Qurban, Versi Islam vs Kristen
Kisah pengorbanan Nabi Ibrahim
Orang-orang kristen mempermasalahkan tentang anak yang hendak dikorbankan oleh nabi Ibrahim, karena dalam Islam diyakini bahwa yang dikurbankan adalah Ismail, sementara orang-orang kristen meyakini bahwa yang dikurbankan adalah Iskha’. Hal ini mereka dasarkan pada kejadian 22:2, yaitu :
Kata Allah “Pergilah ke tanah Man’a dengan Iskhak, anakmu yang tunggal, yang sangat kau kasihi. Di situ di sebuah gunung yang akan kutunjukkan kepadamu. Persembahkanlah anakmu sebagai ………kepada-Ku.”
Jika kita memperhatikan ayat tersebut, bahwa dalam ayat tersebut dinyatakan bahwa yang dikurbankan adalah anak tunggal. Hal ini berarti bahwa Iskhak adalah anak pertama nabi Ibrahim. Padahal dalam Kejadian 16:16 dan Kejadian 21:5 dapat kita ketahui bahwa anak pertama Nabi Ibrahim (dalam Al Kitab disebut Abraham) adalah Ismail.
“Maka pada masa Hajar memperanakkan Ismail bagi Abraham itu, adalah umur Abraham 85 tahun” (Kejadian 16:16)
“Maka pada masa Ishak, anaknya itu jadi, adalah umur Abraham 100 tahun” (Kejadian 21:5)
Dari dua keterangan dalam Al Kitab ini dapat kita ketahui bahwa usia Ibrahim pada usia 85 tahun memiliki anak yang bernama Ismail dan kemudian pada usianya yang ke-100 tahun, lahirlah anaknya yang bernama Iskhak. Dengan demikian jelas bahwa anak tunggal yang dimaksud dalam Kejadian 22: 2 tersebut adalah Ismail.
Bahkan dalam Al Quran telah dengan terang dijelaskan tentang peristiwa penyembelihan Ismail. Dalam Al Quran surat As Shaffat ayat 100-111 diterangkan tentang penyembelihan ismail, yang akhirnya diganti dengan seekor sembelihan yang besar atas karunia Allah, dan hal itu menjadi pelajaran bagi kita. Selanjutnya dalam surat yang sama ayat 112, diterangkan bahwa setelah peristiwa itu, Allah memberikan kabar gembira kepada ibrahim dengan menganugrahkan anak yang kedua, yaitu Iskhak
“Dan Kami beri dia kabar gembira dengan (kelahiran)Ishak seorang nabi yang temasuk orang-orang yang saleh”
Demikian pula dalam Al Quran surat Ibrahim ayat 39 yang menyatakan secara berurutan anak nabi Ibrahim, yaitu Ismail, kemudian Ishak
“Segala pujin bagi Allah yang telah menganugrahkan kepadaku di hari tuaku Ismail dan Ishak. Sesungguhnya Tuhanku benar-benar Maha mendengar (memperkenankan) doa.”
Dengan demikian jelas bahwa yang dikurbankan Ibrahim adalah ismail. Ini juga menujukkan bahwa dalam Al Kitab terdapat ayat-ayat yang dipalsukan (dirubah), sehingga keorsinilannya sungguh sangat meragukan.
Pengertian Qurban
Qurban adalah menyembelih hewan/binatang ternak sebagai ibadah kepada Allah SWT dan sebagai rasa syukur atas nikmat Allah SWT.
Qurban pertama kali diperintahkan pada masa Nabi Adam ketika itu dilakukan oleh 2 putra Nabi adam yaitu Qabil & Habil. Sebagaimana dikisahkan dalam Al Quran surat Al maidah ayat 27 :
“Ceriterakanlah kepada mereka kisah kedua putra Adam (Habil dan Kabil) menurut yang sebenarnya, ketika keduanya mempersembahkan kurban, maka diterima dari salah seorang dari mereka berdua (Habil) dan tidak diterima dari yang lain (Kabil). Ia berkata (Kabil): “Aku pasti membunuhmu!” Berkata Habil: “Sesungguhnya Allah hanya menerima (kurban) dari orang-orang yang bertakwa”.
Waktu pelaksanaan Qurban
Akhir waktu menyembelih qurban adalah akhir hari tasyriq. Berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Ahmad dari Sulaiman Bin Musa dari Jubair bin Mut’im bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda :
“Segala hari tayriq itu hari meyembelih”
Diriwayatkan An Nawawi dalam sejarah Muslim dan Ibnul Qayyim dalam Zadul Maad bahwa Ali r.a. berkata :
‘Hari menyembelih itu ialah hari idul adha dan 3 hari sesudahnya”
Salah satu hal yang sering menjadi permasalahan dalam Islam, yaitu tentang pelaksanaan sholat Ied, menjelang pelaksanaan qurban, dimana umat Islam seringkali berselisih tentang waktunya. Orang-orang kristen beranggapan bahwa hal itu merupakan suatu pertantangan yang terjadi dalam Islam. Padahal jika kita memperhatikan Al Quran dan ayat-ayat Allah yang tedapat di alam yang menggambarkan tentang kenyataan waktu, sebenarnya hal tersebut bukanlah pertentangan, tetapi justru hal tersebut merupakan keistimewaan islam, dimana perbedaan pendapat merupakan anugrah (rahmat).
Hal ini dapat dijelaskan sebagai berikut, bedasarkan Al Quran surat Al Baqoroh ayat 185, yaitu :
“(beberapa hari yang telah ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan menganai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan batil). Karena itu, barang siapa diantara kamu hadir (di negeri tempat tingglnya) di bulan itu, maka hendakklah ia berpuasa di bulan itu, dan barang siapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.”
Sebenarnya yang menjadi perbedaan dalam umat islam adalah karena sesuatu yang talah menjadi keteetapan Allah, dimana kita ketahui bahwa pada tempat yang berbeda di muka bumi ini, terdapat selisih waktu. Katakanlah saat ini di mekah pukul 07.00 waktu Mekah, maka pada saat itu di Indonesia sudah pukul 11.00 waktu Indonesia.
Sehingga ketika kita hendak menyamakan waktu pelaksanaan sholat Ied, maka hal itu jelas tidak memungkinkan, karena ketika Mekah melaksanakan Sholat Ied, maka di indonesia pukul 11.00. padahal tuntunan melaksanakan sholah Ied adalah waktu dhuha (mulai jam 07.00). oleh karena itu, maka dengan berdasarkan pada surat Al Baqoroh tersebut, maka ada beberapa umat Islam yang melaksanakan sholat Ied dengan metode ru’yat, dimana metode ini yaitu dengan melihat hilal (bulan). Tetapi karena tidak semua tempat dapat melihat hilal, maka ada umat islam yang kemudian membulatkan waktu pelaksanaan sholat Ied, karena Allah tidak mempersulit hamba-Nya dalam melaksanakan perintah-Nya
Dalam Al Quran surat Yunus ayat 5-6, juga dijelaskan tentang metode lain untuk menentukan waktu, yaitu dengan metode hisab.
Dengan demikian, sebenarnya perbedaan pendapat tersebut bukalah sesuatu yang merupakan pertentangan dalam islam, tetapi hal itu merupakan rahmat bagi orang-orang yang mau berpikir.
Tempat Pelaksanaan Qurban
Lebih utama qurban itu dilakuakan di sekitar Musholla atau tempat melaksanakan sholat Adhul Adha, karena di tempat itu Nabi Muhammad sering melaksanakannya, agar penyembelihan itu disaksikan olelh orang banyak, yaitu para jama’ah. Sabda nabi Muhammad SAW yang diriwayatkan oleh Bukhori dan Nafi bahwa Ibnu Umar r.a. menceritakan kepadanya, sebagai berikut :
“Sesungguhnya Rosul SAW menyembelih qurban di Musholla”
Namun boleh juga menyembelih qurban dilakukan di rumah sendiri karena yang demikian diizinkan pula oleh nabi. Diberitakan oleh Muslim bahwa nabi Muhammad SAW bersabda :
“Maka sembelihlan olehmu qurban itu di rumah kamu sendiri”
Alasan Kita Harus Melakukan Qurban
1.Disyariatkan bagi setiap umat untuk berkurban
Qurban telah disyariatkan oleh Allah SWT kepada tiap-tiap umat di dunia sejak umat terdahulu hingga umat terkini. Dalam Al Quran surat Al hajj ayat 34, Allah berfirman :
“Dan bagi tiap-tiap umat telah Kami syariatkan penyembelihan (qurban), supaya mereka menyebut nama Allah terhadap binatang ternak yang telah direzekikan Allah kepada mereka, maka Tuhanmu ialah Tuhan Yang Maha Esa, karena itu berserah dirilah kamu kepada-Nya. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang tunduk patuh (kepada Allah)”
2.Sebagai Wujud Takwa Kepada Allah SWT
Kurban pada hakikatnya adalah wujud ketakwaan kita sebagai manusia kepada Allah sebagai sang pencipta. Sehingga bukanlah daging atau darah yang kita persembahkan kepaada Allah, tetapi ketakwaan kitalah yang akan diperitungkan Allah SWT. Hal ini tercantum dalam Al Quran Surat Al Hajj ayat 37 :
“Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan)) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya…”
Qurban dilakukan karena hal itu semata-mata telah diperintahkan oleh Allah SWT, sebagaimana firman-Nya dalam surat Al Kautsar ayat 1-3 :
“Maka sholatlah dan berqurbanlah”
Orang kristen senantiasa mengejek dan mengkritik qurban yang dilakukan oleh ummat Islam. padahal dalam kitab injil mereka sendiri qurban ini diperintahkan. Hal ini didasarkan pada Al Kitab :
“Kami harus pergi ke padang gurun sejauh tiga hari perjalanan untuk mempersembahkan kurban kepada Tuhan Allah kami, seperti yang diperintahkan-Nya kepada kami.” (Keluaran 8:27)
Dengan demikian dapat kita ketahui bahwa sesungguhnya orang-orang kristen tidak melaksanakan tuntunan yang mereka yakini kebenarannya, yaitu Injil. Hal ini berarti bahwa terhadap kitab mereka sendiripun, meraka ingkari.
Cara Qurban
Menyembelih qurban secara umum sama saja dengan menyembelih sembelihan biasa, namun ada beberapa perbedaan yakni setelah membaca basmalah membaca takbir dan menyebutkan untuk siapa qurban itu dilakukan. Setelah disembelih, maka daging kurban dimakan dan sebagian dibagikan kepada orang lain. Sebagaimana di terangkan dalam Al Quran surat Al Hajj ayat 36,
“…Maka sebutlah olehmu Nama Allah ketika kamu menyembelihnya dalam keadaan berdiri (dan telah terikat). Kemudian apabila telah robuh (mati), maka makanlah sebagiannya dan beri makanlah orang yang rela dengan apa yang ada padanya (yang tidak meminta-minta) dan oran gyang meminta. Demikianlah kami menundukkan unta itu kepada kamu, mudah-mudahan kamu bersyukur”
Materi Kristologi
PPTM Yogyakarta
Dari uraian yang saudara buat nampaklah bahwa ada perbedaan antara nasrani dengan muslim, dan menurut anda Al-quran adalah yang paling benar, dan Al-kitab sudah di ragukan keorisinalannya. Dan memang dewasa ini banyak sekali ahli2 yang dapat menafsirkan perbedaan untuk semua bidang. Mas kenapa tidak cari persamaannya saja, apa yang diuntungkan dengan perbedaan ini? Tapi tak apalah sekedar wacana bukan. Saya jadi Heran, bangsa ini masih terlalu sibuk dengan perbedaan yang entah dimana kejelasaannya. Siapa yang bisa memastikan, truss apa keuntungannya. Kenapa kita tidak sibuk memikirkan ada banyak maling dinegara ini yang mencuri bukan miliknya sehingga kemiskinan sudah meraja lela, mengapa kita tidak sadar kalau kita sudah diinjak-injak politikus kotor, mafia, dunia lain yang hanya mau mengambil isinya, termasuk saudara2 kita tionghoa yang rakus dan serakah. Kita dijajah bangsa sendiri mas, truss cukupkah kita hanya beribadah? BUkankah dahulunya para pemuka-pemuka Islam adalah orang2 terpelajar, saya sedkitpun tidak masalah seandainya saudara2 semua memiliki iman yang kuat. Namun mari sadar ada banyak kepentingan yang membuat kita akan selalu ribut dinegara kita ini. Akan ada usaha2 adau domba sehingga kita tidak pintar, kita akan tetap bodoh, sehingga kita menjadi pangsa pasar dari luar. Kita korban teknologi, sampah orang lain akan kembali kenegara kita. Apa untungnya mencari perbedaaan kalau sebahagian warga kita menjadi budak dinegara lain, menjadi korban perkosaan, menjadi korban kehinaan. Percayalah ada kekuatan lain yang mengharapkan anda, saya dan lainnya saling mengejek Agama, saling bermusuhan yang membuat kita tidak pernah maju. Kawan2 sebagai muslim di Indonesia ini, bergeraklah, majulah, bela bangsa ini demi kemakmuran rakyat. Kalau anda mau meluangkan waktu tolong lihat di YOUTUBEP “Indonesian Globalization 1-6″. Bagaimana Amerika memperlakukan kita sejak jaman kemerdekaan. Tapi saya tidak mengajak anda untuk membenci amerika, mereka pintar dan licik, maka kita harus pintar dan cerdik sebgai orang beragama. Negara kita seharusnya memiliki ahli2 pikir yang terbaik di Dunia kalau kita mau. Setalah kita maju, niscaya kita akan menguasai dunia. Apa anda percaya? Bayangkan malaysia diperkirakan akan menjadi second leader untuk Asia… Apalah malaysia dibandingkan kita, namun kita tetap berkuta disegala perbedaan kita. Sampaikan salamku buat semua oraganisasi Muslim Indonesia agar maju, agar berusaha mengejra ketertinggalan kita. Melawan orang serakah adalah kecerdikan. Agama tidak cukup tuan, agama hanya membuat umatnya tidak serakah hidup bahagia. Nah jika ada orang serakah apa tindakan kita? Cukupkan saya berdoa… Tidak tentunya… (Maaf jangan berburuk sangka terhadapku, meskipun aku nasrani, aku memiliki cukup tempat dari saudaraku muslim di aceh sini. Karena yang kuperjuangkan adalah kesejahteraan masyrakat susah tanpa menggangu keyakinannya, dan tidak mengorabankan keyakinanku pula. Salam hormat, terimakasi
Comment by Nafry Marmata — March 7, 2008 @ 8:14 pm
mmmhhhhh……menarik jg bahasannya..
tp bagi agama kristen ismail bukanlah anak perjanjian dengan tuhan………karena yg melahirkan adalah hagar….
sedangkan ishak anak perjanjian dengan tuhan……….
gtu sodaraku……………
gapa2 siyh klo anda berbicara ttg agama kristen….
dan gw tetap menghargai agama islam..
karena dalam islam jg diajarkan agamamu adalah agamamu..
agamaku adalah agamaku…..
klo gtu kan enak..
heheheeh
Comment by raymond — April 13, 2008 @ 6:15 am
mmmhhhh… Kenapa Alkitab (Injil) selalu diperdebatkan diseluruh dunia ?
Karena iblis memperhitungkan Tuhan Yesus dengan Injilnya sebagai musuh utama. Karena iblis tau bahwa Yesus adalah Anak Allah dan Juru Slamat Manusia. Tidak ada Nabi lain yang berani berkata bahwa Akulah jalan kebenaran & hidup, tidak ada yang dapat sampai ke Bapa (Allah) jikalau tidak melalui aku (Tuhan Yesus).
Jadi jika Anda ingin masuk surga yang kekal maka percayalah kepada Tuhan Yesus.
Barang siapa tidak menentang kita (Ajaran Tuhan Yesus dalam Injil) dia ada di pihak kita… ayatnya ada di Alkitab.
->iblis menentang ajaran Kristen (Injil).
->iblis juga menentang Tuhan Yesus.
Bagaimana dengan Anda ? Di pihak manakah Anda ? Bagaimana dengan ajaran agama anda ? Apakah menerima Tuhan Yesus sebagai Tuhan dan Juru Slamatmu ? Atau ….
Smoga kelak pikiranmu akan di bukakan akan kebenaran Injil dan menerima Tuhan Yesus sebelum terlambat. Tuhan Memberkati, Amin.
Comment by Rudy — August 22, 2008 @ 12:10 pm
Buat Sdr Rudy,
mmmhhhh… Kenapa Alkitab (Injil) selalu diperdebatkan diseluruh dunia ?
