***Komitmen Muslim Sejati*** :: Satu tahun sudah …… :: December :: 2007

***Komitmen Muslim Sejati***

December 6, 2007

Satu tahun sudah ……

Assalamu’alaikum

Pa kabar semua? Moga kita semua dalam keadaan sehat wal afiyat dalam lindunganNya, amiiin…. Alhamdulillah bisa kembali bersua dengan para pembaca yang baik hati dan tidak sombong. Sebelumnya maaf ya, kalo tulisan2 yang ada di blog ini kurang berkenan di hati Anda semua. Mungkin ada tulisan yg menyinggung, menggurui, meremehkan atau apalah….. Please, maapin ya! Yach, sepandai-pandai tupai melompat sekali waktu jatuh juga. Apalagi diriku ini yg pandai nggak, pinter juga nggak, hehehehe…… Pasti dech banyak tulisan yg salah, apalagi nulisnya sambil ‘merenung’.

Denger kata “merenung” baru sadar ternyata saya sudah 1 tahun meninggalkan bangku kuliah. Berarti juga sudah 1 tahun saya bekerja di sebuah perusahaan sebagai seorang engineer (tepatnya tanggal 7 Desember 2007). Tapi kenapa ya kok rasanya hati ini masih pingin sekali kuliah. Ingat temen2 yang baik hati. Inget masa-masa “prihatin” dulu. Inget pengalaman-pengalaman yang menarik maupun yang menjengkelkan… Inget suka duka berdakwah dimasyarakat. Bagaimana dulu saya menjadi Ustazd TPA, menjadi santri di pondok pesantren, menjadi pengajar Al-Quran Ibu-ibu dan Bapak-bapak di masyarakat, menjadi pengurus masjid, menjadi pengurus SKI dll. Hampir sebagian besar waktu saya habiskan bersama ummat, memburu ilmu dan memperdalam ilmu-ilmu teknik tentunya (coz. kuliahku kan di fakultas teknik). Tapi gak juga sich, kalao sedang futur biasanya banyak waktu yang tersia-siakan. Ya….. itulah diriku, moga DIA mengampuni

Yach…. sekarang saya harus berjuang sendiri ditempat yang baru. Tidak banyak waktu yang bisa kusediakan untuk dakwah. Dari jam 7 pagi sampai jam 5 sore saya harus “standby” di kantor. Tapi kupikir itulah realita yang harus saya hadapi. Meskipun gak banyak waktu yang penting bisa dakwah. Ternyata kantor pun merupakan lahan dakwah yang subur, meski terkadang amat sangat sulit, amat berat dan amat memeras otak. Bagaiman tidak, gaya hidup materialisme begitu kental. Pola pikir non-Islami mendominasi, pola pergaulan ala barat sudah mengakar kuat, penyakit “wahn” (terlalu cinta dunia dan takut mati-red) sudah menjadi wabah tanpa disadari, ditambah lagi aqidah yang masih setengah-setengah. Na’udzubillah. Kadang saya sangat takut tidak bisa berdakwah, takut tidak bisa mewarnai, takut terbawa arus yang begitu deras. Astaqhfirullah….. Yaa Allah berilah hamba kesabaran dalam ketaatan dan kesabaran dalam meninggalkan maksiyat.

Selama setahun, ternyata banyak permasalahan yang saya hadapi. Banyak cobaan yang harus saya atasi, tetapi terkadang diri ini kalah. Dan yang paling menyita pikiran adalah permasalahan klasik yang pasti dihadapi oleh seorang pemuda. Yach apalagi kalu bukan soal “penyempurnaan separoh diin”. Sampai-sampai hati ini terkena virus itu. Kuakui ada “sosok” yang sulit kulupakan, yang selalu membayang di hatiku. Namanya sempat singgah di hatiku. Wajahnya selalu mampir dalam lamunan dan mimpiku. Aku tahu semua itu gak pantas, itu dosa tapi berbagai macam usaha kulakukan, tidak mempan juga. Puasa sunnnah, sholat malam, tilawah semua tak mampu membendung gejolak jiwaku. Sampai suatu waktu aku sadar, pasti ada yang salah dengan diriku. Bukankah mencintai seseorang yang belum halal itu dosa?

