Manajemen Raih Surga
Rasulullah SAW bersabda, Tidak seorang pun di antara kalian yang akan diselamatkan (masuk surga) oleh amal perbuatannya. Seorang lelaki bertanya: Demikian engkau, wahai Rasulullah? Rasulullah SAW menjawab: Ya, demikian halnya aku, hanya saja Allah melimpahkan rahmat-Nya kepadaku akan tetapi tetaplah kalian berusaha berbuat dan berkata yang benar
Hiruk-pikuk kehidupan telah membuat sekian banyak manusia lupa dari tujuan hidup mereka yang sesungguhnya. Berapa banyak manusia tiap detik kehidupannya senantiasa disibukkan dengan rutinitas yang tidak terpetakan. Hampir-hampir mereka tidak mengetahui mana aktifitas yang sesuai dengan tujuan hidup dan mana aktifitas yang bertentangan dengan tujuan hidup (sia-sia). Atau boleh jadi mereka tahu, tetapi tidak mau mengefektifkan aktifitas yang benar-benar sesuai dengan tujuan hidupnya. Atau boleh jadi mereka tahu dan mau tetapi tidak punya kemampuan dalam memilahnya karena rendahnya semangat (himmah) dalam dirinya. Bahkan yang lebih parah, ada sebagian manusia yang memang benar-benar tidak mengetahui dan memahami apa sebenarnya tujuan hidupnya.
Apa tujuan hidup kita sesungguhnya? Mungkin sebagian kita kurang memahaminya, tetapi ada satu istilah yang sangat familiar bagi kita, yaitu surga dalam bahasa Al-Qur’an disebut al-jannah. Dan ternyata hampir semua orang menginginkannya. Kita semua ingin masuk surga, meskipun sampai saaat ini kita belum pernah melihatnya. Itukah sebenarnya tujuan hidup kita? Jawabnya bisa iya, bisa tidak Benarkah surga merupkan kenikmatan yang paling agung? Jawabnya bisa iya, juga bisa tidak. Memang kenikmatan surga sangat luar bisa, belum pernah terlihat mata, belum pernah terdengar telinga dan belum pernah terdetak dalam hati. Tetapi ternyata para penghuni surga belum merasakan kenikmatan yang sesungguhnya jika mereka belum bertemu dan melihat wajah Allah Azza wa Jalla.
Dari kisah tersebut, kita pahami surga yang selama ini menjadi tujuan kita ternyata hanyalah sebagian kecil dari hadiah yang diberikan Allah kepada kita kelak di akhirat. Mengapa? Karena ternyata amal yang kita lakukan selama di dunia tidak seimbang untuk menebus kenikmatan surga. Amalan kita tidak ada artinya sama sekali dibandingkan dengan nikmat Allah SWT yang telah dicurahkan kepada kita selama di dunia dan insya Allah kelak di akhirat. Rasulullah SAW bersabda, Tidak seorang pun di antara kalian yang akan diselamatkan (masuk surga) oleh amal perbuatannya. Seorang lelaki bertanya: Demikian engkau, wahai Rasulullah? Rasulullah SAW menjawab: Ya, demikian halnya aku, hanya saja Allah melimpahkan rahmat-Nya kepadaku akan tetapi tetaplah kalian berusaha berbuat dan berkata yang benar. (Shahih Muslim No.5036)
Rahmat Allah lah yang akan mengantarkan kita sukses memasuki surgaNya. Dan itulah yang hendaknya menjadi tujuan kita selama proses dalam kehidupan ini. Rahmat Allah akan kita peroleh jika Allah senantiasa Ridho pada kita. Hanya dengan ’amal, niscaya rahmat Allah akan bisa kita raih. Maka dari itu Rasulullah mengingatkan, tetaplah kalian berusaha berbuat dan berkata yang benar dalam riwayat lain karena itu bertindaklah yang lurus (baik dan benar). Inilah inti dari tujuan penciptaan kita, dimana Allah akan melihat amal ibadah seorang hamba. Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku.
