<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<!-- generator="wordpress/1.5.1-alpha" -->
<rss version="2.0" 
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
>

<channel>
	<title>***Komitmen Muslim Sejati***</title>
	<link>http://multazimah.blogsome.com</link>
	<description>Yang Komitmen dalam berIslam</description>
	<pubDate>Mon, 23 Mar 2009 10:22:13 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=1.5.1-alpha</generator>
	<language>en</language>

		<item>
		<title>Mohon Do&#8217;a Restu</title>
		<link>http://multazimah.blogsome.com/2009/03/23/mohon-doa-restu/</link>
		<comments>http://multazimah.blogsome.com/2009/03/23/mohon-doa-restu/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 23 Mar 2009 08:33:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>multazimah</dc:creator>
		
	<category>Info</category>
		<guid>http://multazimah.blogsome.com/2009/03/23/mohon-doa-restu/</guid>
		<description><![CDATA[	

]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[	<p><a href="http://mmujari.blogspot.com"><img src='/images/barnerundangan460px.jpg' alt='' /></a>
</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://multazimah.blogsome.com/2009/03/23/mohon-doa-restu/feed/</wfw:commentRss>
	</item>
		<item>
		<title>INDONESIAKU: Don’t Fear To Dream, Nothing Is Impossible</title>
		<link>http://multazimah.blogsome.com/2009/01/28/p101/</link>
		<comments>http://multazimah.blogsome.com/2009/01/28/p101/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 28 Jan 2009 12:11:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>multazimah</dc:creator>
		
	<category>Renungan</category>
		<guid>http://multazimah.blogsome.com/2009/01/28/p101/</guid>
		<description><![CDATA[	Pada awal tulisan ini saya mengajak pembaca untuk memejamkan mata sejenak, tarik nafas dalam-dalam, kosongkan pikiran dan coba kembalilah pada kehidupan Anda di masa-masa yang lalu. Tengoklah ke belakang, 5, 10, 20 atau 30 tahun yang lalu. Bayangkan saat itu ibu bapak Anda bercerita tentang seputar Indonesia tercinta. Apa persepsi Anda tentang Indonesia saat itu?
	Sekedar [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[	<p>Pada awal tulisan ini saya mengajak pembaca untuk memejamkan mata sejenak, tarik nafas dalam-dalam, kosongkan pikiran dan coba kembalilah pada kehidupan Anda di masa-masa yang lalu. Tengoklah ke belakang, 5, 10, 20 atau 30 tahun yang lalu. Bayangkan saat itu ibu bapak Anda bercerita tentang seputar Indonesia tercinta. Apa persepsi Anda tentang Indonesia saat itu?</p>
	<p>Sekedar mengingat-ingat masa lalu yang mungkin saat ini masih terngiang. Hampir setiap kesempatan kita disuguhi dengan cerita-cerita indah nan memukau seputar Indonesia, tanah air tercinta. Saat menjelang tidur ibu bapak kita senantiasa menyajikan cerita pengantar tidur yang membuat terlena, bahwa Indonesia adalah negara yang kaya raya, subur dan makmur. Indonesia memiliki aneka hasil tambang yang berlimpah yang bisa digunakan sepanjang masa, mulai dari emas, perak, tembaga, bijih besi, timah, nikel, bauksit dan sejenisnya. Indonesia memiliki aneka obyek wisata yang menjanjikan keindahan dan kesejukan. Indonesia memiliki lautan yang sangat luas yang didalamnya terkandung berbagai hasil laut yang bernilai seperti mutiara, permata, ikan, udang, tiram, rumput laut dan semacamnya. Bumi Indonesia diliputi hutan-hutan dan aneka tumbuh-tumbuhan yang menghijau membentang dari sabang sampai merauke.</p>
	<p>Tidak hanya itu, dalam dokumen-dokumen pendidikan di sekolah-sekolah pun kita menemukan informasi-informasi semisal yang membenarkan cerita ibu bapak kita tersebut. Semasa itu kita pasti hafal istilah zamrud khatulistiwa. Sebuah istilah untuk menggambarkan betapa indah dan kayanya nusantara. Kita juga kenal istilah negara kepulauan untuk penyebutan Indonesia karena memang secara geografis memiliki ribuan pulau. Setidaknya ada sekitar 17.504 buah pulau yang terdiri dari 7.870 pulau telah memiliki nama dan 9.634 pulau belum bernama . Saat itu tentunya tidak asing bagi kita sebuah lagu nasional karya R.Suharjo, Dari sabang sampai merauke, berjajar pulau-pulau. Sambung-menyambung menjadi satu. Itulah Indonesia.  Ada lagi istilah yang sangat akrab kita dengar yaitu negara maritim yang biasa juga kita sebut negara kelautan, karena secara geografis Indonesia memiliki wilayah laut yang sangat luas yaitu 3.257.483 km² atau 12 mil zona resmi diukur dari batas daratan Indonesia yang luasnya 1.922.570 km².   Satu lagi istilah yang paling mudah “dipolitisir”, yaitu negara agraris yang menggambarkan bahwa Indonesia merupakan wilayah potensial untuk mengembangkan sektor pertanian dan perkebunan. </p>
	<p>Sekarang mari kita kembalikan memori kita pada kondisi saat ini. Benarkah Indonesia memang seperti cerita-cerita tersebut? Jika Anda menjawab salah, berarti cerita-cerita orang tua dan guru-guru kita tersebut adalah kebohongan belaka. Berarti ada kesalahan fatal dalam buku-buku referensi pendidikan di sekolah-sekolah. Jika Anda menjawab benar, tapi mengapa sekarang kita lihat Indonesia tidak seindah dalam cerita-cerita tersebut. Justru kita lihat banyak ketimpangan di sana sini. Kemiskinan dan kelaparan terjadi di mana-mana. Pengangguran telah menjadi pekerjaan tetap. Perkampungan kumuh kita jumpai di mana-mana. Hutan-hutan telah menjadi gundul. Sehingga jangan heran jika ada istilah yang sangat kontras, Kemiskinan di Zamrud Khatulistiwa </p>
	<p>Kemana perginya keindahan aliran sungai dan samudra yang bernyanyi riang memecah kesunyian? Kemanakah gerangan bersembunyinya mutiara dan permata yang tersimpan di dasar samudra? Kemanakah gerangan larinya emas, perak, intan, tembaga dan teman-temannya dari bumi Indonesia? Kemanakah menghilangnya tanah-tanah yang subur? Kemana pula pudarnya warna hijau bumi Indonesia?. Masih pantaskah Indonesia mendapat gelar zamrud khatulistiwa?</p>
	<p>Ironis, mungkin itulah yang terjadi dengan Indonesia saat ini. Namun bukan berarti tidak akan pernah ada perbaikan di bumi Indonesia. Kita semua yang adalah agen perbaikan itu, termasuk yang saat ini sedang membaca tulisan ini. Ada beberapa prinsif yang mesti kita tanamkan dalam diri kita dan generasi yang akan datang untuk meretas perbaikan di bumi Indinesia. Setidaknya ada tiga prinsif yang efektif, yaitu keyakinan, perubahan dan kesungguhan. </p>
	<p>1. Keyakinan (believe)</p>
	<p>Keyakinan adalah sumber kekuatan yang tiada batas (unlimited power) dalam diri setiap manusia. Dengan keyakinan yang mantap seseorang bisa melakukan apa saja sesuai apa yang diyakini tersebut. Bahkan hanya karena keyakinan seseorang rela mengorbankan apa saja yang dimiliki termasuk jiwanya. Keyakinan mutlak diperlukan pertama kali dalam mewujudkan perbaikan di bumi Indonesia. Sebab, keyakinan akan menumbuhkan rasa percaya diri (confidence) yang akan mengantarkan pada terpupuknya tekat dan semangat juang (spirit) yang terus berkobar. </p>
	<p>Indonesia saat ini memiliki jutaan manusia yang potensial untuk perbaikan. Hanya saja potensi mereka masih belum ”dimunculkan”. Mereka laksana singa yang masih tertidur. Untuk membangunkan singa tersebut tidak mudah, perlu power yang besar. Pertama, harus diyakini bahwa kita adalah bangsa yang merdeka baik secara fisik maupun mental. Kemerdekaan yang kita miliki bukan hanya sekedar kamuflase, tetapi sebuah kekuatan yang dahsyat. Keyakinan akan kemerdekaan harus bisa menumbuhkan semangat untuk senantiasa melawan segala bentuk penjajahan, berupa penjajahan ideologi, politik, ekonomi kapitalis, sosial, budaya, pertahanan dan keamanan. Kita adalah bangsa yang merdeka, yang mempunyai kedudukan sejajar dengan negara-negara besar semisal Amerika, German, Inggris, Belanda, Jepang dan lainnya. Oleh karena itu tidak ada alasan sedikitpun bagi bangsa Indonesia mengorbankan kemerdekaan demi keuntungan para kapitalis dunia.</p>
	<p>Kedua, kita harus yakin bahwa bangsa Indonesia mempunyai potensi yang sangat luar biasa, baik potensi sumber daya manusia maupun sumber daya alam. Semua potensi tersebut adalah asset yang tidak boleh kita gadaikan untuk mengeruk keuntungan semu (apparent profit) dengan mengorbankan masa depan bangsa dan negara. Maka dari itu tidak dibenarkan bagi bangsa Indonesia melakukan pengkerdilan ilmuwan, penjualan aset-aset strategis negara, eksploitasi tenaga-tenaga kerja wanita dan pembodohan masyarakat. Kita harus percaya diri dengan potensi yang kita miliki untuk kemudian mengoptimalkannya untuk menyongsong perbaikan Indonesia. </p>
	<p>Ketiga, harus diyakinkan dalam diri bahwa tiada yang mustahil di dunia ini (nothing is impossible). Oleh karena itu jangan sekali-kali takut untuk ”bermimpi”, don’t fear to dream, karena boleh jadi mimpi tersebut tidak mustahil akan terwujud. Mari kita senantiasa memimpikan Indonesia ke depan yang lebih baik.</p>
	<p>2. Perubahan (change)</p>
	<p>Ada sebuah ungkapan yang cukup menarik untuk kita renungkan. ”Setiap perubahan tidak selalu menuju pada perbaikan, tetapi setiap perbaikan dimulai dari perubahan”. Perubahan ke arah yang lebih baik, itulah yang kita harapkan untuk bangsa ini. Bukan justru perubahan ke arah yang lebih buruk dari saat ini. Mungkinkah itu bisa terwujud? Jawabnya sangat mungkin karena nothing is impossible. Hanya saja, apa peran yang bisa kita sumbangkan untuk perbaikan tersebut? Akankah kita jadi ”pemain” atau cukup sebagai ”penonton”? Itu pilihan dan kita bebas memilihnya. </p>
	<p>Kembali ke permasalahan, bahwa perbaikan Indonesia yang kita cita-citakan senantiasa dimulai dari perubahan. Jika kita telah membulatkan tekat memilih menjadi pemain, maka tidak boleh tidak kita harus melakukan perubahan. Langkah pertama untuk melakukan perubahan adalah dengan memperbaiki paradigma berpikir, menggeser atau bahkan merubahnya. Kebanyakan kita berpandangan bahwa memperbaiki negeri ini adalah tugas pemerintah saja bukan tugas kita. Inilah paradigma yang salah, yang mesti kita geser. Perbaikan negeri ini adalah tugas kita semua karena itu merupakan percerminan dari cinta tanah air. Bukankah cinta tanah air adalah bagian dari iman? </p>
	<p>Ada juga sebagian kita yang memandang bahwa selamanya Indonesia tidak akan pernah bisa diperbaiki, tidak ada harapan lagi untuk kejayaan Indonesia. Siapa yang bilang? Ada lagi yang senantiasa puas dengan ”kenyamanan” semu yang mereka rasakan saat ini sehingga tidak ada kemauan untuk merubah diri padahal sebenarnya mereka tertekan kebebasannya. Paradigma-paradigma semacam itulah yang saat ini membelenggu bangsa kita sehingga perbaikan yang diimpikan menjadi semakin jauh.</p>
	<p>Langkah berikutnya adalah adanya kemauan menerima perbedaan. Kita sadar bahwa Indonesia terdiri dari berbagai suku bangsa, agama, suku dan ras. Itu semua adalah perbedaan yang riil kita temui di sekitar kita. Perbedaan itu ada bukan untuk saling menjelekkan atau mengunggulkan kelompoknya masing-masing, tetapi perbedaan yang ada justru untuk dianyam menjadi ikatan yang kokoh untuk mewujudkan perbaikan di bumi Indonesia. Tidak ada tempat bagi nurani kita memperturutkan nafsu keangkuhan dan menganggap diri kita yang paling benar. Jika perbedaan yang ada tidak bisa kita terima secara sadar maka sampai kapanpun perubahan tidak akan pernah terwujud, apalagi perbaikan Indonesia.</p>
	<p>3. Kesungguhan (seriousness)</p>
	<p>Setelah keyakinan dan perubahan menyatu dalam diri (build-in) maka harus ditopang dengan kesungguhan (seriousness). Keyakinan tanpa perubahan adalah sebuah angan-angan kosong. Sedangkan keyakinan dan perubahan tanpa adanya kesungguhan adalah laksanan sebuah kesia-siaan yang akan hilang di tengah jalan. Jalan kita menuju perbaikan amatlah panjang. Diperlukan kesungguhan yang tinggi untuk meraihnya. </p>
	<p>Sebagai bangsa Indonesia yang senantiasa menghendaki perbaikan, maka sudah sepantasnya kita bersungguh-sungguh ikut menjadi ”pemain” dalam mengupayakan perbaikan tersebut. Kesungguhan bisa kita mulai dari hal-hal yang kecil yang ada disekitar kita. Kesungguhan memperbaiki diri, memperbaiki keluarga dan mendidik anak adalah bagian dari proyek besar perbaikan Indonesia ke depan. Kemudian dilanjutkan sedikit-demi sedikit memperbaiki masyarakat, bangsa dan negara. Tugas kita sebagai generasi muda masih sangat banyak. Diantaranya, menghijaukan bumi Indonesia dari kegersangan, menjaga mutiara dan permata di lautan Indonesai yang luas terbantang, mengembalikan hasil-hasil tambang bumi Indonesai untuk kemakmuran rakyat Indonesia bukan untuk para penjajah ekonomi, menyuburkan kembali tanah-tanah pertanian dan mengembalikannya kepada para petani agar mereka bahagia dengannya, mengembalikan aset-aset strategis negara yang saat ini pergi entah kemana, mengembalikan gelar Indonesia menjadi zamrud khatulistiwa. Sehingga tiada lagi kita dengar adanya kemiskinan di zamrud khatulistiwa. </p>
	<p>Keyakinan, perubahan dan kesungguhan itulah modal dasar kita untuk mewujudkan perbaikan di negeri ini. Mari kita bulatkan tekat, eratkan tangan, satukan langkah menuju mimpi besar kita, INDONESIA ADIL SEJAHTERA</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://multazimah.blogsome.com/2009/01/28/p101/feed/</wfw:commentRss>
	</item>
		<item>
		<title>Manajemen Raih Surga</title>
		<link>http://multazimah.blogsome.com/2008/10/21/manajemen-raih-surga/</link>
		<comments>http://multazimah.blogsome.com/2008/10/21/manajemen-raih-surga/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 21 Oct 2008 09:46:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>multazimah</dc:creator>
		
	<category>Nashihat</category>
	<category>Renungan</category>
	<category>Dakwah</category>
		<guid>http://multazimah.blogsome.com/2008/10/21/manajemen-raih-surga/</guid>
		<description><![CDATA[	Rasulullah SAW bersabda, Tidak seorang pun di antara kalian yang akan diselamatkan (masuk surga) oleh amal perbuatannya. Seorang lelaki bertanya: Demikian engkau, wahai Rasulullah? Rasulullah SAW menjawab: Ya, demikian halnya aku, hanya saja Allah melimpahkan rahmat-Nya kepadaku akan tetapi tetaplah kalian berusaha berbuat dan berkata yang benar
	Hiruk-pikuk kehidupan telah membuat sekian banyak manusia lupa dari [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[	<p><em>Rasulullah SAW bersabda, Tidak seorang pun di antara kalian yang akan diselamatkan (masuk surga) oleh amal perbuatannya. Seorang lelaki bertanya: Demikian engkau, wahai Rasulullah? Rasulullah SAW menjawab: Ya, demikian halnya aku, hanya saja Allah melimpahkan rahmat-Nya kepadaku akan tetapi tetaplah kalian berusaha berbuat dan berkata yang benar</em><a id="more-99"></a></p>
	<p>Hiruk-pikuk kehidupan telah membuat sekian banyak manusia lupa dari tujuan hidup mereka yang sesungguhnya. Berapa banyak manusia tiap detik kehidupannya senantiasa disibukkan dengan rutinitas yang tidak terpetakan. Hampir-hampir mereka tidak mengetahui mana aktifitas yang sesuai dengan tujuan hidup dan mana aktifitas yang bertentangan dengan tujuan hidup (sia-sia). Atau boleh jadi mereka tahu, tetapi tidak mau mengefektifkan aktifitas yang benar-benar sesuai dengan tujuan hidupnya. Atau boleh jadi mereka tahu dan mau tetapi tidak punya kemampuan dalam memilahnya karena rendahnya semangat (<em>himmah</em>) dalam dirinya. Bahkan yang lebih parah, ada sebagian manusia yang memang benar-benar tidak mengetahui dan memahami apa sebenarnya tujuan hidupnya. </p>
	<p>Apa tujuan hidup kita sesungguhnya? Mungkin sebagian kita kurang memahaminya, tetapi ada satu istilah yang sangat familiar bagi kita, yaitu surga dalam bahasa Al-Qur’an disebut al-jannah. Dan ternyata hampir semua orang menginginkannya. Kita semua ingin masuk surga, meskipun sampai saaat ini kita belum pernah melihatnya. Itukah sebenarnya tujuan hidup kita? Jawabnya bisa iya, bisa tidak Benarkah surga merupkan kenikmatan yang paling agung? Jawabnya bisa iya, juga bisa tidak. Memang kenikmatan surga sangat luar bisa, belum pernah terlihat mata, belum pernah terdengar telinga dan belum pernah terdetak dalam hati. Tetapi ternyata para penghuni surga belum merasakan kenikmatan yang sesungguhnya jika mereka belum bertemu dan melihat wajah Allah Azza wa Jalla.</p>
	<p>Dari kisah tersebut, kita pahami surga yang selama ini menjadi tujuan kita ternyata hanyalah sebagian kecil dari hadiah yang diberikan Allah kepada kita kelak di akhirat. Mengapa? Karena ternyata amal yang kita lakukan selama di dunia tidak seimbang untuk menebus kenikmatan surga. Amalan kita tidak ada artinya sama sekali dibandingkan dengan nikmat Allah SWT yang telah dicurahkan kepada kita selama di dunia dan insya Allah kelak di akhirat. <strong>Rasulullah SAW bersabda</strong>, <em>Tidak seorang pun di antara kalian yang akan diselamatkan (masuk surga) oleh amal perbuatannya. Seorang lelaki bertanya: Demikian engkau, wahai Rasulullah? Rasulullah SAW menjawab: Ya, demikian halnya aku, hanya saja Allah melimpahkan rahmat-Nya kepadaku akan tetapi tetaplah kalian berusaha berbuat dan berkata yang benar</em>. (Shahih Muslim No.5036)</p>
	<p>Rahmat Allah lah yang akan mengantarkan kita sukses memasuki surgaNya. Dan itulah yang hendaknya menjadi tujuan kita selama proses dalam kehidupan ini. Rahmat Allah akan kita peroleh jika Allah senantiasa Ridho pada kita. Hanya dengan ’amal, niscaya rahmat Allah akan bisa kita raih. Maka dari itu Rasulullah mengingatkan,  <em>tetaplah kalian berusaha berbuat dan berkata yang benar</em> dalam riwayat lain k<em>arena itu bertindaklah yang lurus (baik dan benar)</em>. Inilah inti dari tujuan penciptaan kita, dimana Allah akan melihat amal ibadah seorang hamba. <em>Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku</em>. </p>
	<p>Meminjam istilah manajemen industri, ada 3 amal ibadah (baca aktifitas) manusia yang pasti dilakukan dalam setiap proses hidupnya, yaitu <em>valuable activities, unvaluable activities</em> dan <em>loss activities</em>. <em>Valuable activities</em> adalah segala jenis dan bentuk aktifitas yang mempunyai nilai dan manfaat yang bisa mengantarkan manusia sukses mencapai tujuan akhir kehidupannya, yaitu surga. <em>Unvaluable activities</em> adalah segala aktifitas mubah yang bisa mendukung tercapainya tujuan hidup. Sedangkan l<em>oss activities</em> merupakan segala aktifitas yang menyimpang dari tujuan hidup manusia atau segala jenis dan bentuk kesia-siaan dan kerugian dalam hidup atau segala aktifitas dunia yang justru akan mengantarkan pada kehidupan yang hina di akhirat yaitu neraka. Agar manusia sukses dalam menggapai tujuan hidup yang sesungguhnya maka mereka harus mampu memanage ketiga tipe aktifitas tersebut dengan benar. Senantiasa meningkatkan <em>valuable activitie</em>s, mengurangi <em>unvaluable activities</em> dan menghilangkan <em>loss activities</em>.</p>
	<p><em>Valuable, unvaluable </em>dan <em>loss actifitie</em>s terbagi menjadi dua bagian yaitu amalan fisik (<em>physical</em>) dan amalan hati (<em>emotion</em>). Amalan fisik secara zhohir dapat dilihat (<em>visible actifities</em>), sedangkan amalan hati tidak bisa dilihat secara zhohir, hanya bisa dirasakan (<em>unvisible actifities</em>). Baik <em>physical activities</em> maupun <em>emotion activities</em> keduanya bisa menentukan kualitas seseorang. Belum tentu seseorang yang amalan fisiknya bagus serta merta diikuti oleh bagusnya amalan hati. Pada beberapa keadaan, rusaknya amalan hati justru lebih membahayakan dari pada rusaknya amalan fisik. Makanya tak heran dahulu Rasulullah mengingatkan, <strong>Laa yad-khulul jannah man kaana fii qolbihi mitsqola dzarratin minal kibr</strong><em>,  </em><em>tidak akan masuk surga barang siapa yang di dalam hatinya ada kesombongan (al-kibr) meski seberat dzarrah</em>. Tetapi di sisi lain Rasulullah juga bersabda, <em>Barang siapa di akhir hayatnya mengucap Laa Ilaaha Illallah maka ia akan masuk surga</em>. Dari dua hadits tersebut kita bisa menyimpulkan bahwa ada kaitan yang sangat erat antara amalan hati dengan amalan fisik. Ucapan Laa Ilaaha Illallah adalah cerminan dari amalan fisik seorang hamba yang akan menjadi tabiat (<em>build in</em>) jika seseorang benar-benar istiqomah dalam amal ibadah. Sedangkan al-kibr merupakan penyakit hati yang tidak mungkin akan bersatu dengan tauhid. Artinya, tidak mungkin orang yang sombong -dalam arti menolak kebenaran dan menghinakan manusia- di saat itu pula di dalam hatinya tertanam tauhid yang benar.</p>
	<p><em>Valuable actifities</em> berupa amalan fisik cenderung mudah kita kontrol karena secara kasat mata bisa kita lihat. Misalnya sholat, puasa, zakat, haji, tilawah Al-Qur’an, bekerja, belajar. Semua bentuk amalan tersebut baru bernilai jika diikuti hadirnya amalan hati berupa yakin, ikhlas, pasrah, jujur, cinta, harap dan takut. Dan ternyata bentuk-bentuk amalan hati inilah yang menentukan kualitas amalan fisik, apakah amalan tersebut diterima ataukah sia-sia. Oleh karena itu cukup beralasan jika kita menyiapkan kehadiran hati sebelum, saat dan setelah melakukan setiap amalan fisik, apapun bentuk dan jenisnya. </p>
	<p><em>Loss actifities</em> juga bisa berupa <em>visible actifities</em> maupun <em>unvisible actifities</em>. Dalam kehidupan sehari-hari terdapat banyak sekali loss actifities yang mungkin sering dilakukan oleh manusia, yaitu yang biasa kita kenal dengan istilah dosa besar dan dosa kecil. Dari sekian banyak bentuk dan jenis dosa tersebut ada beberapa yang bisa menyebabkan pelakunya kekal di neraka, yaitu syirik (menyekutukan Allah) baik syirik yang <em>visible</em> maupun yang <em>unvisible</em>. Sebagai seorang muslim sejati, sudah menjadi kebutuhan bagi kita untuk senatiasa mengurangi bahkan menghilangkan segala bentuk <em>loss actifities</em>. Memang kita tidak mungkin bersih dari dosa, apalagi dosa-dosa kecil yang sangat banyak bertebaran bagai debu di sekitar kita, tetapi ada alat pembersih dosa yang disiapkan oleh Allah untuk kita yaitu taubat. Salah satu bentuknya dengan memperbanyak istighfar.</p>
	<p> Antara <em>valuable actifities</em> dan <em>loss actifities</em> secara jelas bisa kita bedakan dengan mudah. Dimana v<em>aluable actifities</em> pasti akan mengantarkan pada surga dan keridhaan Allah, sedangkan <em>loss actifities</em> akan mengantarkan pelakunya menuju neraka dan kemurkaan Allah. Namun, yang sering menjadi abu-abu justru <em>unvaluable actifities</em> karena actifitas ini bisa mengarah pada <em>valuable actifities</em> juga sebaliknya bisa menjadi <em>loss actifities</em>. Di sinilah seorang muslim dituntut jeli dalam menyikapinya. Di sini pula tingkat keislaman seseorang bisa dilihat.<br />
Dari Abu Hurairoh rodhiallohu ‘anhu, dia berkata: “Rosululloh sholallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda: <em>“Sebagian tanda dari baiknya keislaman seseorang ialah ia meninggalkan sesuatu yang tidak bermanfaat baginya</em>.” (Hadits hasan, diriwayatkan Tirmidzi dan lainnya). Di sini pembicaraannya tidak hanya sekedar halal atau haram, dosa atau tidak tetapi sudah satu tingkat lebih tinggi yaitu manfaat atau tidak manfaat. Dalam artian, mereka sudah terbiasa melakukan pengendalian diri (<em>self control</em>) dalam amalan-amalan mubah, dengan hanya melakukan amalan mubah yang manfaat, yang bisa mendukung valuable actifities. Dengan demikian pribadi seperti ini sudah sangat jauh dari amalan-amalan haram, dosa dan maksiat yang nyata-nyata akan mengantarkan pada kemurkaan Allah.</p>
	<p>Allah memberi amanah waktu kepada kita hanya 24 jam dalam sehari semalam. Kita bebas menggunakan waktu tersebut untuk apa saja yang kita kehendaki. Kita pun boleh tidak menggunakan sama sekali waktu tersebut. Namun, yang pasti tidak akan ada penambahan jatah waktu sesibuk apapun kita saat itu, juga tidak akan ada pengurangan seluang apapun kita saat itu. Jika saat itu kita melakukan loss actifities berupa segala bentuk dosa dan maksiat maka kemurkaan Allah sangat dekat dengan kita. Jika kita melakukan valuable activities berupa segala bentuk ibadah dan ketaatan maka keridhaan Allah sangat dekat. </p>
	<p>Ridho atau murka Allah, surga atau neraka? Kita sendiri yang memilih. Di sisi lain kita juga tau bahwa surga tidak sebanding dengan amal kita meskipun sepanjang hidup kita melakukan amal baik. Apalagi jika kebanyakan waktu kita habis hanya untuk amal sia-sia. Sangat ironis jika ada seorang hamba yang menginginkan surga namun waktunya dihabiskan hanya untuk dosa dan maksiat. Sangat ironis ada seorang hamba merindukan perjumpaan dengan Allah namun waktunya habis hanya untuk hal-hal yang tanpa manfaat. Matanya untuk melihat hal-hal yang tanpa manfaat bahkan mengundang dosa dan maksiat, seharian mantengin televisi, melihat gambar dan foto-foto murahan, akses internet berlebih tanpa ada manfaat. Telinganya untuk mendengar suara-suara yang sia-sia meskipun boleh, berupa aneka musik barat, jazz, rock, dangdut, keroncong dan sejenisnya. Dan anehnya mereka merasa tidak nyaman saat mendengarkan nasihat, taushiyah, lantunan tilawah Al-Qur’an. Lisannya untuk berucap dan berkata-kata tanpa manfaat berupa ghibah, cacian, kata-kata kotor, membaca bacaan-bacaan penuh sampah. Ketahuilah, semua itu merupakan kesia-siaan yang akan menghalangi kita dalam meniti jalan menuju surga dan ridho Allah.<br />
Tulisan ini juga dimuat di <a href="http://www.warnaislam.com/umum/catatan/2008/10/21/63055/Manajemen_Raih_Surga.htm">warnaislam.com</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://multazimah.blogsome.com/2008/10/21/manajemen-raih-surga/feed/</wfw:commentRss>
	</item>
		<item>
		<title>Sang Murobbi</title>
		<link>http://multazimah.blogsome.com/2008/06/11/ltq-ibadurrahman-2/</link>
		<comments>http://multazimah.blogsome.com/2008/06/11/ltq-ibadurrahman-2/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 11 Jun 2008 04:01:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>multazimah</dc:creator>
		
	<category>Dakwah</category>
	<category>Info</category>
		<guid>http://multazimah.blogsome.com/2008/06/11/ltq-ibadurrahman-2/</guid>
		<description><![CDATA[	Nih klo mo download trailer film SANG MUROBBI; Mencari Spirit Yang Hilang
Klik link berikut:
Sang Murobbi
	Film ini disutradari oleh Zul Ardhia, menampilkan bintang Irwan Rinaldi sebagai Ustadz Rahmat Abdullah, Astri Ivo memerankan Ummi Fida dan didukung oleh beberapa bintang lain; Neno Warisman dan Afwan Izzis.
	Syuting film ini dilakukan di beberapa kawasan, diantaranya di Setu, Jakarta Timur. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[	<p>Nih klo mo download trailer film SANG MUROBBI; Mencari Spirit Yang Hilang<br />
Klik link berikut:<br />
<a href="http://www.esnips.com/doc/72442617-7df7-4f8c-9ce7-2251f8acf1e4/sang-Murobbi">Sang Murobbi</a></p>
	<p>Film ini disutradari oleh Zul Ardhia, menampilkan bintang Irwan Rinaldi sebagai Ustadz Rahmat Abdullah, Astri Ivo memerankan Ummi Fida dan didukung oleh beberapa bintang lain; Neno Warisman dan Afwan Izzis.<a id="more-97"></a></p>
	<p>Syuting film ini dilakukan di beberapa kawasan, diantaranya di Setu, Jakarta Timur. Menurut situs blog sang murabbi, lokasi ini dipilih karena memiliki kemiripan dengan situasi Kuningan, Jakarta Selatan, di era 70-an akhir dan 80-an. Pengambilan gambar juga dilakukan di lokasi di wilayah lain seperti Kampung Raden, Pondok Gede, dan Pondok Rangon.</p>
	<p>Sebagaimana diketahui, film ini dicuplik dari perjalanan hidup almarhum Ustad Rahmat Abdullah. Almarhum dikenal sebagai seorang ustadz, &#8220;pejuang dakwah&#8221; dan guru aktivis PKS.</p>
	<p>Ustadz Rahmat Abdullah, adalah putra Betawi yang lahir di Jakarta pada 3 Juli 1953. Almarhmum meninggal dunia tahun 2005 setelah terkena stroke ketika wudhu untuk mengerjakan sholat Maghrib.</p>
	<p>Selain dikenal sebagai mentor kader PKS, semasa hidup, almarhum pernah menjabat sebagai Ketua Majelis Syuro DPP PKS. Almarhum juga sempat menjadi anggota Komisi III DPR RI yang membidangi masalah hukum, HAM dan perundang-undangan.</p>
	<p>Sebelum menjadi anggota DPR, almarhum aktif sebagai guru di beberapa sekolah, di antaranya Madrasah Ibtidaiyah (MI) Miftahul Huda (1970), SD Islam Tarbitul Aulad (1971-1973), Madrasah Tsanawiyah (Mts) Rumah Pendidikan Islam (1981), Aliyah Pendidikan (1982-1984), pengajar Ma&#8217;had Dirasah Islamiyah Iqro (1993-1997) dan pengajar pendidikan Guru TK Islam Terpadu Iqro (1999).</p>
	<p>Almarhum juga mendirikan Yayasan Islamic Center Iqro pada 1992. Di tahun 2000, dalam sebuah acara Seminar Nasional bertajuk &#8220;Tarbiyah di Era Baru&#8221; di Masjid UI, Kampus UI Depok, ustadz keturunan Betawi itu pernah disebut sebagai Syaikhut Tarbiyah.</p>
	<p>Almarhum dikenal sebagai sosok pejuang da&#8217;wah yang sangat aktif memperkaya wawasan keilmuannya. Pendidikan formalnya hanya sampai madrasah aliyah plus setahun kuliah di LIPIA Jakarta. Tapi karena kegigihannya mencari ilmu dari beberapa halaqah, kiai dan kelahapannya membaca kitab, banyak orang mengakui kapasitas keilmuannya tak kalah dari rekan-rekannya yang bergelar doktor. Sejak tahun 1985 ia sudah sering berkunjung ke luar negeri dan keliling Indonesia, memenuhi undangan seminar, mudzakarah du&#8217;at, pelatihan kader, tabligh, dan sebagainya.</p>
	<p>Selain itu ada satu hal yang tak dimiliki umumnya para dai, bahwa ia adalah rajin menulis.</p>
	<p>Dalam sebuah wawancara eklusif dengan Majalah Suara Hidayatullah tahun 2001, almarhum menjawab secara jujur kritikan masyarakat tentang adanya sinyalemen kader-kader Tarbiyah yang cenderung mulai eksklusif.</p>
	<p>&#8220;Betul, ada kalanya kopral dengan kopral berkelahi, tetapi mayor dan kolonel yang jadi atasannya biasa-biasa saja. Para jenderalnya pun saling ngobrol saja.</p>
	<p>Kalau ada yang demikian yang saya lihat, saya mengingatkan kader-kader kita agar tidak boleh begitu. Karena sesungguhnya mereka bisa menjadi orang yang sangat dihargai masyarakat jika menggunakan cara-cara yang lebih santun,&#8221; begitu kutipnya.</p>
	<p>&#8220;Makanya mereka disuruh mengaji ke mana-mana untuk menambah wawasan. Sehingga kalau ada kajian umum mereka datang ramai-ramai untuk memperkaya dari apa yang telah mereka dapatkan dalam kelompok-kelompok kecil itu,&#8221; tambahnya.</p>
	<p>Itulah rekaman kisah seorang ustad rendah hati nan sederhana meski dipundaknya pernah banyak jabatan dan amanah.</p>
	<p>Ada baiknya, masyarakat terutama para santrinya melihat ulang kesederhanaan dan kesahajaan sang guru (murabbi) itu. Menurut situs blog sang murabbi, Film ini diperkirakan akan dilaunching bulan Juli 2008.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://multazimah.blogsome.com/2008/06/11/ltq-ibadurrahman-2/feed/</wfw:commentRss>
	</item>
		<item>
		<title>Nasihat Cegah Maksiat</title>
		<link>http://multazimah.blogsome.com/2008/05/10/ltq-ibadurrahman/</link>
		<comments>http://multazimah.blogsome.com/2008/05/10/ltq-ibadurrahman/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 10 May 2008 04:59:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>multazimah</dc:creator>
		
	<category>Nashihat</category>
		<guid>http://multazimah.blogsome.com/2008/05/10/ltq-ibadurrahman/</guid>
		<description><![CDATA[	Berikut ini sepuluh nasihat Ibnul Qayyim rahimahullah untuk menggapai kesabaran diri agar tidak terjerumus dalam perbuatan maksiat:
	Pertama, hendaknya hamba menyadari betapa buruk, hina dan rendah perbuatan maksiat. Dan hendaknya dia memahami bahwa Allah mengharamkannya serta melarangnya dalam rangka menjaga hamba dari terjerumus dalam perkara-perkara yang keji dan rendah sebagaimana penjagaan seorang ayah yang sangat sayang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[	<p>Berikut ini sepuluh nasihat Ibnul Qayyim rahimahullah untuk menggapai kesabaran diri agar <strong>tidak terjerumus dalam perbuatan maksiat</strong>:<a id="more-95"></a></p>
	<p><strong>Pertama</strong>, <em><strong>hendaknya hamba menyadari betapa buruk, hina dan rendah perbuatan maksiat</strong></em>. Dan hendaknya dia memahami bahwa Allah mengharamkannya serta melarangnya dalam rangka menjaga hamba dari terjerumus dalam perkara-perkara yang keji dan rendah sebagaimana penjagaan seorang ayah yang sangat sayang kepada anaknya demi menjaga anaknya agar tidak terkena sesuatu yang membahayakannya.</p>
	<p><strong>Kedua</strong>, <em><strong>merasa malu kepada Allah</strong></em>… Karena sesungguhnya apabila seorang hamba menyadari pandangan Allah yang selalu mengawasi dirinya dan menyadari betapa tinggi kedudukan Allah di matanya. Dan apabila dia menyadari bahwa perbuatannya dilihat dan didengar Allah tentu saja dia akan merasa malu apabila dia melakukan hal-hal yang dapat membuat murka Rabbnya… Rasa malu itu akan menyebabkan terbukanya mata hati yang akan membuat Anda bisa melihat seolah-olah Anda sedang berada di hadapan Allah…</p>
	<p><strong>Ketiga</strong>, <em><strong>senantiasa menjaga nikmat Allah </strong></em>yang dilimpahkan kepadamu dan mengingat-ingat perbuatan baik-Nya kepadamu.<br />
Apabila engkau berlimpah nikmat<br />
maka jagalah, karena maksiat<br />
akan membuat nikmat hilang dan lenyap<br />
Barang siapa yang tidak mau bersyukur dengan nikmat yang diberikan Allah kepadanya maka dia akan disiksa dengan nikmat itu sendiri.</p>
	<p><strong>Keempat</strong>, <em><strong>merasa takut kepada Allah dan khawatir tertimpa hukuman-Nya</strong></em></p>
	<p><strong>Kelima</strong>, <em><strong>mencintai Allah…</strong></em> karena seorang kekasih tentu akan menaati sosok yang dikasihinya… Sesungguhnya maksiat itu muncul diakibatkan oleh lemahnya rasa cinta.</p>
	<p><strong>Keenam</strong>, <em><strong>menjaga kemuliaan dan kesucian diri serta memelihara kehormatan dan kebaikannya…</strong></em> Sebab perkara-perkara inilah yang akan bisa membuat dirinya merasa mulia dan rela meninggalkan berbagai perbuatan maksiat…</p>
	<p><strong>Ketujuh</strong>, <em><strong>memiliki kekuatan ilmu</strong></em> tentang betapa buruknya dampak perbuatan maksiat serta jeleknya akibat yang ditimbulkannya dan juga bahaya yang timbul sesudahnya yaitu berupa muramnya wajah, kegelapan hati, sempitnya hati dan gundah gulana yang menyelimuti diri… karena dosa-dosa itu akan membuat hati menjadi mati…</p>
	<p><strong>Kedelapan</strong>, <em><strong>memupus buaian angan-angan yang tidak berguna</strong></em>. Dan hendaknya setiap insan menyadari bahwa dia tidak akan tinggal selamanya di alam dunia. Dan mestinya dia sadar kalau dirinya hanyalah sebagaimana tamu yang singgah di sana, dia akan segera berpindah darinya. Sehingga tidak ada sesuatu pun yang akan mendorong dirinya untuk semakin menambah berat tanggungan dosanya, karena dosa-dosa itu jelas akan membahayakan dirinya dan sama sekali tidak akan memberikan manfaat apa-apa.</p>
	<p><strong>Kesembilan</strong>, hendaknya <em><strong>menjauhi sikap berlebihan dalam hal makan, minum dan berpakaian</strong></em>. Karena sesungguhnya besarnya dorongan untuk berbuat maksiat hanyalah muncul dari akibat berlebihan dalam perkara-perkara tadi. Dan di antara sebab terbesar yang menimbulkan bahaya bagi diri seorang hamba adalah… waktu senggang dan lapang yang dia miliki… karena jiwa manusia itu tidak akan pernah mau duduk diam tanpa kegiatan… sehingga apabila dia tidak disibukkan dengan hal-hal yang bermanfaat maka tentulah dia akan disibukkan dengan hal-hal yang berbahaya baginya.</p>
	<p><strong>Kesepuluh</strong>, sebab terakhir adalah sebab yang merangkum sebab-sebab di atas… yaitu <em><strong>kekokohan pohon keimanan yang tertanam kuat di dalam hati…</strong></em> Maka kesabaran hamba untuk menahan diri dari perbuatan maksiat itu sangat tergantung dengan kekuatan imannya. Setiap kali imannya kokoh maka kesabarannya pun akan kuat… dan apabila imannya melemah maka sabarnya pun melemah… Dan barang siapa yang menyangka bahwa dia akan sanggup meninggalkan berbagai macam penyimpangan dan perbuatan maksiat tanpa dibekali keimanan yang kokoh maka sungguh dia telah keliru.</p>
	<p>Diterjemahkan dari artikel berjudul ‘Asyru Nashaa’ih libnil Qayyim li Shabri ‘anil Ma’shiyah,<br />
www.ar.islamhouse.com,<br />
Alih Bahasa: Abu Muslih Ari Wahyudi</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://multazimah.blogsome.com/2008/05/10/ltq-ibadurrahman/feed/</wfw:commentRss>
	</item>
		<item>
		<title>Indikator Kebahagiaan Dunia</title>
		<link>http://multazimah.blogsome.com/2008/05/09/bagi-bagi-e-books-gratisss/</link>
		<comments>http://multazimah.blogsome.com/2008/05/09/bagi-bagi-e-books-gratisss/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 09 May 2008 09:04:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>multazimah</dc:creator>
		
	<category>Nashihat</category>
	<category>Dakwah</category>
		<guid>http://multazimah.blogsome.com/2008/05/09/bagi-bagi-e-books-gratisss/</guid>
		<description><![CDATA[	Ibnu Abbas ra. adalah salah seorang sahabat Nabi SAW yang sangat telaten dalam menjaga dan melayani Rasulullah SAW, dimana ia pernah secara khusus didoakan Rasulullah SAW, selain itu pada usia 9 tahun Ibnu Abbas telah hafal Al-Quran dan telah menjadi imam di mesjid. Suatu hari ia ditanya oleh para tabi&#8217;in (generasi sesudah wafatnya Rasulullah SAW) [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[	<p>Ibnu Abbas ra. adalah salah seorang sahabat Nabi SAW yang sangat telaten dalam menjaga dan melayani Rasulullah SAW, dimana ia pernah secara khusus didoakan Rasulullah SAW, selain itu pada usia 9 tahun Ibnu Abbas telah hafal Al-Quran dan telah menjadi imam di mesjid. Suatu hari ia ditanya oleh para tabi&#8217;in (generasi sesudah wafatnya Rasulullah SAW) mengenai apa yang dimaksud dengan kebahagiaan dunia. Jawab Ibnu Abbas ada 7 (tujuh) indikator kebahagiaan dunia, yaitu:<a id="more-94"></a></p>
	<p><strong>Pertama</strong>, <em><strong>Qalbun syakirun </strong></em>atau hati yang selalu bersyukur.<br />
Memiliki jiwa syukur berarti selalu menerima apa adanya (qona&#8217;ah), sehingga tidak ada ambisi yang berlebihan, tidak ada stress, inilah nikmat bagi hati yang selalu bersyukur. Seorang yang pandai bersyukur sangatlah cerdas memahami sifat-sifat Allah SWT, sehingga apapun yang diberikan Allah ia malah terpesona dengan pemberian dan keputusan Allah.</p>
	<p>Bila sedang kesulitan maka ia segera ingat sabda Rasulullah SAW yaitu, &#8220;Kalau kita sedang sulit perhatikanlah orang yang lebih sulit dari kita&#8221;. Bila sedang diberi kemudahan, ia bersyukur dengan memperbanyak amal ibadahnya, kemudian Allah pun akan mengujinya dengan kemudahan yang lebih besar lagi. Bila ia tetap &#8220;bandel&#8221; dengan terus bersyukur maka Allah akan mengujinya lagi dengan kemudahan yang lebih besar lagi. Maka berbahagialah orang yang pandai bersyukur!</p>
	<p><strong>Kedua</strong>, <strong><em>Al-azwaju as-shalihah</em></strong>, yaitu pasangan hidup yang sholeh.<br />
Pasangan hidup yang sholeh akan menciptakan suasana rumah dan keluarga yang sholeh pula. Di akhirat kelak seorang suami (sebagai imam keluarga) akan diminta pertanggungjawaban dalam mengajak istri dan anaknya kepada kesholehan. Berbahagialah menjadi seorang istri bila memiliki suami yang sholeh, yang pasti akan bekerja keras untuk mengajak istri dan anaknya menjadi muslim yang sholeh. Demikian pula seorang istri yang sholehah, akan memiliki kesabaran dan keikhlasan yang luar biasa dalam melayani suaminya, walau seberapa buruknya kelakuan suaminya. Maka berbahagialah menjadi seorang suami yang memiliki seorang istri yang sholehah.</p>
	<p><strong>Ketiga</strong>, <em><strong>al-aulad al-abrar</strong></em>, yaitu anak yang soleh/solehah.<br />
Saat Rasulullah SAW lagi thawaf. Rasulullah SAW bertemu dengan seorang anak muda yang pundaknya lecet-lecet. Setelah selesai thawaf Rasulullah SAW bertanya kepada anak muda itu : &#8220;Kenapa pundakmu itu?&#8221; Jawab anak muda itu: &#8220;Ya Rasulullah, saya dari Yaman, saya mempunyai seorang ibu yang sudah udzur. Saya sangat mencintai dia dan saya tidak pernah melepaskan dia. Saya melepaskan ibu saya hanya ketika buang hajat, ketika sholat, atau ketika istirahat, selain itu sisanya saya selalu menggendongnya&#8221; . Lalu anak muda itu bertanya: &#8220;Ya Rasulullah, apakah aku sudah termasuk kedalam orang yang sudah berbakti kepada orang tua? &#8220;Nabi SAW sambil memeluk anak muda itu dan mengatakan: &#8220;Sungguh Allah ridho kepadamu, kamu anak yang soleh, anak yang berbakti, tapi anakku ketahuilah, cinta orang tuamu tidak akan terbalaskan olehmu&#8221;</p>
	<p>Dari hadist tersebut kita mendapat gambaran bahwa amal ibadah kita ternyata tidak cukup untuk membalas cinta dan kebaikan orang tua kita, namun minimal kita bisa memulainya dengan menjadi anak yang sholeh, dimana doa anak yang sholeh kepada orang tuanya dijamin dikabulkan Allah. Berbahagialah kita bila memiliki anak yang sholeh. </p>
	<p><strong>Keempat</strong>, <em><strong>al-biah as-sholihah</strong></em>, yaitu lingkungan yang kondusif untuk iman kita.<br />
Yang dimaksud dengan lingkungan yang kondusif ialah, kita boleh mengenal  siapapun tetapi untuk menjadikannya sebagai sahabat karib kita, haruslah orang-orang yang mempunyai nilai tambah terhadap keimanan kita. Dalam sebuah haditsnya, Rasulullah menganjurkan kita untuk selalu bergaul dengan orang-orang yang sholeh. </p>
	<p>Orang-orang yang sholeh akan selalu mengajak kepada kebaikan dan mengingatkan kita bila kita berbuat salah. Orang-orang sholeh adalah orang-orang yang bahagia karena nikmat iman dan nikmat Islam yang selalu terpancar pada cahaya wajahnya. Insya Allah cahaya tersebut akan ikut menyinari orang-orang yang ada disekitarnya. Berbahagialah orang-orang yang selalu dikelilingi oleh orang-orang yang sholeh. </p>
	<p><strong>Kelima</strong>, <em><strong>al-maal al-halal</strong></em>, atau harta yang halal.<br />
Paradigma dalam Islam mengenai harta bukanlah banyaknya harta tetapi halal dan barokahnya. Ini tidak berarti Islam tidak menyuruh umatnya untuk kaya. Dalam riwayat Imam Muslim di dalam bab sadaqoh, Rasulullah SAW pernah bertemu dengan seorang sahabat yang berdoa mengangkat tangan. &#8220;Kamu berdoa sudah bagus&#8221;, kata Nabi SAW, &#8220;Namun sayang makanan, minuman dan pakaian dan tempat tinggalnya didapat secara haram, bagaimana doanya dikabulkan&#8221;. Berbahagialah menjadi orang yang hartanya halal karena doanya sangat mudah dikabulkan Allah. Harta yang halal juga akan menjauhkan setan dari hatinya, maka hatinya semakin bersih, suci dan kokoh, sehingga memberi ketenangan dalam hidupnya. Maka berbahagialah orang-orang yang selalu dengan teliti menjaga kehalalan hartanya. </p>
	<p><strong>Keenam</strong>, <em><strong>Tafaqquh fii dien</strong></em>, atau semangat untuk memahami agama.<br />
Semangat memahami agama diwujudkan dalam semangat memahami ilmu-ilmu agama Islam. Semakin ia belajar, maka semakin ia terangsang untuk belajar lebih jauh lagi ilmu mengenai sifat-sifat Allah dan ciptaan-Nya. Allah menjanjikan nikmat bagi umat-Nya yang menuntut ilmu, semakin ia belajar semakin cinta ia kepada agamanya, semakin tinggi cintanya kepada Allah dan rasul-Nya. </p>
	<p>Cinta inilah yang akan memberi cahaya bagi hatinya. Semangat memahami agama akan meng&#8221;hidup&#8221; kan hatinya, hati yang &#8220;hidup&#8221; adalah hati yang selalu dipenuhi cahaya nikmat Islam dan nikmat iman. Maka berbahagialah orang yang penuh semangat memahami ilmu agama Islam. </p>
	<p><strong>Ketujuh</strong>, <em><strong>al-umru al-barokah</strong></em>, yaitu umur yang barokah.<br />
Umur yang barokah itu artinya umur yang semakin tua semakin sholeh, yang setiap detiknya diisi dengan amal ibadah. Seseorang yang mengisi hidupnya untuk kebahagiaan dunia semata, maka hari tuanya akan diisi dengan banyak bernostalgia (berangan-angan) tentang masa mudanya, iapun cenderung kecewa dengan ketuaannya (post-power syndrome). Disamping itu pikirannya terfokus pada bagaimana caranya menikmati sisa hidupnya, maka iapun sibuk berangan-angan terhadap kenikmatan dunia yang belum ia sempat rasakan, hatinya kecewa bila ia tidak mampu menikmati kenikmatan yang diangankannya. </p>
	<p>Sedangkan orang yang mengisi umurnya dengan banyak mempersiapkan diri untuk akhirat (melalui amal ibadah) maka semakin tua semakin rindu ia untuk bertemu dengan Sang Penciptanya. Hari tuanya diisi dengan bermesraan dengan Sang Maha Pengasih. Tidak ada rasa takutnya untuk meninggalkan dunia ini, bahkan ia penuh harap untuk segera merasakan keindahan alam kehidupan berikutnya seperti yang dijanjikan Allah. Inilah semangat &#8220;hidup&#8221; orang-orang yang baroqah umurnya, maka berbahagialah orang-orang yang umurnya barokah. </p>
	<p>Demikianlah pesan-pesan dari Ibnu Abbas ra. mengenai 7 indikator kebahagiaan dunia. </p>
	<p>Bagaimana caranya agar kita dikaruniakan Allah ke tujuh buah indikator kebahagiaan dunia tersebut? Selain usaha keras kita untuk memperbaiki diri, maka mohonlah kepada Allah SWT dengan sesering dan se-khusyu&#8217; mungkin membaca doa `sapu jagat&#8217; , yaitu doa yang paling sering dibaca oleh Rasulullah SAW. Dimana baris pertama doa tersebut <em><strong>&#8220;Rabbanaa aatina fid dun-yaa hasanah&#8221;</strong></em> (yang artinya &#8220;<strong>Ya Allah karuniakanlah aku kebahagiaan dunia </strong>&#8220;), mempunyai makna bahwa kita sedang meminta kepada Allah ke tujuh indikator kebahagiaan dunia yang disebutkan Ibnu Abbas ra, yaitu hati yang selalu syukur, pasangan hidup yang soleh, anak yang soleh, teman-teman atau lingkungan yang soleh, harta yang halal, semangat untuk memahami ajaran agama, dan umur yang barokah. </p>
	<p>Walaupun kita akui sulit mendapatkan ketujuh hal itu ada di dalam genggaman kita, setidak-tidaknya kalau kita mendapat sebagian saja sudah patut kita syukuri. </p>
	<p>Sedangkan mengenai kelanjutan doa sapu jagat tersebut yaitu <em><strong>&#8220;wa fil aakhirati hasanah&#8221;</strong></em> (yang artinya <em><strong>&#8220;dan juga kebahagiaan akhirat&#8221;), </strong></em>untuk memperolehnya hanyalah dengan rahmat Allah. Kebahagiaan akhirat itu bukan surga tetapi rahmat Allah, kasih sayang Allah. Surga itu hanyalah sebagian kecil dari rahmat Allah, kita masuk surga bukan karena amal soleh kita, tetapi karena rahmat Allah. </p>
	<p>Amal soleh yang kita lakukan sepanjang hidup kita (walau setiap hari puasa dan sholat malam) tidaklah cukup untuk mendapatkan tiket masuk surga. Amal soleh sesempurna apapun yang kita lakukan seumur hidup kita tidaklah sebanding dengan nikmat surga yang dijanjikan Allah. </p>
	<p>Kata Nabi SAW, &#8220;Amal soleh yang kalian lakukan tidak bisa memasukkan kalian ke surga&#8221;. Lalu para sahabat bertanya: &#8220;Bagaimana dengan Engkau ya Rasulullah ?&#8221;. Jawab Rasulullah SAW : &#8220;Amal soleh saya pun juga tidak cukup&#8221;. Lalu para sahabat kembali bertanya : &#8220;Kalau begitu dengan apa kita masuk surga?&#8221;. Nabi SAW kembali menjawab : &#8220;Kita dapat masuk surga hanya karena rahmat dan kebaikan Allah semata&#8221;. </p>
	<p>Jadi sholat kita, puasa kita, taqarub kita kepada Allah sebenarnya bukan untuk surga tetapi untuk mendapatkan rahmat Allah. Dengan rahmat Allah itulah kita mendapatkan surga Allah (Insya Allah, Amiin). </p>
	<p>Sumber tulisan:<br />
ceramah Ust. Aam Aminudin, Lc. di Sapporo, Jepang,<br />
disarikan secara bebas oleh Sdr. Asep Tata Permana </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://multazimah.blogsome.com/2008/05/09/bagi-bagi-e-books-gratisss/feed/</wfw:commentRss>
	</item>
		<item>
		<title>Rambu-rambu Pergaulan</title>
		<link>http://multazimah.blogsome.com/2008/04/08/rambu-rambu-pergaulan/</link>
		<comments>http://multazimah.blogsome.com/2008/04/08/rambu-rambu-pergaulan/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 08 Apr 2008 07:25:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>multazimah</dc:creator>
		
	<category>Nashihat</category>
	<category>Renungan</category>
	<category>Dakwah</category>
		<guid>http://multazimah.blogsome.com/2008/04/08/rambu-rambu-pergaulan/</guid>
		<description><![CDATA[	Sadar atau tidak, kita dihadapkan pada permasalahan yang cukup serius. Permasalahan yang tidak bisa dipandang sebelah mata atau bahkan dianggap angin lalu. Permasalahan itu tak lain adalah tentang pergaulan antar ikhwan dan akhwat (baca pria dan wanita). Saya katakan cukup serius karena permasalahan tersebut menyangkut masalah akhlaq (baca moral). Dan akhlaq sangat erat kaitannya dengan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[	<p>Sadar atau tidak, kita dihadapkan pada permasalahan yang cukup serius. Permasalahan yang tidak bisa dipandang sebelah mata atau bahkan dianggap angin lalu. Permasalahan itu tak lain adalah tentang pergaulan antar ikhwan dan akhwat (baca pria dan wanita). Saya katakan cukup serius karena permasalahan tersebut menyangkut masalah akhlaq (baca moral). Dan akhlaq sangat erat kaitannya dengan peradaban. Apabila akhlaq penduduk suatu negara rusak maka pada hakikatnya bangsa itu adalah bangsa yang tidak beradab. Karena begitu pentingnya masalah akhlaq ini, maka jauh-jauh hari Allah mengutus Rasulnya tidak lain hanya untuk memperbaiki akhlaqnya. <strong><em>”Dan tidaklah aku diutus kecuali untuk menyempurnakan akhlaq yang mulia”. </em></strong>Begitulah Rasululah memberikan penegasan kepada umatnya.<a id="more-93"></a></p>
	<p>Akhlaq adalah suatu tabiat dan ia akan terbentuk dengan adanya suatu pembiasaan yang berkesinambungan. Akhlaq sangat dipengaruhi oleh informasi yang diterima dalam kesehariannya. </p>
	<p>Akhlaq merupakan inti dalam pergaulan. Dengan demikian pergaulan akan baik jika didasari dengan akhlaq yang baik. Baik dan tidaknya akhlaq seseorang dalam pergaulan sering menjadi kabur tanpa disandarkan pada parameter ukur yang tepat. Dalam era modernisasi, westernisasi dan pesatnya arus informasi seperti saat ini menyebabkan dunia dunia seakan tanpa batas. Berbagai nilai telah masuk memenuhi volume otak kita sehingga mengaburkan nilai fitroh yang kita miliki. Oleh karena itu, agar tidak kehilangan identitas kita harus mengembalikan semua nilai tersebut kepada fitroh itu sendiri, dan fitroh itu tak lain adalah Islam, agama yang lurus. Sehingga Islamlah yang harus kita jadikan parameter untuk menilai benar atau salah mengenai pergaulan seseorang. Allah berfirman<em>,”Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah); (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui” (QS.Ar-Rum[30]:30)</em></p>
	<p>Lalu bagaimana seharusnya seorang muslim dan muslimah berinteraksi antara satu sama lain? Itulah pertanyaan yang sering jadi tema yang sangat menarik karena akan selalu update pada setiap kurun waktu mengingat makin cepatnya transfer budaya antara satu tempat dengan tempat yang lain di belahan dunia ini. Islam adalah agama yang solutif yang akan memberikan solusi terbaik dimanapun dan kapanpun hingga hari akhir kelak. Itulah keyakinan yang harus kita tanamkan dalam hati kita, sehingga kita bisa selalu optimis dalam menghadapi masalah, apapun bentuknya.</p>
	<p>Terkait soal pergaulan, mari kita kembali mengingat firman Allah yang merupakan dasar diperintahkannya ta’aruf (baca: saling kenal) diantara manusia di muka bumi ini. <em>”Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.”(QS.Al-Hujurat[49]:13). </em>Untuk bisa saling kenal berarti harus ada interaksi antara pihak-pihak yang akan saling mengenal. Mungkin akan lebih sederhana masalahnya jika interaksinya hanya antara sesama jenis, atau antar seseorang dengan mahramnya. Permasalahan akan lebih serius jika interaksi yang dimaksud berkenaan dengan dua individu yang berbeda jenis dan bukan mahram.</p>
	<p>Dalam mengatur interaksi antara ikhwan-akhwat (baca: pria dan wanita), Islam menetapkan rambu-rambu yang jelas, yang mana rambu-rambu tersebut ditujukan untuk kedua belah pihak secara adil. Adapun diantara rambu-rambu tersebut diantaranya:</p>
	<p><strong>1.Perintah Menundukkan Pandangan (ghodhul bashor)</strong><br />
<em>Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: &#8220;Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat&#8221;. Katakanlah kepada wanita yang beriman: &#8220;Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya, &#8230; (QS.An-Nuur[24]:30-31</em></p>
	<p>Menundukkan pandangan, sekilas kelihatannya sepele dan sangat mudah dilakukan tapi ternyata dalam pelaksanaannya sangatlah sulit kecuali bagi orang yang imannya benar-benar mantap. Mungkin banyak orang yang berpikir, ”kan cuman memandang, apa sih salahnya?” Kalau tidak dengan syahwat kan gak masalah?” Sekilas, pandangan tersebut cukup cerdas untuk mengelak dari sebuah kewajiban. Parahnya pandangan ini diikuti oleh kebanyakan manusia, bahkan tidak terkecuali para aktivis dakwah sekalipun.</p>
	<p>Bukankah kita sangat paham bahwa <em>pandangan mata adalah salah satu dari panah-panah iblis, maka barang siapa yang menundukkannya karena Allah maka akan dirasakan manisnya iman di hatinya (HR Ahmad)</em>, begitulah Rasul mengingatkan. Mungkin benar jika cuman memandang tidak ada bahaya yang saat itu kita rasakan, justru boleh jadi ”kenikmatan” yang diperolah, tapi dampak selanjutnya dari proses memandang tersebut akan sangat berbahaya, bahkan bisa menghilangkan mutiara yang selama ini kita jaga, ialah keimanan. Dengan memandang, otak kita akan cepat merespon, mengolahnya menjadi sinyal-sinyal yang akan diteruskan ke hati. Dan dari hati inilah segala perbuatan jahat akan bisa direalisasi melalui anggota badan.</p>
	<p>Wahai saudaraku, sebagai insan beriman sudah seharusnya kita bisa menundukkan pandangan, terkecuali tidak sengaja, tapi itupun tidak lantas boleh diumbar. Rasulullah pernah memberikan peringatan kepada Ali ra., ”<em>Wahai Ali, janganlah engkau ikuti pandangan yang satu dengan pandangan yang lain, engkau hanya boleh melakukan pandangan yang pertama (dgn tidk sengaja), sedang pandangan yang kedua adalah resiko (dosa) bagimu”(HR. Abu Dawud &#038; Al-Hakim)</em>. Jadi tidak ada dosa bagi seorang yang tidak sengaja memandang sesuatu yang diharamkan (baca: aurat). Berkaitan dengan bolehnya memandang dengan tidak sengaja tersebut ada sebuah kisah dari sahabat Jarir bin Abad ra., dia berkata, ”<em>Aku bertanya kepada Rasulullah saw soal memandang mendadak yang tidak disengaja, maka Beliau menyuruhku memalingkan pandangan” (HR. Muslim). </em>Juga, jika kita perhatikan dalam QS An-Nur ayat 30-31, di situ terlihat ada perbedaan penggunaan kata antara perintah menundukkan pandangan dan menjaga kemaluan. Dalam perintah untuk menundukkan pandangan digunakan redaksi ”yaghuddhu min abshoorihim”. Di sini digunakan min litab’idh yang bermakna sebagian, tapi dalam perintah menjaga kemaluan tidak digunakan kata min, ”yahfazhuu furuujahum”. Dengan demikian, kita pahami bahwa memandang dengan tanpa sengaja tidak menyebabkan dosa jika tidak diikuti pandangan berikutnya karena memang dalam realita tidak mungkin kita bisa menghindar 100% dari semua itu. Dan tidak mungkin kita menutup mata dalam berjalan, atau tidak mau keluar rumah karena takut melihat sesuatu yang haram, justru itu yang menyalahi tujuan penciptaan manusia sebagai kholifatullah.</p>
	<p>Wahai saudara, kita akui, sungguh sangat sulit menundukkan pandangan di saat seperti sekarang ini. Kita lihat, di mana-mana aurat diumbar, sehingga seolah-olah tidak ada tempat di kolong langit ini yang bebas darinya. Di jalan-jalan berkeliaran para manusia pengumbar aurat, di televisi tak pernah bebas dari tayangan-tayangan yg mempertontonkan aurat dan mengumbar syahwat, di media-media cetak senantiasa terpampang gambar-gambar seronok, juga di dunia maya (baca: internet) berrgentayangan situs-situs porno yang siap cari mangsa, na’udzubillah.  Kadang terbetik di hati kita, ”mungkin lebih baik kita tidak usah punya mata”, karena saking sulitnya menjaga mata tersebut dari melihat sesuatu yang haram. Tapi itulah realita. Realita kehidupan yang akan menguji sampai dimana kualitas keimanan kita. Akankah kita terjerembab dalam lembah kemaksiatan itu, berlarut dan terus berlarut???</p>
	<p>Ternyata tidak hanya mata kita yang menghadapi ujian serupa. Kedua telinga, mulut, tangan dan kaki kita juga merasakan hal yang sama. Semuanya bisa terjerumus dalam bentuk ”perzinahan”. <em>”Telah ditetapkan bagi anak Adam perzinahan tertentu yang tidak dapat dielakkannya. Zinanya kedua mata dengan memandang yang diharamkan, zinanya lisan dengan ucapan, zinanya telinga dengan mendengarkan (sesuatu yang dilarang), zinanya tangan dengan memegang, zinanya kaki dengan langkah-langkah, zinanya nafsu dengan hasrat dan keinginan, dan kemudian kemaluanlah yang akan membuktikan atau membatalkan semua bentuk zina tersebut”(HR. Bukhori-Muslim)</em></p>
	<p>Menjaga pandangan mata, inilah rambu-rambu yang pertama harus kita perhatikan dalam rangka menjaga pergaulan di antara kita. Jangan sampai ukhuwah diantara kita ternodai oleh penyakit hati yang ditimbulkan oleh pandangan mata kita di saat berinteraksi dengan lain jenis. Jangan sampai ukhuwah yang akan kita bangun melalui pergaulan berbuah kenistaan yang tidak diridhoi oleh Allah swt., Marilah saling menjaga, agar terjaga keimanan pada diri kita.</p>
	<p><strong>2.Perintah Hijab </strong><br />
Perintah godhul bashor dan berhijab mempunyai kedudukan yang sama-sama pentingnya layaknya siang dan malam yang tidak mungkin dipisahkan.  Perintah ini secara adil ditujukan oleh Allah swt. kepada manusia baik laki-laki maupun perempuan meskipun dalam aplikasinya sedikit ada penekanan pada wanita untuk masalah hijab dan ghodul bashor untuk laki-laki. </p>
	<p>Kewajiban hijab sangat erat kaitannya dengan aurat dan batasan-batasannya. Dengan siapa, di mana dan kapan  kita harus berhijab telah dijelaskan secara detail dalam Al-Qur’an maupun hadist. Batasan hijab untuk laki-laki mungkin bisa dikatakan cukup sederhana dan jarang menimbulkan masalah. Jumhur Ulama berpendapat bahwa batasan aurat laki-laki adalah antara pusar dan lutut, tetapi alangkah ahsan jika para laki-laki dalam berpakaian tidak hanya menutup pada batas minilal tersebut. Hendaknya dia juga berpakaian yang sopan, tidak ketat, juga tidak tipis. Dengan demikian tidak menimbulkan fitnah bagi para akhwat (baca: wanita) yang tidak sengaja melihatnya, karena bagi seorang akhwat juga ada kewajiban godhul bashor.</p>
	<p>Bagi wanita, kewajiban hijab sangat diperhatikan dalam islam, melebihi hijab bagi laki-laki, karena memang wanita merupakan sumber fitnah yang lebih besar. Tidaklah aku meninggalkan fitnah setelahku yang lebih berbahaya bagi kaum pria melebihi kaum wanita&#8221; (HR. Bukhori-Muslim). Mengenai kewajiban hijab bagi seorang wanita, Allah swt., berfirman: </p>
	<p><em>Katakanlah kepada wanita yang beriman: &#8220;Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak daripadanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya, kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putra-putra mereka, atau putra-putra suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita Islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertobatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung. (QS.An-Nuur[24]:31<br />
Wahai Nabi katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mu&#8217;min. Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka&#8221; [Q.S. Al-Ahzab : 59]</em></p>
	<p>Itulah perintah yang terinci yang ditujukan bagi kaum wanita untuk tidak memperlihatkan perhiasan yang ia miliki kecuali kepada mahramnya. Di situ juga dijelaskan bagaimana seharusnya para wanita berhijab yang benar, yaitu supaya mereka menutupkan kain kudungnya ke dada, atau ke seluruh tubuhnya. Bukan hanya sekedar membungkus tubuh secara asal-asalan. Ringkasnya, ada dua syarat hijab (baca: jilbab) yang harus diperhatikan, yaitu pertama tidak sempit/ketat (<em>laa dhoyyiq</em>) sehingga masih memperlihatkan lekak-lekuk tubuhnya, kedua tidak tipis atau transparan (<em>laa riqo’</em>) sehingga warna kulitnya masih kelihatan dari luar laksanan ikan di dalam aquarium, na’udzubillah.</p>
	<p>Hal ini sangat penting untuk diperhatikan karena semua itu adalah bentuk ibadah kepada Allah swt. Jika dirimu bisa menunaikannya dengan benar dan ikhlas insya Allah, setiap detik kehidupanmu akan bertabur pahala dariNya. Subhanallah. Tapi apa yang terjadi saat ini? Sudahkah para wanita menutup keindahan tubuhnya? Padahal hanya suamimulah yang paling berhak menikmatinya, bukan yang lain. </p>
	<p><strong>3.Larangan kholwat dan ikhtilath</strong><br />
Kholwat (berdua-duaan dengan lain jenis) dan ikhtilath (campur baur antara pria dan wanita) juga merupakan pemicu kehancuran generasi. Memang akan terasa indah jika dua insan berdua-duaan di tempat sepi sambil ngobrol ngalor ngidul seolah tak ada beban. Apalagi jika hati kedua insan tersebut telah menyatu, ada sinyal-sinyal yang agak nyambung frekuensinya, sungguh saat-saat seperti itu merupakan momentum yang tak terkira betapa nikmatnya. Tidak ada lagi rasa bersalah, menyesal atau tak enak karena memang hatinya ditutupi oleh setan. Akan dijadikan indah semua yang mereka lakukan. Itulah salah satu tipu daya setan la’natullah ’alaihi. Sungguh benar sabda Rasulullah, <em>”Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka jangan sekali-kali dia bersendirian (berdua-duaan) dengan seorang perempuan yang tidak bersama mahramnya, karena yang ketiganya ialah syaitan.” (HR.Ahmad)</em>. Maka sebagai insan yang beriman sudah sepatutnya kita waspada karena jika sekali saja kita menikmatinya (berdua-duaan), niscaya kita akan ketagihan dibuatnya. Sekali-kali, tipu daya setan akan terus dilancarkannya hingga menembus titik terlemah kita. </p>
	<p>Ikhtilath, sering terjadi saat kita mengadakan kegiatan-kegiatan keagamaan, acara remaja, pengajian, dan sebagainya. Awalnya, mungkin sangat bagus tujuannya tapi dalam pelaksanaan di lapangan timbul sesuatu yang tercela sehingga timbul saling sentuh, saling canda, saling pandang, dan berjabat tangan dengan bebasnya. Inilah yang sering terjadi, yang kadang dianggap sangat biasa dan wajar.</p>
	<p>Tak terkecuali bagi para aktivis dakwah, kadang kholwat dan ikhtilath menjadi sesuatu yang dianggap biasa, yang dibungkus dengan tujuan dakwah, syura’ (baca: rapat), liqo’ (baca: pertemuan) dan lainnya. Duduk berdua untuk berdiskusi tentang Islam, rapat dengan posisi yang saling berhadapan pada posisi yang amat dekat, pulang berduaan saja setelah rapat, mungkin ini sedikit contoh pelanggaran atas nama dakwah.</p>
	<p><strong>4.Larangan Berbicara dengan dibuat-buat</strong><br />
Pada asalnya tidak ada larangan untuk berbicara antara pria dan wanita untuk suatu tujuan dalam interaksi sosial. Dan memang, berbicara merupakan salah satu cara yang bisa dilakukan untuk bisa saling memahami, termasuk menyampaikan dakwah tentang keislaman. Yang jadi masalah adalah apabila pembicaraan yang dimaksud sudah menyimpang dari tujuan awal. </p>
	<p>Berikut beberapa penyimpangan yang sering terjadi, Berbicara secara mendayu-dayu, bercanda ikhwan-akhwat, saling sms dengan PeDenya untuk menyampaikan rasa Simpati, saling telpon untuk tujuan yang tidak jelas dan tidak ada hubungannya sama sekali dengan dakwah, saling curhat antara ikhwan dan akhwat tentang masalah pribadi yang sebenarnya sangat-sangat privasi, saling chatting di internet dengan bahasa yang sangat akrab. Bukankah Allah telah memberikan peringatan kepada istri-istri Nabi yang pada hakekatnya juga kepada kita, melalui firmanNYa, ”<em>Hai istri-istri Nabi, kamu sekalian tidaklah seperti wanita yang lain, jika kamu bertakwa. Maka janganlah kamu tunduk dalam berbicara sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya, dan ucapkanlah perkataan yang baik” (QS Al-Ahzab[33]:32)</em></p>
	<p><strong>5.Perintah Untuk Menyegerakan Menikah</strong><br />
Bagi para pemuda-pemudi, sungguh sangat berat ujian yang kalian hadapi saat ini. Lingkungan di sekitar kalian sungguh sangat tidak kondusif untuk mempertahankan status bujang. Maka dari itu, jauh-jauh hari Rasulullah memberikan untaian nashihat kepada para pemuda ”Wahai para pemuda, barangsiapa diantara kalian telah mempunyai kemampuan (lahir bathin) maka hendaknya segera menikah karena akan bisa menundukkan pandangan dan menjaga kemaluan, tapi jika kalian belum mampu maka perbanyaklah puasa karena ia akan menjadi perisai bagi kalian”</p>
	<p>Menyegerakan menikah, ya itulah perintah Rasulullah kepada para pemuda Islam. Perintah yang di dalamnya terdapat kebaikan-kebaikan yang bisa menyelamatkan iman kita. Tentunya yang dimaksud menyegerakan di sini bukan berarti tergesa-gesa. Perlu ada upaya mempersiapkan kemampuan bukan hanya memperturutkan kemauan karena perintah nikah tsb jelas-jelas ditujukan kepada siapa yang mampu bukan kepada siapa yang mau. </p>
	<p>Begitu pentingnya menyegerakan nikah ini, rasulullah pernah mengingatkan <em>”Apabila ada orang yang sholih datang kepadamu untuk melamar anakmu maka nikahkanlah ia, jika tidak maka akan terjadi kehancuran”</em>. Mungkin inilah yang terjadi di negara kita, banyak orang yang mempersulit nikah tapi disisi lain mempermudah cerai. Lihatlah apa yang terjadi pada tayangan televisi di Indonesia. Hampir dipastikan, tiap hari ada saja gosip tentang perceraian. Maka jangan salahkan jika kerusakan dan kehancuran terjadi dimana-mana baik itu kerusakan moral maupun kerusakan alam (baca: bencana alam)<br />
***<br />
Wahaui Saudaraku, di dalam Islam, pergaulan laki-laki dan perempuan sangatlah dijaga. Kewajiban berhijab, menundukkan pandangan, tidak khalwat (berduaan), tidak ikhtilath (bercampur baur), tidak tunduk dalam berbicara (mendayu-dayu) dan dorongan Islam untuk segera menikah, itu semua adalah penjagaan tatanan kehidupan sosial muslim agar terjaga kehormatan dan kemuliaannya. Kehormatan dan kemuliaan seorang muslim sangatlah dipelihara di dalam Islam, sampai-sampai untuk mendekati zina saja sudah dilarang. “Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk.” (QS. Al Isra:32).</p>
	<p>Maka, mari bersama-sama kita saling menjaga pergaulan ikhwan-akhwat. Sesungguhnya, hati ini akan semakin hitam pekat jika kita terus menorehkan noda diatasnya. Wahai akhwat…., jagalah para ikhwan. Dan wahai ikhwan…., jagalah para akhwat. Jagalah agar tidak terjerumus ke dalam kategori mendekati zina.</p>
	<p><em><strong>“Ya Rabbi…, istiqomahkanlah kami di jalan-Mu. Jangan sampai kami tergelincir ataupun terkena debu-debu yang dapat mengotori perjuangan kami di jalan-Mu, yang jika saja Engkau tak tampakkan kesalahan-kesalahan itu pada kami sekarang, niscaya kami tak menyadari kesalahan itu selamanya. Ampunilah kami ya Allah…… Tolonglah kami agar dapat membersihkannya hingga dapat bercahaya kembali cermin hati kami. Kabulkanlah ya Allah…“</strong></em></p>
	<p>Referensi:<br />
Tafsir Ibnu Katsiir<br />
Minhajul Muslim, Abu Bakr Al Jazairi<br />
Fiqih Sunnah, Sayyid Sabiq<br />
Ringkasan Shohih Bukhori<br />
Jami&#8217;us Shoghir, Syaikh Al-Albani<br />
Syarah Mukhtaarul Ahaadits, Sayyid Hasyimi</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://multazimah.blogsome.com/2008/04/08/rambu-rambu-pergaulan/feed/</wfw:commentRss>
	</item>
		<item>
		<title>Saudariku&#8230;..!</title>
		<link>http://multazimah.blogsome.com/2008/04/08/saudariku/</link>
		<comments>http://multazimah.blogsome.com/2008/04/08/saudariku/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 08 Apr 2008 07:20:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>multazimah</dc:creator>
		
	<category>Nashihat</category>
	<category>Renungan</category>
	<category>Dakwah</category>
		<guid>http://multazimah.blogsome.com/2008/04/08/saudariku/</guid>
		<description><![CDATA[	Wahai Saudariku…
Sungguh engkau, wanita muslimah, makhluk mulia yang mempunyai kedudukan yang sangat tinggi di dalam Islam dan pengaruh yang begitu besar di dalam kehidupan setiap muslim. Engkaulah sekolah pertama di dalam membangun masyarakat yang shalih jika engkau berjalan sesuai dengan petunjuk Al-Qur&#8217;an dan Sunnah Rasulullah Shallallahu&#8217;alaihi wa sallam. Karena berpegang teguh kepada kedua sumber itu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[	<p><strong>Wahai Saudariku…</strong><br />
Sungguh engkau, wanita muslimah, makhluk mulia yang mempunyai kedudukan yang sangat tinggi di dalam Islam dan pengaruh yang begitu besar di dalam kehidupan setiap muslim. Engkaulah sekolah pertama di dalam membangun masyarakat yang shalih jika engkau berjalan sesuai dengan petunjuk Al-Qur&#8217;an dan Sunnah Rasulullah Shallallahu&#8217;alaihi wa sallam. Karena berpegang teguh kepada kedua sumber itu dapat menjauhkan setiap muslim laki-laki dan wanita dari kesesatan di dalam segala sesuatu.  Rasulullah Shallallahu&#8217;alaihi wa sallam bersabda:<br />
&#8220;Aku tinggalkan pada kamu dua perkara, kamu tidak akan tersesat selagi kamu berpegang teguh kepadanya, yaitu Kitabullah (Al-Qur&#8217;an) dan Sunnah Nabi-Nya&#8221;  [Diriwayatkan Imam Malik didalam Kitab Al-Muwaththa]<a id="more-92"></a></p>
	<p><strong>Wahai Saudariku seaqidah…</strong><br />
Perhatikanlah betapa engkau akan menjadi seorang ibu. Dan perhatikan pula betapa besar tanggung jawab yang harus engkau emban dan perjuangan berat yang harus engkau pikul yang pada sebagiannya melebihi beban tanggung jawab yang dipikul kaum pria. Sampai-sampai Allah memerintahkan hamba-Nya untuk  berterima kasih kepada ibu, berbakti kepadanya dan memperlakukannya dengan baik.<br />
&#8220;Dan kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua ibu bapakmu, hanya kepada Ku-lah kamu kembali&#8221; [Q.S. Luqman : 14]<br />
Ada seorang lelaki datang kepada Rasulullah Shallallahu&#8217;alaihi wa sallam seraya berkata : Ya Rasulullah, siapa manusia yang lebih berhak untuk saya perlakukan dengan baik ? Jawab Nabi: &#8220;Ibumu&#8221; Ia bertanya lagi, Lalu siapa? Jawab beliau, &#8221; Ibumu&#8221;, Ia bertanya lagi, Lalu siapa lagi? Beliau jawab:  &#8220;Ayahmu&#8221; [Diriwayatkan oleh Imam Bukhari] </p>
	<p><strong>Wahai Saudariku sekeyakinan…</strong><br />
Begitu mulianya dirimu, begitu berharganya dirimu, begitu sangat menentukannya keberadaan dirimu di dunia ini. Apa jadinya jika dunia yang indah mempesona ini tanpa kehadiranmu, tanpa kehadiran sosok muslimah seperti dirimu. Pasti, keindahan dunia ini akan terasa hambar tanpa makna. Sungguh, dirimu sangat diperhitungkan untuk menjaga keindahan dunia ini agar tetap berseri.</p>
	<p><strong>Wahai Saudariku seperjalanan&#8230;</strong><br />
Surga itu sangat indah, sangat menarik hati, sangat menyenangkan. Keindahannya begitu luar biasa, sampai sampai belum pernah mata melihat, belum pernah dirasakan dan belum pernah terdetik dalam hati sekalipun. Tapi apalah artinya semua itu, jika tanpa hadirnya wanita di sana? Tentunya akan tetap hambar. Begitulah yang dirasakan oleh Adam alaihi salam. Meskipun ia telah berada di surga dengan segala kenikmatan dan keindahannya, ia tetap merasa sepi tanpa hadirnya seorang wanita di sisinya. Allah Maha Tahu apa yang dirasakan hambanya. Dan memang itulah fitroh yang pasti ada pada manusia, makhluk ciptaanNYA. Dengan kasih dan sayangNYA hadirlah Hawwa, sosok wanita pertama yang menemani Adam alaihi salam di surga. Akhirnya benar-benar sempurnalah keindahan itu…..</p>
	<p><strong>Wahai Saudariku seperjuangan…</strong><br />
Aku sangat yakin, dirimu sangat sadar, sangat paham dan sangat tahu bahwa dirimu adalah aura keindahan. Dirimu pun sangat mengerti bahwa tanpa wanita dinia akan hampa. Juga, dirimu pasti tahu bahwa wanita begitu mulia dan dimuliakan oleh Allah dan RasulNYA. Tapi sadarkah dirimu? Kapan seorang wanita akan tetap memberikan aura keindahan? Kapan seorang wanita akan sangat berarti keberadaannya di dunia ini? Dan kapan seorang wanita akan tetap dikatakan mulia?<br />
Selama ia senantiasa berada pada ketaatan kepada Allah dan Rasulnya. Ya selama itulah ia akan tetap indah, ia akan tetap ada dan ia akan tetap mulia dan dimulia.</p>
	<p><strong>Wahai Saudariku dalam ketaqwaan…</strong><br />
Apa yang kita rasakan saat ini? Apa yang terjadi dengan dirimu saat ini? Ada apa dengan wanita akhir zaman ini? Coba perhatikan sbentar saja, renungkan kondisi wanita sekarang? Masihkan mereka pantas disebut makhluk yang indah? Pantaskah mereka disebut makhluk yang mulia dan mesti dimuliakan?<br />
Di jalan-jalan kita jumpai para wanita sudah seakan tidak punya rasa malu. Memamerkan perhiasan diri di tempat-tempat umum tanpa ada sedikit rasa risih. Lihatlah auratmu, sudahkah engkau menutup dengan benar? Rambutmu engkau biarkan terurai dinikmati oleh banyak lelaki. Lehermu engkau biarkan terbuka bahkan lebih dari itu. Betismu, engkau biarkan telanjang tanpa sedikitpun penutup. Atau mungkin engkau sudah menutupnya dengan rapat seluruh auratmu, tapi di sana-sini masih nampak lekuk tubuhmu. Sadarlah mulai saat ini, auratmu itu hanya boleh engkau perlihatkan pada suamimu. Suamimulah yang paling berhak menikmati keindahan tubuhmu itu. Bahkan bernilai pahala setiap keindahan yang engkau persembahkan kepada suami.</p>
	<p><strong>Wahai Saudariku dalam keimanan…</strong><br />
Tahukah dirimu, wanita adalah sumber fitnah terbesar bagi umat akhir zaman. Ia bisa menghancurkan dunia yang indah ini. Maka dari itu, sambutlah seruan Allah. Tutuplah auratmu, jagalah pandanganmu, taatlah pada Allah dan Rasulnya, tetaplah patuh pada suami dalam ketaatan kepadaNYA, niscaya surga akan mudah engkau raih. Bahkan Rasulullah pernah mengingatkan seorang Sahabiahnya, bahwa suami adalah surga atau nerakanya para istri.</p>
	<p><strong>Wahai Saudariku dalam kedamaian…</strong><br />
Janganlah dirimu menyepelekan masalah aurat ini. Janganlah dirimu menganggap itu hanyalah masalah sepele dan patut disepelekan. Ketahuilah wahai saudariku, menutup aurat bukanlah sekedar perintah atau anjuran dari Bapak/Ibu kita. Bukan hanya sekedar anjuran ustadz atau kiayi kita. Bukan hanya sekedar nasihat teman-teman kita. Bukan hanya sekedar trend untuk bergaya. Bukan hanya model untuk mempercantik diri. Bukan hanya sekedar pilihan yang bisa ditawar. Tapi ketahuilah wahai saudariku menutup aurat adalah perintah Allah. Perintah Dzat yang telah menyebabkan kita ada di dunia ini. Perintah dari Dzat Yang Maha Kuasa atas segala sesuatu.<br />
Mari renungkan dalam hati yang paling dalam. Beranikah dirimu menentang perintahNYA? Lalu dengan apa engkau menghadapi pangadilanNYA kelak di akhirat? Bisakah dirimu mengelak, membantah atau beralasan atau berargumen membenarkan perbuatanmu??? </p>
	<p><strong>Wahai Saudariku dalam kasih sayangNYA…</strong><br />
Maaf, mungkin dirimu bukanlah tipe wanita sumber finah tersebut.Bukan tipe wanita yang mengumbar aurat. Jika benar demikian, tetaplah waspada. Setan akan selalu mencari celah agar bisa menjerumuskan kita. Tapi mungkin, memang dirimu saat ini belum bisa memakai jilbab. Tapi aku yakin dirimu bukan bermaksud menentang perintahNYA. Jika demikian adanya, mari kita bersama-sama mulai saat ini untuk tidak menyia-nyiakan kesempatan ini. Mungkin ada sebagian dari kita ingin menunda, nanti sajalah pakai jilbabnya kalau sudah benar-benar siap. Nanti kalau saya sudah punya suami. Nanti kalau sudah punya banyak uang. Nanti kalau&#8230;&#8230; Nanti jika&#8230;..Nanti&#8230;. nanti&#8230;.<br />
Saudariku, mengapa harus menunggu nanti jika memang saat ini kita bisa? Bisakah engkau memastikan «nanti» yang kamu janjikan benar-benar kan kau temui? Tahukah kamu seberapa lama lagi usia kita?  Boleh jadi sebelum «nanti« itu tiba dirimu sudah harus menghadapNYA. <em>Na’udzubillah&#8230;.</em><br />
Memang tidak mudah untuk hijrah menuju kebaikan. Setan akan senantiasa menggoda, dengan membisikkan alibi-alibi ke dalam hati kita. Kata nanti yang kita janjikan itu boleh jadi juga bisikannya. </p>
	<p>Dari Saudaramu<br />
eL-Fikr</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://multazimah.blogsome.com/2008/04/08/saudariku/feed/</wfw:commentRss>
	</item>
		<item>
		<title>Muhasabah Harian Seorang Muslim</title>
		<link>http://multazimah.blogsome.com/2008/03/29/muhasabah-harian-seorang-muslim/</link>
		<comments>http://multazimah.blogsome.com/2008/03/29/muhasabah-harian-seorang-muslim/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 29 Mar 2008 06:25:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>multazimah</dc:creator>
		