// Menurut saya, bukan selalu diperdebatkan tapi perlu diperdebatkan, agar kebenarannya atau justru ketidakbenarannya benar-benar dapat dibuktikan. Saya pikir tidak cuman Al-Kitab, tetapi untuk semua kitab yang akan kita imani, termasuk Al-Qur’an. Anda pun boleh memperdebatkan Al-Qur’an jika memang benar-benar ada kesalahan di dalamnya, tapi harus dengan cara-dan metode yang ilmiah, tidak asal bicara tanpa ilmu, tidak pula dengan emosional dan hawa nafsu permusuhan. Yang namanya kitab suci, setidaknya harus memenuhi syarat-syarat berikut:
1. Harus benar-benar bersumber dari Allah Swt.
2. Allah yang mewahyukan harus bersifat Maha atas segala sesuatu
3. Harus mempertahankan bahasa aslinya ketika nabi itu menerima wahyu-Nya
4. Penerima wahyu harus jelas orangnya, benar-benar jujur & berakhlak mulia
5. Tidak mengajarkan ajaran yang kejam dan sadis
6. Memberikan pelajaran dan menunjuki manusia kepada jalan yang benar
7. Ayat-ayatnya tidak boleh bertentangan satu sama lainnya
8. Berbicara tentang ilmu pengetahuan harus bisa dibuktikan
9. Harus sesuai dengan fitrah manusia
10. Kitab tersebut harus bisa memberikan kesaksian bahwa dia diwahyukan oleh Allah Swt.
11. Tidak boleh melecehkan terhadap nabi-nabi Allah
12. Tidak membeberkan cara merayu wanita dan pornografi secara vulgar
13. Harus ada perkataan dari Allah bahwa tidak ada Tuhan yang wajib disembah selain diri-Nya
14. Harus ada nama agama yang berasal dari Tuhannya, bukan dari manusia atau panggilan orang
15. Tejaganya seluruh wahyu itu dengan hafalan para pemeluknya dari awal diwahyukan sampai kiamat.
Silakan cek dan teliti kembali Al-Kitab, sudahkan syarat-syarat tersebut terpenuhi? Baiklah bisa Anda buka ayat-ayat berikut:
Kejadian 6 : 5 – 7 (Tuhan menyesal?),
Kejadian 18 : 20 – 21 (Tuhan Tidak Tahu?)
Ulangan 20 : 12 – 16
II Raja-raja 2 : 23 – 24
2 Samuel 8 : 4 & 1 Tawarikh 18 : 4 (1700 atau 7000 org?)
Matius 4 : 1 – 2 (Tuhan digoda Iblis?)
I Korintus 7 : 1
Kejadian 9 : 21 (Nuh mabuk & Telanjang?)
Kejadian 20 : 11 – 12 & Imamat 20 : 17 (sara adik Abraham?)
Kidung Agung 1 : 1–3, Kidung Agung 5 : 2–3, Kidung Agung 7 : 1–8, Yehezkiel 16 : 7–8, Yehezkiel 23 : 1–5, Yehezkiel 23 : 18–20 (Benarkah sefurgar itu???)
Dan lainnya,….
Karena iblis memperhitungkan Tuhan Yesus dengan Injilnya sebagai musuh utama. Karena iblis tau bahwa Yesus adalah Anak Allah dan Juru Slamat Manusia. Tidak ada Nabi lain yang berani berkata bahwa Akulah jalan kebenaran & hidup, tidak ada yang dapat sampai ke Bapa (Allah) jikalau tidak melalui aku (Tuhan Yesus).
Jadi jika Anda ingin masuk surga yang kekal maka percayalah kepada Tuhan Yesus.
//Yesus (Nabi Isa as in Islamic perspective) adalah seorang anak manusia biasa yang diberikan kelebihan-kelebihan tertentu oleh Allah. Seperti halnya dengan nabi & rasul yang lain, sehebat apapun kelebihan yang dimilikinya tidak mungkin akan bisa menggantikan posisi Tuhan. Kalau Anda menganggap Yesus luar biasa karena Beliau dilahirkan hanya oleh seorang wanita (Maria/Maryam) tanpa seorang laki2, seharusnya masih lebih hebat Nabi Adam as., yang lahir tanpa Ibu juga tanpa Bapak, tapi mengapa bukan Adam yang Anda anggap Tuhan???
Istilah Anak Allah dan juru selamat, terus terang membuat saya semakin bingung tentang konsep ketuhanan Anda. Berani-beraninya Anda mengatakan Yesus sebagai Anak Allah/ Anak Tuhan, di sisi lain Anda menyebut Tuhan Yesus. Siapa sebenarnya subjek tuhannya? Allah atau Anak Allah? Kalau Tuhan punya anak, bearti tidak menutup kemungkinan Tuhan juga bisa jadi punya Istri, punya kakek, punya cucu dst… Kalau dalam Al-Qur’an, jelas-jelas termaktub bahwa Allah tidak beranak dan tidak diperanakkan, Hanya Allah tempat begantung, Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Allah. (QS Al-Ikhlas)
Dan juga, setahu saya, di dalam Al-Kitab yang pernah saya baca, di sana tidak ada satu kalimatpun yang menyatakan bahwa Yesus adalah Tuhan yang harus disembah. (Coba tunjukakn kepada saya jika ada!)
Iblis memang dari dulu merupakan musuh manusia, mereka akan senantiasa menyesatkan manusia dari jalan kebenaran. Orang-orang sholih yang Allah turunkan ke bumi merupakan musuh utama Iblis, diantaranya para nabi dan Rasul, termasuk Nabi Isa (Yesus). Yesus menjadi musuh iblis karena syariat yang telah di bawanya untuk menunjukkan menusia pada jalan yang lurus, yaitu jalan tauhid. Dan memang itulah tugas para nabi dan rasul Allah. Menurut Anda Yesus sebagai juru selamat, di sini saya pahami Yesus sebagai pemberi peringatan dan pemberi kabar gembira kepada umatnya agar umatnya selamat mencapai Tuhannya yang sesungguhnya. Tetapi ingat, syariat Yesus hanya untuk ummatnya saat itu, dan syariat itu belum sempurna. Kemudian Yesus mengabarkan suatu saat akan datang Rasul akhir jaman, yaitu Muhammad. Ayat ini ada dalam Injil yang terdahulu, tetapi saat ini pasti Anda tidak akan menjumpainya.
Barang siapa tidak menentang kita (Ajaran Tuhan Yesus dalam Injil) dia ada di pihak kita… ayatnya ada di Alkitab.
->iblis menentang ajaran Kristen (Injil).
->iblis juga menentang Tuhan Yesus.
//Benar sekali, bahwa Iblis menentang Yesus (Nabi Isa), tapi sekali lagi di sini karena syariat yang dibawa Yesus, bukan karena Yesus sebagai Tuhan. Logikanya, kalau Yesus Tuhan, mana mungkin sampai mau ditentang oleh iblis? Masak Tuhan dilawan Iblis yang nyata-nyata hanya makhluk. Jangan-jangan nanti Tuhannya yang kalah, hehehe…
Bagaimana dengan Anda ? Di pihak manakah Anda ? Bagaimana dengan ajaran agama anda ? Apakah menerima Tuhan Yesus sebagai Tuhan dan Juru Slamatmu ? Atau ….
//Saya? Sampai saat ini dan insyaAllah sampai akhir hayatku, saya mengimani hanya tuhan yang esa lah yang patut saya sembah, Dialah ALLAH SWT. Saya menerima Yesus (Nabi Isa) tidak lebih hanya seorang hamba dan utusan Allah yang memang telah diberi kelebihan. Nabi Muhammad lah yang paling berhak saya ikuti syariatnya. Allahu a’lam.
Smoga kelak pikiranmu akan di bukakan akan kebenaran Injil dan menerima Tuhan Yesus sebelum terlambat. Tuhan Memberkati, Amin.
//Sungguh selamatlah orang-orang yang setiap detak nafasnya senantiasa bersungguh-sungguh mencari kebenaran sejati! Selamat berproses dalam hidup, moga kebenaran itu bisa kita raih sebelum ajal datang menjemput!
Salam hangat,
MM
Comment by multazimah — August 25, 2008 @ 12:39 am
tunggal itu satu bukan pertama mas..
Comment by no name — December 2, 2008 @ 7:38 pm
To NoName:
memang tunggal itu satu bukan pertama, anak tunggal berarti anak satu-satunya, belum ada saudara yang lain. Jika kemudian dia punya adik maka tidak lagi disebut anak tunggal.
Dalam Kejadiaan 22:2 disebut tunggal berarti yang dimaksud adalah anak pertama (Ismail) bukan Ishaq karena Ishaq lahirnya belakangan setelah Ismail. Ismail menjadi anak tunggal sebelum Ishaq lahir.
Kejadian 22:2, 16:16 dan 21:5 mana yang benar? Logika sederhana: Jika dalam kejadiaan 22:2 yang dimaksud adalah Ishaq maka ayat tersebut bertentangan dengan Kejadian 16:16 dan 21:5. Jika ketiga ayat tersebut tidak saling bertentangan maka dalam kejadian 22:2 yang dimaksud adalah Ismail. Jika ada sebuah kitab suci yang ayatnya saling bertentangan maka di mana letak kesuciannya?????
Comment by multazimah — December 3, 2008 @ 12:38 am
TIDAK ADA PELUANG ISMAEL TERPILIH SEBAGAI KORBAN PERSEMBAHAN
Memperdebatkan siapa yg dikorbankan oleh Abraham, apakah Ismael ataukah Ishak, adalah ibarat memperdebatkan perbedaan antara sebuah dongeng dengan fakta. Kata “dongeng” disini kedengarannya sedikit kasar.Namun itulah apa adanya karena betul2 didongengkan oleh teman2 muslim sendiri padahal tidak diklaim sama sekali oleh Quran.Ketika anda membaca Quran dengan cermat, anda akan mendapati bahwa tidak sekalipun nama Ismael muncul diwahyukan sebagai anak kurban yg dimintakan Allah SWT.
PAKAR ISLAM TIDAK MEMPUNYAI BUKTI SAMA SEKALI UTK MENGKLAIM “ISMAIL” DARI SUMBER2 ISLAM SENDIRI ! TIDAK DI QURAN , TIDAK DIHADIS !
Akibatnya mereka coba2 ingin paksa “memerasnya” keluar DARI ALKITAB, BUKAN QURAN! Dan ini sungguh mendiskreditkan Quran dan Hadisnya sendiri.Karena setiap Kitabullah seharusnya lebih dari mampu utk membela dirinya, tidak ditentukan oleh Kitab2 selainnya, yang toh Cuma buatan manusia!
Ada 5 pendekatan pembuktian bahwa Ismael tidak mempunyai peluang untuk dipilih sebagai korban persembahan:
a). Bukti2 internal Quran
b). Bukti2 internal Hadis
c). Bukti2 external, textual Alkitab
d). Bukti2 external,Geografi & History,
e). Bukti2 Simbolisasi Pengorbanan ini bagi Penebusan Kristus.
Disini kita sementara hanya menguraikan 1 dari 5 pendekatan tsb, cukup untuk memperlihatkan 0% peluang bagi Ismael.
I. BUKTI BUKTI INTERNAL QURAN (bacaan QS 37: 100 - 113)
QS 37:102 : Ibrahim mengatakan kepada seorang anaknya (tidak disebutkan namanya) bahwa ia melihat dirinya dalam mimpinya menyembelih sang anak. Setelah diceritakan mimpi ini kepada anaknya, lalu anak tsb mempersilahkan ayahnya melaksanakan apa yg diperintahkan Allah.
“Maka tatkala anak itu sampai {pada umur sanggup} berusaha bersama-sama Ibrahim,Ibrahim berkata:”Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!” Ia menjawab: Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu ; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang2 yang sabar”.
KEKACAUAN (A): MIMPI UMUM ATAU PRINTAH KHUSUS?
Timbul sejumlah kemustahilan, bahwa hanya lewat mimpi satu kali saja {dan tidak ada penjelasan atau perintah siapa2 didalamnya} namun Ibrahim bisa2nya meyakinkan dirinya bahwa mimpi itu ADALAH PERINTAH ALLAH UNTUK IBRAHIM BER-ACTION MENYEMBELIH ANAKNYA. MIMPI TANPA KAITAN DENGAN ALLAH DIKAITKAN JADI PERINTAH ALLAH?
DENGAN MISI MEMBUNUH? Dan tambah mendongeng lagi, bahwa Ibrahim melemparkan keputusan penyembelihan itu kepada yg akan menjadi korban, yaitu anaknya sendiri yg notabene masih ingusan.
Penyembelihan anak sendiri bukan perkara main2 !!Apakah anda akan menyembelih anak anda sebegitu bermimpi bahwa anda sxxxg menggorok tubuh anak anda? Mungkinkah Allah hanya beri mimpi umum TENTANG membunuh sianak , LALU ITU BETUL2 HARUS DIANGGAP SEBAGAI PERINTAH UNTUK MEMBUNUH? DARI TUHAN ?? Inilah bukti dongengan Muhammad hasil dengar2 annya dia dari kaum Yahudi/Nasrani. Inferioritas Quran tampak setiap kali ia mencoba utk mencuplik narasi2 Alkitab (yang tidak dikuasainya ).
Atas dasar apakah maka sajian mimpi umum boleh menjadi suatu perintah WAJIB bagi Ibrahim utk membunuh anaknya yg tidak berdosa ?? Jangan lupa bahwa untuk mimpi2 yg dianggap sebagai wahyu penting yg berdampak luas (bukan sekedar pertanda) maka TUHAN selalu menjelaskannya lewat malaikat, atau bila tidak, akan dinyatakan BER-KALI2 dg konfirmasi (lihat mimpi nabi Yusuf dikonfirmasi 2 x , Firaun 2 x , Petrus 3 x dan dikonfirmasi balik 1 x , dll).
Bila tidak demikian, Tuhan tsb hanyalah “Tuhan anti-komunikasi”, yang membiarkan nabiNya utk BERSPEKULASI (BUKAN BERIMAN ) UNTUK MEMBUNUH! Alangkah berbahayanya Tuhan yang satu ini!
[Bandingkan kejelasan komunikasi TUHAN Alkitab dg Abraham agar nyata yang dihadapi nya adalah benar TUHAN, dan bukan iblis yang bertopeng allah2-an: “TUHAN berfirman kepadanya:”Abraham”, lalu sahutnya: ” Ya Tuhan”.(setelah terkontak timbal balik, terkofirmasi, maka) FirmanNya: “Ambillah ANAKMU YANG TUNGGAL {satu2nya anak perjanjian, bukan anak kedagingan, Kej.17:19,21;21:12,Gal 14:23} yang kau kasihi YAKNI ISHAK, perxxxh ketanah Moria, dan persembahkanlah dia disana sebagai korban bakaran pada salah satu gunung yang akan Kukatakan kepadamu.” (Kej.22:1,2). Semuanya jelas, tidak ada kerancuan wahyu! Terdapat 4 kata perintah TUHAN yang jelas: “ambillah anakmu”…”Ishak”…”perxxxh”..”persembahkanlah]
KEKACAUAN (B): MUHAMMAD TIDAK TAHU, ATAU ALLAH SWT YANG TIDAK MAHA TAHU?
Mustahil bahwa Allah SWT tidak cakap berkomunikasi sehingga mengaburkan bahkan meniadakan nama Ismael dalam pewahyuan Quran ditempat yang justru paling strategis untuk ditampilkan. Banyak teman2 muslim sendiri tak habis mengerti kenapa Tuhan kurang tegas berwahyu. Memang, mereka yang mati2 an ingin membela Muhammad tidak akan tahu kenapa Muhammad SERING MENGABURKAN ISSUE2 YANG PENTING UTK MENGKOREKSI ALKITAB/ IMAN KRISTEN (seperti juga “siapa oknum Isa-palsu dikayu salib”?dan “dimana kata ?AHMAD? pernah diketemukan dalam Taurat dan Injil ?yang ada ditangan mereka? “?/ dll.).
ALLAH GAGAL MENGKOREKSI YANG AMAT PERLU DIKOREKSI
Amat mustahil bahwa koreksi Quran ini hanya menyebutkan dua kata benda yg tidak mengkoreksi yaitu “seorang anak”. Seorang anak, ya seorang anak. Tidak bisa diubah, apalagi dimutlakkan menjadi “Ismael” (!!) oleh mau-maunya manusia Islam! Bila benar Quran bertugas mengkoreksi dan mengamankan kebenaran, maka TUHAN Cuma perlu sebutkan satu nama saja yaitu: “Ismael”. TUHAN Maha Tahu bahwa sebutan nama Ismael amat sangat perlu dilantangkan demi mengluruskan FirmanNya yg sudah terlanjur palsu terjadi ribuan tahun, dan “menyesatkan” semua orang. Namun nyatanya Quran Allah gagal mengcounter ayat2 buatan manusia. Muhammad tidak berani mengakui dan menyebutkan Ismael kecuali main kucing2an dengan wahyu!? Apa arti dari semua ini? Bukankah fakta2 ini menelanjangi semua dongeng2 non-wahyu yang telah dikemas dengan indahnya oleh akal2an manusia? Jawaban yang paling masuk akal hanya ada pada kemungkinan berikut ini:
“Muhammad takut diper-olok2 oleh orang2 Yahudi apabila ia berani mengklaim nama Ismael, dan bukan Ishak. Orang2 Yahudi tahu persis dari nabi2 mereka.siapa yang dikorbankan. Mengingat Surat 37 ini adalah ayat2 Makkiyah (yang diturunkan di Mekkah, umumnya masih lunak mengakomodasi ajaran Yahudi dan Nasrani), bisa dimengerti kenapa Muhammad masih ragu2 membuka front perselisihan terhadap kaum Yahudi yang memiliki Taurat yang jelas2 mencantumkan nama Ishak dan bukan nama Ismael. Muhammad telah ber-kali2 membenarkan dan membenarkan Taurat dan Injil YANG ADA DISISI MEREKA (QS 5:43, 44, 2:41 89, 101 dll). Jadi bagaimana sekarang ia harus membela dirinya bila kini ia berani mengatakan bahwa anak yg disembelih itu adalah Ismael?” (Nanti akan kita perlihatkan bahwa Muhammad memang cenderung memaksudkan ayat2 tsb untuk Ishaq dan bukan Isamel). Muhammad tidak berani, yang berani hanyalah pengikut2nya yang menafsir se-enaknya!
