setahun yang lalu. Ah sungguh dia pemuda yang luar biasa! Tidak hanya tampan, tapi juga pandai dalam segala bidang, terlebih lagi, dia sangat rendah hati. Banyak sekali gadis dikerajaan ini ingin menikah dengannya, tapi lamaran orang tua mereka selalu ditolak oleh Ali dengan hormat. Aku sendiri tak mengerti mengapa, padahal dia saat itu belum memiliki kekasih. Akhirnya sampai saat ini semua orang tua segan untuk melamarnya lagi. Jika putri mereka meminta pada orang tua mereka untuk melamarkan Ali, mereka akan berkata …’Lebih baik kau tunggu Ali datang melamarmu’. Sungguh mereka tahu bahwa tak akan lamaran mereka itu diterima.”
“Waaah, benar! Para orang tua berhenti melamar Ali setahun yang lalu. Orang tuaku salah satunya. Mereka melamarkan Ali untuk Syafia kakak sulungku. Tapi Ali menolak karena alasannya dia belum ingin menikah dan ingin melanjutkan pendidikannya. Sungguh malang kakakku itu, aku beruntung tak pernah bertemu Ali, karena aku takut akan senasib seperti kakakku, yang kudengar, dia selalu menjauhi wanita dan menundukkan pandangannya setiap kali berbicara dengan wanita.” Kenang Amina.
“Ah Putriku yang cantik, kau telah bertemu orang yang sama dengan dirimu!” kata Amina lagi. Kemudian mereka terdiam untuk beberapa saat.
“Tapi siapakah yang mampu menolak kecantikan Putri??!!” teriak ketiga gadis itu dengan serempak sambil menggoda Putri Aelia, kemudian mereka semuanya tertawa.
“Mengapa aku tak pernah mendengar tentang dia dari kalian atau yang lain?”
“Ah Putriku yang cantik, kami segan membicarakan tentang seorang pemuda yang jauh dari jangkauan kami. Lagipula kami bertiga sudah bertunangan, kami malu untuk membicarakan perihal seorang pemuda selain dari tunangan kami. Lapi pula, dia jarang sekali tinggal disini, hanya orang yang tinggal di daerah selatan yang banyak tahu tentang Ali, ehm…tentu saja hampir semua gadis dinegeri ini, sedangkan Kau jarang sekali keluar istana, apalagi bertanya tentang pemuda!”
Putri Aelia berpikir sejenak, lalu tiba-tiba dia berkata,
“Aku akan menghadap kakakku.” Ketiga putri tersebut tertegun mendengar kalimat terakhir Putri Aelia, mereka tahu maksud dari perkataan adalah tekad Putri Aelia untuk mendapatkan Ali melalui sang Raja. Siapakah orang yang akan menolak lamaran seorang Raja negaranya. Dalam hati mereka berkata, “Ah Ali, sudah saatnya kau menerima lamaran seorang wanita!”
Lalu Putri Aelia berpamitan meninggalkan ketiga temannya dengan keyakinan yang mantap, ketiga putri bangsawan itupun bubar masih dengan perasaan terkejut. (more…)

December 6, 2007

Satu tahun sudah ……

Assalamu’alaikum

Pa kabar semua? Moga kita semua dalam keadaan sehat wal afiyat dalam lindunganNya, amiiin…. Alhamdulillah bisa kembali bersua dengan para pembaca yang baik hati dan tidak sombong. Sebelumnya maaf ya, kalo tulisan2 yang ada di blog ini kurang berkenan di hati Anda semua. Mungkin ada tulisan yg menyinggung, menggurui, meremehkan atau apalah….. Please, maapin ya! Yach, sepandai-pandai tupai melompat sekali waktu jatuh juga. Apalagi diriku ini yg pandai nggak, pinter juga nggak, hehehehe…… Pasti dech banyak tulisan yg salah, apalagi nulisnya sambil ‘merenung’.