	<category>Renungan</category>
		<guid>http://multazimah.blogsome.com/2008/03/29/muhasabah-harian-seorang-muslim/</guid>
		<description><![CDATA[	1. Apakah anda setiap hari selalu shalat shubuh berjamaah di masjid ? (bagi ikhwan)
	2. Apakah anda selalu menjaga shalat yang 5 waktu berjamaah di masjid ? (bagi ikhwan) 
	3. Apakah anda hari ini membaca Al-Qur’an? 
	4. Apakah anda rutin membaca dzikir setelah selesai melaksanakan shalat wajib? 
	5. Apakah anda selalu menjaga shalat sunnah rawatib sebelum [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[	<p>1. Apakah anda setiap hari selalu <strong>shalat shubuh berjamaah di masjid </strong>? (bagi ikhwan)<a id="more-91"></a></p>
	<p>2. Apakah anda selalu <strong>menjaga shalat yang 5 waktu berjamaah di masjid </strong>? (bagi ikhwan) </p>
	<p>3. Apakah anda hari ini <strong>membaca Al-Qur’an</strong>? </p>
	<p>4. Apakah anda rutin <strong>membaca dzikir</strong> setelah selesai melaksanakan shalat wajib? </p>
	<p>5. Apakah anda selalu menjaga <strong>shalat sunnah rawatib </strong>sebelum dan sesudah shalat wajib? </p>
	<p>6. Apakah anda hari ini <strong>khusyu’ dalam shalat</strong>, menghayati apa yang anda baca? </p>
	<p>7. Apakah anda hari ini <strong>mengingat mati dan kubur</strong>? </p>
	<p>8. Apakah anda hari ini <strong>mengingat hari kiamat</strong>, segala peristiwa dan kedahsyatannya? </p>
	<p>9. Apakah anda telah <strong>memohon kepada Allah sebanyak 3 kali agar dimasukkan ke dalam syurga</strong>? </p>
	<p>10. Apakah anda telah meminta perlindungan kepada Allah sebanyak 3 kali agar diselamatkan dari api neraka? Karena: Barang siapa yang memohon syurga kepada Allah sebanyak 3 kali, Syurga berkata, Wahai Allah! Masukkanlah ia ke dalam syurga, dan barang siapa yang meminta perlindungan kepada Allah agar diselamatkan dari api neraka sebanyak 3 kali, Neraka berkata, Wahai Allah! Selamatkan ia dari api neraka. (Shahih Al-Jami’ No. 6151 Jilid 6) </p>
	<p>11. Apakah anda hari ini <strong>membaca hadits </strong>Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam? </p>
	<p>12. Apakah anda pernah berfikir untuk <strong>menjauhi teman-teman yang tidak baik</strong>? </p>
	<p>13. Apakah anda telah berusaha untuk <strong>menghindari banyak tertawa dan bergurau</strong>? </p>
	<p>14. Apakah anda hari ini <strong>menangis karena takut kepada Allah</strong>? </p>
	<p>15. Apakah anda selalu <strong>membaca dzikir pagi dan sore hari</strong>? </p>
	<p>16. Apakah anda hari ini telah <strong>memohon ampun kepada Allah atas dosa-dosa yang telah anda perbuat</strong>? </p>
	<p>17. Apakah anda telah <strong>memohon kepada Allah dengan benar untuk mati syahid</strong>? Karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Barang siapa yang memohon kepada Allah dengan benar untuk mati syahid, maka Allah akan memberikan kedudukan sebagai syuhada meskipun ia meninggal di atas tempat tidurnya. (HR. Muslim) </p>
	<p>18. Apakah anda telah berdo’a kepada Allah agar Ia <strong>menetapkan hati anda di atas agama-Nya</strong>? </p>
	<p>19. Apakah anda telah mengambil kesempatan untuk <strong>berdo’a kepada Allah di waktu –waktu yang mustajab</strong>? </p>
	<p>20. Apakah anda telah membeli buku-buku islam untuk memahami islam? (Tentu dengan memilih buku-buku yang sesuai dengan pemahaman yang diikuti oleh para sahabat Nabi, karena banyak juga buku-buku Islam yang tersebar di pasaran justru merusak pemahaman Islam yang benar).</p>
	<p>21. Apakah anda <strong>memintakan ampun kepada Allah untuk saudara-saudara mukminin dan mukminah</strong>? Karena dengan mendo’akan mereka anda mendapat kebaikan pula. (Shahih Al-Jami’ No. 5902) </p>
	<p>22. Apakah anda telah <strong>memuji Allah dan bersyukur kepada-Nya atas nikmat Islam</strong>? </p>
	<p>23. Apakah anda telah <strong>memuji Allah dan bersyukur kepada-Nya atas nikmat mata, telinga, hati dan segala nikmat lainnya</strong>? </p>
	<p>24. Apakah hari ini anda telah <strong>bersedekah kepada fakir miskin </strong>dan orang-orang yang membutuhkan?</p>
	<p>25. Apakah anda dapat <strong>menahan amarah </strong>yang disebabkan karena urusan pribadi dan berusaha untuk marah karena Allah semata? </p>
	<p>26. Apakah anda telah berusaha untuk selalu <strong>menjauhkan diri dari sikap sombong dan membanggakan diri</strong>? </p>
	<p>27. Apakah anda telah <strong>mengunjungi saudara–saudara seiman dan seagama </strong>(ikhlas karena Allah semata)? </p>
	<p>28. Apakah anda telah <strong>berdakwah</strong> untuk keluarga, saudara-saudara, tetangga, dan siapa saja yang yang ada hubungannya dengan diri anda?</p>
	<p>29. Apakah anda termasuk orang yang <strong>berbakti kepada orang tua</strong>? </p>
	<p>30. Apakah anda selalu mengucapkan <strong>Innaa Lillaahi wa Innaa Ilaihi Raaji’uun </strong>– Sesungguhnya kami kepunyaan Allah dan sesungguhnya kami kembali kepada-Nya jika anda mendapat musibah dari Allah? Karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Hendaklah masing-masing kalian melakukan istirja’ (mengucapkan Innaa Lillaahi wa Innaa Ilaihi Raaji’uun) pada setiap hal meskipun ketika tali sandalnya putus karena hal itu termasuk musibah. (Hadits hasan, lihat Shahih Al-Kalimut Thayyib No. 140) </p>
	<p>31. Apakah anda hari ini mengucapkan do’a: Allahumma Innii A’uudzubika an Usyrikabika wa Anaa A’lam wa Astaghfiruka Limaa laa A’lam – Ya allah sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari menyekutukan-Mu sedangkan aku mengetahui dan aku memohon ampunan-Mu terhadap apa-apa yang tidak aku ketahui. (Shahih Al-Jami’ No. 3625). Barang siapa yang mengucapkannya maka Allah akan menjauhkan darinya dari syirik besar dan syirik kecil. </p>
	<p>32. Apakah anda selalu berbuat baik kepada tetangga? </p>
	<p>33. Apakah anda telah membersihkan hati dari sombong, riya, hasad dan dengki? </p>
	<p>34. Apakah anda telah membersihkan lisan anda dari perkataan dusta, mengumpat, mengadu domba, berdebat kusir dan berbuat serta berkata yang tidak ada manfaatnya? </p>
	<p>35. Apakah anda selalu takut kepada Allah dalam hal penghasilan, makanan, minuman dan pakaian? </p>
	<p>36. Apakah anda selalu bertaubat kepada Allah dengan taubat yang sebenar-benarnya di segala waktu atas segala dosa dan kesalahan?</p>
	<p>Akhi wa ukhti, jawablah pertanyaan-pertanyaan di atas dengan perbuatan nyata, agar engkau mendapat ridla Allah dan menjadi orang-orang yang beruntung di dunia dan di akherat, Insya Allah.</p>
	<p>Sumber:<br />
-Zaadul Muslim Al-Yaumi , Syaikh Abdullah bin Jaarullah bin Ibrahim Al-Jaarullah.<br />
-Al-Qabru ‘Adzaabuhu wa Na’iimuhu, Syaikh Husain Al-‘Awaisyah</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://multazimah.blogsome.com/2008/03/29/muhasabah-harian-seorang-muslim/feed/</wfw:commentRss>
	</item>
		<item>
		<title>Memahami Makna Hijrah</title>
		<link>http://multazimah.blogsome.com/2008/01/25/memahami-makna-hijrah/</link>
		<comments>http://multazimah.blogsome.com/2008/01/25/memahami-makna-hijrah/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 25 Jan 2008 10:09:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>multazimah</dc:creator>
		
	<category>Renungan</category>
	<category>Dakwah</category>
		<guid>http://multazimah.blogsome.com/2008/01/25/memahami-makna-hijrah/</guid>
		<description><![CDATA[	Hampir dapat dipastikan, tidak ada kesuksesan tanpa sebuah prinsip. Betapapun rapinya suatu program, jika tanpa ada prinsip yang dijadikan pedoman maka tidak akan dicapai hasil yang memuaskan. Bahkan boleh jadi semuanya akan kacau tak terarah. Demikian halnya dengan program hidup manusia, mutlak memerlukan prinsip yang diharapkan menjadi dasar dalam berbuat untuk mencapai tujuan hidup yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[	<p>Hampir dapat dipastikan, tidak ada kesuksesan tanpa sebuah prinsip. Betapapun rapinya suatu program, jika tanpa ada prinsip yang dijadikan pedoman maka tidak akan dicapai hasil yang memuaskan. Bahkan boleh jadi semuanya akan kacau tak terarah. Demikian halnya dengan program hidup manusia, mutlak memerlukan prinsip yang diharapkan menjadi dasar dalam berbuat untuk mencapai tujuan hidup yang diinginkan. Supaya semua itu dapat tercapai, maka prinsip hidup yang telah diyakini harus senantiasa dijaga, dipelihara, dilestarikan dan dipertahankan sampai akhir hayat manusia.<a id="more-90"></a></p>
	<p>Sebagai seorang muslim yang taat, kita tidak boleh meninggalkan/ terlepas dari sebuah prinsip. Dan prinsip hidup kita adalah sesuatu yang paling menentukan kebahagiaan hidup dunia-akhirat. Ada tiga prinsip hidup muslim yang tercantum dalam QS. 2:218, QS. 8:174 dan QS. 9:20 yaitu iman, hijrah dan jihad atau secara umum kita sebut keyakinan, perubahan dan perjuangan. Ketiga prinsip hidup tersebut harus berjalan serasi, sejalan dan seiring agar tujuan hidup manusia—bahagia dunian-akhirat—dapat tercapai.<br />
Keyakinan/iman adalah dasar untuk berjuang dalam melakukan perubahan. Dan sangat mustahil ada perubahan tanpa perjuangan. Demikian halnya, mustahil ada perjuangan tanpa ada keyakinan. Alloh swt berfirman dalam QS. Ar-Ra’du[13]:11<br />
<em>Sesungguhnya Alloh tidak akan merubah keadaan suatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri</em></p>
	<p>***<br />
Hijrah, sebagai salah satu prinsip hidup, harus senantiasa kita maknai dengan benar. Secara bahasa hijrah berarti meninggalkan.    seseorang dikatakan hijrah jika telah memenuhi 2 syarat, yaitu <strong>pertam</strong>a ada sesuatu yang ditinggalkan dan <strong>kedua</strong> ada sesuatu yang dituju (tujuan). Kedua-duanya harus dipenuhi oleh seorang yang berhijrah. Seseorang yang telah meninggalkan tempat tertentu tapi tidak ada tujuan itu namanya gelandangan, sebaliknya orang yang telah menuju suatu tempat tapi tidak pernah meninggalkan tempat itu namanya mimpi, nglamun.  </p>
	<p>Dalam realita sejarah hijrah senantiasa dikaitkan dengan meninggalkan suatu tempat, yaitu adanya peristiwa hijrah Nabi dan dan para sahabat meninggalkan tempat yang tidak kondusif untuk berdakwah. Bahkan peristiwa hijrah itulah yang dijadikan dasar umat Islam sebagai permulaan tahun Hijriyyah.</p>
	<p>Dalam suasana tahun baru Hijriyyah 1429 saat ini, mari kita kembali meletakkan pemahaman yang benar tentang hijrah. Hijrah tidak hanya berarti meninggalkan tempat tetapi juga berarti meninggalkan sikap/perbuatan. Dari sikap/perbuatan yang tidak diridhoi Alloh menuju sikap/perbuatan yang diridhoi Alloh swt. Jadi secara garis besar hijrah kita bedakan menjadi dua macam yaitu:<br />
1. Hijrah makaniyah, Yaitu meninggalkan suatu tempat<br />
Ada beberapa jenis hijrah makaniyyah, yaitu:<br />
a. Hijrah dari Mekkah ke Habasyah<br />
b. Hijrah dari Mekkah ke Madinah<br />
c. Hijrah dari suatu negeri yang didalamnya didominasi oleh hal-hal yang diharomkan<br />
d. Hijrah dari suatu negeri yang membahayakan kesehatan untuk menghindari penyakit menuju negeri yang aman<br />
e. Hijrah dari suatu tempat karena gangguan terhadap harta benda<br />
f. Hijrah dari suatu tempat karena menghindari tekanan fisik<br />
Seperti hijrahnya Ibrohim as dan Musa as, ketika Beliau khawatir akan gangguan kaumnya. Seperti yang tercantum dalam al-qur’an<br />
-QS.Al-Ankabut[29]:26<br />
<em>“Sesungguhnya aku berhijrah ke (tempat yang diperintahkan) Tuhanku”</em><br />
-QS.Al-Qoshosh[28]:21<br />
<em>“Maka keluarlah Musa dari kota itudengan rasa takut menunggu-nunggu dengan khawatir, dia berdo’a: Yaa Tuhanku, selamatkan aku dari orang-orang yang zalim itu”</em></p>
	<p>2.Hijrah maknawiyyah, Secara maknawi hijrah dibedakan menjadi 4 macam, yaitu:<br />
<strong>a. Hijrah I’tiqodiyyah</strong><br />
I&#8217;tiqodiyah atau keyakinan adalah sesuatu yang menjadi penentu setiap amal kita. Tanpa sebuah keyakinan dalam setiap amal, niscaya tidak akan sukses amal tersebut. Karena begitu pentingnya i&#8217;tiqodiyah dalam diri kita, maka inilah sesuatu yang pertama kali harus kita hijrahkan. Hijrah menuju i&#8217;tiqodiyah yang benar. </p>
	<p>Diakui atau tidak, selama hidup ini, kita sering bersinggungan dengan keyakinan yang kurang benar, baik dalam hal kesehatan, pekerjaan, jodoh dan lain sebagainya. Dan terkadang tidak banyak di antara kita yang menyadarinya padahal perbuatannya sudah mendekati bahkan masuk dalam ruang kesyirikan. Anehnya bentuk-bentuk perbuatan yang mendekati pengotoran i&#8217;tiqodiyah saat ini mulai dilegalkan. Dengan sedikit memolesnya, seolah pelanggaran keyakinan tersebut menjadi tak masalah. Coba kita lihat acara-acara TV, yg sudah secara vulgar mendukung bentuk pelanggaran i&#8217;tiqodiyah tersebut, misalnya ramalan jodoh, ramalan nasib, praktik perdukunan modern dsb.</p>
	<p>Hijrah i&#8217;tiqodiyah, menjadi sebuah keharusan bagi setipa muslim, sehingga ia menjadi seorang muslim yang sebenarnya, muslim yang memiliki salimul aqidah. </p>
	<p><strong>b. Hijrah Fikriyyah</strong><br />
Fikriyah secara bahasa berasal dari kata fiqrun yang artinya pemikiran. Seiring perkembangan zaman, kemajuan teknologi dan derasnya arus informasi, seolah dunia tanpa batas. Berbagai informasi dan pemikiran dari belahan bumi bisa secara online kita akses. Sebenarnya tak jadi maslah selama informasi dan pemikiran tersebut sejalan dengan Islam, karena hal itu justeru akan memperkaya tsaqofah keIslaman kita. Yang jadi masalah adalah apabila pemikiran tersebut menyimpang dari ajaran Islam, dan lebih parah lagi kita tak menyadarinya. MAka tak diragukan lagi, pasti kita akan terpengaruh olehnya.</p>
	<p>Dunia yang kita tempati saat ini, sebenarnya telah menjadi medan perang yang kasat mata. Medan Perang yang ada tapi tak disadari keberadaannya oleh kebanyakan manusia. Genderang perang telah dipukul dalam medan yang namanya &#8220;Ghoswul Fikr&#8221; (baca: Perang Pemikiran). Tak heran berbagai pemikiran telah tersebar di medan perang tersebut laksana amunisi dari senjata-senjata perenggut nyawa. Isu sekularisasi, kapitalisasi, liberalisasi, pluralisasi, dan sosialisasi bahkan komunisasi telah menyusup ke dalam sendi-sendi dasar pemikiran kita yang murni. Ia menjadi virus ganas yang sulit terdeteksi oleh kaca mata pemikiran Islam. Keberadaannya samar dan dipoles dengan nilai-nilai yang seolah Islami. Munculnya JIL tak ayal, juga merupakan dampak virus ganas tersebut. </p>
	<p>Hijrah fikriyah menjadi sangat penting mengingat  kemungkinan besar pemikiran kita telah terserang virus ganas tersebut. Mari kita kembali mengkaji pemikiran-pemikiran Islam yang murni. Pemikiran yang telah disampaikan oleh Baginda Nabi Muhammad SAW, melalui para sahabat, tabi&#8217;in, tabi&#8217;ut tabi&#8217;in dan para generasi pengikut salaf. </p>
	<p><strong>c. Hijrah Syu’uriyyah</strong><br />
Syu&#8217;uriyah atau cita rasa, kesenangan, kesukaan dan semisalnya, semua yang ada pada diri kita sering terpengaruhi oleh nilai-nilai yang kurang Islami. Banyak hal seperti hiburan, musik, bacaan, gambar/hiasan, pakaian, rumah, idola, organisasi, partai dan banyak lagi, semua tak luput dari pengaruh nilai-nilai di luar Islam. Kalau kita perhatikan, hiburan dan musik seorang muslim tak jauh beda dengan hiburannya para penganut paham permisifisme dan hedonisme, berbau hura-hura dan senang-senang belaka. Padahal tidak ada hiburan dan musik seorang muslim yang lebih baik dari pada lantunan ayat-ayat Al-Qur&#8217;an.</p>
	<p>Apakah Bacaan yang sering dilupakan oleh seorang muslim? Jawabnya tak lain adalah Al-Qur&#8217;an. Bagaimana mungkin, padahal ia tahu bahwa al-Qur&#8217;an adalah petunjuk hidupnya yang akan menyelamatkannya dari kegelapan menuju cahaya? Coba renungkan berapa lama Anda membaca Al-Qur&#8217;an dalam sehari? Coba bandingkan dengan koran, majalah, gosip, berita di TV, di internet yang Anda baca dalam sehari. Adilkah???? Dan yang lebih memprihatinkan, ternyata bacaan pertama kali yang dibaca kebanyakan kita adalah koran bukannya al-Qur&#8217;an</p>
	<p>Mode pakaian juga tak kalah pentingnya untuk kita hijrahkan. Hijrah dari pakaian gaya jahiliyah menuju pakaian Islami, yaitu pakaian yang bener-bener mengedepankan fungsi bukan gaya. Apa fungsi pakaian? Tak lain hanyalah untuk menutup aurat, bukan justeru memamerkan aurat. Ironis memang, banyak diantara manusia berpakaian tapi aurat masih terbuka. Kata Nabi, berpakaian tapi telanjang. Ada yang sudah tertutup  tapi ketat dan transparan, sehingga lekuk tubuhnya bahkan warna kulitnya terlihat. Dan masih banyak model-model pakaian masa kini yang nyleneh-nyleneh. </p>
	<p><strong>d. Hijrah Sulukiyyah</strong><br />
Suluk berarti tingkah laku atau kepribadian atau biasa disebut juga akhlaq. Dalam perjalanannya akhlaq dan kepribadian manusia tidak terlepas dari degradasi dan pergeseran nilai. Pergeseran dari kepribadian mulia (akhlaqul kariimah) menuju kepribadian tercela (akhlaqus sayyi’ah). Sehingga tidak aneh jika bermunculan berbagai tindak amoral dan asusila di masyarakat. Pencurian, perampokan, pembunuhan, pelecehan, pemerkosaan, penghinaan dan penganiayaan seolah telah menjadi biasa dalam masyarakat kita. Penipuan, korupsi, prostitusi dan manipulasi hampir bisa ditemui di mana-mana. Na’udzubillah…..<br />
Dalam moment hijrah ini, sangat tepat jika kita mengkoreksi akhlaq dan kepribadian kita untuk kemudian menghijrahkan menuju akhlaq yang mulia. </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://multazimah.blogsome.com/2008/01/25/memahami-makna-hijrah/feed/</wfw:commentRss>
	</item>
		<item>
		<title>Sebuah Kisah CINTA SEJATI</title>
		<link>http://multazimah.blogsome.com/2007/12/31/sebuah-kisah-cinta-sejati/</link>
		<comments>http://multazimah.blogsome.com/2007/12/31/sebuah-kisah-cinta-sejati/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 31 Dec 2007 06:58:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>multazimah</dc:creator>
		