KEKACAUAN (C ): MUNGKINKAH SEMUA NABI-NABI TUHAN SESAT SELAMA 2.600 TAHUN ?
Wahyu Taurat berbeda dg Quran dalam kisah kurban anak Abraham. Salah satunya pasti palsu. Tentu saja Taurat itu Yang dicap palsu. Itu sebabnya Quran katanya perlu turun untuk mengkoreksi Taurat dan Injil. Sayangnya Quran baru terpanggil untuk mengkoreksi nama Ishak ini setelah rentang waktu 2600 tahun berjalan dalam kesesatan wahyu. Mungkinkah kebenaran kalimat2 TUHAN bisa dihilangkan manusia selama sekian ribu tahun? FIRMAN TUHAN VAKUUM 26 ABAD? Ini kontradiksi mati dg QS 6: 34; 10: 64. Muslim percaya bhw Alkitab+Al Quran telah tergores di Surga. Dan itu yang diturunkan kedunia.Sejak dahulu sumber satu2nya tentang kisah ini adalah Taurat Musa yg jelas2 mencantumkan nama Ishak dan tidak ada sangkutan apapun atau pernah diprotes oleh siapapun. Jadi darimana bisa datangnya WAHYU TANDINGAN setelah sekian lama wahyu TUHAN tidak digugat. Tolong dijawab yang lurus, focus, berani jujur, jangan yang bengkok2 dan pokrol2an seperti “gurunya”.
Bila benar kisahnya Quran, maka itu berarti selama 2600 tahun Allah telah membiarkan Nabi Musa, Harun, Daud, Sulaiman, Yesaya, Daniel dll nabi hingga kepada Zakharia, Yahya, Isa dan murid2 Isa semua tersesat dalam keimanan dan kesejarahan, hanya karena satu ayat yg tanpa bukti, DAN TIDAK BERTANGGUNG JAWAB UTK MENYEBUT JATI-DIRI SI ANAK - KURBAN!
KEKACAUAN (D): WAHYU SAMAR-SAMAR, KACAU & ACAK-ACAKAN BUKANLAH SUATU WAHYU.ITU FATAL!Mari kita teruskan tesis kita tentang “ISMAEL” SEBAGAI ANAK-KURBAN, yang didasarkan pada sumber2 internal Quran.
Pakar Islam menyadari bahwa ke-14 ayat dari Surat 37 itu tidaklah memadai untuk mengkonklusikan nama Ismael. DR Quraish Shihab cukup gentleman utk mengakuinya.Untuk mendongkrak konklusi yang diinginkan, penterjemah Quran membagi ke-14 ayat tsb dalam 2 kelompok, lalu diberi 2 Sub-Judul yang nyeleweng.Yang satu berani2nya mengkokohkan nama Ismael dg judul: PENYEMBELIHAN ISMAEL AS (Padahal nama Isamel tidak terdapat sama sekali dalam ayat2nya).
Yang lain dg judul: KABAR GEMBIRA TENTANG KELAHIRAN ISHAQ (Padahal perkataan ?kelahiran? tidak terdapat dalam ayat Quran). Mereka memanfaatkan 2 ayat yang memuat kalimat yang sama: “Kami beri dia kabar gembira dengan ?. (ayat 101 ,dan 112),
Lalu berkesimpulan bahwa tidaklah mungkin TUHAN memberikan dua kali “Kabar Gembira” dg kedatangan seseorang yg sama. Alasannya: TUHAN itu tertib dan teratur. Namun mereka lupa bahwa justru susunan ayat/surat2 Quran adalah susunan kitab yang paling tidak teratur didunia.!!
Sadarkah para Muslim bhw. Quran mengalami 4 fase bongkar-pasang wahyu yang luar biasa rumitnya? [ yaitu 2X utk SUSUNAN-dari susunan kronologis yang dimulai dg Surat 96 diubah menjadi Al-Fatihah dst menjadi acak2 an. Dan 2X utk ISI TEKS - yaitu diacak lagi dengan turunnya ayat2 nasakh yang tidak menempati lagi urutan lamanya; Bagaimanapun, pengacakan “Aturan Tuhan” semacam ini tidak dikenal dalam Alkitab. Muhammad jelas mengkomplikasikan ayat2 nya sehingga melahirkan kekacauan dan acak2an atas nama Jibril (tapi bukan wahyu).
Rumusan “Aturan TUHAN adalah teratur” hanya klaim kosong saja. Satu contoh loncatan urutan yg amat menurunkan martabat wahyu TUHAN adalah QS 6:84-86.
Bagaimana mungkin TUHAN yang Maha Tahu menjadi tidak tertib dan kacau balau ketika mewahyukan (dalam ayat tsb) urutan datangnya nabi2 Nya yang Dia utus sendiri menurut waktuNya?. Padahal urutan kronologis kehidupan tokoh2 ini bahkan sudah diketahui oleh manusia ratusan tahun sebelum datangnya KOREKSI wahyu TUHAN (Quran) ????? Jadi, menghadapi Quran, kita tidak bisa selalu mengandalkan deduksi kronologis, seperti yang ingin dipaksakan pakar Islam kepada QS 37: 100-113 ini.
PENAFSIRAN YANG WAJAR TANPA KOMPLIKASI DAN PEMAKSAAN
Para Penterjemah bekerja keras dengan bermuslihat memberi 2 judul perikop yang tidak mesti benar. [Yang satu diberi judul PENYEMBELIHAN ISMAIL AS, yang lain berjudul KABAR GEMBIRA TENTANG KELAHIRAN ISHAQ].Padahal, Muhammad memang tidak terwahyu memaksudkan Ismail (maka Nabi dalam ke-14 ayat tsb tidak SEKALIPUN menyebut nama ini, melainkan nama Ishak saja!.Lihat betapa seluruh kisah ini HANYA TENTANG SATU ANAK, YAITU ISHAQ.
MARI KITA AMAT KRITIS MENYIMAK KESELURUHAN 14 AYAT (100-113) YANG KINI AKAN KITA SUSUN KISAHNYA MENURUT TOPIKNYA, bukan menurut “pesan sponsor” yang di-paksa2 kan unsur “Ismail” kedalam narasinya maupun judul-perikop-nya.
Mari anda sendiri yang bagi ke-14 ayat tsb.dalam 3 babak topik (perikop):
1). IBRAHIM MEMOHON ANAK DAN MENDAPATKANNYA
(ayat 100): “Ya Tuhanku,berilah aku (anak) yang saleh”
(ayat 101): “Maka Kami menggembirakannya dengan SEORANG ANAK yang sangat penyantun”
2). TESTING ALLAH TERHADAP IBRAHIM MENGENAI SANG ANAK
.(ayat 102:107)
3). ANUGERAH ALLAH KEPADA IBRAHIM YANG LULUS TESTING TENTANG ANAK TSB :
(ayat 108): “Kami (Allah) tinggalkan sebutan yang baik (bagi Ibrahim)”
(ayat 109): “Sejahtera atas Ibrahim”
(ayat 110): “Kami (Allah) beri balasan”
(ayat 111): “Dia (Ibrahim) termasuk hamba2 Kami yang beriman”
(ayat 112): “Kami menggembirakannya dengan ISHAQ SEBAGAI NABI yang termasuk orang2 saleh”
[Perhatikan kata2 “Ishaq sebagai Nabi”! Ini berupa pemberian berkat Allah yang kedua kepada Ibrahim. Berkat pertama (ayat 101)
memberikankan KELAHIRAN SEORANG ANAK (ISHAK, sebagai anak/ orok yang belum diurapi jadi nabi). Dan berkat kedua (ayat 112), yaitu ketika Allah memberikan ANUGERAH ISHAK SEBAGAI NABI (bukan lagi sebagai anak yang baru lahir )].
(ayat 113): “Kami berkati atasnya (Ibrahim) dan atas ISHAQ. Dan diantara keturunan KEDUANYA ada yang berbuat baik..” (yang nantinya kelompok kenabian “Ibrahim- Ishaq” ini dirujukkan Muhammad kepada Qs 29:27; 21:72, yang jelas2 mengeluarkan Ismail!).
Dengan pembagian dan alur kisah ini kita semua tak ada kesulitan untuk melihat secara lurus–tidak di-pas2 kan secara paksa apa yang bengkok–bahwa seluruh 14 ayat diatas SEMUANYA mulus merujuk kepada satu kesatuan cerita, dan satu nama anak, yaitu tentang ISHAK saja!!
KESIMPULAN KERAS BERDASARKAN BUKTI2 INTERNAL QURAN.
Karena tidak ada pakar Muslim yang sanggup membantah secara quranic, maka benarlah seluruh pembuktian kita bahwa “Ismail = anak kurban” itu hanyalah dongengan belaka. Mari kita simpulkan apa yang dianalisis dari Quran, sebelum menyambung yang lain:
a). Muhammad mencampur adukan mimpi UMUM (yang tanpa penjelasan dari TUHAN) dengan mimpi KHUSUS perintah TUHAN. Allah SWT tidak memerintahkan Ibrahim untuk beraction menyembelih anaknya, (melainkan menyajikan mimpi tentang penyembelihan semata). Terhadap seorang nabi sekaliber Ibrahim (”Sahabat TUHAN”) setidaknya TUHAN memperlihatkan kedekatan persahabatanNya. Misalnya berbicara dengan Ibrahim lewat “penampilan” TUHAN sendiri, atau malaikatnya. Atau paling sial, kalaupun perintah TUHAN itu dinyatakan dalam mimpi, tetap akan Dia perjelas dengan di-ulang2 mimpinya demi konfirmasi pesan2 TUHAN yang tidak boleh ditafsir salah! Apalagi menyangkut perintah melakukan suatu pembunuhan yang paling keji, yaitu menyembelih anaknya!
Allah SWT seharusnya bisa berkomunikasi lebih jelas dibandingkan TUHAN dalam Alkitab, yang dianggap buatan manusia belaka? Padahal Allah SWT tinggal nyontek yang palsu saja sudah beres, kan? Jadi, benarkah Allah SWT Maha Tahu?
b). Internal Quran tidak sedikitpun memberikan bukti bahwa ia mengkoreksi wahyu yang “terlanjur” salah dari nama Ishak (didalam Taurat dan Injil) yang seharusnya “Ismail”.Ibrahim tidak mengatakannya!.Musa tidak!. Nabi2 lainnyapun tidak!. BAHKAN MUHAMMAD DAN ALLAH- PUN TIDAK !!Jadi, bisakah dongengan Hadis mengalahkan Kitab Nabi2?
c). Bila Quran mengkoreksi, maka koreksinya harus amat lantang meng-counter kesalahan wahyu terdahulu, karena Ismail dan kebenaran Firman telah dirugikan terlalu lama, menyesatkan terlalu banyak manusia tak berdosa. Jadi, bagaimana logikanya bahwa TUHAN masa bodo saja utk suatu kebenaranNya? Malahan Dia jadi biang keladi dan main petak-umpetan?
d). Bagaimanapun Surat 37 ini tidak mungkin lagi berperan sebagai ayat pengkoreksi karena sudah terlambat 2.600 tahun tanpa pengganti ! Selama kurun yang begitu panjang semua nabi2 TUHAN lainnya telah membenarkan nama Ishaq dan tidak mungkin diluruskan oleh satu orang nabi dengan wahyu yang justru rancu. Ditambah rancu karena Muhammad berpuluh kali justru membenarkan Taurat dan Injil yg ada ditangan orang2 Yahudi dan Nasrani.
e). Nama Ismail muncul sebagai anak pengorbanan di Quran se-mata mata karena kehendak ngotot dari manusia, BUKAN DARI WAHYU DAN JANJI TUHAN MANAPUN! Nama “Ismail” ditimbulkan di-Quran oleh manusia2 tertentu/ penerjemah yang sengaja menambahkan kata2 dan pemberian sub-judul2 yg melanggar maksud Muhammad sendiri.
f). Padahal TUHAN sudah menggolongkan garis “Ibrahim-Ishaq” dalam Surat 37 ini dengan amat jelas. Dan itu terjadi dengan sengaja mengeluarkan nama Ismail. Lihat ayat 101 dalam kaitan 112 dan QS 29:27 dan 21:72.
g). Tidak ada setitikpun sumber dari Quran yang bisa digali untuk memastikan bahwa anak pengorbanan itu adalah Ismail. Sarjana Islam turut ragu2. Jikalau begitu keadaannya , maka wahyu yang berlaku mutlak sah dan mengikat menurut Quran adalah QS 10:94: TANYALAH KEPADA AHLI KITAB!
“Maka jika kamu (Muhammad) berada dalam keragu-raguan tentang apa yang Kami turunkan kepadamu,maka tanyakanlah kepada orang2 yang membaca kitab sebelum kamu…”
Ayat ini adalah perintahTUHAN untuk melemparkan bendera putih tanda kalah bila terjadi keraguan dipihak Muslim. Dan orang2 yang membaca Kitab2 Taurat, Zabur,dan Injil, termasuk semua nabi2 TUHAN memastikan itu adalah ISHAK! Sudah terlalu lama para muslim pura2 tidak tahu atau sengaja mempeti-es-kan ayat yang berdaulat ini. Malah seolah menghapuskan ayat ini sebagai tuntutan wahyu.. Apakah mereka betul taat kepada TUHAN ,lalu menjadi muslim ,ataukah hanya taat kepada keras hatinya, lalu menjadi munafik??
Kita sudah membuktikan o% peluang Ismail. Dan 0% pakar Islam bisa membantah kebenaran Ishak dari sumber Quran sendiri. Itu sebabnya mereka harus nyontek dan pinjam ayat2 Alkitab.Ini malahan membuktikan secara extra bahwa QURAN dipermalukan lebih lanjut karena tidak berdaya utk membela dirinya sendiri, melainkan harus dibela oleh ayat2 manusia kafir yang menciptakan Alkitab!!
Kini kita kembali memastikan bahwa Hadispun sama gagalnya utk mendongkrak Quran, karena saling kontradiksi!
II. PENDEKATAN INTERNAL HADIS
Hadis Shahih Bukhari nomor 1475 mengisahkan bahwa nabi Ibrahim membawa ibu Hajar dan Ismael anaknya, yg MASIH MEYUSU ke tempat dekat perumahan Bait Allah. Kemudian nabi Ibrahim meninggalkan mereka. Cerita berlanjut hingga ibunya Ismael menemukan dan minum air zamzam serta menyusukan anaknya. Lalu mereka tinggal disitu (bersama serombongan suku Jurhum) sehingga terjadilah komunal baru dengan beberapa rumah tangga mereka. Ismael tumbuh di-tengah2 komunal ini dan menjadi besar / hampir dewasa. Juga dikatakan bahwa Ismael MEMPELAJARI BAHASA ARAB dari mereka. Lalu mereka mengawinkan Ismael dengan seorang perempuan diantara mereka, dan akhirnya ibu Ismael pun meninggal. SESUDAH ISMAIL KAWIN, maka datanglah Ibrahim kesana 3 x bolak-balik, dan baru pada kunjungan terakhir Ibrahim berhasil menjumpai Ismael”.