Denger kata “merenung” baru sadar ternyata saya sudah 1 tahun meninggalkan bangku kuliah. Berarti juga sudah 1 tahun saya bekerja di sebuah perusahaan sebagai seorang engineer (tepatnya tanggal 7 Desember 2007). Tapi kenapa ya kok rasanya hati ini masih pingin sekali kuliah. Ingat temen2 yang baik hati. Inget masa-masa “prihatin” dulu. Inget pengalaman-pengalaman yang menarik maupun yang menjengkelkan… Inget suka duka berdakwah dimasyarakat. Bagaimana dulu saya menjadi Ustazd TPA, menjadi santri di pondok pesantren, menjadi pengajar Al-Quran Ibu-ibu dan Bapak-bapak di masyarakat, menjadi pengurus masjid, menjadi pengurus SKI dll. Hampir sebagian besar waktu saya habiskan bersama ummat, memburu ilmu dan memperdalam ilmu-ilmu teknik tentunya (coz. kuliahku kan di fakultas teknik). Tapi gak juga sich, kalao sedang futur biasanya banyak waktu yang tersia-siakan. Ya….. itulah diriku, moga DIA mengampuni

Yach…. sekarang saya harus berjuang sendiri ditempat yang baru. Tidak banyak waktu yang bisa kusediakan untuk dakwah. Dari jam 7 pagi sampai jam 5 sore saya harus “standby” di kantor. Tapi kupikir itulah realita yang harus saya hadapi. Meskipun gak banyak waktu yang penting bisa dakwah. Ternyata kantor pun merupakan lahan dakwah yang subur, meski terkadang amat sangat sulit, amat berat dan amat memeras otak. Bagaiman tidak, gaya hidup materialisme begitu kental. Pola pikir non-Islami mendominasi, pola pergaulan ala barat sudah mengakar kuat, penyakit “wahn” (terlalu cinta dunia dan takut mati-red) sudah menjadi wabah tanpa disadari, ditambah lagi aqidah yang masih setengah-setengah. Na’udzubillah. Kadang saya sangat takut tidak bisa berdakwah, takut tidak bisa mewarnai, takut terbawa arus yang begitu deras. Astaqhfirullah….. Yaa Allah berilah hamba kesabaran dalam ketaatan dan kesabaran dalam meninggalkan maksiyat.

Selama setahun, ternyata banyak permasalahan yang saya hadapi. Banyak cobaan yang harus saya atasi, tetapi terkadang diri ini kalah. Dan yang paling menyita pikiran adalah permasalahan klasik yang pasti dihadapi oleh seorang pemuda. Yach apalagi kalu bukan soal “penyempurnaan separoh diin”. Sampai-sampai hati ini terkena virus itu. Kuakui ada “sosok” yang sulit kulupakan, yang selalu membayang di hatiku. Namanya sempat singgah di hatiku. Wajahnya selalu mampir dalam lamunan dan mimpiku. Aku tahu semua itu gak pantas, itu dosa tapi berbagai macam usaha kulakukan, tidak mempan juga. Puasa sunnnah, sholat malam, tilawah semua tak mampu membendung gejolak jiwaku. Sampai suatu waktu aku sadar, pasti ada yang salah dengan diriku. Bukankah mencintai seseorang yang belum halal itu dosa?

Akhirnya aku sadar, ternyata cintaku pada Allah, Rasul dan jihad masih sangat minim. buktinya ada seseorang yang mengalahkannya. Astaghfirullah……. Kuputuskan biarlah kutunda dulu keinginan itu. Aku harus bangkit, mensucikan diri, kembali padaNYA. Hanya cintaNYA lah yang haqiqi. Cinta yang tidak mungkin berbuah kecewa. Ya itu pasti karena DIA adlah pemilik segalanya. Yaa muqollibal quluub tsabbit qolbiy ‘alaa diinik wa ‘alaa mahabbatik
Begitu berbekas perkataan Ibnu ‘Athilah dalam benakku, “Tidak ada yang bisa mengusir syahwat dan kecintaan kepada kesenangan dunia selain rasa takut kepada Allah yang menggetarkan hati atau rasa rindu kepadaNya yang membuat hati merana”. Astaghfirullah….. betapa sering hamba menganggap mudah memohon ampun padaNya dan kembali bermaksiyat padaNya dengan sengaja sedang diri ini tidak tau kapan ajal menjemput. Boleh jadi belum sempat IA mengampuni, ajal datang tanpa permisi. Astaghfirullah, terimalah taubat hamba. Wahai dzat yang maha penerima taubat, Sesungguhnya tiada yang mengampuni dosa kecuali Engkau!

Alhamdulillah, mungkin itu yang terbaik buat diriku. Ternyata masih banyak amanah yang harus aku selesaikan. Dan mungkin juga diri ini belum mampu memikul “amanah itu” (amanah istri dan anak2.red). Dan juga masih sedikit ilmu yang aku punya. Terima kasih yaa Allah, Engkau telah mengingatkan diri ini.

