Pola Pikir
Pola pikir seseorang sangat dipengaruhi oleh intensitas informasi yang didapat. Baik informasi yang dilihat, didengar, dikhayalkan dan dipikirkan. Sampai akhirnya semua informasi tersebut akan terekam dalam memori yang selanjutnya bisa merubah pola pikir dan karakter.
Saya teringat ketika saya duduk di bangku SD dahulu kala. Ada sesuatu yang kayaknya sudah menjadi “pemikiran bersama” dibenak setiap pelajar. Setiap kali Bapak atau Ibu guru memberi tugas mengarang, sudah hampir dipastikan kalimat pertama yang ditulis oleh sebagian besar siswa adalah, “Pada suatu hari……..” dengan berbagai variasi cerita.
Pada suatu hari saya pergi ke sawah bersama ayah yang gagah dan ibu yang cantik jelita….
Pada suatu hari nenek datang ke kampungku membawa oleh-oleh yang sangat banyak…….
Pada suatu hari ibu guru sedang menulis di depan kelas kemudian semua murid tertidur……
Pada suatu hari…..
Pada suatu hari…..
Setelah saya pikir-pikir flash back, ternyata lucu juga ya? Apa tidak ada kalimat lain selain Pada suatu hari….? Mungkin kalau saat ini kita membaca kembali buku kita sewaktu SD (kalao masih ada), yakin dech pasti kamu akan senyum-senyum melulu.
Ada lagi, kalau Bapak atau Ibu guru menyuruh menggambar pemandangan. Apa coba yang digambar oleh sebagian besar siswa???? Pasti yang akan mereka gambar adalah dua buah gunung, matahari dan persawahan. Betul gak?
Itulah pola pikir yang terbentuk oleh informasi yang mereka terima. Pada saat-saat usia seperti itu seorang anak cenderung meniru/mencontoh. Karena guru, hanya memberikan contoh Pada suatu hari….. ketika mengarang, contoh gambar gunung ketika menggambar, maka dengan sendirinya informasi tersebut akan terekam sangat kuat dalam ingatannya. Hal inilah yang akan menjadi sumber informasi utama yang akan diaplikasikan dalam kehidupan nyata.
Ada sebuah nasihat dan motivasi yang cukup bagus untuk kita renungkan:
Sow a thought, reap an action;
sow an action, reap a habit;
sow a habit, reap a character;
sow a character, reap a destiny
Saya terjemahkan menjadi:
Taburlah pemikiran, petiklah tindakan
Taburlah tindakan, petiklah kebiasaan
Taburlah kebiasaan, petiklah karakter
Taburlah karakter, petiklah tujuan
Pemikiran adalah awal dari karakter yang akan menyampaikan pada tujuan kita. Sedangkan pemikiran atau pola pikir sangat erat kaitannya dengan informasi yang kita peroleh. Untuk membentuk pola pikir islami maka mutlak harus diawali dengan informasi-informasi yang islami pula. Sungguh akan sangat efektif jika sejak kecil, anak-anak kita dibiasakan diberikan informasi yang islami. Dididik dengan akhlaq yang mulia, diajari adab-adab yang baik, dibimbing dengan ilmu agama.
Sebagai contoh, saat makan anak-anak dibiasakan baca Bismillah, makan dengan tangan kanan, makan sambil duduk, tidak serakah dan lainnya.
Saat belajar, diawali dan ditutup dengan do’a, dikasih cerita-cerita yang penuh hikmah, yang saarat dengan akhlak mulia. Bagaimana pentingnya kejujuran, perkataan yang benar, keberanian, kedisiplinan dsb. Bagimana indahnya kebersaman, nikmatnya memberi, perlunya tolong-menolong dan nasehat-menasihati. Juga diingatkan bagaimana buruknya kesombongan, kedengkian, kemalasan dan sifat-sifat jelek lainnya. Bagus lagi kalau ceritanya sekali-kali diambil dari kisah Rasul, sahabat dan tabi’in serta orang-orang sholeh jaman dahulu. Insya Allah anak-anak kita akan tumbuh menjadi sosok muslim yang berkepribadian, menjadi multazim dan multazimah sejati
Namun perlu disayangkan, hampir sebagian anak-anak kita saat ini jauh dari nilai-nilai tersebut di atas. Mengapa demikian? Apa yang salah? Karena anak-anak tersebut lahir dari keluarga yang ”rendahan”. Keluarga yang dibangun oleh dua individu yang tanpa aqidah dan ilmu. Keluarga yang dibentuk hanya semata-mata oleh dorongan nafsu syahwat. Keluarga yang diawali dengan sekian banyak kemaksiatan-kemaksiatan, entah itu namanya pacaran, khalwat, tabarruj dan sejenisnya. Keluarga yang diwujudkan tanpa menggunakan nilai-nilai Islam. Sehingga banyak anak-anak manusia yang harus lahir duluan sebelum aqad nikah alias Pemilu (Pernikahan hamil dahulu). Apalah namanya, yang jelas itulah fakta meskipun tidak semuanya demikian.
bagus
Comment by lestari — June 25, 2009 @ 5:10 am