	<category>Nashihat</category>
	<category>Renungan</category>
	<category>Dakwah</category>
		<guid>http://multazimah.blogsome.com/2007/12/31/sebuah-kisah-cinta-sejati/</guid>
		<description><![CDATA[	CINTA PUTRI AELIA
	Bulan Andimarsedonia
	Pada suatu masa, sebuah kerjaan kecil berdiri dengan sangat makmur dan damai.Walau kerajaan ini kecil, karena kekayaannya ia sagat disegani dan dihormati oleh kerajaan-kerajaan tetangganya. Kerajaan ini bernama Andimarsedonia. Andimarsedonia dipimpin oleh seorang raja yang masih muda tapi bijaksana dalam bernegara, beliau memiliki seorang permaisuri dan seorang adik yang bernama Putri Aelia.
Putri [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[	<p><strong>CINTA PUTRI AELIA</strong></p>
	<p><strong>Bulan Andimarsedonia</strong></p>
	<p>Pada suatu masa, sebuah kerjaan kecil berdiri dengan sangat makmur dan damai.Walau kerajaan ini kecil, karena kekayaannya ia sagat disegani dan dihormati oleh kerajaan-kerajaan tetangganya. Kerajaan ini bernama Andimarsedonia. Andimarsedonia dipimpin oleh seorang raja yang masih muda tapi bijaksana dalam bernegara, beliau memiliki seorang permaisuri dan seorang adik yang bernama Putri Aelia.<br />
Putri Aelia dikenal sebagai Bulan dari Andimarsedonia, karena dia berparas sangat rupawan, kulitnya putih dan bersinar, bibirnya semerah darah dengan senyum yang sangat merekah, suaranya sangat merdu dan lemah lembut, rambutnya yang panjang sehitam arang, tubuhnya harum seharum melati.<a id="more-89"></a> Kecantikannya yang luar biasa tidak hanya tersebar hingga kesuluruh pelosok kerajaan, tapi berita itu juga mencapai keberbagai negri didunia. Tidak sedikit yang berlomba-lomba untuk melihat wajahnya walau hanya sekejap. Berdatangan pinangan dari pernjuru, tapi tak satupun yang dapat meluluhkan hati sang putri.<br />
Putri Aelia tidak hanya dikagumi dengan kecantikannya, tapi juga karena kecerdasannya dan kepiawaiannya diberbagai bidang. Jiwanya yang keras dan kesadaran akan kedudukannya inilah yang membuat Putri sangat pemilih dalam masalah percintaan.<br />
Putri Aelia merupakan salah satu tangan kanan Raja dalam menjalankan roda pemerintahan.</p>
	<p>	Pada suatu hari Putri Aelia sedang berjalan-jalan dihutan wilayah selatan bersama beberapa pengawal dan dayangnya. Tiba-tiba sebuah kuda melaju sangat kencang dari arah yang berlawanan. Ketika melihat rombongan putri, si penunggang kuda memperlambat jalan kudanya, lalu berhenti didepan rombongan sang putri dengan menganggukan kepalanya sekali sebagai tanda hormat. Ketika pandangan mata pemuda itu bertemu dengan pandangan sang putri, pemuda itu langsung menundukkan pandangannya. Putri merasa heran, selama hidupnya hampir semua laki-laki akan terpana akan kencantikannya sehingga tak akan mampu mengalihkan pandangan mereka dari wajahnya untuk beberapa lama. Tapi dalam sekejap saja pemuda dihadapannya ini langsung menundukkan pandangannya.<br />
	Karena rasa herannya, putri meminta sang pemuda untuk mendekat. Pemuda itupun mendekat dengan masih saja menundukkan pandangannya.<br />
	“Salaam hai pemuda. Siapakah kau dan sedang apa kau disini?”<br />
	“Walaikum salam Putri Aelia, Saya adalah Ali abdul Jabbar bin Abdullah, dan saya sedang berkuda berkeliling hutan.” Jawab pemuda itu tanpa sekejappun menaikkan pandangannya pada sang putri. Sikap pemuda bernama Ali semakin membuat putri penasaran.<br />
	“Wahai Ali, mengapa kau selalu menundukkan pandanganmu ketika berbicara padaku, padahal aku tak berkeberatan dengan hal itu.”<br />
	“Sungguhpun saya tahu Putri tidak berkeberatan, tapi Allah dan Rasul-Nya berkeberatan jika saya memandang Putri, dan saya takut akan murka Allah.”<br />
	Putri Aelia merasa malu mendengar perkataan pemuda itu, karena selama berbicara, tak sekejapun ia menundukkan pandangannya dari Ali. Putri menyadari bahwa Ali memiliki wajah dan perawakan yang sangat tampan, tapi ketampanan budi dan akhlaknya semakin membuat Putri Aelia kagum. Bagi sang Putri, Ali adalah sosok yang sangat lain dari yang lain, Putri merasakan sesuatu pecah didadanya, ada perasaan riang yang tiba-tiba menggelitik relung hatinya, akhirnya dia menyadari bahwa Ali adalah laki-laki yang ia tunggu selama ini.<br />
	“Wahai Ali, siapakah orang tuamu dan dimanakah rumahmu?”<br />
	“Ayah saya adalah Abdullah bin Mustofa, Bangsawan kerjaaan bagian selatan dan rumah kami…”tiba-tiba Putri memotong kalimat Ali.<br />
	“Ah aku tahu, ternyata kau putra dari paman Abdullah, aku mengenalnya, tapi mengapa aku tidak pernah melihatmu berkunjung ke istana?”<br />
	“Karena sejak kecil saya tidak pernah berada dikerajaan ini, saya menetap kerajaan tetangga. Saat ini saya sedang berlibur disini untuk beberapa waktu.”<br />
“Ah baiklah kalau begitu, apakah kau bersedia untuk berburu bersama rombonganku?”<br />
	“Terima kasih banyak tuan Putri, saya merasa terhormat, tetapi saya telah berjanji pada ayah untuk pulang pada saat makan siang, dan saya rasa saya telah sedikit terlambat. Jika Putri tidak berkeberatan, saya harus memenuhi janji saya pada beliau, saya mohon pamit.”<br />
	Putri menghela nafas kesekian kalinya, jika bukan Ali, tanpa sedetikpun berpikir laki-laki manapun akan menerima tawarannya itu dengan girangnya. “Sungguh kau ini laki-laki yang berbeda wahai Ali, tak sedikitpun kau bernafsu untuk menghabiskan waktu bersamaku. Baiklah Ali, senang berkenalan denganmu, sampaikan salamku pada paman Abdullah, dan percayalah Ali, aku akan menemuimu lagi diwaktu yang dekat.”<br />
	“Insyaallah Putri dan terima kasih, wasalammualaikum.”<br />
	“Walaikum salam,” jawab putri lembut.<br />
Ali pun melesat pergi dengan lari kudanya yang sangat kencang. Sambil melihat kepergian Ali bersama kudanya, Putri Aelia menarik nafas panjang-panjang, akhirnya dia  menyandarkan kepalanya kedinding kereta dan berbisik pada pelayannya, “Ah Ali, tak sekalipun dia menoleh kebelakang… sungguh dayang, aku merasa melayang bersama larinya kuda Ali. Dayang, perintahkan rombongan untuk pulang ke istana!”<br />
Rombongan putripun kembali keistana, tetapi hati sang putri sangat kentara telah terbawa oleh pemuda Ali dan kudanya ke arah yang berlawanan.</p>
	<p>	Sesampai diistana Putri bergegas menuju Taman Keputrian, sebuah tempat khusus dalam istana yang merupakan berkumpulnya para putri dan istri bangsawan. Ia ingin sekali mencari kabar berita tentang pemuda yang baru saja ditemuinya. Seperti dugaannya, pada saat itu Taman Keputrian sangat ramai, dia mendekati segerombolan putri bangsawan yang sangat terkenal dan pandai, mereka adalah teman-teman dekat Putri Aelia<br />
	“Salam wahai saudariku, Aisya, Amina, Safira” Rombongan itu membalas salam putri dengan riangnya.<br />
	“Walaikum salam Putri Aelia, masyaallah kau terlihat sangat ceria. Wajahmu tampak sangat kemerahan dan senyummu sungguh lebih merekah daripada biasanya! Ada apakah gerangan yang terjadi?” Putri Aelia tertegun, sejelas itukah pancaran kebahagiaan hatinya dari wajahnya?<br />
	“Ah kalian memang teman dekatku, mungkin kalian dapat langsung membaca pikiranku tanpa kuberi tahu.”<br />
	“Ah Putri, jika aku tak mengenalmu lebih lama, aku akan berkata kau sedang jatuh cinta. Tapi setahuku tak satu pemudapun yang kau minati dinegeri ini. Jadi aku dengan jujur berkata padamu, aku tak tahu…” Jawab Aisya yang dibarengi anggukan kedua putri lainnya. Putri Aelia tertawa sangat kencang dan renyah, tidak seperti biasanya dia selalu tertawa lirih dan lembut, hal itu semakin membuat yang lain keheranan.<br />
	“Sungguh wahai saudariku, aku bertemu seorang pemuda hari ini.”<br />
Dengan serempak, ketiga putri itu menjatuhkan gelasnya dengan mulut menganga.<br />
	“Masya Allah!!!…..siapakah pangeran impian ini???” tanya mereka hampir serempak.<br />
	“Ah saudariku, aku baru saja mengenalnya, maukah kalian membantuku untuk mencari tahu segala sesuatu tentang dia? Karena sebagai seorang Putri aku malu untuk bertanya kesana kemari perihal seorang pemuda pada banyak orang.”<br />
	“Tentu saja kami mengerti, dan kami akan membantumu dengan senang hati. Katakan kepada kami, siapakah nama pemuda tersebut?”<br />
	Dengan wajah yang semakin memerah putri membisikan nama Ali abdul Jabbar bin Abdullah.<br />
	“Ah, aku tahu tentang dia, aku bertemu dengannya dua hari yang lalu. Dia baru datang dari Kerajaan Dalusia, tapi aku tak sempat berbicara padanya… ehm, saat itu aku dengar dikalangan para gadis dia dikenal sebagai Pemuda Es, karena dia sama sekali tak pernah berbicara akrab dengan wanita.” Kemudian Safira dengan menggoda berbisik pada Putri Aelia, ”Tapi jangan kuatir putri, dia belum menikah.” Diikuti gelak tawa yang lainnya.<br />
	“Ah Putri, sungguh tak salah pilihanmu!” tiba-tiba Aisya berteriak girang.<br />
	“Sungguh jika aku belum bertunangan, aku akan meminta Ayah untuk meminang dia untuk diriku sendiri ha ha….” Canda Aisya lagi riang, lalu dengan serius dia meneruskan. “Aku baru teringat ketika Safira berkata tentang Pemuda Es, Dia memang jarang sekali berkunjung ke negeri ini. Seperti kau tahu, aku masih sepupu dengan Ali, karena dia menganggapku saudara, dia pernah berbicara padaku setahun yang lalu. Ah sungguh dia pemuda yang luar biasa! Tidak hanya tampan, tapi juga pandai dalam segala bidang, terlebih lagi, dia sangat rendah hati. Banyak sekali gadis dikerajaan ini ingin menikah dengannya, tapi lamaran orang tua mereka selalu ditolak oleh Ali dengan hormat. Aku sendiri tak mengerti mengapa, padahal dia saat itu belum memiliki kekasih. Akhirnya sampai saat ini semua orang tua segan untuk melamarnya lagi. Jika putri mereka meminta pada orang tua mereka untuk melamarkan Ali, mereka akan berkata …’Lebih baik kau tunggu Ali datang melamarmu’. Sungguh mereka tahu bahwa tak akan lamaran mereka itu diterima.”<br />
	“Waaah, benar! Para orang tua berhenti melamar Ali setahun yang lalu. Orang tuaku salah satunya. Mereka melamarkan Ali untuk Syafia kakak sulungku. Tapi Ali menolak karena alasannya dia belum ingin menikah dan ingin melanjutkan pendidikannya. Sungguh malang kakakku itu, aku beruntung tak pernah bertemu Ali, karena aku takut akan senasib seperti kakakku, yang kudengar, dia selalu menjauhi wanita dan menundukkan pandangannya setiap kali berbicara dengan wanita.” Kenang Amina.<br />
	“Ah Putriku yang cantik, kau telah bertemu orang yang sama dengan dirimu!” kata Amina lagi. Kemudian mereka terdiam untuk beberapa saat.<br />
	“Tapi siapakah yang mampu menolak kecantikan Putri??!!” teriak ketiga gadis itu dengan serempak sambil menggoda Putri Aelia, kemudian mereka semuanya tertawa.<br />
	“Mengapa aku tak pernah mendengar tentang dia dari kalian atau yang lain?”<br />
	“Ah Putriku yang cantik, kami segan membicarakan tentang seorang pemuda yang jauh dari jangkauan kami. Lagipula kami bertiga sudah bertunangan, kami malu untuk membicarakan perihal seorang pemuda selain dari tunangan kami. Lapi pula, dia jarang sekali tinggal disini, hanya orang yang tinggal di daerah selatan yang banyak tahu tentang Ali, ehm…tentu saja hampir semua gadis dinegeri ini, sedangkan Kau jarang sekali keluar istana, apalagi bertanya tentang pemuda!”<br />
	Putri Aelia berpikir sejenak, lalu tiba-tiba dia berkata,<br />
“Aku akan menghadap kakakku.” Ketiga putri tersebut tertegun mendengar kalimat terakhir Putri Aelia, mereka tahu maksud dari perkataan adalah tekad Putri Aelia untuk mendapatkan Ali melalui sang Raja. Siapakah orang yang akan menolak lamaran seorang Raja negaranya. Dalam hati mereka berkata, “Ah Ali, sudah saatnya kau menerima lamaran seorang wanita!”<br />
Lalu Putri Aelia berpamitan meninggalkan ketiga temannya dengan keyakinan yang mantap, ketiga putri bangsawan itupun bubar masih dengan perasaan terkejut<br />
****</p>
	<p>Walaupun malam telah larut, Putri Aelia mengunjungi kamar peristirahatan kakaknya sang Raja. “Ah Adikku tersayang Aelia, tak biasanya kau ingin bertemu aku secara tergesa-gesa seperti ini, ada bintang apakah yang jatuh ditanganmu?”<br />
“Duhai kakakku tersayang, tak nampakkah olehmu cahaya bulan yang memancar dari wajahku?” Raja tertegun lalu memperhatikan mimik wajah adiknya yang rupawan.<br />
“Masyaallah, mengapa wajahmu merona dan tersipu seperti itu? Apakah mungkin hal yang luar biasa terjadi padamu?”<br />
“Ayolah kakak coba tebak jika kau mengenalku sedalam lautan!”<br />
“Wahai adik, jangan kau permainkan kakakmu ini! Tak mungkin jika kau ini bertemu seorang pria?!” Mendengar tebakan Raja wajah putri semakin memerah dan senyumnya semakin merekah, kecantikannya terpancar lebih bercahaya dari biasanya. Rajapun sangat terkejut bercampur girang melihat anggukan malu adiknya.<br />
“Masya Allah!!! Benarkah ini? Adikku menemukan pujaan hatinya? Allohuakbar!” Raja memeluk adiknya denga perasaan sangat berbunga.<br />
“Sungguh berita yang amat baik yang kau bawa malam ini wahai Aelia! Ceritakan padaku siapa orangnya!” Aeliapun menceritakan pertemuannya dengan Ali dan apa yang dia dengar tentang Ali dari teman-temannya.<br />
“Ah Putra kedua Abdullah bin Mustofa! Aku sering mendengar tentang dia dari Abdullah dan bangsawan yang lain. Dia cukup dikagumi, tapi sejak kecil ia  tinggal dan menetap dengan Paman dari pihak ibunya di Dalusia jadi aku tak pernah mengenalnya secara langsung. Aku percaya pada penilaianmu tentang Ali. Apapun kehendakmu aku percaya wahai adikku. Baiklah, aku akan memanggil Abdullah bin Mustofa menghadap besok pagi!”</p>
	<p>“Terima kasih Kakakku tercinta.” Putri Aelia kembali ke pembaringannya dengan perasaan berbunga, perasaan yang tak pernah dia alami selama hidupnya. Semalaman dia terjaga karena tak mampu untuk memejamkan mata dan pikirannya yang telah penuh dengan sosok Ali.</p>
	<p><strong>Berita Dari Istana</strong></p>
	<p>Pagi menjelang, kesegaran menerobos dengan lincah disela dedaunan berlomba dengan angin pagi. Abdullah menyeruput minuman madu yang masih panas dengan perlahan, sedangkan Ali baru keluar dari bilik mushola keluarganya setelah menjalankan shalat fajar.<br />
“Salaam Ayah, selamat pagi.”<br />
“Walaikum salam! Ah anakku Ali, Sungguh aku diberkahi Allah dengan memiliki anak yang tak lepas dari sajadahnya seperti dirimu Ali.”<br />
“Alhamdulillah Ayah, segala pujian hanya kepada Allah semata. Tiada daya dan upaya tanpa pertolongan-Nya.”<br />
“Ha ha ha, seperti biasanya, kau benar-benar sungkan dengan pujian Ali!” Ali duduk di kursi desebelah ayahnya. Taman mawar yang luas dihadapannya menyebarkan keharuman yang sangat menyegarkan. Taman mawar itu selalu mengingatkan Ali akan ibunya yang telah wafat dua tahun yang lalu. Taman mawar ini adalah peninggalan kelembutan dan pancaran kasih sayang dari ibunda Ali.<br />
“Ah kau lihat Ali, ibumu adalah wanita seperti mawar-mawar itu. Cantik dan selalu membawa kesegaran dirumah ini. Apalah arti taman itu tanpa mawar-mawar itu Ali?”<br />
“Kosong dan membosankan Ayah.” Jawab Ali singkat.<br />
“Benar Ali!… begitu pula hidup seorang laki-laki tanpa wanita.”<br />
“Apakah ayah ingin menikah lagi?” mendengar pertanyaan Ali yang spontan  Abdulah tertawa terbahak-bahak.<br />
“Oh Ali!!! Aku ini sudah tua dan banyak anak!… ibaratkan taman itu, tamanku telah penuh dengan buah-buahan!” Abdullah masih tertawa geli, sedangkan Ali sudah menangkap maksud dari ayahnya.<br />
“Ali, kau jangan pura-pura bodoh. Kau tahu apa maksud dari “ayah tuamu” ini.”<br />
Ali menghela nafas pendek sambil tersenyum. Abdullah terkejut dengan expresi anaknya saat itu. Tidak seperti biasanya, Ali tersenyum, biasanya dia hanya akan menjawab dengan sikap segan dan wajah penuh keseganan.<br />
	“Ayah… Aku tahu, maksud ayah tentang wanita untuk diriku… sebenarnya  ayah…” Belum sempat Ali melanjutkan kalimatnya, seorang pelayan menghadap Abdullah dengan sebuah surat ditangannya.<br />
 	“Dari Raja?” Abdullah membaca surat perintah Raja dengan serius. Lalu dia melipat surat itu dan memandang tajam kearah anaknya.<br />
	“Ali, sungguh senyum diwajahmu barusan amat membuatku penasaran, tapi aku harus menunggu jawabanmu dilain waktu, karena Raja memintaku datang sekarang juga.” Ali tertawa melihat kebingungan diwajah ayahnya, “Ya Ayahku, aku akan berada disini jika kau kembali aku tak akan lari dari pembicaraan ini, isnyaallah. Pergilah menghadap Raja Ayah.” Jawaban Ali semakin membuat Abdullah penasaran dan sedikit girang, jika Ali tak menghindar dari pemboicaraan ini, apakah artinya Ali telah menemukan seorang gadis?… Abdullah merasa tersiksa akan rasa penasaran tentang anaknya, tapi dia harus bergegas pergi, karena titah Raja adalah tugas utamanya. Perjalanan dari tempat tinggal Abdullah menuju istana memakan waktu setengah hari dengan kuda yang dipacu kencang. Abdullah tak mau membuang waktu dengan mengendarai kereta kuda, dia menunggang kudanya yang terbaik lalu melesat pergi.</p>
	<p>Sesampainya di istana Abdullah diundang minum teh bersama Raja taman. Abdullah tahu, jika Raja bersikap demikian berarti Raja hendak membicarakan sesuatu yang serius.<br />
“Abdullah, assalammualaikum!”<br />
“Walaikum salam Baginda, pagi yang amat segar dan mengherankan saya, apakah gerangan yang membuat Baginda ingin bertemu dengan saya dalam waktu singkat seperti ini?”<br />
“Sungguh Abdullah ada kabar baik kudengar malam tadi, sampai-sampai bulan negeri ini bersinar lebih terang dari sebelumnya!” Abdullah tertegun, ia tahu yang dimaksud Raja adalah Putri Aelia.<br />
“Ah! Subhanallah, berita gembira apakah yang sampai-sampai membuat kecantikan negeri ini bersinar lebih lagi?”<br />
“Bulan negri ini telah menemukan bintang pendamping yang diingininya Abdullah!!”<br />
Seperti semua orang, berita ini sangat mengejutkan Abdullah. Dia mengenal Putri Aelia dari kecil, dibalik kelambutan dan kecantikannya, Aelia memiliki sifat yang keras dan pendiriannya yang kuat. Menyadari kecantikan dan kedudukannya sebagai seorang Putri, Aelia sangat berhati-hati dalam memilih pasangan hidupnya.<br />
“Allohuakbar Ya Raja, benarkah itu? Siapakah pemuda yang sungguh beruntung ini?” Tanya Abdullah dengan mata yang membulat, Rajapun tertawa menggoda Abdullah.<br />
“Hai Abdullah, tak bisakah kau menebak siapa pemuda itu?”<br />
“Sungguh tak mampu saya menerkanya,”<br />
“Ah Abdullah!!! Aku tahu aku sering memintamu datang seperti ini karena aku senang berbicara tentang berbagai masalah padamu karena pengetahuan dan intuisimu sangat tajam. Tapi sungguhkah kau tak bisa menebak siapa pemuda itu?”<br />
“Benar seperti yang Baginda katakan, tak jarang Baginda memanggil saya seperti ini, jika dalam masalah kenegaraan akan mudah bagi saya untuk memberikan terkaan. Tapi masalah yang satu ini sungguh saya tak bisa menerka.”<br />
Mereka terdiam beberapa saat, Raja memberikan kelonggaran waktu untuk bernafas pada Abdullah.<br />
“Sudahkah kau tenang dari keterkejutanmu hai Abdullah?”<br />
“Ah… Ya Baginda, saya baik-baik saja.”<br />
“Adikku bertemu dengan pemuda itu kemarin di hutan daerah kekuasaanmu.” Kembali Raja diam dan menyelidik wajah Abdullah, seperti dugaannya, air muka Abdullah memancarkan keheranan.<br />
“Apakah saya mengenal pemuda ini Baginda?”<br />
“Ya Abdullah, kau mengenalnya dengan baik.” Abdullah semakin keheranan dan penasaran.<br />
“Dia tinggal didaerah kekuasaan saya dan saya mengenalnya, saya pikir sudah tidak ada satu pemudapun di kerajaan ini yang menarik perhatian Putri Aelia.”<br />
“Benar hai Abdullah, tak ada satu pemudapun ‘di kerajaan ini’ yang menarik perhatian adikku, kecuali satu pemuda yang sedari kecil tidak tinggal disini, tapi secara kebetulan dia putra dari negeri ini. Pemuda itu hanya singgah beberapa waktu saja untuk mengunjungi ayahnya yang kebetulan Bangsawan Daerah Selatan.”<br />
Bagai disambar petir Abdullah terperanjat hingga terbangun dari duduknya.<br />
“Ali???!!!” Raja tersenyum simpul lalu menarik Abdullah untuk kembali duduk. Sungguh hari ini penuh dengan kejutan bagi Abdullah, sikap Ali yang lain dari biasanya dan sekarang berita dari Raja tentang anaknya tersebut.<br />
“Ali abdul Jabbar bin Abdullah adalah nama pemuda itu, dan dia adalah putra keduamu.”<br />
“Ya dia putra saya, tapi maaf Baginda, bagaimana Putri bisa mengenal putra saya?”<br />
“Seperti yang kukatakan sebelumnya, adikku bertemu dengan putramu kemarin siang disaat dia berkuda dihutan. Tampaknya pertemuan yang amat singkat itu membuat adikku terpikat dengan putramu. Jadi sekarang kau tentu tahu kemana arah pembicaraanku Abdullah.”<br />
“Ya, tapi saya tidak berani memberikan jawaban apapun saat ini, karena keputusan itu ada ditangan putra saya.”<br />
“Hum, aku mengerti Abdullah. Sampaikan pinanganku ini kepada Ali. Kabari aku selekasnya setelah kau mendapatkan jawaban Ali. Sekarang bergegaslah kau kembali, karena seperti adikku dan dirimu, aku tak sabar untuk mendapat jawaban Ali.”<br />
Abdullahpun undur diri dengan membawa beban berat dipundaknya. Ia mengenal sekali akan tabiat putranya yang selalu menolak lamaran yang datang kepadanya. Abdullah merasa khawatir akan penolakan yang mungkin datang dari Ali, tapi dia teringat akan senyum Ali pagi tadi. Apakah mungkin pertemuan Ali dan Putri Aelia itu yang ingin disampaikan Ali? Ah Bisa jadi!!! Pekiknya girang dalam hati. Siapa yang tak akan terpesona oleh kencantikan Putri Aelia, mentaripun akan turun jika Putri Aelia menerima lamarannya. Abdullah pulang dengan menghibur diri sendiri akan pertemuan Putri dan Ali.</p>
	<p>Matahari telah lama meninggalkan takhtanya ketika Abdullah sampai tempat tinggalnya. Ali masih terjaga menanti kepulangan Abdullah. Secangkir kopi dan sepiring makanan ringan telah disiapkan Ali, dia tahu benar ayahnya tak akan pergi tidur sebelum rasa penasarannya hilang.<br />
“Assalammualaikum Ali,”<br />
“Walaikum salam Ayah, ada sesuatu yang hebatkah yang ayah dengar dari Raja hari ini? Wajahmu tampak lebih bingung daripada disaat kau berangkat tadi.”<br />
Abdullah merebahkan tubuhnya yang gembul sambil menghela nafas panjang sekali, “Ayah sebaiknya kau langsung istirahat, kau tampak lelah sekali.” Kata Ali kemudian.<br />
“Ah tidak…tidak!” Abdullah menggoyangkan tangannya dengan kencang,<br />
“Oh Ali anakku, aku tak akan mampu tidur dengan nyenyak sebelum berbicara padamu!” Ali tersenyum simpul, seperti biasa, dugaannya benar.<br />
“Ali, aku ingin bertanya padamu…” Abdullah menyeruput kopinya untuk menenangkan dirinya.<br />
“Ya Ayah, apakah itu?”<br />
“Benarkah kemarin kau bertemu dengan Putri Aelia di hutan?” Abdullah menatap tajam berharap menangkap perubahan wajah Ali,<br />
“Astagfirullah!! Ya, hal itu benar. Maaf aku tidak sempat menyampaikan salamnya pada Ayah, aku benar-benar lupa, apakah Putri bertanya tentang hal itu diistana tadi? Sungguh bodoh diriku karena lupa menyampaikan amanah darinya. Lain kali ayah bertemu dengannya, tolong sampaikan maafku.” Jawab Ali dengan rasa sesal yang kentara, Abdullah tersenyum simpul, anaknya memang selalu panik jika lupa menyampaikan amanah siapapun. Tapi bukan perubahan expresi wajah ini yang diharapkan Abdullah.<br />
“Kurasa kau harus menyampaikannya sendiri dilain waktu, karena. Ehm…..Bagaimana menurutmu tentang dia?”<br />
“Seperti yang telah tersebar diseluruh negeri, dia wanita yang luar biasa kecantikan wajah dan parasnya. Alhamdulillah.”<br />
“Apakah kalian lama berbicara?”<br />
“Tidak Ayah, aku harus segera pulang karena aku berjanji kepada ayah.”<br />
“Apa yang kalian bicarakan?”<br />
“Ayah, sungguh dia hanya bertanya dan aku menjawab pertanyaan beliau, dan pada saat itu aku terburu-buru.” Abdullah menghela nafas setengah mengeluh, kekhawatirannya semakin menjadi. Dengan perlahan dia melanjutkan,<br />
“Ali anakku, kau ingat tentang mawar dikebun?”<br />
“Ya, pembicaraan kita yang terputus pagi ini.” Jawab Ali singkat.<br />
“Apakah Putri Aelia bisa menjadi mawar dikebunmu Ali?” Mendengar itu Ali tersenyum tertawa karena dia pikir Abdullah sedang bercanda untuk menggodanya.<br />
“Ah Ayah!… jangan bercanda, dia seorang putri yang semua Raja diseluruh dunia ingin memilikinya. Apalah aku ini!”<br />
“Ali, aku tidak bercanda.” Jawaban Abdullah yang singkat dan serius menghentikan tawa Ali. Dengan wajah penuh harap Abdullah menjelaskan,<br />
“Baginda hari ini memanggilku untuk menyampaikan maksud hati sang Putri padamu.” Ali sangat terperanjat, matanya yang bulat semakin bulat sedangkan mulutnya terkatup rapat. Kemudian suasana membeku untuk beberapa saat. Ali menundukkan kepalanya dalam-dalam, Abdullah menghela nafas panjang dan tubuhnya semakin lemas menempel dikursinya. Ia tahu tundukan kepala Ali berarti berita buruk. Beberapa saat  kemudaian, dengan tenang Ali menatap ayahnya dalam-dalam dan berkata dengan perlahan.<br />
“Masya Allah Ayah, ini berita yang sangat mengejutkan. Aku sungguh tidak menyangka pertemuanku yang sedemikian singkat dengan Putri akan menimbulkan hasrat pada hatinya. Tapi ayah…” Abdullah memotong kalimat Putranya dengan gusar,<br />
“Ali, alasan apakah lagi saat ini yang kau ingin ajukan? Kau telah terlalu lama dan banyak menolak pinangan dari negeri ini, bahkan dari negeri tempat kau tinggal. Apa lagi yang kau inginkan? Saat ini yang meminangmu adalah seorang putri yang tidak hanya luar biasa kecantikannya, tapi juga kecerdasan otaknya.” Dalam hati Ali sedikit sedih melihat kekecewaan diwajah Abdullah, dengan suara semakin direndahkan Ali kembali berbicara.<br />
“Ayah, sesungguhnya pagi ini sewaktu ayah bertanya, aku ingin menyampaikan kabar kepadamu bahwa aku telah bertemu dengan seorang gadis.” Dugaan Abdullah benar adanya tentang senyum yang tersungging di bibir Ali pagi itu.<br />
“Ali, apakah gadis ini parasnya secantik Putri Aelia?”<br />
“Tidak, dia memang cantik, tapi tidak ada yang mampu menandingi kecantikan paras Putri Aelia ayah.”<br />
“Lantas tidak bisakah kau merubah keputusanmu tentang gadis itu?”<br />
“Maaf ayah, tidak.”<br />
“Mengapa Ali?”<br />
“Karena aku bersumpah untuk menikahinya atas nama Allah.”<br />
“Ah Ali, aku tahu sumpah itu sangat besar tapi…apakah karena sumpah itu saja sehingga kamu menolak lamaran Putri Aelia?”<br />
“Bukan hanya itu Ayah, jikapun aku tidak bersumpah kepada gadis itu, aku akan tetap memilih dia daripada Putri Aelia.” Abdullah tertegun, kepastian kata-kata Ali menimbulkan rasa sangat penasaran dihatinya pada gadis yang dimaksud anaknya itu. Apa kelabihan gadis itu dibanding Putri Aelia, seberepa luar biasakah sosok gadis ini? pikirnya.<br />
“Apakah dia datang dari keluarga bangsawan?” Selidik Abdullah lebih lanjut.<br />
“Tidak, dia dari keluarga yang biasa saja.” Jawab Ali singkat. Abdullah berdiam diri beberapa saat, lalu dengan nada lembut dia berkata,<br />
“Ali, Ayah mohon… ini adalah permintaan Raja, tolonglah ayah untuk mempertimbangkan keputusanmu lagi. Jika gadis itu benar mencintaimu, ayah yakin dia akan melepaskanmu dengan rela.” Mendengar permohonan ayahnya wajah Ali mengeras. Dengan pandangan lesu dan penuh penyesalan Ali menolak,<br />
“Ayah, maafkan jika anakmu tidak berbudi. Tapi ayah, ayah memiliki alasan sendiri dalam keputusan ayah untuk menikahi ibu, begitupun diriku. Demi Allah aku telah bersumpah akan menikahi dia, dan aku akan melaksanakan sumpahku karena rasa takutku pada Allah, selain dari itu ayah, aku sungguh mencintai gadis itu. Jika aku menikah, aku hanya ingin menikah dengan gadis seperti itu atau tidak sama sekali, insyaallah. Dan Putri bukanlah gadis seperti dia.” Abdullah menghela nafas panjang untuk kesekian kalinya dalam sehari. Dia tahu jika Ali telah mengatakan Demi Allah, maka taka akan ada yang dapat merubah keputusannya. Dengan lembut Ali mengusap pundak ayahnya,<br />
“Ayah, maafkan aku. Tapi keputusan seorang Putri dan Raja tak akan dapat merubah sumpah yang telah kuucapkan karena Allah. Sungguh aku takut kepada Allah.”<br />
“Ali anakku, aku mengerti. Sungguh kau benar-benar mencintai gadis itu hingga kau berani bersumpah atas nama Allah. Akupun takut kepada Allah.” Mendengar keikhlasan dalam kalimat Abdullah, Ali merasa sangat lega. Kemudian Abdullah melanjutkan,<br />
 “Katakan padaku siapa nama gadis itu dan dari mana asalnya. Sudah berapa lama kalian mengenal satu sama lain?”Akhirnya expresi wajah yang ditunggu Abdullah tampak diwajah Ali sewaktu menyebutkan nama gadis yang mematahkan pinangan Raja dan Putri Aelia.<br />
“Zanimra, gadis dari belahan bumi seberang, dari Madagashphur. Aku mengenalnya hanya dalam waktu singkat, tapi masyaallah dialah gadis yang aku cari selama ini, ayah.”<br />
Abdullah tertegun beberapa saat, diluar dugaannya nama gadis itu tidak mencerminkan nama Islam. Dia semakin penasaran dengan Zanimra, calon menantunya yang mampu mendahului Putri Aelia.<br />
“Ali, hiburlah ayahmu dari kekecawaan ini, undanglah Zanimra kemari.”<br />
“Baik ayah, aku akan memintanya datang.”<br />
“Segera Ali, kapan dia bisa datang?”<br />
“Perjalanan dari negerinya memakan waktu beberapa hari, tapi ayah bersabarlah. Insyaallah dia pasti akan datang jika ayah yang mengundang.”<br />
“Ah sungguh berat!…Aku tak tahu harus bagaimana menyampaikan berita ini pada Raja, aaaahhh sungguh berat!!….” Abdullah menggelengkan kepalanya keras-keras. Ali merasa menyesal membuat ayahnya kecewa, tapi dia tahu Abdullah mendukung keputusannya.<br />
“Ayah, jika ayah berkenan, aku pribadi yang akan menyampaikan jawabanku pada Baginda Raja atau Putri sendiri.”<br />
”Hai anakku, sungguh itu hal yang baik. Akan kubawa kau besok menghadap Raja, sekarang aku benar-benar lelah.” Abdullah beranjak dari tempat duduknya, dia berlalu kekamarnya sambil menepuk-nepuk pundak Ali. Sambil lalu dia berkata “Ali, aku mendukung keputusanmu.” Mendengar perkataan ayahnya yang terakhir Ali merasa tenang.</p>
	<p><strong>Permintaan Raja</strong></p>
	<p>Udara taman keputrian sangat segar pada pagi hari, bunga yang bermekaran sangat cantik terpuruk malu ketika Putri Aelia memasuki taman itu dengan riang. Kegirangan diwajahnya sungguh membuat kecantikannya semakin bersinar. Dari pagi hingga malam senyumnya membias tak pernah surut. Nama Ali terus terucap lirih dibibirnya. Raja memperhatikan adiknya dari kejauhan dengan rasa senang. Belum pernah selama hidupnya melihat adiknya benar-benar merasa bahagia semenjak kepergian ayah bundanya. Raja merasa yakin Ali tak akan menolah keinginan adiknya, terlebih lagi Putri Aelia terkenal selain dengan kecantikan parasnya juga kecantikan tingkah lakunya kepada sesama. Dia gadis yang baik dan sangat cantik, tak akan ada seorang pemudapun yang akan menolaknya. </p>
	<p>Tiba-tiba seorang punggawa kerajaan membuyarkan lamunannya. “Baginda, Abdullah beserta putranya hendak menghadap.” Dengan girang Raja memerintahkan kedua orang yang dinantinya untuk menemuinya di taman umum kerajaan, tempat biasa dia bercengkerama dengan Abdullah. Setelah Punggawa itu pergi raja memanggil adiknya.<br />
	“Aleia, ikutlah denganku.”<br />
	“Baik kakak,” sambil berjalan Aelia melihat senyum diwajah kakanya, “Kak ada apa?” Raja hanya menggelengkan kepala, beberapa langkah dari taman Raja menunjuk kearah dua sosok tubuh yang sangat dikenal Putri. Jantung Putri hampir berhenti melihat sosok Ali yang berdiri tak jauh dihadapannya, lututnya menjadi lemah lunglai seketika.<br />
	“Ali…” bisiknya lirih dengan bibir gemetar. Raja membimbing adiknya untuk mendekat, tapi tubuh putri mematung seperti es.<br />
“Kakak, aku takut tak mampu menguasai diriku, biarkan aku disini. Temuilah mereka dan kabarkanlah padaku berita yang terucap dari bibir Ali.” Raja mengangguk, lalu berlalu mendekati kedua sosok Ali dan Abdullah yang belum menyadari kehadiran Raja dan Putri, sementara itu putri bersembunyi dibalik rerumpunan mawar yang merambat. Dengan debaran jantung yang semakin mengeras Putri Aelia menunggu kakaknya, pandangan matanya tak sekejappun lepas dari sosok Ali. </p>
	<p>	Beberapa langkah mendekati Abdullah dan Ali, Raja merasakan sesuatu yang kurang menyenangkan ketika dia menangkap mata Abdullah yang sayu. Setelah mereka bertiga duduk Raja memperhatikan Ali dalam waktu yang cukup lama.<br />
	“Ah, rupanya inilah pemuda yang membuat adikku melayang diatas awan dan menari dilintasan pelangi.” Goda sang Raja pada Ali. Ali tersenyum gugup, tapi Abdullah lebih gugup lagi.<br />
	“Ali, berbicaralah padaku. Bagaimana menurutmu tentang Aelia.”<br />
	“Baginda, Putri adalah wanita dengan paras tercantik yang pernah saya temui didunia ini.” Raja tersenyum simpul. Tapi dia menangkap nada datar dari kata-kata Ali, hal itu membuatnya sedikit gusar.<br />
	“Dan menurutmu, apakah dia akan menghibur seorang laki-laki sebagai istri?”<br />
	“Bagi pria yang menikahinya dia adalah berkah dari Allah.”<br />
	“Ah, jadi menurutmu dia berkah dari Allah bagimu!” Sahut Raja tajam. Abdullah hendak angkat bicara, tapi kemudian Ali mendahului dengan tenang.<br />
	“Dengan segala kerendahan hati dan beribu maaf, Ayah telah menyampaikan maksud Raja dan Putri kepada hamba, tapi dengan berat hati saya tidak dapat menerimanya.” Wajah Raja mengeras dan nada suarannya semakin merendah menahan getaran hatinya.<br />
	“Hai Ali, apakah yang menyebabkan kamu menolak adikku?”<br />
	“Karena saya takut kepada Allah.” Raja tertegun, mendengar kata Allah kegeramannya sedikit mereda.<br />
	“Apa maksudmu?”<br />
	“Alasan saya tidak dapat menerima pingangan ini karena Saya telah mengangkat sumpah atas nama Allah pada seorang gadis sebelum bertemu Putri. Saya telah bersumpah untuk menikahi gadis itu. Dan saya tidak mungkin melanggar sumpah tersebut karena saya takut kepada Allah.”<br />
	“Hemh… kau takut kepada Allah karena sumpahmu aku bisa memahami, tapi jika gadis itu mau melapaskanmu dengan rela, apa yang akan kau lakukan Ali?”<br />
	“Tetap saya tidak dapat melanggar sumpah melainkan jika Allah berkehendak dia yang memutuskan untuk meninggalkan saya karena saya berbuat aniaya padanya. Sungguh saya takut kepada Allah, karena Allah berfirman dalam kitab-Nya,</p>
	<p>Q.S. An Nahl:91. Dan tepatilah perjanjian dengan Allah apabila kamu berjanji dan janganlah kamu membatalkan sumpah-sumpah (mu) itu, sesudah meneguhkannya, sedang kamu telah menjadikan Allah sebagai saksimu (terhadap sumpah-sumpah itu). Sesungguhnya Allah mengetahui apa yang kamu perbuat.”</p>
	<p>Q.S. Al Baqarah : 225. Allah tidak menghukum kamu disebabkan sumpahmu yang tidak dimaksud (untuk bersumpah), tetapi Allah menghukum kamu disebabkan (sumpahmu) yang disengaja (untuk bersumpah) oleh hatimu. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyantun.<br />
“Bagaimana jika gadis itu pergi meninggalkanmu?”<br />
“Allah yang Kuasa atas segala kejadian dimuka bumi, saya percaya padanya. Sebagaimana saya telah bersumpah atas nama Allah, diapun telah berjanji atas nama Allah untuk menanti dan menikahi saya.”<br />
	“Baiklah Ali, aku mengerti maksudmu. Bagaimana jika kau tak terikat sumpah dengan gadis itu?”<br />
“Maaf, dengan sejujurnya Saya yang tak akan rela melepaskan diri saya dari gadis itu Baginda.” Baginda terhenyak, seperti apakah gadis yang mengalahkan hasrat Ali dari kecantikan adiknya.<br />
	“Jadi, tanpa sumpah-pun kau akan tetap menolak adikku?”<br />
	“Jika saya telah bertemu dengan gadis itu, gadis manapun dibumi akan saya tolak. Tapi jika saya belum bertemu dengan gadis itu, demi kebaikan ayah, saya akan menerima Putri sebaga istri saya.”  Seperti halnya Abdullah, Raja sangat penasaran dengan gadis yang mengikat hati Ali.<br />
	“Begitu besarkah cintamu pada gadis itu Ali? Mengapa kalian begitu berani mengadakan perjanjian sekuat itu?”<br />
	“Demi ketenangan jiwa kami bedua, Baginda.”<br />
	“Sungguh mengherankan kepercayaan kalian berdua pada satu sama lain.”<br />
	“Sebenarnya yang kami percayai bukanlah diri kami, tapi Allah semata. Saya memegang janji yang diucapkannya karena Allah, dan dia memegang sumpah yang saya ucapkan karena Allah. Pada Allah sajalah kami menaruh kepercayaan penuh.”<br />
	“Baiklah Ali, sungguh aku amat sangat menyayangkan hal ini. Aku menghargai keputusan dan pendirianmu. Tapi demi kebahagiaan adikku, aku akan memperjuangkan dirimu untuk menikahinya. Buatlah aku mengakui bahwa gadis pilihanmu itu jauh lebih baik dari Aelia, maka aku akan rela merestui pernikahanmu dengan gadis itu. Tapi jika ternyata dia tidak lebih baik dari Aelia, aku tak ingin kau kembali kenegeri ini karena airmata adikku yang akan terus mengalir. Undanglah gadis itu untuk tinggal diistana ini sebagai tamu kerajaan.” Mendengar titah Raja, Abdullah merasa gusar, dia melirik kepada Ali, diwajah anaknya terlukis ketenangan dan keyakinan yang luar biasa. Keyakinan Ali membuatnya semakin bertanya-tanya tentang Zanimra, sebesar itu keyakinan Ali tentang gadis pilihannya, bahkan dihadap Raja sekalipun.<br />
	“Jika itu kehendak Baginda, saya akan melaksanakannya. Sampaikan perasaan penyesalan saya yang terdalam kepada Putri Aelia, semoga Allah memberinya keselamatan dan rahmat.” Kemudian Raja meminta Ali meninggalkan beliau dan ayahnya sendiri. Setelah Ali berlalu Raja berkata dengan penuh kesedihan pada Abdullah. Terbayang dimatanya tangis Putri Aelia karena rasa kecewa.<br />
	“Ah Abdullah, ternyata selama ini julukan Pemuda Es atas anakmu ini benar adanya. Sayang sekali aku tak bisa mengikat tali kekerabatan denganmu.”<br />
	“Maafkan saya Baginda,”<br />
	“Yah, aku tak menyalahkanmu Abdullah, hanya saja aku tak bisa melihat air mata adikku satu-satunya. Pahami keputusannku untuk mengembalikan kepercayaan adikku atas dirinya, satu-satunya jalan adalah hanya dengan mempertemukan dua putri ini dalam satu ruangan. Siapa tahu Ali memang benar akan pilihannya dan adikku bisa belajar sesuatu dari gadis tersebut. Aku hanya berharap cara ini akan membuat adikku rela melepaskan anakmu ini, Abdullah.”<br />
	“Saya mengerti dan saya yakin putra saya juga memahaminya.”<br />
	“Ya! Ya!… aku kagum pada putramu, tapi keyakinan diwajahnya terhadap gadis ini benar-benar membuatku penasaran. Seperti apakah gadis itu yang bisa membuat mata anakmu berpaling dari keajaiban kecantikan adikku? Abdullah, titahku pasti, bawalah gadis itu sebagai tamu istanan ini.”<br />
	“Titah Baginda akan saya laksanakan, insyaallah dalam beberapa hari Zanimra  akan tiba dikerajaan ini.”<br />
	“Ah jadi itu namanya… darimana dia berasal?”<br />
	“Dari kerajaan Madagashphur.”<br />
	“Bukankah itu kerajaan Hindu??”<br />
	“Ya, benar. Tapi dia gadis muslim sejak lahir.”<br />
	“Baiklah, biarkan aku menilainya setelah aku bertemu dengannya. Sekarang sebaiknya kau cepatlah berlalu karena adikku sedang menunggu dibalik semak mawar itu….aahh…..bagaimana caraku menyampaikan berita ini pada Aelia hai Abdullah…” Abdullah menganggukkan kepalanya lalu berlalu.<br />
	Melihat Abdullah pergi, Putri Aelia berlari menghampiri kakaknya.<br />
	“Ah adikku bulan negeri ini, duduklah.”<br />
Aelia dengan patuh duduk dihadapan kakaknya.<br />
“Aelia…walaupun kita ini orang terpenting dikerajaan ini, tapi tentu kau sadari bahwa kita tidak dapat memaksakan kehendak kita…” Sungguh dirasa sangat berat dada Raja ketika melihat mata wajah adikknya memucat seputih melati.<br />
“Aelia, tabahkan hatimu, ternyata …”<br />
“Ali… menolakku…” Air mata Putri mengalir membasahi pipinya yang memucat, rasa sakit dihatinya begitu pilu.<br />
“Duhai kakak, kenapa aku merasa begitu hancur seperti ini? Mengapa aku merasa sangat bahagia pada semula waktu dan merasa mati disaat ini. Aduhai… pedih sekali rasanya.”<br />
Raja memeluk kepala adiknya dengan lembut, tangis adiknya seperti pisau menyayat ulu hatinya. Sungguh jika dia bukanlah raja yang bijak, kekuasaan ditangannya akan dia gunakan demi kebahagiaan adiknya.<br />
“Bersabarlah wahai adikku, dengarkan aku. Pintu belumlah sepenuhnya tertutup. Dengarlah.”  Lalu Raja menceritakan rencananya untuk mengundang Zanimra, dia yakinkan bahwa ini adalah kesempatan kedua bagi Putri untuk merubah keputusan Ali.<br />
“Aku ingin bertemu Ali Kak, ijinkan aku tinggal diwilayah selatan untuk berada dekat dengannya.”<br />
“Jika itu bisa membuatmu senang, pergilah. Tapi ingat, sebagai manusia kita tak boleh memaksakan kehendak atas manusia lain.”<br />
“Aku mengerti.”<br />
Pada malam itu juga Putri Aelia pergi ke wilayah selatan dengan membawa harapan mampu merubah keputusan Ali.</p>
	<p><strong>Kedatangan Zanimra</strong></p>
	<p>	Ali berkuda dengan riang menuju hutan, pertemuannya dengan Raja semalam diluar dugaannya. Semula dia merasa khawatir jika Raja bukanlah raja yang bijak. Tapi ternyata Raja adalah seorang raja yang patut dikagumi ayahnya selama ini. Pikirannya melayang kepada kekasihnya Zanimra yang sebentar lagi akan datang. Pagi ini dia telah menerima surat kilat yang mengabarkan Zanimra akan datang. Sekilah terlintas bayangan Putri Aelia, sungguh dia wanita yang luar biasa kecantikannya dan baik budi pekertinya, tapi Ali tidak pernah tertarik pada kecantikan paras wanita. Ada sesuatu pada diri Zanimra yang tidak dimiliki sang putri.<br />
	Ali tersentak dari lamunanya ketika dia melihat serombongan tandu menghadang jalannya. Kereta Putri Aelia yang gemerlap berdiri dengan anggun dihadappannya, kemudian sosok cantik yang menyilaikan mata itupun turun dengan langkah yang hampir melayang seperti peri.<br />
	“Salaam ya Ali,”<br />
	“Walaikum salam Putri,” jawabnya tenang.<br />
Putri melihat tajam ke arah Ali, lagi-lagi pemuda itu menundukkan pandangannya.<br />
	“Hai Ali, kau tidak memiliki janji saat ini bukan? Sudikah kau menghormatiku dengan turun dari kudamu?” Dengan sekali anggukan Ali turun dari kudanya dengan mata tetap menunduk.<br />
	“Terima kasi Ali, aku ingin bertanya kepadamu, pernahkah sekalipun kau melihat wajahku?”<br />
	“Duhai tuan Putri, sungguh wajahmu telah terkenal akan kecantikannya.”<br />
	“Aku tidak bertanya tentang apa yang kau pernah dengar, aku bertanya apakah kau pernah melihat wajahku?”<br />
	“Pernah.”<br />
	“Pernahkan sedekat ini?” Tiba-tiba Putri telah berdiri sagat dekat dengan Ali, keharuman tubuhnya merebak sangan kuat dan memabukkan siapapun yang menciumnya. Ali dengan sigap mengambil langkah mundur, tapi tertahan ketika Putri menangkap tangannya.<br />
	“Ali, sekarang kau melihatku!” Putri membungkukan dirinya dengan wajah menengadah tepat di depan mata Ali yang tertunduk. Sungguh kecantikan yang luar biasa terpampang dihadapan Ali. Kemerduan tawanya sangar renyah dan menggemaskan. Tapi hal itu malah membuat Ali merasa geram. Menyadari posisi Raja yang dihormatinya, Ali menahan kegeramannya. Dengan sopan Ali melepaskan genggaman tangan Putri Aelia dan melangkah mundur.<br />
	“Maaf Putri, sungguh putri memiliki kecantikan yang luar biasa. Jadikanlah ia berkah Allah bagimu dan jangan jadikan kecantikan itu bencana bagimu. Sesungguhnya syaitan amat licik dalam membuat tipu daya, dan kecantikan wanita adalah salah satu senjata terampuh bagi mereka.”<br />
	“Ah Ali, aku tak merasa beruntung dengan kecantikan ini, karena dengan kecantikan yang kumiliki inipun tak mampu mendapatkan apa yang paling aku mau, yaitu dirimu!”<br />
	“Demi Allah wahai Putri, sungguh kecantikanmu tak semua orang memilikinya, sungguh itu adalah berkah dari Allah jika Putri bersyukur.”<br />
	“Ali!…Ali…tak tahukan betapa pedih rasa cinta yang kurasakan untukmu? Jika aku buruk kau mau mencintaiku, maka aku rela untuk menjadi buruk bagimu!”<br />
	Ali menghela nafas panjang, ia tahu apapun yang akan dia katakan hanya akan membuat Putri semakin galau. Ali hanya berkata lirih.<br />
“Maafkan saya duhai Putri, sungguh saya telah terikat sumpah, maka saya tak<br />
akan mengingkarinya.”<br />
	“Yah aku tahu, sumpah pada seorang gadis. Sungguh Ali, jika dia tidak melebihi aku, aku akan terus berjuang untuk mendapatkan hatimu. Tapi jika kau bisa meyakinkan aku bahwa dia lebih baik dariku, aku akan rela melepaskanmu!”<br />
	“Saya tahu janji saya pada Raja, dan saya akan menepatinya.”<br />
	“Oh Ali, ijinkan aku bersamamu sebelum dia datang… ijinkan aku berada disekelilingmu, berkuda bersamamu, apapun yang kau lakukan.”<br />
	“Maaf Putri, sumpah saya adalah sumpah atas nama Allah, sebagaimana saya tidak akan rela jika kekasih saya menghabiskan waktu bersama laki-laki lain, begitupun dia tidak akan bahagia jika saya berbuat demikian.”<br />
	“Ah Ali, mengapa begitu kejam dirimu padaku?”<br />
	“Sesungguhnya aku hanya bersikap yang semestinya Putri.”<br />
	“Aku tahu Ali, aku hanya mengujimu. Ternyata memang kau seperti apa yang aku harapkan! Ini membuatku semakin menginginkanmu Ali. Aku akan berjuang demi dirimu Ali!” Putri lalu berbalik menuju keretanya. Beberapa langkah kemudian dia menghentikan langkahnya dan berbalik kearah Ali lagi,<br />
	“Ali, apakah kau pikir aku bertabiat buruk?”<br />
	“Saya banyak mendengar tentang Putri, sungguh Putri adalah seorang Putri yang dicintai rakyatnya. Jadi tidak mungkin Putri bertabiat buruk.” Jawaban Ali membuat Putri Aelia tersenyum pilu, lanjutnya lagi dengan lirih,<br />
	“Jika kau belum bertemu gadis itu, apakah kau akan menerima pinanganku?”<br />
	“Demi kebaikan Raja dan kerajaan ini, insyaallah Putri.”<br />
	“Mengapa kau tak pernah sekalipun datang padaku sebelum kau bertemu gadis itu Ali?”<br />
	“Jikapun saya menemui dirimu, bukan berarti pada saat itu Putri akan berhasrat pada saya, boleh jadi pada saat itupun Putri akan menolak saya.”<br />
	“Sungguh pandai kau bersilat lidah Ali! Aku semakin kagum padamu. Katakan Ali, aku tahu kau begitu percaya akan kekasihmu, tapi bagaimana jika dia melanggar janjinya padamu?” Dengan tenang Ali menjawab,<br />
	“Na udzubillah, aku berlindung kepada Allah dari hal yang demikian. Tapi jika Allah berkehendak demikian, maka itu adalah urusan Allah dengan dirinya. Dan hidupku kupasrahkan sepenuhnya di tangan Allah.”<br />
	“Aku masih tak mengerti, apa yang membuat kau terpaku pada gadis itu.” Gumam Putri Aelia.<br />
 Putri menaiki keretanya dan berlalu. Ali menghela nafas dengan lega, dia beristigfar untuk beberapa saat mengingat kejadian singkat denga putri. Sebagai laki-laki sungguh kecantikan dan keharuman tubuh Putri Aelia sangat memabukkan, tapi rasa mabuk itu bagi Ali tidak lebih dari harumnya bau arak, semakin harum dan memabukkan semakin ia menjauhinya. Sungguh desakan Putri Aelia membuatnya gusar, tapi beberapa saat kemudia dia teringat akan kedatangan Zanimra, bayangan kekasihnya itu menyejukkan hati Ali seketika. Kecintaannya pada Zanimra bagi Ali adalah kecintaan yang menyejukkan jiwanya, kecintaan kepada wanita seperti Putri Aelia baginya adalah kecintaan yang memabukkan jiwanya. Ali menyadari bahwa tak semua orang akan mengerti jalan pikirannya, tapi dia tidak perduli, dengan tangkas Ali menaiki kudanya lalu melaju dengan pesat meninggalkan tempat itu, dalam hati dia berkeras tak akan mengunjungi hutan itu lagi selama Putri masih berada disana.</p>
	<p>*****</p>
	<p>“Assalammualaikum.” Abdullah dikejutkan oleh kemerduan suara seorang wanita dari belakangnya, “Walaikum salam.” Jawabnya bersemangat. Dia membalikkan tubuhnya dan melihat sosok anaknya Ali yang berdiri dengan seorang wanita disebelahnya dan seorang lelaki paruh baya.<br />
	“Zanimra, putriku! Selamat datang!” sambutnya riang. Untuk beberapa saat Abdullah memperhatikan Zanimra, kecantikan Zanimra sungguh biasa-biasa saja dan jauh dibandingkan dengan kencantikan Putri Aelia. Tubuhnya kecil dan tidak terlalu tinggi. Pakaiannya sederhana dan rapi, tapi tak satupun dari diri Zanimra yang bercahaya dan memukau pandangan. Hanya saja Zanimra tampak lebih muda dibanding Putri Aelia, mungkin karena tubuhnya yang kecil. Abdullah menyadari bahwa ukuran tubuh penduduk Madagashphur memang kecil.<br />
	“Terima kasih Tuan Abdullah, sangat senang saya berada disini. Sudah banyak sekali Ali bercerita tentang Anda. Alhamdulillah akhirnya saya bisa berkunjung.”<br />
	“Ayah, ini calon menantumu bersama Pamannya Nagosh Abdurrahman.” Kemudian Abdullah merangkul paman Zanimra<br />
	“Selamat datang sahabatku Nagosh Abdurrahman, sungguh suatu kehormatan bertemu kalian.” Paman Zanimra membalas pelukan Abdullah dengan ramah tapi tak bersuara sedikitpun.<br />
	“Maaf Tuan, Paman saya tidak dapat berbicara, tapi dia bisa mendengar.” Kata Zanimra kemudian. Abdullah melepaskan pelukannya lalu mempersilahkan semuanya duduk. “Ah maaf jika begitu, silahkan duduk, kalian pasti sangat lelah…”<br />
	“Terima kasih.” Sahut Zanimra lembut.<br />
	“Ah yaaah, aku merasa senang ketika mengetahui akhirnya Ali menemukan wanita yang bisa membuatnya jatuh hati! Sungguh aku pikir hanya wanita yang luar biasa sajalah yang mampu meluruhkan hati Ali! Sungguh sahabatku Nagosh, keponakanmu ini membuat kerajaan ini geger.” Nagosh tertawa mendengar ucapan Abdullah yang dikiranya hanya sebagai lelucon.<br />
	“Alhamdulillah…segala puji hanya bagi Allah.”  Jawab Zanimra tersipu segan, Abdullah terhenyak melihat mimik wajah Zanimra dan reaksinya yang sama persis seperti Ali jika dia menerima pujian.<br />
	“Sungguh aneh Ali, aku seperti melihat dirimu dalam sosok wanita pada Zanimra!” Ali tertawa kencang mendengar kalimat jujur ayahnya sedangkan Zanimra hanya tersenyum simpul. Tiba-tiba Zanimra membisikan sesuatu pada Ali lalu Ali tersenyum.<br />
	“Maaf Ayah, Zanimra takut jika dia tidak sopan, tetapi ini sudah waktunya shalat dan dia belum sempat membersihkan diri dari perjalanan jauhnya.”<br />
	“Ah! Bodohnya Abdullah,” Jawab Abdullah memaki dirinya sendiri.<br />
	“Aku yang tidak sopan wahai putriku! Aku tahu kau pasti sangat lelah dan memang ini sudah waktunya shalat. Baik- baik…bersihkan dirimu dan kita shalat bersama.”<br />
	“Insyaallah Tuan Abdullah, terima kasih banyak, Anda benar-benar Tuan rumah yang sangat menyenangkan.”<br />
	“Ah Zanimra! Berhenti memanggilku Tuan! Panggil aku Ayah!”<br />
	“Baiklah Ayah, dengan senang hati. Saya permisi dulu.”<br />
	“Ya, aku akan tunggu kalian di Mushalah.” Abdullah tidak melepaskan pandangan dari Zanimra dan anaknya sewaktu mereka berjalan meninggalkannya. Semula ia merasa kecewa dengan perawakan Zanimra yang biasa saja, tapi setelah berbicara dengan gadis itu, Abdullah merasakan sesuatu yang berbeda dan sangat kuat, seperti yang selalu ia rasakan bila bersama anaknya. Zanimra adalah bentuk lain dari Ali! Sebagai ayah kini ia mengerti mengapa Ali memilih Zanimra, tapi apakah Raja dan Putri akan memahami apa yang dia rasakan?</p>
	<p>Hari itu berlalu dengan riang hingga tibalah malam, Abdullah melihat gairah hidup pada mata anaknya. Gairah hidup yang tak pernah dia temukan selama dia mengenal Ali. Abdullah dapat menangkap keyakinan Ali pada Zanimra dan hal sama pada sebaliknya, kekuatan hubungan batin kedua insan didepannya dijalin oleh sesuatu ikatan kuat. Abdullah melihat keindahan yang manis dari jalinan cinta anaknya, tapi Abdullah juga menyadari, tak semua orang mampu memahaminya. Semakin lama dia melihat Zanimra dan Ali, Abdullah semakin merasa lapang dan damai. Waktu makan malampun tiba, tetapi sayangnya Nagosh harus menghabiskan waktu di tempat tidur karena kelelahan. Ditengah kehangatan makan malam tiba-tiba seorang pelayan masuk dengat tergesa.<br />
	“Maaf Tuan, Putri Aelia datang berkunjung.” Abdullah dan Ali terhenyak. Ali tak ingin memberitakan perihal Putri Aelia pada Zanimra melalui surat, tapi karena begitu bahagia Ali lupa untuk memberitahu Zanimra pada hari itu. Lagipula kedatangan Putri Aelia sungguh diluar dugaan.<br />
	“Kami akan menjemputnya di ruang utama.” Jawab Abdullah singkat, pelayan itu bergegas kembali keruang utama.<br />
	“Putri Aelia, Putri yang terkenal dengan kecantikannya itu datang? Subhanallah, kecantikan seperti apakah yang Allah limpahkan padanya hingga namanya terucap disetiap bibir laki-laki diseluruh dunia?” ujar Zanimra dengan penuh rasa keingin tahuan.<br />
	“Mari anak-anakku, kita sambut tamu agung kita terlebih dahulu.”<br />
	Lalu ketiganya beranjak dari kursi makan mereka. Sewaktu memasuki ruang tamu utama langkah Zanimra terhenti. Matanya begitu silau seperti melihat bidadar. Ali menyadari keterpanaan kekasihnya, sedangkan Abdullah yang berjalan didepannya terus menyambut Putri dengan ramah. Zanimra menoleh pada Ali lalu berbisik,<br />
	“Subhanallah wahai kekasihku, demi Allah dia begitu elok rupanya dan merdu suaranya. Subhanallah, Maha Besar Allah dengan ciptaan yang berdiri didepanku ini.”<br />
Mendengar kekaguman Ali berbisik ketelinga kekasihnya,<br />
	“Ya Zanimra, sungguh kecantikan yang kau miliki lebih memikat hatiku daripada seribu kecantikan paras wanita yang kau kagumi itu. Kutahu kau mengerti benar akan maksudku.” Zanimra tersenyum simpul lalu menjawab, “Alhamdulillah, segala puji hanya bagi Allah. Tiada daya dan upaya tanpa pertolongan-Nya. Aku mengenalmu wahai Ali seperti engkau mengenalku, aku percaya padamu Ali seperti engkau percaya padaku. Aku hanya mengagumi kebesaran Allah yang terlihat didepan mataku.”<br />
	Ali dan Zanimra tidak menyadari keakrabannya menjadi sorotan tajam Putri Aelia, Abdullah yang melihat hal tersebut mencoba mencairkan kebekuan sikap Putri.<br />
	“Ah Putri Aelia, mari aku perkenalkan tamu terhormatku Zanimra.”<br />
	Zanimra dan Ali tersadar lalu dengan tersipu Zanimra mendekati sang Putri dan menghulurkan tangannya.<br />
	“Assalammualaikum Putri Aelia, subhanallah sungguh senang bertemu dengan Anda.”<br />
	“Walaikum salam Zanimra, senang juga bertemu denganmu. Kami tidak sabar menunggu kehadiranmu diistana.” Zanimra tertegun mendengar perkataan putri.<br />
	“Istana?”<br />
	“Ah, jadi Paman Abdullah dan Ali belum memberi kabar padamu bahwa Raja mengundangmu untuk tinggal diistana?”<br />
	“Maaf Putri, Zanimra baru saja datang hari ini, belum sempat kami mengabarkan apapun tentang undangan Raja.” Jawab Abdullah menengahi, lalu ia melanjutkan,<br />
 	“Tuan Putri, jika tidak berkeberatan, kami hendak memulai makan malam. Apakah Putri berkenan bergabung bersama kami?”<br />
	“Ah maafkan aku mengganggu makan malam kalian, tentu saja aku merasa terhormat menerima tawarnmu Paman.”<br />
	“Kehormatan berada pada kami Putri Aelia.”   Putri menyadari bahwa kecantikannya jauh diatas Zanimra, dengan sengaja dia menjajari Zanimra dengan ramah dan mengajaknya berjalan didepan Ali. Abdullah tahu perilaku ramah itu hanya siasat Putri untuk membuat Ali melihat perbandingan kecantikan kedua gadis itu. Abdullah melirik anaknya yang sedang tersenyum geli, tak ayal Abdullahpun ikut tersenyum geli. Putri belum juga memahami bahwa apa yang dilihat Ali bukanlah kecantikan paras Zanimra. Dalam jamuan makan pembicaraanpun berlanjut.<br />
“Bagaimana menurutmu tentang kerajaan kami Zanimra?”<br />
“Alhamdulillah kerajaan ini sangat menyenangkan, dari pelabuhan yang sangat tertib sudah mencerminkan betapa baiknya ketata negaraan kerajaan ini.”<br />
“Hmmm… apakah kau pikir kerajaan ini aman?”<br />
“Inshyaallah. Alhamdulillah, kerajaan ini adalah negri yang sangat makmur, sebuah kerajaan hanya bisa mencapai kemakmuran seperti kerajaan ini jika keamaan terjaga baik didalamnya Putri. Tapi selain dari hal itu, saya sering mendengar bahwa Putri Aelia memiliki kesenangan menjelajah hutan dengan sedikit pengawal dan dayang. Dari kebiasaan tersebut tercermin betapa amannya kerajaan ini.”<br />
“Ah, jadi kau tahu beberapa hal mengenai diriku?”<br />
“Insyaallah, Putri Aelia…alhamdulillah, Anda sangat terkenal dengan keelokan rupanya. Saya belajar banyak tentang negara ini dari Ali.”<br />
“Oh? Ali pernah berbicara perihal diriku padamu?”<br />
“Ya, dia berkata bahwa Putri adalah Bulan dari Andimarsedonia.”<br />
“Zanimra, apa menurutmu tentang diriku sekarang setelah kau bertemu denganku?”<br />
“Maha Besar Allah, kecantikan Putri jauh lebih daripada yang saya bayangkan.”<br />
“Apa menurutmu laki-laki yang menikah denganku aku bahagia?”<br />
Zanimra terdiam sesaat,<br />
“Putri terkenal dengan kebaikannya diseluruh negri, kecantikannya juga tak terperi. Insyaallah barang siapa yang menikahi putri akan bahagia.”<br />
“Apakah kau ikhlas jika orang yang kau sayangi mendapatkan wanita seperti aku?” Zanimra tersenyum lalu dengan perlahan dia menjawab.<br />
“Demi Allah, jika kecantikan akhlak Putri sebaik kecantikan paras Putri, laki-laki manapun dibumi akan sangat beruntung. Jika orang yang saya sayangi mendapatkan yang demikian, maka saya ikhlas.” Lalu putri menoleh pada Ali dengan tajam,<br />
“Ah! Kau dengar itu Ali? Zanimra rela dan ikhlas jika memang aku lebih baik darinya!” Zanimra tertegun mendengar kalimat Putri Aelia, sedangkan Ali tersenyum dengan penuh keyakinan dan melancarkan pandangan tepat pada mata Putri. Putri tersentak gugup ketika menangkap tatapan tajam Ali yang sungguh diluar dugaan. Putri Aelia dapat mengangkap keyakianan luar biasa di mata Ali pada Zanimra.<br />
“Ah Paman, putramu ini sungguh menyiksaku!” Katanya singkat pada Abdullah. Zanimra yang masih gamang terhadap situasi itu hanya diam seribu bahasa. Abdullah hanya terdiam menahan senyum. Abdullah merasa kagum pada putranya.<br />
“Paman, terima kasih atas makan malamnya, saya rasa hari sudah larut. Sebaiknya saya mohon pamit.” Ucap Putri kemudian dengan lembut dan sopan berusaha menutupi kekacauan dihatinya. Ingin sekali Putri berteriak pada Zanimra bahwa ia mencintai Ali, tapi ia tahu ini bukan saatnya. Dengan berwibawa dan anggun Putri kemudian bertitah,<br />
“ Zanimra, kakakku menunggu kedatanganmu segera.”<br />
“Terima kasih Putri, entah karena apa saya mendapat kehormatan dengan undangan Raja ini. Saya menerimanya dengan senang hati, insyaallah saya akan bersedia.”<br />
“Paman, berangkatlah dengan Zanimra bersama rombonganku besok pagi.”<br />
“Baik Putri Aelia. Tapi Ali akan berangkat lusa karena saya memiliki tugas penting yang harus dia kerjakan besok.” Jawab Abdullah.<br />
“Oh Ali! Kau akan membiarkan Zanimra bersama kami sendirian?”<br />
“Putri, Zanimra bersama ayah saya, isnyaallah saya akan datang keesokan harinya.” Jawab Ali tenang.<br />
“Baiklah, sekali lagi terima kasih dan selamat malam.”<br />
Abdullah, Ali dan Zanimra melepas Putri Aelia, setelah kereta putri tidak terlihat lagi Abdullah tiba-tiba tertawa terbahak-bahak. Ali hanya tersenyum geli. Zanimra hanya memandang keheranan. Ada banyak pertanyaan dalam otaknya, dengan akrab Abdullah merangkul pundak Zanimra, sambil memasuki ruang duduk Abdullah mulai berbicara.<br />
“Ah putriku Zanimra yang manis, pasti kami telah membuatmu kebingungan dengan kehadiran Putri Aelia dan undangannya itu. Maafkan kami!”<br />
Abdullah duduk di kursi besarnya, Ali dan Zanimra duduk dikursi panjang yang berhadapan dengan Abdullah.<br />
“Baiklah Ali, sebaiknya kau ceritakan apa yang telah terjadi pada putri manisku ini.” Dengan pelan dan hati-hati Ali menceritakan apa yang sebenarnya telah terjadi antara dia dan Putri Aelia. Zanimra mendengarkannya dengan takjub, tapi tak nampak sedikitpun perasaan galau atau gusar dimatanya. Setelah selesai mendengarkan cerita Ali Zanimrapun tersenyum kaku.<br />
“Masyaallah, sungguh diluar dugaanku! Ternyata wanita secantik bidadari itu menyatakan perang dengan diriku?” Mendengar ucapan polos Zanimra Ali dan ayahnya tertawa.<br />
“Zanimra, aku tak mengenalmu sejauh Ali mengenalmu. Aku minta kau jujur padaku, katakan apa pendapatmu tentang masalah ini?”<br />
“Ayah, apalah arti dunia? Ketidak kekalan. Apa yang terjadi didunia ini hanyalah bagian dari dunia itu sendiri. Dan bagi Ali dan aku, bukanlah dunia tujuan akhir kami. Aku percaya pada Ali, tapi terlepas dari itu, aku percaya pada Allah diatas segala sesuatu. Maka tenanglah selalu hatiku.”<br />
“Ha ha ha! Putri manisku Zanimra, sungguh aku akan dengar hal yang sama dari mulut putraku. Demi Allah jika urusan Raja dan Putri ini selasai, akan kunikahkan kalian segera!”<br />
“Alhamdulillah, Insyaallah Ayah.” Jawab keduanya dengan tersipu.<br />
“Hemh, aku hanya berharap Putri akan memahami cara pandang kalian. Pada Raja aku optimis dia akan mengerti, tapi Putri Aelia…..aku tak tahu.” Abdullah menggelengkan kepalanya sambil melenguh…<br />
“Ayah, tenanglah… percayalah pada Zanimra.”<br />
“Ha ha ha, yah aku percaya sebesar rasa percayamu padanya, Ali, Aku akan tinggalkan kalian berdua. Sungguh kalian tak sempat melepas rindu, apalagi besok pagi kita harus keistana Zanimra.” Abdullah meninggalkan kedua insan itu, Ali lalu memanggil seorang dayang terdekatnya untuk menemani mereka berbincang-bincang.<br />
“Bibi Alima, kau mengasuhku sedari kecil dan mengenalku seperti ibuku sendiri, tolong jaga kami berdua karena sungguh tidak baik jika kami hanya berdua karena  syaitanlah ketiganya, jika kita bertiga Allahlah ke-empatnya.” Dayang itu tersenyum lalu duduk diam dipojok ruangan yang sama. Ujar Ali kepada dayangnya, lalu dia mendekati Zanimra.<br />
“Wahai kesejukan jiwaku Zanimra, sungguh aku rindu akan dirimu.”<br />
“Demi Allah, akupun rindu, tapi jarak yang memisahkan kita adalah hijab yang sangat baik bagi kita Ali.”<br />
“Yah akupun setuju, sungguh aku ingin segera menikahimu sewaktu aku datang menemui ayah. Dan kau tau tujuanku itu. Diluar dugaan dan kuasaku Putri bertemu denganku dan membuat hambatan ini.”<br />
“Allah hendak mencoba kesabaran kita, dan hanya orang yang bersabar yang berhak mendapatkan tempat kembali yang baik.”<br />
“Kau benar Zanimra, ini mungkin ujian bagi kita, atau mungkin pula teguran bagi kita. Sungguh aku selalu beristighfar memohon ampunan Allah dari kesalahanku dan dirimu.”<br />
“Aku juga berpikir demikian, sungguh Allah Maha Pengasih dan Maha Bijaksana, kita percaya pada-Nya, apapun yang telah dan akan terjadi adalah demi kebaikan kita juga. Sungguh aku takut akan murka Allah padaku.” Ucap Zanimra lirih.<br />
“Semoga Allah memberikan jalan keluar yang terbaik bagi kita. Aku percaya padamu Zanimra. Percayalah padaku, hatiku tak akan goyah karena kecantikan atau kekayaan Putri itu.”<br />
“Wahai Ali, aku percaya padamu, jika kau tak benar-benar mencintaiku maka tak akan berani kau bersumpah padaku atas nama Allah.” Lalu keduanya tersenyum geli mengingat semua yang terjadi, lama kelamaan senyum mereka pecah menjadi tawa yang riang.<br />
“Aku benar-benar tak tahu apa rencana Raja padamu Zanimra, berhati-hatilah.”<br />
“Relakah jika kau harus keluar dari negri ini selama-lamanya Ali?”<br />
“Dunia…apalah artinya dunia Zanimra?” kembali keduanya tersenyum.<br />
Dayang Alima yang sedari tadi memperhatikan menggelengkan kepalanya dengan kagum pada pasangan majikannya itu. Dia dapat mendengar semua pembicaraan majikannya karena memang majikannya tak ingin ada fitnah atau aib yang muncul.<br />
“Baiklah, sebaiknya kau tidur Zanimra, aku harus lebih bersabar dengan kerinduanku padamu.”<br />
“Ya Ali, demikian halnya sama denganku. Kita memang harus lebih bersabar.”<br />
Ali mengantarkan Zanimra ke kamarnya diikuti Alima, lalu dia bergegas kekamarnya sendiri penuh senyuman bahagia dan syukur.</p>
	<p><strong>Pengakuan Abdullah</strong></p>
	<p>Pagi menjelang tanpa terasa, Abdullah tergopoh-gopoh menuju keretanya diikuti Zanimra dan Ali. Tiba saatnya ujian bagi mereka yang datang dari Raja. Zanimra telah menunggu bersama Ali dipintu kereta kuda, Nagosh yang masih kelelahan tidak dapat menemani Zanimra keistana, sehingga Zanimra harus pergi sendiri.<br />
“Ayah, aku titip Zanimra padamu.”<br />
“Ali, apakah kau tak melihat? Zanimra terlihat jauh lebih tenang daripada aku. Aku rasa dia yang malah akan menjagaku nantinya,” gurau Abdullah menggoda Ali. Zanimra hanya tersenyum simpul.<br />
“Insyaallah Ya Ayahku,” Sambut Ali dengan tawa. Abdullah masuk kedalam kereta kudanya terlebih dahulu.<br />
“Hati-hatilh Penyejuk mataku,” bisik Ali lirih pada kekasihnya.<br />
“Kau juga, semoga Allah selalu bersama kita, amin.”<br />
“Amin, assalammualaikum.”<br />
“Walaikum salam.”<br />
Keretapun berlalu, Ali amat pasrah kepada Allah akan nasib kekasihnya. Ali berdoa semoga Allah menjaga hati Raja dari godaan syaitan sehingga dapat melihat kelebihan Zanimra yang sesungguhnya.</p>
	<p>Didalam kereta Abdullah diam-diam memperhatikan Zanimra yang sedang sibuk memperhatikan sekelilingnya sepanjang perjalanan. Dia menangkap expresi wajah Zanimra yang sering berubah.<br />
“Hai Zanimra, apa yang sedang kau pikirkan? Sedari tadi aku perhatikan, reaksi wajahmu selalu berubah. Kadang kau tersenyum, lalu termenung sedih dan mulutmu selalu bergerak.”<br />
“Ah maaf Ayah, sudah menjadi kebiasaanku yang sulit hilang. Aku mengerti, Ayah bukan satu-satunya orang yang bertanya. Baiklah, semoga penjelasanku akan menyingkirkan prasangka buruk.” Zanimra meluruskan duduknya yang sedari tadi dimiringkan menghadap jendela. Sama seperti Ali, jika dia berbicara pada orang, dia selalu dengan penuh menghadapkan tubuh dan pandangannya pada orang yang diajaknya bicara.<br />
“Ayah,  Ini adalah kali pertama aku di kerajaan ini. Tak sedikitpun aku ingin membuang kesempatan dalam perjalanan ini untuk memperhatikan segala sesuatu yang terjadi disepanjang jalan yang kulalui. Tak pernahkan Paman memperhatikan, bahwa banyak sekali adegan kehidupan nyata yang secara sekilas yang kita lewati dapat menjadi pelajaran bagi kita?”<br />
“Hm, aku mulai tertarik. Lanjutkan.”<br />
“Banyak Ayat dalam Al-Qur’an yang memperingati tentang banyak kejadian dimuka bumi ini, dan sebagian besar dari peringatan itu akan diikuti dengan kalimat…”… Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berfikir”. Lalu banyak juga ayat dalam Al-Qur’an yang berbunyi, ‘…sesungguhnya segala sesuatu yang terjadi telah tertulis dalam kitab Allah.’<br />
Dari ayat-ayat tersebut, kita dapat mengambil makna global, bahwa sesungguhnya segala sesuatu yang terjadi dimuka bumi ini, bahkan perjalanan yang kita lakukan ini telah diatur oleh Tuhan Yang Maha Agung, Allah. Bahkan jatuhnya selembar daun dari pohonnya juga sudah merencanakan rencana tertulis dari Allah. Tidak satupun yang kita anggap sebagai kebetulan diluar dari rencana dan diluar dari pengetahuan Allah. Dan sungguh sangat banyak ayat dalam Al Qur’an yang meminta kita untuk berfikir. Berfikir itu dapat mematahkan sihir, insyaallah.”<br />
Abdullah tersenyum, semangat yang dipancarkan mata Zanimra membiaskan rasa kecintaan yang dalam pada apa yang sedang ia utarakan.<br />
“Ya Zanimra, kau benar.”<br />
“Alhamdulillah, Ayah tuaku yang bijak, apakah tidak akan menarik hatimu untuk melihat mencari petunjuk Allah  dan mengambil pelajaran dari kejadian-kejadian yang terjadi disepanjang jalan ini?”<br />
Abdullah termenung, sungguh Zanimra lain dari kebanyakan gadis yang pernah dia temui selama ini. Bagi kebanyakan orang, kejadian sekelilingnya hanyalah kegiatan sehari-hari dan mereka tak akan memperhatikan hal-hal itu seperti Zanimra.<br />
“Sungguh menarik apa kata-katamu itu Zanimra, kalau begitu katakan padaku, apa yang sejauh ini kau dapatkan dari balik jendela kereta ini? Kulihat kau tersenyum, apa yang membuatmu tersenyum?”<br />
“Entah kejadian mana yang pasti yang dimaksud ayah, ada beberapa kejadian yang membuatku tersenyum. Tapi ada satu kejadian yang paling membuatku terharu. Dipersimpangan pertama memasuki gerbang kota kita berhenti beberapa waktu untuk memperbaiki roda depan yang rusak. Ada seorang pemuda yang tiba-tiba berhenti ditengah jalan lalu menjatukhan tas besar bawaannya tepat didepan sebuah kereta yang darang dari arah berlawanan. Kusir kereta kebingungan karena tiba-tiba pemuda itu berlari ketepi jalan yang semula dengan meninggalkan tas besarnya. Ternyata seorang kakek sangat renta dengan tongkatnya melambai-lambai ingin ikut menyeberang. Lalu lintas kota ini memang tak terlalu ramai, tapi untuk kakek yang jalannya sangat lambat, jalan kereta yang lambatpun akan membuat lututnya kelu. Pemuda itu menghampiri kakek itu lalu menggendongnya dibelakang, lalu ia lari lagi mengambil tas besarnya dan karena beban bertambah, akhirnya dia berjalan menyeberang sambil minta maaf dan berterima kasih pada sang kusir.”<br />
“Ah, tapi mengapa pemuda itu mempertaruhkan tas besarnya dengan resiko digilas kusir kereta atau dibuang ketepi oleh sikusir. Mengapa dia tidak kembali ketepi jalan lalu menunggu  bersama si kakek hingga kereta itu lewat saja?”<br />
“Aku juga sempat berpikir demikian ayah, sewaktu pemuda itu lari menjemput si kakek aku melihat keseberang jalan yang hendak mereka tuju, ternyata disana telah menunggu sebuah perahu angkutan yang akan berjalan. Pemuda itu tak ingin ditinggalkan perahu angkutan itu dan juga tak ingin membiarkan kakek itu. Seperti dugaan pemuda itu, kakek itupun sedang mengejar perahu yang sama.”<br />
“Ha ha ha! Ternyata si tua Abdullah ini mendapat pelajaran dari seorang gadis belia sepertimu hai Zanimra, sangat menarik! Kurasa mulai sekarang aku akan lebih banyak memperhatikan jalan daripada tidur dalam kereta, ha ha ha….” Lalu Abdullah berbicara serius,<br />
“Apakah kau ingat wajah pemuda itu Zanimra?”<br />
“Sungguh Ayah , aku memiliki kekurangan dalam mengingat wajah orang. Maafkan aku. Tapi aku rasa aku akan ingat si kakek tua itu.”<br />
“Ah kurasa itu sudah cukup, aku sedang mencari kurir yang bisa kupercaya. Kurasa pemuda itu cocok, ah Zanimra, jika saja aku melakukan apa yang kau lakukan, niscaya aku sudah memiliki seorang pegawai yang cakap dan berbudi!”<br />
“Semoga kita berjodoh untuk bertemu dengannya lagi Ayah, insyaallah.”<br />
“Insyaallah, lalu adegan seperti apa yang membuatmu sedih Zanimra?”<br />
“Segala sesuatu yang membuat Allah murka dan benci adalah hal yang membuatku sangat takut dan sedih Ayah.” Air muka Zanimra yang semula ceria berubah dengan drastisnya.<br />
“Sungguh Ayah, banyak sekali manusia yang lupa akan Penciptanya. Itu yang membuatku amat takut dan sedih. Aku sedih akan nasib mereka di hari akhir nanti, tapi terlabih aku takut jika aku menjadi salah satu dari mereka.<br />
Ketika aku memasuki keramaian kota, aku lihat hal seperti itu. Aku tahu kerajaan ini adalah negri yang sangat makmur. Karen kemakmuran itulah kulihat banyak ke-alpaan yang manusia lakukan. Aku banyak melihat laki-laki yang memakai pakaian dan jubah terbuat dari sutra penuh, sungguh Rasulullah pernah bersabda, tidak akan memakai sutra di surga bagi laki-laki yang memakai sutra lebih dari selebar ini,” ujar Zanimra memperlihatkan selendang kecilnya. Abdullah mengangguk setuju.<br />
“Kerajaan ini adalah kerajaan dengan mayoritas penduduk beragama Islam, tapi yang kulihat didalam kota banyak wanita yang mempertontonkan kecantikannya dan mencabut alisnya… Ah Ayah, sungguh itu membuatku ngeri, Rasulullah bersabda, “Laknatullah…. Laknat Allah …bagi wanita yang menyukur alisnya. Betapa pedih murka Allah, terlebih lagi ‘Laknat’ Allah.”<br />
Abdullah sungguh terpana dengan tutur Zanimra selama ini. Segala keraguan dan rasa was-was didalam hatinya tentang nasib anaknya dan Zanimra hilang. Abdullah mengakui secara tulus, Putri Aelia sedang berhadapan dengan lawan yang amat sulit. Abdullah semakin mengerti akan perasaan Ali pada Zanimra dan mengapa tak sedetikpun Ali ragu akan keputusannya. Tapi walaupun Putri Aelia sangat cerdas, kebijakan hatinya yang belia masihlah berdiri dibalik dinding kecintaan pada dunia, seperti apa yang diucapkan Zanimra, banyak manusia yang melupakan Penciptanya.<br />
“Masya Allah Zanimra, sungguh kau adalah pilihan dari Ali.”<br />
“Alhamdulillah Ayah, tiada daya dan upaya tanpa pertolongan Allah.”<br />
Abdullah menahan pertanyaannya tentang bibir Zanimra yang terus bergerak, karena ia sudah tahu jawabannya. Meskipun semula Abdullah ingin memperingati Zanimra, karena dia sadar akan banyak orang berprasangka buruk tentang perilaku Zanimra di istana nanti. Abdullah merebahkan kepalanya dengan damai di sandaran kereta, dengan perlahan dia menggumam hingga tak terdengar oleh Zanimra.<br />
“Ah putriku Zanimra, meskipun bulan cantik, tetapi saja  tetap saja tak mampu mengalahkan cahaya matahari.”<br />
Melihat Abdullah memejamkan mata, Zanimra kembali asyik dengan jendela keretanya. Tiba-tiba Abdullah berkata masih dengan mata terpejam,<br />
“Zanimra, jadilah mataku saat ini dan ceritakan padaku hal-hal yang menarik yang kau nanti malam padaku.” Zanimra tersenyum, “Baik Ayah.”<br />
Kereta Abdullah akhirnya tiba di istana peristirahatan Putri Aleia, dia telah menunggu disana. Putri Aelia bersikeras agar Abdullah dan Zanimra duduk satu kereta dengannya.<br />
“Zanimra, bagaimana tidurmu malam ini?”<br />
“Alhamdulillah, tidur saya nyenyak. Semoga Putri mengalami hal yang sama.”<br />
“Masya Allah, belumkah Abdullah dan Ali bercerita padamu?” Tanya putri terheran mendengar jawaban Zanimra yang sangat tenang.<br />
“Jika yang Putri maksudkan adalah lamaran Putri terhadap Ali, kami telah memberitahukan hal itu pada Zanimra.” Sahut Abdullah denan hormat. Putri Aelia merasa amat takjub, setelah mengetahui bahwa Zanimra tengah bersaing dengannya, tak sedikitpun ia menangkap kegusaran dimata Zanimra.<br />
“Zanimra, apakah kau juga terbuat dari es seperti Ali?” ucapnya tanpa sadar, Abdullah yang mendengarnya tak mampu menahan tawanya. Sedangkan Zanimra hanya tersenyum manis.<br />
“Mengapa tak terpancar sedikitpun rasa khawatir dirimu Zanimra? Apakah yang membuatmu sangat percaya diri?”<br />
Zanimra menjawab dengan satu kata sambil tersenyum,<br />
“Allah.” Abdullah diam-diam tertawa geli melihat kebingungan diwajah Putri Aelia, seperti dugaannya, Putri Aelia belum bisa memahami jalan pikiran Zanimra.<br />
“Tidakkah kau takut atau benci pada diriku Zanimra?”<br />
“Mengapa saya harus merasa demikian?”<br />
“Karena aku ingin merebut Ali darimu.”<br />
“Saya akui, kecantikan paras tuan Putri tak tertandingi. Tapi jika Putri benar-benar mengenal Ali, maka putri akan merasakan apa yang saya rasakan saat ini.”<br />
“Zanimra! Bukankah laki-laki dimuka bumi ini semua sama saja? Hiburan apalagikah dari wanita yang mereka dambakan selain dari kesempurnaan wajah, otak dan budi pekertinya? Seperti ucapanmu semalam, kau menilaiku sebagai wanita yang bertabiat baik dan terpelajar sepertimu. Apa yang membuatmu merasa tenang seperti itu, sedangkan aku memiliki beberapa kelebihan atasmu.”<br />
“Putri Aelia yang bijak, bukankah karena Ali tidak seperti kebanyakan laki-laki dimuka bumi ini Putri menginginkannya?” tak ayal Abdullah merasa sakit perut karena begitu hebat dia mencoba menahan tawanya. Zanimra membalikan pertanyaan Putri Aelia dengan amat telak. Putri Aelia tampak salah tingkah dibuatnya.<br />
“Sungguhkah kau seyakin itu bahwa Ali tak akan berubah pikiran, ingat kata-katamu semalam Zanimra, kau akan ikhlas jika orang yang kau kasihi memiliki yang lebih baik?”<br />
“Baiklah Putri, bolehkah saya balik bertanya?”<br />
“Silahkan.”<br />
“Apakah Putri benar-benar mencintai Ali.”<br />
“Jika tidak, aku tak akan memperjuangkan dia seperti ini.”<br />
“Ya, dan Putri mencintai Ali karena dia laki-laki terhormat yang jujur dan baik bukan?”<br />
“Benar adanya.”<br />
“Apakah perasaan Putri akan berubah jika tiba-tiba wajah Ali rusak?”<br />
“Tidak! Aku akan terus mencintainya.”<br />
“Jika demikian, mengapa Putri begitu yakin Ali akan merubah cintanya hanya karena wajah dan tubuh saya tidak secantik Putri?” tenggorokan Putri Aelia tercekat, Abdullah sekuat tenaga untuk tidak tertawa melihat expresi wajah bidadari didepannya itu memerah semerah tomat segar.<br />
Putri Aelia sadar akan posisinya, dia memilih untuk diam sebelum pertanyaannya membuat dia semakin kecil dihadapan Zanimra. Didalam hati Abdullah menyayangkan kondisi mental Putri yang kacau karena cintanya yang begitu membara pada Ali. Ketangkasan berpikir dan bersilat lidahnya menjadi kabur, Putri Aelia mulai kehilangan kepercayaan dirinya. Yang membuat Zanimra dapat mematahkan setiap kalimat Putri Aelia hanyalah ketenangan dan keyakinan Zanimra yang begitu kuat sehingga pikirannya jernih. Abdullah mengenal Putri sejak kecil, kecerdasan intelektual Putri tak kalah dengan Zanimra, tapi pengendalian emosi dan keyakinan Putri masih jauh dibawah Zanimra.  Akhirnya Putri memutuskan untuk berbincang-bincang dengan Abdullah tentang masalah-masalah kerajaan. Zanimra mendengarkan dengan penuh rasa tertarik. </p>
	<p><strong>Gadis Bertelanjang Kaki dan Perjanjiannya</strong></p>
	<p>Perjalanan menempuh waktu tiga perempat hari, di tengah perjalanan rombongan Putri beristirahat di tempat peristirahatan keluarga kerajaan yang terdapat dipinggir sebuah desa pertanian yang sangat rapi.<br />
Begitu turun dari kereta, Putri Aelia disambut sangat hangat oleh penduduk setempat. Zanimra dapat melihat keramahan Putri bada rakyatnya. Dia tersenyum ketika Putri turun ketengah ladang sayur dan berbicara langsung dengan petani yang sedang bekerja disana. Sungguh sosoknya amat menyilaukan ditengah ladang itu.<br />
“Ayah, desa ini kecil tapi sangat menarik,”<br />
“Tentu saja, desa ini khusus dibangun sebagai tempat persinggahan bangsawan. Hasil pertanian disini juga diperuntukan bagi keluarga kerajaan.”<br />
“Putri Aelia nampak seperti bidadari ditengah penduduk yang berkerumun itu.” Guman Zanimra.<br />
“Hei Putriku, apakah kau kehilangan rasa percaya dirimu?”<br />
“Masyaallah Ayah, bukan begitu. Hanya saja aku tak bisa berhenti mengagumi keindahan yang sedemikian rupa sampai aku tak bisa membayangkan bagaimanakah keindahan bidadari disyurga nanti. Jika seluruh penghuni syurga keindahannya dapat melebihi Putri Aelia, bagaimanakah keindahan syurga itu sendiri?… Terlebih lagi, bagaimanakah keindahan dari Dzat Penciptanya?……Sungguh aku gemetar jika membayangkannya….subhanallah….subhanallah…….” Abdullah tertegun, selama ini diapun mengagumi kecantikan Putri Aelia, tapi tak pernah dia berpikir sejauh Zanimra.<br />
“Hem, bagaimana menurutmu sejauh ini tentang Putri Aelia?”<br />
“Saya kagum akan kecerdasannya dibidang ketata negaraan, terlebih lagi sekarang ini, kecantikannya tidak membuatnya angkuh. Tak segan dia turun keladang untuk berbicara pada petani tentang tanaman-tanaman itu. Dia adalah Putri sejati, seorang wanita pemimpin yang baik. Sayang sekali dia sedang berjalan diatas pematang yang salah.”<br />
“Pematang yang salah? Apa maksudmu?”<br />
“Rasa cintanya Ayah, rasa cintanya yang dapat menghancurkan.” Guman Zanimra sedih.<br />
“Sayang memang, dia mencintai Ali setelah Ali bertemu denganmu.”<br />
“Bukan itu Ayah, jikapun dia mendapatkan Ali sebelum Ali bertemu denganku, cinta yang dimiliki putri tetap akan menghancurnya.” Abdullah mengangguk setuju.<br />
“Apa yang akan kau lakukan Zanimra?”<br />
 “Semoga Allah memberikan aku kekuatan untuk menolongnya.”<br />
“Amin.” Sahut Abdullah tulus. Sekarang dia benar-benar mengerti mengapa Ali begitu yakin akan kekasihnya ini.<br />
Tiba-tiba sebuah bola menggelinding dikaki Zanimra, seorang anak perempuan melihat bola itu dengan malu-malu. Zanimra memungut bola itu dan menghampiri gadis kecil yang dibelakangnya berdiri segerombolan anak lainnya.<br />
“Assalammualaikum, gadis cantik, apakah ini bolamu?”<br />
“Walaikum salam, Iya itu bola saya.”<br />
“Boleh aku bermain dengan kalian?” Anak itu terkejut, mendadak anak laki-laki dibelakang gadis cilik itu berkata lantang.<br />
“Wah tidak adil nanti jadinya!”<br />
“O? kenapa begitu?” tanya Zanimra menggoda.<br />
“Tubuhmu lebih besar dari kami, kami pasti kalah.” Ujar anak laki-laku itu lagi.<br />
“Hummm…… tapi aku pakai rok yang panjang, lariku tak dapat secepat kalian. Apakah itu masih tidak adil?” Gerombolan anak itu saling memandang untuk beberapa saat, kemudian tertawa kecil.<br />
“Iyah, kakak larinya jadi pendek seperti kami!” canda anak-anak itu riang.<br />
“Jadi…aku boleh ikut bermain?”<br />
“IYA…” jawab anak-anak itu serempak. Maka Zanimra melepaskan sepatunya lalu ikut berlarian bersama anak-anak petani itu. Abdullah tertawa terpingkal-pingkal melihatnya. Dia sungguh tak habis pikir pada Zanimra, didepan keanggunan dan keindahan Putri Aelia yang luar biasa, dia melepas sandalnya untuk bermain bersama anak-anak diatas tanah berumput. Dari seberang yang berlawanan Putri Aelia tercengang melihat kejadian itu. Dia bersaing dengan seorang gadis yang saat ini bertelanjang kaki berlarinan kesana kemari mengejar bola bersama anak-anak kecil. Dalam hati dia merasa malu untuk mengakui bahwa dia sedang bersaing dengan gadis itu. Putri merasa khawatir dengan penilain penduduk karena Zanimra turun dari satu kereta dengannya. Seperti yang dia duga perhatian para petani didekatnya tertuju pada Zanimra, Tapi diluar dugaannya, mereka tertawabahkan beberapa diantaranya ikut bersorak.<br />
“Sungguh baik sekali putri itu, dia mau bermain bersama anak-anak kita seperti itu!”  Celetuk seorang wanita paruh baya tanpa sadar bahwa didekatnya a berdiri Putri Aelia<br />
“Iya, putri kepala desa saja tak akan sudi melepas sandalnya untuk bermain bersama mereka.” Sahut petani lainnya.<br />
 “Ah aku merasa seperti sungguh dihormati sebagai bangsawan!”<br />
Ketika menyadari keadaannya dia buru-buru minta maaf dengan muka pucat pada Putri Aelia.<br />
“Maafkan perkataan saya Putri, saya tidak bermaksud merendahkan Putri dengan perkataan tadi.” Putri Aelia hanya tersenyum mengangguk.<br />
“Kamu tak bersalah.” Jawabnya singkat sambil tersenyum.<br />
“Maaf Putri, jika diijinkan saya bertanya, siapakah putri itu? Bukankah dia datang satu kereta dengan Tuan Putri?” Tanya kepala perkebunan dengan sedikit ragu pada Putri Aelia.<br />
“Dia tamu undangan Raja.”<br />
“MasyaAllah, Sungguh luar biasa! Jarang anak-anak dapat menerima orang dewasa untuk bermain bola bersama mereka. Terlebih lagi, sungguh langka seorang tamu kehormatan raja bersikap ramah seperti itu. Siapakah namanya?”<br />
“Zanimra.”<br />
“Nama yang sangat asing.”<br />
Putri Aelia jadi merasa canggung berdiri disana sedangkan sekelilingnya memperhatikan Zanimra dengan pandangan cinta. Mereka baru saja melihat Zanimra, tapi dengan cepat Zanimra dapat memikat hati banyak orang. Diapun berpamitan pergi, lalu menghampiri Abdullah yang masih terus tertawa.Untuk kesekian kalinya Putri merasa dipatahkan.<br />
“Ya Abdullah, sungguh apa yang dilakukan Zanimra?”<br />
“Oh Putri, maafkan saya, sungguh lucu sekali putriku itu berlari dengan rok panjangnya yang sedikit sempit. Anak-anak terus tertawa sambil mengejarnya.”<br />
“Yah, aku dapat melihatnya, dan seluruh orang disinipun memperhatikannya.” Jawab Putri dingin. Mendengar nada datar Putri, Abdullahpun menghentikan tawanya.<br />
“Aku mendengar dari Ali, Zanimra sangat menyukai anak-anak, jika melihat anak-anak dia akan berubah seperti anak-anak. Sekarang saya bisa melihatnya secara langsung.”<br />
“Apakah kau pikir pantas jika seorang Putri undangan Raja bertingkah laku demikian Abdullah?”<br />
“Ehm, maafkan saya Putri, yang saya lihat dari mata penduduk adalah rasa kagum dan hormat pada Zanimra, apakah itu suatu hal yang buruk?” Putri tertegun, dalam hati diapun mengakui bahwan Abdullah benar. Tapi rasa persaingan dihatinya telah membuatnya memupuk rasa iri yang semakin mengaburkan presepsinya. Akhirnya Putri Aelia mengajak Abdullah menemaninya untuk duduk di beranda.</p>
	<p>Tak lama kemudian permainan anak-anak dan Zanimra selesai, mereka duduk diatas tikar yang disediakan penduduk. Satu persatu petani mendatangi dan memberi salam pada Zanimra. Mereka tampak sangat senang ketika Zanimra dengan lahap memakan buah yang diberikan penduduk. Mereka lebih takjub lagi ketika Zanimra menyuapi beberapa anak yang bersandar dipangkuannya.<br />
“Sungguh siapakah dirimu wahai putri yang baik?”<br />
“Alhamdulillah jika kau menganggapku baik. Aku adalah orang biasa seperti kalian juga, janganlah panggil aku Putri, karena aku bukan berasal dari keluarga bangsawan.”<br />
“Tapi Putri Aelia mengatakan bahwa, kau adalah tamu undangan kerajaan.  Sungguh kedudukanmu diatas kami semua wahai Putri. Kami hanya petani.”<br />
“Alhamdulillah aku mendapat kehormatan itu dari Raja, pemimpin dari negara ini. Tapi tetap saja aku ini adalah tamu kalian dan kalian adalah tuan rumahnya. Makanan yang kumakan sekarang ini adalah pemberian kalian, mengapa kedudukanku lebih tinggi dari kalian sedangkan kalian yang memberi hadiah dan aku yang menerima?”<br />
“Sungguh kami merasa terhormat dengan duduk ditikar yang sama denganmu.”<br />
“Sesungguhnya aku lebih merasa terhormat diijinkan bermain dengan anak-anak kalian.”<br />
“Kakak, gelangmu bagus!” celetuk gadis kecil yang sedang bermain dengan tangan Zanimra.<br />
“Ah, Salama, kau suka?”<br />
“Iyah, indah sekali warnanya!”<br />
“Ambillah jika kau mau.” Penduduk makin tercengang melihat Zanimra membiarkan gadis kecil itu membuka gelang dari tangannya,<br />
“Eh, tunggu dulu. Kau boleh memilikinya jika kau janji dua hal padaku.” Kata Zanimra tiba-tiba sambil menahan tangan anak yang dipanggil Salamah.<br />
“Apa itu?”<br />
“Patuh pada orang tuamu dan takutlah pada Allah, jangan pernah tinggalkan shalatmu.” Gadis itu mengangguk setuju.<br />
“Jika lain kali, insyaallah jika kakak datang dan orang tuamu mengatakan bahwa kamu melanggar janji, aku akan meminta kembali gelang ini darimu. Setuju?”<br />
“Iya, aku berjanji kakak!”<br />
“Baik, siapa orang tua dari Salama?”<br />
“Saya Pamannya, Hasan”<br />
“Baik, Paman Hasan sebagai saksi! Salama, Insyaallah jika kau memegang janjimu disaat aku datang nanti, aku akan memberi hadiah yang lebih lagi dari gelang ini.”<br />
“Benarkah? Kakak aku janji!” Kemudian Hasan, paman dari Salama bertanya heran, “Nona Zanimra, mengapa kau mengadakan perjanjian dengan Salama, bukankan dia hanya seorang anak kecil?”<br />
“Paman Hasan, sesungguhnya anak-anak akan mengingat janji dan memegangnya dengan seluruh kepercayaannya yang tulus. Jika kita melanggar janji pada mereka, maka kepercayaan mereka kepada kita akan musnah. Jadi berhati-hatilah dalam memegang janji pada siapapun, terutama pada anak-anak.”<br />
“Jadi kakak janji akan datang lagi?” tanya Salama lagi.<br />
“Tidak Salama, aku berkata Jika aku datang lagi, Insyaallah. Aku tidak tahu apakah aku bisa datang lagi atau tidak dikemudian hari, tapi jika aku datang lagi aku akan menagih janjimu dan jika kau menepatinya  aku akan memberikan hadiah yang lain padamu. Dan aku berjanji, jika Allah mengijinkan, aku akan datang lagi.”<br />
“Aku berharap kakak akan datang lagi dan lagi!” Ucap Salama keras-keras, mengundang tawa yang lain.<br />
	“Insyaallah Salama, selalu ucapkan Insyaallah.” Sahut Zanimra lembut.<br />
“Insyaallah!” celetuk Salama dengan logat yang lucu.<br />
“Nah, untuk anak-anak lainnya, apakah mau mengikat perjanjian denganku? Jika mau aku akan mencarikan beberapa hadiah untuk kalian.” Kata Zanimra lagi pada anak-anak yang lain. Serentak yang lain menyetujui. Zanimra tersenyum ceria, diapun melangkah pergi menuju kereta kuda. Abdullah dan Putri melihat Zanimra yang tergopoh-gopoh membuka tas besarnya.<br />
“Sedang apa kau Zanimra?” Tanya Abdullah penasaran.<br />
“Aku hendak mengadakan perjanjian dengan anak-anak Ayah.”<br />
“Perjanjian dengan anak-anak? Apa maksudmu?” Tanya Abdullah semakin heran. Putri Aeliapun ikut penasaran.<br />
“Jika Ayah ingin tahu, ikutlah denganku.” Abdulahpun meminta ijin pada putri,<br />
“Bolehkah saya permisi untuk melihat perjanjian itu Putri?”<br />
“Aku sendiri penasaran hai Abdullah, sungguh Zanimra itu aneh-aneh saja.” Maka mereka berdua turun dari beranda Pondok dan menghampiri Zanimra.<br />
“Ah Ayah, adakah sesuatu benda yang bisa kau berikan padaku sebagai hadiah yang cocok bagi anak laki-laki?”<br />
“Hem…yang kumiliki hanya teleskop kecil ini.”<br />
“Bagus sekali! Bolehkah aku memintanya?”<br />
“Ambillah putriku.” Zanimra meletakkan beberapa benda kecil diatas selembar kain hijabnya.<br />
“Yang kumiliki kurasa sudah cukup untuk enam anak, dua gadis kecil dan empat anak laki-laki, nilai masing-masing benda tak jauh berbeda, kurasa ini cukup adil.”  Gumamnya pada diri sendiri.<br />
“Bagaiman menurutmu ayah, apakah nilai benda-benda ini cukup adil?”  Abdullah memperhatikan benda-benda tersebut dan dia mengangguk setuju. Zanimra mengambil beberapa selendang lagi dari tasnya lalu bergegas menghampiri petani yang masih duduk menunggunya diikuti Abdullah dan Putri Aelia.<br />
Setibanya disana Zanimra membagikan benda-benda tadi sesuai dengan pilihan setiap anak,. Lalu Zanimra melakukan perjanjian yang sama seperti yang dilakukannya dengan Salamah. Dari setiap anak dimintanya seorang saksi laki-laki atau dua orang saksi perempuan. Setelah selesai dengan semua anak-anak diapun bertanya,<br />
“Apakah kalian semuanya senang dan ikhlas?”<br />
“Kami senang sekali!”<br />
“Anak-anak, ingat, apapun hadiah yang ada ditangan kalian bukanlah dariku, tapi dari Allah semata. Aku hanya sebagai alat penyalur berkah dan rahmatnya, jadi ucapkanlah…. Alhamdulillah. Sebagaimana benda yang ada ditanganmu itu Rahmat/pemberian Allah yang datang melalui tanganku, jika kalian melanggar janji, maka karena Allah pulalah aku akan mengambilnya kembali, apakah kalian mengerti?”<br />
“Kami mengerti,”<br />
“Jika kalian mengerti, sekarang katakan kepadaku, Demi siapakah kalian memegang akan memegang janji?”<br />
“Demi Allah!” jawab anak-anak serempak,<br />
“Mengapa demikian?”<br />
“Karen Allah-lah yang memberikan hadiah ini melalui tangan kakak dan Allah pula yang akan mengambilnya dari kami melalui tangan kakak jika kami melanggar janji.”<br />
“Insyaallah jika Allah memberi kesempatan pada kakak. Alhamdulillah kalian mengerti….. subhanallah, kalian memang anak-anak yang cerdas.”<br />
“Ingat janji kalian baik-baik, patuhlah pada orang tua, takutlah pada Allah dan dan kerjakanlah shalat lima waktu.</p>
	<p>Q.S. Al Fath:10. Bahwasanya orang-orang yang berjanji setia kepada kamu sesungguhnya mereka berjanji setia kepada Allah. Tangan Allah di atas tangan mereka, maka barangsiapa yang melanggar janjinya niscaya akibat ia melanggar janji itu akan menimpa dirinya sendiri dan barangsiapa menepati janjinya kepada Allah maka Allah akan memberinya pahala yang besar. ”</p>
	<p>“Kami berjanji.” Jawab anak-anak secara serempak lagi.<br />
“Para saksi, aku sangat berterima kasih atas kesediaan kalian menjadi saksi, sungguh aku hanya dapat memberikan ini sebagai ucapan terima kasihku yang sangat.”<br />
Zanimra membagikan beberapa selendang sutra miliknya yang diterima dengan suka ria.<br />
“Nona, seharusnya kamilah yang berterima kasih padamu, karena perjanjianmu membuat kami sadar akan dari mana datangnya rezeki yang kami dapatkan sekarang ini. Sungguh kami jarang sekali bersyukur. Berjanjilah untuk sering berkunjung jika kau berkesempatan.”<br />
“Insyaallah jika memang saya memiliki kesempatan dilain hari, jagalah anak-anak ini dalam memegang janjinya, sesungguhnya janji yang mereka ucapkan adalah janji seluruh manusia kepada Allah. Aku hanya mencoba mengingatkan mereka. Semoga pada usianya yang tepat mereka akan mengerti keseluruhan dari maksud perjanjian ini.”<br />
“Amin.” Jawab semua yang hadir secara serempak.<br />
“Baiklah, selagi aku sempat, maukah kalian mendengar sebuah kisah tentang dua petani dan kebunnya?” Dengan hampir berbarengan yang hadir menyetujui,<br />
“Kami akan senang mendengarkannya.”<br />
“Insyaallah, alhamdulillah… cerita ini terdapat didalam Al-Qur’an, semoga kita semua mendapat Rahmat Allah untuk mendapat pelajaran darinya.” Zanimra diam sebentar lalu membuka Al-Qur’an kecil yang selalu dibawanya.<br />
“Bismillahirohmaan nirrohiim, Surat Al Kahf ayat 32-46;<br />
32. Dan berikanlah kepada mereka sebuah perumpamaan dua orang laki-laki, Kami jadikan bagi seorang di antara keduanya (yang kafir) dua buah kebun anggur dan Kami kelilingi kedua kebun itu dengan pohon-pohon korma dan di antara kedua kebun itu Kami buatkan ladang.<br />
33. Kedua buah kebun itu menghasilkan buahnya, dan kebun itu tiada kurang buahnya sedikitpun dan Kami alirkan sungai di celah-celah kedua kebun itu,<br />
34. dan dia mempunyai kekayaan besar, maka ia berkata kepada kawannya (yang mu&#8217;min) ketika ia bercakap-cakap dengan dia: &#8220;Hartaku lebih banyak dari pada hartamu dan pengikut-pengikutku lebih kuat&#8221;.<br />
35. Dan dia memasuki kebunnya sedang dia zalim terhadap dirinya sendiri; ia berkata: &#8220;Aku kira kebun ini tidak akan binasa selama-lamanya,<br />
36. dan aku tidak mengira hari kiamat itu akan datang, dan jika sekiranya aku di kembalikan kepada Tuhanku, pasti aku akan mendapat tempat kembali yang lebih baik daripada kebun-kebun itu&#8221;.<br />
37. Kawannya (yang mu&#8217;min) berkata kepadanya sedang dia bercakap-cakap dengannya: &#8220;Apakah kamu kafir kepada (Tuhan) yang menciptakan kamu dari tanah, kemudian dari setetes air mani, lalu Dia menjadikan kamu seorang laki-laki yang sempurna?<br />
38. Tetapi aku (percaya bahwa): Dialah Allah, Tuhanku, dan aku tidak mempersekutukan seorangpun dengan Tuhanku.<br />
39. Dan mengapa kamu tidak mengucapkan tatkala kamu memasuki kebunmu &#8220;MAA SYAA ALLAH, LAA QUWWATA ILLAA BILLAH&#8221; (Sungguh atas kehendak Allah semua ini terwujud, tiada kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah). Sekiranya kamu anggap aku lebih sedikit darimu dalam hal harta dan keturunan,<br />
40. maka mudah-mudahan Tuhanku, akan memberi kepadaku (kebun) yang lebih baik daripada kebunmu (ini); dan mudah-mudahan Dia mengirimkan ketentuan (petir) dari langit kepada kebunmu, hingga (kebun itu) menjadi tanah yang licin.<br />
41. atau airnya menjadi surut ke dalam tanah, maka sekali-kali kamu tidak dapat menemukannya lagi&#8221;.<br />
42. Dan harta kekayaannya dibinasakan, lalu ia membulak-balikkan kedua tangannya (tanda menyesal) terhadap apa yang ia telah belanjakan untuk itu, sedang pohon anggur itu roboh bersama para-paranya dan dia berkata: &#8220;Aduhai kiranya dulu aku tidak mempersekutukan seorangpun dengan Tuhanku&#8221;.<br />
43. Dan tidak ada bagi dia segolonganpun yang akan menolongnya selain Allah; dan sekali-kali ia tidak dapat membela dirinya.<br />
44. Di sana pertolongan itu hanya dari Allah Yang Hak. Dia adalah sebaik-baik Pemberi pahala dan sebaik-baik Pemberi balasan.<br />
45. Dan berilah perumpamaan kepada mereka (manusia), kehidupan dunia adalah sebagai air hujan yang Kami turunkan dari langit, maka menjadi subur karenanya tumbuh-tumbuhan di muka bumi, kemudian tumbuh-tumbuhan itu menjadi kering yang diterbangkan oleh angin. Dan adalah Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.<br />
46. Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia tetapi amalan-amalan yang kekal lagi saleh adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan.”<br />
Maha benar Allah dengan segala firman-Nya.” Zanimra menutup Qur’annya.<br />
“Sungguh ceritamu membuat kami semakin sadar dan takut kepada Allah, kami berlindung kepada Allah dari kesombongan seperti yang dilakukan petani pertama itu.” Kata seorang petani dengan tulus, yang lainnya mengangguk-angguk setuju. Zanimra tersenyun bahagia, dia begitu bersyukur karena Allah begitu Pemurah melembutkan hati orang-orang yang ditemuinya hari ini, dengan senyum lebar dia berkata lagi.<br />
“Sungguh banyak sekali cerita menarik dan pengajaran penuh rahmat dari Allah di dalam Al Qur’an. Bacalah Al Qur’an, hatimu akan merasa tenang dan bahagia, insyaallah.<br />
Q.S. Yusuf:111. Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal. Al Qur&#8217;an itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, akan tetapi membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjelaskan segala sesuatu, dan sebagai petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman.<br />
Abdullah kali ini benar-benar dibuat tercengang oleh tingkah laku Zanimra, tak jauh beda dengan Putri Aelia, dia semakin tercekat melihat kejadian itu. Akhirnya Zanimra minta Abdullah untuk memimpin shalat berjama’ah dibawah pohon itu. Selesai shalat merekapun melanjutkan perjalanan ke istana. Suasana hening karena tak satupun berbicara, Zanimra masih asyik dengan kain katun yang diberikan penduduk setempat sebagai kenang-kenangan.Tiba-tiba Putri melontarkan pertanyaan karena tak tahan menahan rasa penasarannya,<br />
“Zanimra mengapa kau melakukan perjanjian seperti ini dengan anak-anak?”<br />
“Karena aku ingin mengajarkan pada anak-anak tentang perjanjian.”<br />
“Apakah kau pikir mereka akan memegang janjinya? Mereka hanya anak-anak.”<br />
“Bukankan pelajaran lebih baik dimulai dari dini? Anak-anak sangat kuat daya ingatnya dan sangat rapuh kepercayaannya. Jika aku melanggar janjiku, mereka akan mencabut kepercayaannya dariku dan akan mengingat hal itu selamanya. Tapi yang terpenting disini, anak-anak mengerti dari siapa hadiah itu datang dan untuk siapa perjanjian itu sebenarnya dilaksanakan. Dan demi siapa mereka akan memegang janjinya. Semua karena Allah semata. Aku ingin anak-anak memahami, bahwa darimanapun atau siapapun datangnya rezeki sesungguhnya semua itu datang dari Allah. Dan hanya pada Allah seharusnya mereka bersyukur.”<br />
“Apakah kau merencanakan hali ini Zanimra?”<br />
“Bagaimana mungkin saya merencanakannya jika saya baru saja menginjak pedesaan itu?”<br />
“Bagaiman kau bisa berbuat demikian jika tidak kau rencanakan?”<br />
“Alhamdulillah, Allah-lah yang menginginkannya terjadi. Hal itu terlintas dipikiranku ketika si kecil Salamah meminta gelangku.”<br />
“Jika Salamah tidak menerima perjanjian itu, kau tak akan memberikan gelang itu padanya?”<br />
“Tidak.”<br />
“Bukankah itu kejam?”<br />
“Yang kutawarkan dalam perjanjian itu jauh lebih berharga dari gelangku Tuan Putri.” Putri tertegun mendengar jawaban Zanimra.<br />
“Yang kuminta pada Salamah adalah menjalankan shalat dan patuh kepada orang tuanya. Hal itu tidak sulit bagi Salamah, karena dia lahir dari keluarga muslim. Shalat dan patuh pada orang tua adalah hal yang sudah biasa mereka kerjakan karena memang itu diwajibkan. Yang kulakukan hanyalah meberi mereka motivasi dalam menjaganya lebih baik. Salamah menyadari hal itu, oleh karenanya dia dengan berani menyetujui perjanjian itu.”<br />
“Bagaimana dengan anak yang lain? Bukankah tidak semua anak berpikiran sama?”<br />
“Sebagaimana Salamah, aku tanya tentang kerelaan mereka terlebih dahulu, dan mereka merasa rela mengadakan perjanjian itu. Dan mereka tak merasa dirugikan sedikitpun, terlebih lagi dengan hadiah imbalan yang kujanjikan jika mereka menjalankan janji mereka.” Lalu Zanimra mengarahkan pandangannya pada Abdullah dan berkata,<br />
	“Ayah, kau dengar tentang janjiku kepada mereka bukan?”<br />
	“Bahwa kau akan mempertanyakan tanggung jawab mereka dalam memegang janji atau tidak. Dan jika mereka melanggar janji, kau akan mengambil kembali hadiah itu, tapi jika mereka memegang janji, kau akan memberikan hadiah lain lagi bagi mereka. Ya! Aku dengar Zanimra.”<br />
	“Sudikah ayah membantu aku dalam memegang janjiku?”<br />
	“Tentu saja, insyaallah jika aku bisa putriku, Aku akan merasa senang sekali jika bisa ikut serta dalam perjanjian mulia ini!” sahut Abdullah dengan semangat.<br />
	“Aku akan menitipkan beberapa hadiah yang kujanjikan itu kepadamu. Jika dalam setahun aku tak bisa kembali kesini, maukah paman menyampaikan hadiah-hadiah itu bagi mereka yang memegang janji dan mengambil hadiah yang mereka miliki jika mereka melanggar janji?”<br />
	“Ha ha ha, subhanallah, tentu saja. Insyaallah jika umurku masih panjang. Dan insyaallah aku akan menambahkan beberapa hadiah lagi!”<br />
	“Alhamdulillah, terima kasih Ayah.” Jawab Zanimra dengan riang.<br />
	“Zanimra, kau memberikan pelajaran yang sangat berharga kepadaku. Jika kau bisa melakukan hal itu pada anak-anak di negri yang baru saja kau kunjungi, mengapa aku tak bisa? Aaaahh, aku sungguh malu padamu Zanimra!”<br />
“Sungguh segala sesuatu datangnya dari Allah Ayah, aku hanya seorang hamba. Alhamdulillah.” Abdullah tersenyum bahagia karena ia mendapatkan Zanimra sebagai calon menantu. Dia tak dapat berkata terlalu banyak demi menjaga perasaan Putri. Karena kelelahan bermain dengan anak-anak akhirnya Zanimra jatuh tertidur. Perjalananpun menjadi kembali hening, bertolak belakang dengan isi kepala Putri Aelia yang semakin berkecamuk. Dalam beberapa jam saja Putri sudah merasakan kelebihan-kelabihan yang dimiliki Zanimra, hatinya semakin gusar. Jika dirinya bisa mengakui kelebihan Zanimra seperti ini, apalagi orang lain dan kakaknya. Kereta memasuki gerbang istana ditengah malam buta. Abdullah dan Zanimra langsung di antarkan ke kamar mereka. </p>
	<p><strong>Dialog Zanimra dan Raja</strong></p>
	<p>Abdullah dibangunkan oleh sebuah ketukan dipintu kamarnya, seorang pelayan masuk dengan seragam yang rapi dan sisiran rambut yang licin. Pelayan itu menyampaikan undangan Raja untuk sarapan di ruang makan pribadinya.<br />
“Hmm, hanya aku sendiri?” Lalu Abdullah bergegas mempersiapkan dirinya. Dalam perjalanan menemui Raja, Abdullah menyempatkan diri untuk menengok keadaan Zanimra, tapi Abdullah tak menemukan Zanimra dikamarnya.<br />
Raja menyambut Abdullah dengan secangkir teh sajian pagi yang masih hangat.<br />
“Assalammualaikum Baginda.”<br />
“Walaikum salam Abdullah, duduklah dan temani aku.”<br />
“Terima kasih Baginda.” Setelah duduk, Abdullah dan Raja menyantap hidangannya. Setelah selesai Raja memulai pembicaraan tentang Zanimra.<br />
“Baiklah Abdullah, aku telah lama mengenalmu, kau seperti ayahku sendiri. Kau laki-laki yang jujur dan adil. Ceritakan padaku tentang Zanimra dan apa pendapatmu.”<br />
“Terima kasih atas kepercayaan Baginda. Bulan amatlah cantik dan bercahaya, semua orang yang memandangnya akan mengagumi dan memuji. Sedangkan matahari, tak satupun yang memandangnya atau memuji keindahannya, tapi cahaya bulan masihlah kalah dari cahaya matahari.” Raja tertegun mendengar perumpaan yang diajukan Abdullah.<br />
“Jadi, Zanimra tak secantik Aelia, tapi cahayanya jauh lebih terang. Ceritakan padaku, apa yang membuatmu memiliki penilaian demikian.”<br />
Abdullah lalu menceritakan seluruh kejadian yang dialaminya sepanjang perjalanan menuju istana. Ketika Abdullah selesai dengan penuturannya Raja berdiri dari duduknya dan berjalan mondar-mandir dengan gusar. Abdullah memahami reaksi  rajanya. Kemudia Raja kembali duduk dan memandang tajam Abdullah.<br />
“Apakah kebenaran yang kau katakan tadi hai Abdullah?”<br />
“Demi Allah, begitulah adanya Baginda.”<br />
“Masyaallah, tak mungkin usia gadis itu sama seperti Aelia!”<br />
“Memang usia Zanimra tiga tahun lebih tua.”<br />
“Tidak Abdullah, Zanimra seharusnya jauh lebih tua, bahkan mungkin lebih tua dari usiamu!” Abdullah tersenyum geli, ada rasa bersalah dalam hatinya karena Raja tampak gusar menyadari kelebihan Zanimra. Seperti dugaannya, Raja dengan mudah dapat menangkap kelebihan yang dimiliki Zanimra, cahaya yang tidak dimiliki Putri Aelia itulah yang membuat Ali merasa yakin akan keputusannya.<br />
“Baiklah, dimanakah dia sekarang?”<br />
“Maaf Baginda, pagi ini saya belum sempat menemui Zanimra.”<br />
“Hem, perintahkan dia untuk bergabung bersamaku setelah makan siang untuk berkeliling kota.”<br />
“Titah Baginda akan saya laksanakan.”<br />
“Sekarang kau boleh pergi, terima kasih Abdullah, Assalammualaikum.”<br />
“Terima kasih kembali, walaikum salam.” Abdullah bangkit dari duduknya dan melangkah pergi. Baginda mengerutkan dahinya, dia merasa takjub dengan penuturan Abdullah. Untuk seorang gadis seusia Zanimra jalan pikirannya sangatlah unik dan tak biasa. Yang paling membuat Raja heran adalah kepercayaan diri dan ketenangan Zanimra.</p>
	<p>	Tepat setelah makan siang Abdullah dan Zanimra menghadap Raja. Disana Raja dan Putri Aelia telah menunggu.<br />
	“ Assalammualaikum Zanimra, selamat datang di kerajaan kami.” Sambut Raja dengan ramah.<br />
	“Walaikum salam, saya sangat berterima kasih dan merasa terhormat atas undangan Baginda.” Sahut Zanimra dengan senyum. Dari cara bicara Zanimra, Raja dapat menangkap ketenangan dan kepercayaan diri yang amat kuat.<br />
	“Bagaimana menurutmu tentang kerajaanku Zanimra?”<br />
	“Subhanallah. Seperti yang telah tersohor, kerajaan Baginda adalah kerajaan yang makmur dan kaya.”<br />
	“Dan bagaimana menurutmu istanaku?”<br />
	“Subhanallah, Allah menurunkan keindahan yang mengagumkan diistana ini.”<br />
	“Apa yang menurutmu paling indah di istana ini?”<br />
	“Sejauh yang dapat saya temui sepanjang hari ini, Putri Aelia adalah keindahan utama dunia yang Allah turunkan di istana ini.” Raja dan Putri Aelia terkejut mendengar jawaban yang tak terduga dari Zanimra.<br />
	“Mengapa demikian?”<br />
	“Karena belum pernah saya temui suatu keindahan dari ciptaan Allah yang lebih indah dari Putri Aelia.” Jawab Zanimra kembali dengan jujur tanpa ada kesan nada menjilat.<br />
	“Ah, jujurkah kau atau sekedar memujiku Zanimra?” Sahut Putri dengan senyum yang semakin membuatnya menyilaukan.<br />
	“Demi Allah, sesungguhnya saya memuji Allah atas kebesaran-Nya yang nampak  padamu Putri. Maha Suci Allah yang MenciptakanMu.” Putri merasa malu mendengar jawaban Zanimra.<br />
	“Apa yang akan kau lakukan jika kau memiliki kecantikan seperti yang dimiliki adikku Zanimra?” Tanya Raja kemudian.<br />
	“Saya akan sangat takut.” Raja dan Putri kembali dibuat terkejut dengan pernyataan Zanimra.<br />
	“Sungguh kau gadis yang aneh, dari seluruh gadis dimuka bumi mengharapkan kecantikan seperti Aelia, tapi kau malah sebaliknya. Katakan padaku alasanmu.” Pinta Raja kemudian.<br />
	“Saya takutkan, karena dengan kecantikan itu akan bertambah beban saya dalam perjuangan melawan tipu daya setan dan nafsu saya sendiri. Dengan kecantikan yang demikian, akan sulit bagi saya menghindar dari berbagai pujian. Dan sesungguhnya pujian adalah sangat jahat bagi jiwa, karena ia sungguh memabukkan dan dapat mengikis iman. Dari pujian pulalah tumbuh rasa kesombongan, dan sesungguhnya ‘kesombongan’ adalah sebab terkutuknya iblis hingga akhir jaman. Sungguh saya takutkan hal itu terlebih lagi segala pujian itu Hanya Milik Allah.”<br />
	Mendengar jawaban Zanimra, Raja tersenyum getir, ujarnya kemudian,<br />
“Demi Allah, Hai Abdullah, sungguh aku melihat apa yang kau lihat dari gadis ini.” Putri memandang Zanimra dengan rasa semakin enggan.<br />
“Baiklah Zanimra, kurasa Abdullah telah menyampaikan undanganku kepadamu untuk menemaniku berkeliling kota kerajaan.”<br />
“Betul Baginda, terima kasih atas undangannya, saya merasa sangat terhormat.”<br />
“Baiklah, mari kita berangkat sekarang.”<br />
Akhirnya Raja beranjak dari singgasananya diikuti Abdullah, Zanimra dan beberapa petinggi kerajaan, sedangkan Putri tinggal di istana.<br />
Selama perjalanan Raja terus memperhatikan tingkah laku Zanimra, seperti yang dikatakan Abdullah, Zanimra lebih banyak diam sepanjang perjalanan dan mimik wajahnya selalu berubah-ubah seperti layaknya seseorang yang sedang menikmati drama panggung. Raja seperti melihat dirinya sendiri pada Zanimra. Sama halnya dengan dirinya, bagi Zanimra setiap kejadian kecilpun yang dia temui dimanapun dirasakan sangat menarik baginya. Dari kejadian-kejadian kecil itu dapat diambil banyak pelajaran dan hikmah kehidupan. Hal inilah yang pertama kali diajarkan ayahnya pada Raja sebagai dasar kepemimpinan seorang Raja. Pada sore hari rombongan Raja kembali ke istana kecuali Abdullah, dia harus tinggal di kota untuk menyelesaikan beberapa urusan hingga malam. Setibanya di istana, dengan rasa penasaran Raja akhirnya bertanya pada Zanimra.<br />
“Zanimra, selama perjalanan aku memperhatikanmu. Kulihat pikiranmu selalu sibuk dengan perubahan demi perubahan yang kulihat dari mimik wajahmu dan gerakan bibirmu yang terus menerus. Maukah kau ceritakan padaku mengapa kau demikian?”<br />
“Pikiran saya terus sibuk karena mata saya tak henti-hentinya menangkap hal-hal yang menarik terjadi sepanjang perjalanan ini. Bibir saya selalu bergerak karena timbul oleh rasa tasbih kesyukuran atau istighfar ketakutan dari segala sesuatu yang saya lihat.”<br />
“Sesungguhnya aku mengerti apa maksudmu karena Zanimra, yang sebenarnya ingin kuketahui, siapakah yang mengajarkanmu untuk berbuat demikian?”<br />
“Saya mendapatkan hikmah tersebut dari Allah melalui kitab-Nya Al-Qur’an Baginda.”<br />
“Sungguh Al-Qur’an telah mengajarkanmu suatu kebijakan.”<br />
“Tidakkah Al Qur’an mengajarkan hal yang sama pada Baginda?” Baginda tertegun, dia menyadari bahwa sesungguhnya Raja jarang benar-benar membaca Al Qur’an. Kesibukannya dalam menjalani kerajaan membuatnya hampir tidak sempat untuk membaca kitabullah itu. Semua ilmu yang dia dapat dalam kepemimpinan dan kerajaan dia pelajari dari ayahnya dan petinggi negara serta pengalaman hidupnya.<br />
“Sungguh aku malu padamu Zanimra, tapi ketahuilah kesibukanku sebagai raja seringkali menahanku darinya.”<br />
“Masyaallah, sungguh dalam Al-Qur’an terdapat obat bagi semua penyakit dan petunjuk bagi mereka yang bertakwa.</p>
	<p>Q.S Al An’Aam : 155. Dan Al Qur&#8217;an itu adalah kitab yang Kami turunkan ini, penuh keberkatan, hebat kegunaannya. Karen itu ikutilah petunjuk Tuhan di dalamnya, dan bertaqwalah menjauhi larangan-Nya, semoga kamu diberi rahmat.”</p>
	<p>“Tapi Zanimra, Al-Qur’an adalah sebuah kitab agama, apa yang bisa kutemui didalamnya tentang cara menjalankan suatu pemerintahan bernegara?”<br />
“Sungguh Nabi Muhammad adalah pemimpin yang menyatukan seluruh tanah Arab dalam waktu yang sangat singkat dan Beliau adalah jendral perang yang luar biasa, pembimbing Beliau tidak lain dan tidak bukan adalah Al-Qur’an. Qur’an bukanlah kitab yang mengatur hablum minallah (hubungan antara Tuhan dan manusia) saja, tapi juga mengatur hablum minan-naas (hubungan antar sesama manusia).”<br />
“Zanimra, seperti yang kau lihat, walau bagaimanapun aku berhasil membawa kerajaan ini dalam kemakmuran. Apakah menurutmu yang kuperbuat belum cukup?”<br />
“Saya akui kerajaan ini sangat makmur dengan kekayaan yang berlimpah, tapi apakah ini saja yang Baginda kejar?” Tanya Zanimra dengan sangat hati-hati. Baginda mengernyitkan alisnya,<br />
“Apa maksudmu kemakmuran ini tidak cukup bagi rakyatku? Kerajaanku walau kecil adalah kerajaan kaya dan rakyatku hidup dalam kemakmuran.”<br />
“Benar sekali, saya akui demikian adanya. Tapi seberapa kekalkah kehidupan dunia ini Baginda? Apakah terlupa dari ingatan, bahwa tujuan akhir manusia adalah negeri Akhirat? Manakah yang lebih baik, kehidupan dunia atau akhirat?” Baginda terhenyak dengan pertanyaan Zanimra. Zanimrapun melanjutkan,<br />
“Kekayaan dan kemakmuran yang ada pada dunia ini pada saatnya akan ditinggalkan, lalu kepada siapakah kita akan dikembalikan? Sungguh apa yang Baginda raih saat ini hanyalah keberhasilan dunia yang bersifat sementara. Apakah hanya sampai sini akhir perjalanan Baginda?”<br />
“Zanimra!” kecam Raja tiba-tiba. Dia terkejut dengan keberanian Zanimra dalam mengajukan pernyataan yang mempertanyakan kebijaksanaannya dalam menjalankan roda pemerintahan.<br />
“Maafkan saya jika saya menyinggung perasaan Baginda, saya hanya berbicara sebagai seorang hamba Allah. Kerajaan ini adalah kerajaan mayoritas perpenduduk Islam, tapi sangat disayangkan jika roda pemerintahan jauh dari Islam itu sendiri. Saya sungguh sedih, saya datang dari kerajaan Hindu, kebebasan kami dalam menjalankan ibadah beragama sangat terbatas, tapi alhamdulillah, kebanyakan muslim yang berada dinegeri saya jauh lebih mencerminkan ke-Islamannya daripada dikerajaan ini.”<br />
“Zanimra, sungguh berani kau menyampaikan kritik tajam padaku. Tidak adakah sedikit rasa takutpun padamu terhadap Raja seperti aku ini?”<br />
	“Demi Allah saya menghormati Baginda sebagai seorang pemimpin, tapi hanya pada Allah sajalah seluruh makhluk itu harus takut, karena Allah adalah Raja dari segala raja. </p>
	<p>Qur’an Surat Al Mu’minuun:116. Maka Maha Tinggi Allah, Raja Yang Sebenarnya; tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia, Tuhan (Yang mempunyai) `Arsy yang mulia.”<br />
Kembali Raja tergagap, tak terbayang olehnya ada seorang gadis biasa yang begitu berani pada seorang Raja seperti dirinya.<br />
“Dan bolehkah saya bertanya pada Baginda, takutkah Baginda kepada Allah?”<br />
“Tentu saja aku takut!”<br />
“Sesungguhnya seorang pemimpin seperti Baginda akan dimintai pertanggung jawabannya oleh Allah di hari Perhitungan nanti. Apakah dalih Baginda jika Allah bertanya pada Baginda dengan apakah dan bagaimanakah Baginda memimpin rakyat? Mengapa  rakyat yang Baginda pimpin jauh dari jalan Allah sedangkan mereka beragama Islam?”  Mendengar pertanyaan Zanimra tubuh Raja bergetar hebat.<br />
“Lihatlah disekeliling Baginda, para wanita dari rakyat baginda berjalan dengan setengah telanjang di hampir seluruh penjuru kota. Padahal kita tahu perintah dari Allah, dalam Surat An-Nuur:31</p>
	<p>Katakanlah kepada wanita yang beriman: &#8220;Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak daripadanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya, kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita Islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung. “</p>
	<p>Para laki-laki memakai jubah sutra hingga menyapu tanah. Sungguh seperti inikah ajaran Islam? Memakai perhiasan emas hampir diseluruh bagian tubuh yang nampak,<br />
Diriwayatkan daripada al-Bara&#8217; bin Azib r.a katanya: Rasulullah s.a.w memerintahkan kami dengan tujuh perkara dan melarang kami dari tujuh perkara &#8230; Baginda melarang kami memakai cincin atau bercincin emas, minum dengan bekas minuman dari perak, hamparan sutera, pakaian buatan Qasiy yaitu dari sutera, serta mengenakan pakaian sutera, sutera tebal dan sutera halus” (Hadis sahih Bukhari-Muslim)<br />
Tidakkah Baginda sadari, keadaan rakyat dan keluarga Baginda sangat sedikit sekali yang patuh pada perintah Allah dalam Al Qur’an maupun dalam hadis Rasulullah yang telah saya sebutkan. Astaghfirullah…Kebanyakan orang yang saya temui selama saya berada disini melanggarnya.”<br />
Bibir Raja terkatup rapat. Bagai dihantam badai yang amat keras, saat itu jiwa baginda terombang-ambing amat keras. Pikirannya bergelut amat hebat, kata-kata Zanimra bagaikan sebuat hantaman dasyat yang membuatnya terbangun dari mimpi. Keterkejutannya membuat raja tak mampu menerima bahwa yang dikatakan Zanimra adalah benar,<br />
“Sungguh kau gadis yang sangat berani Zanimra, tak tahukah kau berada dikerajaanku?”<br />
“Saya lebih takut kepada Allah jika saya berdiam diri melihat seorang yang saya kagumi terbelenggu dalam keadaan lupa wahai Baginda.”<br />
“Aku selalu meminta Abdullah pergi setiap kali dia mulai berbicara tentang hal ini, mengapa kau pikir aku mau mendengarkanmu?” Zanimra tersenyum sedih.<br />
 “Yang manakah teman yang baik bagi Baginda? Seorang teman yang mengingatkan Baginda atau seorang teman yang tak ambil perduli akan keselamatan Baginda dari kecelakaan yang sesungguhnya dan kekal?” Baginda terhenyak mendengar pertanyaan Zanimra tanpa bisa manjawab.<br />
“Apa kau pikir aku ini sungguh celaka dan bukan Raja yang bijak.”<br />
“Baginda adalah raja yang bijak, hanya saja baginda lupa… bahwa baginda adalah juga seorang hamba Allah dan Baginda pemimpin dari berjuta hamba Allah yang lainnya, renungkanlah peringatan penuh kasih dari Allah dalam Al-Qur’an;</p>
	<p>Surat Yunus: (7) Sesungguhnya orang-orang yang tidak mengharapkan (tidak percaya akan) pertemuan dengan Kami, dan merasa puas dengan kehidupan dunia serta merasa tenteram dengan kehidupan itu dan orang-orang yang melalaikan ayat-ayat Kami, (8) mereka itu tempatnya ialah neraka, disebabkan apa yang selalu mereka kerjakan.</p>
	<p>Surat Ali Imran:185. Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.”<br />
 “Baginda yang bijak, Anda lupa, bahwa akhirat adalah tujuan sesungguhnya dari manusia, dan sebagai Raja, kepemimpinan Baginda akan dimintai pertanggung jawabannya. Saya sekedar mengingatkan, berhati-hatilah menanti datangnya panggilan Allah di hari kiamat nanti;<br />
Diriwayatkan daripada Abu Hurairah r.a katanya: Rasulullah s.a.w bersabda: Allah s.w.t menggenggam bumi pada Hari Kiamat dan melipat langit dengan tangan kananNya kemudian berfirman: Akulah Raja! Di manakah raja-raja bumi?” (Sahih Bukhari-Muslim)<br />
Surat An Nahl 93. Dan kalau Allah menghendaki, niscaya Dia menjadikan kamu satu umat (saja), tetapi Allah menyesatkan siapa yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan sesungguhnya kamu akan ditanya tentang apa yang telah kamu kerjakan.”<br />
Raja menjadi amat gusar, sebagian hatinya mengakui kebenaran kalimat Zanimra, tapi sebagian hatinya merasa tersinggung.<br />
“Hentikan pembicaraan ini Zanimra, ijinkanlah aku berpikir. Sejujurnya perkataanmu seperti menamparku dengan sangat keras. Berilah aku ruang untuk bernafas. Pergilah sekarang, hadirlah pada jamuan malam kerajaan nanti.”<br />
“Terima kasih Baginda, maafkan saya telah merepotkan, insyaallah saya akan hadir dijamuan kerajaan malam nanti. Assalammualaikum.” Zanimra akhirnya meninggalkan Raja.<br />
“Ah Abdullah, bukan saja gadis itu memporak-porandakan jiwa adikku, sekarang dia juga memporak-porandakan jiwaku!” gumamnya dengan galau pada diri sendiri.     	Selama hidupnya Raja berpikir bahwa dirinya telah menjadi Raja yang baik, karena keberhasilannya dalam membawa rakyatnya dalam kemakmuran duniawi. Urusan kenegaraan dan agama baginya adalah hal yang berbeda. Dia tidak pernah berpikir sebagaimana yang dituturkan Zanimra, baginya akhirat masihlah sekedar dongeng sebelum tidur yang tidak pernah dipikirkannya secara serius. Lisannya selalu berkata dia muslim dan takut kepada Allah, tapi kenyataannya dia sangat jauh dari Islam, sangat jauh dari Al Qur’an dan alpa akan keberadaan Allah.<br />
Hatinya terpukau penuk kekeruhan, dia tak menyangka seorang gadis biasa dapat berkata dengan lantang tentang kesalahannya. Sunnguh gadis itu tak takut pada dirinya, tapi dia takut pada Tuhan-Nya.<br />
Raja menggapai sebuah Al-Qur’an yang berdebu disudut meja kerjanya, dibukanya secara acak, matanya tertumbuk pada sebuah surat yang berbunyi,</p>
	<p>Dan tiadalah kehidupan dunia ini, selain dari main-main dan senda gurau belaka. Dan sungguh kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Maka tidakkah kamu memahaminya? (Q.S Al An-‘Aam:32)</p>
	<p>Tiba-tiba dadanya menjadi berat, hatinya berkecamuk antara pengakuan diri dengan kesombongannya sebagai Raja, ia masih tidak rela menerima bahwa gadis biasa yang lebih muda itu benar perkataannya. Akhirnya Raja menenggelamkan diri pada badai dihatinya yang tiba-tiba berkecamuk.</p>
	<p><strong>Selendang Kebesaran Raja</strong></p>
	<p>Makan malampun tiba, semua tamu undangan dan petinggi negara telah hadir dan duduk dimejanya masing-masing. Mereka serentak berdiri menghormati kehadiran Raja, Permaisuri dan Putri Aelia. Setelah ketiga orang utama tersebut duduk, yang lainnyapun kembali duduk. Raja menyapu ruangan dengan seksama, dia terhenyak ketika mendapati sebuah kursi masih kosong.<br />
“Siapakah yang belum hadir disini?” Tanya Raja lantang. Para tamu dan petinggi kerajaan saling berbisik dan melihat ke kanan kiri mereka. Lalu Putri Aleia berbisik pada Raja,<br />
“Zanimra yang belum hadir.” Raja sangat gusar dibuatnya.<br />
“Pelayan, cepat cari gadis itu dan bawa dia kemari!” Titah Raja kemudian, dia merasa terhina dengan kejadian itu.<br />
Tak lama kemudian Zanimra muncul dengan langkah yang cepat. Serta merta seluruh pandangan tertuju tajam padanya. Zanimra berhenti disebelah kursinya, lalu dengan sangat tenang dia berkata,<br />
“Beribu maaf atas keterlambatan saya Baginda.”<br />
“Apa alasan dari keterlambatanmu ini Zanimra?”<br />
	“Sekali lagi saya minta maaf, sewaktu saya sedang bersiap untuk hadir disini, saya mendengar adzan tanda waktu shalat tiba, maka dari itu saya shalat terlebih dahulu.”<br />
“Tidak tahukah bahwa dirimu telah menghinaku, dengan menghinaku kau juga menghina seluruh kerajaan ini?”<br />
“Sungguh bukan maksud saya berbuat demikian.”<br />
“Zanimra, bukankah kau tahu bahwa shalat terakhir (Isha) sangat panjang waktunya? Mengapa tidak kau tangguhkan dulu, tidakkah kau menghormati undanganku ini?”<br />
“Demi Allah, bukan maksud saya menghina Paduka, tapi…”<br />
“Zanimra? Ketahuialah, terlambat dari undangan makan seorang Raja berarti telah mengina Raja dan seluruh rakyatnya!”<br />
“Astaghfirullah, sekali lagi saya minta maaf dan Demi Allah saya tidak bermaksud menghina siapapun. Jika Baginda masih murka juga, maafkan jika saya bertanya, Masya Allah, apakah Baginda menganggap diri Baginda lebih tinggi dari pada Allah?”<br />
Serta merta seluruh ruangan riuh rendah mendengar pertanyaan Zanimra yang sangat berani. Tak urung Raja membelalakkan matanya, begitupun Putri Aleia dan Permaisuri.<br />
“Zanimra! Apa maksud dari perkataanmu itu?!!” Tanya Raja dengan nada meninggi. Zanimra memandang tepat kearah Raja lalu berkata dengan merendahkan suaranya tanpa rasa takut.<br />
“Maaf Baginda, saya mendengar dua panggilan secara bersamaan, yang satu datang dari seorang pemimpin yang saya hormati, dan yang satu lagi datang dari Tuhan yang saya takuti. Jika saya memilih untuk memenuhi panggilan dari Baginda, maka sama saja saya meletakkan keberadaan Baginda diatas Allah.”<br />
“Astagfirullah!!!” Teriak Raja kemudian. Tubuhnya menggigil karena rasa terkejut yang hebat. Serta merta keadaan menjadi riuh rendah, para petinggi kerajaan sangat terkejut dengan keberanian tamu undangan Raja tersebut.<br />
“Berani sekali kau terhadap Raja!” Teriak beberapa orang petinggi kemudian dengan geram. Suasanapun menjadi riuh rendah dengan ucapan keheranan.<br />
Ditengah suasana yang kritis itu masuklah Abdullah bersamaan dengan Ali. Mereka tertegun melihat keadaan ruangan yang sedemikian rupa, terlebih lagi ketika melihat sosok Zanimra yang masih berdiri dan Raja yang juga berdiri dengan tatapan tajam kearah Zanimra.<br />
“Kau benar-benar tidak menghormati Raja! Bersyukurlah jika Raja tidak menghukummu!” Teriak seorang petinggi lagi. Abdullah dan Ali yang mendengar teriakan itu menjadi panik.<br />
“Diamlah kalian!” Teriak Raja kemudian menggelegar keseluruh ruangan, serta merta seluruh ruangan menjadi sunyi. Raja menatap Zanimra dalam-dalam, tak ada rasa takut atau gusar sedikitpun terpancar dimata Zanimra.<br />
“Baiklah Zanimra.” Lanjut Raja kemudian,<br />
“Sekarang apa usulmu? Apakah sebaiknya sekarang sebaiknya kami semua meninggalkan meja makan ini dan shalat terlebih dahulu?”<br />
“Tidak, Baginda.” Keadaan menjadi riuh rendah kembali mendengar jawaban ‘tidak’ dari Zanimra.<br />
“Bukankah kita harus mendahulukan shalat diatas apapun?”<br />
“Sungguh Baginda, Allah adalah Tuhan yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, Allah juga Maha Bijaksana.<br />
 “Diriwayatkan daripada Ibnu Umar r.a katanya: Rasulullah s.a.w bersabda: Apabila makanan dihidangkan kepada kamu sedangkan sembahyang hendak didirikan, maka hendaklah kamu makan terlebih dahulu. Janganlah kamu terburu-buru hinggalah kamu selesai makan.” (Sahih Bukhari-Muslim)<br />
Saya melaksanakan shalat terlebih dahulu karena saya jauh dari meja ini sehingga saya belum melihat hidangan ini tersaji. Sedangkan Baginda dan yang lain telah berada disini, maka sebaiknyalah Baginda makan terlebih dahulu.”<br />
“Mengapa demikian? Apa alasannya?”<br />
“KarenaAllah ingin hambanya menghadap dengan sepenuh hati tanpa memikirkan makanan yang telah terhidang dimeja atau merasakan perut yang terus menggoda.”<br />
“Siapakah diantara kalian yang tahu akan hadis dan ketentuan ini?&#8221; tanya Baginda kemudian kepada semua yang hadir. Dari 70 orang yang ada hanya sembilan belas orang yang mengangkat tangannya termasuk Ali dan Abdullah. Pada saat itu kehadiran Abdullah dan Ali baru sisadari. Mata Putri Aelia langsung tertumbuk pada Ali, hatinya kecut ketika dilihatnya Ali tengah memandang Zanimra sambil tersenyum.<br />
Raja masih tetap berdiri mematung, tiba-tiba air mata meleleh membasahi pipinya. Pemandangan itu sangat mengejutkan seluruh penghuni ruangan. Dia menyadari betapa dia telah membiarkan diri dan rakyatnya begitu jauh dari Islam, dari 70 orang petinggi yang hadir, tidak ada setengahnya yang mengetahui akan kesalahan mereka, dan meskipun mereka tahu, mereka tetap melanggarnya karena lebih takut kepada dirinya daripada kepada Allah.<br />
“Hai Zanimra, sungguh apa yang kau katakan sore tadi dan malam ini adalah benar adanya. Demi Allah aku bertobat!” Katanya kemudian dengan gemetar.<br />
“Makanlah kalian semua, setelah itu adakan shalat Isha berjama’ah.”<br />
Akhirnya makan malam berlangsung dengan sangat sunyi karena Raja nampak tenggelam dalam pikirannya sendiri. Wajahnya terus tertunduk lesu.<br />
Setelah shalat Raja mengumpulkan semua orang di Balai Kerajaan lalu memperkenalkan Zanimra sebagai tamu undangannya.<br />
“Wahai orang-orang kepercayaanku, sesungguhnya Zanimra ini adalah cahaya matahari yang singgah dikerajaan ini untuk membagikan cahayanya. Hormatilah dia sebagai tamu istimewa dan kasihilah dia sebagai salah satu anggota keluarga besar kerajaan ini.” Lalu baginda menyampirkan selendang kebesarannya pada Zanimra sebagai tanda penghormatan dan pengakuan Raja. Selendang kebesaran Raja adalah pengakuan kerajaan bagi Zanimra sebagai salah seorang anggota keluarga kerajaan. Melihat hal itu Abdullah dan Ali saling memandang, keduanya mengucap syukur dan pujian kepada Allah tak henti-henti. Dengan demikian Raja telah mengakui keberadaan Zanimra dan merestui hubungannya dengan Ali.<br />
Dilain pihak Putri Aelia menggigil hebat menahan gejolak yang berkecamuk di dalam jiwanya. Raja menyadari hal itu, lalu dengan perlahan dia mengisyaratkan Permaisurinya untuk membawa Putri Aleia keruangan lain.<br />
“Zanimra, selamat bergabung sebagai salah satu anggota keluarga kerajaan, kedudukanmu di kerjaan ini adalah setaraf dengan bangsawan tertinggi.”<br />
“Alhamdulillah, subhanallah…segala puji bagi Allah. Terima kasih yang tak terhingga kuucapkan kepadamu Baginda.”<br />
“Ali, Abdullah dan Zanimra. Ikutlah denganku.” Lalu Raja meninggalkan singgasananya menuju ruangan tempat Putri Aelia dan Permaisurinya berada.<br />
Disana Putri Aelia tengah menyembunyikan wajahnya dipelukan Permaisuri. Menyadari kedatangan Raja dia melepaskan diri dari pelukan Permaisuri dan berdiri dengan tegar, tampak sekali dari wajahnya, Putri Aelia berusaha sekuat tenaga membendung air matanya. Harga diri sebagai seorang Putri masih dia pertahankan hingga saat-saat terakhir. Tapi Raja sangat mengenal adiknya. Ia mendekati adiknya lalu membelai kepalanya dengan lembut.</p>
	<p>“Adikku Aelia. Maafkan Aku.” Bisik Raja kemudian.<br />
“Percayakah kau bahwa Aku akan menyakitimu?” tanyanya lagi pada adiknya yang dijawab gelengan lemah oleh Putri Aelia.<br />
“Apakah menurutmu keputusanku ini keji dan tidak adil bagimu?” Lagi-lagi Putri Aelia menggeleng.<br />
“Relakah kau menerima keputusanku?” Kali ini Putri mengangguk<br />
“Aku tahu dari tatapan matamu bahwa sejak kedatanganmu bersama dengan Zanimra, kau telah mengakui kekalahanmu. Hanya saja kau tak mau menerimanya. Saat ini akupun tak berdaya untuk menolak kenyataan bahwa Zanimra dengan telak telah melumpuhkan aku didepan rakyatku sendiri. Aku harus mengakui bahwa Ali memiliki alasan yang kuat dan Zanimra telah membuktikan dirinya.”<br />
“Sudahlah Kak, aku mengerti.” Kata Putri dengan lemah, lalu dia memandang nanar kearah Ali dan Zanimra.<br />
“Kuucapkan selamat bagi kalian berdua. Maafkan aku yang selama ini menyusahkan kalian.” Kata putri dengan nada datar dan pandangan yang dingin. Dengan langkah pasti dia berbalik. Ali menundukkan kepalanya, Zanimra lalu membisikan sesuatu pada Ali.<br />
“Ada sesuatu yang ingin kau katakan Zanimra?” Tanya Baginda ketika melihatnya.<br />
“Maaf, Baginda. Jangan berburuk sangka dahulu. Jika diijinkan, saya ingin menyusul Putri Aelia untuk berbicara padanya.”<br />
“Apakah kau pikir itu bijak? Sedangkan karenamulah dia hancur. “Apa yang akan kau lakukan? Apakah kau akan membuat adikku itu lebih hancur?”<br />
“Tidak Baginda.”<br />
“Lalu? Kau akan merelakan Ali padanya?”<br />
“Tidak juga.”<br />
“Mengapa? Karena kau takut kau yang akan hancur?”<br />
“Bukan karena itu Baginda.”<br />
“Jelaskan padaku.”<br />
“Karena bukan saya ataupun Ali yang membuat Putri hancur, tapi rasa cintanya itulah yang membuat dia demikian. Meskipun Putri mendapatkan Ali, rasa cintanya tetap akan membakarnya dalam derita.”<br />
“Apa dalihmu tentang itu?”<br />
“Pernahkan Baginda mendengar pepatah atau syair-syair masyur tentang cinta?”<br />
“Katakan padaku.”<br />
“Cinta, tawanya sehari tangisnya seribu tahun.”<br />
“Banyak manusia setuju bahwa cinta itu memang begitu adanya, Cinta butuh pengorbanan dan penuh penderitaan. Dan masih banyak pepatah lain yang melukiskan kepedihan cinta.”<br />
“Ya, aku mengerti. Lalu?”<br />
“Sesungguhnya anggapan kebanyakan manusia itulah yang telah menyesatkan arti dari cinta hakiki yang sesungguhnya. Cinta menjadi bumerang karena manusia sangat salah menilai tentang cinta. Cinta bagi kebanyakan manusia bukan lagi sekedar perasaan hati, tapi sudah menjadi tuhan yang menguasai tubuh dan jiwa, hidup dan mati mereka. Kecelakaan apakah yang lebih besar daripada menuhankan yang lain selain Allah?”<br />
Raja untuk kesekian kalinya dibuat diam oleh Zanimra.<br />
 “Ijinkanlah Zanimra berbicara dengan Putri Aelia, Baginda.” Pinta Ali dan Abdullah hampir berbarengan. Akhirnya Rajapun menganggukan kepalanya dan Zanimrapun melangkah pergi<br />
“Zanimra…” Panggilan raja yang tiba-tiba menghentikan langkah Zanimra.<br />
”Terima Kasih.” Lanjut Raja. Zanimra menganggukan kepala lalu bergegas pergi.<br />
Sebaiknya kita kembali ke Balai Kerajaan, tamu yang lain masih menunggu.” Ujar Raja sambil melangkah. Ali dan Abdullah mengikuti dibelakangnya.</p>
	<p><strong>Cinta Yang Hakiki</strong></p>
	<p>Dari salah seorang dayang Zanimra mengetahui bahwa Putri pergi ke danau dibelakang istana. Sesampai disana Zanimra menemukan Putri Aelia sedang duduk dengan menenggelamkan wajahnya dalam-dalam disela lututnya. Cahaya lentera membias redup disepanjang tepian danau, kunang-kunang terbang berkeliling dengan indahnya. Tapi keindahan itu tak dapat mengalahkan kecantikan putri yang tengah kalut hatinya.<br />
“Assalammualaikum.” Salam Zanimra dengan hati-hati. Putri Aelia tersentak dan melihat kearah Zanimra dengan sangat tajam. Tampak pipinya yang putih mulus basah degan air mata.<br />
“Apa tujuanmu kemari? Ingin melihatku menangis? Atau ingin mengejek kekalahanku?” Tanyanya ketus.<br />
“Apakah seburuk itu tabiat saya dimata Putri?”<br />
“Tidak perlu bersopan santun saat ini, aku sungguh muak.”<br />
“Baiklah, maafkan aku.” Putri tidak menjawab, dia hanya membuang muka.<br />
“Putri, aku tahu kau marah dan benci padaku. Maka dari itu aku datang kemari untuk kau caci dan kau maki agar lega hatimu.”<br />
“Apa kau juga ingin aku membunuhmu?” sahut Putri Aelia semakin ketus.<br />
“Apa kau ingin melakukannya?”<br />
“Tidak, Aku lebih ingin membunuh diriku sendiri.”<br />
“Astaghfirullah…” bisik Zanimra pelan mendengar keputus asa-an Putri.<br />
“Putri, pukulah aku jika itu bisa meringankan bebanmu.”<br />
“Zanimra! Mengapa kau seperti ini? Dari pertama kali aku bertemu denganmu sebenarnya aku telah menyadari aku telah kalah, semakin hari aku bersamamupun aku semakin tahu dirimu dan apa yang kuketahui malah membuatku kagum padamu!<br />
Ya! Aku membencimu karena kau sungguh beruntung! Aku membencimu karena kau lebih dari aku!”<br />
“Putri…aku mengerti akan perasaanmu…” Tiba-tiba Putri Aelia memotong perkataan Zanimra dengan nada yang amat tinggi.<br />
“Jangan kau mengatakan padaku bahwa kau mengerti akan perasaanku! Tahu apa dirimu tentang hancurnya hatiku?”<br />
“Sesungguhnya aku tidak selalu seperti sekarang ini. Hanya karena Kasih Allah-lah aku bisa kembali untuk menyembah Allah. Lembaran kehidupanku memiliki coretan-coretan hitamnya sendiri. Kehilangan demi kehilangan aku rasakan beberapa kali. Kehancuran dan kegelapan kuhadapi dengan amarah dan kebencian. Jadi, aku memang tahu akan apa yang kau rasakan karena aku pernah sepertimu sekarang ini.”<br />
“Aku memang tak seberuntung dirimu! Bahagiakah kau sekarang karena membuatku begitu iri padamu?”<br />
“Sesungguhnya Putri tidak perlu iri, tidakkah putri menyadari bahwa yang ada padaku sebenarnya dapat diraih oleh semua orang, sedangkan kelebihan yang ada pada dirimu hanya dirimulah yang dapat meraihnya?”<br />
“Apa maksudmu?”<br />
“Apa yang kumiliki dapat juga kau miliki, tapi kelebihan yang kau miliki tak akan pernah dapat aku raih selama hidupku didunia ini. Sesungguhnya kau tak perlu mengeluh karena Allah Maha Adil.”<br />
	“Benarkah Allah Maha Adil? Dimanakah keadilan yang kau lihat itu?”<br />
	“Putri, kau bisa menjadi aku yang sekarang ini. Merubah jalan pikiran, merubah tingkah laku dapat dilakukan semua orang jika mereka benar-benar berusaha. Tapi, apakah orang bisa merubah dirinya menjadi secantik dirimu?”<br />
	“Jika kecantikan yang kumiliki ini dapat kugadaikan demi mendapatkan Ali, maka aku akan senang melepaskannya!”<br />
	“Jikapun kau menggadaikan kecantikanmu dan mendapatkan Ali, kau tetap tak akan menemukan kebahagiaan yang sesungguhnya.”<br />
	“Bagaimana tidak? Jika hidupku adalah Ali?”<br />
	“Karena Ali yang akan kau dapatkan bukanlah Ali yang sekarang ini kau kenal.”<br />
	“Dengan kata lain kau berkata bahwa Ali tak akan pernah mencintaiku walaupun telah kugadai kecantikanku?”<br />
	“Putri, walaupun wajah dan tubuhku dapat menghibur hati Ali, tapi bukanlan wajah atau tubuhku yang membuat Ali mencintaiku.”<br />
“Sungguh lidahmu licin seperti Ali, tutur katamupun tak ubahnya seperti tutur katanya. Berbaik hatilah padaku Zanimra, katakan kepadaku apa yang membuat Ali mencintaimu?”<br />
“Yang membuat Ali mencintaiku adalah karena caraku mencintainya.”<br />
“Bagaimana caramu mencintainya hai Zanimra?”<br />
“Aku mencintainya karena Ali mencintai Allah.”<br />
“Allah….Allah…selalu itu yang terucap dibibirmu dan Ali, sebegitu besarkah cinta kalian pada-Nya, bagaimana jika Allah memisahkan kalian berdua, apakah kau masih mencintai Allah?”<br />
“Ya,”<br />
“Mengapa?”<br />
“Karena kami percaya apapun keputusan Allah adalah yang terbaik bagi hambanya.”<br />
“Mengapa kau sepasrah itu?”<br />
“Karena  Allah Maha Pengasih, Maha Penyayang, Maha Adil dan Bijaksana.”<br />
“Zanimra, jika kau mencintai Ali, tidakkah kau akan merasa sakit jika Allah mengambil Ali darimu?”<br />
“Tentu.”<br />
“Lalu kau masih berpikir Allah mencintaimu?”<br />
“Ya.”<br />
“Mengapa? Bukankah Allah telah membuat hatimu sakit?”<br />
“Karena aku masih memiliki cinta kepada Allah. Dengan mengingat Allah maka jiwaku merasa tenang.”<br />
“Sungguh kau dusta! Kau tak mengerti cinta! Kau tak mencintai Ali sebesar aku mencintainya! Dan mengapa Ali masih memilihmu?!” Teriak Putri Aelia dengan geram.<br />
Zanimra tertegun sedih karena merasa kasihan pada Putri Aelia yang sedemikian marahnya sehingga buta akan kebenaran. Dengan lembut Zanimra menjawab.<br />
“Tidakkah kau bisa mengambil kesimpulan wahai Putri yang cerdas, cinta yang terjalin diantara kami dikarenakan kecintaan kami kepada Allah. Cinta kami kepada Allah diatas cinta kami kepada apapun atau siapapun, bahkan diatas cinta kami berdua.” Zanimra menarik nafas lalu melanjutkan,<br />
“Cinta dunia bukanlah yang kami kejar, kami merasa cukup dan tenang dengan keduniaan yang kami dapatkan, karena Allah telah menetapkan takarannya sedari mula kita diciptakan. Akan tetapi kami tak akan pernah merasa cukup dengan rasa rindu dan cinta kami kepada Allah dan hari kemudian. Kami berdua memiliki tujuan yang sama dalam hidup, untuk bersama berjuang dijalan Allah dan menjadi hambaNya.”<br />
“Apapun yang aku lakukan didunia ini hanya karena Allah, aku mencintai Alipun juga karena Allah. Jika Allah mengambil Ali, maka aku percaya itu yang terbaik bagi diriku. Aku mencintai Allah bukan karena Ali, tapi aku mencintai Ali karena Allah.”<br />
“Sungguh jika benar demikian, cintamu pada Ali palsu! Dan ketetapan Allah itu kejam dan keji!”<br />
“Astaghfirullah………” Mata Zanimra berkaca mendengar kalimat Putri. Kesedihannya bertambah melihat syaitan semakin menguasai hati rapuh Putri Aelia.<br />
“Sungguh Putri, Allah itu Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.”<br />
“Jika memang demikian. Mengapa Allah memberikan aku begitu banyak derita padahal aku selalu berbuat baik pada sesama.”<br />
“Karena cinta yang kau kenal adalah salah.”<br />
“Apa maksudmu?”<br />
“Putriku yang bijak, kekalkah diri kita ini?”<br />
“Tidak.”<br />
“Kekallah kecantikanmu hingga akhir jaman?”<br />
“Tidak.”<br />
“Kekalkah Ali?”<br />
“Tidak.”<br />
“Tidakkah kau mengerti juga? Apapun yang kita dapati didunia ini tidaklah kekal dan memiliki akhir. Hanya Allah yang Maha Pengasihlah yang Kekal, maka dari itu Allah Maha Mengetahui dan Mengerti akan ciptaan-Nya. Masihkah kau tak mengerti?”<br />
“Zanimra, jangan cemooh kecerdasanku. Aku telah merasakan bagaimana sakitnya kehilangan orang yang amat aku cintai berulang kali, ayahku, bundaku, dan kini Ali. Mengapa Allah mempertemukan aku dengan Ali jika aku tak bisa memilikinya. Tidak perdulika Allah jika hal itu akan menghancurkan jiwaku? Bagaimana aku bisa percaya Tuhan itu Maha Pengasih dan Maha Mengerti akan ciptaan-Nya jika kepedihan hatiku ini tak tertahankan dan terjadi berulang-ulang?”<br />
“Sesungguhnya Engkau telah menjawab pertanyaanmu sendiri duhai Putri yang Cantik.” Putri Aelia terhenyak lalu menatap Zanimra dengan tajam.<br />
“Apa maksudmu?”<br />
“Putri, Kau merasakan pilu dan sakit yang sangat dalam karena kehilangan mereka yang kau cintai, sekarang aku bertanya padamu.” Zanimra merapatkan dirinya lalu memegang lembut wajah Putri Aelia dan berkata lirih penuh kesungguhan.</p>
	<p>“Apakah Engkau akan merasakan sakit jika yang kau cintai itu KEKAL?”<br />
“Tidak.”<br />
“Adakah makhluk atau benda dibumi ini yang kekal?”<br />
“Tidak&#8230;” Putri Aelia terperangah dengan jawabannya sendiri, kemarahan diwajahnya tiba-tiba pecah dan luruh. Mata yang semula penuh kebencian dan kekecewaan kini berkaca-kaca. Pertanyaan Zanimra seperti tamparan yang membuatnya tersadar dari mimpi buruk yang  panjang.<br />
“Dan siapakah yang kekal dan tak akan meninggalkanmu?”<br />
Bibir Putri bergetar tak mampu menjawab pertanyaan Zanimra, dengan lembut Zanimra berbisik,<br />
“Laa illaa haillallaah.” Lalu ia melanjutkan,<br />
“Apakah kejam dan keji jika Allah memintamu untuk mencintai Dirinya Yang Maha KEKAL?”<br />
“T…i…dak…” Jawab Putri Aelia semakin melambat, airmatanya yang menggenang dipipinya bergulir membasahi pipinya yang putih dengan derasnya. Zanimra semakin melembutkan suaranya melanjutkan pertanyaannya.<br />
“Mengapa wahai Putri yang bijak?”<br />
Tangis Putri pecah hingga tubuhnya bergetar hebat,<br />
“Duhai Zanimra, karena Allah ingin Menjagaku dari rasa sakit yang amat sangat seperti yang telah dan tengah kurasakan ini.” Jawab Putri Aelia dengan terbata disela isak tangisnya.<br />
“Alhamdulillah….subhanallah…tiada daya dan upaya tanpa pertolongan Allah.<br />
Q.S. Al Baqarah : 165. Dan diantara manusia itu ada yang mempertuhankan sesuatu yang lain daripada Allah sebagai tuhan-tandingan; dicintainya seperti mencintai Allah. Orang yang beriman hanya mencintai Allah semata…”<br />
Zanimra bertasbih penuh rasa syukur akan kebersaran Allah tuhan semesta alam.<br />
 “Duhai Zanimra, aku telah hidup dalam kesesatan yang nyata dengan mata buta dan telinga yang tuli.” Tangisnya semakin menjadi, Putri Aelia menjatuhkan dirinya pada pelukan Zanimra.<br />
“Sungguh Cinta Hakiki hanyalah pada Allah semata. Kasihilah manusia karena Allah, maka hidupmu akan tenang.”<br />
Setelah tangisnya sedikit reda, Putri Aelia berkata lirih,<br />
“Sungguh sekarang aku mengerti mengapa Ali mencintaimu, karena Ali percaya kau akan menjaga cintanya kepada Allah.”<br />
“Dan begitupun sebaliknya Putri, aku mencintai Ali karena dia akan menjadi pemimpin yang baik bagiku untuk menuju cinta Allah.”<br />
“Zanimra…bernjanjilah padaku satu hal.”<br />
“Jika aku bisa. Insyaallah”<br />
“Ajari aku bagaimana mencintai Allah dan panggilah aku adik karena begitu ingin aku mengikat tali persaudaraan denganmu.”<br />
“Insyaallah, aku sendiripun sedang belajar unutk mencintai Allah, duhai Putri,”<br />
“Katakan padaku, apa yang pertama kali harus kulakukan untuk menunjukan rasa cintaku kepada Allah.” Zanimra tersenyum penuh haru, ditariknya selendang yang tersampir dibahu putri. Dengan halus Zanimra menutup rambut dan pundak putri hingga nampak wajahnya yang putri saja dari balik selandang itu.<br />
“Kepatuhan akan Perintah-Nya adalah tanda cinta kita pada Allah.”<br />
“Sungguh ajaib cinta kepada Allah wahai Zanimra, seluruh badai dalam jiwaku luruh berganti dengan ketenangan dan kebahagiaan yang nyata dalam sekejap. Sekarang aku mengerti mengapa kau selalu terlihat tenang.” Putri Aelia menggengam erat tangan Zanimra lalu menariknya setengah berlari menuju balai kerajaan.<br />
Setibanya disana, berpuluh mata tertuju pada dua sosok wanita itu. Seluruh penghuni ruangan amat terkejut melihat penampilan baru Putri Aelia dengan kerudungnya. Kulitnya tubuh yang putih bersinar kini penuh tertutup, rambutnya yang panjang dan hitam legampun tersembunyi dibalik kerudung putihnya. Sedangkan disudut lain, Abdullah dan Ali tersenyum penuh haru. Sedangkan Raja tertegun keheranan seperti yang lain, melihat perubahan Putri Aelia yang begitu cepat.<br />
Dengan tenang dan anggunnya Putri Aelia melangkah mendekati singgasana Raja.<br />
“Wahai Aelia adikku, sungguh sekarang kau mengejutkan aku. Apa yang terjadi padamu?”<br />
“Duhai kakakku Raja dari negri ini, aku mendapat cahaya matahari ditengah malamku yang gelap dan penuh badai.”<br />
“Dan bagaimanakah keadaanmu saat ini?”<br />
“Terang dan damai dengan sirnanya kegalapan dari jiwaku.”<br />
“Sungguh, cahaya matahari yang bagaimanakah yang kau telah dapatkan?”<br />
“Cahaya Cinta yang Hakiki.”<br />
“Cinta Hakiki?” Tanya Raja penasaran,<br />
“Cinta yang sama yang dimiliki Zanimra.”<br />
“Maksudmu Ali?” Raja tampak agak terkejut,<br />
“Bukan.” Jawab Putri Aelia mantap,<br />
“Bukankah cinta yang dimiliki Zanimra adalah Ali?”<br />
“Benar duhai Kakakku Raja dari negri ini, tapi yang kudapati adalah cinta diatas cinta Zanimra pada Ali.”<br />
“Dan siapakah itu?” Raja tertegun.<br />
“Cinta kepada Allah.” Jawab putri dengan rasa haru, Raja tersenyum bahagia dan bertasbih penuh syukur.<br />
“Terima kasih kuucapkan padamu Zanimra, sungguh akupun merasa malu padamu dan Ali. Kecintaan kalian pada Allah menyadarkan aku betapa selama ini aku memimpin negriku dengan kecintaan pada dunia semata. Jikalah Allah bukan Tuhan Yang Maha Pengasih, tak akan didatangkan Ali dan dirimu untuk membuka mataku.”<br />
“Kerajaan ini adalah kerajaan Islam, tapi penduduknya kebanyakan melupakan Tuhannya. Sungguh celaka diriku dihari akhir nanti jika aku masih memimpin kerajaanku seperti sekarang ini. Allah akan menghukumku dengan sangat pedih karena kesombonganku dan kelalaianku sebagai seorang pemimpin.”<br />
Raja kemudian memanggil Ali.<br />
“Ali abdul Jabbar bin Abdullah, menghadaplah kepadaku.”<br />
Alipun keluar dari sela-sela kerumunan petinggi kerajaan.<br />
“Apakah Kau dengar dengan jelas apa yang kukatakan barusan Ali?”<br />
“Ya! Baginda, dan saya berterima kasih atas pujian Baginda, Alhamdulillah.”<br />
“Apakah kau setuju dengan yang kukatakan?”<br />
“Ya, saya setuju Baginda.”<br />
“Kalau begitu, bersediakah kau membantuku menata kembali kerajaan ini di jalan Allah?”<br />
“Insyaallah, sebagai seorang muslim saya berkewajiban kepada tanah air, saya bersedia.”<br />
“Baiklah, sebagai pemimpin kerajaan ini kuperintahkan dirimu tinggal di istana sebagai Penasihat Utamaku.” Lalu raja mengalihkan pandangannya pada Zanimra,<br />
“Zanimra.”<br />
“Saya Baginda.”<br />
“Sungguh kau adalah satu-satunya wanita yang berani menentangku di atas meja makanku sendiri. Kukagumi keberanianmu dan kukagumi kecerdasanmu. Entah apa yang kau lakukan sehingga dalam sekejap adikku tak mau melepaskan tangannya darimu. Begitu cepat kau rubah kebencian dengan kecintaan.”<br />
“Segala Puji hanya bagi Allah. Sungguh Allah-lah yang Maha Kuasa dalam menentukan perubahan, saya hanyalah seorang hamba yang hina dari-Nya. Atas Kasih dan Kuasa Allah sajalah Putri menemukan kebahagiaan pada cintanya yang hakiki.”<br />
“Sungguh kau telah mengajarkan aku apa itu kesombongan Zanimra! Dan aku sungguh hamba yang celaka karena kesombonganku kepada Allah. Kupikir selama ini aku Raja yang bijak, tapi ternyata pujian rakyat dan kerajaan tetanggaku membuat aku lupa bahwa aku ini hanyalah seorang hamba yang hina dari Tuhan-Nya.” Mata Raja berkaca-kaca, dengan lembutnya terdengar suara Ali melantunkan ayat-ayat dari Al-Qur’an, Al Hadid : 20-23;</p>
	<p>20. “Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-bangga tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu. </p>
	<p>21. Berlomba-lombalah kamu kepada (mendapatkan) ampunan dari Tuhanmu dan surga yang luasnya seluas langit dan bumi, yang disediakan bagi orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-rasul-Nya. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah mempunyai karunia yang besar.</p>
	<p>22. Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauh Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.</p>
	<p>23. (Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu (sukses yang telah kamu capai). Dan<br />
Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri,”</p>
	<p>“Astagfirullah……” tiba-tiba Raja tersungkur dan bersujud dilantai sambil menangis. Serentak seluruh penghuni ruangan hingar bingar penuh keterkejutan. Ali, Abdullah dan Zanimra ikut bersujud diikuti oleh Putri Aelia yang kembali menangis. Satu demi satu bangsawan yang hadir menundukan dirinya. Rasa hormat dan rakyat pada Raja sangatlah besar karena kebaikan budinya dan kebijaksanaannya selama ini, mereka merasa takjub melihat junjungannya tersungkur mencium tanah dengan tubuh gemetar ketakutan. Perasaan Raja terbias menembus nurani pengikutnya, satu demi satu merekapun turut menjatuhkan diri kelantai dan bersujud.<br />
Pada hari itu, nama Allah diagungkan dan pada hari itulah kerajaan Andimarsedonia diberkahi. Raja merayakan pernikahan Ali sebagai hadiah bagi Ali dan Zanimra. Zanimra diangkat sebagai Penasihat umum kaum wanita kerajaan. Semenjak hari itu kerajaan Andimarsedonia menjalankan roda pemerintahan dibawah panji bendera Islam secara menyeluruh. Pembimbingan akhlak diutamakan bagi seluruh lapisan masyarakat.<br />
Sungguh Cinta yang Hakiki dan kekal kebahagiaannya hanyalah cinta kepada Allah semata. Allahuakbar.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://multazimah.blogsome.com/2007/12/31/sebuah-kisah-cinta-sejati/feed/</wfw:commentRss>
	</item>
		<item>
		<title>Satu tahun sudah &#8230;&#8230;</title>
		<link>http://multazimah.blogsome.com/2007/12/06/qurban-2/</link>
		<comments>http://multazimah.blogsome.com/2007/12/06/qurban-2/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 06 Dec 2007 05:53:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>multazimah</dc:creator>
		