Kini Hadis yang dianggap amat absah ini mendatangkan pertanyaan2 yg tak terselesaikan :
a). Dalam ketiadaan bukti apapun, apakah perjalanan Ibrahim total 4 kali bolak-balik Israel - Mekah itu dapat dipercayai? Kenapa dua kali diantaranya adalah perjalanan Ibrahim yg sia2, tidak berhasil menjumpai Ismael? Apakah TUHAN tidak menuntun perjalanan nabiNya (sekaliber Ibrahim) yang justru ingin melawat anaknya (Ismael).
b). Dan dari manakah Muhammad bisa mendapatkan informasi tentang perjalanan empat kali bolak-balik ke Mekkah, yang bahkan tidak dikenal sama sekali oleh Taurat maupun oleh kesejarahan Yahudi? Tidak ada sepotongpun naskah tua dan arkeologi yang memberi bukti dongeng ini.Bila informasi itu berasal dari TUHAN tentulah hal itu harus berupa wahyu yg tercantum dalam Quran, dan bukannya dalam rangkaian klaim mulut
manusia yang tidak terwahyu oleh Jibril. DAN KLAIM ITU BARU MUNCUL SETELAH DIREKAYASA DIJAMAN MUHAMMAD DAN SESUDAHNYA!!!
c). ADAKAH DAN KAPAN ISMAEL ITU SEMPAT DISUNAT BERDASARKAN SUNAT IBRAHIM
(Ketika Allah Alkitab memerintahkan Ibrahim dan seluruh keluarganya untuk bersunat sebagai tanda perjanjian TUHAN, apakah Ismail ikut disunat menurut Kitab2 Islam? Bagaimana ia ikut tersunat bila ia dan ibunya telah mengungsi ke Mekah sejak bayi dalam (Hadis Shahih Bukhari nomor 1475 mengisahkan bahwa nabi Ibrahim membawa ibu Hajar dan Ismael anaknya, yg MASIH MEYUSU ke tempat dekat perumahan Bait Allah. Kemudian nabi Ibrahim meninggalkan mereka. Cerita berlanjut hingga ibunya Ismael menemukan dan minum air zamzam serta menyusukan anaknya. Lalu mereka tinggal disitu (bersama serombongan suku Jurhum) sehingga terjadilah komunal baru dengan beberapa rumah tangga mereka. Ismael tumbuh di-tengah2 komunal ini dan menjadi besar / hampir dewasa. Juga dikatakan bahwa Ismael MEMPELAJARI BAHASA ARAB dari mereka. Lalu mereka mengawinkan Ismael dengan seorang perempuan diantara mereka, dan akhirnya ibu Ismael pun meninggal. SESUDAH ISMAIL KAWIN, maka datanglah Ibrahim kesana 3 x bolak-balik, dan baru pada kunjungan terakhir Ibrahim berhasil menjumpai Ismael”.) ? Ataukah memang Ismail tidak pernah bersunat sehingga “menurunkan” MUHAMMAD YANG JUGA TIDAK PERNAH TERBUKTI BERSUNAT!! Muhammad memang tidak bersunat menurut perjanjian TUHAN dg Abraham yang diikuti semua Nabi2 lainnya (sunat umur 8 hari). Namun tanpa “sunat Ibrahim”, Muhammad tetap berani2nya mengklaim bahwa agama yg benar itu adalah AGAMA IBRAHIM YANG LURUS (QS 6:161).
Muhammad yang tidak bersunat (karena terlambat jadi Islamnya; setelah ? umur baru dapat wahyu) berani2nya menyerukan para pengikutnya utk bersunat. Kita jadi ber-tanya2 kenapa Sang Guru yang satu ini begitu tidak konsekwen atas APA YANG DIAJARKAN DENGAN APA YANG DIPERBUAT? Terbukti dalam hal sunat, tetapi juga dalam hal kawin maximal 4 isteri ( Dia yang mengajari / memberi izin hingga 4, tapi merakusi puluhan isteri utk dirinya sendiri). Itu namanya bukan memberi TELADAN, tetapi memanfaatkan KEDUDUKAN!
d). KAPAN ISMAEL ITU SEMPAT DIJADIKAN ANAK PENGORBANAN?
Teladan kebenaran?Apabila Hadis Shahih Bukhari 1475 diatas itu dianggap shahih benar, maka otomatis ia berkontradiksi dg Quran Surat 37 diatas. Hadis mengisahkan Ismael yg tumbuh bersama ibunya di tanah Arab sejak masih menyusu hingga menikah; tetapi Quran menjelaskan bahwa masa2 hingga ujian penyembelihan Ismael itu adalah ketika ia dibesarkan bersama Ibrahim sampai memasuki pada “umur sanggup berusaha’.
JADI, Satu manakah yg benar? Pakar Muslim bekerja keras memaksakan kisah ujian-penyembelihan ini dengan men-cocok2 -kan masa kedatangan Ibrahim ke Mekah. Padahal, Ibrahim baru datang berkunjung SETELAH ISMAIL BERISTERI! Itulah Islam! YANG HANYA MENGKLAIM DAN MENGKLAIM TETAPI TIDAK BERSUBSTANSI!
Selamat mencari dan menemukan KEBENARAN-ISLAM, DAN ANDA TIDAK SAMPAI KE-MANA2 KECUALI KEKUSUTAN
Robert — asal : Jakarta tanggal : 23/05/2006
To Wahidin
Memang pemahaman tentang agama dan kitab sucinya tidak hanya dari Kitab suci yang sekarang kita mudah temui dan baca.
Tetapi kita juga harus memahami sejarah dan karakteristik ibadat yang biasa dilakukan oleh masyarakat pada zamannya.
Saya sarankan (Sekedar saran )…..kita hendaknya juga mempelajari sejarah dan pola ibadat dari umat pemeluk agama ( Baik Kristen dan islam ) dan kebiasaan-kebiasaan pada zamannya.
Maka saya yakin…..pertanyaan-pertanyaan yang anda ajukan akan terjawab dengan sendirinya ( Semakin kita memahami maka semakin mengerti akan kitab dan ajaran Nya ).
Saran saya untuk mengetahui ajaran Alkitab ….coba anda pelajari sejarah bangsa Israel, Sejarah Nabi-nabi israel , sejarah Ibadat Agama Samawi Awal dan penulisan kitab sucinya…..maka anda sedikit banyak akan memahami kenapa Alkitab sekarang diterjemahkan dengan berbagai macam bahasa , dan tentang nama Allah yang hanya diterjemahkan dengan kata” ALLAH atau TUHAN “.(Menyangkut Pola Ibadat dan tradisi bangsa Israel dalam menyebutkan Nama Allahnya yang diangap SUCI dan dicontoh dalam penulisan Alkitab sekarang ).
NB: Tribute to Robert
Comment by Pencari kebenaran — December 9, 2008 @ 2:13 am
To: Pencari kebenaran
TIDAK ADA PELUANG ISMAEL TERPILIH SEBAGAI KORBAN PERSEMBAHAN
# Dari judulnya saja sangat tendensius-subjective, seakan memang begitulah yang benar. Betulkah????
Memperdebatkan siapa yg dikorbankan oleh Abraham, apakah Ismael ataukah Ishak, adalah ibarat memperdebatkan perbedaan antara sebuah dongeng dengan fakta. Kata “dongeng” disini kedengarannya sedikit kasar.Namun itulah apa adanya karena betul2 didongengkan oleh teman2 muslim sendiri padahal tidak diklaim sama sekali oleh Quran. Ketika anda membaca Quran dengan cermat, anda akan mendapati bahwa tidak sekalipun nama Ismael muncul diwahyukan sebagai anak kurban yg dimintakan Allah SWT.
#Saya kurang sepakat dengan Anda, karena dari awal saya memaparkan kisah dari sumber otentik, yaitu sebuah kitab suci, (Al-Qur’an dan “Al-Kitab”). Sangat tidak bijak Anda menganggap / mengklaim kebenaran kisah tersebut tanpa bukti yang nyata. Dan anehnya lagi, Anda menganggapnya sebagai sebuah pertentangan antara ”fakta” dan dongeng. Mana yang fakta???? yang mana yang dongeng?
PAKAR ISLAM TIDAK MEMPUNYAI BUKTI SAMA SEKALI UTK MENGKLAIM “ISMAIL” DARI SUMBER2 ISLAM SENDIRI ! TIDAK DI QURAN, TIDAK DIHADIS !
#Lagi-lagi Anda mengungkapkan pernyataan yang sangat tendensius, yang terkesan sangat subjektif tanpa bukti.
Akibatnya mereka coba2 ingin paksa “memerasnya” keluar DARI ALKITAB, BUKAN QURAN! Dan ini sungguh mendiskreditkan Quran dan Hadisnya sendiri. Karena setiap Kitabullah seharusnya lebih dari mampu utk membela dirinya, tidak ditentukan oleh Kitab2 selainnya, yang toh Cuma buatan manusia!
# mereka memaparkan penjelasan kisah tersebut menggunakan Al-Kitab bukan berarti Al-Qur’an tidak mampu memberikan penjelasan tentang masalah tersebut. Bahkan dari bahasa yang digunakan Al-Qur’an saja setiap masalah bisa terjelaskan dengan baik. Namun, lebih dari itu dengan penjelasan menggunakan “Al-Kitab” bisa secara langsung dirujuk oleh Saudara2 kaum Nasrani yang tidak setuju guna mengecek kebenarannya.
Disini kita sementara hanya menguraikan 1 dari 5 pendekatan tsb, cukup untuk memperlihatkan 0% peluang bagi Ismael.
#lagi-lagi sangat tendensius, mari kita buktikan 0% atau 100%?
I. BUKTI BUKTI INTERNAL QURAN (bacaan QS 37: 100 - 113)
QS 37:102 : Ibrahim mengatakan kepada seorang anaknya (tidak disebutkan namanya) bahwa ia melihat dirinya dalam mimpinya menyembelih sang anak. Setelah diceritakan mimpi ini kepada anaknya, lalu anak tsb mempersilahkan ayahnya melaksanakan apa yg diperintahkan Allah.
KEKACAUAN (A): MIMPI UMUM ATAU PRINTAH KHUSUS?
Timbul sejumlah kemustahilan, bahwa hanya lewat mimpi satu kali saja {dan tidak ada penjelasan atau perintah siapa2 didalamnya} namun Ibrahim bisa2nya meyakinkan dirinya bahwa mimpi itu ADALAH PERINTAH ALLAH UNTUK IBRAHIM BER-ACTION MENYEMBELIH ANAKNYA. MIMPI TANPA KAITAN DENGAN ALLAH DIKAITKAN JADI PERINTAH ALLAH?
DENGAN MISI MEMBUNUH? Dan tambah mendongeng lagi, bahwa Ibrahim melemparkan keputusan penyembelihan itu kepada yg akan menjadi korban, yaitu anaknya sendiri yg notabene masih ingusan.
Penyembelihan anak sendiri bukan perkara main2 !!Apakah anda akan menyembelih anak anda sebegitu bermimpi bahwa anda sxxxg menggorok tubuh anak anda? Mungkinkah Allah hanya bermimpi umum TENTANG membunuh sianak , LALU ITU BETUL2 HARUS DIANGGAP SEBAGAI PERINTAH UNTUK MEMBUNUH? DARI TUHAN ?? Inilah bukti dongengan Muhammad hasil dengar2 annya dia dari kaum Yahudi/Nasrani. Inferioritas Quran tampak setiap kali ia mencoba utk mencuplik narasi2 Alkitab (yang tidak dikuasainya ).
Atas dasar apakah maka sajian mimpi umum boleh menjadi suatu perintah WAJIB bagi Ibrahim utk membunuh anaknya yg tidak berdosa ?? Jangan lupa bahwa untuk mimpi2 yg dianggap sebagai wahyu penting yg berdampak luas (bukan sekedar pertanda) maka TUHAN selalu menjelaskannya lewat malaikat, atau bila tidak, akan dinyatakan BER-KALI2 dg konfirmasi (lihat mimpi nabi Yusuf dikonfirmasi 2 x , Firaun 2 x , Petrus 3 x dan dikonfirmasi balik 1 x , dll).
Bila tidak demikian, Tuhan tsb hanyalah “Tuhan anti-komunikasi”, yang membiarkan nabiNya utk BERSPEKULASI (BUKAN BERIMAN ) UNTUK MEMBUNUH! Alangkah berbahayanya Tuhan yang satu ini!
[Bandingkan kejelasan komunikasi TUHAN Alkitab dg Abraham agar nyata yang dihadapi nya adalah benar TUHAN, dan bukan iblis yang bertopeng allah2-an: “TUHAN berfirman kepadanya:”Abraham”, lalu sahutnya: ” Ya Tuhan”.(setelah terkontak timbal balik, terkofirmasi, maka) FirmanNya: “Ambillah ANAKMU YANG TUNGGAL {satu2nya anak perjanjian, bukan anak kedagingan, Kej.17:19,21;21:12,Gal 14:23} yang kau kasihi YAKNI ISHAK, perxxxh ketanah Moria, dan persembahkanlah dia disana sebagai korban bakaran pada salah satu gunung yang akan Kukatakan kepadamu.” (Kej.22:1,2). Semuanya jelas, tidak ada kerancuan wahyu! Terdapat 4 kata perintah TUHAN yang jelas: “ambillah anakmu”…”Ishak”…”perxxxh”..”persembahkanlah]
#Jawaban kekacauan (a)
Dari mana Anda mengatakan bahwa mimpi tersebut hanya satu kali? Silakan rujuk kembali Al-Qur’an yang Anda kutip. Disitu digunakan redaksi al-manaam dalam bentuk jamak (lebih dari dua) artinya bukan hanya satu kali. Artinya lagi, Anda salah jika mimpi ibrahim hanya satu kali. Sesuai pemahaman kami dr Al-Qur’an, Ibrahim bermimpi mulai tanggal 7, 8 dan 9 Dzulhijjah (hari Tarwiyyah dan Arofah) kemudian baru tanggal 10 Dzulhijjah Ibrahim melaksanaakan perintah penyembelihan tersebut (Inilah mimpi yang haq, yg merupakan wahyu dr Allah).
Jadi ini mimpi khusus dr Allah bukan umum, sudah cukup untuk melakukan action.
Sekarang soal objek penderitanya, khusus atau umum kah???
Dari Al-Qur’an yang Anda kutip QS 37:100-113 sudah cukup membuktikan kekhususan perintah tersebut.
1. Mulai dari ayat 100 sampai 113 yg Anda kutip adalah kisah yang runtut berdasarkan urutan waktu dan kejadian.
2. Setelah Ibrahim berdoa kepada Allah, memohon anak-anak yang sholih (jamak) kemudian di ayat berikutnya Allah memberi kabar gembira (basyarnaahu) dengan kelahiran anak. Dan uniknya kata tersebut (basyarnaahu) muncul dua kali yaitu di ayat 101 dan 112. Ini menunjukkan bahwa memang dua kali Allah memberikan kabar gembira yaitu kelahiran anak pertama (fa basyarnaahu, ayat 101) dan kelahiran anak kedua (wa basyarnaahu, ayat 112). Anak kedua dalam ayat tersebut adalah Ishaq, lalu siapa anak pertama yang disebut pada ayat 101???? Jelas sekali, mulai dr ayat 101-112 menceritakan kisah Ibrahiim dan anak pertamanya serta kejadian yang dialami yaitu qurban dan ayat 112-113 menceritakan kisah kelahiran Ishaq setelah peristiwa qurban tersebut.
3. Mengapa nama ismail tidak muncul? Inilah Maha sempurnanya Allah. Saat perintah tersebut datang, Ibrahiim hanya mempunyai satu anak tunggal, yaitu anak pertama yang sekian lama ditunggu-tunggu. Sehingga perintah Allah dalam mimpi tersebut sudah sangat nyata dan jelas dipahami.
Dari 3 fakta tersebut, sangat jelas bahwa objek penderita (sosok yang diqurbankan) adalah sesuatu yang khusus yaitu anak tunggal Ibrahiim. Dari Al-Qur’an dan Al-Kitab kita mendapatkan informasi bahwa anak tunggal (dalam arti anak pertama) Ibrahim adalah Ismail bukan Ishaq. Coab review kembali Al-Kitab, Kejadian 16:16 dan 21:5, meskipun saya tahu, kedua ayat tersebut bertentangan dengan Kejadian 22:2 khususnya pada penyebutan nama Iskhaq.
”Maka pada masa Hajar memperanakkan Ismail bagi Abraham itu, adalah umur Abraham 85 tahun” (Kejadian 16:16)
“Maka pada masa Ishak, anaknya itu jadi, adalah umur Abraham 100 tahun” (Kejadian 21:5)
(Note: Ismail anak pertama, sama artinya dengan anak tunggal)
Bandingkan dengan ini:
Maka Allah “Pergilah ke tanah Man’a dengan Iskhak, anakmu yang tunggal, yang sangat kau kasihi. Di situ di sebuah gunung yang akan kutunjukkan kepadamu. Persembahkanlah anakmu sebagai ………kepada-Ku.”
(Note: anak tunggal namanya Iskhak???)
Mana yang benar???? Ismail atau Ishak????
KEKACAUAN (B): MUHAMMAD TIDAK TAHU, ATAU ALLAH SWT YANG TIDAK MAHA TAHU?
Mustahil bahwa Allah SWT tidak cakap berkomunikasi sehingga mengaburkan bahkan meniadakan nama Ismael dalam pewahyuan Quran ditempat yang justru paling strategis untuk ditampilkan. Banyak teman2 muslim sendiri tak habis mengerti kenapa Tuhan kurang tegas berwahyu. Memang, mereka yang mati2 an ingin membela Muhammad tidak akan tahu kenapa Muhammad SERING MENGABURKAN ISSUE2 YANG PENTING UTK MENGKOREKSI ALKITAB/ IMAN KRISTEN (seperti juga “siapa oknum Isa-palsu dikayu salib”?dan “dimana kata ?AHMAD? pernah diketemukan dalam Taurat dan Injil ?yang ada ditangan mereka? “?/ dll.).