Hari Raya Idul Adha atau juga dikatakan Idul Qurban sebentar lagi menyapa. Spontan saya langsung teringat nama Ibrohim, Ismail, Sarah dan Hajar. Saya kira merekalah figur2 manusia terpilih yang mempunyai banyak kelebihan yang patut kita teladani. Bagaimana mereka berkorban dengan segenap semangat, komitmen dan keikhlasan demi mengharap Ridho Ilahi. Bagimana mereka bisa menempatkan cinta yang benar. Mereka amat sangat cintanya kepada ALLAH. Mereka senantiasa tunduk patuh pada setiap perintah Allah SWT.

Sekilas kisah mereka ada baiknya kita tengok pada Al-Quran, QS Ash-Shaaffaat 100-111
“Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang shaleh.
Maka Kami beri dia kabar gembira dengan seorang anak yang amat sabar.
Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggupberusaha bersama-sama Ibrahim), Ibrahim berkata: “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!” Ia menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar”.
Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis (nya), (nyatalah kesabaran keduanya).
Dan Kami panggillah dia: “Hai Ibrahim, sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu”, sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik.
Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata.
Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar.
Kami abadikan untuk Ibrahim itu (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang kemudian,
(yaitu) “Kesejahteraan dilimpahkan atas Ibrahim”.
Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik.

Subhanallah, begitu besar rasa cinta mereka kepada Allah. Coba bayangkan, bertahun-tahun Ibrohim berdoa memohon kepada Allah agar dikaruniai anak yang sholeh, Robbiy habliy minash-sholihin, tapi setelah Allah memperkenankan doanya )(dengan kelahiran Ismail) ada perintah Allah kepadanya untuk mengorbankan putranya itu. Ibrohim sangat sayang pada Ismail, sangat cinta padanya, sangat senang berada didekatnya. Apalagi saat itu Ismail sedang lucu-lucunya. Tetapi, sekali lagi rasa cinta Ibrohim kepada Allah melebihi segala-galanya. Hanya Allahlah cintanya yang sejati.

Demikian halnya Ismail, ia adalah anak yang sholih dan sabar. Ia pun ikhlas menyerahkan diri sepenuhnya, jika Allah yang memerintah. Coba perhatikan jawaban Ismail menanggapi kabar dari ayahnya “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar

Sungguh luar biasa, itulah cinta yang sesungguhnya. Cinta yang benar. Cinta yang penuh keberkahan. Cinta yang pasti berbalas surga. Semoga kita semua bisa meneladani figur-figur manusia pilihan tersebut. amiin!

Selamat Hari Raya Idul Adha 1428H
Ikhlas berQURBAN
Makin dekat denganNYA
Tangerang, 8 Des’07

Qurban, Versi Islam vs Kristen

Kisah pengorbanan Nabi Ibrahim

Orang-orang kristen mempermasalahkan tentang anak yang hendak dikorbankan oleh nabi Ibrahim, karena dalam Islam diyakini bahwa yang dikurbankan adalah Ismail, sementara orang-orang kristen meyakini bahwa yang dikurbankan adalah Iskha’. Hal ini mereka dasarkan pada kejadian 22:2, yaitu :

Kata Allah “Pergilah ke tanah Man’a dengan Iskhak, anakmu yang tunggal, yang sangat kau kasihi. Di situ di sebuah gunung yang akan kutunjukkan kepadamu. Persembahkanlah anakmu sebagai ………kepada-Ku.”

Jika kita memperhatikan ayat tersebut, bahwa dalam ayat tersebut dinyatakan bahwa yang dikurbankan adalah anak tunggal. Hal ini berarti bahwa Iskhak adalah anak pertama nabi Ibrahim. Padahal dalam Kejadian 16:16 dan Kejadian 21:5 dapat kita ketahui bahwa anak pertama Nabi Ibrahim (dalam Al Kitab disebut Abraham) adalah Ismail.

“Maka pada masa Hajar memperanakkan Ismail bagi Abraham itu, adalah umur Abraham 85 tahun” (Kejadian 16:16)
“Maka pada masa Ishak, anaknya itu jadi, adalah umur Abraham 100 tahun” (Kejadian 21:5)

Dari dua keterangan dalam Al Kitab ini dapat kita ketahui bahwa usia Ibrahim pada usia 85 tahun memiliki anak yang bernama Ismail dan kemudian pada usianya yang ke-100 tahun, lahirlah anaknya yang bernama Iskhak. Dengan demikian jelas bahwa anak tunggal yang dimaksud dalam Kejadian 22: 2 tersebut adalah Ismail.