	<category>Renungan</category>
		<guid>http://multazimah.blogsome.com/2007/12/06/qurban-2/</guid>
		<description><![CDATA[	Assalamu&#8217;alaikum
	Pa kabar semua? Moga kita semua dalam keadaan sehat wal afiyat dalam lindunganNya, amiiin&#8230;. Alhamdulillah bisa kembali bersua dengan para pembaca yang baik hati dan tidak sombong. Sebelumnya maaf ya, kalo tulisan2 yang ada di blog ini kurang berkenan di hati Anda semua. Mungkin ada tulisan yg menyinggung, menggurui, meremehkan atau apalah&#8230;.. Please, maapin ya! [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[	<p>Assalamu&#8217;alaikum</p>
	<p>Pa kabar semua? Moga kita semua dalam keadaan sehat wal afiyat dalam lindunganNya, amiiin&#8230;. Alhamdulillah bisa kembali bersua dengan para pembaca yang baik hati dan tidak sombong. Sebelumnya maaf ya, kalo tulisan2 yang ada di blog ini kurang berkenan di hati Anda semua. Mungkin ada tulisan yg menyinggung, menggurui, meremehkan atau apalah&#8230;.. Please, maapin ya! Yach, sepandai-pandai tupai melompat sekali waktu jatuh juga. Apalagi diriku ini yg pandai nggak, pinter juga nggak, hehehehe&#8230;&#8230; Pasti dech banyak tulisan yg salah, apalagi nulisnya sambil &#8216;merenung&#8217;.<a id="more-87"></a></p>
	<p>Denger kata &#8220;merenung&#8221; baru sadar ternyata saya sudah 1 tahun meninggalkan bangku kuliah. Berarti juga sudah 1 tahun saya bekerja di sebuah perusahaan sebagai seorang engineer (tepatnya tanggal 7 Desember 2007). Tapi kenapa ya kok rasanya hati ini masih pingin sekali kuliah. Ingat temen2 yang baik hati. Inget masa-masa &#8220;prihatin&#8221; dulu. Inget pengalaman-pengalaman yang menarik maupun yang menjengkelkan&#8230; Inget suka duka berdakwah dimasyarakat. Bagaimana dulu saya menjadi Ustazd TPA, menjadi santri di pondok pesantren, menjadi pengajar Al-Quran Ibu-ibu dan Bapak-bapak di masyarakat, menjadi pengurus masjid, menjadi pengurus SKI dll. Hampir sebagian besar waktu saya habiskan bersama ummat, memburu ilmu dan memperdalam ilmu-ilmu teknik tentunya (coz. kuliahku kan di fakultas teknik). Tapi gak juga sich, kalao sedang futur biasanya banyak waktu yang tersia-siakan. Ya&#8230;.. itulah diriku, moga DIA mengampuni </p>
	<p>Yach&#8230;. sekarang saya harus berjuang sendiri ditempat yang baru. Tidak banyak waktu yang bisa kusediakan untuk dakwah. Dari jam 7 pagi sampai jam 5 sore saya harus &#8220;standby&#8221; di kantor. Tapi kupikir itulah realita yang harus saya hadapi.  Meskipun gak banyak waktu yang penting bisa dakwah. Ternyata kantor pun merupakan lahan dakwah yang subur, meski terkadang amat sangat sulit, amat berat dan amat memeras otak. Bagaiman tidak, gaya hidup materialisme begitu kental. Pola pikir non-Islami mendominasi, pola pergaulan ala barat sudah mengakar kuat, penyakit &#8220;wahn&#8221; (terlalu cinta dunia dan takut mati-red) sudah menjadi wabah tanpa disadari, ditambah lagi aqidah yang masih setengah-setengah. Na&#8217;udzubillah. Kadang saya sangat takut tidak bisa berdakwah, takut tidak bisa mewarnai, takut terbawa arus yang begitu deras. Astaqhfirullah&#8230;.. Yaa Allah berilah hamba kesabaran dalam ketaatan dan kesabaran dalam meninggalkan maksiyat.  </p>
	<p>Selama setahun, ternyata banyak permasalahan yang saya hadapi. Banyak cobaan yang harus saya atasi, tetapi terkadang diri ini kalah. Dan yang paling menyita pikiran adalah permasalahan klasik yang pasti dihadapi oleh seorang pemuda. Yach apalagi kalu bukan soal &#8220;penyempurnaan separoh diin&#8221;. Sampai-sampai hati ini terkena virus itu. Kuakui ada &#8220;sosok&#8221; yang sulit kulupakan, yang selalu membayang di hatiku. Namanya sempat singgah di hatiku. Wajahnya selalu mampir dalam lamunan dan mimpiku. Aku tahu semua itu gak pantas, itu dosa tapi berbagai macam usaha kulakukan, tidak mempan juga. Puasa sunnnah, sholat malam, tilawah semua tak mampu membendung gejolak jiwaku. Sampai suatu waktu aku sadar, pasti ada yang salah dengan diriku. Bukankah mencintai seseorang yang belum halal itu dosa? </p>
	<p>Akhirnya aku sadar, ternyata cintaku pada Allah, Rasul dan jihad masih sangat minim. buktinya ada seseorang yang mengalahkannya. Astaghfirullah&#8230;&#8230;. Kuputuskan biarlah kutunda dulu keinginan itu. Aku harus bangkit, mensucikan diri, kembali padaNYA. Hanya cintaNYA lah yang haqiqi. Cinta yang tidak mungkin berbuah kecewa. Ya itu pasti karena DIA adlah pemilik segalanya. <em>Yaa muqollibal quluub tsabbit qolbiy &#8216;alaa diinik wa &#8216;alaa mahabbatik</em><br />
Begitu berbekas perkataan Ibnu &#8216;Athilah dalam benakku, &#8220;Tidak ada yang bisa mengusir syahwat dan kecintaan kepada kesenangan dunia selain rasa takut kepada Allah yang menggetarkan hati atau rasa rindu kepadaNya yang membuat hati merana&#8221;. Astaghfirullah&#8230;.. betapa sering hamba menganggap mudah memohon ampun padaNya dan kembali bermaksiyat padaNya dengan sengaja sedang diri ini tidak tau kapan ajal menjemput. Boleh jadi belum sempat IA mengampuni, ajal datang tanpa permisi. Astaghfirullah, terimalah taubat hamba. Wahai dzat yang maha penerima taubat, Sesungguhnya tiada yang mengampuni dosa kecuali Engkau!</p>
	<p>Alhamdulillah, mungkin itu yang terbaik buat diriku. Ternyata masih banyak amanah yang harus aku selesaikan. Dan mungkin juga diri ini belum mampu memikul &#8220;amanah itu&#8221; (amanah istri dan anak2.red). Dan juga masih sedikit ilmu yang aku punya. Terima kasih yaa Allah, Engkau telah mengingatkan diri ini.</p>
	<p>Hari Raya Idul Adha atau juga dikatakan Idul Qurban sebentar lagi menyapa. Spontan saya langsung teringat nama Ibrohim, Ismail, Sarah dan Hajar. Saya kira merekalah figur2 manusia terpilih yang mempunyai banyak kelebihan yang patut kita teladani.  Bagaimana mereka berkorban dengan segenap semangat, komitmen dan keikhlasan demi mengharap Ridho Ilahi. Bagimana mereka bisa menempatkan cinta yang benar. Mereka amat sangat cintanya kepada ALLAH. Mereka senantiasa tunduk patuh pada setiap perintah Allah SWT.</p>
	<p>Sekilas kisah mereka ada baiknya kita tengok pada Al-Quran, QS Ash-Shaaffaat 100-111<br />
<em>&#8220;Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang shaleh.<br />
Maka Kami beri dia kabar gembira dengan seorang anak yang amat sabar.<br />
Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggupberusaha bersama-sama Ibrahim), Ibrahim berkata: &#8220;Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!&#8221; Ia menjawab: &#8220;Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar&#8221;.<br />
Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis (nya), (nyatalah kesabaran keduanya).<br />
Dan Kami panggillah dia: &#8220;Hai Ibrahim, sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu&#8221;, sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik.<br />
Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata.<br />
Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar.<br />
Kami abadikan untuk Ibrahim itu (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang kemudian,<br />
(yaitu) &#8220;Kesejahteraan dilimpahkan atas Ibrahim&#8221;.<br />
Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. </em></p>
	<p>Subhanallah, begitu besar rasa cinta mereka kepada Allah. Coba bayangkan, bertahun-tahun Ibrohim berdoa memohon kepada Allah agar dikaruniai anak yang sholeh, <em>Robbiy habliy minash-sholihin</em>, tapi setelah Allah memperkenankan doanya )(dengan kelahiran Ismail) ada perintah Allah kepadanya untuk mengorbankan putranya itu. Ibrohim sangat sayang pada Ismail, sangat cinta padanya, sangat senang berada didekatnya. Apalagi saat itu Ismail sedang lucu-lucunya. Tetapi, sekali lagi rasa cinta Ibrohim kepada Allah melebihi segala-galanya. Hanya Allahlah cintanya yang sejati.</p>
	<p>Demikian halnya Ismail, ia adalah anak yang sholih dan sabar. Ia pun ikhlas menyerahkan diri sepenuhnya, jika Allah yang memerintah. Coba perhatikan jawaban Ismail menanggapi kabar dari ayahnya <em>&#8220;Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar</em></p>
	<p>Sungguh luar biasa, itulah cinta yang sesungguhnya. Cinta yang benar. Cinta yang penuh keberkahan. Cinta yang pasti berbalas surga. Semoga kita semua bisa meneladani figur-figur manusia pilihan tersebut. amiin!</p>
	<p>Selamat Hari Raya Idul Adha 1428H<br />
Ikhlas berQURBAN<br />
Makin dekat denganNYA<br />
Tangerang, 8 Des&#8217;07
</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://multazimah.blogsome.com/2007/12/06/qurban-2/feed/</wfw:commentRss>
	</item>
		<item>
		<title>Qurban, Versi Islam vs Kristen</title>
		<link>http://multazimah.blogsome.com/2007/12/06/qurban/</link>
		<comments>http://multazimah.blogsome.com/2007/12/06/qurban/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 06 Dec 2007 03:42:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>multazimah</dc:creator>
		
	<category>Dakwah</category>
	<category>Fiqh</category>
		<guid>http://multazimah.blogsome.com/2007/12/06/qurban/</guid>
		<description><![CDATA[	Kisah pengorbanan Nabi Ibrahim
	Orang-orang kristen mempermasalahkan tentang anak yang hendak dikorbankan oleh nabi Ibrahim, karena dalam Islam diyakini bahwa yang dikurbankan adalah Ismail, sementara orang-orang kristen meyakini bahwa yang dikurbankan adalah Iskha’. Hal ini mereka dasarkan pada kejadian 22:2, yaitu : 
	Kata Allah “Pergilah ke tanah Man’a dengan Iskhak, anakmu yang tunggal, yang sangat kau [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[	<p>Kisah pengorbanan Nabi Ibrahim</p>
	<p>Orang-orang kristen mempermasalahkan tentang anak yang hendak dikorbankan oleh nabi Ibrahim, karena dalam Islam diyakini bahwa yang dikurbankan adalah Ismail, sementara orang-orang kristen meyakini bahwa yang dikurbankan adalah Iskha’. Hal ini mereka dasarkan pada kejadian 22:2, yaitu : <a id="more-88"></a></p>
	<p>Kata Allah “Pergilah ke tanah Man’a dengan Iskhak, anakmu yang tunggal, yang sangat kau kasihi. Di situ di sebuah gunung  yang akan kutunjukkan kepadamu. Persembahkanlah anakmu sebagai ………kepada-Ku.”</p>
	<p>Jika kita memperhatikan ayat tersebut, bahwa dalam ayat tersebut dinyatakan bahwa yang dikurbankan adalah anak tunggal. Hal ini berarti bahwa Iskhak adalah anak pertama nabi Ibrahim. Padahal dalam Kejadian 16:16 dan Kejadian 21:5 dapat kita ketahui bahwa anak pertama Nabi Ibrahim (dalam Al Kitab disebut Abraham) adalah Ismail.</p>
	<p>“Maka pada masa Hajar memperanakkan Ismail bagi Abraham itu, adalah umur Abraham 85 tahun” (Kejadian 16:16)<br />
“Maka pada masa Ishak, anaknya itu jadi, adalah umur Abraham 100 tahun” (Kejadian 21:5)</p>
	<p>Dari dua keterangan dalam Al Kitab ini dapat kita ketahui bahwa usia Ibrahim pada usia 85 tahun memiliki anak yang bernama Ismail dan kemudian pada usianya yang ke-100 tahun, lahirlah anaknya yang bernama Iskhak. Dengan demikian jelas bahwa anak tunggal yang dimaksud dalam Kejadian 22: 2 tersebut adalah Ismail.</p>
	<p>Bahkan dalam Al Quran telah dengan terang dijelaskan tentang peristiwa penyembelihan Ismail. Dalam Al Quran surat As Shaffat ayat 100-111 diterangkan tentang penyembelihan ismail, yang akhirnya diganti dengan seekor sembelihan yang besar atas karunia Allah, dan hal itu menjadi pelajaran bagi kita. Selanjutnya dalam surat yang sama ayat 112, diterangkan bahwa setelah peristiwa itu, Allah memberikan kabar gembira kepada ibrahim dengan menganugrahkan anak yang kedua, yaitu Iskhak</p>
	<p>“Dan Kami beri dia kabar gembira dengan (kelahiran)Ishak seorang nabi yang temasuk orang-orang yang saleh”</p>
	<p>Demikian pula dalam Al Quran surat Ibrahim ayat 39 yang menyatakan secara berurutan anak nabi Ibrahim, yaitu Ismail, kemudian Ishak</p>
	<p>“Segala pujin bagi Allah yang telah menganugrahkan kepadaku di hari tuaku Ismail dan Ishak. Sesungguhnya Tuhanku benar-benar Maha mendengar  (memperkenankan) doa.”</p>
	<p>Dengan demikian jelas bahwa yang dikurbankan Ibrahim adalah ismail. Ini juga menujukkan bahwa dalam Al Kitab terdapat ayat-ayat yang dipalsukan (dirubah), sehingga keorsinilannya sungguh sangat meragukan.</p>
	<p>Pengertian Qurban</p>
	<p>Qurban adalah menyembelih hewan/binatang ternak sebagai ibadah kepada Allah SWT dan sebagai rasa syukur atas nikmat Allah SWT.<br />
Qurban pertama kali diperintahkan pada masa Nabi Adam ketika itu dilakukan oleh 2 putra Nabi adam yaitu Qabil &#038; Habil. Sebagaimana dikisahkan dalam Al Quran surat Al maidah ayat 27 :</p>
	<p>“Ceriterakanlah kepada mereka kisah kedua putra Adam (Habil dan Kabil) menurut yang sebenarnya, ketika keduanya mempersembahkan kurban, maka diterima dari salah seorang dari mereka berdua (Habil) dan tidak diterima dari yang lain (Kabil). Ia berkata (Kabil): &#8220;Aku pasti membunuhmu!&#8221; Berkata Habil: &#8220;Sesungguhnya Allah hanya menerima (kurban) dari orang-orang yang bertakwa&#8221;.</p>
	<p>Waktu pelaksanaan Qurban </p>
	<p>Akhir waktu menyembelih qurban adalah akhir hari tasyriq. Berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Ahmad dari Sulaiman Bin Musa dari Jubair bin Mut&#8217;im bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda :</p>
	<p>“Segala hari tayriq itu hari meyembelih”</p>
	<p>Diriwayatkan An Nawawi dalam sejarah Muslim dan Ibnul Qayyim dalam Zadul Maad bahwa Ali r.a. berkata : </p>
	<p>‘Hari menyembelih itu ialah hari idul adha dan 3 hari sesudahnya”</p>
	<p>Salah satu hal yang sering menjadi permasalahan dalam Islam, yaitu tentang pelaksanaan sholat Ied, menjelang pelaksanaan qurban, dimana umat Islam seringkali berselisih tentang waktunya. Orang-orang kristen beranggapan bahwa hal itu merupakan suatu pertantangan yang terjadi dalam Islam. Padahal  jika kita memperhatikan Al Quran dan ayat-ayat Allah yang tedapat di alam yang menggambarkan tentang kenyataan waktu, sebenarnya hal tersebut bukanlah pertentangan, tetapi justru hal tersebut merupakan keistimewaan islam, dimana perbedaan pendapat merupakan anugrah (rahmat).</p>
	<p>Hal ini dapat dijelaskan sebagai berikut, bedasarkan Al Quran surat Al Baqoroh ayat 185, yaitu :</p>
	<p>“(beberapa hari yang telah ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan menganai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan batil). Karena itu, barang siapa diantara kamu hadir (di negeri tempat tingglnya) di bulan itu, maka hendakklah ia berpuasa di bulan itu, dan barang siapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.”</p>
	<p>Sebenarnya yang menjadi  perbedaan dalam umat islam adalah karena sesuatu yang talah menjadi keteetapan Allah, dimana kita ketahui bahwa pada tempat yang berbeda di muka bumi ini, terdapat selisih waktu. Katakanlah saat ini di mekah pukul 07.00 waktu Mekah, maka pada saat itu di Indonesia sudah pukul 11.00 waktu Indonesia.<br />
Sehingga ketika kita hendak menyamakan waktu pelaksanaan sholat Ied, maka hal itu jelas tidak memungkinkan, karena ketika Mekah melaksanakan Sholat Ied, maka di indonesia pukul 11.00. padahal tuntunan melaksanakan sholah Ied adalah waktu dhuha (mulai jam 07.00). oleh karena itu, maka dengan berdasarkan pada surat Al Baqoroh tersebut, maka ada beberapa umat Islam yang melaksanakan sholat Ied dengan metode ru’yat, dimana metode ini yaitu dengan melihat hilal (bulan). Tetapi karena tidak semua tempat dapat melihat hilal, maka ada umat islam yang kemudian membulatkan waktu pelaksanaan sholat Ied, karena Allah tidak mempersulit hamba-Nya dalam melaksanakan perintah-Nya</p>
	<p>Dalam Al Quran surat Yunus ayat 5-6, juga dijelaskan tentang metode lain untuk menentukan waktu, yaitu dengan metode hisab.<br />
Dengan demikian, sebenarnya perbedaan pendapat tersebut bukalah sesuatu yang merupakan pertentangan dalam islam, tetapi hal itu merupakan rahmat bagi orang-orang yang mau berpikir.</p>
	<p>Tempat Pelaksanaan Qurban </p>
	<p>Lebih utama qurban itu dilakuakan di sekitar Musholla atau tempat melaksanakan sholat Adhul Adha, karena di tempat itu Nabi Muhammad sering melaksanakannya, agar penyembelihan itu disaksikan olelh orang banyak, yaitu para jama’ah. Sabda nabi Muhammad SAW yang diriwayatkan oleh Bukhori dan Nafi bahwa Ibnu Umar r.a. menceritakan kepadanya, sebagai berikut :</p>
	<p>“Sesungguhnya Rosul SAW menyembelih qurban di Musholla”<br />
Namun boleh juga menyembelih qurban dilakukan di rumah sendiri karena yang demikian diizinkan pula oleh nabi. Diberitakan oleh Muslim bahwa nabi Muhammad SAW bersabda :</p>
	<p>“Maka sembelihlan olehmu qurban itu di rumah kamu sendiri”</p>
	<p>Alasan Kita Harus Melakukan Qurban<br />
1.Disyariatkan bagi setiap umat untuk berkurban<br />
Qurban telah disyariatkan oleh Allah SWT kepada tiap-tiap umat di dunia sejak umat terdahulu hingga umat terkini. Dalam Al Quran surat Al hajj ayat 34, Allah berfirman :</p>
	<p>“Dan  bagi  tiap-tiap umat telah Kami syariatkan penyembelihan (qurban), supaya mereka menyebut nama Allah terhadap binatang ternak yang telah direzekikan Allah kepada mereka, maka Tuhanmu ialah Tuhan Yang Maha Esa, karena itu berserah dirilah kamu kepada-Nya. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang tunduk patuh (kepada Allah)”</p>
	<p>2.Sebagai Wujud Takwa Kepada Allah SWT<br />
Kurban pada hakikatnya adalah wujud ketakwaan kita sebagai manusia kepada Allah sebagai sang pencipta. Sehingga bukanlah daging atau darah yang kita persembahkan kepaada Allah, tetapi ketakwaan kitalah yang akan diperitungkan Allah SWT. Hal ini tercantum dalam Al Quran Surat Al Hajj ayat 37 :</p>
	<p>“Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan)) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya…”<br />
Qurban dilakukan karena hal itu semata-mata telah diperintahkan oleh Allah SWT, sebagaimana firman-Nya dalam surat Al Kautsar ayat 1-3 :<br />
“Maka sholatlah dan berqurbanlah”</p>
	<p>Orang kristen senantiasa mengejek dan mengkritik qurban yang dilakukan oleh ummat Islam. padahal dalam kitab injil mereka sendiri qurban ini diperintahkan. Hal ini didasarkan pada Al Kitab :</p>
	<p>“Kami harus pergi ke padang gurun sejauh tiga hari perjalanan untuk mempersembahkan kurban kepada Tuhan Allah kami, seperti yang diperintahkan-Nya kepada kami.&#8221;  (Keluaran 8:27)</p>
	<p>Dengan demikian dapat kita ketahui bahwa sesungguhnya orang-orang kristen tidak melaksanakan tuntunan yang mereka yakini kebenarannya, yaitu Injil. Hal ini berarti bahwa terhadap kitab mereka sendiripun, meraka ingkari.</p>
	<p>Cara Qurban</p>
	<p>Menyembelih qurban secara umum sama saja dengan menyembelih sembelihan biasa, namun ada beberapa perbedaan yakni setelah membaca basmalah membaca takbir dan menyebutkan untuk siapa qurban itu dilakukan. Setelah disembelih, maka daging kurban dimakan dan sebagian dibagikan kepada orang lain. Sebagaimana di terangkan dalam Al Quran surat Al Hajj ayat 36,</p>
	<p>“…Maka sebutlah olehmu Nama Allah ketika kamu menyembelihnya dalam keadaan berdiri (dan telah terikat). Kemudian apabila telah robuh (mati), maka makanlah sebagiannya dan beri makanlah orang yang rela dengan apa yang ada padanya (yang tidak meminta-minta) dan oran gyang meminta. Demikianlah kami menundukkan unta itu kepada kamu, mudah-mudahan kamu bersyukur”</p>
	<p>Materi Kristologi<br />
PPTM Yogyakarta
</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://multazimah.blogsome.com/2007/12/06/qurban/feed/</wfw:commentRss>
	</item>
		<item>
		<title>Pola Pikir</title>
		<link>http://multazimah.blogsome.com/2007/11/23/pola-pikir/</link>
		<comments>http://multazimah.blogsome.com/2007/11/23/pola-pikir/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 23 Nov 2007 05:56:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>multazimah</dc:creator>
		
	<category>Nashihat</category>
	<category>Renungan</category>
	<category>Dakwah</category>
		<guid>http://multazimah.blogsome.com/2007/11/23/pola-pikir/</guid>
		<description><![CDATA[	Pola pikir seseorang sangat dipengaruhi oleh intensitas informasi yang didapat. Baik informasi yang dilihat, didengar, dikhayalkan dan dipikirkan. Sampai akhirnya semua informasi tersebut akan terekam dalam memori yang selanjutnya bisa merubah pola pikir dan karakter. 
	Saya teringat ketika saya duduk di bangku SD dahulu kala. Ada sesuatu yang kayaknya sudah menjadi “pemikiran bersama” dibenak setiap [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[	<p>Pola pikir seseorang sangat dipengaruhi oleh intensitas informasi yang didapat. Baik informasi yang dilihat, didengar, dikhayalkan dan dipikirkan. Sampai akhirnya semua informasi tersebut akan terekam dalam memori yang selanjutnya bisa merubah pola pikir dan karakter. <a id="more-86"></a></p>
	<p>Saya teringat ketika saya duduk di bangku SD dahulu kala. Ada sesuatu yang kayaknya sudah menjadi “pemikiran bersama” dibenak setiap pelajar. Setiap kali Bapak atau Ibu guru memberi tugas mengarang, sudah hampir dipastikan kalimat pertama yang ditulis oleh sebagian besar siswa adalah, “Pada suatu hari&#8230;&#8230;..” dengan berbagai variasi cerita.<br />
Pada suatu hari saya pergi ke sawah bersama ayah yang gagah dan ibu yang cantik jelita&#8230;.<br />
Pada suatu hari nenek datang ke kampungku membawa oleh-oleh yang sangat banyak&#8230;&#8230;.<br />
Pada suatu hari ibu guru sedang menulis di depan kelas kemudian semua murid tertidur&#8230;&#8230;<br />
Pada suatu hari&#8230;..<br />
Pada suatu hari&#8230;..</p>
	<p>Setelah saya pikir-pikir flash back, ternyata lucu juga ya? Apa tidak ada kalimat lain selain Pada suatu hari&#8230;.? Mungkin kalau saat ini kita membaca kembali buku kita sewaktu SD (kalao masih ada), yakin dech pasti kamu akan senyum-senyum melulu.</p>
	<p>Ada lagi, kalau Bapak atau Ibu guru menyuruh menggambar pemandangan. Apa coba yang digambar oleh sebagian besar siswa???? Pasti yang akan mereka gambar adalah dua buah gunung, matahari dan persawahan. Betul gak? </p>
	<p>Itulah pola pikir yang terbentuk oleh informasi yang mereka terima. Pada saat-saat usia seperti itu seorang anak cenderung meniru/mencontoh. Karena guru, hanya memberikan contoh Pada suatu hari&#8230;.. ketika mengarang, contoh gambar gunung ketika menggambar, maka dengan sendirinya informasi tersebut akan terekam sangat kuat dalam ingatannya. Hal inilah yang akan menjadi sumber informasi utama yang akan diaplikasikan dalam kehidupan nyata.</p>
	<p>Ada sebuah nasihat dan motivasi yang cukup bagus untuk kita renungkan:<br />
Sow a thought, reap an action;<br />
sow an action, reap a habit;<br />
sow a habit, reap a character;<br />
sow a character, reap a destiny<br />
Saya terjemahkan menjadi:<br />
Taburlah pemikiran, petiklah tindakan<br />
Taburlah tindakan, petiklah kebiasaan<br />
Taburlah kebiasaan, petiklah karakter<br />
Taburlah karakter, petiklah tujuan</p>
	<p>Pemikiran adalah awal dari karakter yang akan menyampaikan pada tujuan kita. Sedangkan pemikiran atau pola pikir sangat erat kaitannya dengan informasi yang kita peroleh. Untuk membentuk pola pikir islami maka mutlak harus diawali dengan informasi-informasi yang islami pula. Sungguh akan sangat efektif jika sejak kecil, anak-anak kita dibiasakan diberikan informasi yang islami. Dididik dengan akhlaq yang mulia, diajari adab-adab yang baik, dibimbing dengan ilmu agama.</p>
	<p>Sebagai contoh, saat makan anak-anak dibiasakan baca Bismillah, makan dengan tangan kanan, makan sambil duduk, tidak serakah dan lainnya.<br />
Saat belajar, diawali dan ditutup dengan do’a, dikasih cerita-cerita yang penuh hikmah, yang saarat dengan akhlak mulia. Bagaimana pentingnya kejujuran, perkataan yang benar, keberanian, kedisiplinan dsb. Bagimana indahnya kebersaman, nikmatnya memberi, perlunya tolong-menolong dan nasehat-menasihati. Juga diingatkan bagaimana buruknya kesombongan, kedengkian, kemalasan dan sifat-sifat jelek lainnya. Bagus lagi kalau ceritanya sekali-kali diambil dari kisah Rasul, sahabat dan tabi’in serta orang-orang sholeh jaman dahulu. Insya Allah anak-anak kita akan tumbuh menjadi sosok muslim yang berkepribadian, menjadi multazim dan multazimah sejati</p>
	<p>Namun perlu disayangkan, hampir sebagian anak-anak kita saat ini jauh dari nilai-nilai tersebut di atas. Mengapa demikian? Apa yang salah? Karena anak-anak tersebut lahir dari keluarga yang ”rendahan”. Keluarga yang dibangun oleh dua individu yang tanpa aqidah dan ilmu. Keluarga yang dibentuk hanya semata-mata oleh dorongan nafsu syahwat. Keluarga yang diawali dengan sekian banyak kemaksiatan-kemaksiatan, entah itu namanya pacaran, khalwat, tabarruj dan sejenisnya. Keluarga yang diwujudkan tanpa menggunakan nilai-nilai Islam. Sehingga banyak anak-anak manusia yang harus lahir duluan sebelum aqad nikah alias Pemilu (Pernikahan hamil dahulu). Apalah namanya, yang jelas itulah fakta meskipun tidak semuanya demikian. </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://multazimah.blogsome.com/2007/11/23/pola-pikir/feed/</wfw:commentRss>
	</item>
		<item>
		<title>Suara Hati Seorang Ikhwan</title>
		<link>http://multazimah.blogsome.com/2007/11/13/suara-hati-seorang-ikhwan/</link>
		<comments>http://multazimah.blogsome.com/2007/11/13/suara-hati-seorang-ikhwan/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 13 Nov 2007 06:35:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>multazimah</dc:creator>
		
	<category>Renungan</category>
		<guid>http://multazimah.blogsome.com/2007/11/13/suara-hati-seorang-ikhwan/</guid>
		<description><![CDATA[	Wanita suci,
Mungkin aku memang tak romantis tapi siapa peduli?
Karena toh kau tak mengenalku 
dan memang tak perlu mengenalku.
Bagiku kau bunga,
tak mampu aku samakanmu dengan bunga terindah sekalipun.
Bagiku manusia adalah makhluk yang terindah,
tersempurna dan tertinggi.
Bagiku dirimu salah satu dari semua itu,
karenanya kau tak membutuhkan persamaan.
	Wanita suci,
Jangan pernah biarkan aku manatapmu penuh,
karena akan membuat kumengingatmu.
Berarti memenuhi kepalaku [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[	<p>Wanita suci,<br />
Mungkin aku memang tak romantis tapi siapa peduli?<br />
Karena toh kau tak mengenalku <a id="more-85"></a><br />
dan memang tak perlu mengenalku.<br />
Bagiku kau bunga,<br />
tak mampu aku samakanmu dengan bunga terindah sekalipun.<br />
Bagiku manusia adalah makhluk yang terindah,<br />
tersempurna dan tertinggi.<br />
Bagiku dirimu salah satu dari semua itu,<br />
karenanya kau tak membutuhkan persamaan.</p>
	<p>Wanita suci,<br />
Jangan pernah biarkan aku manatapmu penuh,<br />
karena akan membuat kumengingatmu.<br />
Berarti memenuhi kepalaku dengan inginkanmu.<br />
Berimbas pada tersusunnya gambarmu dalam tiap dinding khayalku.<br />
Membuatku inginkanmu sepenuh hati, seluruh jiwa, sesemangat mentari.<br />
Kasihanilah dirimu jika harus hadir dalam khayalku yang masih penuh Lumpur.<br />
Karena sesungguhnya dirimu terlalu suci.</p>
	<p>Wanita suci,<br />
Berdua menghabiskan waktu denganmu bagaikan mimpi tak berujung.<br />
Ada ingin tapi tak ada henti.<br />
Menyentuhmu merupakan ingin diri, berkelebat selalu,<br />
meski ujung penutupmu pun tak berani kusentuh.<br />
Jangan pernah kalah dengan mimpi dan inginku<br />
karena sucimu kaupertaruhkan.<br />
Mungkin kau tak peduli<br />
Tapi kau hanya menjadi wanita biasa di hadapanku<br />
bila kau kalah.<br />
Dan tak lebih dari wanita biasa.</p>
	<p>Wanita suci,<br />
Jangan pernah kautatapku penuh<br />
Bahkan tak perlu kaulirikkan matamu untuk melihatku.<br />
Bukan karena aku terlalu indah, tapi karena aku seorang yang masih kotor.<br />
Aku biasa memakai topeng keindahan pada wajah burukku,<br />
mengenakan pakaian sutra emas membungkus aib tubuhku<br />
Meniru laku para rahib, meski hatiku lebih kotor dari Lumpur.<br />
Kau memang suci, tapi masih sangat mungkin kau termanipulasi.<br />
Karena kau toh hanya manusia-hanya wanita.</p>
	<p>Wanita suci,<br />
Beri sepenuh diri pada dia sang lelaki suci<br />
yang dengan sepenuh hati membawamu kehadapan Tuhanmu.<br />
Untuknya dirimu ada, itu kata otakku,<br />
terukir dalam kitab suci, tak perlu dipikir lagi.<br />
Tunggu sang lelaki itu menjemputmu,<br />
dalam rangkaian khitbah dan akad yang indah.<br />
Atau kejar sang lelaki suci itu, karena itu adalah hakmu,<br />
seperti dicontohkan ibunda Khadijah.<br />
Jangan ada ragu, jangan ada malu,<br />
semua terukir dalam kitab suci.</p>
	<p>Wanita suci<br />
Bariskan harapanmu pada istikharah sepenuh hati ikhlas.<br />
Relakan Allah pilihkan lelaki suci untukmu,<br />
mungkin sekarang atau nanti,<br />
bahkan mungkin tak ada sampai kau mati.<br />
Mungkin itu berarti dirimu terlalu suci untuk semua lelaki di fana saat ini.<br />
Mungkin lelaki suci itu menanti di istana kekalmu,<br />
yang kaubangun dengan segala kekhusyu&#8217;an tangis do&#8217;amu.</p>
	<p>Wanita suci<br />
Pilihan Allah tak selalu seindah inginmu, tapi itu pilihan-Nya.<br />
Tak ada yang lebih baik dari pilihan Allah.<br />
Mungkin kebaikan itu bukan pada lelaki yang terpilih itu,<br />
melainkan pada jalan yang kaupilih,<br />
seperti kisah seorang wanita suci di masa lalu,<br />
Ummu Sulaim yang meminta ke-Islam-an sebagai mahar pernikahannya.<br />
Atau mungkin kebaikan itu<br />
terletak pada keikhlasanmu menerima keputusan Sang Kekasih Tertinggi.<br />
Kekasih tempat kita memberi semua cinta dan menerima cinta<br />
dalam setiap denyut nadi kita.</p>
	<p>Disadur dari: www.dudung.net</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://multazimah.blogsome.com/2007/11/13/suara-hati-seorang-ikhwan/feed/</wfw:commentRss>
	</item>
		<item>
		<title>Kaidah Al-Itsar</title>
		<link>http://multazimah.blogsome.com/2007/11/13/kaidah-al-itsar/</link>
		<comments>http://multazimah.blogsome.com/2007/11/13/kaidah-al-itsar/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 13 Nov 2007 03:32:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>multazimah</dc:creator>
		
	<category>Fiqh</category>
		<guid>http://multazimah.blogsome.com/2007/11/13/kaidah-al-itsar/</guid>
		<description><![CDATA[	***
Cut Mala membawa diktat kuliahnya. Segala yang musykil baginya ia tanyakan dengan tanpa rasa malu pada Anna. Anna menjawab sejelas-jelasnya dengan penuh kesabaran.
”Kak Anna, maksud kaidah ini apa?” tanya Cut Mala.
”Coba baca kaidahnya!” pinta Anna.
”Kaidahnya begini Kak, Al Itsar bil Qurbi makruuhun wa fii ghoirihaa mahbuubun. Di sini tidak ada penjelasan dan contohnya sama sekali [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[	<p>***<br />
<courier>Cut Mala membawa diktat kuliahnya. Segala yang musykil baginya ia tanyakan dengan tanpa rasa malu pada Anna. Anna menjawab sejelas-jelasnya dengan penuh kesabaran.<br />
”Kak Anna, maksud kaidah ini apa?” tanya Cut Mala.<a id="more-84"></a><br />
”Coba baca kaidahnya!” pinta Anna.<br />
”Kaidahnya begini Kak, <em>Al Itsar bil Qurbi makruuhun wa fii ghoirihaa mahbuubun.</em> Di sini tidak ada penjelasan dan contohnya sama sekali Kak. Saya belum benar-benar paham”</p>
	<p>Anna langsung menjawab dengan tenang,<br />
”Kaidah itu artinya, <em>al-itsar</em>(mengutamakan orang lain), dalam hal mendekatkan diri kepada Allah atau mengutamakan orang lain dalam hal ibadah itu hukumnya makruh. Adapun mengutamakan orang lain pada selain ibadah itu dianjurkan.</p>
	<p>Dalam ibadah, yang dianjurkan dan disunahkan adalah berlomba-lomba mendapatkan yang paling afdhol, mendapatkan pahala yang paling banyak. Maka mengutamakan orang lain dalam hal ini sangat tidak dianjurkan alias makruh.<br />
Contohnya, jika seseorang memiliki air yang hanya cukup buat berwudhu untuk dirinya saja, maka ia tidak boleh memberikan air itu pada orang lain, agar orang lain bisa berwudhu sementara ia tayamum. Yang benar adalah dia menggunakan air itu untuk wudhu biarkan orang lain tayamum. Kecuali jika ada orang lain yang membutuhkan air untuk minum karena kehausan, maka ia sebaiknya memberikan air itu padanya dan dia bisa bersuci dengan tayamum.</p>
	<p>Contoh lain, jika seorang muslimah memiliki satu mukena, lalu datang waktu sholat. Ia tidak diperbolehkan mempersilakan orang lain sholat dulu menggunakan mukenanya dan ia menunggu setelah orang-orang selesai menggunakan mukenanya. Yang benar adalah ia harus segera sholat sebelum yang lain. Ia harus mengutamakan dirinya, sebab sholat di awal waktu itu lebih afdhol (utama). Baru setelah ia sholat ia bisa meminjamkan pada orang lain. Dalam ibadah, sekali lagi dimakruhkan mengutamakan orang lain.<br />
Begitu maksud kaidah itu Dik. Kau bisa menganalogkan dengan yang lain”</p>
	<p>Cut Mala tampak puas mendengar jawaban itu. Tiba-tiba ia terpikir sesuatu yang menarik untuk ia tanyakan,<br />
”Maaf Kak saya mau tanya, Kalau misalnya. Sekali lagi ini misalnya lho Kak. Misalnya ada seorang akhwat dilamar oleh seorang ikhwan yang sangat baik. Baik agamanya, akhlaqnya, prestasinya juga wajahnya. Lalu ia mengalah, mengutamakan saudarinya yang menurutnya lebih baik darinya dan lebih pantas menikah dengan ikhwan tadi. Apa itu termasuk makruh Kak?”</p>
	<p>Anna menatap kedua mata Mala. Sebuah pertanyaan yang membuatnya tersenyum sekaligus kagum akan kreativitas gadis Aceh tersebut. Bukankah pertanyaan yang baik adalah sebagian dari ilmu?<br />
”Menurutmu menikah  itu ibadah nggak Dik?” tanya Anna.<br />
”Ibadah Kak, bukankah menikah itu menyempurkan separoh agama?”<br />
”Jadi jelas kan jawabannya. </p>
	<p>Aku pribadi kalau menemukan ikhwan yang baik, yang menurutku sungguh baik dan ada yang menjodohkan aku dengannya, ya aku akan mengutamakan diriku dulu. Tidak aku tawarkan pada akhwat lain. Menikah kan ibadah, cepat-cepat menikah kan juga bagian dari berlomba-lomba dalam kebaikan. Kalu aku itsar, mengutamakan akhwat lain, berarti aku akan kalah cepat. Akhwat itu akan menikah duluan, dapat jodoh duluan dan aku belum, jadi tertunda. Dan, tambah lagi belum tentu aku akan dapat jodoh yang lebih baik dari itu, meskipun aku yakin jodoh ada yang mengaturnya, yaitu Allah. Tapi kita kan harus ikhtiar, dan ikhtiar itu sendiri adalah bagian dari taqdir. Diantara bentuk ikhtiar, ya&#8230;.. ketika menemukan yang baik tidak usah mengutamakan orang lain.”</courier><br />
***</p>
	<p>Petikan cerita di atas saya kutip dari Novel berjudul <strong>Ketika Cinta Bertasbih 1</strong>, karya <ins>Habiburrahman El Shirazy</ins>, hal. 341-343. Terus terang saya tertarik pada pemaparan kaidah syar’iyyah yang terdapat di dalamnya, yaitu tentang <em>al-Itsar (mengutamakan orang lain)</em>. Banyak kita jumpai dalam keseharian, sebagian orang masih salah dalam memahami kaidah itsar tersebut. Sehingga kesalahan pemahaman itu bedampak pada aplikasi amal perbuatan yang juga salah. </p>
	<p>Di satu sisi ada orang yang cenderung, senantiasa mengutamakan orang lain dalam segala aspek kehidupan sosial, termasuk didalamnya aspek ibadah. Di sisi yang lain, ada sebagian orang yang cenderung eksklusif dalam segala aspek. Mereka cenderung hanya mementingkan diri sendiri, tidak mau berbuat itsar sedikitpun  kepada orang lain.</p>
	<p>Sekarang, marilah kita bersikap adil, menempatkan segala persoalan pada tempatnya dan mensifatinya sesuai dengan sifatnya masing-masing. Dalam soal ibadah, mari kita utamakan diri kita dahulu baru orang lain, tetapi dalam urusan sosial kemasyarakatan kita utamakan orang lain terlebih dahulu.</p>
	<p>Ada  crita nich, pas ane sholah jama&#8217;ah di suatu mesjid ane agak telat. Sholat udah mulai didiriken, sang imam maju ke depan. Tapi anehnya jamaah yg dari tadi udah di situ, (maksud ane sebelum iqomat atau bahkan sebelum adzan sudah nunggu di mesjid), Eh ternyata saat udah iqomat ia malah tidak segera bergegas menuju shaf pertama. Padahal seharusnya, kalau mau ia bisa berdiri tepat di belakang imam. Ia justru mendahulukan ane untuk ngisi shaf pertama, seakan berkata; &#8220;Monggo mas sampeyan depan, saya di belakang aja&#8230;.&#8221;<br />
Inilah yang ane katakan aneh, ternyata masih ada sebagian Saudara kita yang belum faham tentang kaidah itsar. Berjamaah di shaf pertama adalah sangat utama. Dari Abu Hurairah ra.: Bahwa Rasulullah saw. bersabda: Seandainya manusia tahu apa (keutamaan) yang terdapat dalam azan dan <strong>shaf pertama</strong>, kemudian mereka tidak mendapatkannya kecuali dengan cara mengundi, pasti mereka akan mengundinya. Seandainya mereka tahu apa (keutamaan) yang terdapat dalam bersegera (datang sedini mungkin) melakukan salat, pasti mereka berlomba-lomba melakukannya. Seandainya mereka tahu apa yang terdapat dalam salat Isyak dan salat Subuh, pasti mereka akan mendatanginya meskipun dengan merangkak. (Shahih Muslim No.661)</p>
	<p>Ada juga kisah yang cukup mengharukan, tentang itsar, bagaimana sahabat mengutamakan saudaranya dalam urusan dunia. Simak baik-baik kisah berikut:</p>
	<p>Abu Hurairah berkata:<br />
Telah datang seorang laki-laki kepada Rasulullah dan berkata: “Sesungguhnya aku dalam keadaan lapar”. Maka Rasulullah menanyakan kepada salah satu istrinya tentang makanan yang ada dirumahnya, namun beliau menjawab: “Demi Dzat Yang mengutusmu dengan haq, aku tidak memiliki apa-apa kecuali hanya air, kemudian beliau bertanya kepada istri yang lain, namun jawabannya tidak berbeda. Seluruhnya menjawab dengan jawaban yang sama. </p>
	<p>Kemudian Rasulullah bersabda:<br />
“Siapakah yang mau menjamu tamu ini, semoga Allah merahmatinya”.<br />
Maka berdirilah salah seorang Anshar yang namanya Abu Thalhah seraya berkata: “Saya wahai Rasulullah”. Maka dia pergi bersama tamu tadi menuju rumahnya kemudian sahabat Anshar tersebut bertanya kepada istrinya (Ummu Sulaim): “Apakah kamu memiliki makanan?”. Istrinya menjawab: “Tidak punya melainkan makanan untuk anak-anak”. Abu Thalhah berkata: ”Berikanlah minuman kepada mereka dan tidurkanlah anak-anak kita. Nanti apabila tamu saya masuk maka akan saya matikan lampu lalu kuperlihatkan bahwa saya ikut makan, apabila makanan sudah berada di tangan maka berdirilah. </p>
	<p>Mereka duduk-duduk dan tamu makan hidangan tersebut sementara kedua sumi-istri tersebut bermalam dalam keadaan tidak makan. Keesokan harinya keduanya datang kepada Rasulullah lalu Rasulullah bersabda: “Sungguh Allah takjub (atau tersenyum) terhadap fulan dan fulanah”. </p>
	<p>Dalam riwayat lain, Rasulullah bersabda:<br />
“Sungguh Allah takjub terhadap apa yang kalian berdua lakukan terhadap tamu kalian” . </p>
	<p>Di akhir hadits disebutkan:<br />
Maka turunlah ayat (artinya):<br />
“Dan mereka mengutamakan (orang-orang muhajirin) atas diri mereka sendiri. Sekalipun mereka memerlukan (apa yang mereka berikan itu).” (Q,.s. al-Hasyr :9). </p>
	<p>Sumber:<br />
Ketika Cinta Bertasbih 1, karya Habiburahman El-Shirazy<br />
Mengenal Shahabiah Nabi shallallâhu &#8216;alaihi wa sallam dengan sedikit perubahan, penerbit Pustaka AT-TIBYAN<br />
Hadits Web 3.0 Software</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://multazimah.blogsome.com/2007/11/13/kaidah-al-itsar/feed/</wfw:commentRss>
	</item>
		<item>
		<title>Kenangan dan Harapan</title>
		<link>http://multazimah.blogsome.com/2007/11/03/kenangan-dan-harapan/</link>
		<comments>http://multazimah.blogsome.com/2007/11/03/kenangan-dan-harapan/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 03 Nov 2007 06:05:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>multazimah</dc:creator>
		
	<category>Renungan</category>
		<guid>http://multazimah.blogsome.com/2007/11/03/kenangan-dan-harapan/</guid>
		<description><![CDATA[	Assalamu&#8217;alaikum
Innal hamda lillah, nahmaduhu wa nasta&#8217;inuhu, wa nastaghfiruhu wa na&#8217;udzubillahi min syururi anfusina wa min sayyiati a&#8217;maalina. Man yahdillahu falaa mudhillahu wa man yudhlilhu falaa haadiyallahu. asyhadu an laa ilaha illaLLah wa asyhadu anna muhammadar rasulullah. Amma ba&#8217;du,
	Saudaraku yang insyaAllah dimulyakan Allah SWT,
Ramadhan adalah bulan yang amat istimewa. Kedatangannya senantiasa dinanti dan kepergiannya senantiasa membawa [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[	<p>Assalamu&#8217;alaikum<br />
<em>Innal hamda lillah, nahmaduhu wa nasta&#8217;inuhu, wa nastaghfiruhu wa na&#8217;udzubillahi min syururi anfusina wa min sayyiati a&#8217;maalina. Man yahdillahu falaa mudhillahu wa man yudhlilhu falaa haadiyallahu. asyhadu an laa ilaha illaLLah wa asyhadu anna muhammadar rasulullah. Amma ba&#8217;du,</em><a id="more-83"></a></p>
	<p>Saudaraku yang insyaAllah dimulyakan Allah SWT,<br />
Ramadhan adalah bulan yang amat istimewa. Kedatangannya senantiasa dinanti dan kepergiannya senantiasa membawa berbagai kenangan dan harapan. Saya katakan membawa kenangan karena, di bulan tersebut tentunya banyak hal yang kita alami. Berbagai amal ibadah telah kita jalani sesuai kondisi kita masing-masing. Ada sebagian kita yang rajin, aktif dan istiqomah dalam setiap ibadah. Sholat jama&#8217;ah di masjid hampir tidak pernah ketinggalan. Sholat-sholat sunnah juga tak luput untuk dikerjakan, bahkan kuantitasnya lebih banyak dari biasanya. Ayat-ayat Al-Qur&#8217;an senantiasa ia lantunkan di hampir sebagian besar waktu yang ada. Zakat, infaq, shodaqoh dan apalah namanya seakan-akan sudah menjadi kebiasaan yang sulit ditinggalkan. Intinya pagi, siang, sore, malam dan dini hari penuh dengan suasana ibadah. Tetapi ada juga sebagian dari kita yang kurang begitu bersemangat meskipun ia tahu akan keistimewaan Ramadhan. Hal ini karena jiwanya masih diliputi dengan hawa nafsu, masih banyak kemaksiyatan2 yang secara nyata ia lakukan. Hatinya ternoda, sakit bahkan mati, (na&#8217;udzubillah). Sehingga amat wajar kita lihat pemandangan yang ironis, di jalan2 masih banyak yang tidak puasa, diskotik masih ramai, dsb. </p>
	<p>Yach&#8230; itulah kondisi kita (atau lebih enaknya dibilang kondisi bangsa kita). Apapun kondisi kita saat Ramadhan, pastinya ada hal-hal yang membekas di hati kita. Banyak hal yang patut kita kenang untuk diambil pelajaran (ibroh). Jika kenangan itu baik, bisa memotivasi kita untuk terus mempertahankannya, bukan sebaliknya membuat kita angkuh, sombong dan merasa hebat, bersih, suci dan gak punya dosa. Jika kenangan itu jelek, bisa kita jadikan media pemacu untuk lebih memperbaiki diri di kehidupan yang akan datang sepanjang usia kita. </p>
	<p>Saya katakan membawa berbagai harapan, karena setelah Ramadhan kita sepantasnya senantiasa harap-harap cemas, jangan-jangan ibadah kita selama satu bulan Ramadhan tidak diterima olehNYA. na&#8217;udzubillah min dzalik. Kita juga berharap  agar dipertemukan kembali oleh Allah dengan Ramadhan tahun depan. Juga kita bisa meningkatkan amal ibadah di bulan-bulan lain di luar Ramadhan. Dan pada akhirnya  harapan kita yang paling besar setelah Ramadhan adalah kita bisa menuai janji Allah bagi orang2 yang berpuasa, yaitu bisa meraih kebahagian melihat wajah Allah kelak di akhirat. Rasulullah bersadda, <em>&#8220;Bagi orang yang berpuasa ada dua kegembiraan yang dirasakannya. Yaitu, apabila berbuka, ia bergembira; dan apabila ia bertemu dengan Tuhannya, ia bergembira karena puasanya itu&#8221; </em>HR. Bukhori, No.922</p>
	<p>Saudaraku&#8230;.<br />
Saat ini, di bulan syawwal merupakan awal bagi kita mempraktekkan hasil tarbiyah selama satu bulan. Selama itu kita telah dididik untuk menahan hawa nafsu yang mungkin selama ini kita puja. Nafsu makan, minum dan seksual kita coba kendalikan agar nilai-nilai ruhiyah bisa mengisi hati kita. Tidak hanya itu, selama Ramadhan kita juga dituntut untuk menjaga ucapan, manjaga pandangan, menjaga pendengaran dari perbuatan2 kotor dan nista.  Maka kini saatnya kita menggunakan hasil tarbiyah tersebut sebagai bekal untuk perjalanan kita sebelas bulan yang akan datang. </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://multazimah.blogsome.com/2007/11/03/kenangan-dan-harapan/feed/</wfw:commentRss>
	</item>
		<item>
		<title>Selamat Idul Fitri 1428 H</title>
		<link>http://multazimah.blogsome.com/2007/10/08/selamat-idul-fitri-1428-h/</link>
		<comments>http://multazimah.blogsome.com/2007/10/08/selamat-idul-fitri-1428-h/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 08 Oct 2007 09:05:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>multazimah</dc:creator>
		
	<category>uncategorized</category>
		<guid>http://multazimah.blogsome.com/2007/10/08/selamat-idul-fitri-1428-h/</guid>
		<description><![CDATA[	
	