#Jawaban kekacauan (b)
Dari penjelasan sebelumnya, sudah cukup jelas bahwa Allah sangat Maha Cakap dalam berkomunikasi. Semua perkataan Allah sangat mudah difahami bagi orang-orang yang berakal dan mau mengambil I’tibar.
Allah Gagal Mengkoreksi Yang Amat Perlu Dikoreksi
Amat mustahil bahwa koreksi Quran ini hanya menyebutkan dua kata benda yg tidak mengkoreksi yaitu “seorang anak”. Seorang anak, ya seorang anak. Tidak bisa diubah, apalagi dimutlakkan menjadi “Ismael” (!!) oleh mau-maunya manusia Islam! Bila benar Quran bertugas mengkoreksi dan mengamankan kebenaran, maka TUHAN Cuma perlu sebutkan satu nama saja yaitu: “Ismael”. TUHAN Maha Tahu bahwa sebutan nama Ismael amat sangat perlu dilantangkan demi mengluruskan FirmanNya yg sudah terlanjur palsu terjadi ribuan tahun, dan “menyesatkan” semua orang. Namun nyatanya Quran Allah gagal mengcounter ayat2 buatan manusia. Muhammad tidak berani mengakui dan menyebutkan Ismael kecuali main kucing2an dengan wahyu!? Apa arti dari semua ini? Bukankah fakta2 ini menelanjangi semua dongeng2 non-wahyu yang telah dikemas dengan indahnya oleh akal2an manusia? Jawaban yang paling masuk akal hanya ada pada kemungkinan berikut ini:
“Muhammad takut diper-olok2 oleh orang2 Yahudi apabila ia berani mengklaim nama Ismael, dan bukan Ishak. Orang2 Yahudi tahu persis dari nabi2 mereka.siapa yang dikorbankan. Mengingat Surat 37 ini adalah ayat2 Makkiyah (yang diturunkan di Mekkah, umumnya masih lunak mengakomodasi ajaran Yahudi dan Nasrani), bisa dimengerti kenapa Muhammad masih ragu2 membuka front perselisihan terhadap kaum Yahudi yang memiliki Taurat yang jelas2 mencantumkan nama Ishak dan bukan nama Ismael. Muhammad telah ber-kali2 membenarkan dan membenarkan Taurat dan Injil YANG ADA DISISI MEREKA (QS 5:43, 44, 2:41 89, 101 dll). Jadi bagaimana sekarang ia harus membela dirinya bila kini ia berani mengatakan bahwa anak yg disembelih itu adalah Ismael?” (Nanti akan kita perlihatkan bahwa Muhammad memang cenderung memaksudkan ayat2 tsb untuk Ishaq dan bukan Isamel). Muhammad tidak berani, yang berani hanyalah pengikut2nya yang menafsir se-enaknya!
#Jawaban kekacauan (b) lanjutan
Al-Qur’an adalah kitab suci yang berlaku sepanjang masa untuk semua manusia, bukan hanya untuk masa tertentu dan oknum tertentu. Semua yang diceritakan dalam Al-Qur’an bisa dijadikan I’tibar bagi orang sesudahnya, termasuk di dalamnya kisah qurban. Sekali lagi, tidak disebutkannya nama “seorang anak” tersebut justru memberikan hikmah yang sangat besar dan berlakunya syariat qurban bagi umat sesudahnya. Ini bukan hanya masalah Ismail atau ishaq, tetapi masalah hakikat dari qurban itu sendiri. Oleh karena itu Allah lebih menekankan, bahwa sosok seorang anak tersebut dari ciri-cirinya:
1. bahwa ia adalah anak satu-satunya yang sangat dinanti nanti
2. bahwa ia adalah anak yang amat dicintainya
3. bahwa saat itu ia sampai pada masa-masa lucu-lucunya, menyenangkan, bikin gemes
4. bahwa ia adalah harapan penerus generasi
5. bahwa ia adalah gambaran hamba yang sholeh
6. bahwa ia adalah buah dari doa yang selalu dipanjatkan
7. bahwa ia adalah nikmat terindah, dsb
Inilah hakikat qurban, yang bisa diikuti oleh ummat sesudahnya agar mereka bisa mengorbankan segala yang dimilikinya untuk mendekatkan diri kepada Allah. Ibrahiim sangat cinta pada putranya, tetapi ia lebih mencintai Allah dari pada apapun yang ia miliki.
Lain halnya jika dulu hanya menyebut nama Ismail, misalnya, tanpa menyebut sifat-sifat yang dimilikinya (meskipun sebenarnya dr sifat-sifat tersebut “nama bisa diketahui” bagi mereka yang berakal), maka tidak akan ada orang yang mau mengikuti syariat qurban, meski hanya menyembelih domba dan sejenisnya. Mungkin ini yg terjadi pada saudara2 nasrani. Karena dalam Al-Kitab tertulis nama Iskhak (meski terkesan “dipaksakan”) tanpa menyebut sifat-sifatnya, sehingga sampai saat ini tidak ada syariat qurban bgi mereka.
Sekali lagi, bukan Allah gagal mengkoreksi, tetapi Allah Maha Tahu apa yang mesti disampaikan. Semua yang disampaikan Allah dalam firmanNya adalah ilmu, sehingga tidak satu pun ayat-ayat yang telah disampaikan saling bertentangan. Tidak seperti dalam Al-Kitab, karena bersikeras mencantumkan nama Iskhak didalamnya, eh… ternyata bertentangan dengan ayat lainnya. Terpaksa deh ada ayat yang dihilangkan, dirubah dikit lah, ditambah juga ga apa-apa kali (maaf jika salah, tapi kayaknya saya pikir ada benarnya juga sih, soalnya saat kita bandingan antara Al-Kitab cetakan tahun2 awal dengan cetakan tahun2 akhir ternyat banyak yang beda atuh… hehehe…)
KEKACAUAN (C ): MUNGKINKAH SEMUA NABI-NABI TUHAN SESAT SELAMA 2.600 TAHUN?
Wahyu Taurat berbeda dg Quran dalam kisah kurban anak Abraham. Salah satunya pasti palsu. Tentu saja Taurat itu Yang dicap palsu. Itu sebabnya Quran katanya perlu turun untuk mengkoreksi Taurat dan Injil. Sayangnya Quran baru terpanggil untuk mengkoreksi nama Ishak ini setelah rentang waktu 2600 tahun berjalan dalam kesesatan wahyu. Mungkinkah kebenaran kalimat2 TUHAN bisa dihilangkan manusia selama sekian ribu tahun? FIRMAN TUHAN VAKUUM 26 ABAD? Ini kontradiksi mati dg QS 6: 34; 10: 64. Muslim percaya bhw Alkitab+Al Quran telah tergores di Surga. Dan itu yang diturunkan kedunia. Sejak dahulu sumber satu2nya tentang kisah ini adalah Taurat Musa yg jelas2 mencantumkan nama Ishak dan tidak ada sangkutan apapun atau pernah diprotes oleh siapapun. Jadi darimana bisa datangnya WAHYU TANDINGAN setelah sekian lama wahyu TUHAN tidak digugat. Tolong dijawab yang lurus, focus, berani jujur, jangan yang bengkok2 dan pokrol2an seperti “gurunya”.
Bila benar kisahnya Quran, maka itu berarti selama 2600 tahun Allah telah membiarkan Nabi Musa, Harun, Daud, Sulaiman, Yesaya, Daniel dll nabi hingga kepada Zakharia, Yahya, Isa dan murid2 Isa semua tersesat dalam keimanan dan kesejarahan, hanya karena satu ayat yg tanpa bukti, DAN TIDAK BERTANGGUNG JAWAB UTK MENYEBUT JATI-DIRI SI ANAK - KURBAN!
#Jawaban Kekacauan (c)
Memang benar, Shuhuf Ibrahim, Taurat, Zabur, Injil dan al-Qur’an semua datang dari Allah. Semuanya saling menyempurnakan. Pastinya tidak ada pertentangan di dalamnya. Perlu diingat, pernyataan itu hanya bernilai benar jika semua kitab tersebut terjaga keasliannya. Yang jadi pertanyaan, mana diantara kitab-kitab tersebut yang saat ini masih asli??? Mungkin akan banyak bermunculan jawaban, tergantung siapa yang menjawabnya. Banyak parameter logis yang bisa dijadikan parameter untuk menilai keaslihan sebuah kitab suci. Berikut sebagian kecil dari parameter tersebut:
1. Harus benar-benar bersumber dari Allah Swt.
2. Allah yang mewahyukan harus bersifat Maha atas segala sesuatu
3. Harus mempertahankan bahasa aslinya ketika nabi itu menerima wahyu-Nya
4. Penerima wahyu harus jelas orangnya, benar-benar jujur & berakhlak mulia
5. Tidak mengajarkan ajaran yang kejam dan sadis
6. Memberikan pelajaran dan menunjuki manusia kepada jalan yang benar
7. Ayat-ayatnya tidak boleh bertentangan satu sama lainnya
8. Berbicara tentang ilmu pengetahuan harus bisa dibuktikan
9. Harus sesuai dengan fitrah manusia
10. Kitab tersebut harus bisa memberikan kesaksian bahwa dia diwahyukan oleh Allah Swt.
11. Tidak boleh melecehkan terhadap nabi-nabi Allah
12. Tidak membeberkan cara merayu wanita dan pornografi secara vulgar
13. Harus ada perkataan dari Allah bahwa tidak ada Tuhan yang wajib disembah selain diri-Nya
14. Harus ada nama agama yang berasal dari Tuhannya, bukan dari manusia atau panggilan orang
15. Tejaganya seluruh wahyu itu dengan hafalan para pemeluknya dari awal diwahyukan sampai kiamat.
Mungkin Anda akan bilang, itu khan parameter yang subjektif? Baiklah, Andapun bisa menciptakan parameter sendiri, dengan catatan harus bisa diterima oleh akal secara fitrah.
Benarkah di dalam Taurot Musa tercantum nama Iskhak yang dikorbankan??? Menurut saya, perlu kajian yang mendalam disertai bukti yang kuat. Perlu diingat, perjalanan sejarah dari turunnya Taurat hingga hari ini cukup panjang. Tapi bukan itu masalahnya. Dalam perjalanan tersebut, banyak sekali ”oknum sejarah” yang ”bermain” di dalamnya. Semua punya misi untuk mempertahankan pengaruh dan dominasi ”keturunan” pembesar-pembesar Bani Isroil. Apalagi setelah turun kabar dari Al-Kitab bahwa nabi akhir zaman bukan dari keturunan Iskhak, melainkan dari keturunan Ismail. (tapi mungkin bukti inipun saat ini sulit ditemukan dalam ”Al-Kitab cetakan akhir”). Mengapa demikian? Karena sekian banyak ayat-ayat dalam Al Kitab yang bercerita tentang ini, saling bertentangan satu sama lain.
Baiklah, coba perhatikan baik-baik Al Kitab berikut:
Setelah semuanya itu Allah mencoba Abraham. Ia berfirman kepadanya: “Abraham,” lalu sahutnya: “Ya, Tuhan.” Firman-Nya: “Ambillah anakmu yang tunggal itu, yang engkau kasihi, yakni Ishak, pergilah ke tanah Moria dan persembahkanlah dia di sana sebagai korban bakaran pada salah satu gunung yang akan Kukatakan kepadamu.” Keesokan harinya pagi-pagi bangunlah Abraham, ia memasang pelana keledainya dan memanggil dua orang bujangnya beserta Ishak, anaknya; ia membelah juga kayu untuk korban bakaran itu, lalu berangkatlah ia dan pergi ke tempat yang dikatakan Allah kepadanya. Ketika pada hari ketiga Abraham melayangkan pandangnya, kelihatanlah kepadanya tempat itu dari jauh. Kata Abraham kepada kedua bujangnya itu: “Tinggallah kamu di sini dengan keledai ini; aku beserta anak ini akan pergi ke sana; kami akan sembahyang, sesudah itu kami kembali kepadamu.” Lalu Abraham mengambil kayu untuk korban bakaran itu dan memikulkannya ke atas bahu Ishak, anaknya, sedang di tangannya dibawanya api dan pisau. Demikianlah keduanya berjalan bersama-sama. Lalu berkatalah Ishak kepada Abraham, ayahnya: “Bapa.” Sahut Abraham: “Ya, anakku.” Bertanyalah ia: “Di sini sudah ada api dan kayu, tetapi di manakah anak domba untuk korban bakaran itu?” Sahut Abraham: “Allah yang akan menyediakan anak domba untuk korban bakaran bagi-Nya, anakku.” Demikianlah keduanya berjalan bersama-sama. Sampailah mereka ke tempat yang dikatakan Allah kepadanya. Lalu Abraham mendirikan mezbah di situ, disusunnyalah kayu, diikatnya Ishak, anaknya itu, dan diletakkannya di mezbah itu, di atas kayu api. Sesudah itu Abraham mengulurkan tangannya, lalu mengambil pisau untuk menyembelih anaknya. Tetapi berserulah Malaikat TUHAN dari langit kepadanya: “Abraham, Abraham.” Sahutnya: “Ya, Tuhan.” Lalu Ia berfirman: “Jangan bunuh anak itu dan jangan kauapa-apakan dia, sebab telah Kuketahui sekarang, bahwa engkau takut akan Allah, dan engkau tidak segan-segan untuk menyerahkan anakmu yang tunggal kepada-Ku.” Lalu Abraham menoleh dan melihat seekor domba jantan di belakangnya, yang tanduknya tersangkut dalam belukar. Abraham mengambil domba itu, lalu mengorbankannya sebagai korban bakaran pengganti anaknya. (Kejadian 22:1-13).
Dalam kisah di atas, terdapat 2 kejanggalan besar, yaitu:
1. Ishak disebut sebagai anak tunggal Abraham, padahal Ishak adalah adik Ismail.
2. Usia Ishak baru saja disapih, tapi diperlakukan seperti anak berusia 16 tahun ketika akan disembelih Abraham. Silahkan periksa kembali Kejadian 21 di atas. Di sana Ismail yang berusia 16 tahun diperlakukan seperti anak yang baru berumur 2 bulanan. Dengan dasar ini, perombak Taurat ingin menunjukkan seolah2 Ishaklah kakak Ismail, karena Ishak baru saja disapih sementara Ismail masih bayi. Karenanya, mereka dengan konyol menyebut Ishak sebagai anak tunggal Abraham. Padahal, bukti2 Alkitab sendiri sudah jelas, bahwa Ismail adalah kakak Ishak!
Kejanggalan2 di atas tampaknya diakibatkan olehbanyaknya tangan2 Bani Israel yang turut merombak, sehingga antara pasal yang satu dengan yang lain kelihatan tidak ada kesesuaian. Sangat mungkin, ketika mengumpulkan Taurat, mereka tidak meneliti sedemikian jauh sehingga kejanggalan itu tetap saja terlihat dengan jelas. Umat Yahudi dan Kristen menganggap penyebutan Ishak sebagai anak tunggal Abraham adalah karena Ishak merupakan anak dari istri yang sah, yaitu Sara. Padahal, dalam Kitab Kejadian 16:3 dikatakan bahwa Abraham mengambil Hagar sebagai istrinya. Ini berarti, Hagar juga adalah istri sah Abraham. Suatu alasan yang tidak masuk akal!
Sesungguhnya, alasan tersebut sengaja dibuat oleh Bani Israel oleh karena mereka iri/dengki bahwa yang menjadi penerus agama samawi, sebagaimana masih dapat terlihat dengan jelas dalam “Taurat dan Injil”, adalah keturunan Ismail (Muhammad). Dalam kisah versi Taurat di atas, peristiwa penyembelihan itu terjadi di Moria, padahal peristiwa tersebut sebenarnya terjadi di Mina.
KEKACAUAN (D): WAHYU SAMAR-SAMAR, KACAU & ACAK-ACAKAN BUKANLAH SUATU WAHYU.ITU FATAL!
Mari kita teruskan tesis kita tentang “ISMAEL” SEBAGAI ANAK-KURBAN, yang didasarkan pada sumber2 internal Quran.
Pakar Islam menyadari bahwa ke-14 ayat dari Surat 37 itu tidaklah memadai untuk mengkonklusikan nama Ismael. DR Quraish Shihab cukup gentleman utk mengakuinya.Untuk mendongkrak konklusi yang diinginkan, penterjemah Quran membagi ke-14 ayat tsb dalam 2 kelompok, lalu diberi 2 Sub-Judul yang nyeleweng.Yang satu berani2nya mengkokohkan nama Ismael dg judul: PENYEMBELIHAN ISMAEL AS (Padahal nama Isamel tidak terdapat sama sekali dalam ayat2nya).
Yang lain dg judul: KABAR GEMBIRA TENTANG KELAHIRAN ISHAQ (Padahal perkataan ?kelahiran? tidak terdapat dalam ayat Quran). Mereka memanfaatkan 2 ayat yang memuat kalimat yang sama: “Kami beri dia kabar gembira dengan ?. (ayat 101 ,dan 112),
Lalu berkesimpulan bahwa tidaklah mungkin TUHAN memberikan dua kali “Kabar Gembira” dg kedatangan seseorang yg sama. Alasannya: TUHAN itu tertib dan teratur. Namun mereka lupa bahwa justru susunan ayat/surat2 Quran adalah susunan kitab yang paling tidak teratur didunia.!!