Bahkan dalam Al Quran telah dengan terang dijelaskan tentang peristiwa penyembelihan Ismail. Dalam Al Quran surat As Shaffat ayat 100-111 diterangkan tentang penyembelihan ismail, yang akhirnya diganti dengan seekor sembelihan yang besar atas karunia Allah, dan hal itu menjadi pelajaran bagi kita. Selanjutnya dalam surat yang sama ayat 112, diterangkan bahwa setelah peristiwa itu, Allah memberikan kabar gembira kepada ibrahim dengan menganugrahkan anak yang kedua, yaitu Iskhak

“Dan Kami beri dia kabar gembira dengan (kelahiran)Ishak seorang nabi yang temasuk orang-orang yang saleh”

Demikian pula dalam Al Quran surat Ibrahim ayat 39 yang menyatakan secara berurutan anak nabi Ibrahim, yaitu Ismail, kemudian Ishak

“Segala pujin bagi Allah yang telah menganugrahkan kepadaku di hari tuaku Ismail dan Ishak. Sesungguhnya Tuhanku benar-benar Maha mendengar (memperkenankan) doa.”

Dengan demikian jelas bahwa yang dikurbankan Ibrahim adalah ismail. Ini juga menujukkan bahwa dalam Al Kitab terdapat ayat-ayat yang dipalsukan (dirubah), sehingga keorsinilannya sungguh sangat meragukan.

Pengertian Qurban

Qurban adalah menyembelih hewan/binatang ternak sebagai ibadah kepada Allah SWT dan sebagai rasa syukur atas nikmat Allah SWT.
Qurban pertama kali diperintahkan pada masa Nabi Adam ketika itu dilakukan oleh 2 putra Nabi adam yaitu Qabil & Habil. Sebagaimana dikisahkan dalam Al Quran surat Al maidah ayat 27 :

“Ceriterakanlah kepada mereka kisah kedua putra Adam (Habil dan Kabil) menurut yang sebenarnya, ketika keduanya mempersembahkan kurban, maka diterima dari salah seorang dari mereka berdua (Habil) dan tidak diterima dari yang lain (Kabil). Ia berkata (Kabil): “Aku pasti membunuhmu!” Berkata Habil: “Sesungguhnya Allah hanya menerima (kurban) dari orang-orang yang bertakwa”.

Waktu pelaksanaan Qurban

Akhir waktu menyembelih qurban adalah akhir hari tasyriq. Berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Ahmad dari Sulaiman Bin Musa dari Jubair bin Mut’im bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda :

“Segala hari tayriq itu hari meyembelih”

Diriwayatkan An Nawawi dalam sejarah Muslim dan Ibnul Qayyim dalam Zadul Maad bahwa Ali r.a. berkata :

‘Hari menyembelih itu ialah hari idul adha dan 3 hari sesudahnya”

Salah satu hal yang sering menjadi permasalahan dalam Islam, yaitu tentang pelaksanaan sholat Ied, menjelang pelaksanaan qurban, dimana umat Islam seringkali berselisih tentang waktunya. Orang-orang kristen beranggapan bahwa hal itu merupakan suatu pertantangan yang terjadi dalam Islam. Padahal jika kita memperhatikan Al Quran dan ayat-ayat Allah yang tedapat di alam yang menggambarkan tentang kenyataan waktu, sebenarnya hal tersebut bukanlah pertentangan, tetapi justru hal tersebut merupakan keistimewaan islam, dimana perbedaan pendapat merupakan anugrah (rahmat).

Hal ini dapat dijelaskan sebagai berikut, bedasarkan Al Quran surat Al Baqoroh ayat 185, yaitu :

“(beberapa hari yang telah ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan menganai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan batil). Karena itu, barang siapa diantara kamu hadir (di negeri tempat tingglnya) di bulan itu, maka hendakklah ia berpuasa di bulan itu, dan barang siapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.”