	KELUARGA BESAR
multazimah.blogsome.com
mengucapkan
Selamat Idul Fitri 1428H
***
‘Iidun sa’iid,
kullu ‘aamin wa antum bikhoir,
Taqobbal Allohu minna wa minkum,
Shiyamanaa wa shiyamakum,
Qiyaamanaa wa qiyaamakum,
Tilawatanaa wa tilawatakum,
Kulla &#8216;ibadatinaa wa &#8216;ibadatikum,
Minal ‘aidin wal faizin wal maqbulin
###
Selamat Idul Fitri,
semoga sepanjang tahun Anda dalam kebaikan,
Semoga Alloh menerima (ibadah) kami dan kamu semua,
menerima puasa kami dan puasa kamu semua,
menerima sholat malam kami dan sholat malam kalian [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[	<p align='center'><img src=http://www.islamic-council.com/quran/image/1_001.gif /></p>
	</p>
	<p align='center'>KELUARGA BESAR<br />
<strong><a href="http://multazimah.blogsome.com/">multazimah.blogsome.com</a></strong><br />
mengucapkan<br />
<strong>Selamat Idul Fitri 1428H</strong><a id="more-81"></a><br />
***<br />
<strong>‘Iidun sa’iid,<br />
kullu ‘aamin wa antum bikhoir,<br />
Taqobbal Allohu minna wa minkum,<br />
Shiyamanaa wa shiyamakum,<br />
Qiyaamanaa wa qiyaamakum,<br />
Tilawatanaa wa tilawatakum,<br />
Kulla &#8216;ibadatinaa wa &#8216;ibadatikum,<br />
Minal ‘aidin wal faizin wal maqbulin</strong><br />
###<br />
<em>Selamat Idul Fitri,<br />
semoga sepanjang tahun Anda dalam kebaikan,<br />
Semoga Alloh menerima (ibadah) kami dan kamu semua,<br />
menerima puasa kami dan puasa kamu semua,<br />
menerima sholat malam kami dan sholat malam kalian semua,<br />
menerima tilawah qur&#8217;an kami dan tilawah qur&#8217;an kamu semua,<br />
menerima semua ibadah kami dan ibadah kalian semua,<br />
Dan semoga kita termasuk orang yang kembali (kepada fitroh), orang yang mendapat kebahagiaan dan orang yang terkabulkan (do’anya).<br />
</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://multazimah.blogsome.com/2007/10/08/selamat-idul-fitri-1428-h/feed/</wfw:commentRss>
	</item>
		<item>
		<title>Ramadhan, adakah bekasnya???</title>
		<link>http://multazimah.blogsome.com/2007/10/08/ramadahan-adakah-bekasnya/</link>
		<comments>http://multazimah.blogsome.com/2007/10/08/ramadahan-adakah-bekasnya/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 08 Oct 2007 08:55:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>multazimah</dc:creator>
		
	<category>Dakwah</category>
		<guid>http://multazimah.blogsome.com/2007/10/08/ramadahan-adakah-bekasnya/</guid>
		<description><![CDATA[	Setiap ibadah, jika dilakukan dengan sungguh-sungguh pasti akan membuahkan dampak positif baik bagi diri maupun orang lain. Dampak positif bagi diri sendiri adalah semakin meningkatnya kedekatan kita kepada Alloh swt. Sedangkan dampak bagi orang lain adalah semakin adanya rasa aman bagi manusia lain karena keberadaan kita. Rasanya kita sangat bernilai di hadapan manusia lain. Dimana [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[	<p>Setiap ibadah, jika dilakukan dengan sungguh-sungguh pasti akan membuahkan dampak positif baik bagi diri maupun orang lain. Dampak positif bagi diri sendiri adalah semakin meningkatnya kedekatan kita kepada Alloh swt. Sedangkan dampak bagi orang lain adalah semakin adanya rasa aman bagi manusia lain karena keberadaan kita. Rasanya kita sangat bernilai di hadapan manusia lain. Dimana pun kita berada kita senantiasa bermanfaat bagi manusia lain. <a id="more-80"></a> Abdullah bin Umar r.a. berkata bahwa Nabi saw bersabda, &#8220;Orang Islam itu adalah orang yang orang-orang Islam lainnya merasa selamat dari lidah dan tangannya; dan orang yang berhijrah (muhajir) adalah orang yang meninggalkan apa yang dilarang oleh Allah” (HR Bukhori).<br />
Demikian halnya seharusnya dengan ibadah puasa yang telah kita laksanakan. Ibadah puasa kita dikatakan sukses jika bisa memberikan manfaat bagi diri dan lingkungan sekitar. Di bulan syawal ini, setidaknya kita sudah mulai mengetahui dampak dari ibadah puasa yang telah kita laksanakan. </p>
	<p><strong>Tradisi Idul Fitri di Indonesia</strong><br />
Syawal merupakan awal kita menapak kehidupan setelah melaksanakan ibadah puasa Ramadhan. Di bulan kemenangan ini ummat Islam Indonesia melakukan kebiasaan / tradisi yang tidak dapat dipisahkan dengan Idul Fitri. Sehingga dalam masyarakat muncul beberapa tradisi penting yang sangat erat kaitannya dengan rangkaian idul fitri. Tradisi tersebut diberi nama dengan istilah-istilah yang berbeda, meskipun sebagian masyarakat menganggapnya sama. Adapun istilah-istilah tersebut antara lain:</p>
	<p><strong>1. Lebaran</strong><br />
Istilah lebaran muncul dari golongan Islam abangan, yaitu golongan yang secara dejure beragama Islam tetapi secara defacto mereka tidak ber-Islam atau istilah populernya Islam KTP. Mereka mentradisikan istilah ini dengan berbagai aktifitas yang muluk-muluk. Acara-acara yang dilakukan adalah sesuatu yang bernuansa pelampiasan nafsu belaka. Karena mereka selama bulan puasa merasa telah terbelenggu, terkekang, tertekan bahkan terpaksa dan merasa tidak bisa berbuat apa-apa sehingga inginnya bulan puasa cepat selesai/lebar/bubar. Dengan demikian bisa dibayangkan betapa senangnya saat lebaran tiba. Tingkahnya laksana seorang narapidana yang menginginkan cepat bebas dari penjara.<br />
Itulah gambaran orang-orang yang melaksanakan puasa tidak dengan sungguh-sungguh, sehingga mereka tidak mempunyai target Ramadhan. Mereka tidak bisa memahami makna idul fitri secara benar. Yang penting mereka senang karena banyak makan, dapat uang banyak dari para famili, baju baru dan bisa berkunjung ke tempat-tempat wisata, sehingga tidak heran saat lebaran tempat yang paling ramai adalah kebun binatang, museum, pantai, mal, dan objek wisata lainnya</p>
	<p><strong>2. Halal bihalal</strong><br />
Tradisi ini muncul dari “sebagian orang islam” yang menyadari akan pentingnya hablum minan naas disamping hablum minalloh, meskipun dalam prakteknya sering terjadi penyimpangan. Mereka memanfaatkan moment idul fitri sebagai sarana merekatkan ukhuwah diantara sesama muslim. Kebanyakan tradisi ini dilakukan dengan acara jabat tangan/salam-salaman baik bersama-sama dalam satu acara besar ataupun antara individu secara bergilir dari rumah ke rumah..<br />
Dalam kenyataan dilapangan, ternyata ada berbagai cara mereka melakukan proses jabat tangan. Bagi muslim tradisional yang notabene masyarakat timur yang mendukung tradisi ketimuran, mereka sangat malu untuk berjabat tangan dengan lawan jenis yang bukan muhrimnya karena dianggap menyalahi adat dan tradisi. Demikian halnya dengan muslim yang berusaha islam, mereka cenderung menahan untuk berjabat tangan  dengan lawan jenis karena takut dosa, maksiat dan ancaman Alloh swt. Tetapi bagi muslim modern, mereka cenderung  berbaur antar putra dan putri, terkadang berdesak-desakan untuk saling berjabat tangan. Bahkan tidak hanya jabat tangan, ada yang saling cium pipi, berpelukan dsb, padahal mereka bukan muhrim, na’udzubillah. Yang manakah Anda???</p>
	<p><strong>3. Syawwalan</strong><br />
Istilah syawalan pada awalnya muncul dari sebagian kecil golongan yang berusaha keras mencapai target Ramadhan yaitu peningkatan iman dan taqwa setelah mereka berpuasa. Tanggal 2 s.d. 7 syawal mereka melaksanakan puasa syawal tanpa mau diganggu sehingga selama itu mereka menutup pintu. Baru setelah itu mereka merayakan acara syawalan.  Acara tersebut dimaksudkan untuk menyambung idul fitri yang telah lalu. Biasanya,  acara tersebut diisi dengan pengajian sekaligus wahana silaturohim bagi mereka yang tidak bisa bertemu pada hari raya idul fitri tanggal 1 syawwal.<br />
Jadi, sebenarnya acara syawalan hanya khusus bagi mereka yang telah menunaikan puasa sunnah 6 hari di bulan syawwal. Karena acara tersebut dimaksudkan sebagai hari raya yang mereka rayakan setelah berpuasa syawwal. Maka dari itu bagi mereka yang belum/tidak melaksanakan puasa syawwal, tidak berhak baginya merayakan syawwalan<br />
***</p>
	<p>Dari uraian di atas, kita dapat memahami bahwa istilah lebaran, syawalan dan halal bi halal sebenarnya mempunyai makna dan essensi yang berbeda. Tetapi sebagian besar masyarakat Indonesia menganggapnya sama—tidak ada perbedaan diantara ketiganya. Yang jelas, tradisi-tradisi tersebut tidak dapat dipisahkan dengan acara hari raya  idul fitri. Sebenarnya idul fitri itu sangat sederhana sekali. Tetapi kebanyakan kita menganggapnya sebagai suatu hari raya yang harus mewah bahkan disakrarkan. Sehingga tradisi mudik idul fitri dianggap sebagai suatu keharusan.<br />
Seharusnya tidak demikian, essensi dari idul fitri ada 2 hal, yaitu (1) pengungkapan rasa syukur bagi umat Islam yang berhasil dalam training Ramadhan dan (2) wahana saling mendo’akan diantara umat Islam agar ibadah yang telah dilaksanakan diterima disisi Alloh swt. Sehingga saat idul fitri kita tidak asing lagi dengan ucapan do’a sbb:<br />
<strong>‘Iidun sa’iid(un), kullu ‘aamin wa antum bikhoir(in),<br />
Taqobbal Allohu minna wa minkum,<br />
Minal ‘aidin wal faizin wal maqbulin(a).</strong><br />
Artinya:<br />
<em>Selamat Idul Fitri, semoga sepanjang tahun Anda dalam kebaikan,<br />
Semoga Alloh menerima (ibadah) kami dan kamu semua,<br />
Dan semoga kita termasuk orang yang kembali (kepada fitroh), orang yang mendapat kebahagiaan dan orang yang terkabulkan (do’anya).</em></p>
	<p>Sebenarnya ada nuansa yang sangat dalam dan indah pada kalimat tersebut. Suatu do’a yang sempurna untuk kita tujukan kepada Dzat Yang Maha Sempurna. Bukan sekedar ucapan rutinitas idul fitri yang tanpa makna. Bahkan sudah membudaya, setiap orang Islam bertemu dengan Saudaranya selalu mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Fitri, Minal ‘aidin wal faizin (mohon maaf lahir dan batin). Padahal sebenarnya tidak sedangkal itu makna kalimat yang kita ucapkan. Memang itu tidak salah, tetapi alangkah indahnya disamping mohon maaf dan memaafkan kita juga mendo’kan Saudara kita yang baru selesai menunaikan ibadah puasa dan rangkaiannya.</p>
	<p>Perlu diketahui bahwa tradisi idul firi seperti yang kita lakukan di Indonesia tidak pernah dilakukan oleh Rasul dan para sahabat. Itu adalah murni tradisi yang muncul sebagai produk budaya masyarakat. Karena sifatnya baru, maka kita harus pandai-pandai mensikapinya jangan sampai terjebak dalam bid’ah yang dholalah. </p>
	<p><strong>Atsar Ramadhan</strong><br />
Jika ibadah puasa kita laksanakkan dengan kesungguhan hati maka setidaknya akan ada atsar/bekas yang kita dapati setelah Ramadhan. Adapun atsar ramadhan yang setidaknya ada adalah sbb:</p>
	<p><strong>1.Takbir</strong><br />
Takbir berarti pengagungan dengan sangat kepada Alloh swt. Atau dengan kata lain takbir adalah suatu ungkapan keyakinan kita bahwa Alloh adalah satu-satunya zat yang pantas disembah. Tuhan yang esa yang menciptakan kita dari ketiadaan.<br />
Semestinya, di bulan syawal ini kita semakin menyadari akan kebesaran Alloh dan menyadari bahwa kita adalah makhluk-Nya yang sangat lemah (dho’if). Tanpa hidayah dan inayah dari alloh kita tidak bisa sedikitpun memperoleh kebahagiaan, baik dunia maupun akhirat.<br />
Ibadah puasa yang telah kita laksanakan telah melatih kita untuk mentauhidkan Alloh dalam setiap ibadah. Kita tidak beradi makan, minum, bersetubuh di siang hari dan hal-hal yang membatalkan dan merusak puasa karena ada keyakinan bahwa kita diawasi Alloh. Alloh senantiasa melihat kita di manapun kita berada. Sehingga ibadah kita di bulan itu bisa ikhlas, jauh dari kesyirikan.<br />
Maka dari itu, dengan bekal Ramadhan kita coba untuk menerapkan aktivitas-aktivitas ke dalam bulan-bulan lain di luar Ramadhan. Di mulai dengan kalimat takbir mari kita tingkatkan kualitas dan kuantitas ibadah kita.</p>
	<p><strong>2.Zakat/shodaqoh</strong><br />
Jika diakhir Ramadhan kita diwajibkan untuk mengeluarkan zakat fitrah untuk mensucikan diri, maka di bulan-bulan lain&#8211;di luar Ramadhan—kita hendaknya juga memelihara amalan zakat kita tersebut. Yaitu dengan memperbanyak shodaqoh pada setiap kesempatan, bukan hanya di bulan Ramadhan. </p>
	<p>Ada beberapa bentuk shodaqoh yang utama, yaitu:<br />
1.Shodaqoh sirriyah<br />
Yaitu shodaqoh yang dilakukan secara sembunyi-sembunyi. Shodaqoh ini sangat utama karenalebih mendekati ikhlas dan selamat dari sifat pamer. (QS.2:271)1<br />
2.Shodaqoh dalam kondisi sehat (HR. Bukhori dan Muslim)2<br />
3.Shodaqoh setelah kebutuhan wajib terpenuhi (QS.2:219)3,(HR Bukhory)4<br />
4.Shodaqoh dengan kemampuan maksimal (HR Abu Dawud)5; (HR An-Nasai, Shohihul jami’)6<br />
5.Menafkahi anak Istri (HR Bukhory dan Muslim)7; (HR Muslim)8<br />
6.Shodaqoh kepada kerabat (QS.90:13-16)9; (HR Ahmad, an-Nasai, At-Tirmidzi dan Ibnu Majah)10; (HR Ahmad, Abu Dawud dan At-Tirmidzi)11<br />
7.Shodaqoh kepada tetangga (HR Muslim)12<br />
8. Shodaqoh kepada temaan di jalan alloh (HR Muslim)13<br />
9. Berinfaq untuk perjuangan di jalan Alloh (QS 9:41)14; (QS 49:15)15; (HR Bukhory dan Muslim)16<br />
10. Shodaqoh jariyah (HR Muslim)17</p>
	<p><strong>3. Sholat iedul fitri</strong><br />
Sholat idul fitri hukumnya sunnah muakkad—sunnah yang dikuatkan. Rasulullah menuntunkan pelaksanaannya secara berjamaah di tempat terbuka (lapangan). Hal ini dimaksudkan agar syiar Islam terlihat dalam masyarakat.<br />
Disunahkan pula dalam berangkat sholat Ied kita hendaknya mengambil jalan yang berbeda pada saat berangkat dan pulang. Salah satu hikmah dari ajaran ini adalah supaya kita bisa lebih banyak berjumpa dengan saudara-saudara kita sesama muslim dan saling mendoakannya. </p>
	<p><strong>4. Silaturohim</strong><br />
Islam menuntun seorang mukmin untuk menjunjung tinggi ikatan keluarga dan memandangnya sebagai upaya mencari perlindungan Alloh dari putusnya silaturohim. Dalam sebuah hadist riwayat Bukhori dan Muslim disebutkan bahwa silaturohim dapat melapangkan rizki dan memperpanjang usia18. Tidak hanya itu, silaturohim mempunyai berbagai keutamaan yang besar bagi terpeliharanya ukhuwwah islamiyyah.<br />
Alloh swt telah memerintahkan kepada hambanya untuk senantiasa berbuat baik kepada kedua orang tua,karib kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan yang jauh, teman sejawat orang yang dalam perjalanan dan hamba sahaya19. Jadi silaturohim tidak hanya kita tujukan kepada saudara kita yang kaya saja tetapi untuk seluruh saudara kita tanpa pandang bulu. Tetapi kita sering melupakan hal tersebut.<br />
Saat idul fitri/lebaran, yang rame adalah rumah-rumah orang kaya, para pejabat dkk. yang banyak makanannya. Sedangkan rumah-rumah si miskin, panti asuhan dsj. sangat sepi dari nuansa silaturohim. Inilah yang perlu kita rekronstruksi. Nuansa silaturohim harus sebisa mungkin dapat dirasakan oleh saudara-saudara kita yang secara ekonomi hidup di bawah rata-rata.<br />
Begitu pentingnya silaturohim ini sehingga Rasulullah sangat membenci orang yang memutuskan tali silaturohim. Bahkan Beliau mengabarkan bahwa mereka (orang yang memutuskan tali silaturohim) tidak akan masuk surga. Rasulullah saw bersabda, Seseorang yang memutuskan tali silaturohim tidak akan masuk surga (HR Bukhori dan Muslim)</p>
	<p><strong>Peningkatan ibadah setelah Ramadhan</strong><br />
Sebagaimana telah kita ketahui bahwa Ramadhan adalah suatu bentuk training(riyadhoh) terhadap diri kita agar semakin handal dalam menghadapi musuh-musuh/lawan kita dalam kehidupan. Yang namanya riyadhoh pasti akan mengantarkan orangnya menuju yang lebih baik dari sebelumnya atau denngan kata lain ada peningkatan kapabilitas dan kualitas diri</p>
	<p>Setelah proses latihan kita lakukan maka langkah selanjutnya adalah terjun ke arena untuk bertempur. Syawwal merupakan medan  awal yang harus kita lalui. Disana banyak musuh-musuh kita yang sangat ganas karena selama Ramadhan mereka dibelenggu. Di bulan syawwal ini mereka melampiaskan kemarahannya untuk menggoda kita. Mampukah kita menghadapinya? </p>
	<p>Dengan semangat Ramadhan, seharusnya kita sudah siap menghadapinya. Kita punya  senjata yang telah kita asah selama sebulan penuh yaitu sabar, ikhlas, jujur, rendah hati dan sebagainya. Tetapi perlu diingat bahwa musuh-musuh kita  pun mempunyai senjata yang sangat handal untuk menggoda kita. Senjata mereka itu berupa sombong, iri, dengki, hasad, takabur, dusta dsb. Maka dari itu hendaknya kita bisa meningkatkan penghambaan kepada Alloh swt. Jangan sampai kita terlena oleh bisikan musuh kita yang senantiasa menyeru kepada kemaksiatan dan kedurhakaan.<br />
Ada 2 point besar yang menjadi target peningkatan kita yaitu: (QS. 3:112)20<br />
1. Hablum minalloh ikhlas, benar, ihsan, kholifatulloh<br />
2. Hablum minan naas (QS. 3:133-135)21<br />
- Dermawan, sabar – tidak mudah marah, pemaaf, sensitif terhadap penyimpangan pada diri</p>
	<p>Note:<br />
1. Jika kamu menampakkan sedekahmu, maka itu adalah baik sekali. Dan jika kamu menyembunyikannya dan kamu berikan kepada orang-orang fakir, maka menyembunyikan itu lebih baik bagimu. Dan Alloh akan menghapuskan dari kamu kesalahan-kesalahanmu, dan Alloh mengetahui apa yang kamu kerakan (QS.Al-Baqoroh[2]:271)</p>
	<p>2. Shadaqoh yang palinh utama adalah engkau bershadaqoh ketika dalam keadaan sehat dan bugar, ketika engkau menginginkan kekayaan melimpah dan takut fakir. Maka jangan kau tunda sehingga ketika ruh sampai tenggorokan baru kau katakan, “untuk fulan sekian, untuk fulanah sekian” (HR. Bukhori dan Muslim)</p>
	<p>3.  Mereka bertanya kepadamu tentang khamar dan judi. Katakanlah: &#8220;Pada keduanya itu terdapat dosa besar dan beberapa manfaat bagi manusia, tetapi dosa keduanya lebih besar dari manfaatnya&#8221;. Dan mereka bertanya kepadamu apa yang mereka nafkahkan. Katakanlah: &#8220;Yang lebih dari keperluan.&#8221; Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu supaya kamu berpikir, (QS.Al-Baqoroh[2]:219)</p>
	<p>4. Tidak ada shodaqoh kecuali setelah kebutuhan wajib terpenuhi (HR Bukhori)</p>
	<p>5. Shadaqoh yang paling utama adalah (infak) maksimal orang yang tak punya (HR Abu Dawud)</p>
	<p>6. Rasul bersabda: Satu dirham telah mengalahkan seratus ribu dirham. Sahabat bertanya: Bagaimana itu terjadi wahai Rasulullah? Beliau menjawab, “Ada seorang yang hanya mempunyai 2 dirham lalu dia bersedekah dengan salah satu dari 2 dirham itu. Dan ada seorang yang mendatangi hartanya yang sangat melimpah ruah, lalu mengambil seratus ribu dirham dan bersedekah dengannya (HR An-Nasai, Shohihul jami’)</p>
	<p>7. Seorang apabila menafkahi keluarganyadengan mengharapkan pahalanya maka dia mendapatkan pahala sedekah (HR Bukhory dan Muslim)</p>
	<p>8. Ada 4 dinar; satu dinar engkau berikan kepada orang miskin, satu dinar engkau berikan untuk memerdekakan budak, satu dinar engkau infakkan fisabilillah dan satu dinar engkau belanjakan untuk keluargamu. Dinar yang paling utama adalah yang engkau nafkahkan untuk keluargamu (HR Muslim)</p>
	<p>9.  (yaitu) melepaskan budak dari perbudakan, atau memberi makan pada hari kelaparan, (kepada) anak yatim yang ada hubungan kerabat, atau orang miskin yang sangat fakir. (QS Al Balad[90]:13-16)</p>
	<p>10. Bersedekah kepada orang miskin adalah sedekah saja, sedangkan jika kepada kerabat maka ada 2 kebaikan yaitu, sedekah dan silaturohim (Ahmad, an-Nasai, At-Tirmidzi dan Ibnu Majah)</p>
	<p>11. Shadaqoh yang paling utama adalah kepada kepada kerabat yang memendam permusuhan (HR Ahmad, Abu Dawud dan At-Tirmidzi)</p>
	<p>12. Jika engkau memasak sop maka perbanyaklah kuahnya, lalu bagilah sebagiannya kepada tetanggamu (HR Muslim)</p>
	<p>13. Dinar yang paling utama adalah dinar yang dinafkahkan seorang untuk keluarganya, dinar yang dinafkahkan seorang untuk kendaraannyan (yang digunakan) di jalan Alloh dan dinar yang dinafkahkan seorang kepada temannya fi sabilillah azza wa jalla (HR Muslim)</p>
	<p>14. Berangkatlah kamu baik dalam keadaan merasa ringan atau pun merasa berat, dan berjihadlah dengan harta dan dirimu di jalan Allah. Yang demikian itu adalah lebih baik bagimu jika kamu mengetahui. (QS At Taubah[9]:41)</p>
	<p>15. Sesungguhnya orang-orang yang beriman hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjihad dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah, mereka itulah orang-orang yang benar. (QS Al Hujurat[49]:15)</p>
	<p>16. Barang siapa mempersiapkan (membekali dan mempersenjatai) seorang yang berperang maka dia telah ikut berperang (HR Bukhori dan Muslim)</p>
	<p>17. Jika manusia meninggal maka terputuslah amalnya kecuali tiga hal: shodaqoh jariyah, ilmu yang bermanfaat dan anak sholih yang mendo’akannya (HR Muslim)</p>
	<p>18. Barang siapa ingin ingin dilapangkan rizqi dan dipanjangkan umurnya, hendaklah ia menjalin silaturohimm (HR Bukhori dan muslim)</p>
	<p>19. Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapak, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri (QS An-Nisa’[4]:36)</p>
	<p>20. Mereka diliputi kehinaan di mana saja mereka berada, kecuali jika mereka berpegang kepada tali (agama) Alloh dan kepada tali (perjanjian )dengan manusia, dan mereka kembali mendapat kemurkaan dari Alloh dan mereka diliputi kerendahan. Yang demikian itu karena mereka kafir kepada ayat-ayat Aloh dan membunuh para nabi tanpa alasan yang benar. Yang demikian itu disebabkan mereka durhaka dan melampaui batas (QS.Ali Imron[3]:112)</p>
	<p>21. Dan bersegeralah kepada ampunan dari tuhan kamu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumu yang disediakan untuk orang-orang yang bertaqwa.(yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya) di waktu lapang maupun sempit dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang lain. Dan Alloh menyukai orang-orang yang berbuat kebaikan (QS.Ali Imron[3]:133-135)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://multazimah.blogsome.com/2007/10/08/ramadahan-adakah-bekasnya/feed/</wfw:commentRss>
	</item>
		<item>
		<title>Bersedia&#8230;.. SIAP&#8230;&#8230; !!!</title>
		<link>http://multazimah.blogsome.com/2007/08/03/persiapan-ramadhan/</link>
		<comments>http://multazimah.blogsome.com/2007/08/03/persiapan-ramadhan/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 03 Aug 2007 10:47:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>multazimah</dc:creator>
		
	<category>Renungan</category>
		<guid>http://multazimah.blogsome.com/2007/08/03/persiapan-ramadhan/</guid>
		<description><![CDATA[	Assalamu&#8217;alaikum
	Alhamdulillah, segala puji hanyalah milik Allah, Tuhan seru sekalian alam. KepunyaanNya lah apa-apa yang ada di langit dan di bumi dan di antara keduanya. Subhanallah, hanya Dialah Tuhan yang esa, Tuhan tempat bergantung, Tuhan yang tidak beranak dan diperanakkan, dan tidak ada suatupun yang serupa denganNya. Maka mari kita sadar tidak pantas sedikitpun pujian bagi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[	<p>Assalamu&#8217;alaikum</p>
	<p>Alhamdulillah, segala puji hanyalah milik Allah, Tuhan seru sekalian alam. KepunyaanNya lah apa-apa yang ada di langit dan di bumi dan di antara keduanya. Subhanallah, hanya Dialah Tuhan yang esa, Tuhan tempat bergantung, Tuhan yang tidak beranak dan diperanakkan, dan tidak ada suatupun yang serupa denganNya. Maka mari kita sadar tidak pantas sedikitpun pujian bagi kita hamba yang amat sangat lemah. <a id="more-78"></a></p>
	<p>Sholawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW, khotamul anbiya wal mursaliin. Sosok pemimpin sejati, yang namanya akan dikenang sepanjang masa. Sosok manusia mulia yang maksum, bebas dari segala dosa dan kesalahan. Sosok manusia yang akhlaqnya adalah Al-Qur&#8217;an.</p>
	<p>Saudaraku<br />
multazim/multazimah sejati&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;..<br />
Dah lama ya ane gak update my blog,&#8230;.. Bukan apa-apa sich, hanya sedikit ada &#8220;kesibukan&#8221; kantor atau kalo gak pantes dibilang &#8220;kesibukan&#8221; ya boleh dibilang disibuk-sibukkan biar keliatan kayak &#8220;orang-orang&#8221; hehehehe&#8230;&#8230; Apapun kondisi kita, dimanapun kita dan dengan siapapun kita saat ini pastinya kita tetap pada komitmen (iltizam) dalam berIslam, OK. So that predikat multazim atau multazimah tetep kita sandang bener-bener sesuai dengan keadaan kita, gak cuman ngaku-ngaku multazim/multazimah padahal sangat jauh dari kenyataan.</p>
	<p>Saudara&#8230;..<br />
O ya, sebentar lagi kita memasuki bulan Ramadhan lho. Sudahkah kita mempersiapkan diri kita??? Atau masih nyante-nyante aja? Kupikir kalau dirimu benar-benar multazim/multazimah sejati, pasti sudah bersedia&#8230;. siap&#8230;&#8230; tinggal nunggu yak&#8230;! Trus apa aja yang harus kita siapin? </p>
	<p>Tapi sebelum itu&#8230;&#8230;baiknya kita ingat terlebih dulu bulan Rajab. Di mana pada bulan itu telah terjadi peristiwa yang amat sangat bersejarah dalam Islam. Peristiwa Isro&#8217; Mi&#8217;Roj Nabiullah Muhammad SAW, suatu peristiwa yang telah memantapkan keimanan orang-orang yang beriman sehingga iman mereka semakin kuat dan mantap, telah meragukan keyakinan orang-orang kafir terhadap ajaran Muhammas SAW sehingga kekafiran mereka semakin menjadi juga telah membuat banyak orang yang ragu-ragu antara membenarkan dan mendustakan. Dan inilah yang banyak jumlahnya. Dengan peristiwa itu pula Abu Bakar ra mendapat gelar As-Shiddiiq, Abu Jahal dan Abu Lahab semakin nyata kekafirannya sampai-sampai menuduh Muhammad sebagai orang gila yang senantiasa mengada-ada. Tidak cukup sampai di situ, orang-orang kafir semakin gila-gilaan menentang dakwah Muhammad dan para sahabatnya. Juga muncul Musailamah dengan predikat kondangnya Al-Kadzdzab.</p>
	<p>Disadari atau tidak, ketiga kelompok manusia di atas adlah cerminan dari manusia yang ada saat ini. Manusia yang imannya kokoh seperti Abu Bakar, dan manusia yang sangat nyata kekafirannya seperti Abu Jahal mungkin boleh di bilang sedikit jumlahnya. Tetapi manusia yang selalu ragu-ragu dan bimbang antara iman dan kafir justru jumlahnya amat banyak.  Banyak manusia yang sholat juga suka datang ke dukun dan tukang ramal. Bahkan perdukunan, ramalan, undian telah secara terang-terangan diekspos di berbagai media massa seperti majalah, surat kabar, radio, televisi dsb. Banyak manusia yang mencampuradukkan antara yang haq dengan yang bathil, padahal Allah telah menguingatkan; <em>Wa laa talbitsul haqq bil bathil</em></p>
	<p><em>&#8220;Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil haram ke Al Masjidil aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat&#8221;</em></p>
	<p>OK dech, tidak usah kita bahas lebih jauh tentang Peristiwa Isro&#8217; Mi&#8217;roj tersebut. Ada hal menarik yang patut kita renungkan, yaitu oleh-oleh Beliau berupa perintah sholat 5 waktu. Mengapa Allah memanggil langsung Nabi Muhamad ke Sidratul Muntaha Al Mustawa padahal perintah-perintah yang lain cukup melalui Malaikat Jibril seperti perintah puasa, zakat, jihad dll. Apa istimewanya?????? Antum pasti tau&#8230;..</p>
	<p>Iya, sholat&#8230;&#8230;.  Lima kali dalam sehari semalam kita diwajibkan untuk mendirikannya. Tidak bisa ditawar atau digantikan dengan yang lain. Apapun keadaan kita, dimanapun kita berada, sholat tetap harus didirikan. Tidak bisa dengan berdiri boleh dengan duduk. Tidak bisa dengan duduk boleh dengan berbaring. Tidak bisa dengan berbaring boleh dengan isyarat&#8230;&#8230;.. Hatta dalam keadaan perang dan ketakutan yang sangat pun sholat tetap tidak boleh ditinggalkan, hanya saja Allah memberikan keringanan (rukhshoh) pada kondisi-kondiri tertentu.</p>
	<p>Sungguh sangat ironi, banyak orang yang sangat paham akan pentingnya sholat, tetapi tidak sedikit dari mereka yang menyepelekan, bahkan dengan sengaja meninggalkannya tanpa ada sedikit rasa berdosa dan sesal, naudzubillahi min dzaalik. Dengan berbagai dalih dan alasan mereka mengelak dari perintah ini.</p>
	<p>Saya yakin, Saudara bukan termasuk diantara orang yang seperti mereka. Saudara adalah hamba yang komit menjaga, memelihara dan membumikan sholat dalam jiwa. Tapi jangan bangga dulu, banyak orang yang sholat tetapi dikatakan mereka celaka,<br />
<em>Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat,<br />
(yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya,<br />
orang-orang yang berbuat ria.<br />
dan enggan (menolong dengan) barang berguna </em><br />
QS. Al-Maa&#8217;uun: 4-7</p>
	<p>Mari kita renungkan, kita hisab diri kita masing-masing. Sudahkan kita mendirikannya dengan benar sesuai tuntunan Rasulullah? mau tau ilmunya, klik di sini <a href="http://multazimah.blogsome.com/2007/01/17/sholat//">Cara Nabi Sholat</a><br />
Sudahkan sholat menjadi bagian dari jiwa kita? </p>
	<p>Saudara&#8230;&#8230;<br />
Sebelumnya kita simak dulu yang satu ini,<br />
RAMADHAN adalah salah satu bulan yang sangat istimewa bagi umat Islam. Bulan yang senantiasa dinanti-nanti oleh jutaan umat islam di seluruh dunia. Karena di dalam bulan tersebut telah disyariatkan puasa yang merupakan salah satu rukun Islam yang lima.<br />
Ramadhan adalah bulan riyadhoh atau latihan untuk menempa diri agar menjadi pribadi muslim yang militan, yang senantiasa terhindar dari segala bentuk dosa dan maksiat. Menjadi pribadi muslim yang siap berjuang di medan dakwah dengan jiwa dan hartanya. Menjadi pribadi muslim yang peka terhadap sesama saudaranya. Menjadi pribadi muslim yang komitmen memegang teguh Islam secara kaffah. Menjadi pribadi muslim yang mendapat RidhoNya di dunia hingga akhirat.</p>
	<p>Saudara&#8230;..<br />
Kadang saya merasa prihatin, seolah-olah pribadi-pribadi muslim sejati seperti di atas tidak pernah kita jumpai. Padahal berkali-kali kita melewati Ramadhan. Tapi seolah tiada bekas sama sekali, Ramadhan hanya sekedar lewat tanpa makna. Mungkin secara lahir kita berpuasa tidak makan, tidak minum dan tidak berhubungan intim di siang hari. Tetapi semua itu hanya sekedar formalitas, hanya merubah jadwal makan, minum dan tidur. Benarkah?????? Mungkin saya salah&#8230;&#8230;</p>
	<p>Saudara&#8230;..<br />
Kita sendiri yang tau. Sudahkah kita berpuasa sesuai tuntunan Rasulullah? Adakah perubahan yang signifikan setelah kita berpuasa?<br />
Atau justru sebaliknya?<br />
Sudahkah kita semakin takut padaNya?<br />
Sudahkah kita bisa mengendalikan diri?<br />
Sudahkah kita mampu menahan marah?<br />
Sudahkah kita bisa mengendalikan hawa nafsu yang selalu marayu?<br />
Sudahkah kita respon terhadap saudara-saudara kita yang mengalami penderitaan, kelaparan dan terzholimi?<br />
Sudahkah kita merasa senantiasa dalam pengawasanNya?<br />
Sudahkah kita istiqomah dalam ibadah?<br />
Sudahkah kita menjaga ucapan dan perbuatan kita?<br />
Sudahkah kita disiplin dalam segala aktivitas?<br />
Sudahkah kita menjadi hamba yang sabar menghadapi segala bentuk ujian, cobaan dan rintangan?<br />
Sudahkah&#8230;&#8230;</p>
	<p>Saudara&#8230;..<br />
Semua nilai-nilai di atas adalah target dari Ramadhan. Mari bermuhasabah, kita hisab diri kita. Kalau nilai-nilai moral di atas belum ada pada diri kita, maka mari berjuang Ramadhan tahun ini kita bisa sukses.</p>
	<p>Saudara&#8230;..<br />
Ada beberapa hal yang mesti kita siapin untuk menghadapi proses pembakaran bulan Ramadhan,<br />
1. Persiapan ruhiyah<br />
2. Persiapan ilmiyah<br />
3. Persiapan jasadiyah<br />
4. Persiapan maaliyah</p>
	<p><a href="http://www.pkpu.or.id/imsyak/">Jadwal Ifthor wa Sahur Ramadhan 1428H</a></p>
	<p>Ma&#8217;a salamah</p>
	<p>Wassalamu&#8217;alikum</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://multazimah.blogsome.com/2007/08/03/persiapan-ramadhan/feed/</wfw:commentRss>
	</item>
		<item>
		<title>Puasa Ramadhan</title>
		<link>http://multazimah.blogsome.com/2007/08/03/puasa-ramadhan/</link>
		<comments>http://multazimah.blogsome.com/2007/08/03/puasa-ramadhan/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 03 Aug 2007 00:14:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>multazimah</dc:creator>
		
	<category>Fiqh</category>
		<guid>http://multazimah.blogsome.com/2007/08/03/puasa-ramadhan/</guid>
		<description><![CDATA[	Definisi Puasa
Puasa menurut bahasa ialah menahan. Sedang puasa menurut syariat ialah menahan dengan niat ibadah dari makan, minum, hubungan suami istri dan semua hal yang membatalkannya sejak terbitnya fajar hingga terbenam matahari.
	Hukum Puasa Ramadhan
Hukum puasa Ramadhan adalah wajib, sebagaimana firman Allah ta’ala dalam QS Al-Baqarah[2]:183
Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[	<p><strong>Definisi Puasa</strong><br />
Puasa menurut bahasa ialah menahan. Sedang puasa menurut syariat ialah menahan dengan niat ibadah dari makan, minum, hubungan suami istri dan semua hal yang membatalkannya sejak terbitnya fajar hingga terbenam matahari.<a id="more-77"></a></p>
	<p><strong>Hukum Puasa Ramadhan</strong><br />
Hukum puasa Ramadhan adalah wajib, sebagaimana firman Allah ta’ala dalam QS Al-Baqarah[2]:183<br />
<em>Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa</em></p>
	<p><strong>Keutamaan Puasa Ramadhan</strong></p>
	<p>1. Menghapus dosa-dosa diantara 2 Ramadhan<br />
<em>Al-Sholawaatu al-khomsu wa al-jum’atu ilaa al-jum’ati wa ramadhoona ilaa ramadhoona mukaffiraatun limaa bainahunna inijtunibati al-kabaair</em><br />
Sholat lima waktu, sholat Jum’at ke sholat Jum’at berikutnya dan Ramadhan ke Ramadhan berikutnya itu menghapus dosa-dosa diantara keduanya selama dosa-dosa besar dijauhi. (HR.Muslim)</p>
	<p>2. Dosa-dosa yang telah silam terampuni<br />
<em>Man shooma ramadhoona iimaanan wahtisaaban ghufira lahuu maa taqoddama min dzanbih(i)</em><br />
Barang siapa berpuasa pada bulan Ramadhan karena iman dan ihtisaban (mengharapkan pahala) maka diampuni dosa-dosanya yang telah silam (HR.Bukhori-Muslim)</p>
	<p>3. Pada malam pertama bulan Ramadhan syetan-syetan dan jin-jin pembangkang dibelenggu, pintu-pintu neraka ditutup dan tidak ada satupun pintunya yang dibuka, pintu-pntu surga dibuka dan tidak ada satu pun pintunya yang ditutup dan penyeru berseru;  “Hai pencari kebaikan datanglah dan hai pencari keburukan berhentilah. Allah mempunyai orang-orang yang terbebas dari neraka dan itu terjadi pada setiap malam. (HR.At-Tirmidzi, Al-Hakim)</p>
	<p><strong>Mengawali dan Mengakhiri Bulan Ramadhan</strong></p>
	<p>1.Metode Ru’yah<br />
Metode Ru’yah adalah metode untuk mengetahui awal atau akhir bulan dengan melihat secara langsung bulan. Rasulullah bersabda:<br />
<em>Shuumuu liru’yatihi wa afthiruu liru’yatihi fa in ghumma ‘alaikum fa akmiluu ‘iddata  sya’baana tsalasiina yauman</em><br />
Berpuasalah kamu jika melihatnya (bulan) dan berbukalah jika melihaatnya, dan jika terhalang oleh awan maka genapkanlah bulan Sya’ban menjadi tiga puluh hari (HR.Bukhari-Muslim)</p>
	<p>2.Metode Hisab<br />
Metode hisab adalah metode untuk mengetahui awal dan akhir Ramadhan dengan menggunakan perhitungan berdasarkan keteraturan perjalanan bulan atau matahari. Allah Ta’alaa berfirman:<br />
<em>Dia-lah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya dan ditetapkan-Nya manzilah-manzilah (tempat-tempat) bagi perjalanan bulan itu, supaya kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan (waktu). Allah tidak menciptakan yang demikian itu melainkan dengan hak[669]. dia menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya) kepada orang-orang yang Mengetahui.</em></p>
	<p><strong>Yang Wajib Berpuasa</strong><br />
1. Muslim<br />
2. Baligh<br />
3. Berakal Sehat<br />
4. Sehat jasmani (tidak dalam keadaan sakit atau tua)<br />
5. Bukan musafir (pemukim)<br />
6. Bagi wanita, tidak dalam keadaan haidh, hamil, menyusui atau nifas<br />
7. Mengetahui datangnya bulan Ramadhan</p>
	<p><strong>Sahur</strong></p>
	<p>1. Sahur meskipun hanya dengan segelas air<br />
<em>As-Sahuuru barakatun falaa tada’uuhu walau an yajra’a ahadukum jar’ata maain, fainnallaaha wa malaaikatahuu yusholluuna ‘alaa al-musahhiriin</em><br />
Bersahur itu berkah, maka janganlah kamu tinggalkan walau seseorang diataramu itu hanya mereguk air karena Allah dan para Malaikat-Nya akan mengucapkan salawat pada orang-orang yang bersahur (HR Ahmad)</p>
	<p>2.Mengakhirkan sahur<br />
Kaana ashhabu muhammadin SAW a’ajala an-naasi iftoaron wa abthoahum sahuuron<br />
Para sahabat Nabi Muhammad SAW adalah orang-orang yang paling segera berbukanya dan paling akhir sahurnya (HR Baihaqi dengan sanad yang sah)</p>
	<p>3. Jarak sahur dengan adzan Subuh<br />
Tasahharnaa ma’a rosulullah saw tsumma qumnaa ilaa as-Sholaati qultu; kam kaana qodrumaa bainahuma? Qoola; khomsiina aayatan.<br />
Kami makan sahur bersama Rasulullah saw, lalu kami berdiri untuk melakukan sholat. Saya tanyakan; “Berapa kira-kira jarak antara keduanya?” Ujar Nabi: “Lima puluh ayat” (HR Bukhari-Muslim)</p>
	<p>Sebagian kaum muslimin memberi nama jarak antara sahur dengan sholat Subuh dengan istilah imsak yang berarti berjaga-jaga. Tidak tepat pendapat sebagian kaum muslimin yang mengatakan bahwa imsak itu bid’ah. Rasulullah saw juga berjaga-jaga (imsak) dengan menghentikan sahur kira-kira lima puluh ayat dari adzan Shubuh.<br />
Juga tidak tepat pendapat sebagan kaum muslimin yang menyatakan terlarang untuk makan bagi orang yang berpuasa (<em>shooimiin</em>) ketika sudah masuk imsak. Ketika masuk waktu imsak masih diperbolehkan makan dan minum.<br />
Yang tepat adalah, ketika jarak waktu sahur dan shalat Subuh kira-kira lima puluh ayat, sebaiknya sudah menghentikan sahurnya dan bersiap-siap untuk mendirikan sholat Subuh.</p>
	<p><strong>Rukun Puasa</strong></p>
	<p>1. Berniat<br />
Perbedaan antara puasa Ramahan dengan puasa sunnah diantaranya adalah dalam maslah niat. Untuk puasa Ramadahan, seseorang suadah harus membulatkan niat puasa sebelum fajar, sedangkan untuk puasa sunnah, seseorang boleh berniat puasa setelah fajar. Rasulullah SAW bersabda:<br />
Man lam yujmi’i as-shiyaama qobla al-fajri falaa shiyaama lahuu<br />
Barang siapa tidak membulatkan niat puasanya sebelum fajar, maka tidak sah puasanya (HR Ahmad dan ash-habus Sunan, Ibnu Khuzaimah dan Ibnu Hibban)</p>
	<p>2. Menahan diri<br />
Yang dimaksud menahan diri adalah menahan dari segala sesuatu yang membatalkan puasa dimulai dari terbit fajar (adzan Subuh) sampai Maghrib. Allah ta’ala> berfirman dalam QS.Al-Baqarah[2]:187<br />
<em>….. Maka sekarang campurilah mereka dan ikutilah apa yang Telah ditetapkan Allah untukmu, dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam, (tetapi) janganlah kamu campuri mereka itu, sedang kamu beri&#8217;tikaf[115] dalam mesjid. Itulah larangan Allah, Maka janganlah kamu mendekatinya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada manusia, supaya mereka bertakwa.</em></p>
	<p><strong>Yang Membatalkan Puasa</strong><br />
1. Makan dan minum dengan sengaja<br />
2. Memasukkan sesuatu dalam perut lewat saluran pencernaan<br />
3. Muntah dengan sengaja<br />
4. Haidh dan Nifas<br />
5. Mengeluarkan air mani dengan sengaja<br />
6. Niat membatalkan puasa<br />
7. Berhubungan suami-istri<br />
Keterangan:<br />
Jika batalnya puasa karena no 1-6, wajib mengganti puasa di lain hari<br />
Jika batalnya puasa karena no 7, wajib mengganti puasa dan membayar kafarat</p>
	<p><strong>Yang Tidak Membatalkan Puasa</strong><br />
1. Berenang<br />
2. Memakai celak<br />
3. Menggunakan siwak (sikat gigi) sepanjang siang<br />
4. Mendinginkan badan dengan air karena terlalu panas dengan menyiramkan air ke seluruh badan atau menyelam ke dalam air<br />
5. Mengunyah makanan untuk anak kecil jika tidak ada orang yang mengunyahnya dengan syarat hasil kunyahannya tidak masuk ke dalam perut pelakunya.<br />
6. Memakai obat tetes mata<br />
7. Menggunakan wewangian<br />
8. Mencium istri<br />
9. Injeksi atau suntik<br />
10. Berkumur atau istinsya’<br />
11. Dalam keadaan junub sampai subuh<br />
12. Ihtilam (mimpi basah)</p>
	<p><strong>Berbuka (<em>Al-Ifthor</em>)</strong></p>
	<p>1. Menyegerakan Berbuka<br />
Rasulullah SAW bersabda:<br />
<em>Laa yazaalu an-naasu bi khoirin maa ‘ajjaluu al-fithra</em><br />
Manusia itu selalu dalam kebaikan, selama mereka menyegerakan berbuka (HR Bukhari-Muslim)</p>
	<p>2. Berbuka dengan kurma atau air<br />
Rasulullah SAW bersabda:<br />
Idzaa kaana ahadukum shooiman falyufthir ‘alaa al-tamra, fa in lam yajidi al-tamra fa ‘alaa al-maa i, fa inna al-maa a thohuurun<br />
Jika salah seorang diantara kamu berpuasa hendaklah ia berbuka dengan kurma dan jika tidak ada maka dengan air karena air itu suci (HR Ahmad, Turmudzi)</p>
	<p>3. Do’a berbuka<br />
a. <em>Dzahaba al-zhomau wabtalati al-‘uruuqu wa tsabata al-ajru in syaaAllaahu ta’alaa</em><br />
    Telah lenyap haus dahaga, telh basah urat-urat dan insyaAllah ditetapkan pahalanya.<br />
b. <em>Allaahumma laka shumtu wa ‘alaa rizqika afthortu</em><br />
    Ya Allah karena-Mulah aku berpuasa dan dengan rizki-Mu aku berbuka<br />
c. <em>Allaahumma innii as aluka birahmatika allati wasi at kulla syai’in an taghfiralii</em><br />
    Ya Allah aku mohon kepadaMu dengan rahmatMu yang meliputi segala sesuatu agar aku Engkau ampuni</p>
	<p><strong>Yang diperbolehkan tidak berpuasa</strong><br />
1. Hilang akal (gila, mabuk, pingsan, koma dll)<br />
2. Anak-anak yang belum baligh<br />
3. Orang tua renta<br />
4. Orang sakit<br />
5. Musafir<br />
6. Hamil dan menyusui<br />
7. Pekerja berat/kasar sehingga tidak kuat berpuasa sementara dia belum mendapatkan alternatif pekerjaan lain untuk menghidupi keluarganya.<br />
Keterangan:<br />
a. Nomor 1-2 tidak perlu membayar fidyah<br />
b. Nomor 3 membayar fidyah<br />
c. Nomor 4-5 mengganti puasa kecuali jika sakitnya menahun maka tidak mengganti puasa tetapi membayar fidyah<br />
d. Nomor 6 dan 7 mengganti puasa atau membayar fidyah</p>
	<p><strong>Fidyah</strong><br />
Yang dimaksud fidyah adalah memberi makan kepada fakir miskin sebanyak hari puasa yang ditinggalkan.<br />
Besarnya fidyah adalah 0,6 kg (6 ons) beras atau makanan pokok lain sesuai yang ada di daearh yang bersangkutan.<br />
Diperbolehkan membayar fidyah dengan uang </p>
	<p><strong>Sholar Tarawih</strong><br />
Sholat Tarawih adalah sholat malam di bulan Ramadhan.</p>
	<p><strong><em>Hukumnya</em></strong><br />
Hukum sholat tarawih adalah sunnah</p>
	<p><strong><em>Waktunya</em></strong><br />
Waktu shalat tarawih sebagaimana waktu sholat malam biasa. Boleh dimulai setelah sholat Isya’ dan waktu yang paling afdhol adalah sepertiga malam terakhir (kurang lebih jam 02.00-subuh)</p>
	<p><strong><em>Rakaat</em></strong><br />
1) 8 rakaat tarawih + 3 rakaat witir<br />
<em>Annahu sholla Allahu ‘alaihi wa salam shollaa bihim tsamaaniya raka’aatin wa al-witra</em><br />
Bahwa Rasulullah SAW sholat Tarawih dengan masyarakat sebanyak delapan rakaat, kemudian Beliau sholat witr (HR Ibnu Hibban)<br />
Witir yang dilakukan Rasulullah SAW adalah 3 rakaat, sehingga total rakaatnya adalah 11 rakaat.<br />
Aisyah RA berkata:<br />
Anna an-nabiyya shollaa Allaahu wa salam maa kaana yaziidu fii Ramadhoona wa laa fii ghoirihi ‘alaa ihdaa asyrata rak’atan<br />
Bahwa Rasulullah SAW tidak pernah menambahi sholat sunnahnya pada waktu malam baik di bulan Ramadhan maupun di bulan lainnya lebih dari sebelas rakaat (HR Bukhori)</p>
	<p>2) 20 rakaat tarawih + 3 rakaat witir<br />
Sedangkan Umar ibn Khaththab dan ‘Ali bin Abi Thalib sholat Tarawih sebanyak 20 rakaat di tambah witir (HR Turmudzi)</p>
	<p><strong><em>Berjamaah</em></strong><br />
Sholat Tarawih disunnahkan dikerjakan berjamaah di masjid, tetapi dilakukan sendiri (munfarid) juga diperbolehkan. Aisyah RA berkata:<br />
Shollaa an-Nabiyyu shollaa Allaahu ‘alaihi wa salam fii al-masjidi fa shollaa bi shollatihi naasun katsiirun, tsumma shollaa min al-qoobilati fakatsaruu, tsumma ijtama’uu min al-lailati al-tsaalitsati falam yakhruj ilaihim<br />
Nabi SAW sholat Tarawih di masjid maka banyak orang yang mengikuti sholat Beliau. Besok malamnya Beliau sholat lagi dan orang-orang yang mengikutinya bertambah banyak. Selanjutnya pada malam ketiga  orang-orang sudah berkumpul tetapi Beliau tidak keluar (untuk sholat Tarawih) (HR Bukhori)</p>
	<p><strong><em>Bacaan Sholat</em></strong><br />
Dusunnahkan dalam sholat Tarawih membaca surat yang panjang. Abu Dzar berkata:<br />
Qumnaa ma’a an-nabiyyi shollaa Allaahu ‘alaihi wa salam hattaa khosyiinaa an yafuutanaa al-falaahu ya’nii as-sahhuura<br />
Kami sholat Tarawih dengan Nabi SAW sampai takut terlambat untuk sahur, pada waktu itu imam membaca sampai 200 ayat</p>
	<p><strong>Zakat Fithrah</strong><br />
• Hukumnya wajib<br />
• Waktu dikeluarkan<br />
   Zakat fithrah boleh dikeluarkan ketika pertama kali puasa (tanggal satu Ramadhan) tetapi waktu yang paling afdhol adalah malam hari raya idul Fithri sampai sebelum pelaksanaan sholat ied dimulai.<br />
• Yang Wajib Mengeluarkan Zakar Fithrah adalah anak kecil, orang dewasa, laki-laki, perempuan, orang merdeka maupun budak dari kalangan kaum muslimin<br />
• Yang wajib menerima zakat fithrah hanya fakir miskin<br />
• Besarnya zakat fithrah adalah 1 sha’ (2,5 kg) beras (makanan pokok lain sesuai yang ada di daearh yang bersangkutan). Boleh pula dibayarkan dengan uang.</p>
	<p><strong>Keutamaan Berbuat Baik di Bulan Ramadhan</strong></p>
	<p><strong><em>1. Sedekah</em></strong><br />
Man faththara shooiman falahu ajruhu min ghoiri an yanqusha min ajri al-shooimi syai’un<br />
Barang siapa memberi makan untuk berbuka puasa kepada orang yang berpuasa, ia berhak atas pahalanya tanpa mengurangi sedikit pun pahala orang yang berpuasa (HR Ahmad, At-Tirmidzi)<br />
Rasulullah adalah orang yang paling dermawan, dan beliau sangat dermawan di bulan Ramadhan ketika dikunjungi malaikat Jibril (HR Al-Bukhari)</p>
	<p><strong><em>2. Qiyamul Lail</em></strong><br />
Man qooma Ramadhoona iimaanan wahtisaaban ghufira lahu maa taqaddama min dzanbih(i)<br />
Barangsiapa melakukan qiyamul lail karena iman dan bersabar dengan menyimpan pahalanya di sisi Allah, maka dosa-dosanya yang telah lampau diiampuni (HR Bukhori-Muslim) </p>
	<p><strong><em>3. Membaca Al-Qur’an</em></strong><br />
Rasulullah SAW memperbanyak membaca Al-Qur’an di bulan Ramadhan dan malaikat Jibril dating kepada Beliau untuk membacakan Al-Qur’an kepada Beliau di bulan Ramadhan (HR Bukhori)<br />
Puasa dan Al-Qur’an memberi syafa’at kepada seorang hamba pada hari kiamat. Puasa berkata, “Tuhan, aku melarangnya makan dan minum di siang hari”. Al-Qur’an berkata, “Tuhan, aku melarangnya tidur di malam hari”, maka idzinkan kami memberi syafa’at (HR Ahmad, An-Nasa’i)</p>
	<p><strong><em>4. I’tikaf</em></strong><br />
Yaitu menetap di masjid untuk ibadah mendekatkan diri kepada Allah Azza wa jalla.<br />
Rasulullah SAW biasa beri’tikaf pada 10 terakhir bulan Ramadhan hingga Allah Ta’ala memanggilnya (meninggal)<br />
Rasulullah bersabda:<br />
Masjid adalah rumah setiap orang bertakwa dan bagi orang yang menjadikan masjid sebagai rumahnya Allah menjamin memberinya ruh, rahmat dan lolos melewati titian menuju keridhaan Alloh yaitu ke surga (HR Thabrani, Al-Bazzar)</p>
	<p><strong><em>5. Umrah</em></strong><br />
Yaitu mengunjungi Rumah Allah Ta’ala yang suci untuk thawaf dan sa’I di bulan Ramadhan karena Rasulullah bersabda:<br />
‘Umratun fii Ramadhoona ta’dilu hujjatan ma’i<br />
Umrah di bulan Ramadhan sama dengan haji bersamaku (HR Bukhori-Muslim)<br />
<em>Wallahu a’lam</em></p>
	<p>Referensi<br />
Fiqih Sunnah karya Sayyid Sabiq<br />
Minhajul Muslim karya Abu Bakr Jabir Al-Jazairi.<br />
Meneladani Shaum Rasulullah SAW karya Syaikh Salim bin ‘Ied al-Hilali dan Syaikh ‘Ali Hasan ‘Ali Abdul Hamid.<br />
Fatwa-Fatwa Terkini bab Puasa karya Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz, dkk.<br />
Ringkasan Shahih Bukhari karya M. Nashiruddin Al-Albani.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://multazimah.blogsome.com/2007/08/03/puasa-ramadhan/feed/</wfw:commentRss>
	</item>
		<item>
		<title>Zero Mind</title>
		<link>http://multazimah.blogsome.com/2007/06/23/zero-mind-2/</link>
		<comments>http://multazimah.blogsome.com/2007/06/23/zero-mind-2/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 23 Jun 2007 06:17:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>multazimah</dc:creator>
		
	<category>Nashihat</category>
		<guid>http://multazimah.blogsome.com/2007/06/23/zero-mind-2/</guid>
		<description><![CDATA[	Pertama:
Hindari selalu berprasangka buruk, upayakan berprasangka baik kepada orang lain
	Kedua,
Berprinsiplah selalu kepada Allah Yang Maha Abadi
	Ketiga;
Bebaskan diri dari pengalaman-pengalaman yang membelenggu pikiran, berfikirlah merdeka
	Keempat,
Dengarlah suara hati, peganglah prinsip karena Allah, perpikirlah melingkar, sebelum menentukan kepentingan dan prioritas
	Kelima,
Lihatlah semua sudut pandang secara bijaksana berdasarkan suara-suara hati yang bersumber dari Asmaul Husna
	Keenam,
Periksa pikiran Anda terlebih dahulu sebelum [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[	<p>Pertama:<br />
Hindari selalu berprasangka buruk, upayakan berprasangka baik kepada orang lain<a id="more-72"></a></p>
	<p>Kedua,<br />
Berprinsiplah selalu kepada Allah Yang Maha Abadi</p>
	<p>Ketiga;<br />
Bebaskan diri dari pengalaman-pengalaman yang membelenggu pikiran, berfikirlah merdeka</p>
	<p>Keempat,<br />
Dengarlah suara hati, peganglah prinsip karena Allah, perpikirlah melingkar, sebelum menentukan kepentingan dan prioritas</p>
	<p>Kelima,<br />
Lihatlah semua sudut pandang secara bijaksana berdasarkan suara-suara hati yang bersumber dari Asmaul Husna</p>
	<p>Keenam,<br />
Periksa pikiran Anda terlebih dahulu sebelum menilai segala sesuatu, jangan melihat sesuatu karena pikiran Anda, tetapi lihatlah sesuatu karena apa adanya</p>
	<p>Ketujuh,<br />
Ingatlah bahwa segala ilmu pengetahuan adalah bersumber dari Allah Subhana wa ta&#8217;alaa</p>
	<p>Ary Ginanjar Agustian,  Rahasia Sukses Membangun Kecerdasan Emosi dan Spiritual (ESQ)
</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://multazimah.blogsome.com/2007/06/23/zero-mind-2/feed/</wfw:commentRss>
	</item>
		<item>
		<title>Subhaanallah</title>
		<link>http://multazimah.blogsome.com/2007/05/26/allahu-akbar/</link>
		<comments>http://multazimah.blogsome.com/2007/05/26/allahu-akbar/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 26 May 2007 07:39:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>multazimah</dc:creator>
		
	<category>Renungan</category>
		<guid>http://multazimah.blogsome.com/2007/05/26/allahu-akbar/</guid>
		<description><![CDATA[	Tepat pukul enam pagi, Garuda 202 mulai terbang menembus angkasa yang masih dipenuhi kabut tipis. Garuda tersebut menerbangkan jiwa-jiwa yang penuh harap. Berharap segera sampai titik tujuan dengan selamat. Termasuk diriku yang sedikit cemas dan was-was&#8230;.. maklum ini adalah kali pertama aku bisa terbang bersama Garuda. Yach angan-angan yang waktu kecil pernah mampir di hatiku, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[	<p>Tepat pukul enam pagi, Garuda 202 mulai terbang menembus angkasa yang masih dipenuhi kabut tipis. Garuda tersebut menerbangkan jiwa-jiwa yang penuh harap. Berharap segera sampai titik tujuan dengan selamat. Termasuk diriku yang sedikit cemas dan was-was&#8230;.. maklum ini adalah kali pertama aku bisa terbang bersama Garuda. Yach angan-angan yang waktu kecil pernah mampir di hatiku, kini terpenuhi juga. Kini tidak cuman cerita, aku benar-benar naik Garuda. <a id="more-70"></a></p>
	<p>Seakan ada skenario Sang Penguasa jagad ini  untuk mengingatkan diriku. Yach&#8230;.. dari perjalanan itu aku semakin sadar, diri ini sungguh amat sangat kecil dan hina. Sesaat Garuda meninggalkan bumi, terlihat semua yang ada dibawahku semuanya kecil. Semakin pesawat naik, semakin kecil pula semua benda yang ada di bumi. Makin kecil&#8230;.., makin kecil&#8230;&#8230;, makin kecil dan akhirnya hilang tak tampak sama sekali. Hanya awan putih bergulung yang dapat aku lihat.</p>
	<p><em>Subhanallah&#8230;&#8230;. Allahu Akbar&#8230;&#8230;.., Subhaanalladzi sakhorolanaa hadzaa wamaa kunnaa lahu muqriniin wa innaa ilaa robbinaa lamunqolibuun&#8230;&#8230;., </em> hanya ucapan itulah yang senantiasa keluar dari bibir ini. Betapa aku semakin sadar bahwa dunia ini sangat kecil. Apalagi diriku?????? Aku semakin yakin akan kebesaranNya. Kebesaran Dzat Yang Maha Besar. &#8220;Bagaimana mungkin dirimu berani sombong, dan berani berma&#8217;syiyat kepadaNya? Apa yang akan kau andalkan?? Bisakah kau menandingi dzat yang telah menciptakan alam ini??&#8221; Na&#8217;udzubillah&#8230;.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://multazimah.blogsome.com/2007/05/26/allahu-akbar/feed/</wfw:commentRss>
	</item>
		<item>
		<title>Tidzkaaru As-sanawiy</title>
		<link>http://multazimah.blogsome.com/2007/05/22/tadzkiru-as-sanawiy/</link>
		<comments>http://multazimah.blogsome.com/2007/05/22/tadzkiru-as-sanawiy/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 22 May 2007 00:21:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>multazimah</dc:creator>
		
	<category>Nashihat</category>
	<category>Renungan</category>
		<guid>http://multazimah.blogsome.com/2007/05/22/tadzkiru-as-sanawiy/</guid>
		<description><![CDATA[	Atas kehendak dan kuasa Allah lahirlah seorang hamba ke dunia fana ini. Dunia yang sangat asing baginya, dunia yang sangat gelap. Dalam keterasingan dan kegelapan itu, ia coba menapak dengan kaki yang begitu lemah, dengan tangan yang begitu rapuh, dengan tubuh yang begitu dho’if. Meskipun demikian ia tetap tegar walau kadang jiwanya goncang, hatinya gundah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[	<p>Atas kehendak dan kuasa Allah lahirlah seorang hamba ke dunia fana ini. Dunia yang sangat asing baginya, dunia yang sangat gelap. Dalam keterasingan dan kegelapan itu, ia coba menapak dengan kaki yang begitu lemah, dengan tangan yang begitu rapuh, dengan tubuh yang begitu dho’if. Meskipun demikian ia tetap tegar walau kadang jiwanya goncang, hatinya gundah dan gelisah. Kadang juga ia merasa putus asa tak punya harapan. <a id="more-69"></a> Merasa dirinya paling hina, paling teraniaya, paling jelek, paling tak punya dan banyak kekurangan ada pada dirinya. Tapi setelah lama merenung, ia pun tersenyum&#8230;. Senyum yang begitu bermakna. dalam hati ia bergumam, “Apapun dan bagaimanapun keadaanku, aku adalah makhlukNya yang paling sempurna. aku tidak boleh menjadi hina hanya karena keadaanku saat ini. Diri ini adalah milikNya dan akan kembali kepadaNya”. Bukankah Allah telah mengingatkan, walaa taiasu min rohmatillah&#8230;&#8230;.</p>
	<p>Kini ia telah tumbuh dewasa, 25 tahun sudah ia menapakkan kaki di bumi milikNya. Ia sangat sadar begitu besar nikmat yang telah ia nikmati selama ini. Sejak kecil ia bisa makan padahal ia belum bisa mencari makanan. Ia minum ASI yang diberikan secara cuma-cuma oleh Allah melalui kasih sayang ibunya. Dan tidak pernah sedikitpun ibunya minta diganti. Udara segar berhembus sehingga ia bisa bernafas dan hidap. Matahari senantiasa bersinar, memancarkan sinarnya yang ramah dan bersahabat. Sehingga tumbuh-tumbuhan bisa hijau, binatang bisa makan, hujan bisa turun, dunia bisa hidup. </p>
	<p>Suatu waktu ia mencoba untuk menghitungnya. Semakin ia menghitungnya, semakin terasa begitu besar nilai nikmat itu. Sampai suatu saat ia menyimpulkan hasilnya adalah satu dibagi dengan nol. Berapa itu “tak berhingga”. Satu adalah Dia, Dzat Yang Maha Esa dan nol adalah kita, yang kecil tak punya daya. Sehingga jika kita memposisikan diri sebagai nol maka akan terlihat kebesaran Sang Maha Besar, Allah Azza wa  Jalla.</p>
	<p>Memang tidak sepatutnya ia mencoba menghitung nikmat Allah, karena memang tak terhitung. Ia pun sadar, tugasnya sebagai hamba hanyalah bersyukur. Maha benar Allah yang telah berfirman, <em>Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; &#8220;Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), Maka Sesungguhnya azab-Ku sangat pedih&#8221; (Ibrohiim, 7)</em></p>
	<p>Berbagai ujian, cobaan, rintangan telah dan akan terus ia hadapi sebagai hadiah Allah untuk orang-orang yang beriman. Ia sangat sadar semua itu adalah jalan menuju kesuksesan iman yang telah tertanan dalam jiwanya meski kadang naik-turun. &#8220;Yach itulah hadiah untuk orang-orang yang mengaku beriman. Hadiah yang teramat istimewa&#8221;</p>
	<p><em>Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: &#8220;Kami Telah beriman&#8221;, sedang mereka tidak diuji lagi? Dan Sesungguhnya kami Telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, Maka Sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan Sesungguhnya dia mengetahui orang-orang yang dusta.(Al-Ankabut,2-3)</em></p>
	<p>Saat inilah, dalam usianya yang ke-25 ia merasakan sebuah ujian yang begitu berat.  Ujian yang cukup menyita banyak waktu dan pikiran. Ujian yang&#8230;&#8230;&#8230;&#8230; sungguh luar biasa dahsyatnya bagi seorang pemuda. Maha benar Allah yang telah berfirman,<br />
<em>&#8220;Zuyyina linnaasi hubbu as-syahawati minan nisaa wal banin &#8230;&#8230;..&#8221;</em>. Telah dijadikan indah pada diri manusia kecintaan terhadap wanita, anak-anak dan&#8230;&#8230; </p>
	<p>Yach itulah yang saat ini dirasakannya, godaan berupa wanita.  Sudah saatnya ia melengkapi separoh agamanya, agar ia bisa selamat menghadapi godaan syahwat. Hampir dalam setiap malam ia bermunajat kepada-Nya, memohon petunjuk agar ia bisa mengatasi masalah besar ini dengan selamat. Ia sadar bahwa dirinya sangat kecil, lemah dan tak punya daya. Terlebih jika ia harus sendiri menghadapi masalah yang ia anggap sangat besar itu, masalah yang menetukan separoh dari agamanya. Ia sangat membutuhkan sosok yang bisa dijadikan tempat curhat terbaik. Kadang ia berfikir mencari teman yang mampu memberikan kekuatan baginya, teman yang bisa dijadikan tempat curhat, teman yang senantiasa setia, tapi semua itu tidak ia dapatkan. </p>
	<p>Hanya Allahlah tempat curhat terbaik, Allahlah teman yang paling dekat dalam keheningan malam. Allahlah yang bisa membantu menyelesaikan masalah ini. Saat jiwa-jiwa terlelap dalam mimpi masing-masing, saat burung malam bertasbih kepadaNya, saat rembulan tersenyum menyambut pagi, saat malam menelusuri relung-relung fajar, saat Dia turun ke langit dunia menjumpai hambaNya, saat para malaikat turun menebarkan do&#8217;a dan permohonan. Saat itulah ia coba bangkit tinggalkan selimut, tinggalkan kasur empuk, tinggalkan mimpi-mimpi yang tak menentu. Ia paksakan diri membuka mata, membuka hati dan melepaskan simpul-simpul setan. </p>
	<p>Ia berdo&#8217;a, <em>Alhamdulillahilladzi ahyanaa ba&#8217;da maa amaatanaa wa ilaihi nusyuur</em>. Kemudian mengambil air wudhu, ia basuh muka dengan dinginnya air malam hingga terasa segar. Lalu ia mendirikan sholat dengan khusyu&#8217;. Sehingga terlepaslah simpul-simpul setan yang senantiasa membelenggu dirinya selama ini. iapun bermunajat, mencurahkan segala asa di hatinya, memohon dan meminta kepada Dzat Yang Maha pengasih dan penyayang&#8230;&#8230;.</p>
	<p align="center"><em>Yaa Allah&#8230;.<br />
dengan kekuasaaanMu,<br />
dengan ilmuMu,<br />
dengan kemurahanMu,<br />
Aku memohon kepadaMu&#8230;&#8230;.</em></p>
	<p align="center"><em>Mudahkanlah segala urusanku ini,<br />
Urusan yang cukup besar,<br />
yang akan melengkapi separoh agamaku,<br />
Dan juga urusan yang paling besar,<br />
tatkala diri ini menghadapi pengadilanMu di akhirat kelak</em></p>
	<p align="center"><em>Yaa Allah&#8230;<br />
Engkau maha mengetahui, sedangkan diri ini amat tidak tahu,<br />
Maka berilah hambaMu ini ilmu yang kan menerangi hidup ini<br />
Engkau maha kuasa, sedangkan diri ini lemah tak punya daya,<br />
maka berilah hambaMu ini kekuatan,<br />
Kekuatan aqidah yang lurus,<br />
Kekuatan ruhiyah yang kokoh,<br />
Kekuatan hati yang bersih,<br />
Kekuatan akhlaq yang karimah,<br />
Kekuatan fisik yang berwibawa,</em></p>
	<p align="center"><em>Yaa Allah&#8230;<br />
Sesungguhnya tidak ada sedikitpun yang bisa kuberikan kepadaMu<br />
Selain hidup yang telah Kau amanahkan padaku<br />
Hidup ini adalah milikMU<br />
akan kuserahkan sepenuhnya kepadaMu</em></p>
	<p align="center"><em>Yaa Allah&#8230;<br />
Engkau maha mengetahui,<br />
Seandainya &#8220;ia&#8221; adalah yang terbaik buatku<br />
Buat agamaku,<br />
buat kehidupan dan penghidupanku,<br />
buat akhir kehidupanku,<br />
Maka dekatkanlah hatinya untukku<br />
Mudahkanlah kami dalam perjumpaan<br />
Mudahkanlah kami dalam menuju gerbang &#8220;mitsaqon gholizho&#8221;<br />
Kemudian Ridhoilah kami berdua di dalamnya</em></p>
	<p align="center"><em>Yaa Allah&#8230;<br />
Engkau maha mengetahui,<br />
Tetapi seandainya &#8220;ia&#8221; bukan yang terbaik buatku,<br />
buat agamaku,<br />
buat kehidupan dan penghidupanku,<br />
buat akhir kehidupanku,<br />
Maka jauhkan hatinya untukku<br />
Maka jauhkan hatiku untuknya<br />
Gantikanlah &#8220;ia&#8221; dengan yang lebih baik bagiku</em></p>
	<p align="center"><em>Yaa Allah&#8230;<br />
Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu</em></p>
	<p align="center"><em>Yaa Allah&#8230;<br />
Aku  memohon kepadaMu<br />
Limpahkan lah RahmatMu padaku<br />
Ampunilah segala dosa hamba<br />
Bersihkan hati hamba<br />
Masukkanlah hamba ke dalam golongan hambaMu yang sholih</em></p>
	<p align="center"><em>Yaa Allah&#8230;<br />
Hanya kepadaMulah hamba meminta<br />
Engkau telah mencipkan semua makhluk saling berpasangan<br />
Engkau telah menciptakan diri ini dari ketiadaan<br />
Engkaupun yang akan mempertemukan diri dengan pasanganku<br />
Dengan sosok yang akan menjadi bidadariku<br />
di dunia dan akhirat </em></p>
	<p align="center"><em>Yaa Allah&#8230;<br />
Anugerahkanlah kepada hamba seorang akhwat yang solihah<br />
Seorang akhwat yang amat cintanya kepadaMu<br />
Seorang akhwat yang senantiasa ridho akan ketetapanMu<br />
Seorang akhwat yang ikhlash </em></p>
	<p align="center"><em>Yaa Allah&#8230;<br />
Anugerahkanlah kepada hamba seorang akhwat yang  cantik jelita<br />
Seorang akhwat yang kecantikannya terpancar dari dalam hatinya<br />
Seorang akhwat yang senyumnya bermandikan cahayaMu<br />
Seorang akhwat yang wajahnya  senantiasa  berseri dengan air wudhu </em></p>
	<p align="center"><em>Yaa Allah&#8230;<br />
Anugerahkanlah kepada hamba seorang akhwat yang waduudah<br />
Seorang akhwat yang penuh cinta<br />
Seorang akhwat yang bisa memberikan sepenuh cinta kepada hamba karena cintaMu<br />
Seorang akhwat yang lebih cinta akhirat daripada dunia</em></p>
	<p align="center"><em>Yaa Allah&#8230;<br />
Anugerahkanlah kepada hamba seorang akhwat yang waluudah<br />
Seorang akhwat yang bisa memberikan hamba keturunan yang sholih<br />
Seorang akhwat yang bisa menjaga amanah berupa anak<br />
Seorang akhwat yang ikhlash mendidik generasi qur&#8217;ani </em></p>
	<p align="center"><em>Yaa Allah&#8230;<br />
HambaMu sangat lemah<br />
HambaMu tidak punya daya dan kekuatan<br />
Kupasrakhan semuanya kepadaMu<br />
Hidupku&#8230;&#8230;<br />
Jodohku&#8230;&#8230;<br />
Rizkiku&#8230;&#8230;.<br />
Bahagia dan celaka&#8230;.<br />
Matiku&#8230;&#8230;<br />
Semua ada di tanganMu</em></p>
	<p>Air mata tak teras bercucuran dari kedua pelupuk matanya yang sayu bagai tetes-tetes embun pegunungan. Lebih-lebih jika ia teringat akan dosa-dosa yang selama ini ia lakukan. Maksyiyat yang tak pernah luput dari dirinya. Kelalaian yang membutakan mata hatinya, Seakan semuanya terhimpun dalam gumpalan hitam sebesar gunung bahkan lebih dari itu. Mulai ia akil baligh sampai saat ini sudah berapa banyak dosa yang ia lakukan. Kadang ia berfikir, tatkala ia melihat anak-anak kecil bermain tanpa beban, melihat ikan hias berenang asyik di kolam, melihat kupu-kupu terbang berkejar-kejaran. Alangkah indahnya hidup mereka, seakan tanpa benban dan kelah mereka tidak akan dimintai pertanggungjawaban atas semua perbuatannya.  </p>
	<p>Semakin lama ia bermuhasabah, menghitung kekuran diri semakin takut jiwanya akan kemurkaanNya. Seakan terbayang dihadapannya neraka beserta segala kejadian dahsyat yang menyertainya yang siap menyiksanya. </p>
	<p align="center"><em>Yaa Allah, tidak akan cukup seluruh amal kami untuk menebus surgaMu. Sholat kami, puasa kami, zakat kami, haji kami, dakwah kami dan seluruh kebaikan kami belum seberapa dibandingkan nikmat yang telah Engkau curahkan kepada kami. Maka denga apa kami bisa menikmati surgaMu selain dengan RahmatMu.Yaa Allah &#8230;Pelarianku dari Neraka menuju RahmatMu begitu lambat, maka dekatkanlah RahmatMu. Masukkanlah hamba ke dalam surgaMu. Berikanlah kepada kami para bidadari yang telah Engkau janjikan untuk hambaMu yang sholih</em></p>
	<p align="right">Tulisan ini saya sajikan:<br />
Spesial buat dia yang sudah diberi amanah usia 25 tahun<br />
hamba yang berusaha menjadi seorang multazim<br />
yang mendambakan multazimah sejati</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://multazimah.blogsome.com/2007/05/22/tadzkiru-as-sanawiy/feed/</wfw:commentRss>
	</item>
		<item>
		<title>Yuk baCa &#8220;Surat Cinta&#8221;</title>
		<link>http://multazimah.blogsome.com/2007/04/17/68/</link>
		<comments>http://multazimah.blogsome.com/2007/04/17/68/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 17 Apr 2007 09:15:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>multazimah</dc:creator>
		
	<category>Al-Qur'an</category>
		<guid>http://multazimah.blogsome.com/2007/04/17/68/</guid>
		<description><![CDATA[	Surat Cinta apaan? Wong saya belum pernah sama sekali dapet apalagi baca&#8230;.. Iya&#8230;ane tahu, kamu kan orangnya &#8216;alim, multazim, pandai jaga diri d l l&#8230;&#8230; so ane percaya gak pernah bercinta ato &#8220;pacaran&#8221;, tapi masih punya rasa cinta kan???? Ato mungkin dah gak pake surat, tapi pakenya sms, mms, mail, kartu ucapan, ato apa lagi?? [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[	<p>Surat Cinta apaan? Wong saya belum pernah sama sekali dapet apalagi baca&#8230;.. Iya&#8230;ane tahu, kamu kan orangnya &#8216;alim, multazim, pandai jaga diri d l l&#8230;&#8230; so ane percaya gak pernah bercinta ato &#8220;pacaran&#8221;, tapi masih punya rasa cinta kan???? Ato mungkin dah gak pake surat, tapi pakenya sms, mms, mail, kartu ucapan, ato apa lagi?? sama aja kan? Yach gak perlu diperpanjang .<a id="more-68"></a></p>
	<p>Surat Cinta, sms cinta, email cinta, kartu ucapan cinta atau apalah namanya, katanya sih bisa bikin lupa diri saat baca. Berkali-kali bacanya tapi seakan pelum puas juga. Ingin rasanya selalu baca&#8230;baca&#8230;baca dan terus baca&#8230;. katanya hukumn Fiqhnya <strong>WAJIB</strong>, dosa besar kalo gak baca and bisa masuk NERAKA. Kata siapa ya?</p>
	<p>Tapi kali ini lain Surat cinta yang ane maksud adalah surat cinta yang paling berharga dari Sang Pemilik Cinta, ialah Al-Qur&#8217;an Al-Kariim. Sudahkah kita membacanya sama seperti ketika kita membaca surat cinta dari sosok yang kita cinta?????? Kalo belum malu donk&#8230;&#8230; atau malu-maluin donk&#8230;hehehehe&#8230;..<br />
OK dech, nich ada tips tuk bisa  istiqomah membaca Surat Cinta dari Sang Pemilik Cinta. You semua mesti baca&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;</p>
	<p><strong>Kiat bersungguh-sungguh dalam tilawah satu juz perhari</strong></p>
	<p>Berusaha melancarkan tilawah jika belum lancar. Ukuran normal membaca satu juz adalah 30-40 menit, jika lebih lama dari itu maka berusahalah untuk memperlancar bacaannya. Bayangkan saja 30-40 menit dari 24 jam bukanlah waktu yang lama, namun terkadang kita lebih sering ngobrol atau menonton TV berjam-jam ketimbang menyisihkan Al-qur’an selama setengah jam dalam satu hari. </p>
	<p>Aturlah dalam diri kita kesepakatan untuk komitmen ibadah satu juz tilawah perhari, jika tidak tercapai, hendaknya kita iqab (semacam hukuman) diri kita dengan iqab yang mampu membangkitkan kesungguhan kita, misalnya jika hari ini tidak sampai satu juz, maka esok harinya kita akan menggandakannya menjadi dua juz. Sebagai contoh para sahabat yang sering meng-iqab diri dengan bersedekah atau menginfaqkan seluruh hartanya di jalan Allah. Subhanallah. </p>
	<p>Cari tempat-tempat yang kondusif untuk melakukan tilawah karena terkadang kita butuh waktu sejenak untuk menyendiri </p>
	<p>Sering-sering mengadu kepada Allah dan memohon untuk dimudahkan kesungguhan dan komitmen dalam melaksanakan ibadah tilawah ini. Bahkan selipkan di antara doa-doa kita permohonan agar kita dijadikan orang-orang yang dekat dengan Al-qur’an. Amin. </p>
	<p>Perbanyak amal saleh karena amal saleh dapat menghasilkan energi baru untuk amal saleh selanjutnya. </p>
	<p><strong>Kendala yang Harus Diwaspadai</strong></p>
	<p>Perasaan menganggap sepele saat sehari tidak membaca Al-qur’an </p>
	<p>Lemahnya wawasan ber-Al-qur’an sehingga tidak termotivasi untuk bersungguh-sungguh dalam membaca Al-quran </p>
	<p>Tidak memiliki waktu wajib membaca Al-quran, dan membaca Al-quran sesempatnya saja atau bahkan dengan waktu-waktu sisa kita </p>
	<p>Lemahnya keinginan untuk memiliki kemampuan tilawah </p>
	<p>Terbawa lingkungan sekeliling yang tidak memiliki perhatian terhadap tilawah Al-qur’an </p>
	<p>Tidak tertarik dengan majelis yang menghidupkan Al-qur’an </p>
	<p><em>“Tidaklah suatu kaum berkumpul di salah satu rumah Allah lalu di antara mereka membaca kitab Allah dan mempelajarinya kecuali turun kepada mereka ketenangan yang diliputi rahmat, dikelilingi malaikat, dan Allah swt menyebut nama-nama mereka di sisi makhluk yang ada di dekatNya.” (HR. Imam Muslim)</em></p>
	<p><strong>Akibat Tidak Serius Melakukan Tilawah</strong></p>
	<p>Sedikitnya barakah dakwah atau ‘amal jihadi kita dan menjadi indikasi lemahnya hubungan sebagai jundi kepada Allah swt. </p>
	<p>Kemungkinan lainnya, tertundanya pertolongan Allah swt dalam amal jihadi. Jika salafush shalih saja tertunda kemenangannya hanya karena meninggalkan sunah bersiwak, apalagi jika meninggalkan amal yang bobotnya jauh lebih besar dari itu. </p>
	<p>Semakin jauhnya ashshalah (orisinilitas) dakwah. Dakwah kita adalah dakwah bil qur’an, bagaimana mungkin kita mengumandangkan dakwah sementara hubungan kita dengan Al-qur’an sendiri melemah </p>
	<p>Semakin jauhnya dakwah dari nuansa ilmu, padahal hakikat dakwah adalah meningkatkan kualitas keilmuan umat</p>
	<p>Orang yang nyepelekan tilawah bahkan gak pernah sama sekali dan cuek terhadapnya, ada indikasi matinya syu&#8217;ul khotimah (<em>Na&#8217;udzubillah</em>)</p>
	<p>Maraji’ : Tarbiyah Syakhsiyah Qur’aniyah, Abdul Azis Abdur Rouf, LC</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://multazimah.blogsome.com/2007/04/17/68/feed/</wfw:commentRss>
	</item>
		<item>
		<title>&#8220;Masyithah&#8221; masih adakah ia sekarang???</title>
		<link>http://multazimah.blogsome.com/2007/04/14/masyithah-masih-adakah-ia-sekarang/</link>
		<comments>http://multazimah.blogsome.com/2007/04/14/masyithah-masih-adakah-ia-sekarang/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 14 Apr 2007 04:24:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>multazimah</dc:creator>
		