Sadarkah para Muslim bhw. Quran mengalami 4 fase bongkar-pasang wahyu yang luar biasa rumitnya? [ yaitu 2X utk SUSUNAN-dari susunan kronologis yang dimulai dg Surat 96 diubah menjadi Al-Fatihah dst menjadi acak2 an. Dan 2X utk ISI TEKS - yaitu diacak lagi dengan turunnya ayat2 nasakh yang tidak menempati lagi urutan lamanya; Bagaimanapun, pengacakan “Aturan Tuhan” semacam ini tidak dikenal dalam Alkitab. Muhammad jelas mengkomplikasikan ayat2 nya sehingga melahirkan kekacauan dan acak2an atas nama Jibril (tapi bukan wahyu).
Rumusan “Aturan TUHAN adalah teratur” hanya klaim kosong saja. Satu contoh loncatan urutan yg amat menurunkan martabat wahyu TUHAN adalah QS 6:84-86.
Bagaimana mungkin TUHAN yang Maha Tahu menjadi tidak tertib dan kacau balau ketika mewahyukan (dalam ayat tsb) urutan datangnya nabi2 Nya yang Dia utus sendiri menurut waktuNya?. Padahal urutan kronologis kehidupan tokoh2 ini bahkan sudah diketahui oleh manusia ratusan tahun sebelum datangnya KOREKSI wahyu TUHAN (Quran) ????? Jadi, menghadapi Quran, kita tidak bisa selalu mengandalkan deduksi kronologis, seperti yang ingin dipaksakan pakar Islam kepada QS 37: 100-113 ini.
PENAFSIRAN YANG WAJAR TANPA KOMPLIKASI DAN PEMAKSAAN
Para Penterjemah bekerja keras dengan bermuslihat memberi 2 judul perikop yang tidak mesti benar. [Yang satu diberi judul PENYEMBELIHAN ISMAIL AS, yang lain berjudul KABAR GEMBIRA TENTANG KELAHIRAN ISHAQ].Padahal, Muhammad memang tidak terwahyu memaksudkan Ismail (maka Nabi dalam ke-14 ayat tsb tidak SEKALIPUN menyebut nama ini, melainkan nama Ishak saja!.Lihat betapa seluruh kisah ini HANYA TENTANG SATU ANAK, YAITU ISHAQ.
MARI KITA AMAT KRITIS MENYIMAK KESELURUHAN 14 AYAT (100-113) YANG KINI AKAN KITA SUSUN KISAHNYA MENURUT TOPIKNYA, bukan menurut “pesan sponsor” yang di-paksa2 kan unsur “Ismail” kedalam narasinya maupun judul-perikop-nya.
Mari anda sendiri yang bagi ke-14 ayat tsb.dalam 3 babak topik (perikop):
1). IBRAHIM MEMOHON ANAK DAN MENDAPATKANNYA
(ayat 100): “Ya Tuhanku,berilah aku (anak) yang saleh”
(ayat 101): “Maka Kami menggembirakannya dengan SEORANG ANAK yang sangat penyantun”
2). TESTING ALLAH TERHADAP IBRAHIM MENGENAI SANG ANAK (ayat 102:107)
3). ANUGERAH ALLAH KEPADA IBRAHIM YANG LULUS TESTING TENTANG ANAK TSB :
(ayat 108): “Kami (Allah) tinggalkan sebutan yang baik (bagi Ibrahim)”
(ayat 109): “Sejahtera atas Ibrahim”
(ayat 110): “Kami (Allah) beri balasan”
(ayat 111): “Dia (Ibrahim) termasuk hamba2 Kami yang beriman”
(ayat 112): “Kami menggembirakannya dengan ISHAQ SEBAGAI NABI yang termasuk orang2 saleh”
[Perhatikan kata2 “Ishaq sebagai Nabi”! Ini berupa pemberian berkat Allah yang kedua kepada Ibrahim. Berkat pertama (ayat 101)
memberikankan KELAHIRAN SEORANG ANAK (ISHAK, sebagai anak/ orok yang belum diurapi jadi nabi). Dan berkat kedua (ayat 112), yaitu ketika Allah memberikan ANUGERAH ISHAK SEBAGAI NABI (bukan lagi sebagai anak yang baru lahir )].
(ayat 113): “Kami berkati atasnya (Ibrahim) dan atas ISHAQ. Dan diantara keturunan KEDUANYA ada yang berbuat baik.” (yang nantinya kelompok kenabian “Ibrahim- Ishaq” ini dirujukkan Muhammad kepada Qs 29:27; 21:72, yang jelas2 mengeluarkan Ismail!).
Dengan pembagian dan alur kisah ini kita semua tak ada kesulitan untuk melihat secara lurus–tidak di-pas2 kan secara paksa apa yang bengkok–bahwa seluruh 14 ayat diatas SEMUANYA mulus merujuk kepada satu kesatuan cerita, dan satu nama anak, yaitu tentang ISHAK saja!!
#Jawaban kekacauan (d)
Sangat tidak masuk akal jika 14 ayat tersebut hanya bercerita tentang 1 nama yaitu Ishak, alasannya.
1. Antara ayat 101 dan 112 menggunakan kata yang sama persis (basyarnaahu) yang tentunya mempunyai arti yang sama persis karena secara bahasa tidak menunjukkan perbedaan makna. Jika yang pertama diartikan kabar gembira dengan kelahiran seorang anak maka yang keduapun harus diartikan demikian.
2. Ini dikuatkan dengan penggunaan tanda penghubung fa basyarnaahu dan wa basyarnaahu, yang menunjukkan urutan kejadian (berupa basyarnaahu).
3. QS 29:27 dan 21:72 tidak cukup membuktikan ketiadaan Ismail, karena di ayat lain justru lebih banyak disebutkan nama Ibrahiim-Ismail dan Ishaq secara berurutan. Coba lihat QS 2:133, 2:136, 2:140, 3:84, 4:163
#Kesimpulan bantahan
1. Perintah penyembelihan putra Ibrahiim adalah perintah khusus pada sosok yang khusus yang secara akal bisa dipahami dengan nyata.
2. Internal Al-Qur’an telah menununjukkan fungsinya sebagai penjelas antara yang haq dan yang batil terkait kisah qurban yang selama ini faktanya diputar-balikkan oleh ”oknum-oknum yang khawatir” akan tergesernya pengaruh kenabian.
3. Al-Qur’an bukan ”mengkoreksi” kitab terdahulu ”yang asli” karena memang dari satu sumber. Hanya saja sampai saat ini tidak terbukti adanya kitab tersebut yang asli. Semua fakta yang dimunculkan dalam al-kitab adalah kebohongan besar yang sengaja diciptakan untuk meng-caunter risalah nabi akhir zaman, Muhammad SAW. Ini adalah fakta sejarah yang tak terbantahkan.
4. QS 37 adalah sebagian kecil bukti kebenaran kisah qurban. Justru dalam Taurat maupun Injil terjadi sekian banyak pertentangan-pertentangan seputar masalah tersebut. Pencantuman nama Iskhak seakan ”amat sangat dipaksakan” sehingga tanpa sadar justru menyebabkan pertentangan yang demikian banyak antara ayat yang satu dengan lainnya. Inilah kelebihan otak manusia, di sisi lain ”mereka” ingin menyodorkan nama Iskhak sebagai anak qurban tetapi ternyata justru menyebabkan al-kitab semakin rancu.
5. Nama Ismail memang tidak secara tegas dimunculkan Allah dalam Al-Qur’an terkait kisah qurban, tetapi tidak berarti itu bukan Ismail. Pemahaman global dari seluruh isi al-qur’an khususnya terkait masalah ini justru semakin nyata bahwa putra Ibrahim yang diqurbankan adalah Ismail bukan Iskhak. Memang dalam QS 37, Allah hanya menyebutkan ciri-ciri dan proses kejadian peristiwanya saja, tetapi bagi orang yang berpikir jernih, justru ia akan mendapatkan berita sekaligus hikmah yang amat berharga dari metode ”penceritaan” tersebut, yang terus terang belum bisa tertandingi bahkan tidak akan bisa tertandingi oleh ”penceritaan” apapun dalam kitab2 lain. Sebagai contoh saja, coba baca kisah-kisah yang ada dalam al-Kitab! Pasti Anda akan menemukan kejanggalan-kejanggalan di dalamnya. Bahkan yang lebih parah banyak al-kitab yang berkisah tentang pornografi secara fulgar. Mau bukti? Silakan baca sendiri. Maaf saya sangat malu membacanya. Baiklah coba baca satu saja yang ini: Yehezkiel pasal 16 ayat 7-8
(7) I have caused thee to multiply as the bud of the field, and thou hast increased and waxen, and thou art come to excellent ornaments: thy breasts are fashioned, and thine hair is grown, whereas thou wast naked and bare. (8) Now when I passed by thee, and looked upon thee, behold, thy time was the time of love; and I spread my skirt over thee, and covered thy nakedness: yea, I sware unto thee, and entered into a convenant with thee, saith the Lord God, and thou becamest mine.
(7) Engkau menjadi besar dan sudah cukup umur, bahkan sudah sampai pada masa mudamu. Maka buah dadamu sudah montok, rambutmu sudah tumbuh, tetapi engkau dalam keadaan telanjang bugil. (8) Maka Aku lari dari situ dan Aku melihat engkau, sungguh, engkau sudah sampai pada masa cinta birahi. Aku menghamparkan kain-Ku kepadamu dan menutupi auratmu. Dengan sumpah Aku mengadakan perjanjian dengan engkau, demikianlah firman Tuhan Allah, dan dengan itu engkau Aku punya.
6. Dalam QS 37 bukan penjelasan garis keturunan Ibrahim-Ishaq, tetapi Ibarahim - Ismail dan Ishaq sebagiaman dikuatkan oleh QS 2:133, 2:136, 2:140, 3:84, 4:163
7. Al-Qur’an sudah cukup membuktikan bahwa Ismail adalah putra Ibrahim yang dikurbankan. Di sisi lain al-kitab ”memaksakan diri” mencantumkan nama Iskhak, namun akibatnya justru semakin memperparah kerancuan yang ada di dalamnya.
Comment by multazimah — December 9, 2008 @ 8:53 am
maaf…saya tahu anda akan marah apabila Ishak disebut anak Tunggal oleh Tuhan versi Alkitab (Dan tentu orang arab, apabila saya orang arab, saya juga akan sangat marah karena Ismael tidak di anggap) . Menurut kami itu karena Ishak akan menjadi anak tunggal pewaris suku Israel (Abraham,Ishak,Yakub). Sedangkan Ismael menjadi anak Tunggal suku Arab yang menjadi leluhur 12 suku Arab. Ismael dan keturunannya diberkati Tanah Arab. Ishak dan keturunannya diberkati tanah Israel. Dua bangsa ini adalah dua bangsa yang tanahnya diberi Tuhan.
Comment by oskar — March 23, 2009 @ 4:57 am
memang Ishak atau Ismael kita akan selalu memperdebatkannya. isu ini sangat sensitif karena pertanyaannya siapa yang paling dikasihi Abraham? Ishak atau Ismael? Bila Ismael maka bangsa Israel tersinggung. Bila Ishak maka bangsa Arab tersinggung. bukankah terserah Tuhan mau lebih mengasihi siapapun? bukan kah kasih Tuhan setia pada siapapun?. walau Dia bisa lebih mengasihi yang satu dari pada yang lain. Maaf… karena Abraham lebih cinta ke Sara maka anak dari Sara yang ditunggu punya kemungkinan lebih disayang, tapi TENTU Tuhan dan Abraham juga menyayangi Ismael dan Hagar. Ismael diberi berkat menjadi sukubangsa tersendiri dan tanah tersendiri. Terbukti bangsa Arab yang diberi tanah yang sedemikian kaya.kita memang selalu sensitif tentang siapa yang paling diberkati. yang jelas kasih Tuhan setia pada siapapun dan apapun latarbelakangnya
Comment by oskar — March 23, 2009 @ 7:26 am
To Sdr Oskar
Sebenarnya, ini bukan masalah marah atau tidak marah. Ini adalah masalah kebenaran atas fakta sejarah yang erat kaitannya dengan “keyakinan”. Karena menyangkut keyakinan (baca aqidah) maka tidak bisa seenaknya berargumen tetapi harus ada “sumber” otentik yang bisa dijadikan dasar dalam argumen tersebut. Dan sumber otentik tersebut haruslah yang diyakini datang dari pemilik kebenaran. Kalau saya, tentunya berargumen dengan al-Qur’an dan hadits.
Berikut beberapa argumen dari al-qur’an dan hadits yang memperkuat bahwa putra Ibrahim as yang disembelih adalah Ismail bukan Ishaq.
Hadits Rasulullah SAW
Rasulullah SAW telah bersabda dalam sebuah hadits yang menceritakan tentang dirinya.
Aku adalah anak keturunan dua orang zabihain (orang yang disembelih). (HR. Al-Hakim).
Yang dimaksud dengan dua orang zabihain adalah dua orang yang dalam hidupnya terancam akan disembelih. Yang pertama adalah ayah kandungnya langsung yaitu Abdullah. Dan kedua adalah kakek buyutnya yaitu Ismail. Karena Nabi Muhammad memang keturunan dari Nabi Ismail as., bukan keturunan dari Nabi Ishaq as.
Dan julukan Ibnu Zabihain adalah julukan yang terkenal, karena diriyawatkan bahwa orang Arab pun menyapa beliau SAW dengan panggilan itu.
Kisah tentang ayah kandung Rasulullah SAW yang juga terancam mau disembelih adalah kisah yang juga sudah kita kenal yaitu nazar kakeknya Abdul Muttalib. Sang kakek ini ketika menggali sumur zamzam pernah bernazar untuk menyembelih anak. Ketika berhasil menggali sumur zamzam, maka Abdul Muttalib berkewajiban untuk melaksanakan nazar, lalu diundilah dengan menggunakan anak panah, namun selalu keluar nama Abdullah anaknya yang sangat dicintainya itu. Sehingga setelah beberapa kali selalu nama Abdullah yang keluar, akhirnya ada orang yang menasehatinya untuk menggantinya dengan 100 ekor unta. Barulah setelah Abdul Muttalib menyembelih 100 ekor unta, tidak lagi keluar nama Abdullah dari anak panah undian.
Argumen Abu Amru bin Al-Ala
Diriwayatkan dari Al-Ashmai bahwa dia bertanya kepada Abu Amru bin Al-Ala tentang siapakah sesungguhnya anak nabiu Ibrahim yang disembelih? Ismail-kah atau Ishaq-kah?
Beliau menjawab, ”Wahai Asmai, di mana otakmu? Sejak kapan Nabi Ishaq itu tinggal di Makkah. Yang di Makkah itu adalah Nabi Ismail as. Dialah yang membangun Ka’bah bersama ayahnya. Dan tempat penyembelihan itu adanya juga di Makkah.
Dalil Ayat Quran: Tentang Ciri Nabi Ismail
Meski tidak disebutkan secara eksplisit, namun ayat Quran menunjukkan bahwa yang disembelih itu adalah Ismail, bukan Ishaq. Buktinya, ketika Qurna menyebut nama Ismail, beliau disifati dengan sifat penyabar (shobirin).
Dan Ismail, Idris dan Dzulkifli. Semua mereka termasuk orang-orang yang sabar.(HR. Al-Anbiya: 85)
Dan yang dimaksud dengan sabar pada Ismail adalah sabarnya atas penyembelihan. Dan selain itu Allah juga mensifati beliau dengan sifat Shadiqul Wa’di atau orang yang menepati janjinya.
Dan ceritakanlah kisah Ismail di dalam Al-Quraan. Sesungguhnya ia adalah seorang yang benar janjinya, dan dia adalah seorang rasul dan nabi. (QS Maryam: 54)
Dan yang dimaksud dengan yang menepati atau benar janjinya adalah Ismail yang telah berjanji untuk sabar menghadapi cobaan dari Allah untuk disembelih, lalu beliau menepati janjinya untuk tetap bersabar.
Dalil Ayat Qur’an Tentang Kondisi Nabi Ishaq as
Sedangkan sebaliknya, kalau kita teliti secara cermat, Allah SWT menyebutkan tentang kondisi Nabi Ishaq yang memiliki anak bernama Yaqub. Silahkan perhatikan ayat berikut:
Dan isterinya berdiri lalu dia tersenyum, maka Kami sampaikan kepadanya berita gembira tentang Ishaq dan setelah Ishaq: Ya’qub. (HR Ash-Shaaffaat: 112)
Kalau ingin dipaksakan bahwa yang disembelih adalah Nabi Ishaq, maka ada dua kemungkian kapan turunnya perintah penyembelihannya.