Sebenarnya yang menjadi perbedaan dalam umat islam adalah karena sesuatu yang talah menjadi keteetapan Allah, dimana kita ketahui bahwa pada tempat yang berbeda di muka bumi ini, terdapat selisih waktu. Katakanlah saat ini di mekah pukul 07.00 waktu Mekah, maka pada saat itu di Indonesia sudah pukul 11.00 waktu Indonesia.
Sehingga ketika kita hendak menyamakan waktu pelaksanaan sholat Ied, maka hal itu jelas tidak memungkinkan, karena ketika Mekah melaksanakan Sholat Ied, maka di indonesia pukul 11.00. padahal tuntunan melaksanakan sholah Ied adalah waktu dhuha (mulai jam 07.00). oleh karena itu, maka dengan berdasarkan pada surat Al Baqoroh tersebut, maka ada beberapa umat Islam yang melaksanakan sholat Ied dengan metode ru’yat, dimana metode ini yaitu dengan melihat hilal (bulan). Tetapi karena tidak semua tempat dapat melihat hilal, maka ada umat islam yang kemudian membulatkan waktu pelaksanaan sholat Ied, karena Allah tidak mempersulit hamba-Nya dalam melaksanakan perintah-Nya

Dalam Al Quran surat Yunus ayat 5-6, juga dijelaskan tentang metode lain untuk menentukan waktu, yaitu dengan metode hisab.
Dengan demikian, sebenarnya perbedaan pendapat tersebut bukalah sesuatu yang merupakan pertentangan dalam islam, tetapi hal itu merupakan rahmat bagi orang-orang yang mau berpikir.

Tempat Pelaksanaan Qurban

Lebih utama qurban itu dilakuakan di sekitar Musholla atau tempat melaksanakan sholat Adhul Adha, karena di tempat itu Nabi Muhammad sering melaksanakannya, agar penyembelihan itu disaksikan olelh orang banyak, yaitu para jama’ah. Sabda nabi Muhammad SAW yang diriwayatkan oleh Bukhori dan Nafi bahwa Ibnu Umar r.a. menceritakan kepadanya, sebagai berikut :

“Sesungguhnya Rosul SAW menyembelih qurban di Musholla”
Namun boleh juga menyembelih qurban dilakukan di rumah sendiri karena yang demikian diizinkan pula oleh nabi. Diberitakan oleh Muslim bahwa nabi Muhammad SAW bersabda :

“Maka sembelihlan olehmu qurban itu di rumah kamu sendiri”

Alasan Kita Harus Melakukan Qurban
1.Disyariatkan bagi setiap umat untuk berkurban
Qurban telah disyariatkan oleh Allah SWT kepada tiap-tiap umat di dunia sejak umat terdahulu hingga umat terkini. Dalam Al Quran surat Al hajj ayat 34, Allah berfirman :

“Dan bagi tiap-tiap umat telah Kami syariatkan penyembelihan (qurban), supaya mereka menyebut nama Allah terhadap binatang ternak yang telah direzekikan Allah kepada mereka, maka Tuhanmu ialah Tuhan Yang Maha Esa, karena itu berserah dirilah kamu kepada-Nya. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang tunduk patuh (kepada Allah)”

2.Sebagai Wujud Takwa Kepada Allah SWT
Kurban pada hakikatnya adalah wujud ketakwaan kita sebagai manusia kepada Allah sebagai sang pencipta. Sehingga bukanlah daging atau darah yang kita persembahkan kepaada Allah, tetapi ketakwaan kitalah yang akan diperitungkan Allah SWT. Hal ini tercantum dalam Al Quran Surat Al Hajj ayat 37 :

“Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan)) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya…”
Qurban dilakukan karena hal itu semata-mata telah diperintahkan oleh Allah SWT, sebagaimana firman-Nya dalam surat Al Kautsar ayat 1-3 :
“Maka sholatlah dan berqurbanlah”

Orang kristen senantiasa mengejek dan mengkritik qurban yang dilakukan oleh ummat Islam. padahal dalam kitab injil mereka sendiri qurban ini diperintahkan. Hal ini didasarkan pada Al Kitab :

“Kami harus pergi ke padang gurun sejauh tiga hari perjalanan untuk mempersembahkan kurban kepada Tuhan Allah kami, seperti yang diperintahkan-Nya kepada kami.” (Keluaran 8:27)

Dengan demikian dapat kita ketahui bahwa sesungguhnya orang-orang kristen tidak melaksanakan tuntunan yang mereka yakini kebenarannya, yaitu Injil. Hal ini berarti bahwa terhadap kitab mereka sendiripun, meraka ingkari.