	<category>Nashihat</category>
	<category>Renungan</category>
		<guid>http://multazimah.blogsome.com/2007/04/14/masyithah-masih-adakah-ia-sekarang/</guid>
		<description><![CDATA[	Masyithah??? siapa dia? Dia adalah wanita tukang sisir putri Fir&#8217;aun. Lalu apa yang hebat dari sosok wanita tukang sisir seperti dia??? Adakah yang istimewa??? Mari kita simak kisah hidupnya, renungkan dan resapi dalam lubuk hatimu yang paling dalam&#8230;&#8230;. 
	Masyithah, dia adalah sosok wanita yang berani mengingkari ketuhanan Fir&#8217;aun. Di saat hampir semua manusia pada saat [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[	<p>Masyithah??? siapa dia? Dia adalah wanita tukang sisir putri Fir&#8217;aun. Lalu apa yang hebat dari sosok wanita tukang sisir seperti dia??? Adakah yang istimewa??? Mari kita simak kisah hidupnya, renungkan dan resapi dalam lubuk hatimu yang paling dalam&#8230;&#8230;. <a id="more-67"></a></p>
	<p>Masyithah, dia adalah sosok wanita yang berani mengingkari ketuhanan Fir&#8217;aun. Di saat hampir semua manusia pada saat itu tunduk patuh dan taat pada Fir&#8217;aun, ia berani beda dari mereka. Ia beriman kepada Tuhannya Musa, Allah Azza wa Jalla dan lisannya senantiasa menyebut asma ALLah. </p>
	<p>Lama kelamaan kabar keimanan Masyithahpun akhirnya terdengar oleh putri Fir&#8217;aun. Kemudia ia melapor kepada ayahnya, Fir&#8217;aun.  Tetapi tidak ada sedikitpun keraguan di hari Masyithah, Ia tidak takut, ia tetap komitmen dengan keyakinannya meski telah diketahui Fir&#8217;aun.</p>
	<p>Fir&#8217;aun pun memanggil Masyithah beserta keempat anaknya seraya bertanya; &#8220;Siapakah tuhanmu wahai Masyithah?&#8221; Suatu pertanyaan yang sangat menentukan, hidup atau mati. Di saat-saat menentukan seperti itu, seorang mukmin/mukminah tidak memiliki pilihan lain kecuali menyatakan kebanggaannya sebagai orang yang berafiliasi kepada Tuhannnya.</p>
	<p>Wanita mukminah itupun menjawab tanpa keraguan, &#8220;Tuhanku dan Tuhanmu adalah ALLAH&#8221;. Mendengar jawaban itu, merah wajah Fir&#8217;aun penuh kemarahan. Ia ulangi lagi pertanyaan, &#8220;Siapa Tuhanmu wahai Masyithah?&#8221; Jawaban wanita itu tetap sama, &#8220;Tuhanku dan Tuhanmu adalah ALLAH&#8221;. Bertambahlah kemarahan Fir&#8217;aun mendengar jawaban yg paling tidak diinginkannya.</p>
	<p>Dalam kemarahan yang memuncak itu, Fir&#8217;aun menghadirkan belanga besar penuh dengan air mendidih. Fir&#8217;aun mendatangkan anak-anaknya dan memasukkan mereka ke belanga besar itu satu persatu. </p>
	<p>Setiap kali hendak melemparkan anaknya ke dalam belanga, Fir&#8217;aun yang kehilangan akalnya bagai orang gila- selalu bertanya, &#8220;Siapakah Tuhanmu hai Masyithah?&#8221; Wanita itupun tetap tegar menjawab&#8211;seakan-akan sedang mengucapkan tasbih yang paling nikmat dan indah&#8211; &#8220;Tuhanku dan Tuhanmu adalah ALLAH.&#8221;</p>
	<p>Akhirnya yang tersisa hanya Masyithah dan bayi mungil yang berada dalam dekapannya. Masyithah maju menuju belanga. Namun kasih sayang kepada bayi itu sedikit menghalangi langkah kakinya. Tiba-tiba saja Allah menjadikan bayinya bisa bicara dan berkata kepada ibunya, &#8220;Majulah wahai ibuku, karena engkau berada di atas kebenaran&#8221;</p>
	<p>Mari renungkan&#8230;</p>
	<p>Siapakah Tuhanmu?</p>
	<p>Siapakah Yang Maha Memaksa?&#8230;..</p>
	<p>Siapakah Yang Maha Membalas?&#8230;.</p>
	<p>Siapakah Yang Maha Gagah?&#8230;..</p>
	<p>Siapakah Yang Maha Mulia?&#8230;.</p>
	<p>Siapakah Yang Maha Esa?&#8230;.</p>
	<p>Siapakah Yang Maha Pengasih?&#8230;.</p>
	<p>Siapakah Yang  Maha Memuliakan?&#8230;</p>
	<p>Siapakah Yang Maha &#8230;&#8230;.SEGALANYA?&#8230;&#8230;</p>
	<p>Anda yakin dengan JaWaBaN Anda???????????????</p>
	<p>**********
</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://multazimah.blogsome.com/2007/04/14/masyithah-masih-adakah-ia-sekarang/feed/</wfw:commentRss>
	</item>
		<item>
		<title>Dosa itu apa sich???</title>
		<link>http://multazimah.blogsome.com/2007/04/12/dosa-itu-apa-sich/</link>
		<comments>http://multazimah.blogsome.com/2007/04/12/dosa-itu-apa-sich/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 12 Apr 2007 10:05:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>multazimah</dc:creator>
		
	<category>Renungan</category>
		<guid>http://multazimah.blogsome.com/2007/04/12/dosa-itu-apa-sich/</guid>
		<description><![CDATA[	Spesial buat saya sendiri
	Maaf, sorry, afwan katsiir, asiif jiddan atau apalah&#8230;&#8230;&#8230; dah lama tidak menjumpai Saudara/i yg tetap tegar di jalan dakwah. Soalnya sibuk ngrancang pabrik Solar Cells. Mhn do&#8217;anya ya&#8230;&#8230;! Apa kabar dakwah hari ini? Masih istiqomah kan? Alhamdulillah, semoga kita semua senantiasa dalam Rahmat dan RidhoNya, aamiiin&#8230;..
Mungkin Saudara/i kali ini bisa membantu &#8217;saya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[	<p>Spesial buat saya sendiri</p>
	<p><em>Maaf, sorry, afwan katsiir, asiif jiddan atau apalah&#8230;&#8230;&#8230;</em> dah lama tidak menjumpai Saudara/i yg tetap tegar di jalan dakwah. Soalnya sibuk ngrancang pabrik Solar Cells. Mhn do&#8217;anya ya&#8230;&#8230;! Apa kabar dakwah hari ini? Masih istiqomah kan? Alhamdulillah, semoga kita semua senantiasa dalam Rahmat dan RidhoNya, aamiiin&#8230;..<br />
Mungkin Saudara/i kali ini bisa membantu &#8217;saya yg masih belum sadar kalo banyak dosa&#8217; <a id="more-65"></a></p>
	<p>Pernahkah Anda mendengar sebuah pertanyaan yang menantang &#8220;Apa itu dosa&#8221;??? Mungkin Anda kembali bertanya emang ada yang unik? Memang udah gak asing lagi kata &#8216;dosa&#8217; di telinga saya. Saya selalu ingat nasihat-nasihat orang tuaku, jangan begini&#8230;..jangan begitu&#8230;&#8230; jangan ini&#8230;.jangan itu&#8230;. karena itu semua dosa. </p>
	<p>Kembali ke permasalahan, Apa itu dosa? Membunuh??? Mencuri&#8230;&#8230;??? Judi??? Mabuk??? Main perempuan??? Ato apa lagi&#8230;. </p>
	<p>Yach memang semua itu perbuatan-perbuatan dosa yang gak boleh saya lakuin. Saya sangat ngerti dan paham. Tapi apakah &#8216;dosa&#8217; cuman yang gitu-gituan aja?? Berarti aman donk saya yang gak pernah mencuri, membunuh, judi, mabuk, zina dll. Betulkah itu??? Apa bisa dikatakan saya gak punya dosa?</p>
	<p>Rasul bersabda; &#8220;Kebajikan adalah akhlaq yang baik sedangkan dosa adalah segala sesuatu yang menggelisahkan jiwa dan engkau tidak suka jika orang lain mengetahuinya&#8221; (HR Muslim)  Apa aja&#8230;.., mulai dari yang paling kecil ampe yang besar.  Bertanyalah pada hatimu sendiri setiap melakukan perbuatan, pasti hatimu akan tau mana dosa dan mana kebajikan. Jadi berapa banyak dosa yang saya lakuin tiap jam, tiap hari, tiap minggu, tiap bulan, tiap tahun atau bahkan sepanjang usia saya (dah 25 tahun kurang dikit)???? Tentunya banyak sekali&#8230;. </p>
	<p>Mari kita mengingat kembali pelajaran berhitung, waktu kita masih SD. Kalau saya asumsikan tiap jam saya punya dosa 1, maka dalam sehari semalam saya punya dosa 24. Dalam seminggu 168 dosa, Dalam satu bulan=720 dosa, dalam satu tahun=8760 dosa. Jadi sepanjang usia saya punya dosa sebanyak 8760 x 25 = 219.000. Itu kalau dalam satu jam saya cuman punya dosa 1 kalau 5, 10, 15, 20, 100  atau bahkan lebih, udah berapa banyak dosa saya selama ini? Astaghfirullah, lalu apa yang bisa saya banggakan dengan diri yang penuh dosa ini.????<br />
Tolong katakan padaku;<br />
&#8220;Apakakah kamu masih berani bangga diri?&#8221;<br />
&#8220;Sombong,&#8221;<br />
&#8220;Angkuh,&#8221;<br />
&#8220;Takabur,&#8221;<br />
&#8220;Merasa &#8216;alim,&#8221;<br />
&#8220;Merasa suci,&#8221;<br />
&#8220;Merasa paling&#8230;..,&#8221;<br />
Yach memang saya harus sadar sesadar-sadarnya, bahwa diri ini banyak dosa. Wahai saudara/i berilah diri ini nasihat, beri diri ini motivasi tuk bertaubat, beri diri ini bimbingan tuk melantunkan istighfar setiap saat.<br />
Katakan pada diri ini, &#8220;Rasulullah saja yg maksum (gak punya dosa), tiap hari Beliau senantiasa mengucap istighfar tidak kurang 100 kali.<br />
Trus kamu yg banyak dosa dan maksiat, berapa kali kamu beristighfar?? Sudahkah bibir kamu selalu basah mengucap Astaghfirullah?</p>
	<p>Tapi saya agak sedikit punya harapan, kata Ustadz saya Allah itu Maha Pengampun, Maha Penyayang dan Maha penerima tobat. &#8220;Sebesar apapun dosa kamu jika kamu mau bertobat, insyaAlllah akan diampuni dan kamu menjadi sosok yang benar-benar bersih&#8221;. </p>
	<p>Allah berfirman dalam hadis qudsi; &#8220;wahai hamba-Ku, sesungguhnya kamu semua selalu berbuat dosa siang dan malam. Sedangkan Aku mengampuni semua dosa, maka mintalah ampun kepada-Ku, niscaya Aku mengampunimu &#8221; (HR.Muslim)</p>
	<p>Saya sangat yakin hal itu,,,, Saya pun teringat nasihat-nasihat Ustadz dalam pengajian, ta&#8217;lim, halaqoh dsb. Manusia yang terbaik bukanlah manusia yang tak punya dosa, tetapi manusia terbaik adalah bila ia punya dosa segera ia bertobat, beristighfar mohon ampun kepadaNya dengan tidak mengulangi lagi perbuatan dosa itu. &#8220;<em>Setiap anak adam punya dosa dan sebaik-baik orang yang berdosa adalah yang kembali bertaubat</em>&#8221;</p>
	<p>Yuk tobat,<br />
yuk istighfar,<br />
yuk kembali kepadaNya,</p>
	<p><em>Astaghfirullah<br />
Astaghfirullah<br />
Astaghfirullah<br />
&#8230;&#8230;<br />
Astaghfirullahal &#8216;azhiim<br />
Astaghfirullahal &#8216;azhiim<br />
Astaghfirullahal &#8216;azhiim<br />
&#8230;&#8230;.<br />
Astaghfirullahal &#8216;azhiim alladzi laa ilaha illa huwal hayyul qoyyum wa atuubu ilaihi<br />
&#8230;&#8230;.<br />
Allahumma anta robbiy Laa ilaha illa anta,<br />
kholaqtaniy<br />
wa ana &#8216;abduka<br />
wa ana &#8216;ala ahdika<br />
wa wa&#8217;dika maan statho&#8217;tu<br />
a&#8217;udzubika min syarri ma shona&#8217;tu<br />
Abu u laka bini&#8217;matika alayya<br />
wa abu u bidzanbiy<br />
Faghfirliy<br />
Fa innahu laa yaghfiru dzunuba illa anta</em></p>
	<p>Saudara/i<br />
Mohon diingatkan kalau ada<br />
tulisan yang salah,<br />
kurang tepat,<br />
dan menyinggung perasaan<br />
Selamat berjuang<br />
Allahu akbar<br />
&#8230;.<br />
Dari Saudaramu<br />
yg senantiasa rindu<br />
cinta kasihNya
</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://multazimah.blogsome.com/2007/04/12/dosa-itu-apa-sich/feed/</wfw:commentRss>
	</item>
		<item>
		<title>Ainul Mardhiyah</title>
		<link>http://multazimah.blogsome.com/2007/03/02/ainul-mardiyah/</link>
		<comments>http://multazimah.blogsome.com/2007/03/02/ainul-mardiyah/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 02 Mar 2007 10:06:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>multazimah</dc:creator>
		
	<category>Nashihat</category>
	<category>Renungan</category>
		<guid>http://multazimah.blogsome.com/2007/03/02/ainul-mardiyah/</guid>
		<description><![CDATA[	Ainul Mardiyah&#8230;??? Apa sich&#8230;?? Bidadari Syurga begitu banyak orang nyebut&#8230; Waduh&#8230;bidadari ya, nikmat sekali dengerin kata itu, apalagi melihat, ketemu dan &#8230;.. wuih kayak apa ya nikmatnya???? Siapa orangnya yg gak kepingin bersanding dengan bidadari surga. Tapi bisakah kita semua memilikinya kelak??? Maaf ya buat yg multazimah (maaf ane ganti istilah akhwat dgn multazimah, biar [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[	<p>Ainul Mardiyah&#8230;??? Apa sich&#8230;?? Bidadari Syurga begitu banyak orang nyebut&#8230; Waduh&#8230;bidadari ya, nikmat sekali dengerin kata itu, apalagi melihat, ketemu dan &#8230;.. wuih kayak apa ya nikmatnya???? Siapa orangnya yg gak kepingin bersanding dengan bidadari surga. Tapi bisakah kita semua memilikinya kelak??? Maaf ya buat yg multazimah (maaf ane ganti istilah akhwat dgn multazimah, biar gak rancu). Tapi gak perlu kuatir, jadilah dirimu bidadari-bidadari yg lebih indah dari ainul mardiyah. Yach&#8230;. bidadari yang kan menemani suami-suami kalian dari dunia ampe syurga. Buatlah bidadari syurga itu cemburu pada dirimu, okey??? <a id="more-60"></a></p>
	<p>Buat semuanya, mari simak cerita berikut&#8230;. asyik lho., cerita ini berkisah tentang Ainul Mardiyah yg kalo gak salah bikinan seorang sastrawan Aceh untuk membangkitkan semangat para pemuda menuju pengorbanan sejati. Tapi gak ada salahnya kita simak, trus kita ambil ibrohnya&#8230;..</p>
	<p>***<br />
Dalam suatu kisah yang dipaparkan Al Yafi’i dari Syeikh Abdul Wahid bin Zahid, dikatakan: Suatu hari ketika kami sedang bersiap-siap hendak berangkat perang, aku meminta beberapa teman untuk membaca sebuah ayat. Salah seorang lelaki tampil sambil membaca ayat Surah At Taubah ayat 111, yang artinya sebagai berikut :<br />
&#8220;Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mu’min, diri dan harta mereka dengan memberikan sorga untuk mereka&#8221; </p>
	<p>Selesai ayat itu dibaca, seorang anak muda yang berusia 15 tahun atau lebih bangkit dari tempat duduknya. Ia mendapat harta warisan cukup besar dari ayahnya yang telah meninggal. Ia berkata:&#8221;Wahai Abdul Wahid, benarkah Allah membeli dari orang-orang mu’min diri dan harta mereka dengan sorga untuk mereka?&#8221; &#8220;Ya, benar, anak muda&#8221; kata Abdul Wahid. Anak muda itu melanjutkan:&#8221;Kalau begitu saksikanlah, bahwa diriku dan hartaku mulai sekarang aku jual dengan sorga.&#8221;</p>
	<p>Anak muda itu kemudian mengeluarkan semua hartanya untuk disedekahkan bagi perjuangan. Hanya kuda dan pedangnya saja yang tidak. Sampai tiba waktu pemberangkatan pasukan, ternyata pemuda itu datang lebih awal. Dialah orang yang pertama kali kulihat. Dalam perjalanan ke medan perang pemuda itu kuperhatikan siang berpuasa dan malamnya dia bangun untuk beribadah. Dia rajin mengurus unta-unta dan kuda tunggangan pasukan serta sering menjaga kami bila sedang tidur.</p>
	<p>Sewaktu sampai di daerah Romawi dan kami sedang mengatur siasat pertempuran, tiba-tiba dia maju ke depan medan dan berteriak:&#8221;Hai, aku ingin segera bertemu dengan Ainul Mardhiyah . .&#8221; Kami menduga dia mulai ragu dan pikirannya kacau, kudekati dan kutanyakan siapakah Ainul Mardiyah itu. Ia menjawab: &#8220;Tadi sewaktu aku sedang kantuk, selintas aku bermimpi. Seseorang datang kepadaku seraya berkata: &#8220;Pergilah kepada Ainul Mardiyah.&#8221; Ia juga mengajakku memasuki taman yang di bawahnya terdapat sungai dengan air yang jernih dan dipinggirnya nampak para bidadari duduk berhias dengan mengenakan perhiasan-perhiasan yang indah. Manakala melihat kedatanganku , mereka bergembira seraya berkata: &#8220;Inilah suami Ainul Mardhiyah . . . . .&#8221;</p>
	<p>&#8220;Assalamu’alaikum&#8221; kataku bersalam kepada mereka. &#8220;Adakah di antara kalian yang bernama Ainul Mardhiyah?&#8221; Mereka menjawab salamku dan berkata: &#8220;Tidak, kami ini adalah pembantunya. Teruskanlah langkahmu&#8221; Beberapa kali aku sampai pada taman-taman yang lebih indah dengan bidadari yang lebih cantik, tapi jawaban mereka sama, mereka adalah pembantunya dan menyuruh aku meneruskan langkah.</p>
	<p>Akhirnya aku sampai pada kemah yang terbuat dari mutiara berwarna putih. Di pintu kemah terdapat seorang bidadari yang sewaktu melihat kehadiranku dia nampak sangat gembira dan memanggil-manggil yang ada di dalam: &#8220;Hai Ainul Mardhiyah, ini suamimu datang . &#8230;&#8221;</p>
	<p>Ketika aku dipersilahkan masuk kulihat bidadari yang sangat cantik duduk di atas sofa emas yang ditaburi permata dan yaqut. Waktu aku mendekat dia berkata: &#8220;Bersabarlah, kamu belum diijinkan lebih dekat kepadaku, karena ruh kehidupan dunia masih ada dalam dirimu.&#8221; Anak muda melanjutkan kisah mimpinya: &#8220;Lalu aku terbangun, wahai Abdul Hamid. Aku tidak sabar lagi menanti terlalu lama&#8221;.</p>
	<p>Belum lagi percakapan kami selesai, tiba-tiba sekelompok pasukan musuh terdiri sembilan orang menyerbu kami. Pemuda itu segera bangkit dan melabrak mereka. Selesai pertempuran aku mencoba meneliti, kulihat anak muda itu penuh luka ditubuhnya dan berlumuran darah. Ia nampak tersenyum gembira, senyum penuh kebahagiaan, hingga ruhnya berpisah dari badannya untuk meninggalkan dunia.<br />
Sumber: www.van.9f.com
</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://multazimah.blogsome.com/2007/03/02/ainul-mardiyah/feed/</wfw:commentRss>
	</item>
		<item>
		<title>Wanita Sholehah: Bidadari Syurga Terindah</title>
		<link>http://multazimah.blogsome.com/2007/03/02/wanita-sholehah-bidadari-syurga-terindah/</link>
		<comments>http://multazimah.blogsome.com/2007/03/02/wanita-sholehah-bidadari-syurga-terindah/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 02 Mar 2007 10:03:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>multazimah</dc:creator>
		
	<category>Nashihat</category>
	<category>Renungan</category>
		<guid>http://multazimah.blogsome.com/2007/03/02/wanita-sholehah-bidadari-syurga-terindah/</guid>
		<description><![CDATA[	***
Ia mutiara terindah dunia
Bunga terharum sepanjang masa
Ada cahaya di wajahnya
Betapa indah pesonanya
Bidadari bermata jeli pun cemburu padanya
Kelak, ia menjadi bidadari surga
Terindah dari yang ada
(hanan)
***

Pernahkah saudara-saudara melihat seorang bidadari? Bidadari yang bermata jeli. Yang kabarnya sangat indah dan jelita. Saya yakin kita semua belum pernah melihatnya. Kalau begitu mari kita ikuti percakapan antara Rasulullah sallallahu’alaihi wa [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[	<p align="center"><em>***<br />
Ia mutiara terindah dunia<br />
Bunga terharum sepanjang masa<br />
Ada cahaya di wajahnya<br />
Betapa indah pesonanya<br />
Bidadari bermata jeli pun cemburu padanya<br />
Kelak, ia menjadi bidadari surga<br />
Terindah dari yang ada<br />
(hanan)<br />
***</em></p>
<a id="more-62"></a><br />
Pernahkah saudara-saudara melihat seorang bidadari? Bidadari yang bermata jeli. Yang kabarnya sangat indah dan jelita. Saya yakin kita semua belum pernah melihatnya. Kalau begitu mari kita ikuti percakapan antara Rasulullah sallallahu’alaihi wa sallam dan Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha tentang sifat-sifat bidadari yang bermata jeli.<br />
—-<br />
Imam Ath-Thabrany mengisahkan dalam sebuah hadist, dari Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha, dia berkata, “Saya berkata, ‘Wahai Rasulullah, jelaskanlah kepadaku firman Allah tentang bidadari-bidadari yang bermata jeli’.”</p>
	<p>Beliau menjawab, “Bidadari yang kulitnya putih, matanya jeli dan lebar, rambutnya berkilai seperti sayap burung nasar.”</p>
	<p>Saya berkata lagi, “Jelaskan kepadaku tentang firman Allah, ‘Laksana mutiara yang tersimpan baik’.” (Al-waqi’ah : 23)</p>
	<p>Beliau menjawab, “Kebeningannya seperti kebeningan mutiara di kedalaman lautan, tidak pernah tersentuh tangan manusia.”<br />
Saya berkata lagi, “Wahai Rasulullah, jelaskan kepadaku firman Allah, ‘Di dalam surga-surga itu ada bidadari-bidadari yang baik-baik lagi cantik-cantik’.” (Ar-Rahman : 70)</p>
	<p>Beliau menjawab, “Akhlaknya baik dan wajahnya cantik jelita”</p>
	<p>Saya berkata lagi, Jelaskan kepadaku firman Allah, ‘Seakan-akan mereka adalah telur (burung onta) yang tersimpan dengan baik’.” (Ash-Shaffat : 49)</p>
	<p>Beliau menjawab, “Kelembutannya seperti kelembutan kulit yang ada di bagian dalam telur dan terlindung kulit telur bagian luar, atau yang biasa disebut putih telur.”</p>
	<p>Saya berkata lagi, “Wahai Rasulullah, jelaskan kepadaku firman Allah, ‘Penuh cinta lagi sebaya umurnya’.” (Al-Waqi’ah : 37)</p>
	<p>Beliau menjawab, “Mereka adalah wanita-wanita yang meninggal di dunia pada usia lanjut, dalam keadaan rabun dan beruban. Itulah yang dijadikan Allah tatkala mereka sudah tahu, lalu Dia menjadikan mereka sebagai wanita-wanita gadis, penuh cinta, bergairah, mengasihi dan umurnya sebaya.”</p>
	<p>Saya bertanya, “Wahai Rasulullah, manakah yang lebih utama, wanita dunia ataukah bidadari yang bermata jeli?”</p>
	<p>Beliau menjawab, “Wanita-wanita dunia lebih utama daripada bidadari-bidadari yang bermata jeli, seperti kelebihan apa yang tampak daripada apa yang tidak tampak.”</p>
	<p>Saya bertanya, “Karena apa wanita dunia lebih utama daripada mereka?”</p>
	<p>Beliau menjawab, “Karena shalat mereka, puasa dan ibadah mereka kepada Allah. Allah meletakkan cahaya di wajah mereka, tubuh mereka adalah kain sutera, kulitnya putih bersih, pakaiannya berwarna hijau, perhiasannya kekuning-kuningan, sanggulnya mutiara dan sisirnya terbuat dari emas. Mereka berkata, ‘Kami hidup abadi dan tidak mati, kami lemah lembut dan tidak jahat sama sekali, kami selalu mendampingi dan tidak beranjak sama sekali, kami ridha dan tidak pernah bersungut-sungut sama sekali. Berbahagialah orang yang memiliki kami dan kami memilikinya.’.”</p>
	<p>Saya berkata, “Wahai Rasulullah, salah seorang wanita di antara kami pernah menikah dengan dua, tiga, atau empat laki-laki lalu meninggal dunia. Dia masuk surga dan mereka pun masuk surga pula. Siapakah di antara laki-laki itu yang akan menjadi suaminya di surga?”</p>
	<p>Beliau menjawab, “Wahai Ummu Salamah, wanita itu disuruh memilih, lalu dia pun memilih siapa di antara mereka yang akhlaknya paling bagus, lalu dia berkata, ‘Wahai Rabb-ku, sesungguhnya lelaki inilah yang paling baik akhlaknya tatkala hidup bersamaku di dunia. Maka nikahkanlah aku dengannya’. Wahai Ummu Salamah, akhlak yang baik itu akan pergi membawa dua kebaikan, dunia dan akhirat.”<br />
—-<br />
Sungguh indah perkataan Rasulullah sallallahu’alaihi wa sallam yang menggambarkan tentang bidadari bermata jeli. Namun betapa lebih indah lagi dikala beliau mengatakan bahwa wanita dunia yang taat kepada Allah lebih utama dibandingkan seorang bidadari. Ya, bidadari saudaraku. </p>
	<p>Sungguh betapa mulianya seorang muslimah yang kaffah diin islamnya. Mereka yang senantiasa menjaga ibadah dan akhlaknya, senantiasa menjaga keimanan dan ketaqwaannya kepada Allah. Sungguh, betapa indah gambaran Allah kepada wanita shalehah, yang menjaga kehormatan diri dan suaminya. Yang tatkala cobaan dan ujian menimpa, hanya kesabaran dan keikhlasan yang ia tunjukkan. Di saat gemerlap dunia kian dahsyat menerpa, ia tetap teguh mempertahankan keimanannya.</p>
	<p>Sebaik-baik perhiasan ialah wanita salehah. Dan wanita salehah adalah mereka yang menerapkan islam secara menyeluruh di dalam dirinya, sehingga kelak ia menjadi penyejuk mata bagi orang-orang di sekitarnya. Senantiasa merasakan kebaikan di manapun ia berada. Bahkan seorang “Aidh Al-Qarni menggambarkan wanita sebagai batu-batu indah seperti zamrud, berlian, intan, permata, dan sebagainya di dalam bukunya yang berjudul “Menjadi wanita paling bahagia”. </p>
	<p>Subhanallah. Tak ada kemuliaan lain ketika Allah menyebutkan di dalam al-quran surat an-nisa ayat 34,  bahwa wanita salehah adalah yang tunduk kepada Allah dan menaati suaminya, yang sangat menjaga di saat ia tak hadir sebagaimana yang diajarkan oleh Allah. </p>
	<p>Dan bidadari pun cemburu kepada mereka karena keimanan dan kemuliaannya. Bagaimana caranya agar menjadi wanita salehah? Tentu saja dengan melakukan apa yang diperintahkan Allah dan menjauhi segala laranganNya. Senantiasa meningkatkan kualitas diri dan menularkannya kepada orang lain. Wanita dunia yang salehah kelak akan menjadi bidadari-bidadari surga yang begitu indah.</p>
	<p>Duhai saudariku muslimah, maukah engkau menjadi wanita yang lebih utama dibanding bidadari? Allah meletakkan cahaya di atas wajahmu dan memuliakanmu di surga menjadi bidadari-bidadari surga. Maka, berlajarlah dan tingkatkanlah kualitas dirimu, agar Allah ridha kepadamu</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://multazimah.blogsome.com/2007/03/02/wanita-sholehah-bidadari-syurga-terindah/feed/</wfw:commentRss>
	</item>
		<item>
		<title>Lowongan</title>
		<link>http://multazimah.blogsome.com/2007/03/02/lowongan/</link>
		<comments>http://multazimah.blogsome.com/2007/03/02/lowongan/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 02 Mar 2007 09:59:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>multazimah</dc:creator>
		
	<category>Renungan</category>
		<guid>http://multazimah.blogsome.com/2007/03/02/lowongan/</guid>
		<description><![CDATA[	&#8220;Dari waktu ke waktu berita kematian terdengar dimana-mana. Berita itu akhirnya jadi biasa di telinga, hati juga pikiran. Marilah sejenak berpikir tentang berita ini. Jika yang mati itu orang-orang biasa seperti saya, hanya orang awam. Tentu kematianku tak banyak arti dan pengaruhnya. 
	Akan tetapi ada hal penting dan besar seputar berita kematian yang seringkali terlewat. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[	<p>&#8220;Dari waktu ke waktu berita kematian terdengar dimana-mana. Berita itu akhirnya jadi biasa di telinga, hati juga pikiran. Marilah sejenak berpikir tentang berita ini. Jika yang mati itu orang-orang biasa seperti saya, hanya orang awam. Tentu kematianku tak banyak arti dan pengaruhnya. <a id="more-61"></a></p>
	<p>Akan tetapi ada hal penting dan besar seputar berita kematian yang seringkali terlewat. Pernahkah terpikir apa arti, pengaruh, dan effek ketika yang mati adalah seorang ulama? hitunglah 1,2,5,10,100 ulama telah kembali ke pangkuan Ilahi.5,10 atau 20 tahun yang akan datang&#8230;belum tentu ada penggantinya yang lebih baik atau sebanding sajalah. Apa artinya ..?? LOWONGAN KERJA YANG BENAR-BENAR LOWONG.</p>
	<p>Satu direktur di perusahaan mati..ratusan atau ribuan langsung berbaris siap mengganti. </p>
	<p>Satu pejabat mati..ratusan atau ribuan langsung siap mengganti.Satu karyawan mati&#8230;ratusan atau ribuan langsung siap mengganti..</p>
	<p>Satu lurah mati..ratusan atau ribuan orang siap mengganti. </p>
	<p>Mati satu tumbuh seribu. Patah tumbuh hilang berganto, berlaku untuk perkara seperti di atas. Tetapi untuk patah hilangnya ulama tidak berlaku&#8221;</p>
	<p>Kenapa ya???
</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://multazimah.blogsome.com/2007/03/02/lowongan/feed/</wfw:commentRss>
	</item>
		<item>
		<title>21 Rules of Life</title>
		<link>http://multazimah.blogsome.com/2007/03/02/21-rules-of-life/</link>
		<comments>http://multazimah.blogsome.com/2007/03/02/21-rules-of-life/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 02 Mar 2007 09:58:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>multazimah</dc:creator>
		
	<category>Nashihat</category>
		<guid>http://multazimah.blogsome.com/2007/03/02/21-rules-of-life/</guid>
		<description><![CDATA[	1. Marry the right person. This one decision will determine 90% of your happiness or misery.
	2. Work at something you enjoy and that&#8217;s worthy of your time and talent 
	3. Give people more than they expect and do it cheerfully
	4. Become the most positive and enthusiastic person you know
	5. Be forgiving of yourself and others
	6. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[	<p>1. Marry the right person. This one decision will determine 90% of your happiness or misery.</p>
	<p>2. Work at something you enjoy and that&#8217;s worthy of your time and talent <a id="more-57"></a></p>
	<p>3. Give people more than they expect and do it cheerfully</p>
	<p>4. Become the most positive and enthusiastic person you know</p>
	<p>5. Be forgiving of yourself and others</p>
	<p>6. Be generous</p>
	<p>7. Have a grateful heart</p>
	<p>8. Persistence&#8230;., Persistence&#8230;., Persistence&#8230;.</p>
	<p>9. Dicipline yourself to save money on even the most modest</p>
	<p>10. Treat everyone you meet like you want to be treated</p>
	<p>11. Commit yourself to constant improvement</p>
	<p>12. Commit yourself to quality</p>
	<p>13. Understand that happiness is not based on possessions, power or prestiqe, but on relationship with people you love and respect</p>
	<p>14. Be loyal</p>
	<p>15. Be honest</p>
	<p>16. Be a self-starter</p>
	<p>17. Be decisive even it means you&#8217;ll sometimes be wrong </p>
	<p>18. Stop blaming others, take responsibility for every area of your life</p>
	<p>19. Be bold and courageous. When you look back on your life </p>
	<p>20. Take good care of those you love</p>
	<p>21. Don&#8217;t do anything that wouldn&#8217;t make your Mom proud</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://multazimah.blogsome.com/2007/03/02/21-rules-of-life/feed/</wfw:commentRss>
	</item>
		<item>
		<title>Puasa dan Kesehatan</title>
		<link>http://multazimah.blogsome.com/2007/03/02/puasa-dan-kesehatan/</link>
		<comments>http://multazimah.blogsome.com/2007/03/02/puasa-dan-kesehatan/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 02 Mar 2007 09:57:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>multazimah</dc:creator>
		
	<category>Nashihat</category>
	<category>Info</category>
		<guid>http://multazimah.blogsome.com/2007/03/02/puasa-dan-kesehatan/</guid>
		<description><![CDATA[	Kesehatan merupakan nikmat yang tidak dapat dinilai dengan harta benda. Untuk menjaga kesehatan, tubuh perlu diberikan kesempatan untuk istirahat. Puasa, yang mensyaratkan pelakunya untuk tidak makan, minum, dan melakukan perbuatan-perbuatan lain yang membatalkan puasa dari terbitnya fajar hingga terbenamnya matahari sangat bermanfaat untuk menjaga kesehatan jasmani dan rohani pelakunya. 
	Puasa dapat mencegah penyakit yang timbul [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[	<p>Kesehatan merupakan nikmat yang tidak dapat dinilai dengan harta benda. Untuk menjaga kesehatan, tubuh perlu diberikan kesempatan untuk istirahat. Puasa, yang mensyaratkan pelakunya untuk tidak makan, minum, dan melakukan perbuatan-perbuatan lain yang membatalkan puasa dari terbitnya fajar hingga terbenamnya matahari sangat bermanfaat untuk menjaga kesehatan jasmani dan rohani pelakunya. <a id="more-59"></a></p>
	<p>Puasa dapat mencegah penyakit yang timbul karena pola makan yang berlebihan. Makanan yang berlebihan gizi belum tentu baik untuk kesehatan seseorang. Kelebihan gizi atau overnutrisi mengakibatkan kegemukan yang dapat menimbulkan penyakit degeneratif seperti kolesterol dan trigliserida tinggi, jantung koroner, kencing manis (diabetes mellitus), dan lain-lain.</p>
	<p>Pengaruh mekanisme puasa terhadap kesehatan jasmani meliputi berbagai aspek kesehatan, diantaranya yaitu :</p>
	<p>    * Memberikan kesempatan istirahat kepada alat pencernaan,<br />
      Pada hari-hari ketika tidak sedang berpuasa, alat pencernaan di dalam tubuh bekerja keras, oleh karena itu sudah sepantasnya alat pencernaan diberi istirahat.<br />
    * Membersihkan tubuh dari racun dan kotoran (detoksifikasi). Dengan puasa, berarti membatasi kalori yang masuk dalam tubuh kita sehingga menghasilkan enzim antioksidan yang dapat membersihkan zat-zat yang bersifat racun dan karsinogen dan mengeluarkannya dari dalam tubuh.<br />
    * Menambah jumlah sel darah putih. Sel darah putih berfungsi untuk menangkal serangan penyakit sehingga dengan penambahan sel darah putih secara otomatis dapat meningkatkan sistem kekebalan tubuh.<br />
    * Menyeimbangkan kadar asam dan basa dalam tubuh,<br />
    * Memperbaiki fungsi hormon, meremajakan sel-sel tubuh,<br />
    * Meningkatkan fungsi organ tubuh</p>
	<p>Disunahkan agar berbuka puasa diawali dengan makan buah kurma, atau dengan buah-buahan dan minuman yang manis seperti madu. Ajaran ini mengandung makna kesehatan karena buah-buahan dan minuman yang manis merupakan bahan bakar siap pakai yang dapat segera diserap oleh tubuh untuk memulihkan tenaga setelah seharian tubuh tidak disuplai oleh makanan dan minuman. Glukosa yang terkandung di dalam buah-buahan dan minuman yang manis merupakan sumber energi utama bagi sel-sel tubuh. Glukosa efektif dibutuhkan ketika tubuh memerlukan masukan energi yang diperlukannya.</p>
	<p>Anjuran sahur bukan semata-mata untuk mendapatkan tenaga yang prima selama menunaikan ibadah puasa, melainkan juga mengandung makna bahwa puasa perlu persiapan agar selama berpuasa produktivitas kerja dan aktivitas sehari-hari tidak terganggu.</p>
	<p>Pada waktu buka puasa dan sahur suplai gizi perlu diusahakan memenuhi unsur-unsur yang dibutuhkan tubuh, meliputi enam jenis zat gizi yaitu karbohidrat, protein, lemak, vitamin, mineral, dan air. Pentingnya keseimbangan gizi sering kurang disadari karena hasilnya tidak terlihat langsung. Seseorang yang kekurangan zat gizi tertentu sama bahayanya dengan mereka yang kelebihan gizi tertentu. Makan yang seimbang baik dalam porsi maupun gizi akan mempengaruhi susunan saraf pusat dan kondisi biokimia tubuh. Makan yang seimbang adalah makan yang tidak kekurangan tetapi juga tidak berlebihan, yang disesuaikan dengan usia, kualitas dan kuantitas gerak serta kondisi tubuh.<br />
Pada beberapa orang, pada saat puasa mempunyai keluhan seperti merasa lemas dan lesu atau stamina menurun, juga gangguan pencernaan seperti perut kembung dan gangguan lambung. Beberapa bahan pangan tertentu seperti madu, jahe, kencur, temu lawak, dan bahan-bahan lainnya dapat digunakan untuk mengatasi stamina menurun, kembung, dan gangguan lambung pada saat puasa.</p>
	<p>Berikut beberapa bahan alami yang dapat digunakan agar puasa tetap fit dan segar.</p>
	<p>1.MADU<br />
Khasiat : meningkatkan stamina serta mempertahankan stabilitias tubuh agar tetap sehat dan bugar, melancarkan proses metabolisme, untuk kecantikan dan awet muda, mencegah gangguan pencernaan, dan lain-lain</p>
	<p>2.KURMA<br />
Khasiat : meningkatkan stamina dan energi, mencegah &#038; mengatasi anemia (kurang darah), melancarkan pembuangan, sebagai penenang (merileksasi sel otot tubuh yang tegang), mencegah pendarahan rahim.</p>
	<p>3.JAHE (Zingiber officinale Rosc.)<br />
Khasiat : meningkatkan stamina, mengatasi perut kembung, masuk angin, mual, muntah, sakit kepala, pusing, demam, dan lain-lain</p>
	<p>4.TEMU LAWAK (Curcuma xanthorrhiza)<br />
Khasiat : kolesterol tinggi, meningkatkan stamina tubuh/tonikum, kurang darah, radang lambung/maag, perut kembung, dan lain-lain.</p>
	<p>5.KENCUR (Kaempferia galanga)<br />
Khasiat : meningkatkan stamina tubuh, menghilangkan bau mulut, radang lambung, kembung, mual, muntah, masuk angin, dan lain-lain.</p>
	<p>6.Ubi Jalar Merah (Ipomoea batatas)<br />
Khasiat : perut kembung, peluruh kentut, masuk angin, gangguan lambung</p>
	<p>7.KUNYIT (Curcuma domestica Val.)<br />
Khasiat /efek ; radang lambung, memperlancar pengeluaran empedu sehingga mengurangi perut kembung, mual, dan rasa begah di perut.</p>
	<p>8.KAPULAGA (Amomum cardamomum)<br />
Khasiat : untuk radang lambung, mual, muntah-muntah, perut sebah dan kembung.</p>
	<p>9.Kayu Manis (Cinnamomum burmanii)<br />
Khasiat : untuk radang lambung, mual, muntah-muntah, perut sebah dan kembung.</p>
	<p>10.CENGKEH (Eugenia aromatica)<br />
Khasiat : untuk sakit lambung, muntah karena lambung dingin, mual, kembung.</p>
	<p>Sumber: hembing
</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://multazimah.blogsome.com/2007/03/02/puasa-dan-kesehatan/feed/</wfw:commentRss>
	</item>
		<item>
		<title>Menghindari Keruskan Otak</title>
		<link>http://multazimah.blogsome.com/2007/03/02/menghindari-keruskan-otak/</link>
		<comments>http://multazimah.blogsome.com/2007/03/02/menghindari-keruskan-otak/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 02 Mar 2007 09:53:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>multazimah</dc:creator>
		
	<category>Nashihat</category>
	<category>Info</category>
		<guid>http://multazimah.blogsome.com/2007/03/02/menghindari-keruskan-otak/</guid>
		<description><![CDATA[	Tentu Anda memiliki rutinitas. Entah disadari atau tidak, kegiatan yang tidak pernah Anda lewati tersebut, lama kelamaan menjadi kebiasaan dan jika sewaktu-waktu Anda tidak melakukannya, Anda akan merasa hidup Anda tidak lengkap. 
	Contohnya: Setiap mandi, Anda melakukan ritual seperti scrub badan atau luluran lebih dulu. Jika kebiasaan Anda baik, akan menguntungkan, tetapi jika kebiasaan Anda [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[	<p>Tentu Anda memiliki rutinitas. Entah disadari atau tidak, kegiatan yang tidak pernah Anda lewati tersebut, lama kelamaan menjadi kebiasaan dan jika sewaktu-waktu Anda tidak melakukannya, Anda akan merasa hidup Anda tidak lengkap. <a id="more-58"></a></p>
	<p>Contohnya: Setiap mandi, Anda melakukan ritual seperti scrub badan atau luluran lebih dulu. Jika kebiasaan Anda baik, akan menguntungkan, tetapi jika kebiasaan Anda merugikan, justru akan berdampak negatif bagi kesehatan. Beberapa kebiasaan yang sepintas tidak berbahaya, ternyata menyimpan risiko kerusakan otak .</p>
	<p>Agar lebih jelas, simak saja artikel di bawah ini.</p>
	<p>1. Tidak Sarapan</p>
	<p>Cukup banyak orang yang mengganggap bahwa sarapan tidak terlalu penting, dan bisa menggemukan. Atau sarapan bisa menimbulkan kantuk saat kerja nanti. Pendapat ini salah. Tidak sarapan mengakibatkan turunnya tekanan darah yang nantinya akan mengurangi masukan nutrisi pada otak sehingga mengakibatkan kemunduran kerja otak</p>
	<p>2. Kelebihan Makan</p>
	<p>Terkadang orang lebih memilih tidak ngemil, akan tetapi mengambil porsi yang besar saat makan. Porsi makan yang langsung banyak tanpa sebelumnya diisi apa-apa selain bisa menimbulkan gangguan pencernaan, bisa menyebabkan pembengkakan di arteri otak, sehingga menyebabkan menurunnya mental power</p>
	<p>3. Merokok</p>
	<p>Banyak wanita merokok sebagai pengalihan dari mengemil atau untuk menghalau stress. Merokok adalah kebiasaan yang dapat menyebabkan penyusutan daya memori otak secara multiply yang arahnya ke penyakit Alzheimer.</p>
	<p>4. Konsumsi Gula Berlebihan</p>
	<p>Maksudnya adalah terlalu banyak makan makanan manis sehingga kadar gula dalam tubuh tinggi. Sebenarnya gula itu sendiri tidak didapat dari makanan manis seperti permen atau es krim. Semua makanan itu mengandung zat gula, dan akan bertambah jika Anda mengkonsumsi makanan manis lainnya. Kelebihan zat gula dalam tubuh akan menghambat penyerapan protein dan nutrisi lainnya oleh tubuh sehingga tubuh Anda akan kekurangan gizi dan bisa menyebabkan terhambatnya perkembangan otak.</p>
	<p>5. Polusi Udara</p>
	<p>Lingkungan yang berpolusi akan mempengaruhi kesehatan kita. Otak kita adalah bagian tubuh yang paling membutuhkan oksigen bersih. Dengan menghirup udara yang berpolusi, otak akan tercemar dengan polutan sehingga dapat memperlambat fugsi kerja otak kita.</p>
	<p>6. Sulitan Tidur</p>
	<p>Tidur adalah salah satu cara ampuh untuk mengistirahatkan otak. Jika Anda mengalami kesulitan tidur hampir setiap malam, dan sudah berlangsung cukup lama, hal itu akan mempercepat matinya sel-sel otak kita</p>
	<p>7. Menutup Kepala dengan Selimut saat Tidur</p>
	<p>Ini ada kaitannya dengan poin no.5. Tidur dengan selimut sampai ke kepala, mempersulit kita untuk bernafas dengan baik. Akibat yang muncul adalah otak akan kekurangan oksigen dan itu akan menurunkan kinerja otak kita.</p>
	<p>8. Bekerja ketika Sakit</p>
	<p>Sering kali beban pekerjaan menuntut Anda untuk tetap bekerja walaupun sedang sakit sekalipun. Sebagai informasi, tetap bekerja saat sakit atau tidak dalam kondisi prima, akan mengurangi efesiensi kerja otak, dan bisa berujung pada kerusakan otak.</p>
	<p>9. Jarang Berpikir</p>
	<p>Anda tahu gunanya psikotest? Fungsi utama dari beberapa materi psikotest itu adalah melatih otak kita berpikir cepat. Seperti yang Anda ketahui, berpikir adalah salah satu cara melatih otak kita. Kurangnya latihan untuk menstimulasi otak akan menyebabkan penurunan kinerja otak.</p>
	<p>10. Jarang Bicara</p>
	<p>Ada banyak orang pendiam, akan tetapi diamnya seseorang bukan karena dia tidak mau bicara, bisa jadi karena hanya ingin berbicara jika ada topik menarik. Tetapi ada juga orang pendiam yang memang benar-benar tidak ingin bicara. Berbicara itu sebenarnya penting untuk melatih kinerja otak kita. Dengan terlibat aktif dalam pembicaraan terutama tentang pengetahuan, akan mendorong dan melatih kinerja otak secara maksimal.
</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://multazimah.blogsome.com/2007/03/02/menghindari-keruskan-otak/feed/</wfw:commentRss>
	</item>
		<item>
		<title>Rumah Kepribadian</title>
		<link>http://multazimah.blogsome.com/2007/02/23/rumah-kepribadian/</link>
		<comments>http://multazimah.blogsome.com/2007/02/23/rumah-kepribadian/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 23 Feb 2007 10:13:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>multazimah</dc:creator>
		
	<category>Renungan</category>
		<guid>http://multazimah.blogsome.com/2007/02/23/rumah-kepribadian/</guid>
		<description><![CDATA[	Telah kita ketahui bersama bahwa proses penciptaan manusia terdiri dari dua unsur yaitu jasmani dan rohani. Kedua unsur tersebut akan membangun suatu sistem kompleks menjadi “manusia seutuhnya”, yaitu manusia yang mempunyai keseimbangan lahir dan batin. Jasmani adalah unsur manusia yang membutuhkan fasilitas berupa materi seperti tempat, makan, minum, pakaian, obat-obatan dan sebagainya. Lebih sepesifik lagi, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[	<p>Telah kita ketahui bersama bahwa proses penciptaan manusia terdiri dari dua unsur yaitu jasmani dan rohani. Kedua unsur tersebut akan membangun suatu sistem kompleks menjadi “manusia seutuhnya”, yaitu manusia yang mempunyai keseimbangan lahir dan batin. Jasmani adalah unsur manusia yang membutuhkan fasilitas berupa materi seperti tempat, makan, minum, pakaian, obat-obatan dan sebagainya. Lebih sepesifik lagi, jasmani membutuhkan tempat untuk bernaung dari ganasnya alam. Dengan tempat tersebut jasmani dapat eksis menjalankan fungsi-fungsi sebagai bagian dari manusia itu sendiri. <a id="more-51"></a></p>
	<p>Seperti halnya jasmani, rohanipun memerlukan tempat bernaung. Yang mana tempat tersebut akan menjaga, melindungi, memelihara dan melestarikan kepribadian manusia. Tempat tersebut kita namakan sebagai “rumah kepribadian”. Supaya rumah tersebut dapat berfungsi optimal perlu adanya rekonstruksi/pembangunan. Sekarang yang menjadi masalah, bagaiman membangun rumah kepribadian tersebut?</p>
	<p>Untuk membangun rumah kepribadian idaman diperlukan  pondasi dasar yang kokoh, yaitu akal(ilmu) dan hati. Mengapa demikian? Karena rumah kepribadian yang dibangun oleh akal dan hati akan melahirkan kamar-kamar kebaikan entah itu berupa kamar shobar, ikhlas, qona’ah, tawadhu’, khusyu’,  ridho, dan lain sebagainya. Uniknya semua penghuni kamar-kamar tersebut akan selalu patuh dan taat kepada apa yang kita perintah. Mereka akan senantiasa setia menemani kita dalam setiap waktu dan kesempatan. Pendek kata, mereka menjadi abdi/pembantu kita dalam mengatasi segala persoalan dan kesusahan hidup.</p>
	<p>Di saat ditimpa musibah, kadang terasa amat berat hati kita untuk menerimanya. Agaknya kita tidak bisa menyelesaikannya tanpa bantuan orang lain yang memang sudah berpengalaman dibidangnya. Kitapun akan berfikir: “Siapa ya, yang dapat membantu?” Maka hati kita akan berkata: “Oh ya, saya ‘kan punya teman yang bernama “Ahmad Shobar” yang tinggal di kamar sebelah. Mungkin dia bisa membantu saya”. Karena rumah kepribadian kita sudah punya kamar shobar maka kita tidak kesulitan mencari saudara kita Si Shobar. Tak lama kemudian, Si Shobar pun datang berkunjung ke hati kita, siap membantu apa saja yang kita inginkan. Akhirnya kita pun dapat menyelesaikan musibah/bencana tersebut dengan mudah, yaitu dengan sifat shobar yang telah bersema-yam di hati kita.</p>
	<p>Alangkah indahnya rumah kepribadian kita. Yaitu rumah yang dihiasi dengan kamar-kamar kebaikan abadi. Setiap ada masalah selalu saja ada jalan keluar karena kita  ditemani oleh sosok-sosok yang mengerti akan diri kita.<br />
Bagaimana cara membangun ruamah kepribadian? </p>
	<p>Rumah Kepribadian Yang Didasarkan pada Nafsu<br />
             Rumah kepribadian yang pondasinya nafsu cenderung akan melahirkan tembok-tembok penghalang yang sulit diatur yaitu “tembok nafsu”. Tembok-tembok tersebut akan berdiri liar di tempat-tempat yang tidak kita inginkan. Sehingga kamar-kamar kebajikan yang telah ada di rumah kepribadian kita lama-kelamaan akan tertutup olek tembok nafsu tersebut. Pada akhirnya kita sulit memanggil dan menghadirkan penghuni kamar-kamar kebajikan itu. Si shobar, ikhlas, jujur, qona&#8217;ah dan teman-temannya akan meninggalkan kita sendirian. </p>
	<p>Adapun tipe tembok nafsu tersebut bermacam-macam diantaranya:<br />
 1.Tembok kebodohan (al-jahlu)<br />
          Sangat sempit sekali jika rumah kepribadian kita sudah terbangun tembok kebodohan. Ruang gerak hati kita pun menjadi sempit. Tidak bisa menerima kebenaran apapun dari orang lain, lebih-lebih kebenaran wahyu. Dalam bertindak cenderung tanpa arah dan kontrol, sehingga sangat boleh jadi akan meresahkan orang lain di sekitarnya. Ada untaian kata yang sangat bagus, bahwa kebodohan merupakan segala asal dan sebab terjadinya kerusakan di muka bumi. Sehingga apa jadinya kalau semua penghuni bumi ini adalah orang-orang yang bodoh, lebih-lebih bodoh dalam ilmu syar&#8217;i? Sebuah pertanyaan besar yang tak perlu kita jawab, tetapi perlu kita renungkan dengan serius. OK !</p>
	<p>2.Tembok kezholiman (al-zhulmu)<br />
             Zholim merupakan suatu perbuatan menempatkan sesuatu tidak pada tempatnya, bertindak tidak sesuai prosedur dan tuntunan yang ada. Orang yang sudah tereinfeksi firus zholim ini cenderung akan menghalalkan segala cara untuk meraih hasrat dan keinginannya. Tidak peduli apakah itu merugikan orang lain atau tidak. Pokoknya aku harus mendapatkan itu&#8230;.., kalau tidak&#8230;.. awwas&#8230;.. jangan salahkan aku&#8230;.! Itulah ungkapan yang sering keluar dari seseorang yang zholim. Jika ciri-ciri di atas sudah akan muncul pada rumah kepribadian kita atau bahkan memang sudah ada maka kita harus segera merobohkan dan menghancurkannya.</p>
	<p>3.Tembok bakhil (al-bukhlu)<br />
             Banyak orang yang menyangka bahwa dengan berlaku bakhil mereka akan menjadi kaya. Benarkah? Tentu jawabnya &#8220;no&#8221; alias &#8220;tidak&#8221; alias lagi &#8220;ora&#8221; dan alias sekali lagi &#8220;laa&#8221; Sifat bakhil jelas tidak akan mendatangkan kekayaan pada diri kita.<br />
Bersambung&#8230;..!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://multazimah.blogsome.com/2007/02/23/rumah-kepribadian/feed/</wfw:commentRss>
	</item>
		<item>
		<title>Aliran pemikiran</title>
		<link>http://multazimah.blogsome.com/2007/02/23/aliran-pemikiran/</link>
		<comments>http://multazimah.blogsome.com/2007/02/23/aliran-pemikiran/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 23 Feb 2007 10:11:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>multazimah</dc:creator>
		
	<category>Dakwah</category>
		<guid>http://multazimah.blogsome.com/2007/02/23/aliran-pemikiran/</guid>
		<description><![CDATA[	Murji&#8217;ah
	Kata Murji&#8217;ah berasal dari suku kata Bahasa Arab raja&#8217;a yang berarti kembali. Maksudnya adalah golongan atau aliran yang berpendapat bahwa konsekuensi hukum dari perbuatan manusia bergantung pada Allah SWT.
Awal Munculnya Golongan Murji&#8217;ah 
Golongan Murji&#8217;ah pertama kali muncul di Damaskus pada penghujung abad pertama Hijriyah. Murji&#8217;ah pernah mengalami kejayaan yang cukup signifikan pada masa Daulah Umawiyah, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[	<p><strong>Murji&#8217;ah</strong></p>
	<p>Kata Murji&#8217;ah berasal dari suku kata Bahasa Arab raja&#8217;a yang berarti kembali. Maksudnya adalah golongan atau aliran yang berpendapat bahwa konsekuensi hukum dari perbuatan manusia bergantung pada Allah SWT.<br />
Awal Munculnya Golongan Murji&#8217;ah <a id="more-47"></a><br />
Golongan Murji&#8217;ah pertama kali muncul di Damaskus pada penghujung abad pertama Hijriyah. Murji&#8217;ah pernah mengalami kejayaan yang cukup signifikan pada masa Daulah Umawiyah, namun setelah runtuhnya Daulah Umawiyah tersebut, golongan Murji&#8217;ah ikut redup dan berangsur-angsur hilang ditelan zaman, hingga kini aliran tersebut sudah tidak terdengar lagi, namun sebagian fahamnya masih ada yang diikuti oleh sebagian orang, sekalipun bertentangan oleh sebagian orang, sekalipun bertentangan dengan Alquran dan sunah. </p>
	<p>Ciri-Ciri Faham Murji&#8217;ah<br />
Diantara cirri cirri faham Murji&#8217;ah adalah:<br />
1. Rukun iman ada dua yaitu: iman kepada Allah dan iman kepada utusan Allah.<br />
2. Orang yang berbuat dosa besar, statusnya tetap mukmin selama ia telah beriman, dan bila meninggal dalam dosa tersebut, ketentuannya tergantung Allah di Akhirat kelak.<br />
3. Perbuatan maksiat tidak berdampak apapun terhadap seseorang bila telah beriman. Dalam artian bahwa dosa sebesar apapun tidak dapat mempengaruhi keimanan seseorang dan keimanan tidak dapat pula mempengaruhi dosa. Dalam arti dosa ya dosa, iman ya iman.<br />
4. Perbuatan kebajikan tidak berarti apapun bila dilakukan di saat kafir. Artinya perbuatan tersebut tidak dapat menghapuskan dosa kekafirannya dan bila ia telah Islam, perbuatan tersebut juga tidak bermanfaat, karena ia melakukannya sebelum masuk Islam. </p>
	<p>Golongan Murji&#8217;ah tidak mau mengkafirkan orang yang telah masuk Islam, sekalipun orang tersebut zalim, berbuat maksiat dan lain-lain. Sebab mereka mempunyai keyakinan bahwa perbuatan dosa sebesar apapun tidak mempengaruhi keimanan seseorang selama orang tersebut masih muslim, kecuali bila orang tersebut telah keluar dari Islam (murtad) maka ia dihukumi kafir. Aliran Murji&#8217;ah juga menganggap bahwa orang yang secara lahirmenampakann kekafiran, namun bila batinnya tidak, maka orang tersebut tidak dapat dihukumi kafir. Sebab, penilaian kafir atau tidaknya seseorang itu tidak dilihat dari segi lahirnya, namun bergantung kepada batinnya. Sebab ketentuannya terletak pada i&#8217;tiqad seseorang dan bukan segi lahiriahnya. </p>
	<p><strong>Qadariyah</strong></p>
	<p>Golongan Qadariyah pertama kali muncul kira-kira pada tahun 70 H di Irak pada masa Khalifah Abdul Malik bin Marwan yang hidup antara tahun 685&#8211;705 M. Kelompok Qadariyah ini dimotori oleh Ma’bad bin Juhani al-Bisry (w. 699 M) dan Al-Ja’du bin Dirham.<br />
Pada awal munculnya kelompok Qadariyah ini diduga sebagai protes atas kezaliman politik Bani Umayah. Qadariyah sangat bertolak belakang dengan paham kelompok Jabariyah. Jabariyah mempunyai kepercayaan bahwa segala sesuatu tentang manusia sudah terkait dengan ketentuan Allah, sementara Qadariyah mengatakan bahwa manusia tidak selamanya terkait pada ketentuan Allah semata, tetapi harus disertai dengan upaya dan usaha untuk menentukan nasibnya. </p>
	<p>Ciri-Ciri Paham Qadariyah<br />
Di antara cirri-ciri paham Qadariyah adalah sebagai berikut.<br />
1. Manusia berkuasa penuh untuk menentukan nasib dan perbuatannya, maka perbuatan dan nasib manusia itu dilakukan dan terjadi atas kehendak dirinya sendiri, tanpa ada campur tangan Allah SWT.<br />
2. Iman adalah pengetahuan dan pemahaman, sedang amal perbuatan tidak mempengaruhi iman. Artinya, orang berbuat dosa besar tidak mempengaruhi keimanannya.<br />
3. Orang yang sudah beriman tidak perlu tergesa-gesa menjalankan ibadah dan amal-amal kebajikan lainnya. </p>
	<p>Perkembangan Qadariyah<br />
Aliran Qadariyah termasuk yang cukup cepat berkembang dan mendapat dukungan cukup luas di kalangan masyarakat, sebelum akhirnya pemimpinnya, Ma’bad dan beberapa tokohnya, berhasil ditangkap dan dihukum mati oleh penguasa Damsyiq pada tahun 80 H/699 M, karena menyebarkan ajaran sesat. Sejak terbunuhnya pentolan Qadariyah tersebut, aliran Qadariyah mulai pudar, sehingga akhirnya sirna dimakan zaman dan kini tinggal sebuah nama yang tertulis di dalam buku. Namun, sebagai pahamnya masih dianut oleh sebagian orang. </p>
	<p><strong>Firqah-Firqah Masa Sahabat dan Generasi Berikutnya: </strong></p>
	<p><strong>Khawarij (I)</strong></p>
	<p>Secara bahasa Khawarij berasal dari suku kata Arab kharaja yang artinya keluar atau hengkang. Adapun secara istilah adalah sebuah aliran atau golongan atau sekelompok orang yang pada mulanya setia dan mendukung kepada khalifah Ali bin Abi Thalib, kemudian keluar dan tidak mendukung Ali bin Abi Thalib, kemudian bergabung dengan kelompok lain kerena tidak setuju dengan kebijakan pemerintahan khalifah Ali bin Abu Tahlib. (Al-Milal wan-Nihal I/114&#8211;115).</p>
	<p>Awal dan Sebab Timbulnya Khawarij<br />
Golongan Khawarij muncul sejak terjadi Perang Siffin, yaitu perang saudara yang terjadi antarpengikut Ali bin Abi Thalib sebagai khalifah yang sah dengan pemberontak yang dipimpin Muawiyah. Peperangan itu diakhiri dengan genjatan senjata, untuk mengadakan perundingan antar kedua belah pihak, namun di antara sebagian pengikut Khalifah Ali r.a. tidak setuju dengan genjatan senjata tersebut, mereka keluar dari kelompok Ali bin Abi Thalib dan membuat kelompok sendiri yang disebut Khawarij, yaitu orang-orang yang tidak puas dengan kebijakan Khalifah Ali bin Abi Thalib. Kelompok Khawarij ini akhirnya menentang kelompok Ali dan Muawiyah. </p>
	<p>Kaum Khawarij menganggap bahwa Ali bin Abi Thalib r.a. adalah pemimpin yang tidak tegas dalam mengambil sikap dan keputusan dalam membela kebenaran. Golongan Khawarij ini cepat berkembang dan menyebar ke berbagai wilayah Islam. Oposisi dan pengaruhnya mampu meruntuhkan daulah Umawiyah bagian timur, dan pengaruh Abu Muslim al-Khurasany mampu menggulingkan pemerintahan Muawiyah di Persi. </p>
	<p>Golongan Khawarij berkembang kurang lebih selama dua abad, kemudian pecah menjadi 20 golongan sebelum akhirnya sirna tinggal namanya ditelan zaman dan sampai saat ini golongan tersebut sudah tidak ada lagi. </p>
	<p>Ciri-Ciri dan Pokok-Pokok Ajaran Khawarij </p>
	<p>Diantara ciri-ciri dan pokok-pokok ajaran khawarij adalah sebagai berikut. </p>
	<p>1. Ali bin Abi Thalib, Utsman, dan para pengikut Perang Jamal, serta mereka yang setuju dengan adanya perundingan antara Ali dan Muawiyah dihukum kafir oleh kaum Khawarij.<br />
2. Setiap umat Muhammad yang berbuat dosa besar dan hingga meninggal belum bertobat, mereka dianggap mati kafir dan kekal di dalam neraka.<br />
3. Diperbolehkan tidak mengikuti dan tidak menaati aturan-aturan seorang kepala negara (khalifah) yang zalim dan penghianat.<br />
4. Tidak ada hukum selain yang bersumber dari Alquran (mereka menolak hadis).<br />
5. Anak-anak orang kafir yang mati sebelum balig tetap masuk neraka, karena dihukumi kafir seperti induknya.<br />
6. Semua dosa adalah besar, tidak ada dosa yang kecil.<br />
7. Ibadah termasuk rukun Iman.<br />
8. Siti Aisyah (isteri Rasulullah saw.) terkutuk karena Perang Jamal melawan Ali bin Abi Thalib.<br />
9. Ali bin Abi Thalib tidak sah menjadi khalifah setelah tahkim dan lain-lain. </p>
	<p>Perpecahan di Tubuh Khawarij </p>
	<p>Golongan Khawarij yang mengalami kejayaan kurang lebih dua abad, akhirnya runtuh. Ikatan tali persatuan yang mereka bangun akhirnya pudar disebabkan perpecahan dahsyat yang menggerogoti tubuhnya. Akibatnya, Khawarij tinggal sebuah nama yang terukir dalam sejarah dan tertulis dalam buku. Ini sesuai dengan firman Allah SWT yang menyatakan bahwa kebatilan akan sirna, sehingga sirna pulalah setiap aliran yang menyalahi aturan Islam. </p>
	<p>Kaum Khawarij pecah menjadi 20 golongan, di antaranya adalah: </p>
	<p>1. Al-Azariqah, yaitu sempalan Khawarij yang dikomandoi oleh Abu Rasyid Nafi&#8217; bin al-Azraq, mereka keluar dari Bashrah bersama Nafi&#8217; menuju al-Ahwaz.<br />
2. An-Najadat al-Adzirabah, yaitu aliran sempalan Khawarij di bawah komando Najdah bin Amir Al-Hanafi. Mereka keluar dari Al-Yamamah bersama bala tentaranya bertujuan menemui Al-Adzariqah. Najdah akhirnya terbunuh pada tahun 69 H.<br />
3. Al-Baihasiyah, yaitu kelompok sempalan dari khawarij yang dikomandoi oleh Abu Baihah al-Haisam bin Jabir.<br />
4. Al-Ajaridah, yaitu kelompok sempalan Khawarij yang bernaung di bawah kepemimpinan Abdul Karim bin Ajarid.<br />
5. Al-Tsa&#8217;alibah, yaitu kelompok sempalan Khawarij yang bernaung di bawah kepempimpinan Al-Tsa&#8217;alibah.<br />
6. Al-Ibadliyah, yaitu kelompok sempalan Khawarij yang bernaung di bawah kepempimpinan Abdullah bin Ibadl dari kalangan Bani Murrah bin Ubaid bin Taim.<br />
7. As-Shufriyah al-Ziyadiah, yaitu kelompok sempalan Khawarij yang bernaung di bawah payung Ziyad bin al-Ashfar dan lain-lain. </p>
	<p>Tokoh-Tokoh Golongan Khawarij </p>
	<p>Di antara tokoh-tokoh golongan Khawarij yang terkenal adalah<br />
1. Ikrimah,<br />
2. Abu Harin al-Abadi,<br />
3. Abu Sya&#8217;tsa,<br />
4. Ismail bin Sami&#8217;.<br />
Keempat tokoh ini adalah para pendahulu, pentolan kaum Khawarij. </p>
	<p>Adapun pentolan kaum Khawarij kelompok mutaakhhirin di antaranya adalah<br />
1. Al-Yaman bin Rabab,<br />
2. Tsa&#8217;by,<br />
3. Baihaqi,<br />
4. Abdullah bin Yazid,<br />
5. Muhammad bin Harb,<br />
6. Yahya bin Kamil,<br />
7. Ibadliyah, dan lain-lain. </p>
	<p>Adapun para penyair kaum Khawarij yang terkenal di antaranya adalah<br />
1. Imran bin Khattam<br />
2. Hubaib bin Murrah,<br />
3. Jahm bin Shafyan,<br />
4. Abu Marwah Ghailam bin Muslim. </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://multazimah.blogsome.com/2007/02/23/aliran-pemikiran/feed/</wfw:commentRss>
	</item>
		<item>
		<title>Bahaya Terbesar Penghancur Umat</title>
		<link>http://multazimah.blogsome.com/2007/02/23/bahaya-terbesar-penghancur-umat/</link>
		<comments>http://multazimah.blogsome.com/2007/02/23/bahaya-terbesar-penghancur-umat/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 23 Feb 2007 10:09:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>multazimah</dc:creator>
		
	<category>Nashihat</category>
	<category>Dakwah</category>
		<guid>http://multazimah.blogsome.com/2007/02/23/bahaya-terbesar-penghancur-umat/</guid>
		<description><![CDATA[	Cinta, kau manis tanpa gula
Kau indah nan sempurna
Kau surgaku
Kau hidup dan matiku
Kekasih, kau rinduku
Kau sayangku
Kau kucinta dan kumanja
Kau belahan jiwa

	            Syair-syair penumbuh suasana syahwati kayak ini nih yang kerap kali melambungkan lamunan generasi muslim. Yang kemudian mengkristal jadi ruh dari bagian gaya hidupnya. Hingga [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[	<p align="center"><em>Cinta, kau manis tanpa gula<br />
Kau indah nan sempurna<br />
Kau surgaku<br />
Kau hidup dan matiku<br />
Kekasih, kau rinduku<br />
Kau sayangku<br />
Kau kucinta dan kumanja<br />
Kau belahan jiwa</em></p>
<a id="more-48"></a></p>
	<p>            Syair-syair penumbuh suasana syahwati kayak ini nih yang kerap kali melambungkan lamunan generasi muslim. Yang kemudian mengkristal jadi ruh dari bagian gaya hidupnya. Hingga karenanya telinga bagaikan tuli, mata kayak buta, lidah terasa pahit dan hati terasa sesak bila sehari nggak nyenandungin syair-syair kayak di atas. Memang asyik sich, apalagi udah ada cewek/cowoh yang dilirik. Kayaknya nggak ada manusia yang sempurna melebihi dia. Setiap saat yang kebayang cuman kemolekan fisik sosok yang dianggap kekasihnya itu, padahal bukan&#8211;GeeErr kali ya. Parahnya, ia sering ngebayangin yang nggak-nggak sampe jauhnya amit-amit, di luar jangkauan. Sampe nggak jarang daya tariknya bisa nyeret onggokan “cinta birahi” si abang yang mabuk kepayang.</p>
	<p>            Lebih konkritnya lagi, sulutan api pembangkit syahwat kayak gituan, terlukis dalam dunia layar lebar dan layar kaca ajaib. Lewat penyajian sinetron-sinetron yang bertajuk cinta birahi serta seks yang vulgar, jorok dan menjijikkan. Tentunya dimaenin si cantik yang aduhai, guna ngebius saku penontonnya yang amoral. Ironisnya pemerannya sendiri juga jijik ngelihat adegan yang dilakukannya. Lalu apa saat shutting ia lupa ingatan? </p>
	<p>            Memang aneh sich dunia saat ini. Banyak wanita yang antri panjang ngrebutin kursi popularitas, sampe siap mretelin seluruh aurotnya. Tentunya dengan modal yang cukup paten. Rupa bisa dijual, karena cantik dan bentuk tubuh yang menawan. Sampe  terdengar ringkik kekufuran kayak ini, “Kalo cuman ciuman sich, ayo saja. Nggak dalam film saja, kayak itu biasa kok”, bagi mereka yang udah punya pacar. Peran apa saja yang diminta cerita nggak ditolak, meski harus ngelakuin adekan panas di atas ranjang sekalipun. Bahkan sebagian mereka nggak mau pake pemain pengganti. Katanya, “kalau aku lakuin sendiri, aku lebih bisa ngontrol emosi and acting aku”</p>
	<p>            Sungguh begitu memprihatinkan dunia kita saat ini. Seks bebas seakan udah menjamur di mana-mana. Kayak layaknya rumput yang tumbuh di musim hujan. Dunia gelamour (dugem), hedonistik, materialistik dan perkembangan teknologi seakan bagai air hujan yang siap nganterin mereka menuju puncak kenikmatan sesaat.<br />
***<br />
            Seks bebas (free sex) sebenarnya budaya jahiliyyah yang nggak pantas kita tiru, karena kita udah maju dari segi peradaban. Nggak layaklah kalo kita ngaku orang modern tapi budaya jahiliyyah masih kita agung-agungkan. Kembali ke sejarah, salah satu ciri masyarakat jahiliyyah sebelum Rasulullah diutus adalah adanya krisis moral masalah seksual. Pada saat itu wanita cuman sebagai objek seksual (maaf). Wanita dianggap barang dagangan yang nggak ada nilainya sama sekali. Wanita harus ngikut kemauan laki-laki secara mutlak. Sehingga nggak heran kalo ada orang tua yang tega ngubur hidup-hidup anak perempuannya, karena memang dianggap nggak ada artinya, merepotkan dan bikin terhina.</p>
	<p>            Demikian halnya tabiat wanita saat itu sangat rusak. Mereka cenderung kemayu, nggak kerasan di rumah. Suka tabarruj, lebih mahal “bungkus” dari pada “isi”, kayak itu lho makanan anak-anak; Taro, Topten dll. Sehingga mereka tega ngorbanin “isi” cuman untuk beli “bungkus”. Cuman untuk beli baju, makan dan perhiasan saja mereka tega menjual harga diri. Mereka ingin enak bareng laki-laki lain  tapi nggak mau susah-susah menyusui anak, ngerawat dan mbesarin (QS.33:32-33)</p>
	<p>             Fenomena jahiliyyah di atas kayaknya tumbuh subur lagi di dunia ini. Bahkan justru lebih seru dan saru banget. Perbuatan amoral itu nggak lagi dilakuin secara sembunyi-sebunyi justru ingin diekspos media. Nggak ketinggalan anak-anak sekolahan juga ikutan coba-coba eksperiment. Memang sich, pertama nikmat (katanya,red-) tapi akhirnya bisa kiamat. Belum nikah udah hamil duluan, sehingga si wanita harus nanggung akibat dari perbuatan yang telah mereka lakukan. Dan boleh jadi si pria nggak mau tanggung jawab, malah kabur entah kemana.</p>
	<p>***<br />
            Timbul pertanyaan, kalo gitu berarti kita nggak boleh nge-seks donk? Bukannya nggak boleh, bahkan bisa wajib asalkan dengan cara yang benar sesuai aturan, bukan bebas tanpa aturan kayak binatang dan kawan-kawannya itu lho. Istilahnya kumpul kebo, kumpul ayam, kumpul&#8230; atau apaalah. </p>
	<p>Seks itu fitrah (manusiawi). Tiap insan dewasa normal pasti punya dorongan seks (libido). Libido ini nggak bisa dimampusin, tapi kudu disalurkan pake cara yang halalan, thoyyiban and sehat, kayak makanan azza. Tapi nyatanya, seks yang katanya fitrah dan karunia Alloh nan indah itu berubah fungsi (disfunction) jadi ajang komoditi guna mencari untung sebesar mungkin, kayak itu lho pedagang gudeg. Norma-norma yang berlaku dalam tata kehidupan nggak lagi jadi pegangan. Puncak eksploitasi itu terlihat dengan hadirnya segudang pendatang baru yang kian menantang. Yang siap beraksi pake hidung belang dan “senjata andalannya”. Sehingga aktivitas seks bebas, prostitusi dan pelacuran dianggap pekerjaan halal yang wajib dilindungi pemerintah, nauzubillahi min dzalik&#8230;</p>
	<p>Kenapa hal itu bisa terjadi dan menimpa mereka? Karena minimnya pendidikan agama bagi generasi muda. Juga karena mereka nggak tau permasalahan seks yang sebenarnya. Nggak ada pendidikan seks yang bisa mengarahkan perilaku mereka. Soalnya ada image bahwa bicara soal seks itu tabu, saru dan nggak etis. </p>
	<p>Sebenarnya seks bukanlah barang yang tabu untuk dibicarakan. Namun bangsa kita telah kadung terbawa kultur malu dan tabu bicara masalah seks. Akibatnya sejumlah ajaran Islam tentang seks nggak tersampaikan. Remaja sering kali nggak paham serba-serbi soal seks. Kemudian timbullah pacaran yang dampaknya bisa menjurus pada seks bebas (free sex). Sehingga nggak asing lagi di masyarakat kita muncul istilah “Pemilu” alias pernikahan hamil dahulu. Ujung-ujungnya bisa terjadi aborsi atau mungkin terjangkit penyakit menular seksual. Hiii &#8230;&#8230;&#8230;.. ngeri sekali.</p>
	<p>Bicara soal hukum dan etika seks secara lugas dan gamblang merupakan ibadah, karena termasuk tafaqquh fiddin. Hal ini nggak akan berdampak negatif, selama dilakukan secara serius, proporsional, arif, ilmiah, etis dan penuh kedewasaan kayak yang diungkap oleh Abdullah Nashih ‘Ulwan dalam Mas’uliyah at-Tarbiyyah al-Jinsiyyah (1984). Lebih jauh lagi, bicara soal seks justru punya tujuan ngilangin kenggakjelasan mitos dan kesalah pahaman tentang masalah seksual.</p>
	<p>Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan berkaitan dengan masalah seks,<br />
1. Seks itu ibadah<br />
Wah, enak sekali ya, tapi seks yang kayak apa? Yang jelas aktivitas seks yang diawali oleh adanya ikatan suci pernikahan. Aktivitas seks pasangan suami istri yang sah merupakan pelaksanaan perintah Alloh. Aktivitas seks akan bernilai ibadah dan mendapat pahala bila dilakukan dengan niat, motivasi dan cara yang sesuai dengan ajaran Islam. Sebaliknya, jika dilakukan dengan niat dan cara yang dilarang, maka akan menjadi bernilai maksiat dan dosa<br />
2. Seks itu rekreasi<br />
Seks merupakan bagian dari proses reproduksi yang bertujuan untuk mendapatkan anak. Selain itu, seks juga merupakan sarana untuk mencari kenikmatan dan bersenang-senang dengan pasangan yang sah. Pada proses reproduksi ini, selain kenikmatan fisik, Alloh memberikan aturan yang tegas bagaimana cara memenuhinya.<br />
Tetapi perlu digarisbawahi, jika seks sudah diselewengkan dan ditempatkan nggak sebagaimana mestinya pasti akan menimbulkan hal-hal yang nggak kita inginkan. Bahaya terbesar akan mengancam umat. krisis moral bisa bikin bangsa kita keok and terpuruk oleh peradaban. Umat Islam menjadi nggak bakalan bisa jaya kalo generasinya udah pada kecanduan free sex. </p>
	<p>Adapun akibat dari penyimpangan perilaku seksual (free sex) antara lain:<br />
1. Penyakit Menular Seksual (PMS)<br />
Remaja yang sudah sering ngelakuin hubungan seks akan selalu terdorong untuk melakukan kembali dan karena belum ada pasangan tetap maka akan cenderung “jajan” cari selera yang baru dengan berganti-ganti pasangan. Keadaan ini akan memperparah terjadinya penyakit menular seksual kayak gonorhoe, cacar lunak, siphilis maupun AIDS. PMS sering berakhir dengan adanya komplikasi tetap berupa infertilitas dan kemandulan<br />
2.Kanker leher rahim<br />
Hubungan seks pra nikah pada umumnya terjadi di kalangan remaja yang usianya belum cukup dewasa. Pada usia remaja, maturitas sel-sel epitel mulut rahim belum cukup matang. Adanya rangsangan seksual (gesekan benda tumpul/penis) akan memacu terjadinya proses keganasan pada leher rahim (kanker)<br />
3. Kehamilan yang nggak dikehendaki dan abortus provokatus kriminalis<br />
Dampak langsung yang sering terjadi adanya hubungan seks pra nikah adalah terjadinya kehamilan yang nggak dikehendaki dan upaya melakukan aborsi ilegal.<br />
Disamping itu, sedikitnya ada 6 dosa akibat adanya perbuatan pergaulan bebas (free sex). Keenam-enamnya akan ditanggung oleh si wanita sedangkan si pria cuman naggung satu. </p>
	<p>Adapun 6 dosa tersebut adalah:<br />
1. Dosa biologis<br />
Dosa ini cuman dialami oleh si wanita. Wanita harus kehilangan keperawanan, selaput dara sobek dan rasa sakit yang sangat. Wanita pulalah yang akan hamil, melahirkan, menyusui, merawat dan membesarkan bayi akibat “kecelakaan yang nikmat” tersebut. Sedangkan si pria cenderung nggak mau tahu, bahkan pergi nggak terdeteksi<br />
2. Dosa psikologis<br />
Dosa ini juga cenderung cuman dialami si wanita. Karena secara psikis ia yang  menanggung malu, putus asa, stress dan menyesal<br />
3. Dosa sosiologis<br />
Dosa inipun banyak dialami oleh wanita, karena status sosialnya udah berubah menjadi nggak perawan lagi. Kadang ia dikucilkan, dicaci-maki atau diusir dari komunitas masyarakat. Sedang si pria belum diusir udah kabur duluan<br />
4. Dosa akademis<br />
Kalo udah terjadi kayak gituan, wanitalah yang akan terhambat menikmati pendidikan secara formal. Boleh jadi ia nggak sanggup nyelesaikan sekolah karena beban mental atau di DO<br />
5. Dosa historis<br />
Secara historis, wanita lebih sensitif terhadap peristiwa pahit yang telah terjadi. Ia cenderung trauma dan sukar melupakan peristiwa masa lampau. Ini akan menjadi beban tersendiri baginya.<br />
6. Dosa teologis<br />
Dosa ini akan dialami oleh wanita maupun pria yang nge-seks tersebut. Dan inilah dosa sesungguhnya yang akan mendapat laknat dari Alloh swt serta diancam neraka, jika sampai akhir hayatnya nggak mau tobat.</p>
	<p>Memang, seks merupakan hajat dasar manusia. Ia nggak boleh dibunuh, tapi jangan pula diumbar. Sayang banyak manusia yang terpedaya oleh buaian nafsu ini. Yang perlu kita lakuin saat ini cuman ngupayain agar kita nggak terjerumus dalam free sex tersebut. Juga nasehatin saudara-saudara kita yang lain agar lebih hati-hati. Mari jaga pandangan, jangan biarin pandangan kita liar kemana-mana kalo ada pengundang syahwat lewat. Hindari sedini mungkin pergaulan dengan lawan jenis secara berlebih. Jangan suka ikhtilat kecuali dalam tiga hal, pertama: dalam tujuan dakwah, kedua: dalam tujuan pendidikan dan ketiga dalam tujuan kesehatan (Jumhur ulama). Dan bagi yang udah siap nikah nggak usah nunggu-nunggu atau dipersulit apalagi bagi akhwat. Intinya segeralah menikah sebelum “bahaya terbesar itu” menimpa diri kamu</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://multazimah.blogsome.com/2007/02/23/bahaya-terbesar-penghancur-umat/feed/</wfw:commentRss>
	</item>
		<item>
		<title>Komitmen</title>
		<link>http://multazimah.blogsome.com/2007/02/23/komitmen/</link>
		<comments>http://multazimah.blogsome.com/2007/02/23/komitmen/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 23 Feb 2007 10:08:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>multazimah</dc:creator>
		