Akhirnya aku sadar, ternyata cintaku pada Allah, Rasul dan jihad masih sangat minim. buktinya ada seseorang yang mengalahkannya. Astaghfirullah……. Kuputuskan biarlah kutunda dulu keinginan itu. Aku harus bangkit, mensucikan diri, kembali padaNYA. Hanya cintaNYA lah yang haqiqi. Cinta yang tidak mungkin berbuah kecewa. Ya itu pasti karena DIA adlah pemilik segalanya. Yaa muqollibal quluub tsabbit qolbiy ‘alaa diinik wa ‘alaa mahabbatik
Begitu berbekas perkataan Ibnu ‘Athilah dalam benakku, “Tidak ada yang bisa mengusir syahwat dan kecintaan kepada kesenangan dunia selain rasa takut kepada Allah yang menggetarkan hati atau rasa rindu kepadaNya yang membuat hati merana”. Astaghfirullah….. betapa sering hamba menganggap mudah memohon ampun padaNya dan kembali bermaksiyat padaNya dengan sengaja sedang diri ini tidak tau kapan ajal menjemput. Boleh jadi belum sempat IA mengampuni, ajal datang tanpa permisi. Astaghfirullah, terimalah taubat hamba. Wahai dzat yang maha penerima taubat, Sesungguhnya tiada yang mengampuni dosa kecuali Engkau!

Alhamdulillah, mungkin itu yang terbaik buat diriku. Ternyata masih banyak amanah yang harus aku selesaikan. Dan mungkin juga diri ini belum mampu memikul “amanah itu” (amanah istri dan anak2.red). Dan juga masih sedikit ilmu yang aku punya. Terima kasih yaa Allah, Engkau telah mengingatkan diri ini.

Hari Raya Idul Adha atau juga dikatakan Idul Qurban sebentar lagi menyapa. Spontan saya langsung teringat nama Ibrohim, Ismail, Sarah dan Hajar. Saya kira merekalah figur2 manusia terpilih yang mempunyai banyak kelebihan yang patut kita teladani. Bagaimana mereka berkorban dengan segenap semangat, komitmen dan keikhlasan demi mengharap Ridho Ilahi. Bagimana mereka bisa menempatkan cinta yang benar. Mereka amat sangat cintanya kepada ALLAH. Mereka senantiasa tunduk patuh pada setiap perintah Allah SWT.

Sekilas kisah mereka ada baiknya kita tengok pada Al-Quran, QS Ash-Shaaffaat 100-111
“Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang shaleh.
Maka Kami beri dia kabar gembira dengan seorang anak yang amat sabar.
Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggupberusaha bersama-sama Ibrahim), Ibrahim berkata: “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!” Ia menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar”.
Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis (nya), (nyatalah kesabaran keduanya).
Dan Kami panggillah dia: “Hai Ibrahim, sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu”, sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik.
Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata.
Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar.
Kami abadikan untuk Ibrahim itu (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang kemudian,
(yaitu) “Kesejahteraan dilimpahkan atas Ibrahim”.
Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik.

Subhanallah, begitu besar rasa cinta mereka kepada Allah. Coba bayangkan, bertahun-tahun Ibrohim berdoa memohon kepada Allah agar dikaruniai anak yang sholeh, Robbiy habliy minash-sholihin, tapi setelah Allah memperkenankan doanya )(dengan kelahiran Ismail) ada perintah Allah kepadanya untuk mengorbankan putranya itu. Ibrohim sangat sayang pada Ismail, sangat cinta padanya, sangat senang berada didekatnya. Apalagi saat itu Ismail sedang lucu-lucunya. Tetapi, sekali lagi rasa cinta Ibrohim kepada Allah melebihi segala-galanya. Hanya Allahlah cintanya yang sejati.

Demikian halnya Ismail, ia adalah anak yang sholih dan sabar. Ia pun ikhlas menyerahkan diri sepenuhnya, jika Allah yang memerintah. Coba perhatikan jawaban Ismail menanggapi kabar dari ayahnya “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar

Sungguh luar biasa, itulah cinta yang sesungguhnya. Cinta yang benar. Cinta yang penuh keberkahan. Cinta yang pasti berbalas surga. Semoga kita semua bisa meneladani figur-figur manusia pilihan tersebut. amiin!

Selamat Hari Raya Idul Adha 1428H
Ikhlas berQURBAN
Makin dekat denganNYA
Tangerang, 8 Des’07

Comments »

The URI to TrackBack this entry is: http://multazimah.blogsome.com/2007/12/06/qurban-2/trackback/

No comments yet.

RSS feed for comments on this post.

Leave a comment

Line and paragraph breaks automatic, e-mail address never displayed, HTML allowed: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <code> <em> <i> <strike> <strong>



Anti-spam measure: please retype the above text into the box provided.






















Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Minz Meyer