Cara Qurban

Menyembelih qurban secara umum sama saja dengan menyembelih sembelihan biasa, namun ada beberapa perbedaan yakni setelah membaca basmalah membaca takbir dan menyebutkan untuk siapa qurban itu dilakukan. Setelah disembelih, maka daging kurban dimakan dan sebagian dibagikan kepada orang lain. Sebagaimana di terangkan dalam Al Quran surat Al Hajj ayat 36,

“…Maka sebutlah olehmu Nama Allah ketika kamu menyembelihnya dalam keadaan berdiri (dan telah terikat). Kemudian apabila telah robuh (mati), maka makanlah sebagiannya dan beri makanlah orang yang rela dengan apa yang ada padanya (yang tidak meminta-minta) dan oran gyang meminta. Demikianlah kami menundukkan unta itu kepada kamu, mudah-mudahan kamu bersyukur”

Materi Kristologi
PPTM Yogyakarta

November 23, 2007

Pola Pikir

Pola pikir seseorang sangat dipengaruhi oleh intensitas informasi yang didapat. Baik informasi yang dilihat, didengar, dikhayalkan dan dipikirkan. Sampai akhirnya semua informasi tersebut akan terekam dalam memori yang selanjutnya bisa merubah pola pikir dan karakter.

Saya teringat ketika saya duduk di bangku SD dahulu kala. Ada sesuatu yang kayaknya sudah menjadi “pemikiran bersama” dibenak setiap pelajar. Setiap kali Bapak atau Ibu guru memberi tugas mengarang, sudah hampir dipastikan kalimat pertama yang ditulis oleh sebagian besar siswa adalah, “Pada suatu hari……..” dengan berbagai variasi cerita.
Pada suatu hari saya pergi ke sawah bersama ayah yang gagah dan ibu yang cantik jelita….
Pada suatu hari nenek datang ke kampungku membawa oleh-oleh yang sangat banyak…….
Pada suatu hari ibu guru sedang menulis di depan kelas kemudian semua murid tertidur……
Pada suatu hari…..
Pada suatu hari…..

Setelah saya pikir-pikir flash back, ternyata lucu juga ya? Apa tidak ada kalimat lain selain Pada suatu hari….? Mungkin kalau saat ini kita membaca kembali buku kita sewaktu SD (kalao masih ada), yakin dech pasti kamu akan senyum-senyum melulu.

Ada lagi, kalau Bapak atau Ibu guru menyuruh menggambar pemandangan. Apa coba yang digambar oleh sebagian besar siswa???? Pasti yang akan mereka gambar adalah dua buah gunung, matahari dan persawahan. Betul gak?

Itulah pola pikir yang terbentuk oleh informasi yang mereka terima. Pada saat-saat usia seperti itu seorang anak cenderung meniru/mencontoh. Karena guru, hanya memberikan contoh Pada suatu hari….. ketika mengarang, contoh gambar gunung ketika menggambar, maka dengan sendirinya informasi tersebut akan terekam sangat kuat dalam ingatannya. Hal inilah yang akan menjadi sumber informasi utama yang akan diaplikasikan dalam kehidupan nyata.

Ada sebuah nasihat dan motivasi yang cukup bagus untuk kita renungkan:
Sow a thought, reap an action;
sow an action, reap a habit;
sow a habit, reap a character;
sow a character, reap a destiny
Saya terjemahkan menjadi:
Taburlah pemikiran, petiklah tindakan
Taburlah tindakan, petiklah kebiasaan
Taburlah kebiasaan, petiklah karakter
Taburlah karakter, petiklah tujuan

Pemikiran adalah awal dari karakter yang akan menyampaikan pada tujuan kita. Sedangkan pemikiran atau pola pikir sangat erat kaitannya dengan informasi yang kita peroleh. Untuk membentuk pola pikir islami maka mutlak harus diawali dengan informasi-informasi yang islami pula. Sungguh akan sangat efektif jika sejak kecil, anak-anak kita dibiasakan diberikan informasi yang islami. Dididik dengan akhlaq yang mulia, diajari adab-adab yang baik, dibimbing dengan ilmu agama.