Kemungkinan pertama:
Perintah penyembelihan itu sebelum lahirnya anak Ishaq yaitu Yaqub. Dan kemungkinan ini jelas tidak bisa diterima. Mengapa? Bagaimana mungkin Allah memerintahkan untuk menyembelih Ishaq padahal sementara itu Allah juga memberi informasi bahwa Ishaq itu akan punya anak yang bernama Yaqub. Jadi seolah-olah sejak awal perintah untuk menyembelih Ishaq itu sudah ketahuan akhirnya bahwa Ishaq tidak akan mati, lantaran ada informasi bahwa nanti dia akan punya anak yang namanya Yaqub. Kalau Ibrahim tahu bahwa perintah penyembelihan itu pasti akan diganti dengan seekor kambing dan bahwa anaknya itu terus akan hidup dan malah akan punya anak segala, namanya bukan ujian, kan? Tapi main-main.
Kemungkinan kedua:
Perintah untuk menyembelih Ishaq itu setelah Ishaq punya anak yang bernama Yaqub. Artinya, bisa saja perintah itu datang dan Ishaq sudah dewasa dan bahkan sudah punya anak. Ini malah lebih tidak bisa diterima lagi, sebab langsung bertentangan dengan ayat Al-Quran. Sebab mengenai kisah penyembelihan anak Ibrahim itu, Allah menyebutkan sebagai berikut:
Maka tatkala anak itu sampai berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!” Ia menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.” (QS As-Shaaffaat: 102)
Jadi usia anak yang disembelih itu adalah ketika masih muda dan baru bisa berusaha berjalan menyusul ayahnya. Bukan anak yang sudah punya anak lagi atau sudah jadi bapak buat orang lain.
Sehingga dua kemungkinan itu sama-sama tertolak.
Ayat Al-Quran: Urut-urutan Kisah
Semua sepakat bahwa anak Nabi Ibrahim yang pertama adalah Ismail dan yang kedua adalah Ishaq. Sebelum punya anak, Ibrahim memohon kepada Allah agar diberi anak.
Ya Tuhanku, Berilah Aku keturunan yang shalih. (QS As-Shaaffaat: 100)
Karena tidak mungkin Ibrahim meminta anak ketika sudah punya anak pertama. Secara logika, orang yang berdoa meminta anak adalah orang yang belum punya anak.
Lalu Allah mengabulkan doa Ibrahim dengan firman-Nya:
Maka Kami beri dia khabar gembira dengan seorang anak yang amat sabar. (QS As-Shaaffaat: 101)
Dan ayat seterusnya menceritakan tentang anak pertama yang akan disembelih itu. Jadi amat jelas bahwa yang disembelih adalah anak pertama yang bernama Ismail karena selesai Allah memberitakan bahwa doa Ibrahim dikabulkan dan diberi anak, langsung ayat berikutnya berbicara tentang kisah penyembelihan anaknya. Selesai kisah penyembelihan anak, baru Allah berkisah tentang anak Ibrahil yang lain yaitu Ishaq.
Amat tidak logis bila yang disembelih adalah Ishaq, karena bukan demikian urut-urutan kisahnya.
Khabar Tentang Kisah Penyembelihan di Makkah
Selain semua hujjah di atas, masyarakat Makkah memang sangat mengenal kisah penyembelhan itu. Dan yang utama adalah kisah penggantungan tanduk kambing di Ka’bah. Dan itu menunjukkan bahwa anak Ibrahim yang disembelih adalah yang tinggal di Makkah.
Sedangkan bila mau dikatakan bahwa yang disembelih adalah Ishaq, maka seharusnya tanduk kambing yang digantung itu bukan di Makkah tapi di Baitul Maqdis, Syam.
Dengan demikian, memang kuatlah pendapat yang mengatakan bahwa anak yang disembelih itu adalah Ismail dan bukan Ishak. Baik dengan dalil hadits yang matsur, keterangan tafsir antara satu ayat dengan ayat lain, kenyataan sejarah dan juga logika.
Namun tidak salah juga untuk kita tahu apa hujjah/argumentasi mereka yang mengatakan bahwa anak yang disembelih itu adalah Ishaq.
Ayat Quran
Mereka mengatakan bahwa ayat Quran menyebutkan bahwa Nabi Ibrahim Hijrah dan maksudnya adalah ke Syam (ayat 99). Setelah itu muncul ayat yang menyebutkan kisah penyembelihan anak (ayat 102). Jadi yang disembelih adalah Ishak karena Ishaq yang tinggal di Syam.
Hujjah ini terkoreksi dengan sendirinya, sebab ayat yang menceritakan bahwa Ibrahim hijrah ke Syam (ayat 99) itu disisipi doanya yang meminta anak (ayat 100) dan ayat yang menceritakan diberinya Ibrahim seorang anak (ayat 101). Baru ayat berikutnya kisah tentang penyembelihan (ayat 102). Jadi 4 ayat itu berbeda waktunya. Ayat 99 terjadi ketika beliau hijrah dari Iraq ke Syam, ayat 100 terjadi di Syam ketika beliau belum punya anak, karena bila yang dia sudah punya anak sebelumnya, tidak mungkin doanya minta anak. Lalu ayat selanjutnya di Makkah ketika beliau dianugerahi anak pertama yaitu Ismail (ayat 101) dan berikutnya penyembelihan Ismail itu juga di Makkah (ayat 102).
Comment by multazimah — March 23, 2009 @ 8:17 am
saya tertarik atas ayat Yehezkiel. pertama APABILA ayat itu BENAR dikatakan Tuhan melalui Yehezkiel, kita pasti (tentu saja) terheran2 mengapa Tuhan bicara sekasar itu? bukan kah Tuhan Maha Kudus? Kedua apabila SALAH berarti ada yang memalsukan. apagunanya bila dipalsukan? lalu siapa yg melakukan?Yehezkiel atau oknum lain? bagi saya ayat yehezkiel yang dianggap vulgar memang bagi kita vulgar. tapi bila yang berkata seperti itu Tuhan berarti Ia berkata tampa muatan ngeres seperti yang saya juga pikirkan. Tuhan memberi contoh dalam kemarahannya betapa Ia mengingini UmatNya kembali kepadanya seperti halnya seorang Pria yang jatuh cinta dan mengingini seorang wanita menjadi Istrinya dan tentu saja juga berharap langgeng sampai selamanya. bukankah Tuhan itu Maha Kudus? kalimat seperti ayat Yehezkiel bukanlah ayat ngeres seperti yang pernah saya kira juga.Tapi ada maksud tersirat didalamnya. omong2 Israel pernah diberi kata2 yang sangat keras oleh Tuhan ketika mereka Murtad. kata2 itu sangat keras seperti yang dicatat di kitab suci, terserah Tuhan mau bicara apa kepada mahkluk ciptaanNya. bukankah Dia Maha Tinggi. Maha Kuat. Maha Benar, Maha Kudus? trimakasih sudah bersikap ramah terhadap saya. saya sangat menghargainya
Comment by oskar — March 23, 2009 @ 12:55 pm
mengapa alkitab selalu di perdebatkan? itu karena pada hakikinya manusia selalu mencari kebenaran. tapi kebenaran itu lebih besar dari pemikiran2 manusia. karena kebenaran itu hanya datang dari Tuhan. manusia tidak terdiri atas pikiran saja, tapi hati jiwa dan roh untuk melihat kebenaran. bila mencari kebenaran melalui pikiran maka kebesaran Tuhan tidak akan terlihat diacuhkan ,dipertanyakan atau bahkan dihujat. aku ngefans pada Yesus sebab bagi ku Dia yang paling memperlihatkan dan menjelaskan kebesaran Bapa di surga. Muhammad sendiri pun kagum padaNya. hanya saja bagi kami Yesus adalah Firman Tuhan yang hidup lebih dari nabi yang paling spektakuler. mengapa Yesus tidak boleh memanggil Tuhan dengan sebutan Bapa? bukan kah Yesus juga mengajar bahwa manusia boleh memanggil Tuhan dengan sebutan Bapa? sebab Tuhan berkenan dipanggil Bapa…tidak berhakkah Yesus memanggil Tuhan dengan sebutan Bapa? atau Tuhan memanggil Yesus dengan sebutan AnakKu? bila Yesus dinilai tidak pantas apalagi kita……
Comment by oskar — March 25, 2009 @ 4:04 am
Memang kebenaran itu hanya dari Tuhan, tetapi kebenaran itu bukanlah sesuatu yang tidak bisa dijangkau. Kebenaran yang terkait dengan kauniyah (sunatullah di alam) pasti semuanya tidak bertentangan dengan fitrah manusia (logika&rasio) sedangkan kebenaran yag terkait keyakinan (iman) harus bisa dirujuk dari berita yang telah disampaikan oleh Tuhan tersebut. Itupun pada dasarnya selaras dengan fitrah. Masalah ketuhanan adalah masalah keimanan. Oleh karena itu, informasi tentang “siapa tuhan yang haq disembah”, mutlak harus jelas disebutkan dalam kalamNya. Sehingga manusia tidak lagi ada keraguan tentang siapa Tuhannya.
Anda boleh saja ngefans dengan sosok Yesus, tetapi Anda tidak boleh menjadikan dia sebagai tuhan. Mengapa? Karena di dalam Al-Kitab tidak ada satupun ayat yang mengatakan bahwa Yesus adalah Tuhan. Maka jika Anda menjadikan dia sebagai tuhan, berarti Anda bertentangan dengan kalam Tuhan tersebut. Juga bertentangan dengan logika kemanusiaan Anda. Berbeda sekali, dengan apa yang disebut dalam Al-Qur’an. Di situ sangat jelas disebutkan bahwa Tuhan yang haq disembah hanyalah Allah. “Katakanlah: “Dia-lah Allah, Yang Maha Esa, Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tiada beranak dan tiada pula diperanakkan, dan tidak ada seorang pun yang setara dengan Dia”. (QS Al-Ikhlash:1-4). Maaf, bukan egois, tetapi dari hasil penelitian saya selama ini, saya berkesimpulan bahwa, Hanya Islam satu-satunya agama di dunia yang nyata-nyata menyatakan bahwa Tuhan adalah Esa (Tunggal) ialah Allah SWT.
Maaf, saya bukan tidak hormat pada Yesus (Isa as). Dalam iman saya, Yesus adalah nabi Isa, as. Beliau adalah sosok nabi dan rasul yang cukup dikasihi oleh Allah. Saya sangat mengagumi Beliau. Tetapi, sekali lagi sebanyak apapun kehebatannya, dia tetaplah nabi tidak mungkin bisa menggantikan posisi sebagai Tuhan. Sama posisinya dengan Nabi2 yang lain, seperti Nabi Muhammad, Nabi Musa, Nabi Nuh, Nabi Adam dan lainnya.
Maaf, sampai di sini kita masih berbeda pandangan. Tetapi saya harap, tidak menutup pintu dialog diantara kita. Selamat menemukan kebenaran yang haqiqi. Kebenaran haqiqi tidak akan sampai di hati jika kita menutupinya.
Comment by admin — March 25, 2009 @ 6:13 am
+Tentang Tuhan menyesal? = Pada awalnya Tuhan menciptakan manusia sesuai dengan citraNya dari debu tanah untuk kebaikan. (Tuhan Maha Besar..siapa yang bisa menyelami pemikiran dan kehendakNya) tetapi setelah waktu berjalan manusia tidak seperti yang Tuhan harapkan..dan kebaikan tidak muncul kembali diantara manusia..maka Menyesalah Tuhan..tapi karena kebesaran hatiNya Dia ingin membentuk kembali manusia yang akan taat kepadaNya dan untuk menyebarkan kasih. Maka dipilihlah Nuh..manusia yang takut Tuhan..beserta keluarganya diselamatkan dan keturunannya diharapkan membawa kebaikan.
+Mengenai Tuhan tidak tahu?..= Ketika Tuhan akan menghancurkan Sodom dan Gomora. Dia tahu hal2 mengenai kota2 itu, tapi ketika Dia berkata “Baiklah Aku turun untuk melihat…..” maksudNya Dia mengutus 3 utusan karena Tuhan terlalu Besar dan Kudus untuk hal ’sekecil’ itu.
+Tuhan itu sadis? = ingatkah saudara bahwa Tuhan menghancurkan Sodom dan Gomora dengan kekuatan Nya langsung? apakah anda berani berdoa langsung kepada Tuhan mengapa Dia sadis kepada penduduk Sodom dan Gomora? peperangan Israel yang dipimpin Musa, Yosua, Simson,Daud adalah perintah Tuhan (Jihad) terhadap bangsa2 yang pada waktu itu sesat dan menyembah berhala (banyak yang tersinggung atas isi perjanjian lama ini..) tapi apakah Tuhan tidak adil dan hanya berpihak pada Israel? tidak.. bila Israel murtad.,Tuhan juga akan menghukum Israel..banyak kata2 Tuhan ketika marah terhadap Israel yang tercatat di Alkitab.
+Tentang hanya Tuhan yang pantas di sembah = kami memang hanya menyembah Bapa tidak seperti yang pihak lain kira.Yesus mengajarkan bahwa Bapa di Surga itu Esa. dan DiriNya (Yesus) adalah satu2nya jalan kebenaran dan hidup, tidak ada seorangpun yang akan sampai kepada Bapa bila tidak melalui Dia dan juga Siapa menerima Yesus..dia menerima Bapa yang mengutus Yesus. kami menyembah Bapa melalui Yesus. Inilah iman Kristen yang paling dalam..Yesus adalah firman Tuhan yang hidup..bukankah seseorang dikenal dari kata2 dan perbuatannya?..ketika kami ingin mengenal Bapa..kami berusaha mengenal Yesus dan yang diajarkanNya..Yesus yang menang uji..dan menang dikayu salib. Jika kami menyembah Bapa..kami menyembah melalui FirmanNya yang hidup..
+Tidak boleh melecehkan Nabi2 Tuhan = ketika Daud mengambil paksa istri orang lain hal itu dicatat di Kitab Suci. ketika nabi Yunus lari dari perintah Tuhan hal itu dicatat. Simson bersama wanita penghibur dicatat. Salomo (Sulaiman) menyembah berhala juga dicatat..bukankah Nabi juga manusia? kami memang tidak menghakimi Nabi2 (hanya Tuhan yang boleh) tapi kami tidak menyembunyikan dan tetap tercatat di Alkitab. Bukankah nabi juga manusia? Bukankah mereka tidak boleh di keramatkan citraNya? walau kami tetap menghormati mereka? sebab mereka bertobat dari kesalahannya …kesalahan atau kebaikan semuanya tetap dicatat di Alkitab..(keren kan?). Jika Yesus pernah salah Alkitab pasti akan mencatatnya.
+Tuhan dicobai? = pertanyaan…mana yang berhak jadi hakim? yang pernah korupsi atau yang tidak? Yesus sebagai Firman Tuhan yang hidup di tugaskan Bapa untuk menjadi Manusia, menang dikayu salib dan kembali ke sorga..setelah itu menjadi hakim yang adil. Karena Yesus dengan wujudNya sebagai manusia menang atas pencobaan Iblis maka dia berhak menjadi Hakim atas manusia..karena Yesus pernah menjadi manusia dan pernah di uji seperti kita, hanya saja Dia tidak berdosa.
+mengapa Bapa menjadikan Yesus hakim? = Karena Yesus adalah FirmanNya yang hidup..jadi Yesus lebih tinggi dari malaikat (ketika menjalani hidup sebagai manusia Dia menjadi lebih rendah dari malaikat). Yesus pernah menjalani hidup sebagai manusia (dan menang) dan juga Yesus berkata Dia bersama dengan Bapa yang akan menghakimi.. jadi tidak mungkin Yesus menghakimi dengan tidak adil..
+ maaf aku hanya menerangkan iman Kristen.. aku tidak bermaksud berkotbah..hanya menerangkan..karena aku tidak pantas berkotbah.. karena anda ingin tahu maka saya dengan keterbatasan berusaha menjawab demi kejelasan….terima kasih banyak.
Comment by oskar — March 26, 2009 @ 5:37 am
Tuhan itu kasih..kasih itu universal..orang yang dianggap jahat pun tahu kasih..walau mungkin menghindarinya.. siapa mengenal kasih dia mengenal kebaikan dan kebenaran.. tampa kasih dia tidak mengenal kebaikan dan kebenaran.. karena itu Yesus berkata hal yang terutama adalah +Markus12. 29-31+ ” Hukum yang terutama ialah: Dengarlah, hai orang Israel, Tuhan Allah kita, Tuhan itu Esa. Kasihilah Tuhan,Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu dan segenap kekuataanmu.
Dan hukum yang kedua ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Tidak ada hukum lain yang lebih utama dari pada kedua hukum ini.” saya sering malu pada diri sendiri yang melihat bahwa orang yang tidak pernah tahu ayat ini malah bisa memahami kasih dari saya sendiri yang tahu ayat ini..
Comment by oskar — March 26, 2009 @ 5:54 am
Anak perjanjian adalah Izak itu yang Allah kehendaki, sedang anak perhambahaan adalah Ismail sebagai budak dari Hagar nyang telah diperintah oleh Sarah istri Abram…agar Hagar dan anaknya Ismail diusir.