Meminjam istilah manajemen industri, ada 3 amal ibadah (baca aktifitas) manusia yang pasti dilakukan dalam setiap proses hidupnya, yaitu valuable activities, unvaluable activities dan loss activities. Valuable activities adalah segala jenis dan bentuk aktifitas yang mempunyai nilai dan manfaat yang bisa mengantarkan manusia sukses mencapai tujuan akhir kehidupannya, yaitu surga. Unvaluable activities adalah segala aktifitas mubah yang bisa mendukung tercapainya tujuan hidup. Sedangkan loss activities merupakan segala aktifitas yang menyimpang dari tujuan hidup manusia atau segala jenis dan bentuk kesia-siaan dan kerugian dalam hidup atau segala aktifitas dunia yang justru akan mengantarkan pada kehidupan yang hina di akhirat yaitu neraka. Agar manusia sukses dalam menggapai tujuan hidup yang sesungguhnya maka mereka harus mampu memanage ketiga tipe aktifitas tersebut dengan benar. Senantiasa meningkatkan valuable activities, mengurangi unvaluable activities dan menghilangkan loss activities.
Valuable, unvaluable dan loss actifities terbagi menjadi dua bagian yaitu amalan fisik (physical) dan amalan hati (emotion). Amalan fisik secara zhohir dapat dilihat (visible actifities), sedangkan amalan hati tidak bisa dilihat secara zhohir, hanya bisa dirasakan (unvisible actifities). Baik physical activities maupun emotion activities keduanya bisa menentukan kualitas seseorang. Belum tentu seseorang yang amalan fisiknya bagus serta merta diikuti oleh bagusnya amalan hati. Pada beberapa keadaan, rusaknya amalan hati justru lebih membahayakan dari pada rusaknya amalan fisik. Makanya tak heran dahulu Rasulullah mengingatkan, Laa yad-khulul jannah man kaana fii qolbihi mitsqola dzarratin minal kibr, tidak akan masuk surga barang siapa yang di dalam hatinya ada kesombongan (al-kibr) meski seberat dzarrah. Tetapi di sisi lain Rasulullah juga bersabda, Barang siapa di akhir hayatnya mengucap Laa Ilaaha Illallah maka ia akan masuk surga. Dari dua hadits tersebut kita bisa menyimpulkan bahwa ada kaitan yang sangat erat antara amalan hati dengan amalan fisik. Ucapan Laa Ilaaha Illallah adalah cerminan dari amalan fisik seorang hamba yang akan menjadi tabiat (build in) jika seseorang benar-benar istiqomah dalam amal ibadah. Sedangkan al-kibr merupakan penyakit hati yang tidak mungkin akan bersatu dengan tauhid. Artinya, tidak mungkin orang yang sombong -dalam arti menolak kebenaran dan menghinakan manusia- di saat itu pula di dalam hatinya tertanam tauhid yang benar.
Valuable actifities berupa amalan fisik cenderung mudah kita kontrol karena secara kasat mata bisa kita lihat. Misalnya sholat, puasa, zakat, haji, tilawah Al-Qur’an, bekerja, belajar. Semua bentuk amalan tersebut baru bernilai jika diikuti hadirnya amalan hati berupa yakin, ikhlas, pasrah, jujur, cinta, harap dan takut. Dan ternyata bentuk-bentuk amalan hati inilah yang menentukan kualitas amalan fisik, apakah amalan tersebut diterima ataukah sia-sia. Oleh karena itu cukup beralasan jika kita menyiapkan kehadiran hati sebelum, saat dan setelah melakukan setiap amalan fisik, apapun bentuk dan jenisnya.
Loss actifities juga bisa berupa visible actifities maupun unvisible actifities. Dalam kehidupan sehari-hari terdapat banyak sekali loss actifities yang mungkin sering dilakukan oleh manusia, yaitu yang biasa kita kenal dengan istilah dosa besar dan dosa kecil. Dari sekian banyak bentuk dan jenis dosa tersebut ada beberapa yang bisa menyebabkan pelakunya kekal di neraka, yaitu syirik (menyekutukan Allah) baik syirik yang visible maupun yang unvisible. Sebagai seorang muslim sejati, sudah menjadi kebutuhan bagi kita untuk senatiasa mengurangi bahkan menghilangkan segala bentuk loss actifities. Memang kita tidak mungkin bersih dari dosa, apalagi dosa-dosa kecil yang sangat banyak bertebaran bagai debu di sekitar kita, tetapi ada alat pembersih dosa yang disiapkan oleh Allah untuk kita yaitu taubat. Salah satu bentuknya dengan memperbanyak istighfar.