	<category>Nashihat</category>
		<guid>http://multazimah.blogsome.com/2007/02/23/komitmen/</guid>
		<description><![CDATA[	Assalamu&#8217;alaikum wr. wb. 
	Mari kembali kepada komitmen kita, komitmen dalam iman, hijrah dan da&#8217;wah.
Saudaraku,&#8230;&#8230;..
	Ada 3 hal yang dapat mengantarkan kita kepada apa yang namanya sukses, yaitu: pertama, keteguhan atau iman, kedua kecerdasan atau ilmu dan yang ketiga adalah ketekunan atau istoqomah.
Banyak orang yang terjebak dalam suatu lingkaran aktiivitas yang semakin hari dirasa semakin sumpek meskipun [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[	<p>Assalamu&#8217;alaikum wr. wb. </p>
	<p>Mari kembali kepada komitmen kita, komitmen dalam iman, hijrah dan da&#8217;wah.<br />
Saudaraku,&#8230;&#8230;..<a id="more-52"></a></p>
	<p>Ada 3 hal yang dapat mengantarkan kita kepada apa yang namanya sukses, yaitu: pertama, keteguhan atau iman, kedua kecerdasan atau ilmu dan yang ketiga adalah ketekunan atau istoqomah.<br />
Banyak orang yang terjebak dalam suatu lingkaran aktiivitas yang semakin hari dirasa semakin sumpek meskipun awalnya sangat disukainya. Mengapa demikian? Tentunya ada hal yang terlepas dari komitment awal yaitu istiqomah. </p>
	<p>Ada nasihat yang sangat indah yang mungkin bisa kita renungkan di sini, yaitu &#8220;lakukanlah sesuatu dengan istiqomah meskipun itu kecil&#8221;. Karena istiqomah dapat mengatur aktivitas kita. Dengan komitmen ini kita bisa membatasi aktivitas dengan selalu mempertimbangkan manfaat dan madhorot. K&#8217;lo hal itu ngga&#8217; ada manfaatnya ngapain harus saya lakukan ?</p>
	<p>Kunci istiqomah adalah diri kita sendiri. Bisakah kita menjadi sahabat sejati diri kita yang akan menyertainya kemanapun ia pergi? K&#8217;lo bisa sukses akan menjadi karakter kita. Karena yang paling tahu dengan setiap gerak kita adalah diri kita sendiri, bukan teman kita, bukan ortu kita dan juga bukan saudara kita atau &#8230;. yang lainnya. Kalupun mereka bisa, itu hanya sebagai tools yang hanya sebagai motivator. </p>
	<p>Lalu bagaimana kita bisa bersahabat dengan diri kita ?<br />
Tidak sulit, ternyata&#8230;&#8230;..<br />
&#8220;lakukan sesuatu pada saat itu juga, jangan menundanya karena malas dan nganggur&#8221;<br />
&#8220;lebih baik letih karena bekerja daripada letih karena nganggur&#8230;&#8230;..ok&#8221;</p>
	<p>Wassalamu&#8217;alikum wr.wb.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://multazimah.blogsome.com/2007/02/23/komitmen/feed/</wfw:commentRss>
	</item>
		<item>
		<title>Kekasih Sejati</title>
		<link>http://multazimah.blogsome.com/2007/02/23/kekasih-sejati/</link>
		<comments>http://multazimah.blogsome.com/2007/02/23/kekasih-sejati/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 23 Feb 2007 10:07:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>multazimah</dc:creator>
		
	<category>uncategorized</category>
		<guid>http://multazimah.blogsome.com/2007/02/23/kekasih-sejati/</guid>
		<description><![CDATA[	Manusia, makhluk Tuhan termulia di muka bumi ini, diciptakan dari sepasang insan yang saling Cinta. Lahir dengan tangis yang menandakan bahwa hidup penuh dengan perjuangan, banyak onak dan duri&#8230; 
	Pernahkah kita sadari kehidupan ini merupakan anugerah yang terbesar yang Allah berikan kepada kita ?. Bisa kuliah, bekerja, dan berkumpul dengan teman-teman, berbagi cerita, tawa dan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[	<p>Manusia, makhluk Tuhan termulia di muka bumi ini, diciptakan dari sepasang insan yang saling Cinta. Lahir dengan tangis yang menandakan bahwa hidup penuh dengan perjuangan, banyak onak dan duri&#8230; <a id="more-49"></a></p>
	<p>Pernahkah kita sadari kehidupan ini merupakan anugerah yang terbesar yang Allah berikan kepada kita ?. Bisa kuliah, bekerja, dan berkumpul dengan teman-teman, berbagi cerita, tawa dan canda serta derita yang mewarnai kehidupan ini &#8230; </p>
	<p>Pernahkah kita bertanya, untuk apa kita hidup di muka bumi ini ? &#8230;pernahkah kita merasa punya arti dan berarti bagi orang lain, merasa dibutuhkan, setidak-tidaknya bagi orang-orang yang dekat dalam kehidupan kita ? </p>
	<p>Pernahkah kita sadari, kita bisa bertahan hidup sampai detik ini tak lain karena Cinta, Cinta dari Allah Swt. Kita akan lebih sadar jika jauh dari orangtua. Manakala orang-orang yang kita cintai meninggalkan kita. Manakala kita sunyi tak berteman. Manakala kita merasa hampa dalam kehidupan. Tak satupun yang abadi kecuali Cinta Allah pada kita, hamba-hamba_Nya. Tidakkah kita rindu untuk selalu berada di dekat_Nya ? </p>
	<p>(Rasulullah Saw, beliau selalu rindu untuk bertemu Allah Swt, mendengar suara Azan yang di &#8220;Senandung&#8217;kan Bilal. &#8220;Shalat, adalah kesenangan hidupku&#8221;. Kata Beliau (Hamba terkasih Allah Swt). </p>
	<p>Sekarang wahai saudaraku, hamba-hamba yang dianugerahi iman dan Islam. Siapkan hari-harimu, isi dengan hal-hal yang berguna dan bermanfaat baik bagi temanmu, masyarakat luas, bangsa dan negara. Apalagi semata-mata hanya untuk mencari Ridha Allah Swt, semua itu sebagai tanda Cinta dan rasa syukur kita, yang telah diberikan_Nya anugerah yang begitu banyak. </p>
	<p>Waktu semakin cepat, apabila kita tidak memanfaatkannya dengan hal-hal yang berguna, kita akan tergilas masa !!!. Berjanjilah untuk jadi yang lebih baik dari sekarang. Dan terbaik di hadapan_Nya. </p>
	<p>Karena Cintamu, tidakkah seseorang itu senantiasa ingin tampak baik saat bertemu kekasihnya ???!!!. Jadikan Allah ?Kekasih Sejati? dalam hidupmu.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://multazimah.blogsome.com/2007/02/23/kekasih-sejati/feed/</wfw:commentRss>
	</item>
		<item>
		<title>Ketika Cinta Datang Menggoda</title>
		<link>http://multazimah.blogsome.com/2007/02/23/jika-cinta-datang-menggoda/</link>
		<comments>http://multazimah.blogsome.com/2007/02/23/jika-cinta-datang-menggoda/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 23 Feb 2007 10:06:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>multazimah</dc:creator>
		
	<category>Nashihat</category>
	<category>Dakwah</category>
		<guid>http://multazimah.blogsome.com/2007/02/23/jika-cinta-datang-menggoda/</guid>
		<description><![CDATA[	&#8220;Jatuh cinta berjuta rasanya &#8230;&#8221;, begitu syair lagu ciptaan Titik Puspa. Konser Dewa, Atas Nama Cinta, dihadiri ribuan penggemar mereka. Album terakhir mereka pun, Cintailah Cinta terjual diatas 1 juta copy. Dan entah berapa banyak lagi lagu, kata, ungkapan, syair, puisi yang berbau cinta begitu mengharu biru dunia ini. 
	Hmm..perasaan jatuh cinta memang sukar dijelaskan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[	<p>&#8220;Jatuh cinta berjuta rasanya &#8230;&#8221;, begitu syair lagu ciptaan Titik Puspa. Konser Dewa, Atas Nama Cinta, dihadiri ribuan penggemar mereka. Album terakhir mereka pun, Cintailah Cinta terjual diatas 1 juta copy. Dan entah berapa banyak lagi lagu, kata, ungkapan, syair, puisi yang berbau cinta begitu mengharu biru dunia ini. <a id="more-50"></a></p>
	<p>Hmm..perasaan jatuh cinta memang sukar dijelaskan dan ditebak, karena penuh dengan gejolak. Semua saran dan nasihat ditolak, bahkan nalar pun bisa terdepak oleh perasaan mabuk kepayang yang membikin rasa melayang-layang. Itulah dahsyatnya perasaan yang satu ini.<br />
Apakah kita tak boleh mencintai dan dicintai? Uups&#8230;tentu saja boleh, karena cinta adalah pemberian Allah SWT. Mencintai dan dicintai adalah karunia, sekaligus panggilan hidup kita. Tak pernah merasakan jatuh cinta, bukanlah manusia, karena manusia pasti merasakan cinta [QS Al Imran:14] Bahkan, cinta merupakan ruh kehidupan dan pilar untuk kelestarian ummat manusia.</p>
	<p>Islam juga gak phobi sama yang namanya cinta kok, bahkan Islam mengakui fenomena cinta yang tersembunyi dalam jiwa manusia. Namun, bukan dalam komoditas rendah dan murah lho. Artinya, tingkatan mencintai sesuatu itu ada batasnya. Jika cinta itu malah membawanya kepada perbuatan yang melanggar syariat, nah&#8230;kore wa dame da!*<br />
Hmm&#8230;cinta itu katanya jelmaan perasaan jiwa dan gejolak hati seseorang, wuis&#8230;puitis banget! </p>
	<p>Nah, dalam Islam kalau kita merujuk QS: At Taubah 24, maka cinta dapat dibagi dalam 3 tingkatan, yaitu:<br />
1. Cinta kepada Allah, Rasul-Nya dan jihad di jalan-Nya<br />
2. Cinta kepada orangtua, istri, kerabat dan seterusnya<br />
3. Cinta yang mengedepankan cinta harta, keluarga dan anak istri melebihi cinta kepada Allah, Rasul dan jihad di jalan Allah. </p>
	<p>Lalu gimana dong, kalau cinta itu datang, menghampiri dan menggoda di luar pernikahan? Nah lho, puyeng deh kalo gini! Padahal cinta itu kan timbul memang dari sononya, muncul dari segi zat atau bentuknya secara manusiawi wajar untuk dicintai. Normal aja kan, jika memandang sesuatu yang indah, kita akan mengatakan bahwa itu memang indah, masa&#8217; sih dibilang jelek!</p>
	<p>Menurut Imam Ibnu al-Jauzi, &#8220;Kecintaan, kasih sayang, dan ketertarikan terhadap sesuatu yang indah dan memiliki kecocokan tidaklah merupakan hal yang tercela serta tak perlu dibuang. Namun, cinta yang melewati batas ketertarikan dan kecintaan, maka ia akan menguasai akal dan membelokkan pemiliknya kepada hal yang tidak sesuai dengan hikmah yang sesungguhnya, hal seperti inilah yang tercela.&#8221;</p>
	<p>Waduh&#8230;gimana dong, lagi jatuh cinta nih! Problem&#8230;problem&#8230; mana masih kuliah, kerjaan belon ada, masih numpang ama orangtua, wah&#8230;nih cinta kok gak pengertian ya!<br />
Kalem dong, jangan blingsatan begitu. Emangnya jatuh cinta masalah kamu aja, ya&#8230;gak lagi! Nabi Yusuf a.s. aja pernah jatuh cinta lho, bahkan kepada seseorang wanita yang telah menjadi istri seseorang. Eits&#8230;protes deh! Iya deh, kalau bukan cinta, paling gak, tertarik dan terpesona, boleh kan?<br />
Buka deh surat Yusuf, romantika kisah beliau diceritakan dengan tuntas, awal, proses, konflik hingga klimaks dan ending-nya. Nah lho&#8230;Nabi aja bisa punya &#8216;konflik&#8217; seperti itu, apalagi kamu, iya kan? Romantika cinta beliau bukan kacangan, atau pepesan kosong, namun apa yang dialami beliau bisa menjadi pelajaran buat kita bagaimana kalau cinta itu demen banget menggoda kita. Beliau sadar, dan mengerti betul bahwa itu terlarang, meski ada gejolak di hatinya [QS Yusuf: 24]</p>
	<p>Namun&#8230; Kondisi di atas itu gak terjadi begitu aja lho, karena sebelumnya Nabi Yusuf a.s. pun telah berusaha untuk menolaknya saat wanita itu terus merayunya. Eh&#8230;nabi Yusuf pun dikejarnya, dan yang dikejar malah lari terbirit-birit, wuus&#8230;</p>
	<p>Lantas apa dong pelajaran yang bisa kita ambil, saat cinta itu menggoda kita? Pelajarannya adalah:</p>
	<p>1. Setiap orang memiliki rasa tertarik dengan lawan jenisnya, perasaan ini manusiawi, fitrah sekaligus anugerah.</p>
	<p>2. Namun, gejolak itu harus diatur lho, kalau gak maka kita akan terperosok ke jurang kenistaan, karena diperbudak gejolak jiwanya. Lantas jadi merana deh, angan-angan melulu. <em>Innan nafsa la ammaaratun bis-suu&#8217;</em>, sesungguhnya nafsu itu selalu mengajak kepada kejahatan kecuali nafsu-nafsu yang diberi rahmat oleh Allah [QS Yusuf:53].</p>
	<p>3. Kalau kita jatuh cinta pada lawan jenis, dan mengharapkan terbalaskan cintanya, maka saat itu ada sebagian dari akal dan logika yang hilang. Sekian banyak pertimbangan akal sehat yang dipunyai jadi ngadat, gak jalan! Gak percaya? Coba deh, ntar kalau kamu tambah dewasa, udah nikah, mungkin mikir, &#8220;Kok, dulu begitu ya?&#8221;, &#8220;Kok, dulu gak mikir ya?&#8221;, dan &#8220;kok-kok&#8221; yang lain. </p>
	<p>4. Dulu waktu ngejar-ngejar, wah&#8230;dimana-mana hanya terpampang wajah dia seorang, kekasih hati. Tidur gak nyenyak, makan pun terasa gak enak, bukan karena banyak nyamuk atau lauknya gak enak, mandi gak basah&#8230;. dunia ini pun hanya untuk berdua, yang lain ngontrak, ck&#8230;ck&#8230;ck&#8230; Kalau gak ketemu, rasanya gimana gichuu. Dikejar setengah mati deh, pokoke mesti dapet! Tapi begitu udah dapat, lalu masuk dunia rumah tangga, gejolak itu bisa berganti dengan rutinitas dan bisa bosan. Itulah sifat manusia, karena itu bila mencintai seseorang, cintailah sewajarnya, siapa tahu ntar kamu benci padanya. Begitu juga sebaliknya, kalau benci, bencinya yang wajar aja deh, siapa tahu ntar malah jatuh cinta.</p>
	<p>5. Ingat lho, gak semua yang kita inginkan itu harus terpenuhi, kalau gak mau dibilang egois. Tidak semua cita-cita itu harus terkabul, dan tidak pula semua gejolak harus dituruti. Di dunia ini ada banyak pilihan, kalau gak dapat yang satu, pilihan lain masih banyak kan? Siapa tahu malah lebih baik. Makanya buka mata lebar-lebar, masa&#8217; sih cuma ada dia aja di dunia ini, emang yang lain kemana bo!</p>
	<p>6. Tidak semua yang kita anggap baik itu baik, dan tidak semua yang dianggap indah itu indah. Segala sesuatu itu pasti ada cacat dan cela-nya. Saat jatuh cinta sih, wuah&#8230;indah buanget, tiada cacat dan cela. Padahal bisa aja kan, cacat dan cela itu jauh lebih banyak dari baik dan indahnya.</p>
	<p>7. Akhirnya, kalau kamu udah sampai pada puncak cinta, yaitu pernikahan, ingat deh kalo puncak masalah pernikahan itu bukanlah pada siapa yang akan jadi pasangan kita, tapi gimana agar kita bisa survive di dalamnya, siapapun pasangan kita. </p>
	<p>Semoga membantu akhi wa ukhti, jangan lupakan Allah SWT kalau antum jatuh cinta ya. Jatuh cinta-lah karena Allah SWT, karena kasih sayangnya akan meluruh ke jiwa.<br />
Wallahu a`lam bis-shawab.<br />
&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;<br />
BILA AKU JATUH CINTA<br />
<em>Allahu Rabbi aku minta izin<br />
Bila suatu saat aku jatuh cinta<br />
Jangan biarkan cinta untuk-Mu berkurang<br />
Hingga membuat lalai akan adanya Engkau<br />
Allahu Rabbi<br />
Aku punya pinta<br />
Bila suatu saat aku jatuh cinta<br />
Penuhilah hatiku dengan bilangan cinta-Mu yang tak terbatas<br />
Biar rasaku pada-Mu tetap utuh<br />
Allahu Rabbi<br />
Izinkanlah bila suatu saat aku jatuh cinta<br />
Pilihkan untukku seseorang yang hatinya penuh dengan kasih-Mu<br />
dan membuatku semakin mengagumi-Mu<br />
Allahu Rabbi<br />
Bila suatu saat aku jatuh hati<br />
Pertemukanlah kami<br />
Berilah kami kesempatan untuk lebih mendekati cinta-Mu<br />
Allahu Rabbi<br />
Pintaku terakhir adalah seandainya kujatuh hati<br />
Jangan pernah Kau palingkan wajah-Mu dariku<br />
Anugerahkanlah aku cinta-Mu&#8230;<br />
Cinta yang tak pernah pupus oleh waktu<br />
Amiin. </em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://multazimah.blogsome.com/2007/02/23/jika-cinta-datang-menggoda/feed/</wfw:commentRss>
	</item>
		<item>
		<title>Wanita Sholihah</title>
		<link>http://multazimah.blogsome.com/2007/02/23/wanita-sholihah/</link>
		<comments>http://multazimah.blogsome.com/2007/02/23/wanita-sholihah/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 23 Feb 2007 10:06:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>multazimah</dc:creator>
		
	<category>Nashihat</category>
	<category>Dakwah</category>
		<guid>http://multazimah.blogsome.com/2007/02/23/wanita-sholihah/</guid>
		<description><![CDATA[	Tidak banyak syarat yang dikenakan oleh Islam untuk seseorang wanita untuk menerima gelar solehah, dan seterusnya menerima pahala syurga yang penuh kenikmatan dari Allah s.w.t. 
	Mereka hanya perlu memenuhi 2 syarat saja yaitu:
1. Taat kepada Allah dan RasulNya
2. Taat kepada suami 
	Perincian dari dua syarat di atas adalah sebagai berikut: 
	1. Taat kepada Allah dan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[	<p>Tidak banyak syarat yang dikenakan oleh Islam untuk seseorang wanita untuk menerima gelar <strong>solehah,</strong> dan seterusnya menerima pahala syurga yang penuh kenikmatan dari Allah s.w.t. </p>
	<p>Mereka hanya perlu memenuhi 2 syarat saja yaitu:<br />
1. Taat kepada Allah dan RasulNya<br />
2. Taat kepada suami <a id="more-54"></a></p>
	<p>Perincian dari dua syarat di atas adalah sebagai berikut: </p>
	<p><strong>1. Taat kepada Allah dan RasulNya</strong></p>
	<p>Bagaimana yang dikatakan taat kepada Allah s.w.t. ? </p>
	<p>- Mencintai Allah s.w.t. dan Rasulullah s.a.w. melebihi dari segala-galanya.<br />
Yaitu para wanita yang komitmen (multazimah) dalam memegang Islam; tidak pernah meninggalkan sholat wajib kecuali alasan syar&#8217;i, sering menambah dengan sholat nafilah, qiyamul lail, dhuha, hajat dsb. Puasa wajib sangat diperhatikan juga menambah dengan puasa-puasa sunnah. Interaksinya dengan al-Qur&#8217;an bagus, minimal dalam 1 bulan bisa khatam. Ia pun wanita yang rajin menuntut ilmu-ilmu syar&#8217;i</p>
	<p>- Wajib menutup aurat sesuai syari&#8217;at, gak cuman sekedar nutup. Soalnya sekarang banyak kita jumpai para wanita katanya pake jilbab, tapi aurot masih keliatan (katanya sich jilbab gaul), ngeri dech pokoknya. Harus diperhatikan, syarat jilbab yg syar&#8217;i itu ada 2, yaitu bilaa riqo&#8217; (tidak sempit) dan bilaa dhoyyiq (tidak tipis). dan perlu diperhatikan, kontextnya nutup bukan mbungkus. Yang namanya nutup harus semuanya tidak nampak, tidak berbentuk. Makanya kata Allah hendaknya para wanita menjulurkan kainnya (jilbab) sampai ke dada, janagn malah diiketkan pada leher</p>
	<p>- Tidak berhias dan berperangai seperti wanita jahiliah<br />
Wanita sholihah senantiasa memperhatikan tinggkah lakunya, terutama dalam berhias, berucap dan bergaul. Ia sadar betut bahwa suaranya merupakan aurot bagi laki-laki lain, ia hanya berhias untuk menyenangkan suaminya tidak untuk tabarruj</p>
	<p>- Tidak bermusafir atau bersama dengan lelaki dewasa kecuali ada bersamanya seorang mahrom<br />
Pantangan bagi wanita sholihah bepergian bersama laki-laki lain. Ia senantiasa menjaga kehormatan dirinya. Tidak berboncengan, bergandengan tangan, berjabat tangan dsb. Pokoknya kulitnya tidak pernah sekalipun menyentuh laki-laki lain yang bukan mahromnya.</p>
	<p>- Sering membantu lelaki (suami) dalam perkara kebenaran, kebajikan dan taqwa<br />
Saat berumah tangga, ia senantiasa membantu suaminya. Senantiasa mengingatkan jika suaminya salah, </p>
	<p>- Berbuat baik kepada ibu &#038; bapak </p>
	<p>- Sentiasa bersedekah baik dalam keadaan susah ataupun senang</p>
	<p>- Tidak berkhalwat dengan lelaki dewasa </p>
	<p>- Bersikap baik terhadap tetangga </p>
	<p><strong>2. Taat kepada suami</strong> </p>
	<p>- Memelihara kewajipan terhadap suami </p>
	<p>- Sentiasa menyenangkan suami </p>
	<p>- Menjaga kehormatan diri dan harta suaminya selama suami tiada di rumah. </p>
	<p>- Tidak cemberut di hadapan suami. </p>
	<p>- Tidak menolak ajakan suami untuk tidur </p>
	<p>- Tidak keluar tanpa izin suami.</p>
	<p>- Tidak meninggikan suara melebihi suara suami </p>
	<p>- Tidak membantah suaminya dalam kebenaran</p>
	<p>- Tidak menerima tamu yang dibenci suaminya. </p>
	<p>- Sentiasa memelihara diri, kebersihan fisik &#038; kecantikannya serta rumah tangga </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://multazimah.blogsome.com/2007/02/23/wanita-sholihah/feed/</wfw:commentRss>
	</item>
		<item>
		<title>Faktor Penyebab Rendahnya Martabat Wanita</title>
		<link>http://multazimah.blogsome.com/2007/02/23/faktor-penyebab-rendahnya-martabat-wanita/</link>
		<comments>http://multazimah.blogsome.com/2007/02/23/faktor-penyebab-rendahnya-martabat-wanita/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 23 Feb 2007 10:05:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>multazimah</dc:creator>
		
	<category>Nashihat</category>
	<category>Dakwah</category>
		<guid>http://multazimah.blogsome.com/2007/02/23/faktor-penyebab-rendahnya-martabat-wanita/</guid>
		<description><![CDATA[	Sebenarnya puncak rendahnya martabat wanita adalah datang dari faktor dalam. Bukanlah faktor luar atau yang berbentuk material sebagaimana yang digembar-gemborkan oleh para pejuang hak-hak palsu wanita. 
	Faktor-faktor tersebut ialah: 
	1) Lupa mengingat Allah 
	Kerana terlalu sibuk dengan tugas dan kegiatan luar atau memelihara anak-anak, maka tidak heran jika banyak wanita yang tidak menyadari bahwa dirinya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[	<p>Sebenarnya puncak rendahnya martabat wanita adalah datang dari faktor dalam. Bukanlah faktor luar atau yang berbentuk material sebagaimana yang digembar-gemborkan oleh para pejuang hak-hak palsu wanita. </p>
	<p>Faktor-faktor tersebut ialah: <a id="more-53"></a></p>
	<p>1) Lupa mengingat Allah </p>
	<p>Kerana terlalu sibuk dengan tugas dan kegiatan luar atau memelihara anak-anak, maka tidak heran jika banyak wanita yang tidak menyadari bahwa dirinya telah lalai dari mengingat Allah. Dan saat kelalaian ini pada hakikatnya merupakan saat yang paling berbahaya bagi diri mereka, di mana syetan akan mengarahkan hawa nafsu agar memainkan peranannya. </p>
	<p>Firman Allah s.w.t. di dalam surah al-Jathiah, ayat 23: artinya: </p>
	<p>&#8221; Maka sudahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai Tuhannya dan Allah membiarkannya sesat berdasarkan ilmunya. Dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya.&#8221; </p>
	<p>Sabda Rasulullah s.a.w.: artinya:<br />
&#8220;Tidak sempurna iman seseorang dari kamu, sehingga dia merasa cenderung kepada apa yang telah aku sampaikan.&#8221; (Riwayat Tarmizi) </p>
	<p>Mengingati Allah s.w.t. bukan saja dengan berzikir, tetapi termasuklah menghadiri majlis-majlis ilmu. </p>
	<p>2) Mudah tertipu dengan keindahan dunia </p>
	<p>Keindahan dunia dan kemewahannya memang banyak menjebak wanita ke perangkapnya. Bukan itu saja, malahan syetan dengan mudah memperalatkannya untuk menarik kaum lelaki agar sama-sama bergelimang dengan dosa dan noda.<br />
Tidak sedikit yang sanggup durhaka kepada Allah s.w.t. hanya kerana kenikmatan dunia yang terlalu sedikit. </p>
	<p>Firman Allah s.w.t. di dalam surah al-An&#8217;am: artinya:<br />
&#8221; Dan tidaklah penghidupan dunia ini melainkan permainan dan kelalaian dan sesungguhnya negeri akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa, oleh karena itu tidakkah kamu berfikir.&#8221; </p>
	<p>3) Mudah terpedaya dengan syahwat<br />
4) Lemah iman<br />
5) Bersikap suka menunjuk-nunjuk. </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://multazimah.blogsome.com/2007/02/23/faktor-penyebab-rendahnya-martabat-wanita/feed/</wfw:commentRss>
	</item>
		<item>
		<title>Ada apa dengan 14 February???</title>
		<link>http://multazimah.blogsome.com/2007/02/01/ada-apa-dengan-14-february/</link>
		<comments>http://multazimah.blogsome.com/2007/02/01/ada-apa-dengan-14-february/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 01 Feb 2007 06:41:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>multazimah</dc:creator>
		
	<category>Dakwah</category>
		<guid>http://multazimah.blogsome.com/2007/02/01/ada-apa-dengan-14-february/</guid>
		<description><![CDATA[	Memasuki bulan Februari, kita menyaksikan banyak media massa, mal-mal, pusat-pusat hiburan bersibuk-ria berlomba menarik perhatian para remaja dengan menggelar acara-acara pesta perayaan yang tak jarang berlangsung hingga larut malam bahkan hingga dini hari. Semua pesta tersebut bermuara pada satu hal yaitu Valentine&#8217;s Day atau biasanya disebut hari kasih sayang. Biasanya pada 14 Februari mereka saling [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[	<p>Memasuki bulan Februari, kita menyaksikan banyak media massa, mal-mal, pusat-pusat hiburan bersibuk-ria berlomba menarik perhatian para remaja dengan menggelar acara-acara pesta perayaan yang tak jarang berlangsung hingga larut malam bahkan hingga dini hari. Semua pesta tersebut bermuara pada satu hal yaitu <em>Valentine&#8217;s Day</em> atau biasanya disebut hari kasih sayang. Biasanya pada 14 Februari mereka saling mengucapkan &quot;selamat hari Valentine&quot;, berkirim kartu dan bunga, saling bertukar pasangan, saling curhat, menyatakan sayang atau cinta.&nbsp;
<p><a id="more-5"></a> Sangat disayangkan banyak ABG khususnya teman-teman kita, para remaja putri muslimah yang terkena penyakit ikut-ikutan dan mengekor budaya Barat atau budaya ritual agama lain akibat pengaruh TV dan media massa lainnya. Termasuk dalam hal ini perayaan Hari Valentine, yang pada dasarnya adalah mengenang kembali pendeta St.Valentine. Belakangan, Virus Valentine tidak hanya menyerang remaja bahkan orang tua pun turut larut dalam perayaan yang bersumber dari budaya Barat ini.&nbsp;<span>
<p><strong>Sejarah Valentine</strong>&nbsp;</p>
</span>Ensiklopedia Katolik menyebutkan tiga versi tentang Valentine, tetapi versi terkenal adalah kisah Pendeta St.Valentine yang hidup di akhir abad ke 3 M di zaman Raja Romawi Claudius II. Pada tanggal 14 Februari 270 M Claudius II menghukum mati St.Valentine yang telah menentang beberapa perintahnya.&nbsp;<br />Claudius II melihat St.Valentine mengajak manusia kepada agama Nashrani lalu dia memerintahkan untuk menangkapnya. Dalam versi kedua , Claudius II memandang para bujangan lebih tabah dalam berperang daripada mereka yang telah menikah yang sejak semula menolak untuk pergi berperang. Maka dia mengeluarkan perintah yang melarang pernikahan. Tetapi St.Valentine menentang perintah ini dan terus mengadakan pernikahan di gereja dengan sembunyi-sembunyi sampai akhirnya diketahui lalu dipenjarakan. Dalam penjara dia berkenalan dengan putri seorang penjaga penjara yang terserang penyakit. Ia mengobatinya hingga sembuh dan jatuh cinta kepadanya. Sebelum dihukum mati, dia mengirim sebuah kartu yang bertuliskan &quot;Dari yang tulus cintanya, Valentine.&quot; Hal itu terjadi setelah anak tersebut memeluk agama Nashrani ber-sama 46 kerabatnya.&nbsp;</p>
	<p>&nbsp;Versi ketiga menyebutkan ketika agama Nashrani tersebar di Eropa, di salah satu desa terdapat sebuah tradisi Romawi yang menarik perhatian para pendeta. Dalam tradisi itu para pemuda desa selalu berkumpul setiap pertengahan bulan Februari. Mereka menulis nama-nama gadis desa dan meletakkannya di dalam sebuah kotak, lalu setiap pemuda mengambil salah satu nama dari kotak tersebut, dan gadis yang namanya keluar akan menjadi kekasihnya sepanjang tahun. Ia juga mengirimkan sebuah kartu yang bertuliskan &quot; dengan nama tuhan Ibu, saya kirimkan kepadamu kartu ini.&quot;&nbsp;</p>
	<p>Akibat sulitnya menghilangkan tradisi Romawi ini, para pendeta memutuskan mengganti kalimat &quot;dengan nama tuhan Ibu&quot; dengan kalimat &quot; dengan nama Pendeta Valentine&quot; sehingga dapat mengikat para pemuda tersebut dengan agama Nashrani.&nbsp;</p>
	<p>&nbsp;Versi lain mengatakan St.Valentine ditanya tentang Atharid, tuhan perdagangan, kefasihan, makar dan pencurian, dan Jupiter, tuhan orang Romawi yang terbesar. Maka dia menjawab tuhan-tuhan tersebut buatan manusia dan bahwasanya tuhan yang sesungguhnya adalah Isa Al Masih, oleh karenanya ia dihukum mati. Maha Tinggi Allah dari apa yang dikatakan oleh orang-orang yang dzalim tersebut.&nbsp;</p>
	<p>&nbsp;Bahkan saat ini beredar kartu-kartu perayaan keagamaan ini dengan gambar anak kecil dengan dua sayap terbang mengitari gambar hati sambil mengarahkan anak panah ke arah hati yang sebenarnya itu merupakan lambang tuhan cinta bagi orang-orang Romawi!!!&nbsp;</p>
	<p><strong><font>Hukum Valentine&nbsp;</font></strong></p>
	<p>Keinginan untuk ikut-ikutan memang ada dalam diri manusia, akan tetapi hal tersebut menjadi tercela dalam Islam apabila orang yang diikuti berbeda dengan kita dari sisi keyakinan dan pemikirannya. Apalagi bila mengikuti dalam perkara akidah, ibadah, syi&#8217;ar dan kebiasaan. Padahal Rasul Shallallaahu &#8216;alaihi wa sallam telah melarang untuk mengikuti tata cara peribadatan selain Islam: <em><span>&quot;Barang siapa meniru suatu kaum, maka ia termasuk dari kaum tersebut .&quot; </span></em>(HR. At-Tirmidzi).&nbsp;</p>
	<p>&nbsp;Bila dalam merayakannya bermaksud untuk mengenang kembali Valentine maka tidak disangsikan lagi bahwa ia telah kafir, adapun bila ia tidak bermaksud demikian maka ia telah melakukan suatu kemungkaran yang besar. Ibnul Qayyim berkata, &quot;Memberi selamat atas acara ritual orang kafir yang khusus bagi mereka, telah disepakati bahwa perbuatan tersebut haram. Semisal memberi selamat atas hari raya dan puasa mereka, dengan mengucapkan, &quot;Selamat hari raya!&quot; dan semisalnya. Bagi yang mengucapkannya, kalau pun tidak sampai pada kekafiran, paling tidak itu merupakan perbuatan haram. Berarti ia telah memberi selamat atas perbuatan mereka yang menyekutukan Allah. Bahkan perbuatan tersebut lebih besar dosanya di sisi Allah dan lebih dimurkai dari pada memberi selamat atas perbuatan minum khamar atau membunuh. Banyak orang yang kurang mengerti agama terjerumus dalam suatu perbuatan tanpa menyadari buruknya perbuatan tersebut. Seperti orang yang memberi selamat kepada orang lain atas perbuatan maksiat, bid&#8217;ah atau kekufuran maka ia telah menyiapkan diri untuk mendapatkan kemarahan dan kemurkaan Allah.&quot;&nbsp;</p>
	<p>Abu Waqid Radhiallaahu &#8216;anhu meriwayatkan: Rasulullah Shallallaahu &#8216;alaihi wa sallam saat keluar menuju perang Khaibar, beliau melewati sebuah pohon milik orang-orang musyrik, yang disebut dengan Dzaatu Anwaath, biasanya mereka menggantungkan senjata-senjata mereka di pohon tersebut. Para sahabat Rasulullah Shallallaahu &#8216;alaihi wa sallam berkata, <em><span>&quot;Wahai Rasulullah, buatkan untuk kami Dzaatu Anwaath, sebagaimana mereka mempunyai Dzaatu Anwaath.&quot; Maka Rasulullah Shallallaahu &#8216;alaihi wa sallam bersabda, &quot; Maha Suci Allah, ini seperti yang diucapkan kaum Nabi Musa, &#8216;Buatkan untuk kami tuhan sebagaimana mereka mempunyai tuhan-tuhan.&#8217; Demi Dzat yang jiwaku di tangan-Nya, sungguh kalian akan mengikuti kebiasaan orang-orang yang ada sebelum kalian.&quot;</span></em> (HR. At-Tirmidzi, ia berkata, hasan shahih).&nbsp;</p>
	<p><font>Adalah wajib bagi setiap orang yang mengucapkan dua kalimat syahadat untuk melaksanakan wala&#8217; dan bara&#8217; ( loyalitas dan anti loyalitas)<br />
</font></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://multazimah.blogsome.com/2007/02/01/ada-apa-dengan-14-february/feed/</wfw:commentRss>
	</item>
		<item>
		<title>Valentines Day History</title>
		<link>http://multazimah.blogsome.com/2007/02/01/valentines-day-history/</link>
		<comments>http://multazimah.blogsome.com/2007/02/01/valentines-day-history/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 01 Feb 2007 06:40:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>multazimah</dc:creator>
		
	<category>Dakwah</category>
		<guid>http://multazimah.blogsome.com/2007/02/01/valentines-day-history/</guid>
		<description><![CDATA[	There are varying opinions as to the origin of Valentine&#8217;s Day.  Some experts state that it originated from St. Valentine, a Roman who was martyred for refusing to give up Christianity.  He died on February 14, 269 A.D., the same day that had been devoted to love lotteries.  Legend also says that [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[	<p>There are varying opinions as to the origin of Valentine&#8217;s Day.  Some experts state that it originated from St. Valentine, a Roman who was martyred for refusing to give up Christianity.  He died on February 14, 269 A.D., the same day that had been devoted to love lotteries.  Legend also says that St. Valentine left a farewell note for the jailer&#8217;s daughter, who had become his friend, and signed it &#8220;From Your Valentine&#8221;.  Other aspects of the story say that Saint Valentine served as a priest at the temple during the reign of Emperor Claudius.  Claudius then had Valentine jailed for defying him.  In 496 A.D.  Pope Gelasius set aside February 14 to honour St. Valentine&#8230;&#8230;<a id="more-40"></a><br />
Gradually, February 14 became the date for exchanging love messages and St. Valentine became the patron saint of lovers.  The date was marked by sending poems and simple gifts such as flowers.  There was often a social gathering or a ball.<br />
In the United States, Miss Esther Howland is given credit for sending the first valentine cards.  Commercial valentines were introduced in the 1800&#8217;s and now the date is very commercialised.  The town of Loveland, Colorado, does a large post office business around February 14.  The spirit of good continues as valentines are sent out with sentimental verses and children exchange valentine cards at school.<br />
The History of Saint Valentine&#8217;s Day<br />
Valentine&#8217;s Day started in the time of the Roman Empire.  In ancient Rome, February 14th was a holiday to honour Juno.  Juno was the Queen of the Roman Gods and Goddesses.  The Romans also knew her as the Goddess of women and marriage.  The following day, February 15th, began the Feast of Lupercalia.<br />
The lives of young boys and girls were strictly separate.  However, one of the customs of the young people was name drawing.  On the eve of the festival of Lupercalia the names of Roman girls were written on slips of paper and placed into jars.  Each young man would draw a girl&#8217;s name from the jar and would then be partners for the duration of the festival with the girl whom he chose.  Sometimes the pairing of the children lasted an entire year, and often, they would fall in love and would later marry.<br />
Under the rule of Emperor Claudius II Rome was involved in many bloody and unpopular campaigns.  Claudius the Cruel was having a difficult time getting soldiers to join his military leagues.  He believed that the reason was that roman men did not want to leave their loves or families.  As a result, Claudius cancelled all marriages and engagements in Rome.  The good Saint Valentine was a priest at Rome in the days of Claudius II.  He and Saint Marius aided the Christian martyrs and secretly married couples, and for this kind deed Saint Valentine was apprehended and dragged before the Prefect of Rome, who condemned him to be beaten to death with clubs and to have his head cut off.  He suffered martyrdom on the 14th day of February, about the year 270.  At that time it was the custom in Rome, a very ancient custom, indeed, to celebrate in the month of February the Lupercalia, feasts in honour of a heathen god.  On these occasions, amidst a variety of pagan ceremonies, the names of young women were placed in a box, from which they were drawn by the men as chance directed.<br />
The pastors of the early Christian Church in Rome endeavoured to do away with the pagan element in these feasts by substituting the names of saints for those of maidens.  And as the Lupercalia began about the middle of February, the pastors appear to have chosen Saint Valentine&#8217;s Day for the celebration of this new feaSt. So it seems that the custom of young men choosing maidens for valentines, or saints as patrons for the coming year, arose in this way.<br />
St. Valentine&#8217;s Story<br />
Let me introduce myself.  My name is Valentine.  I lived in Rome during the third century.  That was long, long ago! At that time, Rome was ruled by an emperor named Claudius.  I didn&#8217;t like Emperor Claudius, and I wasn&#8217;t the only one! A lot of people shared my feelings.<br />
Claudius wanted to have a big army.  He expected men to volunteer to join.  Many men just did not want to fight in wars.  They did not want to leave their wives and families.  As you might have guessed, not many men signed up.  This made Claudius furious.  So what happened? He had a crazy idea.  He thought that if men were not married, they would not mind joining the army.  So Claudius decided not to allow any more marriages.  Young people thought his new law was cruel.  I thought it was preposterous! I certainly wasn&#8217;t going to support that law!<br />
Did I mention that I was a priest? One of my favourite activities was to marry couples.  Even after Emperor Claudius passed his law, I kept on performing marriage ceremonies &#8212; secretly, of course.  It was really quite exciting.  Imagine a small candlelit room with only the bride and groom and myself.  We would whisper the words of the ceremony, listening all the while for the steps of soldiers.<br />
One night, we did hear footsteps.  It was scary! Thank goodness the couple I was marrying escaped in time.  I was caught.  (Not quite as light on my feet as I used to be, I guess.) I was thrown in jail and told that my punishment was death.<br />
I tried to stay cheerful.  And do you know what? Wonderful things happened.  Many young people came to the jail to visit me.  They threw flowers and notes up to my window.  They wanted me to know that they, too, believed in love.<br />
One of these young people was the daughter of the prison guard.  Her father allowed her to visit me in the cell.  Sometimes we would sit and talk for hours.  She helped me to keep my spirits up.  She agreed that I did the right thing by ignoring the Emperor and going ahead with the secret marriages.  On the day I was to die, I left my friend a little note thanking her for her friendship and loyalty.  I signed it, &#8220;Love from your Valentine.&#8221;<br />
I believe that note started the custom of exchanging love messages on Valentine&#8217;s Day.  It was written on the day I died, February 14, 269 A.D.  Now, every year on this day, people remember.  But most importantly, they think about love and friendship.  And when they think of Emperor Claudius, they remember how he tried to stand in the way of love, and they laugh &#8212; because they know that love can&#8217;t be beaten!<br />
Valentine Traditions<br />
Hundreds of years ago in England, many children dressed up as adults on Valentine&#8217;s Day.  They went singing from home to home.  One verse they sang was:<br />
Good morning to you, valentine;<br />
Curl your locks as I do mine&#8212;<br />
Two before and three behind.<br />
Good morning to you, valentine.<br />
In Wales wooden love spoons were carved and given as gifts on February 14th.  Hearts, keys and keyholes were favourite decorations on the spoons.  The decoration meant, &#8220;You unlock my heart!&#8221;<br />
In the Middle Ages, young men and women drew names from a bowl to see who their valentines would be.  They would wear these names on their sleeves for one week.  To wear your heart on your sleeve now means that it is easy for other people to know how you are feeling<br />
In some countries, a young woman may receive a gift of clothing from a young man.  If she keeps the gift, it means she will marry him.<br />
Some people used to believe that if a woman saw a robin flying overhead on Valentine&#8217;s Day, it meant she would marry a sailor.  If she saw a sparrow, she would marry a poor man and be very happy.  If she saw a goldfinch, she would marry a millionaire.<br />
A love seat is a wide chair.  It was first made to seat one woman and her wide dress.  Later, the love seat or courting seat had two sections, often in an S-shape.  In this way, a couple could sit together &#8212; but not too closely!<br />
Think of five or six names of boys or girls you might marry, As you twist the stem of an apple, recite the names until the stem comes off.  You will marry the person whose name you were saying when the stem fell off.<br />
Pick a dandelion that has gone to seed.  Take a deep breath and blow the seeds into the wind.  Count the seeds that remain on the stem.  That is the number of children you will have.<br />
If you cut an apple in half and count how many seeds are inside, you will also know how many children you will have</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://multazimah.blogsome.com/2007/02/01/valentines-day-history/feed/</wfw:commentRss>
	</item>
		<item>
		<title>Apa kata mereka tentang CINTA&#8230;?</title>
		<link>http://multazimah.blogsome.com/2007/02/01/apa-kata-mereka-tentang-cinta/</link>
		<comments>http://multazimah.blogsome.com/2007/02/01/apa-kata-mereka-tentang-cinta/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 01 Feb 2007 06:39:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>multazimah</dc:creator>
		
	<category>Renungan</category>
		<guid>http://multazimah.blogsome.com/2007/02/01/apa-kata-mereka-tentang-cinta/</guid>
		<description><![CDATA[	Cinta
	Cinta bukan mengajar kita lemah, tetapi membangkitkan kekuatan. Cinta bukan mengajar kita menghinakan diri, tetapi menghembuskan kegagahan. Cinta bukan melemahkan semangat, tetapi membangkitkan semangat -Hamka
	Cinta dapat mengubah pahit menjadi manis, debu beralih emas, keruh menjadi bening, sakit menjadi sembuh, penjara menjadi telaga, derita menjadi nikmat, dan kemarahan menjadi rahmat&#8230;&#8230;
	Sungguh menyakitkan mencintai seseorang yang tidak mencintaimu, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[	<p>Cinta</p>
	<p>Cinta bukan mengajar kita lemah, tetapi membangkitkan kekuatan. Cinta bukan mengajar kita menghinakan diri, tetapi menghembuskan kegagahan. Cinta bukan melemahkan semangat, tetapi membangkitkan semangat -Hamka</p>
	<p>Cinta dapat mengubah pahit menjadi manis, debu beralih emas, keruh menjadi bening, sakit menjadi sembuh, penjara menjadi telaga, derita menjadi nikmat, dan kemarahan menjadi rahmat&#8230;&#8230;<a id="more-34"></a></p>
	<p>Sungguh menyakitkan mencintai seseorang yang tidak mencintaimu, tetapi lebih menyakitkan adalah mencintai seseorang dan kamu tidak pernah memiliki keberanian untuk menyatakan cintamu kepadanya. </p>
	<p>Seandainya kamu ingin mencintai atau memiliki hati seorang gadis, ibaratkanlah seperti menyunting sekuntum mawar merah. Kadangkala kamu mencium harum mawar tersebut tetapi kadangkala kamu terasa bisa duri mawar itu menusuk jari.</p>
	<p>Hal yang menyedihkan dalam hidup adalah ketika kamu bertemu seseorang yang sangat berarti bagimu. Hanya untuk menemukan bahwa pada akhirnya menjadi tidak berarti dan kamu harus membiarkannya pergi.<br />
Kadangkala kamu tidak  menghargai orang yang mencintai kamu sepenuh hati, sehingga kamu kehilangannya. Pada saat itu, tiada guna sesalan karena perginya tanpa berpatah lagi.</p>
	<p>Cinta sejati ialah kasih Tuhan kepada hambaNya. Kasih murni ialah kasih ibu bapa kepada anaknya. Kasih saudara masa berada. Kasih sahabat masa binasa. Kasih suami isteri sepenanggungan. Kasih orang menaruh harapan</p>
	<p>Cintailah seseorang itu atas dasar siapa dia sekarang dan bukan siapa dia sebelumnya. Kisah silam tidak perlu diungkit lagi kiranya kamu benar mencintainya setulus hati.</p>
	<p>Rasa percintaan lebih pahit dari hempedu .Teman percintaan ialah sayu dan pilu, namun demikian, dara dan teruna tetap berpusu-pusu terjerumus ke dalamnya karena dianggap seperti lautan madu - Raja Pedang Deir </p>
	<p>Hati-hati  dengan cinta, karena cinta juga dapat membuat orang sehat menjadi sakit, orang gemuk menjadi kurus, orang normal menjadi gila, orang kaya menjadi miskin, raja menjadi budak, jika cintanya itu disambut oleh para pecinta palsu.<br />
Kemungkinan apa yang kamu sayangi atau cintai tersimpan keburukan di dalamnya dan kemungkinan apa yang kamu benci tersimpan kebaikan di dalamnya. </p>
	<p>Cinta kepada harta artinya bakhil, cinta kepada perempuan artinya alam. Cinta kepada diri artinya bijaksana, cinta kepada mati artinya hidup dan cinta kepada Tuhan artinya Takwa. </p>
	<p>Lemparkan seorang yang bahagia dalam bercinta ke dalam laut, pasti ia akan membawa seekor ikan. Lemparkan pula seorang yang gagal dalam bercinta ke dalam gudang roti, pasti ia akan mati kelaparan.</p>
	<p>Seandainya kamu dapat berbicara dalam semua bahasa manusia dan alam, tetapi tidak mempunyai perasaan cinta dan kasih, dirimu tak ubah  seperti gong yang bergaung atau sekadar canang yang gemerincing.</p>
	<p>Tak usah sebut pasal cinta jika kamu tidak sebenar-benarnya mengambil kisah. Tak usah bercakap tentang perasaan, jika ia tidak berada di hatimu. Tak usahlah menunjuk ke dada, jika kamu berhasrat melukai hati pasanganmu</p>
	<p>Cinta adalah keabadian&#8230;dan kenangan adalah hal terindah yang pernah dialami<br />
Siapapun pandai menghayati cinta tapi tiada semua orang pandai menilai cinta karena cinta bukan objek yg boleh di lihat oleh mata kasar. Sebaliknya cinta hanya dapat ditilik melalui hati dan perasaan.<br />
Cinta mampu melunakkan besi, menghancurkan batu, membangkitkan yang mati dan meniupkan kehidupan padanya serta membuat budak menjadi pemimpin. Inilah dasyatnya cinta ! </p>
	<p>Permulaan cinta adalah membiarkan orang yang kamu cintai menjadi dirinya sendiri, dan tidak merubahnya menjadi gambaran yang kamu inginkan. Jika tidak, kamu hanya mencintai pantulan diri sendiri yang kamu temukan di dalam dirinya.<br />
Kamu tidak pernah tahu bila kamu akan jatuh cinta. namun apabila sampai saatnya itu, raihlah dengan kedua tanganmu,dan jangan biarkan dia pergi dengan sejuta rasa tanda tanya dihatinya </p>
	<p>Cinta bukanlah kata murah dan lumrah dituturkan dari mulut ke mulut tetapi cinta adalah anugerah Tuhan yang indah dan suci jika manusia dapat menilai kesuciannya. </p>
	<p>Bercinta memang mudah. Untuk dicintai juga memang mudah. Tapi untuk dicintai oleh orang yang kita cintai itulah yang sukar diperoleh.<br />
Cinta ibarat pasu antik, ia sukar ditemui, sukar diperolehi tapi mudah untuk jatuh berderai<br />
Andainya hadirnya cinta sekadar untuk mengecewakan, lebih baik cinta itu tak pernah hadir.<br />
Cinta sesuatu yg mengasyikkan, ia boleh membuat kita hilang kewarasan fikiran. Cinta juga sebenarnya indah jika pandai menghayatinya. Sebaliknya cinta boleh jadi racun jika salah tempat. Apa pun cinta itu buta. </p>
	<p>Anyamlah buih-buih di laut demi membuktikan cinta yang suci tanpa menodai keaslian pantai itu.<br />
Cinta sebenarnya tidak buta. Cinta adalah sesuatu yang murni, luhur dan diperlukan.<br />
Apa yang buta ialah bila cinta itu menguasai dirimu tanpa pertimbangan.<br />
Bukan laut namanya jika airnya tidak berombak. Bukan cinta namanya jika perasaan tidak pernah terluka. Bukan kekasih namanya jika hatinya tidak pernah merindu dan cemburu. </p>
	<p>Cinta bukanlah dari kata-kata tetapi dari segumpal keinginan diberi pada hati yang memerlukan. Tangisan juga bukanlah pengubat cinta karena ia tidak mengerti perjalananan hati naluri. </p>
	<p> Kejarlah cita-cita sebelum cinta, apabila tercapainya cita-cita maka dengan sendirinya cinta itu akan hadir<br />
Di suatu hari kau datang dan bertanya, apa yang lebih penting padaku : Dirimu atau nyawamu. Dan aku mengatakan nyawaku lebih penting dan kau pun berlalu dengan penuh kekecewaan tanpa pernah kau sadari bahwa kaulah nyawaku itu.<br />
Sesungguhnya kau adalah cinta dan nyawaku dalam hidup ini&#8230; </p>
	<p>Cinta seringkali akan lari bila kita mencari, tetapi cinta jua seringkali dibiarkan pergi bila ia menghampiri<br />
Bercintalah dengan pelajaran, bertunanglah dengan mengulangkaji, berkahwinlah dengan peperiksaan dan berbulan madulah dengan kejayaan.<br />
Cinta pertama adalah kenangan. Cinta kedua menjadi pengajaran. Dan cinta yang seterusnya adalah satu keperluan karena hidup tanpa cinta bagaikan masakan tanpa garam. Lantaran itu jagalah cinta yang dianugerahkan itu sebaik-baiknya. Agar ia terus mekar dan wangi sepanjang musim.   </p>
	<p>Kecewa bercinta bukan bermakna dunia sudah berakhir. Masa depan yang cerah berdasarkan pada masa lalu yang telah dilupakan. Kamu tidak dapat melangkah dengan baik dalam kehidupan kamu sampai kamu melupakan kegagalan kamu dan rasa kekecewaan itu<br />
Hanya diperlukan waktu semenit untuk menafsir seseorang, sejam untuk menyukai seseorang dan sehari untuk mencintai seseorang, tetapi diperlukan waktu seumur hidup untuk melupakan seseorang.   </p>
	<p>Ada cinta yang agung antara hamba dan Tuhannya. Cinta suci antara bunda dan anaknya. Ada cinta rafik yang setia. Ada cinta berahi antara kekasih teruna dara. Ada cinta persaudaraan yang tiada bandingnya. Ada cinta sesama makhluk yang begitu mulia dan cinta dikatakan hampir tidak memilih usia. Ia juga tidak mengira rona bangsa. Tidak ada miskin kaya dalam catatan kamus cinta. Justeru, cinta dikatakan sesuatu yang cukup luar biasa dalam cakerawala hidup setiap jiwa. </p>
	<p>Cinta itu apabila kamu bertemu dan membuat pilihan yang tepat<br />
Manusia tidak jatuh &#8216;ke dalam&#8217; cinta, dan tidak juga keluar &#8216;dari cinta&#8217;. Tapi manusia tumbuh dan besar dalam cinta<br />
Cinta karunia Ilahi mengapa mesti dibenci? Yang harus dibenci dan dihindari ialah kepalsuan, bukan cinta.<br />
Hidup tanpa cinta seperti makanan tanpa garam. Oleh karena itu, kejarlah cinta seperti kau mengejar masa, dan apabila kau sudah mendapat cinta itu, jagalah ia seperti kau menjaga dirimu, sesungguhnya cinta itu karunia Tuhan Yang Maha Agung.<br />
“Aku mencintaimu”, sukarkah untuk dilafazkan? </p>
	<p>Tidak ada cinta yang tidak cemburu -Pepatah Perancis </p>
	<p>Suatu percintaan yang terjalin di antara dua insan itu tiada ada kemesraan atau kemanisannya sekiranya sentiasa membayangi akan kemusnahan, kekecewaan dan kehancuran. </p>
	<p>Cintailah orang yang engkau kasihi itu sekadarnya belaka, barangkali  dia akan menjadi orang yang kau benci pada suatu hari kelak. Juga bencilah terhadap orang yang kau benci itu sekadarnya belaka barangkali dia akan menjadi orang yang engkau kasihi pada suatu hari nanti.<br />
Menerima cinta dari seseorang secara terburu-buru tanpa usul periksa latar belakangnya akan merugikan karena cendawan yang tumbuh melata jika terus dimakan dikhuatiri beracun. </p>
	<p>Tidah perlu diratapi perpisahan dan kegagalan bercinta karena hakikatnya jodoh itu bukan ditangan manusia. Atas kasih sayang Tuhan kau dan dia bertemu dan atas limpahan kasihNya jua kau dan dia dipisahkan bersama hikmah yg tersembunyi. Pernahkah kau terfikir kebesaranNya itu?<br />
Cinta itu adalah api yang dingin. Siapa yang mendekatinya tidak akan terbakar tetapi tertangkap ke dalamnya.</p>
	<p>Cinta itu tidak menjanjikan sebuah rumah tangga aman damai, tetapi penerimaan dan tanggungjawab adalah asas utama kebahagiaan rumah tangga. Cinta hanya sebuah keindahan perasaan. Cinta akan bertukar menjadi tanggung jawab apabila terbinanya sebuah rumah tangga.<br />
Janganlah menggigil kedinginan karena hilangnya cinta .Tetapi menggigillah dengan kedinginan karena tiada lagi ada rasa.\</p>
	<p>Memberikan seluruh cintamu kepada seseorang bukanlah jaminan dia akan membalas cintamu. Jangan mengharapkan balasan cinta, tunggulah sampai cinta berkembang di hatinya, tetapi jika tidak, berbahagialah karena cinta tumbuh di hatimu. </p>
	<p>Berkasih sayang adalah suatu akhlak yang mulia. Oleh karena itu semai dan peliharalah rasa kasih sayang dan cinta terhadap sesama insan, lebih-lebih lagi kepada Allah SWT karena Allah sangat mengasihi hambaNya lebih dari pada seorang ibu mengasihi anaknya.<br />
Cinta ia tetap hadir, ia datang bukan dengan nafsu atau keinginan tetapi kepasrahan tentang yang mutlak, itulah cinta terulung.</p>
	<p>Cinta bukanlah dari kata-kata tetapi dari segumpal keinginan diberi pada hati yang memerlukan.<br />
Tidak perlu gembira pada kelahiran cinta pertama. Juga tak perlu menangis di awal kegagalan karena kekeliruan saat pertemuan dan perpisahan. Kebahagiaan tidak semestinya kekal abadi. </p>
	<p>Pergaulan dan cinta di antara lelaki dan perempuan pada hari ini diibaratkan seperti minyak dengan api, apabila tersentuh maka maraklah ia.<br />
Cinta adalah sebuah telaga yang tiada dasarnya</p>
	<p>Untuk menyelami cinta dan cita-cita, anggap dahulu cinta itu derita dan cita -cita itu cahaya. Sebelum mendekati arti cinta, mengertilah dahulu arti cita-cita dan sebelum mengenal cinta, kenallah dahulu cita-cita.<br />
Cinta yang terselit kedustaan ibarat kehidupan yang bercampur dengan penghinaan. </p>
	<p>Cinta adalah jika kamu kehilangan rasa, ghairah, romantika dan masih tetap menghargainya.<br />
Cinta lebih mudah mekar di hati yang sedang dilanda kecewa. Cinta seperti ini adalah cinta yang mengharapkan belas kasihan, sebab itu bila sepi telah punah maka cinta juga akan turut terbang. </p>
	<p>Bukan dikatakan cinta apabila semata-mata untuk memiliki sepenuhnya. Tetapi cinta itu ialah perkongsian di dalam kecenderungan dan kegemaran serta  perasaan bahwa diri orang yang anda cintai itu tidak kurang pentingnya dari anda.<br />
Hanya ada satu pelita yang dapat kita pegang dan sentiasa menyala di mana-mana, yang tetap akan menerangi tempat-tempat yang jauh seperti menerangi tempat kita sendiri, yaitu rasa cinta dan kasih sayang pada segala yang bernyawa- Innayan Khan</p>
	<p>Manusia merasa kesepian dari cinta karena mereka kerap hanya membangun dinding, bukannya jembatan kasih sayang.<br />
Cinta yang dikaitkan dengan kepentingan pribadi akan berubah menjadi putus asa.<br />
Dalam precintan, janganlah kamu kesali perpisahan tetapi kesalilah pertemuan karena tanpa pertemuan tidak ada perpisahan.<br />
Kamu tidak akan mati karena cinta, tetapi cinta cukup  meracuni hidup kamu</p>
	<p>Kawinilah orang yang lebih mencintai diri kita daripada kita mencintai diri orang itu. Itu lebih baik daripada mengawini orang yang kita cintai tetapi tidak mencintai diri kita karena adalah lebih mudah mengubah pendirian diri sendiri daripada mengubah pendirian orang lain.<br />
Hiduplah dengan cinta! Tetapi bukan berarti cinta buta. Kita dapat mencintai hidup dengan lebih baik, yaitu cintailah sekelilingmu, baik yang ada diluar dirimu atau didalam dirimu. </p>
	<p>Cinta yang suci dapat dilihat dari pengorbanan seseorang, bukanlah dari pemberian semata-mata.<br />
 Rasa cinta itu jika dipupuk ke arah sinar yang lurus akan membawa pengekalan abadi.<br />
Selagi usia di kandung badan . Selagi jiwa merantai hati<br />
Bibir tidak perlu berkata , bila hati sudah bersuara nada  cinta dan rindu.</p>
	<p>Cinta adalah penyakit manakala perasaan adalah kumannya. Perkawinan pula merupakan ubat penawarnya.<br />
Ibaratkanlah kehilangan cinta itu umpama hilangnya cincin permata di lautan luas yang tiada bertepi dan harus dilupakan.<br />
Apabila cinta tidak diajarkan di rumah, hampir tidak masuk akal untuk mempelajarinya di mana pun.</p>
	<p>Cinta tidak selalu bersama jodoh tapi jodoh selalu bersama cinta.<br />
Kata pujangga, cinta letaknya di hati. Meskipun tersembunyi, namun getarannya jelas sekali. Ia mampu mempengaruhi fikiran sekaligus mengendalikan tindakan kita sehingga kadangkala kita melakukan hal terbodoh tanpa sadar.<br />
Hidup kalau tak memakai cinta tak ubahnya seperti bumi kehilangan matahari -Aswir</p>
	<p>Cinta dimulai dengan senyuman, tumbuh dengan dekapan dan seringkali berakhir dengan air mata.<br />
Lelaki itu prosa alam, perempuan sajaknya. Cinta itu lagu dan perkawinan orkestranya -Pepatah Denmark</p>
	<p>Cinta menaklukkan segala-galanya. Cinta dapat mengubah pondok kayu menjadi istana emas<br />
Barangsiapa yang belum pernah jatuh cinta, ia telah membangunkan langit di atas bumi -Pujangga Barat</p>
	<p>Cinta tidak mempunyai umur, ia senantiasa memudakan dirinya<br />
Cinta menekan pertimbangan, memandang ringan bahaya dan cinta memandang enteng akan kematian<br />
Cinta tidak mempunyai undang-undang<br />
Cinta pandang pertama adalah cinta yang akan kekal abadi<br />
Cinta lebih tua daripada alam ini karena alam ini dijadikan Allah atas dasar cinta –Muttanabi</p>
	<p>Manusia yang dibakar api cinta dapat melihat di dalam gelap -Peribahasa Mexico</p>
	<p>Cinta ialah penyakit -Taufiq Al-Hakim</p>
	<p>Cinta yang tak berbalas itu bagaikan layang-layang putus talinya.<br />
Kehidupan ini seumpama bunga, maka cinta adalah madunya -Hamka</p>
	<p>Tiada kasih yang lebih manis daripada kasih cinta. Tiada kasih yang lebih ngeri dari putus cinta<br />
Cinta monyet ialah cinta keanak-anakan. Cinta palsu adalah sekadar basa-basi. Cinta materialistik merosakkan jiwa. Cinta sejati ialah cinta yang akan menghasilkan cita-cita yang luhur dan abadi.<br />
Cinta adalah penyakit dan perkawinan ialah sehat. Sakit dan sehat tidak bertemu. </p>
	<p>Cinta itu tidak buta tetapi ia tidak melihat -Pepatah Jerman</p>
	<p>Cinta boleh tumbuh dalam madu dan racun<br />
Orang yang menulis surat cinta itu kurus dan orang yang membacanya gemuk -Pepatah Belanda</p>
	<p>Keburukan dapat disembunyikan apabila timbulnya rasa cinta -Pepatah Greek</p>
	<p>Hidup tanpa cinta ibarat taman tidak berbunga -Pepatah Inggeris</p>
	<p>Yang termanis daripada yang manis di dunia ini ialah pujian kekasih yang terlontar daripada rasa cintanya.<br />
Seseorang yang pernah mengalami kegagalan dalam percintaan, maka dia akan melihat kebahagiaan itu laksana melihat pelangi. Tidak pernah pelangi itu berada di atas kepalanya. Selamanya dia melihat pelangi itu berada di atas kepala orang lain. </p>
	<p>Wahai Saudaraku<br />
Apapun kata mereka, cinta adalah nikmat terindah dari Dzat Pemilik Cinta ialah Allah SWT. Syukurilah ia, niscaya Dia akan senantiasa menambah rasa cinta itu di hati kita. Sehingga kita akan hidup dalam cinta sejati bersamNya dimanapun kita berada. </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://multazimah.blogsome.com/2007/02/01/apa-kata-mereka-tentang-cinta/feed/</wfw:commentRss>
	</item>
		<item>
		<title>Benarkah Anda Mencintai-Nya&#8230;???</title>
		<link>http://multazimah.blogsome.com/2007/02/01/benarhan-anda-mencintai-nya/</link>
		<comments>http://multazimah.blogsome.com/2007/02/01/benarhan-anda-mencintai-nya/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 01 Feb 2007 06:39:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>multazimah</dc:creator>
		
	<category>Renungan</category>
		<guid>http://multazimah.blogsome.com/2007/02/01/benarhan-anda-mencintai-nya/</guid>
		<description><![CDATA[	Saudara
Bagaimana Anda mencintai Allah sedang malam dan siang engkau menantang-Nya?
Bagaimana Engkau mencintai Allah sedang berulang-ulang engkau mengundang kemurkaan-Nya dan mendurhakai-Nya?
Bagaimana Engkau mengaku cinta kepada Allah sedang jalan menuju masjidpun engkau tidak mengetahuinya
Bagaimana Engkau mencintai Allah padahal engkau mencintai musuh-musuh-Nya dan membanggakan mereka? 
	Bagaimana Engkau mencintai Allah sedang engkau berlaku sombong terhadap wali-wali Allah (mukminin), bahkan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[	<p>Saudara<br />
Bagaimana Anda mencintai Allah sedang malam dan siang engkau menantang-Nya?<br />
Bagaimana Engkau mencintai Allah sedang berulang-ulang engkau mengundang kemurkaan-Nya dan mendurhakai-Nya?<br />
Bagaimana Engkau mengaku cinta kepada Allah sedang jalan menuju masjidpun engkau tidak mengetahuinya<br />
Bagaimana Engkau mencintai Allah padahal engkau mencintai musuh-musuh-Nya dan membanggakan mereka? <a id="more-39"></a></p>
	<p>Bagaimana Engkau mencintai Allah sedang engkau berlaku sombong terhadap wali-wali Allah (mukminin), bahkan menghinakan dan melecehkan mereka?<br />
Bagaimana Engkau mencintai Allah sedang engkau menyelisihi Rasulullah baik dhohir maupun bathin?<br />
Bagaimana Engkau mencintai Allah sedang surat-surat cinta-Nya tidak pernah engkau baca?</p>
	<p>Bagaimana Engkau mencintai Allah sedang perintah dan larangan-Nya engkau abaikan?<br />
Bagaimana Engkau mencintai Allah kedatangan-Nya di sepertiga malam akhir tidak pernah kau sambut?<br />
Dimanakah bukti cintamu kepada Allah wahai hamba yang mengaku cinta kepada-Nya?</p>
	<p>Engkau membangkang kepada-Nya…<br />
Lalu mengaku bahwa engkau cinta…<br />
Inilah pengakuan yang nyata dustanya…<br />
Jika benar engkau mencintai-Nya<br />
Tentulah engkau mentaati-Nya…<br />
Karena seorang akan taat kepada kekasihnya.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://multazimah.blogsome.com/2007/02/01/benarhan-anda-mencintai-nya/feed/</wfw:commentRss>
	</item>
		<item>
		<title>Keputusan yang Berani</title>
		<link>http://multazimah.blogsome.com/2007/02/01/keputusan-yang-berani/</link>
		<comments>http://multazimah.blogsome.com/2007/02/01/keputusan-yang-berani/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 01 Feb 2007 06:38:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>multazimah</dc:creator>
		
	<category>Nashihat</category>
		<guid>http://multazimah.blogsome.com/2007/02/01/keputusan-yang-berani/</guid>
		<description><![CDATA[	Keputusan inilah yang aku tunggu-tunggu sejak lama. Keputusan yang cepat dan tepat tanpa menunda. Maka ambillah keputusan sekarang juga:
- Tunduklah hanya kepada Allah sekarang juga…
- Bertaubatlah kepada Rabbmu sekarang juga… 
	- Bermuhasabahlah terhadap dirimu sekarang juga…
- Ubahlah jalan hidupmu yang suram sekarang juga…
- Bersihkan dirimu dari peribadatan kepada selain Allah sekarang juga…
	- Jauhilah syahwat yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[	<p>Keputusan inilah yang aku tunggu-tunggu sejak lama. Keputusan yang cepat dan tepat tanpa menunda. Maka ambillah keputusan sekarang juga:<br />
- Tunduklah hanya kepada Allah sekarang juga…<br />
- Bertaubatlah kepada Rabbmu sekarang juga… <a id="more-37"></a></p>
	<p>- Bermuhasabahlah terhadap dirimu sekarang juga…<br />
- Ubahlah jalan hidupmu yang suram sekarang juga…<br />
- Bersihkan dirimu dari peribadatan kepada selain Allah sekarang juga…</p>
	<p>- Jauhilah syahwat yang diharamkan sekarang juga…<br />
- Ikhlaslah hanya untuk Allah sekarang juga…<br />
- Ikutilah sunnah Nabimu sekarang juga…</p>
	<p>- Perangilah hawa nafsu dan setan sekarang juga…<br />
- Sahutlah adzan dan makmurkanlah masjid sekarang juga…<br />
- Anggaplah serius perkara yang haram sekarang juga…</p>
	<p>- Tundukkanlah pandangan sekarang juga…<br />
- Jagalah kedua mata, telinga dan hatimu dari segala yang haram sekarang juga…</p>
	<p>Jika nantinya Anda terjerumus ke dalam kemaksiatan dan perkara yang haram, maka janganlah berputus asa. Akan tetapi perbaruilah taubatmu, perbanyak istighfar dan mulailah dengan lembaran hidup yang baru. Janganlah engkau menyerah kepada ajakan hawa nafsu dan syahwat. Aturlah nafsumu dan giringlah ia menuju ketaatan kepada-Nya. Ingatkanlah jiwamu akan buruknya akibat dosa dan maksiat. Layangkan pandanganmu kepada ketinggian derajat pemuda yang taat yang akan mendapatkan naungan Allah di hari yang tiada naungan kecuali naungan-Nya. </p>
	<p>Ingatkan juga kepada jiwamu tentang kisah Nabiullah Yusuf ‘alaihis salam, bagaimana Beliau memohon penjagaan kepada Allah dari memerangi hawa nafsu serta marasakan kedekatan Rabbnya. Allah mengangkat martabatnya dan memuliakannya pada tingkat kemuliaan tertinggi. Dan tanyakan kepada jiwamu, apa jadinya andai saja ia mengikuti hawa nafsu dan tunduk pada rayuan setan????</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://multazimah.blogsome.com/2007/02/01/keputusan-yang-berani/feed/</wfw:commentRss>
	</item>
		<item>
		<title>Apa kata mereka tentang WAKTU???</title>
		<link>http://multazimah.blogsome.com/2007/02/01/apa-kata-mereka-tentang-waktu/</link>
		<comments>http://multazimah.blogsome.com/2007/02/01/apa-kata-mereka-tentang-waktu/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 01 Feb 2007 06:37:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>multazimah</dc:creator>
		
	<category>Nashihat</category>
		<guid>http://multazimah.blogsome.com/2007/02/01/apa-kata-mereka-tentang-waktu/</guid>
		<description><![CDATA[	Genggamlah masa lalu sebagai saksi yang adil. Keberadaanmu hari ini kan menjadi bukti, kalau kemarin kau telah berbuat kejelekan. Gandakan kebaikan hari ini maka kau kan terpuji. Jangan menunda kebaikan hari ini hingga  esok. Boleh jadi hari esok datang kau telah pergi. Hari-harimu bila kau pergunakan kan mendatangkan kebaikan. Hari yang berlalu tak tak [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[	<p align="center"><em>Genggamlah masa lalu sebagai saksi yang adil. Keberadaanmu hari ini kan menjadi bukti, kalau kemarin kau telah berbuat kejelekan. Gandakan kebaikan hari ini maka kau kan terpuji. Jangan menunda kebaikan hari ini hingga  esok. Boleh jadi hari esok datang kau telah pergi. Hari-harimu bila kau pergunakan kan mendatangkan kebaikan. Hari yang berlalu tak tak kan pernah kembali lagi. (Yusuf Qordhowi)</em></p>
<a id="more-31"></a></p>
	<p align="center"><em>Waktu adalah momentum masa. Waktu adalah pintu menuju kesuksesan. Siapa saja yang yang mampu mengisi dan mengambil momentum yang tepat diantara penggalan masa maka ia telah meraih kunci kesuksesan (Dr.Syamsul Balda, MBA dalam pengantar Breaking THE TIME)</em></p>
	<p align="center"><em>Melakukan sesuatu pada saat itu juga merupakan saat yang paling penting dalam hidup Anda (Robert Fritz)</em></p>
	<p align="center"><em>Hal yang paling penting untuk mencapai suatu kesuksesan adalah memulai pada saat itu juga dimanapun Anda berada (Bruce Barton)</em></p>
	<p align="center"><em>Kerjakan apa yang dapat Anda kerjakan dengan kemampuan yang Anda miliki dimanapun Anda berada (Theodore Roosevelt)</em></p>
	<p align="center"><em>Apabila hari kiamat tengah berlangsung sedang di tangan seseorang di antara kalian masih tergenggam pohon yang akan ditanam  maka seandainya ia masih sempat menanamnya, hendaknya segera ia tanam. (Muhammad SAW)</em></p>
	<p align="center"><em>Demi masa&#8230;. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal sholih dan saling nasihat-menasihati supaya menaati kebenaran dan nasihat-menasihati supaya menepati kesabaran (QS.Al-Ashr 1-3)</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://multazimah.blogsome.com/2007/02/01/apa-kata-mereka-tentang-waktu/feed/</wfw:commentRss>
	</item>
		<item>
		<title>&#8220;Detik-detik Terakhir Saat Sang Kekasih Tiada&#8221;</title>
		<link>http://multazimah.blogsome.com/2007/02/01/saat-malaikat-maut-menjemput/</link>
		<comments>http://multazimah.blogsome.com/2007/02/01/saat-malaikat-maut-menjemput/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 01 Feb 2007 06:36:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>multazimah</dc:creator>
		
	<category>Nashihat</category>
	<category>Renungan</category>
		<guid>http://multazimah.blogsome.com/2007/02/01/saat-malaikat-maut-menjemput/</guid>
		<description><![CDATA[	Kata Ibnu Mas&#8217;ud: &#8220;Tatkala Rasullulah s.a.w., telah mendekati ajalnya Beliau mengumpulkan kami sekalian di kediaman Aisyah ra. Kemudian beliau memperhatikan kami sekalian sehingga berderailah air matanya dan,
Beliau bersabda: 
&#8220;Selamat datang untuk kamu sekalian, dan mudah-mudahan kamu sekalian di balas-kasihani Allah. Saya berwasiat supaya kamu sekalian bertaqwa kepada Allah serta mentaati-Nya. Sesungguhnya telah dekat perpisahan di [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[	<p>Kata Ibnu Mas&#8217;ud: &#8220;Tatkala Rasullulah s.a.w., telah mendekati ajalnya Beliau mengumpulkan kami sekalian di kediaman Aisyah ra. Kemudian beliau memperhatikan kami sekalian sehingga berderailah air matanya dan,<br />
Beliau bersabda: <a id="more-28"></a><br />
<em>&#8220;Selamat datang untuk kamu sekalian, dan mudah-mudahan kamu sekalian di balas-kasihani Allah. Saya berwasiat supaya kamu sekalian bertaqwa kepada Allah serta mentaati-Nya. Sesungguhnya telah dekat perpisahan di antara kita, dan telah pula saat kembali pulang kepada Allah Taala dan menempati sorga-Nya.. Kalau telah datang saat ajalku, hendaklah Ali yang memandikan ku, Fadhal bin Abbas yang menuangkan air dan Usamah bin Zaid yang bertindak menolong keduanya. Lalu kafanilah aku dengan pakaianku sendiri bila itu kamu semua kehendaki atau dengan kain Yaman yang putih. Bila kamu sekalian akan memandikan aku, maka letakkanlah aku di atas balai tempat tidur ku di rumah ku ini.dekat dengan liang lahad ku. Sesudah itu keluarlah kamu sekalian barang sejenak meninggalkan aku. Pertama-tama yang menyalatkan aku adalah Allah &#8216;Azza Wa Jalla. Kemudian Malaikat Jibril, kemudian Malaikat Israil, lalu Malaikat Mikail, kemudian Malaikat pencabut nyawa (Malaikat Izrail) beserta para pembantunya, selanjutnya semua Malaikat. Setelah itu masuklah kamu sekalian dengan berkelompok-kelompok dan lakukan shalat untuk ku&#8221;</em></p>
	<p>Setelah mendengar ucapan perpisahan Nabi saw  mereka (para Sahabat) saling menangis seraya berkata,<br />
<em>&#8221; Wahai Rasullullah engkau adalah seorang utusan untuk kami sekalian, menjadi kekuatan dalam pertemuan kami dan selaku penguasa yang mengurus perkara kami, bilamana engkau telah pergi, kepada siapakah kami kembali dalam segala persoalan?&#8221;</em></p>
	<p><strong>Rasullullah saw bersabda:</strong><br />
<em>&#8220;Telah ku tinggalkan padamu sekalian pada jalan yang benar dan di atas jalan yang terang dan telah ku tinggalkan  pula untuk kamu sekalian dua penasehat yang satu pandai berbicara dan yang satu diam saja. Yang pandai bicara adalah Al-Quran dan yang diam saja adalah Ajal (maut). Apabila ada persoalan yang sulit bagimu, maka kembalilah kamu sekalian kepada Al-Quran dan Sunahku dan kalau hatimu keras membatu, maka lunaklah dia dengan mengingat tentang mati.&#8221;</em></p>
	<p><strong>Setelah itu, maka Rasullullah saw, menderita sakit, mulai akhir bulan Safar selama 18 hari dan sudah sering di tengok oleh para sahabat. Sedang penyakit yang di derita mulai pertama kali sampai akhir hayatnya adalah pusing kepala.<br />
Rasullullah saw  mulai di utus pada hari Senin dan wafatnya pun pada hari Senin juga. Tatkala pada Senin, penyakitnya bertambah berat, maka setelah Bilal selesai Adzan Subuh , dia menghampiri pintu rumah Rasullullah saw  sambil mengucapkan salam:</strong><br />
<em>&#8220;Assalamu &#8216; alaika ya Rasullullah!&#8221;</em><br />
<strong>Fatimah menjawab: </strong><em>“wa’alaikassalam”</em><strong> lalu berkata:</strong><br />
<em>&#8220;Rasullullah masih sibuk dengan dirinya sendiri&#8221;</em></p>
	<p><strong>Bilal terus masuk ke masjid dan dia tidak memahami makna kata-kata Fatimah. Ketika waktu subuh semangkin terang. Bilal datang kembali menghampiri pintu rumah Rasullullah saw  dan mengucapkan salam seperti semula dan Rasullulah saw yang mendengar suara Bilal itu, maka beliau bersabda:</strong><br />
<em>&#8220;Masuklah Hai Bilal, sungguh aku dalam keadaan sibuk mengurus diriku sendiri dan penyakitku rasa-rasanya bertambah-tanbah berat. Maka suruhlah Abu Bakar agar shalat berjemaah dengan orang-orang yang hadir&#8221;</em></p>
	<p><strong>Bilal pun keluar sambil menangis dan meletakkan tangannya di atas kepalanya seraya mengeluh: </strong><br />
<em>&#8220;Aduhai musibah, susah sungguh, harapan terputus, telah terpenggal hilang sasaran tujuan, seandainya ibuku tidak melahirkan aku&#8221;</em></p>
	<p><strong>Bilal terus masuk masjid seraya berkata:</strong><br />
<em>&#8220;Hai sahabat Abu Bakar, sesungguhnya Rasullullah menyuruh engkau shalat berjemaah dengan yang hadir, karena beliau sibuk dalam mengurus dirinya yang sedang sakit&#8221;</em></p>
	<p><strong>Tatkala Abu Bakar melihat mihrab imam kosong serta Nabi saw  tidak hadir, maka tidak tertahan dirinya lalu menangis dan jatuh tersungkur akibat pingsan, maka ributlah kaum Muslimin yang ada , sehingga Rasullullah saw  yang mendengar keributan mereka dan bersabda:</strong><br />
<em>&#8220;Ya Fatimah. Ada apakah jeritan itu dan ada apakah di sana ribut?&#8221;</em><br />
<strong>Fatimah menjawab:</strong><br />
<em>&#8220;Keributan di sana itu adalah di antara kaum Muslimin sendiri, kerana engkau tidak ada&#8221; </em></p>
	<p><strong>Maka Rasullullah memanggil Ali dan Fadhal bin Abbas yang kemudian beliau bersandar dengan keduanya serta ke Mesjid lalu shalat bersama-sama dengan dua raka&#8217;at Fajar di hari Senin tersebut. Selesai shalat beliau berpaling ke belakang kepada orang banyak dan berkata: </strong><br />
<em>&#8220;Hai Muslimin, kalian semua di dalam pemeliharan dan pertolongan Allah. Oleh sebab itu taqwalah kepada Allah serta taatilah Dia, sesungguhnya saya akan meninggalkan dunia ini dan hari ini hari pertama ku di akhirat dan hari terakhirku di dunia&#8221; </em></p>
	<p><strong>Lalu beliau bangkit serta pulang ke rumah. Kemudian Allah Ta&#8217;ala memberi perintah kepada Malaikat pencabut nyawa: </strong><br />
<em>&#8220;Turunlah engkau menemui kekasih-Ku dengan sebaik-baik rupa serta lakukanlah dengan halus di dalam mencabut rohnya, kalau dia mengizinkan maka masuklah, dan kalau dia tidak mengizinkan maka janganlah masuk dan pulang lah&#8221;</em></p>
	<p><strong>Maka Malaikat maut pun turun dengan rupa seperti orang Arab Badui pergunungan seraya mengucapkan: </strong><br />
<em>&#8220;Mudah-mudahan keselamatan tetap untuk kamu sekalian, wahai penghuni rumah kenabian dan sumber risalah, apakah saya boleh masuk?&#8221;</em><br />
<strong>Fatimah menjawabnya: </strong><br />
<em>&#8220;Hai hamba Allah sesungguhnya Rasullullah sedang sibuk dengan penderitaan sakitnya.&#8221;</em></p>
	<p><strong>Dan Malaikat maut memanggil untuk kedua kali dengan ucapan: </strong><br />
<em>&#8220;Mudah-mudahan keselamatan tetap untuk kamu wahai Rasullullah dan untuk semua penghuni rumah Kenabian&#8221;</em></p>
	<p><strong>Maka Rasullullah mendengar suara Malaikat maut tersebut lalu bersabda: </strong><br />
<em>&#8220;Masuklah wahai Malaikat maut&#8221; </em><br />
<strong>Maka Malaikat mautpun masuk sambil mengucapkan,</strong> <em>&#8220;Assalammu&#8217;alaika yaa Rasullullah&#8221; </em><br />
<strong>Rasullullah saw menjawab,</strong> <em>Wa&#8217;alaikassalamu, Hai Malaikat maut, engkau datang untuk berkunjung atau mencabut nyawa?&#8221;</em></p>
	<p><strong>Kata Malaikat maut:</strong><br />
<em>&#8220;Saya datang untuk berkunjung dan untuk mencabut nyawa, seandainya engkau mengizinkan, kalau tidak maka saya akan kembali pulang.&#8221;</em></p>
	<p>Bersabda Rasullullah:<br />
&#8220;Hai Malaikat maut, di mana Jibril engkau tinggalkan?&#8221;<br />
Malaikat maut berkata,<br />
&#8220;Dia saya tinggalkan di langit dunia, dan para Malaikat sedang berbela sungkawa kepadamu&#8221; </p>
	<p>Tidak lama kemudian Malaikat Jibril as turun dan duduk di sisi kepala Rasullullah saw. Kata Rasullullah:<br />
&#8220;Tahukah engkau kalau ajalku telah dekat?&#8221;<br />
Jawab Malaikat Jibril: &#8220;Benar, Rasullullah&#8221;<br />
Kata Rasullullah saw, &#8220;Beritakan kepadaku kemulian yang mengembirakan aku di sisi Allah&#8221;<br />
Kata Jibril: &#8220;Sesungguhnya pintu-pintu telah dibuka dan para Malaikat telah berbaris rapi menanti rohmu di langit, pintu-pintu sorga dibuka dan para bidadari sudah bersolek semuanya, menanti kehadiran rohmu&#8221;<br />
Kata Nabi saw, &#8220;Segala puji bagi Allah&#8221;<br />
dan bertanya pula Rasulullah, &#8220;Hai Jibril, berilah berita gembira tentang umatku di hari kiamat&#8221;<br />
Kata Jibril, &#8220;Saya beritahukan, bahwa sesungguhnya Allah Ta&#8217;ala telah berfirman: &#8220;Sesungguhnya telah Aku larang semua Nabi masuk ke dalam sorga sebelum engkau masuk lebih dahulu dan Aku larang memasukinya semua umat sebelum umatmu masuk terlebih dahulu&#8221;<br />
Kata Nabi saw, &#8220;Sekarang puas telah hatiku dan hilanglah sudah susahku&#8221;<br />
Kemudian beliau berkata pula, &#8220;Hai Malaikat maut, dekatlah kepada ku&#8221;<br />
Malaikat mautpun mendekat dan mulai melaksanakan pencabutan roh beliau dan tatkala sampai di pusat(perut). Nabi bersabda: &#8220;Hai Jibril, alangkah ,&#8217;pahitnya&#8217;, rasa sakaratul maut itu!&#8221;<br />
Maka Jibril memalingkan wajahnya dari pandangan Nabi SAW. Kata Nabi saw, &#8220;Hai Jibril, apakah engkau tidak suka melihat wajah ku?&#8221;<br />
Jibril berkata, &#8220;Wahai kekasih Allah, siapakah orangnya yang sampai hati melihat wajah engkau, sedangkan engkau dalam sakaratul maut!&#8221;<br />
Anas bin Malik r.a berkata &#8220;Tatkala roh Nabi SAW sampai di dada beliau berseru&#8221; Aku berwasiat agar kamu sekalian memelihara shalat dan apa-apa yang menjadi tanggunganmu(hamba-hamba sahayamu). Maka masih saja beliau berwasiat dengan kedua hal itu sampai hilang perkataannya&#8221;<br />
Ali r.a berkata,<em> &#8220;Sesungguhnya Rasullullah saw, ketika menjelang ajalnya, telah mengerak-gerakkan kedua bibirnya dua kali, dan tatkala saya mendekatkan telinga, saya mendengar beliau mengucapkan dengan perlahan-lahan:&#8221; Umatku, Umatku&#8221;</em><br />
<strong>Maka Roh Rasullullah saw dicabut tepat pada hari Senin Bulan Rabi&#8217;ul Awwal.</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://multazimah.blogsome.com/2007/02/01/saat-malaikat-maut-menjemput/feed/</wfw:commentRss>
	</item>
		<item>
		<title>Pengakuan</title>
		<link>http://multazimah.blogsome.com/2007/02/01/pengakuan/</link>
		<comments>http://multazimah.blogsome.com/2007/02/01/pengakuan/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 01 Feb 2007 06:36:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>multazimah</dc:creator>
		