Perbedaan ; Anak perjanjian adalah Izak yang Allah kehendaki,
sedangkan Ismail disebut budak anak perhampaan tidak berkenan dimata Alloh, tetapi Alloh tetap memberkati Ismail anak perhambaan tetapi hati Allah tidak diperkenankan anak perhambaan Ismail.
Ini perbedaan anak ‘PERJANJIAN DAN ANAK PERHAMBAAN”.
Kuasa Allah yang menentukan hal itu….?
Comment by Mr.Nunusaku — March 27, 2009 @ 8:04 pm
Untuk menambahi Mr. Nunusaku .. ketika Abraham hanya masih beristri Sara Tuhan berfirman (Kej 15. 5) - Lalu Tuhan membawa Abram keluar serta berfirman:” Coba lihat kelangit, hitunglah bintang-bintang, jika kau dapat menghintungnya.”. Maka FirmanNya kepadanya “Demikianlah banyaknya nanti keturunanmu”
Lalu setelah Hagar dan Ismael berpisah dengan Abraham dan membentuk bangsa sendiri. tinggallah Abraham, Sara dan Ishak. dan berfirmanlah Tuhan (kej 22. 18) “Oleh keturunanmulah semua bangsa dibumi akan mendapat berkat, karena engkau mendengarkan firmanKu.”
Lalu lahirlah Nabi2 besar dari keturunan Ishak. mulai dari Yakub, Yusuf, Musa dst. sampai Yesus.
Tapi karena Yesus adalah penggenap Taurat. Maka Yesus berfirman ( YOH 4.21-26) Kata Yesus kepadaNya: “Percayalah kepadaKu, hai perempuan, saatnya akan tiba, bahwa engkau akan menyembah Bapa bukan digunung ini dan juga di Yerusalem. Kamu menyembah apa yang tidak kamu kenal, kami menyembah apa yang kami kenal. sebab keselamatan datang dari bangsa Yahudi. Tetapi saatnya akan datang dan sudah tiba sekarang, bahwa penyembah-penyembah benar akan menyembah Bapa dalam roh dan kebenaran; sebab Bapa menghendaki penyembah-penyembah yang demikian. Allah itu roh dan barang siapa menyembah Dia, harus menyembahNya dalam roh dan kebenaran.”
karena Nabi2 Tuhan dari Ishak adalah Orang Yahudi.. bisa dibilang nabi2 yahudilah perantara manusia dengan Tuhan. Tapi karena digenapi oleh Yesus.. kami tidak lagi melalui nabi2 lagi.. tapi oleh Yesus dan Roh Kudus. banyak perkataan Yesus yang mengecam sebagian Yahudi karena mereka yakin diberkati karena mereka adalah keturunan Abraham. tapi Yesus mengajar bahwa orang harus menyembah dengan Roh kebenaran, yaitu Roh Kudus. (YOH 8. 37-47). (YOH 14. 15-31).
Comment by oskar — March 30, 2009 @ 5:37 am
# Yupz… kasih atau pengasih adalah salah satu sifat dari Tuhan, tapi tidak boleh hanya sebatas itu saja karena Tuhan mempunyai sifat2 yang lain yang sangat banyak. Kalau dalam iman kami, Allahu Ar-Rahman, Ar-Rahiim (Maha pengasih, Maha Penyayang). Tetapi kasih dan saying Allah tidak bisa disamakan dengan kasih dan sayang manusia, karena Tuhan yang haqiqi terbebas dari persekutuan dengan makhluk
# OK, kami pun menerima kasih seperi itu, karena Rasulullah Muhammad SAW pun mengajarkan tentang hal itu, ”Tidak beriman salah seorang diantara kamu sehingga ia mencintai saudaranya seperti ia mencintai dirinya sendiri” (HR Bukhori)
# Siapa yang berkata bahwa anak seorang budak lebih hina dari anak asli? Tuhan Anda tidak pernah membedakan derajat seseorang hanya berdasar keturunan, tetapi berdasar iman. Jika demikian adanya berarti Tuhan menyalahi firmannya bahwa Dia itu kasih. Ismail memang anak Ibrahim dari Hajar, tetapi ia diperistri secara sah oleh Abraham, meski dulunya ia budak dari Sarah.
# Terakhir, perdebatan ini akan semakin panjang jika tidak ada persamaan persepsi diantara kita. Apalagi dibungkus dengan ego dan hawa nafsu saling menjelekkan, bukan untuk melihat kebenaran apa adanya.
Baiklah, Anda menyakini bahwa keselamatan itu hanyalah ada dalam nama Yesus. Namun kami meyakini bahwa keselamatan itu hanyalah ada di dalam Islam dalam artian mengakuai Allah sebagai Tuhan Yang Esa dan mengikuti Nabi Muhammad sebagai Nabi Terakhir.
Pertanyaannya, Mungkinkah kedua pernyataan di atas bernilai benar semua? Kalau kedua-duanya benar pasti mustahil. Mungkinkah kedua-duanya salah? Tidak mungkin.
Tepat sekali, pasti salah satu ada yang salah. Yang mana????
Sama halnya dengan pernyataan berikut:
Islam meyakini bahwa Ismail adalah anak Ibrahim yang diqurbankan, tetapi ummat Kristiani meyakini bahwa anak Ibrahim yang dikurbankan adalah Ishaq.
Tidak mungkin kedua-duanya benar, pasti ada yang salah dan ada yang benar. Yang mana???
Comment by admin — March 30, 2009 @ 7:01 am
Sekali lagi saya katakan bahwa untuk menilai kebenaran terkait keyakinan (aqidah) harus berdasarkan sumber yang otentik yaitu asli dari Tuhan tanpa campur tangan dari manusia bahkan utusanNya sekalipun.
Sekarang coba lihat dan perhatikan Al-Kitab Anda dengan seksama, apakah didalamnya 100% dari Tuhan??
Jika Anda baca Alkitab dengan seksama, ternyata kandungannya adalah 100% kitab Ilahi, dan sekaligus 100% kitab insani, artinya bercampur antara wahyu dan bukan.
Kalau kita teliti membaca Alkitab, kemudian kita pilah-pilah antara firman Allah dan yang bukan, maka akan jelas sekali terlihat Alkitab sebagian besar bukan wahyu Allah.
Ayat-ayat di bawah ini dapat dibedakan mana yang dari Allah, NabiNya, dari penulis Alkitab, dari orang yang dikenal maupun tidak dikenal.
Wahyu Allah :
Lagi firman Allah kepada Abraham :
“Dari pihakmu, engkau harus memegang perjanjian-Ku, engkau dan keturunanmu turun-temurun.inilah perjanjian-Ku, yang harus kamu pegang, perjanjian antara Aku dan kamu serta keturunanmu, yaitu setiap laki-laki di antara kamu harus disunat…” (Kejadian 17 : 9 – 10)
Dari penulis Alkitab :
Dan ketika genap delapan hari & Ia harus disunatkan, Ia diberi nama Yesus, yaitu nama yangj disebut oleh malaikat sebelum Ia dikandung ibu-Nya (Lukas 2 : 21)
Dari Nabi-Nya :
Jawab Yesus: “Aku diutus hanya kepada domba-domba yang hilang dari umat Israel.” (Matius 15 : 24)
Dari orang yang dikenal maupun tidak dikenal :
Teofilus yang mulia, Banyak orang kita, seperti yang disamaikan kepada kita telah berusaha menyusun suatu berita tentang peristiwa-peristiwa yang telah terjadi di antara oleh mereka, yang dari semula adalah saksi mata dan pelayan Firman. (Lukas 1 : 1-3)
Perhatikan dan bedakan lagi contoh ayat-ayat seperti di bawah ini, maka akan terlihat jelas, mana yang wahyu Allah, mana yang dari nabi-Nya, yang dari penulis Alkitab, maupun yang dari orang yang dikenal maupun tidak.
Wahyu Allah :
Akulah Tuhan dan tidak ada yang lain; kecuali Aku tidak ada Allah. Aku telah mempersenjatai engkau, sekalipun engkau tidak mengenal Aku, supaya orang tahu dari terbitnya matahari sampai terbenamnya, bahwa tidak ada yang lain di luar Aku. Akulah Tuhan dan tidak ada yang lain, (Yesaya 45 : 5/6)
Dari Nabi-Nya:
Jawab Yesus : “Hukum yang terutama ialah: Dengarlah, hai orang Israel, Tuhan Allah kita, Tuhan itu esa. “ (Markus 12 : 29)
Dari orang yang dikenal maupun tidak :
Lalu kata ahli Taurat itu berkata kepada Yesus : “Tepat sekali, Guru, benar kata-Mu itu, bahwa Dia Esa, dan bahwa tidak ada yang lain kecuali Dia. (Markus 12 : 23)
Dari penulis Alkitab:
Jadi seluruh kaum Israel harus tahu dengan pasti, bahwa Allah telah membuat Yesus, yang kamu salibkan itu, menjadi Tuhan dan Kristus.” (Lukas / Kis 2 : 36)
Sangat berbeda jauh dengan Al Qur’an, sebab kitab suci umat Islam ini terpisah antara ucapan dan perbuatan nabi-Nya.
Dalam Islam, semua wahyu atau firman Allah dibukukan dalam satu kitab yaitu Al Qur’an. Semua ucapan, tindakan, perbuatan dan aturan yang dicontohkan oleh Nabi Muhammad saw. dibukukan dalam satu kitab tersendiri yaitu kitab Hadits. Dan sejarah perjalanan hidup beliau juga dibukukan dalam kitab yang lain lagi, yaitu kitab Sirah Nabawiyah. Jadi jelas tidak bercampur, sehingga siapapun bisa menilai perbedaannya antara kitab suci Al Qur’an dan Alkitab (Bible).
Di dalam kitab suci agama Kristen (Alkitab) semuanya bercampurh menyatu di dalamnya, sehingga sulit dibedakan mana yang benar-benar wahyu atau firman Allah, mana yang ucapan rasul atau nabi-Nya, mana ucapan atau pendapat penulis Alkitab itu sendiri, mana cerita-cerita sejarah, mana yang hanya cerita atau informasi dari orang-orang yang dikenal maupun yang tidak dikenal dan lain-lain. Semuanya menyatu dan tidak dipisahkan
Comment by admin — March 30, 2009 @ 7:02 am
Untuk no 19: Tuhan memang tidak melihat Ras, suku bangsa.. ketika Dia memilih Daud menjadi Raja, Tuhan berfirman pada Nabi Samuel (1 Samuel16. 7) Tetapi berfirmanlah Tuhan kepada Samuel: “janganlah pandang parasnya atau perawakannya yang tinggi, sebab aku telah menolaknya. Bukan yang dilihat manusia yang dilihat Allah; manusia melihat apa yang didepan mata, tetapi Tuhan melihat hati.” ini tandanya bahwa Tuhan tidak peduli warna kulit kita. karena yang dilihatNya adalah hati kita.
saya juga sudah menulis di no 9 dan 10. bila saya adalah orang Arab pasti saya juga tersinggung atas kitab perjanjian baru ini. tapi lama2 saya berpikir saya tidak peduli apakah Tuhan lebih sayang saya atau adik saya. yang penting kan Tuhan mempunyai kasih setia terhadap saya. tentang siapa yang lebih dikasihi? mari kita berlomba2 dalam kasih dan kebaikan.
Untuk no 20: Alkitab memang sebagian berisi Firman Tuhan yang ditulis Nabi2 dan saksi2. berisi sejarah. berisi Puji2an (Mazmur Daud). berisi ajaran2 (Amsal Salomo) dan nubuat2. Bila Tuhan memberkati dan mengutuk hal itu ditulis. kebaikan dan keburukan orang2 ditulis. semuanya ditulis. Alkitab tidak sentralis diceritakan oleh satu pihak saja, tapi juga sangat banyak pihak karena ditulis oleh Banyak Nabi2 dan saksi yang ajaibnya kita bisa menemukan keterkaitan. seperti nubuat2 Nabi Musa dan Yesaya yang jadi kenyataan dijaman Yesus. padahal Musa dan Yesaya berbeda ratusan Tahun. dan Yesaya dengan Yesus juga ratusan tahun. Nabi Daniel juga menulis Nubuat yang jadi kenyataan dijaman sekarang. (kita bahas nanti jika ada yang ingin tahu). Alkitab bagi saya tidak bisa dibaca sambil lalu seperti koran atau buku. selain berisi Firman Tuhan langsung terhadap manusia tapi juga ada pesan2 tersembunyi dan hikmah2 yang ada dalam kisah tokoh2nya. seperti ketaatan Abraham dan Musa mengikuti Tuhan walau Tuhan belum memberi tahu hal2 dimasa depan.. ketabahan Ayub. kesetiaan Yusuf dan Daniel pada Tuhan dinegeri asing. ketidakmauan Daud membunuh Saul karena walau Saul murtad bagaimanapun Saul pernah diberkati Tuhan jadi Raja. Keberanian Elia yang seorang diri menghadapi dukun2 sesat bangsa Israel. dan masih banyak lagi. seperti yang anda bilang. semua menyatu dan tidak bisa dipisahkan. dan Tuhan selalu ada dalam perjalanan tokoh2 dalam Alkitab.
Comment by oskar — March 30, 2009 @ 1:00 pm
maaf untuk meralat dan menambah tulisan saya di no 13: maksud saya = “bila mencari kebenaran - hanya - dengan pikiran saja…… saya sependapat bahwa kita harus mencari kebenaran dengan segenap pikiran,hati jiwa dan roh.
Comment by oskar — April 2, 2009 @ 4:54 am
islam is the best
kristen is the boss…………………………………..oK!!
Comment by muslim sejati — April 17, 2009 @ 3:27 am
walaupuin beda agama tp jaga persatuan
Comment by muslim sejati — April 17, 2009 @ 3:38 am
Bang Nafry, kalau mau melihat persamaannya di ISLAM IN THE BIBLE (Thomas McElwain), kalau sebab- sebab perbedaannya di MUHAMMAD IN THE BIBLE (Rev. David Benjamin Keldani)
Comment by Capunk — June 16, 2009 @ 3:22 am
saya senang menulis disini karena saya bisa berdiskusi tentang segala hal tanpa harus saling menyerang karena kita hanya berdiskusi dengan tidak menyerang atau tidak menghormati kepercayaan satu sama lain. terus terang saya senang anda mengajukan pertanyaan terhadap alkitab perjanjian lama dan baru. mungkin kita bisa berdiskusi dan membicarakanya
adakah yang anda ingin ketahui lagi? mungkin saya bisa menjawabnya. sekali lagi ini bukan untuk mengkotbahi anda karena saya tidak pantas untuk itu. saya hanya ingin berdiskusi bila ada yang anda ingin tanyakan.
Kita bisa secara bebas menceritakan pandangan masing2 untuk saling mengenal. bukan untuk menyerang satu sama lain tapi untuk menambah dan saling mengenal pengetahuan dan pandangan kita.
salam
Comment by oskar — June 17, 2009 @ 12:43 pm
Maaf bila tulisan saya di no 26 ada kesan sinistis. tapi sejujurnya saya merasa tidak keberatan atas pertanyaan2 anda terhadap alkitab perjanjian lama atau baru. Memang pertanyaan anda bisa dikatakan menyerang hal2 yang cukup meragukan dalam alkitab. tapi bagi saya pertanyaan anda justru menggambarkan rasa ingin tahu anda pada alkitab. Sejujurnya saya percaya pada alkitab awalnya karena ortu saya memang kristen. tapi setelah sering mendengar kotbah para pendeta. saya makin memahami tentang segala sesuatu yang tertulis di alkitab. termasuk hal2 yang ‘meragukan’ tadi. tapi sekali lagi bukan berarti aku orang beriman tebal. hanya saja secara teori saya kebetulan kurang lebih tahu jawabannya.
Saya bercerita pengalaman saya menulis di blok ini dan saya ditertawakan oleh teman2 saya karena mereka menilai saya tidak pantas menjawab karena saya bukan lulusan teologia atau beriman tebal. Sejujurnya saya tidak merasa tersinggung dan justru merasa yang dikatakan mereka memang benar. Sejujurnya saya memang merasa tidak pantas menerangkan alkitab walau saya kurang lebih tahu secara teori2nya.
Karena itu saya dengan rasa malu menarik pernyataan saya di nomor 26. saya memang merasa tidak pantas untuk menerangkan segala sesuatu tentang alkitab walau secara teori.
Secara pribadi saya menghargai pertanyaan2 seperti -’11 pertanyaan yang mustahil kristen bisa menjawab’- bagi saya pertanyaan2 itu bukan menyerang. tapi mengajak berdiskusi. dan penuh rasa ingin tahu karena sebagian orang kristen terutama yang mendalaminya mungkin tahu semua jawabannya, tapi semuanya kembali berpulang pada masing2 pribadi karena ini merupakan keyakinan.
tapi tentu saja kita boleh bertanya segala sesuatu tentang dan kepada alkitab. karena Tuhan sudah memberi kodrat pada manusia untuk mencari tahu tentang segala sesuatu terutama kebenaran. terima kasih
Comment by oskar — July 21, 2009 @ 11:08 am