Antara valuable actifities dan loss actifities secara jelas bisa kita bedakan dengan mudah. Dimana valuable actifities pasti akan mengantarkan pada surga dan keridhaan Allah, sedangkan loss actifities akan mengantarkan pelakunya menuju neraka dan kemurkaan Allah. Namun, yang sering menjadi abu-abu justru unvaluable actifities karena actifitas ini bisa mengarah pada valuable actifities juga sebaliknya bisa menjadi loss actifities. Di sinilah seorang muslim dituntut jeli dalam menyikapinya. Di sini pula tingkat keislaman seseorang bisa dilihat.
Dari Abu Hurairoh rodhiallohu ‘anhu, dia berkata: “Rosululloh sholallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda: “Sebagian tanda dari baiknya keislaman seseorang ialah ia meninggalkan sesuatu yang tidak bermanfaat baginya.” (Hadits hasan, diriwayatkan Tirmidzi dan lainnya). Di sini pembicaraannya tidak hanya sekedar halal atau haram, dosa atau tidak tetapi sudah satu tingkat lebih tinggi yaitu manfaat atau tidak manfaat. Dalam artian, mereka sudah terbiasa melakukan pengendalian diri (self control) dalam amalan-amalan mubah, dengan hanya melakukan amalan mubah yang manfaat, yang bisa mendukung valuable actifities. Dengan demikian pribadi seperti ini sudah sangat jauh dari amalan-amalan haram, dosa dan maksiat yang nyata-nyata akan mengantarkan pada kemurkaan Allah.
Allah memberi amanah waktu kepada kita hanya 24 jam dalam sehari semalam. Kita bebas menggunakan waktu tersebut untuk apa saja yang kita kehendaki. Kita pun boleh tidak menggunakan sama sekali waktu tersebut. Namun, yang pasti tidak akan ada penambahan jatah waktu sesibuk apapun kita saat itu, juga tidak akan ada pengurangan seluang apapun kita saat itu. Jika saat itu kita melakukan loss actifities berupa segala bentuk dosa dan maksiat maka kemurkaan Allah sangat dekat dengan kita. Jika kita melakukan valuable activities berupa segala bentuk ibadah dan ketaatan maka keridhaan Allah sangat dekat.
Ridho atau murka Allah, surga atau neraka? Kita sendiri yang memilih. Di sisi lain kita juga tau bahwa surga tidak sebanding dengan amal kita meskipun sepanjang hidup kita melakukan amal baik. Apalagi jika kebanyakan waktu kita habis hanya untuk amal sia-sia. Sangat ironis jika ada seorang hamba yang menginginkan surga namun waktunya dihabiskan hanya untuk dosa dan maksiat. Sangat ironis ada seorang hamba merindukan perjumpaan dengan Allah namun waktunya habis hanya untuk hal-hal yang tanpa manfaat. Matanya untuk melihat hal-hal yang tanpa manfaat bahkan mengundang dosa dan maksiat, seharian mantengin televisi, melihat gambar dan foto-foto murahan, akses internet berlebih tanpa ada manfaat. Telinganya untuk mendengar suara-suara yang sia-sia meskipun boleh, berupa aneka musik barat, jazz, rock, dangdut, keroncong dan sejenisnya. Dan anehnya mereka merasa tidak nyaman saat mendengarkan nasihat, taushiyah, lantunan tilawah Al-Qur’an. Lisannya untuk berucap dan berkata-kata tanpa manfaat berupa ghibah, cacian, kata-kata kotor, membaca bacaan-bacaan penuh sampah. Ketahuilah, semua itu merupakan kesia-siaan yang akan menghalangi kita dalam meniti jalan menuju surga dan ridho Allah.
Tulisan ini juga dimuat di warnaislam.com
Sungguh kita tak akan bisa masuk syurga dengan amalan pribadi kita belaka karena kita tak pernah yakin amalan kita diterima olehNya ataukah tidak, karena penyakit hati begitu genjar merusakkan amalan kita..so..lets be a murobbi mengumpulkan pahala-pahala yang tak terduga kalimat ajakan kebaikan yang terlantun kemudia diamalkan oleh yang mendengar maka pahala yang mendengar lalu mengamalkan akan mengalir kepada yang menasihati tanpa mengurangi pahala yang melakukan..subhanallah..kuncinya semoga kita bisa menjaga keistiqomahan sehingga tidak ada kaburomaqtan’indallaahi antaquuluu maa laa taf’aluun..amiin
Comment by hurun'in — November 2, 2008 @ 4:12 am