Kenangan dan Harapan
Assalamu’alaikum
Innal hamda lillah, nahmaduhu wa nasta’inuhu, wa nastaghfiruhu wa na’udzubillahi min syururi anfusina wa min sayyiati a’maalina. Man yahdillahu falaa mudhillahu wa man yudhlilhu falaa haadiyallahu. asyhadu an laa ilaha illaLLah wa asyhadu anna muhammadar rasulullah. Amma ba’du,
Saudaraku yang insyaAllah dimulyakan Allah SWT,
Ramadhan adalah bulan yang amat istimewa. Kedatangannya senantiasa dinanti dan kepergiannya senantiasa membawa berbagai kenangan dan harapan. Saya katakan membawa kenangan karena, di bulan tersebut tentunya banyak hal yang kita alami. Berbagai amal ibadah telah kita jalani sesuai kondisi kita masing-masing. Ada sebagian kita yang rajin, aktif dan istiqomah dalam setiap ibadah. Sholat jama’ah di masjid hampir tidak pernah ketinggalan. Sholat-sholat sunnah juga tak luput untuk dikerjakan, bahkan kuantitasnya lebih banyak dari biasanya. Ayat-ayat Al-Qur’an senantiasa ia lantunkan di hampir sebagian besar waktu yang ada. Zakat, infaq, shodaqoh dan apalah namanya seakan-akan sudah menjadi kebiasaan yang sulit ditinggalkan. Intinya pagi, siang, sore, malam dan dini hari penuh dengan suasana ibadah. Tetapi ada juga sebagian dari kita yang kurang begitu bersemangat meskipun ia tahu akan keistimewaan Ramadhan. Hal ini karena jiwanya masih diliputi dengan hawa nafsu, masih banyak kemaksiyatan2 yang secara nyata ia lakukan. Hatinya ternoda, sakit bahkan mati, (na’udzubillah). Sehingga amat wajar kita lihat pemandangan yang ironis, di jalan2 masih banyak yang tidak puasa, diskotik masih ramai, dsb.
Yach… itulah kondisi kita (atau lebih enaknya dibilang kondisi bangsa kita). Apapun kondisi kita saat Ramadhan, pastinya ada hal-hal yang membekas di hati kita. Banyak hal yang patut kita kenang untuk diambil pelajaran (ibroh). Jika kenangan itu baik, bisa memotivasi kita untuk terus mempertahankannya, bukan sebaliknya membuat kita angkuh, sombong dan merasa hebat, bersih, suci dan gak punya dosa. Jika kenangan itu jelek, bisa kita jadikan media pemacu untuk lebih memperbaiki diri di kehidupan yang akan datang sepanjang usia kita.
Saya katakan membawa berbagai harapan, karena setelah Ramadhan kita sepantasnya senantiasa harap-harap cemas, jangan-jangan ibadah kita selama satu bulan Ramadhan tidak diterima olehNYA. na’udzubillah min dzalik. Kita juga berharap agar dipertemukan kembali oleh Allah dengan Ramadhan tahun depan. Juga kita bisa meningkatkan amal ibadah di bulan-bulan lain di luar Ramadhan. Dan pada akhirnya harapan kita yang paling besar setelah Ramadhan adalah kita bisa menuai janji Allah bagi orang2 yang berpuasa, yaitu bisa meraih kebahagian melihat wajah Allah kelak di akhirat. Rasulullah bersadda, “Bagi orang yang berpuasa ada dua kegembiraan yang dirasakannya. Yaitu, apabila berbuka, ia bergembira; dan apabila ia bertemu dengan Tuhannya, ia bergembira karena puasanya itu” HR. Bukhori, No.922
Saudaraku….
Saat ini, di bulan syawwal merupakan awal bagi kita mempraktekkan hasil tarbiyah selama satu bulan. Selama itu kita telah dididik untuk menahan hawa nafsu yang mungkin selama ini kita puja. Nafsu makan, minum dan seksual kita coba kendalikan agar nilai-nilai ruhiyah bisa mengisi hati kita. Tidak hanya itu, selama Ramadhan kita juga dituntut untuk menjaga ucapan, manjaga pandangan, menjaga pendengaran dari perbuatan2 kotor dan nista. Maka kini saatnya kita menggunakan hasil tarbiyah tersebut sebagai bekal untuk perjalanan kita sebelas bulan yang akan datang.