	<category>Munajat</category>
		<guid>http://multazimah.blogsome.com/2007/02/01/pengakuan/</guid>
		<description><![CDATA[	Yaa Allah&#8230;
Engkaulah Rabb kami. Rabbal’aalamiin, Rabb seluruh ‘alam, penggenggam semesta, pemilik dan penguasa segala makhluk, Tuhan dan Sembahan seluruh manusia dan jin. Hambamu memohon, akuilah diri ini sebagai hambamu, jangan kau sia-siakan pengakuan kami ini. Jadikanlah kami sebagai hambaMu seperti apa yang kau kehendaki 
	Yaa Allah…
Tiada Ilah yang berhak kami sembah kecuali Engkau, tiada ilah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[	<p>Yaa Allah&#8230;<br />
Engkaulah Rabb kami. <em>Rabbal’aalamiin</em>, Rabb seluruh ‘alam, penggenggam semesta, pemilik dan penguasa segala makhluk, Tuhan dan Sembahan seluruh manusia dan jin. Hambamu memohon, akuilah diri ini sebagai hambamu, jangan kau sia-siakan pengakuan kami ini. Jadikanlah kami sebagai hambaMu seperti apa yang kau kehendaki <a id="more-42"></a></p>
	<p>Yaa Allah…<br />
Tiada Ilah yang berhak kami sembah kecuali Engkau, tiada ilah yang berhak kami ibadahi selain Engkau. Engkaulah Tuhan yang Esa, tempat bergantung dari segala makhluk. Engkau… tidak beranak, tidak pula diperanakkan, dan tiada seorangpun yang setara dengan Engkau.</p>
	<p>Yaa Allah…<br />
Engkau telah menciptakan kami dari ketiadaan. Engkau ciptakan kami dalam sebaik-baik bentuk. Engkau anugerahi kami potensi yang tidak dimiliki oleh makhlukMu yang lain</p>
	<p>Yaa Allah&#8230;<br />
Kami adalah hambaMu, hamba yang penuh dengan kelemahan dan kekurangan, hamba yang senantiasa mengharap kemurahan dan kasih sayangMu</p>
	<p>Yaa Allah&#8230;<br />
Hamba telah berjanji untuk tunduk dan patuh padaMu. Berilah kami kekuatan agar kami bisa menunaikan janji itu semampu kami. </p>
	<p>Yaa Allah&#8230;<br />
Kami telah berbuat zholim terhadap diri kami sendiri. Lebih banyak waktu yang kami gunakan untuk perbuatan yang sia-sia. Maka kami berlindung kepadaMu dari jeleknya amal dan perbuatan kami tersebut.</p>
	<p>Yaa Allah&#8230;<br />
Kami mengakui begitu besar nikmat yang Engkau berikan kepada kami. Tiada sedikitpun kami sanggup menghitungnya. Maka jadikanlah kami sebagai hambaMu yang pandai bersyukur</p>
	<p>Yaa Allah&#8230;<br />
Kami pun mengakui begitu besar dosa kami kepadaMu, maka ampunilah kami karena sesungguhnya tiada yang mengampuni dosa kecuali DiriMU
</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://multazimah.blogsome.com/2007/02/01/pengakuan/feed/</wfw:commentRss>
	</item>
		<item>
		<title>Memberi</title>
		<link>http://multazimah.blogsome.com/2007/02/01/memberi/</link>
		<comments>http://multazimah.blogsome.com/2007/02/01/memberi/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 01 Feb 2007 06:35:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>multazimah</dc:creator>
		
	<category>Nashihat</category>
	<category>Renungan</category>
		<guid>http://multazimah.blogsome.com/2007/02/01/memberi/</guid>
		<description><![CDATA[	Cobalah untuk mengawali suatu hari Anda dengan niat untuk memberi. Mulailah dengan sesuatu yang kecil yang mungkin tak terlalu berharga di mata Anda. Mulailah dari uang receh. Kumpulkan beberapa uang receh yang mungkin tercecer di sana-sini, hanya untuk satu tujuan; DIBERIKAN. 
	Apakah Anda sedang berada di bus kota yang panas, lalu dating pengamen bernyanyi memekakkan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[	<p>Cobalah untuk mengawali suatu hari Anda dengan niat untuk memberi. Mulailah dengan sesuatu yang kecil yang mungkin tak terlalu berharga di mata Anda. Mulailah dari uang receh. Kumpulkan beberapa uang receh yang mungkin tercecer di sana-sini, hanya untuk satu tujuan; DIBERIKAN. <a id="more-38"></a></p>
	<p>Apakah Anda sedang berada di bus kota yang panas, lalu dating pengamen bernyanyi memekakkan telinga. Atau Anda sedang berada dalam mobil mewah ber-AC yang sejuk, lalu sepasang tangan kecil mengetuk meminta-minta. Tak peduli pendapat Anda tentang kemalasan, kemiskinan dan lain sebagainya. Tak perlu banyak piker, segera berikan satu dua keeping pada mereka</p>
	<p>Barangkali ada rasa enggan dan kesal. Tekanlah perasaan itu seiring dengan pemberian Anda. Bukankah tak seorangpun ingin memurukkan dirinya menjadi pengemis? Ingat, kali ini Anda hanya sedang “BERLATIH MEMBERI” mengulurkan tangan dengan jumlah yang tiada berarti. Rasakan saja, kini sesuatu mengalir dari dalam diri melalui telapak tangan Anda. Sesuatu itu bernama kasih sayang.</p>
	<p>Memberi tanpa pertimbangan bagai menyingkirkan batu penghambat arus sungai. Arus sungai adalah rasa casi dari dalam diri. Sedangkan batu adalah kepentingan yang berpusat pada diri sendiri. Sesungguhnya bukan receh atau berlina yang Anda berikan. Kemurahan itu tidak terletak di tangan, melainkan di hati.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://multazimah.blogsome.com/2007/02/01/memberi/feed/</wfw:commentRss>
	</item>
		<item>
		<title>Are you my FRIEND</title>
		<link>http://multazimah.blogsome.com/2007/02/01/are-you-my-friend/</link>
		<comments>http://multazimah.blogsome.com/2007/02/01/are-you-my-friend/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 01 Feb 2007 06:35:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>multazimah</dc:creator>
		
	<category>Renungan</category>
		<guid>http://multazimah.blogsome.com/2007/02/01/are-you-my-friend/</guid>
		<description><![CDATA[	What is a FRIEND???
	FAithful
A friend is always faithful to you, even during the bad times. 
	REliable
A friend is reliable..you can count on them to always be there. 
	IN touch
A friend stays in touch, even though it may not be as often as you&#8217;d like! 
	ENduring
A true friendship is enduring, lasting even when friends lose touch [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[	<p>What is a FRIEND???</p>
	<p><strong>FAithful</strong><br />
A friend is always faithful to you, even during the bad times. <a id="more-35"></a></p>
	<p><strong>REliable</strong><br />
A friend is reliable..you can count on them to always be there. </p>
	<p><strong>IN touch</strong><br />
A friend stays in touch, even though it may not be as often as you&#8217;d like! </p>
	<p><strong>ENduring</strong><br />
A true friendship is enduring, lasting even when friends lose touch for a while. </p>
	<p><strong>NEeded</strong><br />
A friend is always there for you when you need someone to hug. </p>
	<p><strong>DEvoted</strong><br />
A friend is devoted to your friendship and will never do anything to destroy it. </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://multazimah.blogsome.com/2007/02/01/are-you-my-friend/feed/</wfw:commentRss>
	</item>
		<item>
		<title>Ahlul Qur&#8217;an</title>
		<link>http://multazimah.blogsome.com/2007/02/01/ahlul-quran/</link>
		<comments>http://multazimah.blogsome.com/2007/02/01/ahlul-quran/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 01 Feb 2007 06:32:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>multazimah</dc:creator>
		
	<category>Al-Qur'an</category>
		<guid>http://multazimah.blogsome.com/2007/02/01/ahlul-quran/</guid>
		<description><![CDATA[	Keutamaan Ahlul’Qur’an (orang yang senantiasa berinteraksi dengan Al-Qur’an)
	1. Allah SWT mengangkat derajat ahlul qur’an menjadi keluarga-Nya
Rasulullah bersabda: “Sesungguhnya di antara manusia terdapat keluarga Allah. Para sahabat bertanya, Siapakah mereka Yaa Rasul?? Rasul menjawab: Mereka adalah ahlul qur’an, mereka itu keluarga Allah dan orang-orang pilihan-Nya” (HR.Ahmad)
	2. Ahlul Qur’an disejajarkan derajatnya oleh Allah dengan para Malaikat dan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[	<p><strong>Keutamaan Ahlul’Qur’an (orang yang senantiasa berinteraksi dengan Al-Qur’an)</strong></p>
	<p><strong>1. Allah SWT mengangkat derajat ahlul qur’an menjadi keluarga-Nya</strong><br />
Rasulullah bersabda: “Sesungguhnya di antara manusia terdapat keluarga Allah. Para sahabat bertanya, Siapakah mereka Yaa Rasul?? Rasul menjawab: Mereka adalah ahlul qur’an, mereka itu keluarga Allah dan orang-orang pilihan-Nya” (HR.Ahmad)<a id="more-36"></a></p>
	<p><strong>2. Ahlul Qur’an disejajarkan derajatnya oleh Allah dengan para Malaikat dan Nabi yang telah diberi wahyu. Sementara orang yang bacaannya masih terbata-bata dianugerahi dua pahala</strong><br />
Rasulullah bersabda: “Orang yang pandai berinteraksi dengan Al-Qur’an akan bersama malaikat yang mulia dan taat sedangkan orang yang membaca Al-Qur’an terbata-bata dan merasa kesulitan akan mendapat dua pahala” (HR Muslim)</p>
	<p><strong>3. Ahlul Qur’an paling berhak menjadi imam dalam sholat</strong><br />
Rasul bersabda: Yang berhak menjadi imam adalah yang paling banyak interaksinya dengan al-Qur’an</p>
	<p><strong>4. Ahlul Qur’an selalu mendapatkan ketenangan, rahmat, naungan malaikat, serta namaya disebut-sebut oleh Allah</strong><br />
“Tidaklah suatu kaum berkumpul di salah satu rumah Allah (masjid) membaca kitab Allah dan mempelajarinya di antara mereka, kecuali turun kepada mereka ketenangan, rahmat, dikelilingi malaikat dan Allah menyebut-nyebut nama mereka di hadapan makhluk yang ada di dekat-Nya” (HR Muslim)</p>
	<p><strong>5. Ahlul Qur’an senantiasa mendapat kebaikan dari Allah</strong><br />
“Sebaik-naik kalian  adalah orang yang mempelajari al-Qur’an dan mengajarkannya” (HR Bukhori)</p>
	<p><strong>6. Menjadi ahlul qur’an adalah kenikmatan yang harus didamba-dambakan</strong><br />
“Tidak boleh iri kecuali terhadap dua kenikmatan; kepada orang yang diberi al-Qur’an oleh Allah kemudian ia membacanya sepanjang malam dan siang dan orang yang diberi harta oleh Allah lalu ia membelanjakannya di jalan Allah sepanjang malan dan siang” (HR Bukhori)</p>
	<p><strong>7. Mempelajari Al-Qur’an adalah sebaik-baik kesibukan</strong><br />
Allah berfirman dalam hadis Qudsi:<br />
Barang siapa yang disibukkan Al-Qur’an dalam rangka berdzikir dan memohon kepada-Ku, niscaya akan aku berikan sesuatu yang lebig utama dari apa yang telah kuberikan pada orang yang meminta. Dan keutamaan kalam Allah dari seluruh kalam selainnya adalah seperti keutamaan Allah atas makhluk-Nya (HR Turmudzi)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://multazimah.blogsome.com/2007/02/01/ahlul-quran/feed/</wfw:commentRss>
	</item>
		<item>
		<title>Adab Tilawatil Qur&#8217;an</title>
		<link>http://multazimah.blogsome.com/2007/02/01/adab-tilawatil-quran/</link>
		<comments>http://multazimah.blogsome.com/2007/02/01/adab-tilawatil-quran/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 01 Feb 2007 06:32:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>multazimah</dc:creator>
		
	<category>Al-Qur'an</category>
		<guid>http://multazimah.blogsome.com/2007/02/01/adab-tilawatil-quran/</guid>
		<description><![CDATA[	1. Bersiwak atau membersihkan mulut sebelum tilawah (membaca Qur&#8217;an)
	2. Berwudhu sebelum tilawah, karena tilawah tergolong dzikir yang paling utama. Meskipun boleh tilawah tanpa berwudhu
	3. Membaca di tempat yang bersih dan berpakaian yang sopan. Adapun tempat yang paling utama adalah di masjid. Diperbolehkan membaca Al-Qur&#8217;an di atas kendaraan karena Rasulullah SAW pun pernah melakukannya
	4. Membaca sambil [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[	<p>1. Bersiwak atau membersihkan mulut sebelum tilawah (membaca Qur&#8217;an)</p>
	<p>2. Berwudhu sebelum tilawah, karena tilawah tergolong dzikir yang paling utama. Meskipun boleh tilawah tanpa berwudhu<a id="more-43"></a></p>
	<p>3. Membaca di tempat yang bersih dan berpakaian yang sopan. Adapun tempat yang paling utama adalah di masjid. Diperbolehkan membaca Al-Qur&#8217;an di atas kendaraan karena Rasulullah SAW pun pernah melakukannya</p>
	<p>4. Membaca sambil duduk menghadap qiblat dan khusyu&#8217;, karena membaca Al-Qur&#8217;an sama dengan munajat kepada Allah SWT. Diperbolehkan membaca Al-Qur&#8217;an sambil berdiri atau berbaring.</p>
	<p>5. Membaca Al-Qur&#8217;an diawali dengan <em>isti&#8217;adzah</em> dan dilanjutkan dengan <em>Basmallah</em> tiap awal surat kecuali QS At-Taubah. Allah berfirman dam QS An-Nahl:98, <em>&#8220;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8221;</em></p>
	<p>6. Membaca dengan tartil, yaitu membaca  dengan lambat, tidak terburu-buru dan bertajwid, sesuai dengan perintah Allah SWT dalam QS Al-Muzammil:4 <em>&#8220;dan bacalah Al-Qur&#8217;an dengan tartil&#8221;</em></p>
	<p>7. Janganlah memutus tilawah seketika hanya karena hendak berbicara dengan orang lain. Hendaknya tilawah diteruskan sampai akhir ayat. Jika hendak melanjutkan tilawah dianjurkan mengulangi bacaan <em>isti&#8217;adzah</em></p>
	<p>8. Dilarang tertawa dan bermain saat tilawah, sebab perbuatan tersebut mengurangi kemuliaan dan kesucian Al-Qur&#8217;an.</p>
	<p>9. Bagi yang sudah mengerti arti dan makna ayat-ayat Al-Qur&#8217;an seyogyanya membacanya dengan penuh perhatian dan meresapi kandungannya (QS Shaad:29) Misal: ketika sampai pada ayat tasbih maka ia bertasbih dan bertahmid, bila sampai pada ayat do&#8217;a dan istighfar ia berdo&#8217;a dan beristighfar, bila sampai pada ayat adzab ia meminta perlindungan kepada Allah</p>
	<p>10. Membaca dengan irama yang bagus namun tanpa dipaksakan sehingga melupakan kaidah tajwid, sebab irama yang bagus menambah keindahan uslub Al-qur&#8217;an dan membantu meresapinya. Rasul bersabda: <em>&#8220;Hiasilah Al-Qur&#8217;an dengan suara kalian&#8221;</em> (HR Abu Dawud)</p>
	<p>11. Memanjatkan do&#8217;a sesudah tilawah, juga ketika telah menyelesaikan tilawah 30 juz</p>
	<p>Referensi:<br />
&#8216;Ulumul Qur&#8217;an Program Tahsin dan Tahfizh, karya Ust. Ahmad Muzammil, MF
</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://multazimah.blogsome.com/2007/02/01/adab-tilawatil-quran/feed/</wfw:commentRss>
	</item>
		<item>
		<title>Pintu-pintu Masuknya SETAN</title>
		<link>http://multazimah.blogsome.com/2007/02/01/pintu-pintu-masuknya-setan/</link>
		<comments>http://multazimah.blogsome.com/2007/02/01/pintu-pintu-masuknya-setan/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 01 Feb 2007 06:30:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>multazimah</dc:creator>
		
	<category>Al-Qur'an</category>
		<guid>http://multazimah.blogsome.com/2007/02/01/pintu-pintu-masuknya-setan/</guid>
		<description><![CDATA[	Hati manusia bagaikan benteng sedangkan syetan adalah musuh yang senantiasa mengintai untuk menguasai benteng tersebut. Kita tidak bisa menjaga benteng kalau tidak melindungi atau menjaga/menutup pintu-pintu masuknya syetan ke dalam hati. Kalau kita ingin memiliki kemampuan untuk menjaga pintu agar tidak diserbu syetan, kita harus mengetahui pintu-pintu mana saja yang dijadikan syetan sebagai jalan untuk [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[	<p>Hati manusia bagaikan benteng sedangkan syetan adalah musuh yang senantiasa mengintai untuk menguasai benteng tersebut. Kita tidak bisa menjaga benteng kalau tidak melindungi atau menjaga/menutup pintu-pintu masuknya syetan ke dalam hati. Kalau kita ingin memiliki kemampuan untuk menjaga pintu agar tidak diserbu syetan, kita harus mengetahui pintu-pintu mana saja yang dijadikan syetan sebagai jalan untuk menguasai benteng tsb. Melindungi hati dari gangguan syetan adalah wajib oleh karena itu mengetahui pintu masuknya syetan itu merupakan syarat untuk melindungi hati kita maka kita diwajibkan untuk mengetahui pintu-pintu mana saja yang dijadikan jalan untuk menguasi hati manusia<a id="more-41"></a></p>
	<p>Pintu tempat masuknya syetan adalah <strong>semua sifat kemanusiaan manusia yang tidak baik.</strong> Berarti pintu yang akan dimasuki syetan sebenrnya sangat banyak, Namun kita akan membahas pintu-pintu utama yang dijadikan prioritas oleh syetan untuk masuk menguasai manusia. Di antara pintu-pintu besar yang akan dimasuki syetan itu adalah:</p>
	<p><strong>1.Marah</strong><br />
Marah adalah kalahnya tentara akal oleh tentara syetan. Bila manusia marah maka syetan bisa mempermainkannya seperti anak-anak mempermainkan kelereng atau bola. Orang marah adalah orang yang sangat lemah di hadapan syetan.</p>
	<p><strong>2.Hasad</strong><br />
Manusia bila hasud dan tamak menginginkan sesuatu dari orang lain maka ia akan menjadi buta. Rasulullah bersabda:<em>” Cintamu terhadap sesuatu bisa menjadikanmu buta dan tuli”</em> Mata yang bisa mengenali pintu masuknya syetan akan menjadi buta bila ditutupi oleh sifat hasad dan ketamakan sehingga tidak melihat. Saat itulah syetan mendapatkan kesempatan untuk masuk ke hati manusia sehingga orang itu mengejar untuk menuruti syahwatnya walaupun jahat.</p>
	<p><strong>3.Perut kenyang</strong><br />
Rasa kenyang menguatkan syahwat yang menjadi senjata syetan. Dalam satu riwayat disebutkan bahwa Iblis pernah menampakkan diri di hadapan Nabi Yahya bin Zakariyya a.s. Beliau melihat pada syetan beberapa belenggu dan gantungan pemberat untuk segala sesuatu seraya bertanya,<em> &#8220;Wahai iblis belenggu dan pemberat apa ini? </em>Syetan menjawab: <em>&#8220;Ini adalah syahwat yang aku gunakan untuk menggoda anak cucu Adam&#8221;</em>Yahya bertanya: <em>&#8220;Apa hubungannya pemberat ini dengan manusia ?</em>Syetan menjawab: <em>&#8220;Bila kamu kenyang maka aku beri pemberat sehingga engkau enggan untuk sholat dan dzikir&#8221;</em> Yahya bertanya lagi: <em>&#8220;Apa lainnya?&#8221;</em> Jawabnya, <em>&#8220;Tidak ada!&#8221;</em><br />
Kemudian Nabi Yahya berkata: <em>&#8220;Demi Allah aku tidak akan mengenyangkan perutku dengan makanan selamanya&#8221;</em> Iblis berkata, <em>&#8220;Demi Allah saya tidak akan memberi nasehat pada orang muslim selamanya&#8221;</em><br />
Kebanyakan makan mengakibatkan munculnya enam hal tercela:<br />
a.Menghilangkan rasa takut kepada Allah dari hatinya.<br />
b.Menghilangkan rasa kasih sayang kepada makhluk lain karena ia mengira bahwa semua makhluk sama kenyangnya dengan dirinya.<br />
c.Mengganggu ketaatan kepada Allah<br />
d.Bila mendengarkan ucapan hikmah ia tidak mendapatkan kelembutan<br />
e.Bila ia bicara tentang ilmu maka pembicaraannya tidak bisa menembus hati manusia.<br />
Akan terkena banyak penyakit jasmani dan rohani</p>
	<p><strong>4.Cinta perhiasan dan perabotan rumah tangga secara berlebihan</strong><br />
Bila syetan melihat hati orang yang sangat mencintai perhiasan dan perabotan rumah tangga maka iblis bertelur dan beranak dan menggodanya untuk terus berusaha melengkapi dan membaguskan semua perabotan rumahnya, menghiasi temboknya, langit-langitnya dst. Akibatnya umurnya habis disibukkan dengan perabotan rumah tangga dan melupakan dzikir kepada Allah</p>
	<p><strong>5.Tergesa-gesa dan tidak melakukan recheck</strong><br />
Rasulullah pernah bersabda: <em>&#8220;Tergesa-gesa termasuk perbuatan syetan dan hati-hati adalah dari Allah SWT&#8221;</em><br />
Allah berfirman: <em>”Manusia diciptakan tergesa-gesa”</em> dalam ayat lain ditegaskan: <em>“Sesungguhnya manusia itu sangat tergesa-gesa&#8221;.</em> Mengapa kita dilarang tergesa-gesa? Semua perbuatan harus dilakukan dengan pengetahuan dan penglihatan mata hati. Penglihatan hata hati membutuhkan perenungan dan ketenangan sedangkan tergesa-gesa menghalangi itu semua. Ketika manusia tergesa-gesa dalam melakukan kewajiban maka syetan menebarkan kejahatannya dalam diri manusia tanpa disadari.</p>
	<p><strong>6.Mencintai harta</strong><br />
Kecintaan terhadap uang dan semua bentuk harta akan menjadi alat hebat bagi syetan. Bila orang memiliki kecintaan kuat terhadap harta maka hatinya akan kosong. Kalau dia mendapatkan uang sebanyak satu juta di jalan maka akan muncul dari harta itu sepuluh syahwat dan setiap syahwat membutuhkan satu juta. Demikianlah orang yang punya harta akan merasa kurang dan menginginkan tambahan lebih banyak lagi.</p>
	<p><strong>7.<em>Ta’assub</em> bermadzhab dan meremehkan kelompok lain</strong><br />
Orang yang <em>ta’assub</em> dan memiliki anggapan bahwa kelompok lain salah sangat berbahaya. Orang yang demikian akan banyak mencaci maki orang lain. Padahal meremehkan dan mencaci maki termasuk sifat binatang buas<br />
Bila syetan menghiasi pada manusia bahwa <em>ta&#8217;assub</em> itu seakan-akan baik dan hak dalam diri orang itu maka ia semakin senang untuk menyalahkan orang lain dan menjelekkannya.</p>
	<p><strong>8. Kikir dan takut miskin</strong><br />
Sifat kikir ini mencegah seseorang untuk memberikan infaq atau sedekah dan selalu menyeru untuk menumpuk harta kekayaan dan siksa yang pedih adalah janji Allah yang akan ditimpakan pada orang yang menumpuk harta kekayaan tanpa memberikan haknya kepada fakir miskin. Khaitsamah bin Abdur Rahman pernah berkata: <em>&#8220;Sesungguhnya syaitan berkata:<br />
Anak cucu Adam tidak akan mengalahkanku dalam tiga hal perintahku: Aku perintahkan untuk mengambil harta dengan tanpa hak, menginfakkannya dengan tanpa hak dan menghalanginya dari hak kewajibannya (zakat).&#8221;</em><br />
Sufyan berkata: <em>&#8220;Syetan tidak mempunyai senjata sehebat senjata rasa takutnya manusia dari kemiskina&#8221;</em> Apabila ia menerima sifat ini maka ia mengambil harta tanpa hak dan menghalanginya dari kewajiban zakatnya.</p>
	<p><strong>9. Memikirkan Dzat Allah</strong><br />
Orang yang memikirkan dzat Allah tidak akan sampai kepada apa yang diinginkannya ia akan tersesat karena akal manusia tidak akan sampai kesana. Ketika memikirkan dzat Allah ia akan terpeleset pada kesyirikan</p>
	<p><strong>10. Suudzon terhadap orang Islam ghibah</strong><br />
Allah berfirman dalam Surat Al Hujuroot 12 sbb: <em>&#8220;Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan prasangka (kecurigaan), karena sebagian dari prasangka itu dosa. dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.&#8221;</em><br />
Rasulullah pernah bersabda: <em>&#8220;Jauhillah tempat-tempat yang bisa memunculkan prasangka buruk. Kalau ada orang yang selalu suudzdzon dan selalu mencari cela orang lain maka sebenarnya ia adalah orang yang batinnya rusak. Orang mukmin senantiasa mencari maaf dan ampunan tetapi orang munafik selalu mencari cela orang lain</em><br />
Itulah sebagian pintu-pintu masuknya syetan untuk menguasai benteng hatinya. Kalau kita teliti secara mendetail kita pasti tidak akan mempu menghitung semua pintu masuknya syetan ke dalam hati manusia. Sekarang bagiamana solusi dari hal ini? Apakah cukup dengan <strong>dzikrullah</strong> dan mengucapkan <strong>“Laa haula wa laa quwwata illa billah?&#8221;</strong> Ketahuilah bahwa upaya untuk membentengi hati dari masuknya serbuan syetaan adalah dengan menutup semua pintu masuknya syetan dengan membersihkan hati kita dari sifat-sifat tercela yang disebutkan di atas. Bila kita bisa memutuskan akar semua sifat tercela maka syetan mendapatkan berbagai halangan untuk memasukinya ia tidak bisa menembus ke dalam karena dzikrullah. Namun perlu diketahui bahwa zikir tidak akan kokoh di hati selagi hati belum dipenuhi dengan ketakwaan dan dijauhkan dari sifat-sifat tercela.<br />
Bila orang yang hatinya masih diliputi oleh akhlak tercela maka <em>dzikrullah</em> hanyalah omongan jiwa yang tidak menguasai hati dan tidak akan mampu menolak kehadiran syetan. Oleh sebab itu Allah berfirman: QS Al-A’raf 201, <em>&#8220;Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa bila mereka ditimpa was-was dari syaitan, mereka ingat kepada Allah, Maka ketika itu juga mereka melihat kesalahan-kesalahannya.<br />
Perumpamaan syetan adalah bagaikan anjing lapar yang mendakati anda. Bila anda tidak memiliki roti atau daging pasti ia akan meninggalkanmu walaupun Cuma menghardiknya dengan ucapan kaita. Tapi bila di tangan kita ada daging maka ia tidak akan pergi dari kita walaupun kita sudah berteriak ia ingin merebut daging dari kita. Demikian juga hati bila tidak memiliki makanan syetan akan pergi hanya dengan dzikrullah<br />
Syahwat bila menguasi hati maka ia akan mengusir dzikrullah dari hati ke pinggirnya saja dan tidak bisa merasuk dalam relung hati. Sedangkan orang-orang muttaqin yang terlepas dari hawa nafsu dan sifat-sifat tercela maka ia akan dimasuki syetan bukan karena syahwat tapi karena kelalaian daari dzikrullah apabila ia kembali berdzikir maka syetan langsusng. Inilah yang ditegaskan firman Allah dalam ayat sebelumnya qs Al-A’raf 200<br />
Dan jika kamu ditimpa sesuatu godaan syaitan Maka berlindunglah kepada Allah[590]<br />
Dalam ayat lain disebutkan: QS An-Nahl 98-100, </em><em>Apabila kamu membaca Al Quran hendaklah kamu meminta perlindungan kepada Allah dari syaitan yang terkutuk. Sesungguhnya syaitan itu tidak ada kekuasaannya atas orang-orang yang beriman dan bertawakkal kepada Tuhannya.Sesungguhnya kekuasaannya (syaitan) hanyalah atas orang-orang yang mengambilnya jadi pemimpin dan atas orang-orang yang mempersekutukannya dengan Allah.</em><br />
Mengapa Rasulullah SAW pernah bersabda: “Bila Umar ra. Melewati suatu lereng maka syetan mengambil lereng selain yang dilewati Umar.”? Karena Umar memiliki hati yang bersih dari sifat-sifat tercela sehingga syetan tidak bisa mendekat. Kendatipun hati berusaha menjauhkan diri dari syetan dengan dzikrullah tapi mustahil syetan akan menjauh dari kita bila kita belum membersihkan diri dari tempat yang disukai syetan yaitu syahwat, seperti orang yang meminum obat sebelum melindungi dir dari penyakit dan perut masih disibukkan dengan makanan yang kerasa dicerna. Taqwa adalah perlindungan hati dari syahwat dan nafsu apabila zikrullah masuk kedalam hati yang kosong dari zikir maka syetan mendesak mamsuk seperti masuknya penyakit bersamaan dengan dimakannya obat dalam perut yang masih kosong.Allab SWT berfirman QS Qoof 37<br />
<em>Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat peringatan bagi orang-orang yang mempunyai akal atau yang menggunakan pendengarannya, sedang dia menyaksikannya.</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://multazimah.blogsome.com/2007/02/01/pintu-pintu-masuknya-setan/feed/</wfw:commentRss>
	</item>
		<item>
		<title>Sholat sunnah, sudahkan kita dirikan???</title>
		<link>http://multazimah.blogsome.com/2007/02/01/sholat-sunnah-sudahkan-kita-dirikan/</link>
		<comments>http://multazimah.blogsome.com/2007/02/01/sholat-sunnah-sudahkan-kita-dirikan/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 01 Feb 2007 06:30:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>multazimah</dc:creator>
		
	<category>Fiqh</category>
		<guid>http://multazimah.blogsome.com/2007/02/01/sholat-sunnah-sudahkan-kita-dirikan/</guid>
		<description><![CDATA[	Sholat-sholat Sunnah
	1. Sholat Sunnah Wudhu’, yaitu sholat 2 rakaat yang dikerjakan setiap selesai wudhu’
	2. Sholat Tahiyyatul Masjid, yaitu sholat sunnah 2 rakaat yang dikerjakan ketika memasuki masjid, sebelum duduk, untuk menghormati masjid. Rasulullah bersabda, “Apabila seseorang di antara kamu memasuki masjid maka janganlah duduk sebelum sholat 2 rakaat terlebih dahulu ”(HR.Bukhari-Muslim)
	3. Sholat Dhuha, yaitu sholat [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[	<p><strong>Sholat-sholat Sunnah</strong></p>
	<p>1. Sholat Sunnah Wudhu’, yaitu sholat 2 rakaat yang dikerjakan setiap selesai wudhu’</p>
	<p>2. Sholat Tahiyyatul Masjid, yaitu sholat sunnah 2 rakaat yang dikerjakan ketika memasuki masjid, sebelum duduk, untuk menghormati masjid. Rasulullah bersabda, “Apabila seseorang di antara kamu memasuki masjid maka janganlah duduk sebelum sholat 2 rakaat terlebih dahulu ”(HR.Bukhari-Muslim)<a id="more-32"></a></p>
	<p>3. Sholat Dhuha, yaitu sholat sunnah yang dikerjakan pada waktu dhuhaa, pada saat matahari naik sepenggalah sampai sebelum dhuhur. Jumlah rakaatnya minimal 2 rakaat, maksimal 12 rakaat. Dari Anas, Rasulullah bersabda, “Barabg siapa sholat Dhuhaa 12 rakaat maka Allah akan membangunkan untuknya istana di syurga”(HR.Turmudzi,Abu Daud dan Ibnu Majah)</p>
	<p>4. Sholat Rawatib, adalah sholat sunnah yang dikerjakan mengiringi sholat Fardhu<br />
    a. Qobliyah, yaitu sholat sunnah rawatib yang dikerjakan sebelum sholat wajib. Waktunya: 2 rakaat sebelum Subuh, 2 rakaat sebelum Dhuhur, 2 atau 4 rakaat sebelum Ashar dan 2 rakaar sebelum Isya’<br />
    b. Ba’diyah, yaitu sholat sunnah rawatib yang dikerjakan setelah sholat Fardhu. Waktunya: 2 atau 4 rakaat sesudah Dhuhur, 2 rakaat sesudah Maghrib dan 2 rakaat sesudah Isya’</p>
	<p>5. Sholat Tahajud disebut juga qiyamul lail adalah sholat sunnah pada waktu malam, sebaiknya dikerjakan pada sepertiga malam akhir dan setelah bangun tidur, minimal 2 rakaat maksimal sebatas kemampuan. Keutamaan sholat ini diterangkan dalam Al-Qur’an. “Dan pada sebagian malam bersholat tahajjudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu, mudah-mudahan Tuhanmu mengangkatmu ke tempat terpuji”(QS.Al-Isra’:79)</p>
	<p>6. Sholat Istikharah, adalah sholat sunnah 2 rakaat untuk memohon petunjuk yang baik apabila kita menghadapi dua pilihan atau ragu dalam mengambil keputusan. Dapat dikerjakan kapan saja asal bukan waktu yang dilarang, tetapi lebih afdhol dikerjakan pada sepertiga malam akhir.</p>
	<p>7. Sholat Hajat, adalah sholat sunnah 2 rakaat untuk memohon agar hajat kita dikabulkan atau diperkenankan oleh Allah SWT.</p>
	<p>8. Sholat Mutlaq, adalah sholat sunnah tanpa sebab dan tidak ditentukan waktunya, juga tidak dibatasi jumlah rakaatnya</p>
	<p>9. Sholat Taubat, adalah sholat sunnah yang dilakukan setelah merasa berbuat dosa kepada Allah SWT agar mendapat ampunan-Nya.</p>
	<p>10. Sholat Tasbih, yaitu sholat sunnah yang dianjurkan dikerjakan setiap malam, jika tidak bisa seminggu sekali, sebulan sekali, setahun sekali atau paling tidak seumur hidup sekali. Sholat ini sebanyak 4 rakaat, dengan ketentuan jika dikerjakan pada siang hari cukup dengan satu salam, jika dikerjakan malam hari dengan dua salam. Cara mengerjakannya sama seperti sholat biasa hanya ditambah dengan tasbih sebanyak 75 kali untuk setiap rakaat sehingga total ada 300 kali tasbih. Lafadz bacaan tasbihnya, Subhaanallah wal hamdulillah walaa ilaaha illallah wallahu akbar. Dibaca ketika: selesai membaca surat (tasbih 15 kali), selesai membaca do’a ruku’ (tasbih 10 kali), selesai membaca do’a ‘itidal (tasbih 10 kali), selesai membaca do’a sujud pertama (tasbih 10 kali), selesai membaca do’a duduk antara dua sujud (tasbih 10 kali), selesai membaca do’a sujud kedua (tasbih 10 kali), sesaat sebelum bangkit ke rakaat berikutnya (tasbih 10 kali)</p>
	<p>11. Sholat Tarawih, adalah sholat sunnah sesudah sholat ‘Isya khusus pada bulan Ramadhan. Mengenai jumlah rakaatnya ada bebrapa perbedaan di kalangan ulama, tetapi yang paling masyhur adalah:<br />
a. 8 rakaat + 3 rakaat witir<br />
Dasarnya: Hadis Aisyah ra. Yang dikerjakan oleh Rasulullah saw, baik pada bulan Ramadhan atau lainnya tidak lebih dari 11 rakaat (HR. Bukhori). Dari Jabir ra. Sesungguhnya Nabi saw telah sholat bersama-sama mereka 8 rakaat, kemudian Beliau sholat witir (HR Ibnu Hibban)<br />
b. 20 rakaat + 3 rakaat witir<br />
Dasarnya: Pada masa khalifah Umar bin Khattab, sholat Tarawih dikerjakan sebanyak 20 rakaat dan hal ini tidak dibantah oleh para sahabat terkenal dan terkemuka. Kemudian pada zaman Umar bin Abdul Azis bilangannya dijadikan 36 rakaat.</p>
	<p>12. Sholat Witir,  adalah sholat sunnah mu’akkad (sangat dianjurkan) yang bilangan rakaatnya ganjil, 1, 3, 5, 7 sampai 11 rakaat. Dari Abu Ayyub, berkata Rasulullah SAW, Witir itu haq, maka siapa yang suka mengerjakan lima, kerjakanlah. Siapa yang suka mengerjakan tiga, kerjakanlah. Siapa yang suka mengerjakan satu, kerjakanlah (HR.Abu Daud dan Nasa’i). Dari Aisyah ra. Adalah Nabi SAW sholat sebelas rakaat diantara Isya dan Fajar, Beliau memberi salam setiap dua rakaat dan yang penghabisan satu rakaat (HR.Bukhori-Muslim) </p>
	<p>13. Sholat Hari Raya, adalah sholat Idul Fitri pada 1 Syawwal dan Idul Adha pada 10 Dzulhijjah, hukumnya: sunnah mu’akkad (sangat dianjurkan). Waktu pelaksanaannya adalah setelah matahari terbit sampai condongnya matahari. Syarat, rukun dan sunnahnya sama dengan sholat yang lain hanya ditambah sunnah sebagai berikut:<br />
a. Berjamaah<br />
b. Takbir 7 kali pada rakaat pertama dan 5 kali pada rakaat kedua.<br />
c. Imam menyaringkan bacaannya<br />
d. Setelah sholat imam menyampaikan khutbah<br />
e. Mandi berhias, memakai pakaian yang paling bagus<br />
f. Makan terlebih dahulu sebelum berangkat sholat pada sholat idul Fitri tetapi pada sholat Idul Adha sebaliknya. </p>
	<p>14. Sholat Khusuf adalah sholat sunnah 2 rakaat, 4 kali ruku’ sewaktu terjadi gerhana bulan atau matahari. Caranya: Pada rakaat pertama setelah ruku’ dan I’tidal tidak langsung sujud tetapi membaca QS Al-Fatihah kemudian ruku’ dan I’tidal kembali setelah itu baru sujud sebagaimana biasa. Pada saat terjadi gerhana bulan, sholat dikerjakan dengan bacaannya nyaring sedangkan pada gerhana matahari sebaliknya</p>
	<p>15. Sholat Istisqo’ adalah sholat sunnah yang dikerjakan untuk memohon hujan kepada Alloh SWT. Cara pelaksanaannya:<br />
1. Tiga hari sebelumny agar ulama memerintahkan umatnya bertaubat dengan berpuasa dan meninggalkan segala kezholiman seerta menganjurkan beramal sholih.<br />
2. Pada hari keempat semua penduduk termasuk yang lemah dianjurkan pergi ke lapangan dengan pakaian sederhana dan tanpa wangi-wangian untuk sholat istisqo’<br />
3. Usai sholat diadakan khutbah dua kali, pada khutbah pertama hendaknya membaca istighfar sebanyak 9 kali dan pada khutbah kedua 7 kali.  </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://multazimah.blogsome.com/2007/02/01/sholat-sunnah-sudahkan-kita-dirikan/feed/</wfw:commentRss>
	</item>
		<item>
		<title>Selamat Tahun Baru 1428 H</title>
		<link>http://multazimah.blogsome.com/2007/01/18/selamat-tahun-baru-1428-h/</link>
		<comments>http://multazimah.blogsome.com/2007/01/18/selamat-tahun-baru-1428-h/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 18 Jan 2007 01:34:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>multazimah</dc:creator>
		
	<category>Renungan</category>
		<guid>http://multazimah.blogsome.com/2007/01/18/selamat-tahun-baru-1428-h/</guid>
		<description><![CDATA[	Muharram telah menyambut kita. Begitu mesra penuh optimis ia menyapa kita. Dengan penuh senyum ia katakan:
Welcome &#8230;&#8230;.Ahlan wa sahlan &#8230;&#8230;.Selamat datang &#8230;&#8230;
Wahai hamba yang penuh harapan. Harapan tuk selalu mendapat Ridho-Nya
	Bagimana dengan kita? Apakah sudah siap memasuki pintunya? 
	Apapun, dimanapun dan siapapun diri kita pasti ingin lebih baik dari pada tahun lalu. Kita tahu ada [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[	<p><font></font><font color="#00ff00">Muharram telah menyambut kita. Begitu mesra penuh optimis ia menyapa kita. Dengan penuh senyum ia katakan:</font></p>
<em><font /><font color="#00ff00">Welcome &#8230;&#8230;.<br /></font></em><em><font /><font color="#00ff00">Ahlan wa sahlan &#8230;&#8230;.<br /></font></em><em><font /><font color="#00ff00">Selamat datang &#8230;&#8230;<br /></font></em>
<p><font color="#00ff00">Wahai hamba yang penuh harapan. Harapan tuk selalu mendapat Ridho-Nya</font></p>
	<p><font color="#00ff00">Bagimana dengan kita? Apakah sudah siap memasuki pintunya? </font></p>
	<p><font color="#00ff00">Apapun, dimanapun dan siapapun diri kita pasti ingin lebih baik dari pada tahun lalu. Kita tahu ada 3 momen waktu yang selalu mengiringi perjalanan hidup manusia, masa lalu, saat ini, dan masa depan atau kemarin, sekarang dan esok hari. Masa lalu biarlah berlalu karena ia tak akan pernah kembali. Apapun yang menimpa kita di masa lalu tak kan pernah bisa kita ubah. Kesempatan yang kita sia-siakan&nbsp; tak akan pernah kembali. Amanah waktu di masa lalu tak bisa kita minta kembali. Mari kita jadikan semua yang berlalu dari kita, sebagai bahan instropeksi dan muhasabah. Kita ambil semua itu untuk perbaikan di waktu yang akan datang. </font></p>
	<p><font color="#00ff00">Apa yang telah kita perbuat tahun lalu? </font></p>
	<p><font color="#00ff00">Bagimana dengan sholat kita, puasa kita, zakat kita dan seluruh ibadah kita? </font></p>
	<p><font color="#00ff00">Saat Allah dan para malaikat turun ke bumi mengunjungi hamba-hambaNya yang bermunajat, berdo&rsquo;a dan mohon ampun, sedang apa diri kita?</font></p>
	<p><font color="#00ff00">Saat adzan berkumandang kemana kita melangkahkan kaki?</font></p>
	<p><font color="#00ff00">Saat kita ditimpa masibah, apa yang kita lakukan?</font></p>
	<p><font color="#00ff00">Saat kita diberi nikmat oleh Allah, apa yang kita lakukan?</font></p>
	<p><font color="#00ff00">Berapa ayat Al-Qur&rsquo;an tiap hari kita baca?</font></p>
	<p><font color="#00ff00">Berapa banyak kita sebut asma Allah dalam dzikir? </font></p>
	<p><font color="#00ff00">Berapa banyak kita baca sholawat atas Nabi Muhammad SAW?</font></p>
<font /><font color="#00ff00">Berapa banyak kita berpuasa sunnah dalam sebulan?<br /></font><font /><font color="#00ff00">Berapa banyak shodaqoh yang kita berikan pada yang berhak?<br /></font><font /><font color="#00ff00">Berapa sering kita mengkaji ilmu-ilmu Allah dalam majlis ta&rsquo;lim?<br /></font>
<p><font color="#00ff00">Sudahkah kita memberikan manfaat bagi Saudara-saudara kita?</font></p>
	<p><font color="#00ff00">Sudahkan kita persiapkan masa depan kita yang sebenrnya?</font></p>
	<p><font color="#00ff00">Masa depan adalah sesuatu yang ghaib. Siapapun kita tidak akan pernah mengetahui masa itu. Tahun depan, bulan depan, esok hari bahkan sedetik kemudian kita tidak pernah sanggup mengetahui apa yang akan kita alami</font></p>
	<p><font /><font></font><font color="#00ff00">Waktu kita yang sebenarnya adalah hari ini, saat ini, detik ini. Itulah milik kita, yang telah diamanahkan oleh&nbsp; Sang Pemilik Waktu kepada kita. Sungguh rugi besar jika kita selalu sia-siakan waktu kita. </font></p>
	<p><font /><font color="#00ff00"><em>Barang siapa yang hari ini lebih buruk dari kemarin maka ia adalah orang yang celaka, barang siapa yang hari ini sama dengan kemarin maka ia adalah orang yang rugi dan barang siapa yang hari ini&nbsp;lebih baik dari kemarin maka ia adalah orang yang beruntung.</em></font></p>
	<p><font /><font></font><font color="#00ff00">Selamat Tahun Baru 1428 H&#8230;&#8230; Semoga kita menjadi lebih baik. <em>Taqobbal Allahu minna wa minkum, sholatana wa sholatakum,&nbsp;shiyamana wa shiyamakum, kulla ibadatina wa kulla ibadatikum. Kullu &#8216;ammin wa antum bikhoir</em></font></p>
	<p><font /><font></font><font color="#00ff00">Muhamad Mujari &lt;&nbsp;</font><a href="mailto:arieatsari@gmail.com"><font color="#00ff00">arieatsari@gmail.com</font></a><font color="#00ff00">&nbsp;&gt; &lt;1 Muharram 1428H&gt;</font></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://multazimah.blogsome.com/2007/01/18/selamat-tahun-baru-1428-h/feed/</wfw:commentRss>
	</item>
		<item>
		<title>Siap Nikah&#8230;&#8230;</title>
		<link>http://multazimah.blogsome.com/2007/01/18/siap-nikah/</link>
		<comments>http://multazimah.blogsome.com/2007/01/18/siap-nikah/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 18 Jan 2007 01:33:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>multazimah</dc:creator>
		
	<category>Nashihat</category>
		<guid>http://multazimah.blogsome.com/2007/01/18/siap-nikah/</guid>
		<description><![CDATA[	Buat temen-temen yang dah nikah atau yg akan nikah
1.ketika akan menikahjanganlah mencari isteri, tetapi carilah ibu bagi anak-anak kita.janganlah mencari suami, tetapi carilah ayah bagi anak-anak kita.
2.ketika melamaranda bukan sedang meminta kepada orangtua/wali si gadis, tetapi meminta kepada allah melalui orangtua/wali si gadis.
	3.ketika akad nikahanda berdua bukan menikah di hadapan penghulu, tetapi menikah di hadapan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[	<p><strong><font>Buat temen-temen yang dah nikah atau yg akan nikah</font></strong></p>
<strong><font><br /></font></strong><font></font><font>1.ketika akan menikah<br />janganlah mencari isteri, tetapi carilah ibu bagi anak-anak kita.<br />janganlah mencari suami, tetapi carilah ayah bagi anak-anak kita.<br /></font><font>
<p><font>2.ketika melamar<br />anda bukan sedang meminta kepada orangtua/wali si gadis, tetapi meminta kepada allah melalui orangtua/wali si gadis.</font></p>
	<p><font>3.ketika akad nikah<br />anda berdua bukan menikah di hadapan penghulu, tetapi menikah di hadapan allah.</font></p>
	<p><font>4.ketika resepsi pernikahan<br />catat dan hitung semua tamu yang datang untuk mendo&rsquo;akan anda, karena anda harus berpikir untuk mengundang mereka semua dan meminta maaf apabila anda berpikir untuk bercerai karena menyia-nyiakan do&rsquo;a mereka.</font></p>
	<p><font>5.sejak malam pertama<br />bersyukur dan bersabarlah<br />anda adalah sepasang anak manusia dan bukan sepasang malaikat</font></p>
	<p><font>6.selama menempuh hidup berkeluarga<br />sadarilah bahwa jalan yang akan dilalui tidak melulu jalan bertabur bunga tapi juga semak belukar yang penuh dengan onak dan duri</font></p>
	<p><font>7.ketika biduk rumah tangga oleng<br />jangan saling berlepas tangan, tapi sebaliknya justeru semakin erat berpegangan tangan.</font></p>
	<p><font>8.ketika belum memiliki anak<br />cintailah isteri atau suami anda 100%.</font></p>
	<p><font>9.ketika telah memiliki anak<br />jangan bagi cinta anda kepada (suami) isteri dan anak anda, tetapi cintailah isteri atau suami anda 100% dan cintai anak-anak anda masing-masing 100%.</font></p>
	<p><font>10.ketika ekonomi keluarga belum membaik<br />yakinlah bahwa pintu rizki akan terbuka lebar berbanding lurus dengan tingkat ketaatan suami dan isteri.</font></p>
	<p><font>11.ketika ekonomi membaik<br />jangan lupa akan jasa pasangan hidup yang setia mendampingi kita semasa menderita.</font></p>
	<p><font>12.ketika anda adalah suami<br />boleh bermanja-manja kepada isteri tetapi jangan lupa untuk bangkit secara bertanggung jawab apabila isteri membutuhkan pertolongan anda.</font></p>
	<p><font>13.ketika anda adalah isteri<br />tetaplah berjalan dengan gemulai dan lemah lembut, tetapi selalu berhasil menyelesaikan semua pekerjaan.</font></p>
	<p><font>14.ketika mendidik anak<br />jangan pernah berpikir bahwa orangtua yang baik adalah orangtua yang tidak pernah marah kepada anak, karena orangtua yang baik adalah orangtua yang jujur kepada anak.</font></p>
	<p><font>15.ketika anak bermasalah<br />yakinlah bahwa tidak ada seorang anakpun yang tidak mau bekerjasama dengan orangtua, yang ada adalah anak yang merasa tidak didengar oleh orangtuanya.</font></p>
	<p><font>16.ketika ada pil<br />jangan diminum, cukupkanlah suami sebagai obat.</font></p>
	<p><font>17.ketika ada wil<br />jangan dituruti, cukuplah isteri sebagai pelabuhan hati.</font></p>
	<p><font>18.ketika memilih potret keluarga<br />pilihlah potret keluarga sekolah yang berada dalam proses pertumbuhan menuju potret keluarga masjid.<br />19.ketika ingin langgeng harmonis<br />gunakanlah formula 6 k :<br />ketaqwaan<br />kasih sayang<br />kesetiaan<br />komunikasi dialogis<br />keterbukaan<br />kejujuran</font></p>
</font>
</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://multazimah.blogsome.com/2007/01/18/siap-nikah/feed/</wfw:commentRss>
	</item>
		<item>
		<title>Syukur</title>
		<link>http://multazimah.blogsome.com/2007/01/17/syukur/</link>
		<comments>http://multazimah.blogsome.com/2007/01/17/syukur/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 17 Jan 2007 10:06:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>multazimah</dc:creator>
		
	<category>Nashihat</category>
		<guid>http://multazimah.blogsome.com/2007/01/17/syukur/</guid>
		<description><![CDATA[	Anda wajib mensyukuri apa pun yang menimpa Anda. Ini bukan masalah keberuntungan. Bersyukur menuntun Anda untuk senantiasa menyingkirkan sisi negatif dari hidup. Orang lain mungkin mengatakan bahwa anda tidak realistis. Namun sebenarnya sikap anda jauh lebih realistis, yaitu membebaskan diri anda dari kecemasan dan kpenyesalan. 
Bersyukur mendorong anda untuk bergerak maju dengan penuh antusias. Tak [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[	<p align="justify"><font color="#0000ff">Anda wajib mensyukuri apa pun yang menimpa Anda. Ini bukan masalah keberuntungan. Bersyukur menuntun Anda untuk senantiasa menyingkirkan sisi negatif dari hidup. Orang lain mungkin mengatakan bahwa anda tidak realistis. Namun sebenarnya sikap anda jauh lebih realistis, yaitu membebaskan diri anda dari kecemasan dan kpenyesalan. </font></p>
<font></font><font color="#0000ff">B</font><font color="#0000ff">ersyukur mendorong anda untuk bergerak maju dengan penuh antusias. Tak ada yang meringankan hidup anda selain sikap bersyukur. Semakin banyak anda bersyukur, semakin banyak anda menerima. Semakin banyak anda mengingkari (kufur), semakin berat beban yang anda jejalkan pada diri anda.</font><font> </font><font><font /></font><font><br />
<p align="left"><font color="#0000ff">Kebanyakan orang lebih terpaku pada kegagalan, lalu mengingkarinya. Sedikit sekali yang melihat pada keberhasilan, lalu mensyukurinya. Karena, anda takkan pernah berhasil dengan menggerutu dan berkeluh kesah. Anda berhasil karena berusaha. sedangkan usaha anda lakukan karena anda melihat sisi positif. Hanya dengan bersyukurlah sisi positif itu tampak di pandangan anda</font></p>
</font>
</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://multazimah.blogsome.com/2007/01/17/syukur/feed/</wfw:commentRss>
	</item>
		<item>
		<title>Sholluu kamaa roaitumunii ushollii&#8230;</title>
		<link>http://multazimah.blogsome.com/2007/01/17/sholat/</link>
		<comments>http://multazimah.blogsome.com/2007/01/17/sholat/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 17 Jan 2007 10:02:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>multazimah</dc:creator>
		
	<category>Fiqh</category>
		<guid>http://multazimah.blogsome.com/2007/01/17/sholat/</guid>
		<description><![CDATA[	TAKBIR
Rasul bersabda:Idza qumta ilaa al-sholaati fa asbighi al-wudhu&#8217;a tsumma istaqbili al-qiblata fakabbirJika kalian hendak shalat maka sempurnakanlah wudhu kemudian menghadaplah ke kiblat dan bertakbirlah (HR Bukhori-Muslim)Tata cara takbir dan mengangkat tangan1.&nbsp; Mengangkat tangan bersama ucapan takbir (HR Bukhori) atau terkadang mengangkat tangan sesudah mengucapkan takbir (HR Bukhori) atau mengangkat tangan sebelum mengucapkan takbir (HR Bukhori)2.&nbsp; [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[	<p><strong><font>TAKBIR</font></strong></p>
<font>Rasul bersabda:<br /></font><strong><font>Idza qumta ilaa al-sholaati fa asbighi al-wudhu&#8217;a tsumma istaqbili al-qiblata fakabbir<br /></font></strong><em><font>Jika kalian hendak shalat maka sempurnakanlah wudhu kemudian menghadaplah ke kiblat dan bertakbirlah (HR Bukhori-Muslim)<br /></font></em><font>Tata cara takbir dan mengangkat tangan<br /></font><font>1.&nbsp; Mengangkat tangan bersama ucapan takbir (HR Bukhori) atau terkadang mengangkat tangan sesudah mengucapkan takbir (HR Bukhori) atau mengangkat tangan sebelum mengucapkan takbir (HR Bukhori)<br /></font><font>2.&nbsp; Mengangkat kedua tangan dengan membuka jari-jari lurus ke atas tidak merenggangkan dan tidak pula menggenggamnya (HR Abu Dawud, Ibnu Khuzaimah, dll)<br /></font><font>3.&nbsp;Mengangkat kedua tangan sejajar bahu namun kadang kala Beliau mengangkatnya sejajar dengan daun telinga (HR Bukhori)</font>
<p><strong><font>SEDEKAP<br /></font></strong></p>
<font>Rasulullah saw meletakkan tangan kanannya di atas tangan kirinya (HR Bukhori) dan bersedekap di dada (HR Abu Dawud, Ibnu Khuzaimah)<br /></font><font>Rasulullah saw meletakkan tangan kanan pada punggung telapak kirinya, pergelangan dan lengan kirinya (HR Abu Dawud dan Nasai)<br /></font><font>Rasulullah saw &nbsp;terkadang menggenggamkan jari-jari tangan kanannya pada hasta kirinya (HR Nasai&rsquo;i dan Daruquthni)<a id="more-15"></a></font>
<p><strong><font>KHUSYU&rsquo;<br /></font></strong></p>
<font>Sewaktu shalat Rasulullah menundukkan kepala dan memandang ke tempat sujud (HR Baihaqi dan Al-Hakim)<br /></font><font>Pada saat berdiri Beliau membaca do&rsquo;a iftitah, ta&rsquo;awudz, al-fatihah dengan men<em>sirr</em>kan (tidak mengeraskan) basmalahnya meskipun shalat itu adalah shalat <em>jahr</em> (yang dikeraskan bacaannya) kemudian Beliau membaca <em>Aamiin</em>.<br /></font><font>Terkadang juga Beliau membaca <em>Basmalah</em> dengan mengeraskan bacaannya.<br /></font><strong><font>Allahu Akbar<br /></font></strong><font><strong>Do&rsquo;a iftitah</strong> (dibaca <em>sirr</em>)<br /></font><font><strong>Allahumma baa&rsquo;id bainii wa baina khathooyaaya kamaa ba&rsquo;ad ta baina al-masyriqi wa al-maghribi. Allahumma naqqinii min khothooyaaya kama yunaqqo al-tsaubu al-abyadhu min al-danas. </strong><strong>Allahumma aghsilni min khothooyaaya bi al-maa i wa al-tsalji wa al-baradi<br /></strong></font><em><font>Yaa Allah jauhkanlah diriku dari kesalahan-kesalahanku sebagaimana Engkau telah jauhkan timur dari barat. Yaa Allah, bersihkanlah aku dari kesalahan-kesalahanku seperti kain putih yang dibersihkan dari kotoran. Yaa Allah, cucilah diriku dari kesalahan-kesalahanku dengan air, es dan embun <br /></font></em><strong><font>Ta&rsquo;awudz<br /></font></strong><strong><font>Audzu billahi minasy syaithoni rajim min hamzihi wa nafkhihi wa naftsihi<br /></font></strong><font><em>Aku berlindung kepada Alloh dari godaan syaitan yang terkutuk dari kegilaannya, kesombongannya dan dari hembusannya. (HR Abu Dawud</em><em>)<br /></em></font><strong><font>Al-Fatihah</font></strong><br /><font><em>1.</em><em>Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.<br /></em></font><font><em>2.</em><em>Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.<br /></em></font><font><em>3.</em><em>Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.<br /></em></font><font><em>4.</em><em>Yang menguasai di hari Pembalasan.<br /></em></font><font><em>5.</em><em>Hanya Engkaulah yang kami sembah, dan Hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan.<br /></em></font><font><em>6.T</em><em>unjukilah kami jalan yang lurus,<br /></em></font><font><em>7.</em><em>(yaitu) jalan orang-orang yang Telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.<br /></em></font><font>Setelah membaca <em>Al-Faatihah</em> Beliau membaca ayat lain dari <em>Al-Qur&rsquo;an</em> dan membaguskan bacaannya<br /></font><font>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Apabila imam mengeraskan bacaannya maka makmum tidak membaca (diam dan mendengarkan imam) adapun jika imam tidak mengeraskan bacaannya maka makmum wajib membaca sendiri-sendiri tanpa mangganggu orang lain</font>
<p><strong><font>MENGHILANGKAN GANGGUAN SYAITAN<br /></font></strong></p>
<font>Apabila seseorang mendapatkan gangguan syetan dalam shalatnya maka disunahkan baginya membaca ta&rsquo;awudz, kemudian meludah ke sebelah kiri sebanyak 3 kali (HR Muslim dan Ahmad)</font>
<p><strong><font>MENDEKATI SUTRAH (PEMBATAS)<br /></font></strong></p>
<font>Diperbolehkan bagi seseorang yang sedang shalat untuk berjalan bila ada keperluan misalnya membukakan pintu bagi seseorang. Hal ini sebagaimana yang pernah dilakukan oleh Rasulullah SAW. Rsulullah pernah membukakan pintu untuk Aisyah padahal Beliau sedang shalat. (HR Nasa&rsquo;i)<br /></font><font>Diperbolehkan bagi seseorang yang sedang shalat untuk berjalan mendekati sutrah (pembatas) agar tidak dilewati seauatu di depannya.</font>
<p><strong><font>MENGHALANGI SESEORANG MELEWATI SUTRAH<br /></font></strong></p>
<font>Nabi Muhammad SAW pernah bersabda: Apabila seseorang di antara kalian shalat menghadap sutrah kemudian ada orang yang hendah melanggarnya maka cegahlah semampunya sebanyak 2 kali, jika orang itu enggan maka bunuhlah dia karena dia adalah syetan (HR Bukhori-Muslim)<br /></font><font>Lewat di depan orang yang sedang shalat merupakan dosa besar yang diterangkan baginya, <em>Lebih baik menunggu 40 (tahun) dari pada lewat di depan orang yang sedang shalat</em> (HR Bukhori-Muslim)</font>
<p><strong><font>RUKU&rsquo;<br /></font></strong></p>
<font>Setelah membaca ayat Al-Qur&rsquo;an Rasulullah SAW berhenti sejenak (HR Abu Dawud dan Al-Hakim) lalu mengangkat tangan, bertakbir dan ruku&rsquo; (HR Bukhori-Muslim)<br /></font><font>Beliau meletakkan tangan pada kedua lututnya (HR Bukhori)<br /></font><font>Beliau merenggangkan jari jemarinya (HR Al-Hakim) meluruskan punggungnya (HR Baihaqi) sehingga apabila air diletakkan di atas punggung Beliau, air tersebut tidak akan bergerak (HR Tabrani)<br /></font><font>Beliau tidak mendongakkan atau menundukkan kepalanya (HR Abu Dawud dan Bukhori) tetapi tengah-tengah di antara keduanya (HR Muslim)<br /></font><font>Orang yang tidak menyempurnakan ruku&rsquo;nya merupakan pencuri yang paling jahat yaitu pencuri dalam shalat (HR Ibnu Abi Syaiban, Tabrani, Al-Hakim) bahkan Rasulullah pernah bersabda; <strong>Innahu la&lt; shala&lt;ta liman laa yuqiimu shulbahu fii al-rukuu&rsquo;i wa al-sujuudi </strong>&nbsp;<em>Sesungguhnya tidak ada shalat bagi orang yang tidak meluruskan punggungnya dalam ruku&rsquo; dan sujud</em> (HR Ahmad)<br /></font><font>Dianjurkan melamakan ruku&rsquo; (HR Bukhori-Muslim) dan dilarang membaca Al-Qur&rsquo;an sewaktu ruku&rsquo; (HR Muslim)<br /></font><font>Do&rsquo;a yang dibaca adalah:<br /></font><font><strong>1.&nbsp; </strong><strong>Subhaana rabbiya al-&lsquo;azhiim, 3x<br /></strong></font><font><em>Maha suci Tuhanku yang Maha Agung</em> (HR Ahmad, Abu Dawud, dll)<strong><br /></strong></font><font><strong>2.&nbsp; </strong><strong>Subhaana rabbiya al-&lsquo;azhiim wabihamdih, 3x<br /></strong></font><font><em>Maha suci Tuhanku yang Maha Agung</em> <em>dan segala puji bagiNya (HR Abu Dawud, Daruquthni, Ahmad, Tabrani, Baihaqi)<br /></em></font>
<p><font><strong>3.&nbsp; </strong><strong>Subhaanaka allahumma wabihamdika allahumma ighfirlii</strong></font></p>
Maha suci Engkau wahai Tuhan, segala puji bagiMu, wahai Tuhan ampunilah aku (HR Bukhori-Muslim)<br /><font><strong>4.&nbsp;</strong><strong>Subbuuhun quddusun rabbu al-malaaikati wa al-ruuh<br /></strong></font><em><font>Maha suci lagi maha qudus Tuhan semua Malaikat dan ruh (HR Muslim, Abu &lsquo;Awanah)</font></em>
<p><strong><font>I&rsquo;TIDAL<br /></font></strong></p>
<font>Setelah ruku&rsquo;, Rasulullah SAW bangkit dari ruku&rsquo; (I&rsquo;tidal) seraya mengucapkan: <strong>Sami&rsquo;allahu liman hamidahu</strong><em> <br /></em></font><font><em>Alloh mendengar orang yang memujiNya</em> (HR Bukhori-Muslim)<br /></font><font>Kemudian membaca do&rsquo;a: <br /></font><font><strong>1.&nbsp; </strong><strong>Rabbanaa walakal hamdu <br /></strong></font><font><em>Wahai Rabb kami, dan segala puji adalah milikMu</em> (HR Bukhori-Muslim)<strong><br /></strong></font><font><strong>2.&nbsp;</strong><strong>Rabbanaa lakal hamdu <br /></strong></font><font><em>Wahai Rabb kami, segala puji adalah milikMu</em> (HR Bukhori-Muslim)<br /></font><font>Terkadang rasulullah menambah dengan kata <strong>Allahumma<em> </em></strong>pada lafazh di atas.<br /></font><font><strong>3.&nbsp;</strong><strong>Rabbanaa lakal hamdu mil u al-samaawaati wa mil u al-ardhi wa mil u maa syi ta min syaiin ba&rsquo;du<br /></strong></font><em><font>Wahai Rabb kami, segala puji adalah milikMu, mencakup seluruh langit dan bumi dan segenap yang Engkau kehendaki selai dari itu (HR Muslim, Abu &lsquo;Awanah)<br /></font></em><font><strong>4.&nbsp;</strong><strong>Rabbanaa lakal hamdu ahla al-tsanaai wal-majdi laa maania limaa a&rsquo;thaitaa wa mu&rsquo;thiya limaa mana&rsquo;ta wa laa yanfa&rsquo;u dzaljaddi minkal jaddu<br /></strong></font><em><font>Wahai Rabb kami, segala puji adalah milikMu, yang berhak atas segala pujian dan keagungan, tak ada yang dapat menghalangi apa yang Engkau berikan dan tidak ada yang dapat memberikan apa yang Engkau halangi dan tidak berguna kekuasaan bagi orang yang memiliki atas siksaMu (HR Muslim, Abu &lsquo;Awanah)<br /></font></em><font>Rasulullah SAW memerintahkan untuk meluruskan punggung, menegakkan kepala sampai ruas tulang punggung kembali ke tempat semula (HR Bukhori-Muslim)</font>
<p><strong><font>SUJUD <br /></font></strong></p>
<font>Rasulullah SAW bertakbir untuk sujud (HR Bukhori-Muslim)<br /></font><font>Terkadang Beliau mengangkat kedua tangannya ketika hendak sujud (HR Nasa&rsquo;i, Daruquthni, dll)<br /></font><font>Rasulullah SAW mendahulukan kedua tangannya pada saat turun menuju sujud (HR Ibnu Khuzaimah, Daruquthni, Hakim)<br /></font><font>Rasulullah SAW sujud di atas 7 anggota sujud [yaitu kening dan hidung, kedua telapak tangan, kedua lutut dan jari-jari kaki](HR Bukhori-Muslim)<br /></font><font>Kemudian Beliau meletakkan kedua tangan sejajar dengan bahunya (HR Abu Dawud dan Tirmidzi) dan terkadang Beliau juga meletakkan kedua tangannya sejajar dengan daun telinganya (HR Abu Dawud dan Nasa&rsquo;i)<br /></font><font>Beliau merapatkan jari-jarinya (HR Ibnu Khuzaimah, Baihaqi) dan menghadapkannya ke arah qiblat (HR Baihaqi) <br /></font><font>Beliau juga merapatkan kedua tumitnya (HR Ath-Thahawi, Ibnu Khuzaimah) dan menegakkan telapak kakinya (HR Baihaqi)<br /></font><font>Beliau SAW mengangkat kedua lengannya dan menjauhkannya dari lambungnya sampai warna putih ketiaknya terlihat dari belakang (HR Bukhori-Muslim)<br /></font><font>Adapun apabila menjadi makmum maka tidak perlu melebarkan kedua lengan sehingga mengganggu orang lain yng berada di sampingnya <br /></font><font>Diwajibkan tumakninah dala sujud dan melamakannya, serta disunahkan memperbayak do&rsquo;a sewaktu sujud (HR Muslim) dan dilarang membaca Al-Qur&rsquo;an ketika sujud (HR Muslim)<br /></font><font>Do&rsquo;a yang dibaca tatkala sujud adalah:<br /></font><font><strong>1.&nbsp; </strong><strong>Subhana rabbiya al-a&rsquo;laa, 3x<br /></strong></font><font><em>Maha Suci Rabb-ku yang Maha Tinggi</em> (sebanyak 3x atau lebih) (HR Ahmad, Abu Dawud,dll)<br /></font><font><strong>2.&nbsp; </strong><strong>Subhana rabbiya al-a&rsquo;laa wabihamdih, 3x<br /></strong></font><font><em>Maha Suci Rabb-ku yang Maha Tinggi dan segala puji bagiNya (HR Abu Dawud, Daruquthni, Ahmad, Thabrani dan Baihaqi)</em><strong><br /></strong></font>
<p><font><strong>3.&nbsp; </strong><strong>Subhaanaka allahumma rabbana&lt; wabihamdika allahumma ighfirlii</strong></font></p>
<em><font>Maha suci Engkau wahai Tuhan, Tuhan kami, segala puji bagiMu, wahai Tuhan ampunilah aku (HR Bukhori-Muslim)<br /></font></em><font><strong>4.&nbsp; </strong><strong>Subbuuhun qudduusun rabbu al-malaaikati wa al-ruuh</strong><strong><em><br /></em></strong></font><em><font>Maha suci lagi maha qudus Tuhan semua Malaikat dan ruh (HR Muslim, Abu &lsquo;Awanah)</font></em>
<p><strong><font>DUDUK ANTARA DUA SUJUD<br /></font></strong></p>
<font>Rasulullah SAW, Beliau duduk diantara dua sujud dengan menegakkan telapak kaki kanan (HR Bukhori) dan dan menghadapkan jari-jari kaki kanan ke arah qiblat (HR An-Nasa&rsquo;i)<br /></font><font>Kemudian Beliau duduk di atas telapak kakinya kiri (HR Bukhori) terkadang Beliau duduk iq&rsquo;a [yaitu duduk dengan menegakkan telapak dan tumit kedua kakinya](HR Muslim)<br /></font><font>Do&rsquo;a yang dibaca adalah:<br /></font>
<p><font><strong>1.&nbsp; </strong><strong>Rabbighfirlii warhamnii wajburnii warfa&rsquo;nii&nbsp; wahdinii wa&rsquo;aafinii warzuqnii</strong></font></p>
<font><em>Yaa Allah ampunilah aku, kasihanilah aku, lindungilah aku, angkatlah derajatku, tunjukilah aku, sehatkanlah aku dan berilah aku rezeki</em> (HR Abu Dawud)<br /></font><font><strong>2.&nbsp; </strong><strong>Rabbighfirlii ighfirlii <br /></strong></font><em><font>Wahai Tuhan, ampunilah aku, ampunilah aku (HR Ibnu Majah, Ahmad) </font></em>
<p><strong><font>DUDUK ISTIRAHAT<br /></font></strong></p>
<font>Duduk istirahat adalah duduk tatkala hendak berdiri dari sujud, setelah itu Rasulullah SAW melakukan <em>&lsquo;ajn</em> [yaitu bertumpu pada kedua tangannya dengan mengepalkan jari jemarinya ke tanah] (HR Baihaqi dan Abu Ishaq al-Harbi)<br /></font><font>Diperbolehkan pula bagi orang yang shalat untuk bertumpu pada kedua tangannya tanpa harus mengepalkannya</font>
<p><strong><font>TASYAHHUD AWWAL<br /></font></strong></p>
<font>Rasulullah SAW duduk tasyahhud setelah rakaat kedua. Apabila shalat yang dilakukan adalah shalat dua rakaat[misal shalat subuh] maka Beliau SAW duduk <em>iftirasy</em> [yaitu duduk seperti halnya di antara dua sujud] (HR An-Nasa&rsquo;i) dan demikian pulalah keadaan duduk untuk tasyahhud awwal pada shalat 3 rakaat atau 4 rakaat (HR Bukhori dan Abu Dawud)<br /></font><font>Pada saat tasyahhud awwal Rasulullah SAW meletakkan telapak tangan kanan di atas paha kanan (HR Muslim) dalam riwayat lain di atas lutut kanan<br /></font><font>Dan Beliau meletakkan telapak tangan kiri di atas paha kiri (HR Muslim) dalam riwayat lain di atas lutut kiri<br /></font><font>Selain itu, Rasulullah SAW mengacungkan jari telunjuk kanannya ke kiblat (HR Muslim) atau Beliau menggerak-gerakkan jari telunjuk kanannya (HR Abu Dawud) <br /></font><font>Rasulullah mengarahkan pandangan matanya ke arah telunjuk (HR Muslim)<br /></font><font>Cara mengisyaratkan jari telunjuk:<br /></font><font>1.&nbsp; Ibu jari memegang jari tengah (HR Muslim)<br /></font><font>2.&nbsp; Ibu jari dan jari tengah membentuk bulatan (HR Abu Dawud, Nasa&rsquo;i, Ibnu Hibban)<br /></font><font>Doa yang dibaca pada saat tasyahud awwal:<br /></font><strong><font>Attahiyaatu lillahi, washolawaatu wat-thoyyibaatu, Assalaamu &lsquo;alannabiyyu warahmatullahi wabarokaatuh. Assalaamu &lsquo;alainaa wa &lsquo;alaa &lsquo;ibaadillahi al-shoolihiin. Asyhadu an laa ilaaha illallah wa asyhadu anna Muhammadan abduhu warasuuluhu <br /></font></strong><font><em>Segala penghormatan, pengagungan dan pujianhanyalah milik Alloh, Semoga keselamatan atas nabi. Begitu pula rahmat dan barokahnya. Semoga keselamatan atas kami, begitu pula atas hamba-hambanya yang sholih. Aku bersaksi tiada sembahan yang haq melainkan Alloh dan aku bersaksi Muhammad adalah hamba dan utusannya</em> (HR Bukhori-Muslim)<br /></font><font>Dianjurkan untuk membaca sholawat atas nabi Muhammad SAW: <strong>Allohumma sholli &lsquo;alaa Muhammadin wa &lsquo;alaa aali Muhammadin kama shollaita &lsquo;alaa&nbsp;&nbsp;ibraahiima wa &lsquo;alaa aali Ibraahiima innaka hamiidun majiid. Allahumma baarik &lsquo;alaa Muhammadin wa &lsquo;alaa aali Muhammadin kama baarakta &lsquo;alaa Ibraahiama wa &lsquo;alaa aali Ibraahiima innaka hamiidun majiidun<br /></strong></font><em><font>Yaa Allah berikanlah sholawat kepada Muhammad dan keluarga Muhammad sebagaimana Engkau telah bersholawat kepada Ibrohim dan keluarga ibrohim. Sesungguhnya Engkau maha Terpuji lagi maha Mulia.<br /></font></em>Yaa Allah berikanlah barokah kepada Muhammad dan keluarga Muhammad sebagaimana Engkau telah melimpahkan barokah kepada Ibrohim dan keluarga ibrahim. Sesungguhnya Engkau maha Terpuji lagi maha Mulia (HR Bukhori-Muslim<font><br /></font>&nbsp;
<p><strong><font>BANGKIT KE RAKAAT BERIKUTNYA<br /></font></strong></p>
<font>Rasulullah saw bangkit ke rakaat ketiga seraya mengucapkan takbir (HR Bukhori-Muslim) dan Beliau mengangkat kedua tangannya (HR Bukhori dan Abu Dawud)<br /></font><font>Saat bangkit ke rakaat keempat Beliau SAW duduk istirahat kemudian bertumpu dan bertakbir (HR Bukhori dan Abu Dawud) <br /></font><font>Pada saat bagnkit ke rakaat keempat ini terkadang rasulullah saw bangkit dengan mengangkat kedua tangannya (HR Abu &lsquo;Awwanah dan Nasa&rsquo;i)</font>
<p><strong><font>TASYAHHUD AKHIR<br /></font></strong></p>
<font>Pada waktu tasyahhud akhir Rasulullahsaw duduk tawarruk yaitu punggung telapak kaki kiri menempel ke tanah, ujung kaki kiri dan kaki kanan berada pada satu sisi (HR Bukhori) dan Beliau menjadikan kaki kirinya berada di bawah paha dan betis kaki kanannya (HR Muslim). Beliau saw juga menegakkan telapak kaki kanannya (HR Muslim) dan terkadang mendatarkannya (HR Muslim)<br /></font><font>Adapun do&rsquo;a tasyahhud dan sholawat untuk tasyahhud akhir sama dengan tasyahhud awwal </font>
<p><strong><font>SALAM<br /></font></strong></p>
<font>Rasulullah saw membaca do&rsquo;a perlindungan dari 4 hal sebelum salam (HR Muslim)<br /></font><em><font>Allahumma inni a&rsquo;uudzubika min &lsquo;adzaabi jahannama wa min &lsquo;adzaabi al-qobri wa min fitnati al-mahyaa wa al-mamaati wa min syarri fitnati al-masiahi al-dajjaala<br /></font></em><font>Yaa Allah aku berlindung kepdaMu dari siksa neraka jahnnam dan dari siksa kubur &nbsp;dan dari fitnah (cobaan) hidup dan mati dan dari fitnah dajjal (HR Muslim)<br /></font><font>Sebelum salam, dibolehkan untuk membaca do&rsquo;a yang disukai (HR Bukhori-Muslim) diantaranya adalah:<br /></font><em><font>Allahumma innii zholamtu nafsii zhulman katsiiran wa laa yaghfiru al-dzunuuba illa anta<br /></font></em><em><font>Faghfirlii maghfiratan min &lsquo;indika warhamnii innaka anta al-ghofuuru al-rahiimu<br /></font></em><font>Yaa Allah aku telah menzhalimi diriku sendiri dengan kezhaliman yang sangat banyak dan tiada yang mengampuni dosa melainkan Engkau.<br /></font><font>Maka ampunilah aku dengan pengampunan dari sisiMu dan kasihanilah aku, sesungguhnya Engkau Maha pengampun lagi maha penyayang (HR Bukhori-Muslim) <br /></font><font>Cara salam Rasulullah saw<br /></font><font>1.&nbsp; Rasulullah saw berpaling ke kanan sampai terlihat pipi kanan Beliau yang putih (HR Muslim) seraya mengucapkan: <em>Assalaamu&rsquo;alaikum warrahmatullahi wabarakaatuh </em>(HR Abu Dawud dan Ibnu Khuzaimah) kemudian berpaling ke kiri sampai terlihat pipi kiri Beliau yang putih (HR Muslim) dan mengucapkan: <em>Assalaamu&rsquo;alaikum warrahmatullah </em>(HR Muslim)<br /></font><font>2.&nbsp; Rasulullah saw berpaling ke kanan seraya mengucapkan: <em>Assalaamu&rsquo;alaikum warrahmatullah </em>dan berpaling ke kiri seraya mengucapkan: <em>Assalaamu&rsquo;alaikum warrahmatullah</em>(HR Muslim)<br /></font><font>3.&nbsp; Rasulullah saw berpaling ke kanan seraya mengucapkan: <em>Assalaamu&rsquo;alaikum warrahmatullah </em>dan berpaling ke kiri seraya mengucapkan: <em>Assalaamu&rsquo;alaikum</em>(HR Ahmad, An-Nasa&rsquo;i)<br /></font><font>4.&nbsp; Rasulullah saw menoleh sedikit ke kanan seraya mengucapkan: <em>Assalaamu&rsquo;alaikum</em>(HR Baihaqi, Ibnu Khuzaimah,dll)</font>
<p><strong><font>TATA CARA SHALAT DI ATAS SAMA UNTUK LAKI-LAKI MAUPUN PEREMPUAN</font></strong></p>
	<p><font>Referensi:</font></p>
	<p><font>Shifat Sholat Nabi SAW karya Syekh Nashruddin Albani</font></p>
	<p><font>Minhajul Muslim karya Abu Bakr Al-Jaiziri</font></p>
	<p><font>VCD Shifat Sholat Nabi SAW</font></p>
	<p><font>Al-Qur&#8217;an Al-Kariim</font></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://multazimah.blogsome.com/2007/01/17/sholat/feed/</wfw:commentRss>
	</item>
		<item>
		<title>Successful Life</title>
		<link>http://multazimah.blogsome.com/2007/01/17/successful-life/</link>
		<comments>http://multazimah.blogsome.com/2007/01/17/successful-life/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 17 Jan 2007 06:23:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>multazimah</dc:creator>
		
	<category>Nashihat</category>
		<guid>http://multazimah.blogsome.com/2007/01/17/successful-life/</guid>
		<description><![CDATA[	1. Pursue achievable goals
	2. Keep a Genuine Smile
	3. Share with others
	4. Help the neighbors
	5. Maintain a youthful spirit
	6. Get along with the rich, the poor, the beautiful, and the ugly
	7. Keep cool under pressure
	8. Lighten the atmosphere with humor
	9. Forgive the annoyance of others
	10. Have few pals
	11. Cooperate and reap greater reward
	12. Treasure every moment [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[	<p class="MsoNormal"><font><em>1. Pursue achievable goals</em></font></p>
	<p class="MsoNormal"><font><em>2. Keep a Genuine Smile</em></font></p>
	<p class="MsoNormal"><font><em>3. Share with others</em></font></p>
	<p class="MsoNormal"><font><em>4. Help the neighbors</em></font></p>
	<p class="MsoNormal"><font><em>5. Maintain a youthful spirit</em></font></p>
	<p class="MsoNormal"><font><em>6. Get along with the rich, the poor, the beautiful, and the ugly</em></font></p>
	<p class="MsoNormal"><font><em>7. Keep cool under pressure</em></font></p>
	<p class="MsoNormal"><font><em>8. Lighten the atmosphere with humor</em></font></p>
	<p class="MsoNormal"><font><em>9. Forgive the annoyance of others</em></font></p>
	<p class="MsoNormal"><font><em>10. Have few pals</em></font></p>
	<p class="MsoNormal"><font><em>11. Cooperate and reap greater reward</em></font></p>
	<p class="MsoNormal"><font><em>12. Treasure every moment with your loved ones</em></font></p>
	<p class="MsoNormal"><font><em>13. Have high confidence in yourself</em></font></p>
	<p class="MsoNormal"><font><em>14. Respect the disadvantages</em></font></p>
	<p class="MsoNormal"><font><em>15. Indulge yourself occasionally</em></font></p>
	<p class="MsoNormal"><font><em>16. Surf the net at leisure</em></font></p>
	<p class="MsoNormal"><font><em>17. Take calculate risks</em></font></p>
	<p class="MsoNormal"><font><em>18. Understand &ldquo;Money isn&rsquo;t&rdquo; everything</em></font></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://multazimah.blogsome.com/2007/01/17/successful-life/feed/</wfw:commentRss>
	</item>
	</channel>
</rss>
