Rumah Kepribadian
Telah kita ketahui bersama bahwa proses penciptaan manusia terdiri dari dua unsur yaitu jasmani dan rohani. Kedua unsur tersebut akan membangun suatu sistem kompleks menjadi “manusia seutuhnya”, yaitu manusia yang mempunyai keseimbangan lahir dan batin. Jasmani adalah unsur manusia yang membutuhkan fasilitas berupa materi seperti tempat, makan, minum, pakaian, obat-obatan dan sebagainya. Lebih sepesifik lagi, jasmani membutuhkan tempat untuk bernaung dari ganasnya alam. Dengan tempat tersebut jasmani dapat eksis menjalankan fungsi-fungsi sebagai bagian dari manusia itu sendiri.
Seperti halnya jasmani, rohanipun memerlukan tempat bernaung. Yang mana tempat tersebut akan menjaga, melindungi, memelihara dan melestarikan kepribadian manusia. Tempat tersebut kita namakan sebagai “rumah kepribadian”. Supaya rumah tersebut dapat berfungsi optimal perlu adanya rekonstruksi/pembangunan. Sekarang yang menjadi masalah, bagaiman membangun rumah kepribadian tersebut?
Untuk membangun rumah kepribadian idaman diperlukan pondasi dasar yang kokoh, yaitu akal(ilmu) dan hati. Mengapa demikian? Karena rumah kepribadian yang dibangun oleh akal dan hati akan melahirkan kamar-kamar kebaikan entah itu berupa kamar shobar, ikhlas, qona’ah, tawadhu’, khusyu’, ridho, dan lain sebagainya. Uniknya semua penghuni kamar-kamar tersebut akan selalu patuh dan taat kepada apa yang kita perintah. Mereka akan senantiasa setia menemani kita dalam setiap waktu dan kesempatan. Pendek kata, mereka menjadi abdi/pembantu kita dalam mengatasi segala persoalan dan kesusahan hidup.
Di saat ditimpa musibah, kadang terasa amat berat hati kita untuk menerimanya. Agaknya kita tidak bisa menyelesaikannya tanpa bantuan orang lain yang memang sudah berpengalaman dibidangnya. Kitapun akan berfikir: “Siapa ya, yang dapat membantu?” Maka hati kita akan berkata: “Oh ya, saya ‘kan punya teman yang bernama “Ahmad Shobar” yang tinggal di kamar sebelah. Mungkin dia bisa membantu saya”. Karena rumah kepribadian kita sudah punya kamar shobar maka kita tidak kesulitan mencari saudara kita Si Shobar. Tak lama kemudian, Si Shobar pun datang berkunjung ke hati kita, siap membantu apa saja yang kita inginkan. Akhirnya kita pun dapat menyelesaikan musibah/bencana tersebut dengan mudah, yaitu dengan sifat shobar yang telah bersema-yam di hati kita.
Alangkah indahnya rumah kepribadian kita. Yaitu rumah yang dihiasi dengan kamar-kamar kebaikan abadi. Setiap ada masalah selalu saja ada jalan keluar karena kita ditemani oleh sosok-sosok yang mengerti akan diri kita.
Bagaimana cara membangun ruamah kepribadian?
Rumah Kepribadian Yang Didasarkan pada Nafsu
Rumah kepribadian yang pondasinya nafsu cenderung akan melahirkan tembok-tembok penghalang yang sulit diatur yaitu “tembok nafsu”. Tembok-tembok tersebut akan berdiri liar di tempat-tempat yang tidak kita inginkan. Sehingga kamar-kamar kebajikan yang telah ada di rumah kepribadian kita lama-kelamaan akan tertutup olek tembok nafsu tersebut. Pada akhirnya kita sulit memanggil dan menghadirkan penghuni kamar-kamar kebajikan itu. Si shobar, ikhlas, jujur, qona’ah dan teman-temannya akan meninggalkan kita sendirian.
Adapun tipe tembok nafsu tersebut bermacam-macam diantaranya:
1.Tembok kebodohan (al-jahlu)
Sangat sempit sekali jika rumah kepribadian kita sudah terbangun tembok kebodohan. Ruang gerak hati kita pun menjadi sempit. Tidak bisa menerima kebenaran apapun dari orang lain, lebih-lebih kebenaran wahyu. Dalam bertindak cenderung tanpa arah dan kontrol, sehingga sangat boleh jadi akan meresahkan orang lain di sekitarnya. Ada untaian kata yang sangat bagus, bahwa kebodohan merupakan segala asal dan sebab terjadinya kerusakan di muka bumi. Sehingga apa jadinya kalau semua penghuni bumi ini adalah orang-orang yang bodoh, lebih-lebih bodoh dalam ilmu syar’i? Sebuah pertanyaan besar yang tak perlu kita jawab, tetapi perlu kita renungkan dengan serius. OK !
2.Tembok kezholiman (al-zhulmu)
Zholim merupakan suatu perbuatan menempatkan sesuatu tidak pada tempatnya, bertindak tidak sesuai prosedur dan tuntunan yang ada. Orang yang sudah tereinfeksi firus zholim ini cenderung akan menghalalkan segala cara untuk meraih hasrat dan keinginannya. Tidak peduli apakah itu merugikan orang lain atau tidak. Pokoknya aku harus mendapatkan itu….., kalau tidak….. awwas….. jangan salahkan aku….! Itulah ungkapan yang sering keluar dari seseorang yang zholim. Jika ciri-ciri di atas sudah akan muncul pada rumah kepribadian kita atau bahkan memang sudah ada maka kita harus segera merobohkan dan menghancurkannya.
3.Tembok bakhil (al-bukhlu)
Banyak orang yang menyangka bahwa dengan berlaku bakhil mereka akan menjadi kaya. Benarkah? Tentu jawabnya “no” alias “tidak” alias lagi “ora” dan alias sekali lagi “laa” Sifat bakhil jelas tidak akan mendatangkan kekayaan pada diri kita.
Bersambung…..!