Sebagai contoh, saat makan anak-anak dibiasakan baca Bismillah, makan dengan tangan kanan, makan sambil duduk, tidak serakah dan lainnya.
Saat belajar, diawali dan ditutup dengan do’a, dikasih cerita-cerita yang penuh hikmah, yang saarat dengan akhlak mulia. Bagaimana pentingnya kejujuran, perkataan yang benar, keberanian, kedisiplinan dsb. Bagimana indahnya kebersaman, nikmatnya memberi, perlunya tolong-menolong dan nasehat-menasihati. Juga diingatkan bagaimana buruknya kesombongan, kedengkian, kemalasan dan sifat-sifat jelek lainnya. Bagus lagi kalau ceritanya sekali-kali diambil dari kisah Rasul, sahabat dan tabi’in serta orang-orang sholeh jaman dahulu. Insya Allah anak-anak kita akan tumbuh menjadi sosok muslim yang berkepribadian, menjadi multazim dan multazimah sejati

Namun perlu disayangkan, hampir sebagian anak-anak kita saat ini jauh dari nilai-nilai tersebut di atas. Mengapa demikian? Apa yang salah? Karena anak-anak tersebut lahir dari keluarga yang ”rendahan”. Keluarga yang dibangun oleh dua individu yang tanpa aqidah dan ilmu. Keluarga yang dibentuk hanya semata-mata oleh dorongan nafsu syahwat. Keluarga yang diawali dengan sekian banyak kemaksiatan-kemaksiatan, entah itu namanya pacaran, khalwat, tabarruj dan sejenisnya. Keluarga yang diwujudkan tanpa menggunakan nilai-nilai Islam. Sehingga banyak anak-anak manusia yang harus lahir duluan sebelum aqad nikah alias Pemilu (Pernikahan hamil dahulu). Apalah namanya, yang jelas itulah fakta meskipun tidak semuanya demikian.

November 13, 2007

Suara Hati Seorang Ikhwan

Wanita suci,
Mungkin aku memang tak romantis tapi siapa peduli?
Karena toh kau tak mengenalku
dan memang tak perlu mengenalku.
Bagiku kau bunga,
tak mampu aku samakanmu dengan bunga terindah sekalipun.
Bagiku manusia adalah makhluk yang terindah,
tersempurna dan tertinggi.
Bagiku dirimu salah satu dari semua itu,
karenanya kau tak membutuhkan persamaan.

Wanita suci,
Jangan pernah biarkan aku manatapmu penuh,
karena akan membuat kumengingatmu.
Berarti memenuhi kepalaku dengan inginkanmu.
Berimbas pada tersusunnya gambarmu dalam tiap dinding khayalku.
Membuatku inginkanmu sepenuh hati, seluruh jiwa, sesemangat mentari.
Kasihanilah dirimu jika harus hadir dalam khayalku yang masih penuh Lumpur.
Karena sesungguhnya dirimu terlalu suci.

Wanita suci,
Berdua menghabiskan waktu denganmu bagaikan mimpi tak berujung.
Ada ingin tapi tak ada henti.
Menyentuhmu merupakan ingin diri, berkelebat selalu,
meski ujung penutupmu pun tak berani kusentuh.
Jangan pernah kalah dengan mimpi dan inginku
karena sucimu kaupertaruhkan.
Mungkin kau tak peduli
Tapi kau hanya menjadi wanita biasa di hadapanku
bila kau kalah.
Dan tak lebih dari wanita biasa.

Wanita suci,
Jangan pernah kautatapku penuh
Bahkan tak perlu kaulirikkan matamu untuk melihatku.
Bukan karena aku terlalu indah, tapi karena aku seorang yang masih kotor.
Aku biasa memakai topeng keindahan pada wajah burukku,
mengenakan pakaian sutra emas membungkus aib tubuhku
Meniru laku para rahib, meski hatiku lebih kotor dari Lumpur.
Kau memang suci, tapi masih sangat mungkin kau termanipulasi.
Karena kau toh hanya manusia-hanya wanita.

Wanita suci,
Beri sepenuh diri pada dia sang lelaki suci
yang dengan sepenuh hati membawamu kehadapan Tuhanmu.
Untuknya dirimu ada, itu kata otakku,
terukir dalam kitab suci, tak perlu dipikir lagi.
Tunggu sang lelaki itu menjemputmu,
dalam rangkaian khitbah dan akad yang indah.
Atau kejar sang lelaki suci itu, karena itu adalah hakmu,
seperti dicontohkan ibunda Khadijah.
Jangan ada ragu, jangan ada malu,
semua terukir dalam kitab suci.

Wanita suci
Bariskan harapanmu pada istikharah sepenuh hati ikhlas.
Relakan Allah pilihkan lelaki suci untukmu,
mungkin sekarang atau nanti,
bahkan mungkin tak ada sampai kau mati.
Mungkin itu berarti dirimu terlalu suci untuk semua lelaki di fana saat ini.
Mungkin lelaki suci itu menanti di istana kekalmu,
yang kaubangun dengan segala kekhusyu’an tangis do’amu.

Wanita suci
Pilihan Allah tak selalu seindah inginmu, tapi itu pilihan-Nya.
Tak ada yang lebih baik dari pilihan Allah.
Mungkin kebaikan itu bukan pada lelaki yang terpilih itu,
melainkan pada jalan yang kaupilih,
seperti kisah seorang wanita suci di masa lalu,
Ummu Sulaim yang meminta ke-Islam-an sebagai mahar pernikahannya.
Atau mungkin kebaikan itu
terletak pada keikhlasanmu menerima keputusan Sang Kekasih Tertinggi.
Kekasih tempat kita memberi semua cinta dan menerima cinta
dalam setiap denyut nadi kita.

Disadur dari: www.dudung.net

Kaidah Al-Itsar

***
Cut Mala membawa diktat kuliahnya. Segala yang musykil baginya ia tanyakan dengan tanpa rasa malu pada Anna. Anna menjawab sejelas-jelasnya dengan penuh kesabaran.
”Kak Anna, maksud kaidah ini apa?” tanya Cut Mala.
”Coba baca kaidahnya!” pinta Anna.
”Kaidahnya begini Kak, Al Itsar bil Qurbi makruuhun wa fii ghoirihaa mahbuubun. Di sini tidak ada penjelasan dan contohnya sama sekali Kak. Saya belum benar-benar paham”

Anna langsung menjawab dengan tenang,
”Kaidah itu artinya, al-itsar(mengutamakan orang lain), dalam hal mendekatkan diri kepada Allah atau mengutamakan orang lain dalam hal ibadah itu hukumnya makruh. Adapun mengutamakan orang lain pada selain ibadah itu dianjurkan.

Dalam ibadah, yang dianjurkan dan disunahkan adalah berlomba-lomba mendapatkan yang paling afdhol, mendapatkan pahala yang paling banyak. Maka mengutamakan orang lain dalam hal ini sangat tidak dianjurkan alias makruh.
Contohnya, jika seseorang memiliki air yang hanya cukup buat berwudhu untuk dirinya saja, maka ia tidak boleh memberikan air itu pada orang lain, agar orang lain bisa berwudhu sementara ia tayamum. Yang benar adalah dia menggunakan air itu untuk wudhu biarkan orang lain tayamum. Kecuali jika ada orang lain yang membutuhkan air untuk minum karena kehausan, maka ia sebaiknya memberikan air itu padanya dan dia bisa bersuci dengan tayamum.

Contoh lain, jika seorang muslimah memiliki satu mukena, lalu datang waktu sholat. Ia tidak diperbolehkan mempersilakan orang lain sholat dulu menggunakan mukenanya dan ia menunggu setelah orang-orang selesai menggunakan mukenanya. Yang benar adalah ia harus segera sholat sebelum yang lain. Ia harus mengutamakan dirinya, sebab sholat di awal waktu itu lebih afdhol (utama). Baru setelah ia sholat ia bisa meminjamkan pada orang lain. Dalam ibadah, sekali lagi dimakruhkan mengutamakan orang lain.
Begitu maksud kaidah itu Dik. Kau bisa menganalogkan dengan yang lain”

Cut Mala tampak puas mendengar jawaban itu. Tiba-tiba ia terpikir sesuatu yang menarik untuk ia tanyakan,
”Maaf Kak saya mau tanya, Kalau misalnya. Sekali lagi ini misalnya lho Kak. Misalnya ada seorang akhwat dilamar oleh seorang ikhwan yang sangat baik. Baik agamanya, akhlaqnya, prestasinya juga wajahnya. Lalu ia mengalah, mengutamakan saudarinya yang menurutnya lebih baik darinya dan lebih pantas menikah dengan ikhwan tadi. Apa itu termasuk makruh Kak?”

Anna menatap kedua mata Mala. Sebuah pertanyaan yang membuatnya tersenyum sekaligus kagum akan kreativitas gadis Aceh tersebut. Bukankah pertanyaan yang baik adalah sebagian dari ilmu?
”Menurutmu menikah itu ibadah nggak Dik?” tanya Anna.
”Ibadah Kak, bukankah menikah itu menyempurkan separoh agama?”
”Jadi jelas kan jawabannya.

Aku pribadi kalau menemukan ikhwan yan